Melintas An International Journal of Philosophy and Religion
The aim of this Journal is to promote a righteous approach to exploration, analysis, and research on philosophy, humanities, culture and anthropology, phenomenology, ethics, religious studies, philosophy of religion, and theology. The scope of this journal allows for philosophy, humanities, philosophy of culture and anthropology, phenomenological philosophy, epistemology, ethics, business ethics, philosophy of religion, religious studies, theology, dogmatic theology, systematic theology, theology of sacrament, moral theology, biblical theology, and pastoral theology.
Articles
781 Documents
Neo-Liberalism, the New Christian Right and the Desire for One's Own Oppression: The United States at the Turning Point
Lavin, Todd
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 3 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i3.1014.271-293
Artikel ini menyoroti bagaimana Neo-Liberalisme dan New Christian Right berhasil mendominasi politik Amerika dan merusakkan ideal dialog universal pembentukan komunitas global. Tindakan komunikatif sebagai ideal ke arah komunitas global dalam kenyataannya menghadapi tantangan sosial dan psikologis. Neo-Liberalisme dan New Christian Right di Amerika adalah neurosis sosial, siasat pertahanan diri yang bersifat reaksioner terhadap tantangan-tantangan real. Dengan itu Amerika, alih-alih mengkaji kembali dirinya, justru jatuh dalam ideologi yang protektif namun tanpa fungsi.
Humanistic Marxism and the Transformation of Reason
Brien, Kevin E.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 3 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i3.1015.295-316
Mengacu pada gagasan tentang alienasi Marx, artikel ini menyoroti struktur pola aktivitas yang tidak teralienasi. Aktivitas yang tak teralienasi ditandai oleh beberapa hal yang umumnya bertentangan dengan pola aktivitas dalam struktur masyarakat kapitalistik. Pertama, aktivitas itu mengandaikan ikatan ontologis antar manusia. Manusia bukan sarana melainkan tujuan. Objektivikasi diri tidak boleh menghambat objektivikasi orang lain sejauh yang terakhir itu mengakui kodrat sosial manusia. Kedua, di dalamnya tendensi ke arah "pemilikan" tidak dianggap pola apropriasi utama, melainkan sekedar salah satu bentuk apropriasi di antara sekian banyak bentuk lainnya. Ketiga, ia menuntut integrasi harmonis antara berbagai sisi manusia, kognitif maupun konatif, nalar maupun rasa inderawi. Maka yang rasional sekaligus dilihat mengandung yang rasawi; segala yang rasawi mengandung rasionalitas. Untuk memajukan aktivitas yang tak teralienasi ini dibutuhkan transformasi rasionalitas praktis, suatu akal-sehat yang baru.
Agreed to Disagree: Freedom of Expression and Diversity
Voragen, Roy
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 3 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i3.1016.317-330
Kebebasan berekspresi diperlukan agar semua warga dapat dirangkul. Terutama kaum minoritas perlu diberi peluang agar mereka dimungkinkan pula mengekspresikan dirinya di depan umum. Untuk itu dibutuhkan suatu kesepakatan terutama untuk menyikapi ketidaksepakatan. Maka netralitas Negara dan keutamaan toleransi adalah hal-hal yang layak dipertahankan dan dipahami ulang.
POPPER’S HUMANIZATION OF THEORY AND METHOD
Subianto Bunyamin, Antonius
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 3 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i3.1017.331-343
Popper melihat induksi mengandung tiga prinsip yang saling bertentangan. Pertama, ketidakmungkinan membenarkan suatu hukum berdasarkan suatu observasi dan eksperimen semata. Kedua, dalam kenyataan hukum-hukum itu tetap saja dipakai secara universal di dalam sains. Ketiga, ukuran untuk menerima sains adalah observasi dan eksperimen. Popper lantas mengusulkan untuk menganggap hukum-hukum dan teori sebagai bersifat tentatif namun mengandung kemungkinan ke arah akurasi dan ketepatan apabila kelak didukung oleh evidensi baru. Pengetahuan atau teori absolut tak akan pernah tercapai.
Komitmen tanpa Konflik: Tawaran Teologi Pluralisme Kristiani
Samosir, Leonardus
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 3 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i3.1018.345-360
Religions are always in tension between their claims of universality and the fact of their particularity. The potential of conflict arises precisely when the particular religion claims a universal truth. Christian theology of religious pluralism has managed to neutralize the tension by emphasizing the commitment to particular religion and at the same time the commitment to universal world problems. Such theological vision is supported by a philosophical reflection that sees truth as “revealed in“ but not “exclusively possessed“ by the particularity. In itself the truth remains transcendental, yet it shows its “traces“ in the positive outcomes of the particular.
Pertentangan Hak-Hak dan Teologi Rekonsiliasi
Borgias M., Fransiskus
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 3 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i3.1019.361-381
All human being has fundamental rights and duties. There appears possible conflict of rights and interests in the dynamics of social interaction, and possible conflict between individuals and community. This article tries to put forward a thesis that community of rights could be harmonized to each other. There are at least two ways to achieve this goal. First, the formation of consciousness of the significance of political-holiness. Secondly, pastoral formation for the spirituality of reconciliation. Both are necessary in order to avoid people from being frustrated because of being trapped in a “dirty” politics and state. And besides, we need spirituality of reconciliation as a source of new spirit and energy for people devastated by bloody conflicts. We are in need of peace gained through justice (opus iustitiae pax).
Chronicles - December 2005
Sugiharto, Bambang;
Tedjoworo, Hadrianus
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 3 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i3.1020.397-410
'Chronicles' is a journal column of "MELINTAS" which contains information about the various events, congresses, conferences, symposia, necrologies, publications, and periodicals in the fields of philosophy and theology.
A NEW MODERNITY: Living and Believing in an Unstable World
Schreiter, Robert J.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1021.143-187
Dalam situasi tak stabil saat ini konsep postmodernitas dan multikulturalisme tak lagi banyak berguna. Pluralitas dan fragmentasi hanya menarik saat kondisi sosial stabil dan aman, saat keragaman kultural tampil sebagai aneka pilihan. Yang dibutuhkan kini adalah rasa keutuhan baru. Namun berbagai jalur pencarian keutuhan saat ini macam fundamentalisme, romantisisme, universalisme dan "splitting" ternyata juga tak cukup realistis menghadapi kompleksitas tuntutan jaman.Artikel ini mengusulkan konsep "modernitas baru", yang mengandung prinsip reflektivitas, kesadaran atas kaburnya batas-batas, kemampuan menerima hibriditas, dan orientasi kosmopolitan. Berdasarkan itu diusulkanlah konsep kekatolikan baru, yakni kekatolikan yang kosmopolitan dan tidak etnosentris; mengandung keutuhan iman yangmenampilkan kepenuhan kemanusiaan dan mempromosikan rekonsiliasi; serta mampu menciptakan masyarakat komunikasi yang mengelola kompleksitas dunia manusia secara lebih konstruktif.
ON THE AFRICAN CONCEPT OF TRANSCENDENCE: CONFLATING NATURE, NURTURE AND CREATIVITY
Opara, Chioma
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1022.189-200
Makalah ini hendak mendekonstruksi polaritas antara natur yang dianggap pasip, liar dan feminin dan kultur yang yang dianggap dinamis, maskulin. Sambil menolak tesis Beauvoir, tubuh perempuan dikembalikan sebagai mekanisme generatif dan konstruktif yang bersifat transenden. Bumi yang perempuan dan perempuan yang membumi adalah proyeksi abstrak tubuh bangsa Afrika sendiri. Ketercabikan perempuan parallel dengan nasib bangsa Afrika yang dimutilasi oleh perang, kemiskinan, penyakit, kolonialisme dan postkolonialitas. Dalam kerangka pandang Afrika, natur dan kultur adalah matriks dari keperempuanan yang berkodrat nurture yang mengandung kemampuan prokreasi dan kreativitas.
RELIGION, CULTURE AND IDENTITY REVISITED
Sugiharto, Bambang
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1023.201-210
Yang telah cenderung mengakibatkan agama dan kebudayaan rentan terhadap konflik adalah persoalan identitas. Identitas budaya atau pun agama tak mesti dipahami dari sudut prinsip non-kontradiktoris atau pun dipastikan sebagai suatu substansi tetap. Juga tidak harus dipahami berdasarkan kesamaan prinsip formal, pengelompokan sosial, atau pun berbagai bentuk batas. Hal-hal ini terlampau cair, tumpang-tindih dan kontekstual untuk memahami identitas. Perbedaan cara pandang kehidupanlebih merupakan perkara "bagaimana" daripada "apa"; lebih soal bagaimana berbagai unsur yang sama digunakan dengan cara yang berbeda dan dalam berbagai konteks yang berragam. Maka, barangkali identitas lebih tepat bila dilihat dari sudut "kepedulian yang sama", yang dalam perjalanan sejarah perlu selalu dikaji ulang kembali kepentingan dan maknanya.