cover
Contact Name
Yolanda Handayani
Contact Email
bikfokes@gmail.com
Phone
+62217863473
Journal Mail Official
bikfokes@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biostatistika dan Kependudukan Gedung A, lantai 2, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok, Jawa Barat, 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan
Published by Universitas Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27750574     DOI : https://doi.org/10.7454/bikfokes
Core Subject : Health,
Jurnal BIKFOKES (Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan) diinisiasi oleh Departemen Biostatika dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Sebagai jurnal ilmiah, Jurnal BIKFOKES memiliki fokus biostatitik, informatika kesehatan, kependudukan, dan kesehatan reproduksi. Adapun artikel atau naskah ilmiah yang dimuat dalam Jurnal BIKFOKES mencakup ranah penelitian, studi kasus, meta-analysis atau konseptual
Articles 87 Documents
Pengembangan Sistem Informasi Pencatatan dan Pelaporan Pemeriksaan Kapal Berbasis Mobile di Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Tanjung Priok Nurfadilah, Shallom; Kurniawan, Rico; Sudaraman, Agus
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan Vol. 6, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Digitalisasi pencatatan pemeriksaan kapal menjadi komponen kunci dalam upaya meningkatkan kecepatan, akurasi, dan efisiensi proses karantina kesehatan di pelabuhan. Saat ini, Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Tanjung Priok masih mengandalkan pencatatan manual berbasis kertas, yang sering menimbulkan duplikasi pekerjaan, risiko kehilangan atau kerusakan arsip, serta keterlambatan dalam penyusunan laporan. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini mengembangkan prototipe sistem pencatatan pemeriksaan kapal berbasis mobile menggunakan KoboToolbox, sebuah platform open-source yang diintegrasikan dengan Google Spreadsheet melalui pendekatan no-code system development. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif melalui observasi proses kerja, wawancara petugas pemeriksa, dan telaah dokumen terkait, sedangkan pengembangan sistem mengikuti tahapan System Development Life Cycle (SDLC). Sistem dirancang untuk menghubungkan tiga formulir pemeriksaan kapal menggunakan mekanisme dynamic linking berbasis nomor International Maritime Organization (IMO) sebagai unique identifier, sehingga memungkinkan konsolidasi data secara otomatis dan pembangkitan laporan instan. Hasil uji coba menunjukkan bahwa sistem digital mampu meningkatkan efisiensi operasional, keteraturan dan kualitas data, serta ketepatan waktu pelaporan. Petugas juga menunjukkan penerimaan positif terhadap sistem karena kemudahan penggunaan dan pengurangan beban administrasi. Temuan ini menegaskan bahwa solusi digital berbasis open-source, mobile, dan no-code berpotensi memperkuat sistem surveilans kesehatan pelabuhan dan mendukung percepatan transformasi digital layanan karantina kesehatan.
Analisis Usia Awal Merokok Remaja dan Perilaku Merokok Orang Tua di Indonesia: Studi GSHS 2015 David, Cathrine Jane; Ayunina, Qonita; Larasati, Janitra; Soemoele, Glory
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan Vol. 6, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebiasaan merokok masih menjadi permasalahan kesehatan global, termasuk Indonesia. Tingginya prevalensi perokok usia remaja menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang salah satu penyebabnya adalah perilaku merokok orang tua. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara perilaku merokok orang tua dengan usia awal merokok pada remaja. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang berdasarkan data Global School-based Student Health Survey (GSHS) 2015. Sampel penelitian ini berjumlah 2027 responden yang dipilih secara acak sistematik. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memulai kebiasaan merokok pada usia <14 tahun (78,2%). Selain itu, didapatkan nilai odds ratio sebesar 0,953 (95% CI=0,765-1,186), yang berarti tidak ada asosiasi antara usia awal merokok pada remaja dan perilaku merokok orang tua. Diketahui pula nilai P sebesar 0,696, yang menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara usia awal merokok pada remaja dan perilaku merokok orang tua. Sehingga, disimpulkan bahwa usia awal merokok pada remaja tidak berhubungan dengan perilaku merokok orang tuanya. Perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait faktor lain yang mungkin memengaruhi usia awal merokok pada remaja. Selain itu, tingginya proporsi usia awal merokok remaja yang relatif muda (<14 tahun) mengindikasikan perlunya evaluasi ulang terhadap pelaksanaan kebijakan terkait usia minimal pembelian rokok di Indonesia.
Analisis Klaim ODC dan Kesiapan Sistem Informasi Rumah Sakit dalam Mendukung Pengelolaan Klaim BPJS: Studi Kasus di RS. Fatmawati Dhamayanti, Grahyta; Arifin, Arifin
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan Vol. 6, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah klaim tertunda BPJS Kesehatan pada layanan rawat inap kategori one day care (ODC) masih menjadi isu strategis di Rumah Sakit (RS) Fatmawati. Hal ini menyebabkan layanan tidak efisien dan potensi kerugian finansial. Hingga saat ini, mekanisme deteksi dini yang sistematis untuk mengidentifikasi masalah potensi klaim ODC belum tersedia secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola klaim ODC serta menyusun model konseptual deteksi dini potensi klaim ODC berbasis data Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan metode campuran. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap 2.401 data klaim rawat inap periode Januari–April 2025 di RS. Fatmawati, meliputi diagnosis-tindakan medis-lama rawat inap. Analisis kualitatif dilakukan melalui observasi modul SIMRS dan wawancara dengan informan kunci terkait pengelolaan klaim. Simulasi deteksi dini berbasis aturan dilakukan dengan memetakan kombinasi diagnosis–tindakan–lama rawat inap terhadap kriteria ODC untuk menghasilkan klasifikasi risiko klaim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klaim ODC mencapai 113 kasus (4,7%) dari seluruh klaim rawat inap, dengan diagnosis terbanyak sindrom nefrotik (18%), radioterapi (16%), dan pelepasan DJ stent (10,6%). Rata-rata potensi kerugian per kasus sebesar Rp.7.475.879 dengan estimasi kerugian tahunan lebih dari Rp.2,5 miliar. Simulasi model konseptual menunjukkan bahwa pemanfaatan data SIMRS memungkinkan identifikasi prospektif klaim ODC berisiko melalui mekanisme risk scoring dan flagging sebelum pasien dipulangkan. Kesimpulannya, analisis pola klaim ODC dapat menjadi dasar penyusunan model konseptual deteksi dini berbasis data SIMRS untuk mendukung pengelolaan klaim yang lebih akurat dan efisien tanpa memerlukan implementasi sistem teknologi yang kompleks.
Determinasi Minimum Dietary Diversity pada Anak Usia 6-23 Bulan: Analisis Survei Kesehatan Indonesia 2023 Ferdynan, Elfys; Besral, Besral
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan Vol. 6, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keragaman pangan minimum atau minimum dietary diversity (MDD) merupakan indikator penting kualitas konsumsi pangan anak usia 6-23 bulan. Pemenuhan MDD berperan dalam mendukung pertumbuhan optimal dan pencegahan malnutrisi, termasuk stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemenuhan MDD pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Data yang digunakan adalah data Survei Kesehatan Indonesia 2023 dengan desain potong lintang. Subjek penelitian adalah 17.991 anak usia 6-23 bulan. Analisis yang dilakukan menggunakan regresi logistik biner dengan penyesuaian desain complex samples. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang meningkatkan peluang pemenuhan MDD secara signifikan meliputi usia anak 12-23 bulan, jenis kelamin perempuan, pendidikan ibu dan ayah yang lebih tinggi, pengetahuan ibu tentang stunting, kunjungan antenatal care ≥4 kali sesuai kriteria K4, kunjungan nifas yang lengkap, serta status sosial-ekonomi rumah tangga yang lebih baik. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan, status sosial-ekonomi, dan akses layanan kesehatan merupakan determinan penting dalam pemenuhan MDD, dengan pengetahuan ibu tentang stunting sebagai faktor tambahan yang berperan positif dalam keragaman pangan anak.
Pemodelan Regresi Logistik Spasial Pada Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Jawa Barat Tahun 2023 Septiana, Valida Ulfa; Hastono, Sutanto Priyo
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan Vol. 6, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk Provinsi Jawa Barat, dengan rata-rata kejadian yang lebih tinggi dari rata-rata nasional. Analisis spasial diperlukan untuk memahami pola penyebaran DBD, mengingat adanya kemungkinan pengaruh antar wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor sosio-demografi, faktor perilaku, serta efek spasial kedekatan geografis antar wilayah terhadap kejadian DBD di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan unit analisis 27 kabupaten/kota di Jawa Barat tahun 2023. Data sekunder diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 dan Jawa Barat dalam Angka 2024. Analisis dilakukan dengan regresi logistik spasial menggunakan matriks Queen Contiguity. Hasil menunjukkan bahwa kepadatan penduduk dan kedekatan geografis antar wilayah berpengaruh signifikan terhadap kejadian DBD (Nilai P<0,05), sedangkan jumlah rumah sakit umum dan indeks pembangunan literasi masyarakat tidak signifikan. Model dengan efek spasial memiliki nilai AIC lebih rendah dibandingkan model tanpa spasial, yang mengindikasikan bahwa pertimbangan aspek spasial meningkatkan kualitas pemodelan kejadian DBD. Penelitian ini menekankan pentingnya faktor spasial dalam pemodelan epidemiologi DBD. Hasilnya dapat menjadi dasar perencanaan intervensi lintas-wilayah yang lebih terintegrasi dalam upaya pengendalian DBD di Indonesia.
Analisis Disparitas Geospasial dan Determinan Sosio-Demografis Masalah Kesehatan Jiwa di Indonesia: Analisis Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Zhafirah, Alya Zahrah; Hastono, Sutanto Priyo Priyo
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan Vol. 6, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan jiwa merupakan pilar utama pembangunan sumber daya manusia yang kini menjadi tantangan struktural di Indonesia. Masalah ini dipengaruhi secara signifikan oleh determinan sosio-demografi seperti tingkat pendidikan, status ekonomi dan lingkungan. Penelitian ini diinisiasi oleh urgensi untuk memetakan distribusi beban masalah kesehatan jiwa secara nasional sekaligus menginvestigasi ketidakonsistenan prevalensi antara data Riskesdas 2018 dan SKI 2023. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan menganalisis prevalensi masalah kesehatan jiwa pada penduduk Indonesia berusia ≥15 tahun, menggunakan data SKI 2023. Kondisi kesehatan jiwa dinilai menggunakan instrumen SRQ-20 untuk mengidentifikasi probabilitas masalah kesehatan jiwa. Hasil utama menunjukkan prevalensi masalah kesehatan jiwa Indonesia tahun 2023 sebesar 2,0% (95% CI=2,0–2,1), mengindikasikan terjadi penurunan drastis dibandingkan prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Riskesdas 2018 sebesar 9,8% (95% CI=9,7-10,0). Analisis geospasial menggunakan metode Natural Breaks Jenks mengidentifikasi 6 provinsi sebagai "titik panas" dengan prevalensi tinggi (>2,5%), di antaranya Provinsi Jawa Barat (4,4%; 95% CI=4,0-4,8) dan Papua Pegunungan (3,0%; 95% CI=2,0-4,6). Determinasi sosio-demografis mengonfirmasi kerentanan yang lebih tinggi pada kelompok perempuan, usia muda (15-24 tahun) dan lansia (≥75 tahun), tidak bekerja, pendidikan rendah dan status ekonomi rendah, serta tinggal di perkotaan. Implikasi kebijakan dari temuan ini menekankan perlunya penguatan sistem kesehatan jiwa di tingkat primer (puskesmas) serta penyesuaian strategi intervensi yang tepat sasaran secara geografis.
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Angka Kematian Bayi di Provinsi Sulawesi Selatan Menggunakan Regresi Komponen Utama Wijaya, Salwa Zahirah Putri; Salam, Sitti Sahriman; Sirajang, Nasrah; Damatia, Audia Putri; Hildayanti, Hildayanti
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan Vol. 6, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kematian bayi (AKB), khususnya kematian neonatal, merupakan indikator fundamental dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi AKB di 24 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Variabel independen yang dikaji mencakup dimensi layanan kesehatan, kondisi sosial ekonomi, pendidikan perempuan, sanitasi, air bersih, dan indikator demografis. Data dianalisis menggunakan metode Regresi Komponen Utama (Principal Component Regression/PCR) untuk menganalisis pengaruh variabel-variabel dengan mempertimbangkan adanya potensi korelasi antar variabel independen, sehingga dihasilkan model yang stabil. Melalui analisis komponen utama, lima komponen berhasil dibentuk yang merepresentasikan 84,21% dari total variasi data. Komponen pertama (PC1) mencerminkan dimensi kapasitas pembangunan manusia, PC2 kerentanan sosial, PC3 akses layanan dasar, PC4 sanitasi dan lingkungan, serta PC5 pola fertilitas dan mortalitas. Model PCR menghasilkan R² sebesar 69,91% dan terbukti stabil serta bebas dari multikolinearitas. Validasi dengan Leave-One-Out Cross-Validation (LOOCV) menghasilkan RMSE sebesar 2,394 yang mengindikasikan performa prediksi yang memadai pada data baru. Berdasarkan koefisien beta terstandarisasi, faktor penurun AKB yang paling dominan secara berurutan adalah rata-rata anak lahir hidup, angka harapan hidup, akses sanitasi, rata-rata lama sekolah, dan cakupan imunisasi.