cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2025)" : 28 Documents clear
INVESTIGATING STUDENTS’ EXPERIENCES WITH ONLINE ASSESSMENTS: THE USE OF QUIZIZZ IN ESP COURSE Made Anggi Arlina Putri, Ni
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i2.6071

Abstract

Gamified quiz software is increasingly popular in English for Specific Purposes (ESP) instruction due to its ability to enhance student engagement and motivation. However, the effectiveness and user experience of gamified tools like Quizizz in ESP contexts remain underexplored. This study explores students' experiences with Quizizz in an ESP class, focusing on its advantages, ease of use, and challenges. Using a quantitative survey design, data were gathered from 77 Physics Education students through a Likert-scale questionnaire distributed online at the end of the 2024/2025 Odd Semester and analyzed descriptively. The results show that 86.9% of students agreed or strongly agreed that gamification features increased their motivation, and 73.3% felt more confident answering questions after using Quizizz. Its user-friendly interface and accessibility also facilitate participation. However, challenges such as time limits, unstable internet connections, and technical difficulties affected their experience. Some students felt pressured by timed quizzes, while poor network stability hindered their participation. These findings highlight both the pedagogical benefits and limitations of gamified assessments in ESP learning. To enhance pedagogical value, the study recommends adjusting quiz timing, improving technical infrastructure, and tailoring gamification to reduce anxiety while sustaining engagement. Further research should examine the long-term effects of gamified testing on ESP learning outcomes in various instructional contexts. ABSTRAK Perangkat lunak kuis gamifikasi semakin populer dalam pengajaran Bahasa Inggris untuk Tujuan Tertentu (ESP) karena kemampuannya untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa. Namun, efektivitas dan pengalaman pengguna alat gamifikasi seperti Quizizz dalam konteks ESP masih kurang dieksplorasi. Studi ini mengeksplorasi pengalaman siswa dengan Quizizz di kelas ESP, dengan fokus pada keuntungan, kemudahan penggunaan, dan tantangannya. Menggunakan desain survei kuantitatif, data dikumpulkan dari 77 mahasiswa Pendidikan Fisika melalui kuesioner skala Likert yang didistribusikan secara daring pada akhir Semester Ganjil 2024/2025 dan dianalisis secara deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa 86,9% siswa setuju atau sangat setuju bahwa fitur gamifikasi meningkatkan motivasi mereka, dan 73,3% merasa lebih percaya diri menjawab pertanyaan setelah menggunakan Quizizz. Antarmuka yang ramah pengguna dan aksesibilitasnya juga memfasilitasi partisipasi. Namun, tantangan seperti batas waktu, koneksi internet yang tidak stabil, dan kesulitan teknis memengaruhi pengalaman mereka. Beberapa siswa merasa tertekan oleh kuis berbatas waktu, sementara stabilitas jaringan yang buruk menghambat partisipasi mereka. Temuan ini menyoroti manfaat pedagogis sekaligus keterbatasan penilaian gamifikasi dalam pembelajaran ESP. Untuk meningkatkan nilai pedagogis, studi ini merekomendasikan penyesuaian waktu kuis, peningkatan infrastruktur teknis, dan penyesuaian gamifikasi untuk mengurangi kecemasan sekaligus mempertahankan keterlibatan. Penelitian lebih lanjut perlu mengkaji efek jangka panjang dari pengujian gamifikasi terhadap hasil pembelajaran ESP dalam berbagai konteks pembelajaran.
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) BERBANTUAN PHET SIMULATIONS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS VIII SMP NEGERI 1 LINGGO SARI BAGANTI Azhari, Diah Fitri; Hidayati, Abna; Pratiwi, Rahmi; Kurnia, Reni
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.6693

Abstract

This study aims to determine the effect of the Problem Based Learning (PBL) model assisted by PhET simulations on student learning outcomes in science subjects of class VIII SMP Negeri 1 Linggo Sari Baganti. The method used in this study is quantitative with a quasi-experimental approach through a nonequivalent control group design. Sampling in this study used a purposive sampling technique totaling 64 regular class students (32 students in the experimental class and 32 students in the control class). The research instruments used were pre-test and post-test totaling 20 multiple-choice questions that had previously been tested for validity, reliability, discrimination power and difficulty level of the questions. Then, data analysis in this study used a t-test to test the hypothesis and prerequisite tests in the form of normality and homogeneity tests. The results of this study indicate that there is a significant difference between the average value of student learning outcomes who participated in learning using the Problem Based Learning (PBL) model assisted by PhET simulations, namely 78.59 higher than conventional learning, namely 64.84. Meanwhile, the results of the t-test analysis showed that tcount > ttable, namely 0.412 > 2.000 for a significance level of ? 0.05. The conclusion of this study is that the use of the Problem Based Learning (PBL) model assisted by PhET simulations has an effect on improving student learning outcomes in the natural science of class VIII of SMP Negeri 1 Linggo Sari Baganti. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari model Problem Based Learning (PBL) berbantuan PhET simulations terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas VIII SMP Negeri 1 Linggo Sari Baganti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan quasi experiment melalui desain nonequivalent control group design. Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yang berjumlah 64 siswa kelas reguler (32 siswa kelas eksperimen dan 32 siswa kelas kontrol). Instrumen penelitian yang digunakan adalah pre-test dan post-test yang berjumlah 20 butir soal pilihan ganda yang sebelumnya telah di uji validitas, uji reliabilitas, uji daya beda dan tingkat kesukaran soal. Kemudian, análisis data dalam penelitian ini menggunakan uji t untuk menguji hipotesis dan uji prasyarat berupa uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan PhET simulations yaitu 78,59 lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yaitu 64,84. Sedangkan hasil análisis uji t-test diketahui thitung > ttabel yaitu 0,412 > 2,000 untuk taraf signifikan  0,05. Kesimpulan dari penelitian ini terbukti bahwa penggunaan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan PhET simulations berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas VIII SMP Negeri 1 Linggo Sari Baganti.
EXPLORING CHARACTER EDUCATION THROUGH LIU CHUNCE’S JOURNEY IN “BIG WORLD (2024)” MOVIE Della, Maria; Tawarik, Oxtapianus
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.6710

Abstract

ABSTRACT This study aims to examine the character education values portrayed in the film Big World (2024), focusing on the life journey of Liu Chunce, a teenager with cerebral palsy who faces various physical and social challenges. This topic is particularly significant as film media has the potential to serve as an effective tool for conveying moral messages and shaping character, especially among younger generations. The research employs a qualitative descriptive method with a content analysis approach based on the framework of Mayring and Fenzl. The analysis focuses on 26 character values identified by the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia. Data were collected through documentation and analyzed by identifying dialogues, actions, and experiences of Liu Chunce that represent moral values. The findings reveal that 13 character values, such as discipline, perseverance, patience, independence, social care, and leadership, are prominently reflected in the protagonist’s behavior. These values are demonstrated through Chunce’s perseverance, empathy, honesty, and optimism despite his physical limitations. The results suggest that Big World is not only a cinematic work but also an educational medium that can be utilized in character education, particularly within the context of inclusive and values-based learning. This research is expected to contribute to educators, researchers, and education practitioners in integrating film media into instructional strategies that foster positive character development. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan karakter yang ditampilkan dalam film Big World (2024), dengan fokus pada perjalanan hidup Liu Chunce, seorang remaja penyandang cerebral palsy yang menghadapi berbagai tantangan fisik dan sosial. Topik ini menjadi penting karena media film berpotensi menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan moral dan membentuk karakter, khususnya bagi generasi muda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi berdasarkan teori Mayring dan Fenzl. Analisis diarahkan pada 26 nilai karakter yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Data diperoleh melalui dokumentasi dan dianalisis dengan mengidentifikasi dialog, tindakan, serta pengalaman Liu Chunce yang merepresentasikan nilai-nilai moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 13 nilai karakter, seperti disiplin, ketekunan, kesabaran, kemandirian, kepedulian sosial, dan kepemimpinan, secara dominan tercermin dalam perilaku tokoh utama. Nilai-nilai ini ditunjukkan melalui ketekunan, empati, kejujuran, dan optimisme Chunce meskipun memiliki keterbatasan fisik. Temuan ini mengindikasikan bahwa Big World bukan hanya karya sinematik, tetapi juga media edukatif yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran karakter, khususnya pada konteks pendidikan inklusif dan berbasis nilai. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendidik, peneliti, dan praktisi pendidikan dalam mengintegrasikan media film ke dalam strategi pembelajaran yang menumbuhkan karakter positif.
STUDI EKSPLORATIF TENTANG IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF DI PAUD: PEMAHAMAN, PRAKTIK, DAN HAMBATAN YANG DIHADAPI GURU Sari, Nova; Khairiah, Khairiah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.6738

Abstract

ABSTRACT Inclusive education at the Early Childhood Education (ECE) level is a strategic effort to create a fair and supportive learning environment for all children, including those with special needs. However, its implementation still faces various challenges. This study aims to examine how inclusive education is implemented in practice, as well as the obstacles and expectations of educators, particularly in ECE settings. This qualitative descriptive research was conducted in several inclusive ECE institutions in Banda Aceh, involving four teachers with experience teaching children with special needs. Data were collected through semi-structured interviews. The findings show that teachers’ understanding of inclusive education is still limited, generally interpreted merely as placing children with special needs into regular classes without considering individual needs or adapting the curriculum. Implementation has not been effective, with teaching methods tending to be uniform and less accommodating to children’s diversity. The main challenges include limited facilities, low teacher qualifications in inclusive education, lack of parental involvement, and behavioral issues among children with special needs. Nevertheless, teachers have high hopes for improving inclusive education practices, especially through continuous training, support from specialists, and strong collaboration among teachers, parents, and other relevant stakeholders. ABSTRAK Pendidikan inklusif pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan upaya strategis untuk menciptakan lingkungan belajar yang adil dan mendukung bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi pendidikan inklusif di lapangan, serta hambatan dan harapan yang muncul dari para pendidik, khususnya di lingkungan PAUD. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan di beberapa lembaga PAUD inklusif di Kota Banda Aceh, dengan melibatkan empat guru yang berpengalaman mengajar anak berkebutuhan khusus. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru terhadap pendidikan inklusif masih terbatas, yang umumnya dimaknai sebagai sekadar menempatkan anak berkebutuhan khusus ke dalam kelas reguler tanpa memperhatikan kebutuhan individual atau adaptasi kurikulum. Implementasi belum berjalan efektif, dengan metode pembelajaran yang cenderung seragam dan kurang mengakomodasi keberagaman anak. Tantangan utama meliputi keterbatasan sarana, rendahnya kualifikasi guru dalam pendidikan inklusif, kurangnya keterlibatan orang tua, serta permasalahan perilaku pada anak berkebutuhan khusus. Meskipun demikian, para guru memiliki harapan besar terhadap peningkatan praktik pendidikan inklusif, terutama melalui pelatihan berkelanjutan, dukungan tenaga ahli, dan kolaborasi yang kuat antara guru, orang tua, dan pihak terkait lainnya.
PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI SMK NURUL ISLAM SEKARBELA Arda, Nurul; Iqbal, Muhammad; Najwa, Lu’luin
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.6741

Abstract

This research aims to describe: the role of school principals in improving the quality of education at Nurul Islam Sekarbela Vocational School. This research method uses qualitative. Data sources are school principals, teachers and students. The data collection techniques used were observation, interviews and documentation. The data obtained was analyzed by presenting the data, reducing the data and drawing conclusions. The results of this research show that 1) the role of the school principal: a) the role of the school principal as a manager, namely carrying out his role well and the program is structured and running well. b) the role of the school principal as a leader in improving the quality of education, namely by monitoring, guiding and making decisions. c) the role of the school principal as a motivator always sets a good example and appreciates the performance that has been carried out. 2) the quality of education in the implementation of learning so that professional skills and attitudes are able to improve the quality of education. 3) the role of the school principal in improving the quality of education at Nurul Islam Sekarbela Vocational School has the aim of developing educators and educating them well so that they can maintain good and maximum quality of education in the school. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang: peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMK Nurul Islam Sekarbela. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif. Sumber data adalah kepala sekolah, guru dan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan penyajian data, reduksi data dan dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) peran kepala sekolah: a) peran kepala sekolah sebagai manajer yaitu melakukan perannya dengan baik serta program sudah terstruktur dan sudah berjalan dengan baik. b) peran kepala sekolah sebagai leader dalam meningkatkan kualitas  pendidikan yaitu dengan cara memantau, membimbing dan pengambilan keputusan. c) peran kepala sekolah sebagai motivator selalu memberikan contoh yang baik dan mengapresiasi kinerja yang sudah dilakukan. 2) kualitas pendidikan dalam penyelenggaraan pembelajaran sehingga keterampilan dan sikap profesional yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan. 3) peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMK Nurul Islam Sekarbela mempunyai tujuan untuk membina pendidik dan mendidik dengan baik sehingga dapat mempertahankan kualitas pendidikan yang baik dan maksimal di sekolah.
IMPLEMENTASI MODEL PEER TEACHING DALAM PEMBELAJARAN NAHWU DAN SHARAF DI MADRASAH ALIYAH Lupiana, Indra; Supriyanto, Supriyanto
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.6409

Abstract

ABSTRACT This study aims to examine the implementation of the peer teaching model in two main branches of Arabic language learning, namely Nahwu and Sharaf, at Madrasah Aliyah Al Haitsam, Bogor. This innovation is part of a curriculum development initiative designed by the school principal to address difficulties in understanding the complex grammatical material of the Arabic language, as well as to provide a participatory space for senior students to serve as teaching assistants for their younger peers in this subject. This study employs a qualitative approach using the case study method. Data were collected through observation of the learning process at the school, in-depth interviews with the principal, subject teachers, student tutors, and tutored students, as well as documentation collected from various sources, including lesson plans, photos of activities, and school archives supporting this peer teaching activity. The results of the study indicate that the peer teaching model enhances students' understanding of Arabic grammatical concepts, strengthens active student engagement, fosters a collaborative learning environment, and develops leadership skills among senior students. This study recommends strengthening the training system for senior students and developing similar models for other subjects. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi model peer teaching atau pengajaran sebaya dalam dua cabang utama pembelajaran bahasa Arab, yaitu Nahwu dan Sharaf di Madrasah Aliyah Al Haitsam, Kota Bogor. Inovasi ini merupakan bagian dari pengembangan kurikulum yang dirancang oleh kepala madrasah untuk mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi gramatikal bahasa Arab yang rumit, serta memberikan ruang partisipatif bagi siswa senior untuk menjadi asisten pengajar bagi adik kelas dalam mata pelajaran ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi dengan mengamati proses pembelajaran yang dilakukan di madrasah, kemudian wawancara mendalam dengan kepala madrasah, guru mata pelajaran, siwa yang menjadi tutor, dan siswa yang ditutor, serta dokumentasi yang dikumpulkan dari berbagai macam sumber seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), foto kegiatan, dan arsip sekolah yang mendukung kegiatan Peer Teaching ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa model peer teaching meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep gramatikal bahasa Arab, memperkuat keterlibatan aktif siswa, membangun budaya belajar kolaboratif, serta membangun karakter kepemimpinan siswa senior. Penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem pelatihan bagi siswa senior dan pengembangan model yang serupa untuk mata pelajaran lainnya.
PLACE ATTACHMENT: ANALISIS KETERIKATAN MAHASISWA TERHADAP KAMPUS X Karim, Sukri; Lukman, Imam Abdillah; Zainab, Syarifah; Zahratika, Zahratika
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.6991

Abstract

Higher education represents a crucial stage in an individual’s life, as students acquire skills, knowledge, and experiences that strongly influence their future direction. In the context of global competition and increasingly complex social demands, universities are required not only to focus on academic achievement but also to pay attention to non-academic factors that significantly shape student satisfaction and success. One of these factors is student place attachment, which refers to the emotional bond formed through experiences, social interactions, and the physical environment of the campus. This study aimed to examine the extent of student attachment to Campus X and to analyze the differences between students’ expectations before entering the university and the reality they experienced afterward. The research employed a quantitative approach with a sample of 257 students selected through simple random sampling. The instrument used was a questionnaire covering affective, cognitive, and behavioral dimensions. The results revealed a significant difference between students’ initial expectations and their actual experiences, with a significance value of 0.000 < 0.05. These findings suggest that students’ place attachment is influenced by the quality of facilities, social interactions, and academic experiences. The study is expected to provide strategic insights for university management in strengthening students’ sense of belonging, loyalty, and overall satisfaction. ABSTRAKPendidikan tinggi merupakan fase krusial dalam kehidupan individu, karena pada tahap ini mahasiswa memperoleh keterampilan, pengetahuan, serta pengalaman yang akan memengaruhi arah masa depan mereka. Dalam konteks persaingan global dan kompleksitas tuntutan sosial, perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga memperhatikan faktor non-akademis yang berperan penting dalam kepuasan dan keberhasilan mahasiswa. Salah satu faktor tersebut adalah keterikatan mahasiswa terhadap kampus (place attachment), yaitu ikatan emosional yang terbentuk melalui pengalaman, interaksi sosial, serta kondisi lingkungan fisik kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keterikatan mahasiswa terhadap Kampus X serta menganalisis perbedaan ekspektasi mahasiswa sebelum dan setelah mereka menjadi bagian dari kampus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel 257 mahasiswa yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang mencakup dimensi afektif, kognitif, dan perilaku. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara harapan mahasiswa sebelum masuk kampus dan kenyataan yang dialami setelah kuliah, dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa place attachment mahasiswa terhadap kampus dipengaruhi oleh kualitas fasilitas, interaksi sosial, dan pengalaman akademik. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan strategis bagi pengelola perguruan tinggi dalam meningkatkan rasa memiliki, loyalitas, dan kepuasan mahasiswa.
ANALISIS FAKTOR PSIKOLOGIS TERHADAP EFIKASI DIRI DALAM KETERAMPILAN BERBICARA MAHASISWA BAHASA INGGRIS Aunurrahman, Aunurrahman; Tira, Marsa Ayu; Atika, Nyemas Firda; Pratiwi, Rahma Nur Intan
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.7062

Abstract

This research is motivated by the gap between the demands of confident English speaking skills and the reality of psychological barriers such as anxiety and low self-efficacy experienced by many students. Therefore, this study focuses on an in-depth analysis of the psychological factors that influence students' self-efficacy in speaking skills, by exploring their direct experiences in Public Speaking classes. Using a qualitative phenomenological approach, this study involved 10 second-semester students and 2 lecturers who were selected purposively. Data collection was conducted through in-depth interviews, observation, and documentation, which were then analyzed descriptively-inductively. The results found that students' self-efficacy is strongly influenced by psychological and social dynamics. Factors supporting positive self-efficacy include confidence in one's abilities, achievement motivation, and a supportive emotional environment. Conversely, the main inhibiting factors are excessive anxiety about lecturers' assessments, fear of making mistakes, and potential ridicule from peers. It is concluded that self-efficacy and anxiety have a strong reciprocal relationship, where a positive and socially supportive learning environment is the main key to building self-efficacy and improving students' speaking performance. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara tuntutan kemampuan berbicara bahasa Inggris yang percaya diri dengan realitas hambatan psikologis seperti kecemasan dan rendahnya efikasi diri yang dialami banyak mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk menganalisis secara mendalam faktor-faktor psikologis yang memengaruhi efikasi diri mahasiswa dalam keterampilan berbicara, dengan menggali pengalaman langsung mereka di kelas Public Speaking. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini melibatkan 10 mahasiswa semester dua dan 2 dosen yang dipilih secara purposif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara deskriptif-induktif. Hasil penelitian menemukan bahwa efikasi diri mahasiswa sangat dipengaruhi oleh dinamika psikologis dan sosial. Faktor pendukung efikasi diri positif antara lain keyakinan pada kemampuan diri, motivasi berprestasi, dan lingkungan emosional yang suportif. Sebaliknya, faktor penghambat utamanya adalah kecemasan berlebih terhadap penilaian dosen, takut membuat kesalahan, dan potensi ejekan dari teman. Disimpulkan bahwa efikasi diri dan kecemasan memiliki hubungan timbal balik yang kuat, di mana lingkungan belajar yang positif dan mendukung secara sosial menjadi kunci utama untuk membangun efikasi diri dan meningkatkan performa berbicara mahasiswa.
ASESMEN ALTERNATIF DALAM PEMBELAJARAN PAI: SEBUAH ASESMEN UNTUK MENEMUKAN POTENSI SISWA Rosfiani, Okta; Aulia, Vina; Fathurrahman, Helmi; Azkiya, Silvy Nada; Azis, Muhamad Faisal King Abdul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.6419

Abstract

ABSTRACT This qualitative study explores the implementation of alternative assessments in Islamic Religious Education (PAI) and their role in holistically identifying students' multidimensional potential. Using a case study approach through classroom observations, in-depth interviews with PAI teachers, and document analysis (lesson plans, student portfolios, and project assessments), this study found that alternative assessment methods such as spiritual portfolios, values-based projects, and systematic observation were effective in uncovering students' hidden potential beyond cognitive achievement. Five key potentials identified include: (1) religious leadership (qiy?dah d?niyyah), (2) interpersonal skills in Islamic da'wah (futuwwah), (3) creative expression of Islamic values (ibd?'iyyah), (4) practical worship skills (mah?rah 'amaliyyah), and (5) spiritual reflection (muh?sabah nafsiyyah). These findings align with the maq??id al-shar?'ah framework, particularly in nurturing students' spiritual (hifzh al-nafs), intellectual (hifzh al-'aql), and social (hifzh al-nasl) development. However, this study identified challenges such as teachers' difficulties in designing multidimensional rubrics, subjectivity in affective-spiritual evaluation, and time constraints for personal feedback. To address this, this study proposes an integrative assessment model that combines Sufi triangulation (teacher insight, self-reflection, and peer feedback) and a digital portfolio platform to enhance objectivity and sustainability. This study's contribution to Islamic education discourse lies in recontextualizing assessment as a tool for talent mapping and value internalization, while also offering practical recommendations for teacher training and Islamic Religious Education curriculum development. ABSTRAK Studi kualitatif ini mengeksplorasi implementasi asesmen alternatif dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) dan perannya dalam mengidentifikasi potensi multidimensional siswa secara holistik. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus melalui observasi kelas, wawancara mendalam dengan guru PAI, dan analisis dokumen (rencana pembelajaran, portofolio siswa, dan penilaian proyek), penelitian ini menemukan bahwa metode asesmen alternatif seperti portofolio spiritual, proyek berbasis nilai, dan observasi sistematis, efektif dalam mengungkap potensi tersembunyi siswa di luar pencapaian kognitif. Lima potensi kunci yang teridentifikasi meliputi: (1) kepemimpinan religius (qiy?dah d?niyyah), (2) keterampilan interpersonal dalam dakwah Islam (futuwwah), (3) ekspresi kreatif nilai-nilai Islam (ibd?'iyyah), (4) kemahiran ibadah praktis (mah?rah 'amaliyyah), dan (5) refleksi spiritual (muh?sabah nafsiyyah). Temuan ini selaras dengan kerangka maq??id al-shar?'ah, khususnya dalam memelihara perkembangan spiritual (hifzh al-nafs), intelektual (hifzh al-'aql), dan sosial (hifzh al-nasl) siswa. Meskipun demikian, studi ini mengidentifikasi tantangan seperti kesulitan guru dalam merancang rubrik multidimensional, subjektivitas dalam evaluasi afektif-spiritual, dan kendala waktu untuk umpan balik personal. Untuk mengatasi ini, penelitian ini mengusulkan model asesmen integratif yang menggabungkan triangulasi sufistik (wawasan guru, refleksi diri, dan umpan balik teman sebaya) dan platform portofolio digital guna meningkatkan objektivitas dan keberlanjutan. Kontribusi studi ini pada diskursus pendidikan Islam terletak pada rekontekstualisasi asesmen sebagai alat pemetaan bakat dan internalisasi nilai, sekaligus menawarkan rekomendasi praktis untuk pelatihan guru dan pengembangan kurikulum PAI.
REKONSTRUKSI KURIKULUM BERBASIS MULTIKULTURAL UNTUK MENANGGAPI TANTANGAN KEBERAGAMAN DI INDONESIA Rohmah, Putri Ainur; Adiba, Ida Zahara
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.6438

Abstract

ABSTRACT This study aims to reconstruct a multicultural-based curriculum at the elementary school level in response to the increasingly complex challenges of social, cultural, and religious diversity in Indonesia. This diversity represents both a wealth and a challenge that requires an educational approach capable of developing an inclusive, tolerant, and just generation. This research uses an exploratory qualitative approach, combining literature and case study methods. The case study location was SDN Kenalan, a school located in a pluralistic community. The results indicate that the practice of multicultural values has been integrated into learning activities, local content, and school culture, although not yet explicitly stated in formal curriculum documents. Challenges faced include the lack of operational policies and low teacher preparedness in developing multicultural-based learning strategies. Based on the findings, this study proposes a curriculum reconstruction model consisting of four main elements: objectives and indicators of multicultural learning, contextual teaching materials, participatory learning strategies, and an inclusive school culture. This model is expected to contribute to the development of education policies that are more responsive to the plurality of Indonesian society. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi kurikulum berbasis multikultural di tingkat sekolah dasar sebagai respons terhadap tantangan keberagaman social, budaya dan agama yang semakin kompleks di Indonesia. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan sekaligus tantangan yang memerlukan pendekatan pendidikan yang mampu membentuk generasi inklusif, toleran, dan adil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan mengombinasikan metode studi pustaka dan studi kasus. Lokasi studi kasus dilakukan di SDN Kenalan, sebuah sekolah yang berada dalam lingkungan masyarakat majemuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik nilai-nilai multikultural telah diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran, konten lokal, serta budaya sekolah, meskipun belum tertuang secara eksplisit dalam dokumen kurikulum formal. Tantangan yang dihadapi meliputi ketiadaan kebijakan operasional dan rendahnya kesiapan guru dalam menyusun strategi pembelajaran berbasis multikultural. Berdasarkan hasil temuan, penelitian ini menawarkan model rekonstruksi kurikulum yang terdiri dari empat elemen utama: tujuan dan indikator pembelajaran multikultural, bahan ajar kontekstual, strategi pembelajaran partisipatif, dan budaya sekolah yang inklusif. Model ini diharapkan menjadi kontribusi dalam pengembangan kebijakan pendidikan yang lebih responsif terhadap pluralitas masyarakat Indonesia.

Page 1 of 3 | Total Record : 28