cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Research Report - Engineering Science
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Research Report - Engineering Science merupakan kumpulan laporan penelitian yang dilakukan oleh para dosen Universitas Katolik Parahyangan, Bandung dalam bidang rekayasa. Penelitian tersebut didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Katolik Parahyangan. Bidang rekayasa mencakup berbagai disiplin ilmu, diantaranya Teknik Sipil, Arsitektur, Teknik Industri, Teknik Kimia, Teknik Informatika, Matematika dan Fisika. Research Abstract diterbitkan dua (2) kali setiap tahunnya.
Arjuna Subject : -
Articles 270 Documents
PERANCANGAN ALAT DETEKSI KANTUK DAN ANALISIS TINGKAT KANTUK PENGEMUDI BUS MALAM X Daniel Siswanto; Romy Loice; Kevin Chandra
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1863.401 KB)

Abstract

Transportasi umum antar kota telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat untuk berpindah dari satu kota ke kota lain. Transportasi darat dengan bus, kereta api, maupun mobil lebih banyak dipilih karena harganya yang relatif lebih murah. Namun transportasi darat, terutama bus, biasanya berdurasi panjang.Bagi penumpang mungkin durasi panjang bisa dimanfaatkan untuk tidur selama perjalanan, namun tidak demikian halnya bagi pengemudi.Pengemudi dituntut untuk terus fokus dan terjaga selama perjalanan yang berdurasi panjang tersebut agar terhindar dari kecelakaan. Kecelakaan bus bisa memakan banyak korban jiwa mengingat kapasitas bus yang bisa menampung puluhan orang. Pekerjaan mengemudi dengan durasi panjang dapat menimbulkan kelelahan baik secara fisik maupun mental.Manifestasi kelelahan yang sering dialami biasanya adalah mengantuk. Saat akanmengemudi dengan durasi panjang, harus dipastikan pengemudi berada dalam kondisi yang prima, dalam hal ini tidak atau sedikit memiliki rasa kantuk sebelum bekerja. Tingkat kantuk dapat di deteksi.Salah satunya dengan mengukur kecepatan reaksinya.Untuk itulah dibutuhkan suatu alat yang dapat mendeteksi kantuk dengan cepat dan praktis agar dapat digunakan untuk memeriksa keadaan pengemudi bus sebelum pengemudi melakukan perjalanannya.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan merancang alat deteksi kantuk sebelum perjalanan durasi panjang.Penelitian dilakukan pada perusahaan bus malam X sebagai obyek penelitian.Alat deteksi kantuk tersebut selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi kondisi para pengemudi bus malam X sebelum melakukan perjalanannya.Aplikasi pendeteksi kantuk memakai metode gabungan dari pyscomotor vigilance task (PVT), mackworth clock vigilance task (MVT) dan flicker test. Metode tersebut diimplementasikan pada aplikasi berbasis HTML dan dapat dioperasikan pada semua alat elektronik yang memiliki web browser untuk mendukung kepraktisan pengujian..Replikasi data kecepatan reaksi dan kuesioner Karolinska Sleepiness Scale dikumpulkan, kemudian diolah dengan menggunakan analis diskriminan untuk mengetahui variabel yang berpengaruh dan persamaan linear yang dapat digunakan dalam pendeteksian kantuk pengemudi bus malam.Hasil pengukuran kecepatan reaksi didapatkan dengan cepat melalui persamaan linear Z yang akan membandingkan nilai Z dengan titik kritis 0,904 dalam penentuan kondisi pengemudi bus malam X. Persamaan yang digunakan untuk menentukan kondisi pengemudi bus malam telah divalidasi dengan menggunakan replikasi data kecepatan reaksi yang telah dikumpulkan sebelumnya.Kata kunci : tingkat kantuk, kelelahan, kecepatan reaksi, analisis diskriminan, Karolinska Sleepiness Scale  
PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN YANG DIKELOLA PEMASOK (VENDORS MANAGED INVENTORY) Carles Sitompul; Alfian Alfian
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.048 KB)

Abstract

Sistem rantai pasok adalah suatu sistem yang bertujuan memenuhipermintaan/kebutuhan dari setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Sistem rantaipasok memegang peranan penting dalam menentukan performansi suatuindustri. Tantangan hari ini adalah terciptanya sinergi dalam suatu sistem rantaipasok. Untuk mewujudkan hal ini, industri-industri / perusahaan-perusahaanberusaha meningkatkan efisiensi biaya serta efektivitas pemenuhan permintaandalam suatu sistem rantai pasok yang diterapkannya. Terdapat beberapa sistemrantai pasok yang diterapkan saat ini. Dua di antaranya adalah sistem tradisionaldan sistem Vendor Managed Inventory (VMI). Pada sistem rantai pasoktradisional, setiap pihak yang terlibat baik pemasok ataupun penjual (retailer)mengembangkan solusi optimal masing-masing dengan mempertimbangkanberbagai faktor, antara lain biaya pemesanan dan biaya simpan. ModelEconomic Order Quantity (EOQ) adalah salah satu model yang dapat diterapkanpada sistem tradisional untuk mendapatkan solusi optimal denganmempertimbangkan biaya pemesanan dan biaya simpan.Dalam penelitian ini dikembangkan suatu model optimalisasi untuk sistemrantai pasok kedua, yaitu sistem VMI. Pada sistem rantai pasok ini, solusi optimaltidak ditentukan oleh masing-masing pihak dalam rantai pasok tetapi hanya olehsatu pihak, yaitu pemasok. Lingkup permasalahan rantai pasok yang dibahasdalam penelitian ini adalah rantai pasok VMI dengan 1 pemasok dan banyakretailer. Pada sistem ini pemasok harus menentukan jumlah barang yang akandikirim ke retailer tertentu dan seberapa sering pengiriman terjadi dalam suatuperiode. Variabel keputusan lainnya yang harus ditentukan pemasok adalahjumlah barang yang harus dipesan ke pihak ketiga untuk memenuhi tingkatpersediaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengiriman. Hal-hal ini perludioptimalisasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkansistem tradisional. Pengembangan model optimalisasi sistem rantai pasok VMIdilakukan dengan menerapkan konsep dynamic programming dan game theory.Model konseptual yang telah terbentuk diterjemahkan ke dalam bahasapemrograman AMPL sehingga dihasilkan sebuah perangkat lunak yang dapatdigunakan untuk menyelesaikan permasalahan dengan karakteristik yang sama.
Relasi Bentuk dan Dimensi Tapak Dengan Regulasi Dalam Pembentukan Karakteristik Fisik Koridor Komersial (Studi Kasus Koridor Komersial Serpong-Tangerang) Rumiati Rosaline Tobing; Julia Dewi; Uras Siahaan
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5486.633 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian berawal dari gejala yang terjadi dalam pengembangan kawasan permukiman baru di sekitar Jabodetabek yang direncanakan sebagai kota mandiri. Penyelenggaraan pembangunan kawasan permukiman oleh beberapa pengembang yang tidak terintegrasi, cenderung mengakibatkan terjadinya ruang-ruang yang tidak terhubung dengan baik. Jalur penghubung antara kawasan pengembangan yang digunakan sebagai akses baik utama maupun alternatif, bertumbuh menjadi koridor komersial yang menunjukkan. Regulasi rinci untuk pengendalian koridor baru tersusun dan diberlakukan setelah koridor komersial terbentuk tanpa perencanaan. Hal ini berbeda dengan kawasan permukiman baru yang akses utamanya bersinggungan dan memanfaatkan koridor. Akses kawasan permukiman baru ini dibangun berdasarkan tatanan dan regulasi yang disusun oleh pengembang sebagai bagian dari rencana induk kawasan yang terencana dengan baik. Persinggungan antara ruang yang terencana dan tidak terencana di sepanjang koridor komersial cenderung memperlihatkan gejala ketidakteraturan. Bentuk fisik dari massa bangunan membentuk suatu karakteristik tertentu sebagai hasil dari konfigurasi dimensi tapak, regulasi yang berlaku dan adanya pengembangan kawasan permukiman baru. Penelitian ini bertujuan menemukenali pembentukan legibility koridor penghubung antar kawasan permukiman terencana dan relasinya dengan regulasi yang berlaku serta lokasinya terhadap kawasan baru. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan simulasi penerapan regulasi pada koridor dan diaplikasikan pada tapak berdasarkan data empiris di lapangan. Proses simulasi dibantu dengan pemanfaatan teknologi komputasi algoritma dengan pendekatan parametris.Kata Kunci: Regulasi, Koridor Komersial, legibility, Simulasi Parametris
TRANSFORMASI ARSITEKTUR PERMUKIMAN TRADISIONAL DI JAWA DARI MASA HINDU-BUDHA KE MASA ISLAM Rahadhian PH
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2008)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.054 KB)

Abstract

Hindu-Buddha period in Java was identical with the period when Indonesia was still influenced by Hinduism and Buddhism traditions or the syncretism i.e. Siva Buddha; around 4th century – 15 AD. The kingdoms which had strong influences in that period were Hindu-Buddha Mataram-Sailendra-Sanjaya until Majapahit. Settlements in this period were only being able to be seen on the relief carved on the wall of temples of the eras. In Java, in 15th century after the end of Majapahit Kingdom, there was an authority transition from Hindu-Buddha style to Islamic, by the existence of Demak-Pajang Kingdom and Islamic Mataram Kingdom. The settlements that are known until now are reckoned to be started from Mataram-Islam Kindgom and then become the basics of Javanese traditional architecture knowledge. Traditional architecture of this period was different from the description of Hindu-Buddha period, although in the cultural context, Majapahit period traditions still influenced significantly in Islamic Mataram period by enculturation. This study concerns architecture transformation of settlements in the two eras because of cultural transition, which can be observed until now. The architecture transformation can be noticed in building forms and arrangement patterns; settlements in urban context. The example of Hindu-Buddha settlements architecture in Java which based on the relief is the raised floor-platform with geometrical settlements pattern, which was abandoned in Islamic Mataram period, although the geometrical pattern was still used. The platform transformation to be a non-raised floor was estimated to be happened in Majapahit period. Based on archeologically found buildings of Majapahit period, some buildings had platforms, some others did not have. The transformation was possibly influenced by foreign countries along with the entries of new belief systems or new architecture styles, as the results of international relationships development, which slowly changed the settlements images, e.g. the influence of Chinese architecture style. Besides the lower part of building, the roof was also noticed to have changes from gable-hip/saddle roof to hip and at last became “joglo” (stacked hip roof). In Hindu period temple’s relief, there were no joglo roof form; so that it can be acknowledged that the roof type did not come from old tradition, but a new form of roof, which then became one of the icons of Javanese traditional roof form. The rooms inside the building also showed the transformation. In Java, recently, it is difficult to see genuinely the settlements pattern which still shows Majapahit characteristics. However, as the comparison to it, those in Bali will be used. Based on historical studies, Hindu-Majapahit influences is still there in Bali until now. The real form of settlements pattern of temple relief can still be seen in Bali, although there has been a modification, however, the traditional pattern trails can still be noticed. The architecture and settlements pattern transformations are related closely to the urban cultural transitions. Between traditiononal architecture of settlements in Hindu period and Islamic period, there are differences between the form and space (room and building), although there are still same things; an element which has been abandoned, while the other is still developed. Is there a spatial transformation which is caused by the spiritual transformation from Hindu period to Islamic period? This matter will be deeply studied through a history exploration. The purpose of this study is to examine the correlation between both of them, together with elements transformation and their correlations in urban scale, just like theirs with other functions such as worshipping places, palaces, and so on. Key word : Transformation, hip-roof, saddle-roof, raised floor-platform
PERANCANGAN PABRIK PENGOLAHAN BIJI KOPI DAN ANALISIS KELAYAKANNYA (STUDI KASUS DI KABUPATEN BANDUNG) Ceicalia Tesavrita; Meity Marteleo
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1292.087 KB)

Abstract

Salah satu hasil bumi utama di Indonesia adalah produk pertanian. Dengan kondisi geografis dan cuaca yang sangat mendukung, hasil pertanian Indonesia bisa menyaingi hasil pertanian negara lain. Salah satu hasil pertanian yang termasuk produk unggulan Indonesia adalah kopi. Saat ini, kopi Indonesia menduduki peringkat ke 4 di dunia dari sisi tingkat output produksinya. Sayangnya, kelebihan ini tidak sampai dirasakan oleh para petani kopi. Jalur rantai pemasaran saat ini masih dikuasai oleh perusahaan besar ataupun tengkulak yang menyebabkan petani mendapatkan harga jual yang rendah. Selain itu, konsumen ataupun perusahaan penerima biji kopi memiliki standar kriteria tertentu yang tidak dapat dipenuhi oleh petani. Jika petani ingin mengelola sendiri biji kopi hasil panen mereka, dibutuhkan modal yang cukup besar.Penelitian ini ingin mememetakan jalur pemasaran kopi di Jawa Barat untuk bisa mengidentifikasi kelompok-kelompok (cluster) penghasil kopi. Dari kelompok tersebut, akan dirancang suatu jalur pemasaran yang berbasis kelompok dan menghubungkan antara kelompok tani langsung dengan konsumen. Untuk dapat memenuhi standar kriteria yang diinginkan, akan dirancangan pabrik pengolahan biji kopi untuk masing-masing kelompok tani. Rancangan pabrik tersebut akan dianalisis kelayakannya dari sisi teknik, keuangan, dan legal. 
SINTESIS ELEMEN ARSITEKTUR LOKAL DENGAN NON LOKAL Purnama Salura
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9226.487 KB)

Abstract

Penelitian ini berfokus pada proses sintesis arsitektural. Proses ini diyakini akan dapatmemberikan kontribusi pada perancangan yang dapat bertahan dalam kurun waktu yangcukup lama atau dengan kata lain adalah dapat berkelanjutan.Penelitian ini menganalisis hasil karya arsitektur (bangunan) yang telah berumur hampirseratus tahun tetapi masih tetap dapat dikatakan bangunan yang mempunyai nilai arsitekturtinggi sampai sekarang.Alat baca yang digunakan berlandas pada relasi yang terjadi pada fungsi-bentuk-maknaarsitektur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis elemen lokal dengan elemen nonlokal yang membuat hasil rancangan arsitektur dapat terus bertahan sampai saat ini.Penelitian yang bertujuan mengungkap seluruh sintesis yang tercipta pada kasus studimempunyai beberapa manfaat : pertama mengungkap elemen (lokal-non lokal) apa sajayang dapat dipadukan, kedua menguraikan operasionalisasi cara membaca sertamenerapkan proses sintesis arsitektural, ketiga memahami pentingnya kedudukan sintesisagar dapat berperan dalam tekanan perubahan yang semakin mendunia.
PENENTUAN VARIABEL BERPENGARUH PADA PENGAMBILAN MINYAK BIJI TEH SECARA MEKANIK MENGGUNAKAN PENGEPRES HIDROLIK Susiana Prasetyo S; A Prima Prima
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2010)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.722 KB)

Abstract

Pemanfaatan teh selama ini masih terbatas pada bagian daunnya saja. Biji teh merupakan bagian tanaman teh yang memiliki beragam kandungan senyawa berharga, khususnya minyak nabati bermutu tinggi yang menjadi fokus penelitian ini. Metode pengambilan minyak dari biji secara mekanik merupakan ide alternatif yang kompeten dan cocok untuk diaplikasikan pada masyarakat perkebunan. Kondisi bahan baku dan proses selama pengepresan perlu dicari untuk mengoptimalkan kuantitas dan kualitas minyak yang dihasilkan. Variabel yang disinyalir akan mempengaruhi pengepresan antara lain: perlakuan awal umpan (termal berupa: perebusan, pengukusan, pemanggangan; mekanik berupa pengecilan ukuran), tekanan, massa umpan, jumlah tahap pengepresan, dan frekuensi penguraian cake akan diamati pengaruhnya dalam penelitian ini.Bahan baku berupa buah teh akan mengalami perlakuan awal terlebih dahulu berupa penghilangan daging buah, pemecahan tempurung, sortasi inti biji, pengeringan inti biji di bawah sinar matahari hingga kadar air ±10%, perlakuan termal dan mekanik terhadap inti biji hasil sortasi sesuai dengan level variasi yang ditentukan. Biji teh kemudian dipres menggunakan pengepres hidrolik dengan variasi kondisi pengepresan yang ditentukan. Minyak yang didapat disentrifugasi untuk memisahkan pengotor tersuspensi dan pengotor koloid lainnya sehingga diperoleh produk berupa minyak kasar. Pada penelitian ini, setiap variabel akan divariasikan sebanyak 2 level dan akan diolah menggunakan rancangan percobaan 2 level faktorial dengan respon berupa yield minyak kasar dan kadar pengotor.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan termal (pemanggangan dan pengukusan) pada inti biji teh pra pengepresan lebih dominan dibandingkan pengaruh perlakuan mekanis (pengecilan ukuran). Perlakuan termal berupa pemanggangan inti biji pada temperatur 100oC pra pengepresan meningkatkan yield minyak biji teh yang dihasilkan. Pengepresan pada inti biji teh utuh memberikan yield minyak yang lebih tinggi dibandingkan pada inti biji serbuk.Perlakuan termal berupa pengukusan inti biji dan perlakuan mekanis berupa pengecilan ukuran hingga bentuk serbuk (-100+200 mesh) pra pengepresan tidak cocok diaplikasikan pada biji teh.Urutan variabel pengepresan yang memberikan pengaruh terbesar terhadap yield minyak yang didapatkan pada pengeprean inti biji teh berturut – turut sebagai berikut:a) tekanan pengepresan,b) jumlah tahap pengepresan,c) temperatur pemanggangan,d) frekuensi pengepresan dane) massa umpan (namun pengaruhnya tidak signifikan).
PENGEMBANGAN APLIKASI PEMBUKUAN USAHA MIKRO DAN KECIL (UMK) DENGAN TEKNOLOGI MOBILE CLOUD Karya, Gede; Moertini, Veronica S.
Research Report - Engineering Science Vol 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.33 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi pembukuan untuk usaha mikro dan kecil (UMK) menggunakan teknologi mobile cloud. Aplikasi pembukuan yang dikembangkan berdasarkan sistem keuangan yang diakui oleh perbankan di Indonesia khusus untuk UMK. Dengan adanya aplikasi ini diharapkan para pelaku usaha kecil dan mikro yang menggunakan aplikasi ini, dapat memenuhi kriteria pembukuan untuk mendapatkan kredit dari perbankan yang menyelenggarakan kredit UMK. Aplikasi dikembangkan menggunakan teknologi mobile cloud menggunakan platform Android dengan dukungan teknologi web service. Penelitian menghasilkan 3 aplikasi, yaitu: aplikasi pembukuan UMK berbasis Android, aplikasi web untuk administrator dan pelaporan, serta aplikasi web service berbasis JSON untuk komunikasi Android dengan server. Pengujian telah dilakukan terhadap sample UMK menggunakan perangkat tablet Android berukuran 5 dan 7 inch. Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan aplikasi pembukuan UMK berbasis Android cukup efektif, dengan indikasi laporan hasil transaksi selama masa uji coba dihasilkan dengan baik.Kata kunci: mobile cloud, aplikasi pemukuan UMK, web service, Android  
Sintesa Arsitektur Lokal dan Non Lokal Gedung Perpustakaan Bank Indonesia di Surabaya Bachtiar Fauzy; Purnama Salura; Agatha Putri
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9300.594 KB)

Abstract

Kota Surabaya merupakan kota pelabuhan utama di bagian timur Pesisir Utara Jawa,dengan letak geografis yang strategis, maka dengan masuknya berbagai budaya pendatang,maka akan bercampur dengan budaya dan alam lokal melalui proses interaksi budaya yangsering disebut dengan akulturasi budaya. Melalui proses akulturasi budaya inilah akanterbentuk aneka ragam arsitektur sebagai bentuk akulturasi arsitektur, sehingga dengan prosestersebut akan bermunculan percampuran gaya arsitektur lokal dan non lokal. Pengaruhbudaya dalam arsitektur ini dapat terlihat pada berbagai bangunan, khususnya pada bangunangedung Perpustakaan Bank Indonesia di Surabaya.Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat mengungkap adanya fenomena akulturasibudaya berdasarkan pertimbangan konteks lokal pada tataran perkembangan global.Arsitektur Kolonial merupakan salah satu wujud dari kebudayaan Eropa yang ada diIndonesia melalui proses membangun dengan gaya dan keteknikannya, maka berdasarkanpada konteks kondisi alam, khususnya yang berkenaan dengan iklim tropis di Indonesia.Pendekatan yang akan digunakan dalam mengungkap fenomena arsitektur gedungPerpustakaan Bank Indonesia di Surabaya ini menggunakan metoda deskriptif, kualitatif daninterpretatif berdasarkan sintesa yang dilakukan pada aspek arsitektur lokal dan non lokal,sedangkan teori yang digunakan adalah teori archetype dan teori fungsi, bentuk dan maknayang dapat digunakan untuk menganalisis berdasarkan konteks alam dan budaya setempat(nature-culture). Sedangkan unsur arsitektur non lokal akan dianalisis menggunakan prinsipprinsippenataan dan langgam arsitektur Kolonial pada awal abad ke-19.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan tentang bagaimana bentukperpaduan unsur budaya dan arsitektur serta ragamnya. Unsur unsur arsitektur yangberpengaruh pada gedung Perpustakaan Bank Indonesia di Surabaya ini dapat terlihat padabagian sosok,wujud, elemen dan komponen bangunan serta materialnya. Terutama sekalipada bentuk perpaduan unsur non lokal dan non lokal yang terekspresi pada bangunantersebut, sehingga kedua unsur tersebut dapat bercampur dengan baik dan menjadikanarsitektur gedung Perpustakaan Bank Indonesia di Surabaya ini sebagai representasi bentukarsitektur Indische.Kata kunci: sintesa, arsitektur, lokal, non-lokal, perpustakaan.
Kajian Kinerja Katalis Ni-Mo-S/γ-Al2O3 Proses Hidrotreating Minyak Biji Kapok (Ceiba pentandra) untuk Sintesa Biohidrokarbon Tedi Hudaya; I Gede Pandega Wiratama
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2259.958 KB)

Abstract

Dewasa kini, bahan bakar cair merupakan salah satu kebutuhan vital dalam kehidupan manusia, yang digunakan secara intensif baik dalam transportasi dan industri. Namun, sampai saat ini bahan bakar cair, yang terdiri dari campuran hidrokarbon, masih diproduksi hampir seluruhnya dari minyak bumi. Padahal minyak bumi merupakan sumber daya yang tak terbaharui dan cadangannya kian menipis. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk mencari bahan bakar cair alternatif termasuk dalam produksi hidrokarbon dari sumber terbarukan seperti minyak nabati (vegetable oil) sangat penting perannya untuk ketahanan energi di masa yang akan datang.Di Indonesia, minyak nabati merupakan bahan baku bahan bakar cair terbarukan (biofuel) yang sangat menjanjikan, mengingat produktivitas tanaman penghasil minyak (seperti sawit, jarak pagar, kapok, nyamplung, dan lain-lain) dan letak Indonesia di daerah katulistiwa dengan curah hujan dan sinar matahari yang melimpah.Minyak biji kapok, merupakan salah satu dari banyak minyak non-pangan di Indonesia, sangat berpotensi untuk diolah menjadi hidrokarbon terbarukan (bio-hidrokarbon). Melalui proses hidrotreating, yaitu hidrogenasi dan dehidrodeoksigenasi, ikatan rangkap dalam asam lemak (termasuk gugus siklopropenoid) dari minyak dapat dijenuhkan dan gugus oksigen dapat dihilangkan hingga dihasilkan propana (hidrokarbon utama dalam LPG) dan campuran hidrokarbon jenuh rantai panjang yang dapat digunakan langsung sebagai biosolar maupun diolah lebih lanjut menjadi aneka bahan bakar cair seperti bensin, kerosene, maupun avtur.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses hidrotreating minyak biji kapok sehingga diperoleh campuran biohidrokarbon, dengan fokus pembuatan, pengujian kinerja, dan pengembangan formula dasar katalis hidrotreating. Penggunaan katalis sangat penting tidak hanya untuk mempercepat laju reaksi, melainkan juga untuk menurunkan temperatur maupun tekanan reaksi sehingga produksi dalam industri dapat jauh lebih ekonomis.Percobaan dalam penelitian akan diawali dengan proses persiapan dan pembuatan katalis untuk reaksi hidrodeoksigenasi serta proses sulfidasi katalis. Katalis yang disintesa adalah katalis NiMo/γ-Al2O3 dengan variasi rasio massa promotor K2CO3 dalam katalis. Tahap selanjutnya adalah proses hydrotreating minyak biji kapok menjadi hidrokarbon rantai panjang. Proses ini akan dilangsungkan dalam reaktor batch pada tekanan 6 MPa dan variasi temperatur (300oC dan 360oC) dengan variasi waktu operasi (3 dan 6 jam) untuk mengetahui performa katalis untuk hydrotreating minyak biji kapok. Beberapa analisa terhadap produk pengolahan yang dilakukan adalah analisa FTIR, Gas Chromatography, uji besson, titrasi dengan reagen Durbetaki, pengukuran densitas, penentuan bilangan iodium, titrasi, perhitungan konversi (berdasarkan bilangan sabun) dan analisa EDS.Hasil percobaan menunjukkan bahwa katalis yang memberikan konversi tertinggi, kadar gugus siklopropenoid terendah, bilangan iodium terendah, dan bilangan sabun terendah adalah katalis NiMo/γ-Al2O3 dengan kandungan promotor K sebesar 2,32%. Proses hydrotreating diawali dengan hidrogenasi untuk penjenuhan ikatan-ikatan rangkap selama 2 jam, dilanjutkan dengan dehidrodeoksigenasi pada temperature 360oC selama 6 jam. Katalis ini juga menunjukan performa terbaik dalam mengeleminasi gugus siklopropenoid yang diamati melalui analisa FTIR, uji besson, dan titrasi dengan reagen Durbetaki. Selain itu, berdasarkan hasil analisa EDS, katalis ini juga memiliki kadar deposit karbon terkecil dibandingkan katalis percobaan lain.