cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 309 Documents
ETIKA BERMEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR’ANUL MAJID AN-NUR DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM Anam, Mohamad Khoerul; Sya’roni, Enjang Burhanudin Yusuf
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8403

Abstract

ABSTRACT The rapid development of social media has transformed patterns of religious and social communication within Muslim society. On the one hand, digital media facilitates the dissemination of information and da’wah; on the other hand, it generates serious ethical challenges such as hoaxes, hate speech, slander, and violations of personal dignity that threaten social harmony. This condition necessitates the formulation of a solid digital ethics framework rooted in Qur’anic values. This study aims to analyze the concept of social media ethics in Tafsir al-Qur’anul Majid an-N?r by Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy and to examine its relevance for strengthening Islamic digital literacy within Islamic Religious Education. The study employs a qualitative approach using library research. The research stages include the selection of Qur’anic verses related to communication ethics, data collection from tafsir texts and scholarly literature, content analysis, and contextual interpretation of the findings in relation to contemporary digital ethical issues. The results indicate that Hasbi ash-Shiddieqy formulates three core principles of Qur’anic ethics: responsibility for every utterance (mas’?liyyah al-qawl), the obligation to verify information (tabayyun), and the preservation of human dignity (?if? al-‘ir?). These principles are highly relevant in addressing digital ethical problems such as misinformation, disinformation, and verbal violence on social media platforms. This study concludes that Tafsir an-N?r can serve as an applicable normative-pedagogical framework to strengthen Islamic digital literacy and to foster the development of students’ digital character that is ethical, critical, and responsible through Islamic Religious Education. ABSTRAK Perkembangan pesat media sosial telah mengubah pola komunikasi keagamaan dan sosial masyarakat Muslim. Di satu sisi, media digital memfasilitasi penyebaran informasi dan dakwah, namun di sisi lain juga memunculkan berbagai persoalan etika, seperti hoaks, ujaran kebencian, fitnah, dan pelanggaran kehormatan yang mengancam tatanan sosial. Kondisi ini menuntut perumusan kerangka etika digital yang kokoh dan berakar pada nilai-nilai Qur’ani. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep etika bermedia sosial dalam Tafsir al-Qur’anul Majid an-N?r karya Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy serta menjelaskan relevansinya bagi penguatan literasi digital Islami dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Tahapan penelitian meliputi pemilihan ayat-ayat etika komunikasi, pengumpulan data dari teks tafsir dan literatur ilmiah, analisis isi (content analysis), serta penafsiran temuan secara kontekstual dengan problem etika digital kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasbi ash-Shiddieqy merumuskan tiga prinsip utama etika Qur’ani, yaitu tanggung jawab atas setiap ucapan (mas’?liyyah al-qawl), kewajiban memverifikasi informasi (tabayyun), dan penjagaan kehormatan manusia (?if? al-‘ir?). Ketiga prinsip tersebut memiliki relevansi kuat dalam merespons persoalan etika digital, seperti misinformasi, disinformasi, dan kekerasan verbal di media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir an-N?r dapat dijadikan kerangka normatif-pedagogis yang aplikatif untuk memperkuat literasi digital Islami dan membentuk karakter digital peserta didik yang berakhlak, kritis, dan bertanggung jawab melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
RELASI ONTOLOGIS BAHASA DAN SAINS: QUO VADIS FILSAFAT ILMU DI ERA DISRUPSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE Hertanto, Yudhi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8416

Abstract

This study aims to reconstruct the dialectical relationship between language and science in the midst of digital technological disruption, particularly the rapid development of Generative Artificial Intelligence (AI). In science, language functions not only as a means of communication but also as an ontological foundation that shapes the reality and validity of scientific knowledge. This research employs a qualitative approach through library research and philosophical hermeneutic analysis of literature in the philosophy of science, philosophy of language, and contemporary studies on AI. The analysis focuses on the role of terminology in the construction of knowledge, the demarcation between natural sciences (Naturwissenschaften) and social sciences and humanities (Geisteswissenschaften), and the future direction of the philosophy of science in responding to epistemic challenges in the AI era. The findings indicate that the stability of scientific terminology is experiencing a crisis due to AI hallucinations and paper mill practices that produce fake scientific works. At the same time, there is a shift in language games from descriptive to performative functions, as reflected in the use of the term “Global Boiling.” This study concludes that an adaptive epistemology is necessary to safeguard the integrity and validity of scientific knowledge in the algorithmic era. ABSTRAK Kajian ini bertujuan merekonstruksi relasi dialektis antara bahasa dan ilmu pengetahuan di tengah disrupsi teknologi digital, khususnya perkembangan Generative Artificial Intelligence (AI). Bahasa dalam sains tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai fondasi ontologis yang membentuk realitas dan validitas pengetahuan ilmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan analisis hermeneutika filosofis terhadap literatur filsafat ilmu, filsafat bahasa, serta kajian mutakhir tentang AI. Fokus kajian meliputi peran terminologi dalam konstruksi pengetahuan, demarkasi antara ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial-humaniora (Geisteswissenschaften), serta arah masa depan filsafat ilmu dalam merespons tantangan epistemik era AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas terminologi ilmiah mengalami krisis akibat fenomena halusinasi AI dan praktik paper mills yang memproduksi karya ilmiah palsu. Di sisi lain, terjadi pergeseran permainan bahasa dari fungsi deskriptif ke performatif, sebagaimana tercermin dalam istilah “Global Boiling”. Penelitian ini menyimpulkan perlunya epistemologi adaptif guna menjaga integritas dan validitas ilmu pengetahuan di era algoritmik.
SYNTAX ANALYSIS OF ENGLISH NOMINAL PHRASE STRUCTURE AND ITS IMPLICATIONS FOR GRAMMAR LEARNING: EFL LEARNERS Siregar, Imelda Kurniati; Surbakti, Reinasya Br; Adelia, Tiara; Ismahani, Siti
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8474

Abstract

This study aims to analyze the structure of English noun phrases and examine their implications for grammar learning for learners of English as a Foreign Language (EFL). The study employs a qualitative approach using a literature study method by reviewing and analyzing books and journal articles that discuss noun phrase structures from a syntactic perspective and common errors made by EFL learners. The analysis focuses on the constituent elements of noun phrases, including the head noun, determiners, pre-modifiers, and post-modifiers. The findings show that EFL learners still experience significant difficulties in constructing correct noun phrases, particularly in the use of determiners, adjective order, and post-modifying structures such as prepositional phrases and relative clauses. The errors identified generally include omission, addition, misformation, and misordering, which are influenced by the complexity of noun phrase structures and interference from the learners’ first language. These errors affect clarity of meaning, grammatical accuracy, and the quality of learners’ academic writing. Therefore, a solid understanding of noun phrase structure is essential to improve learners’ syntactic competence and academic writing ability. This study is expected to contribute to the development of more effective and structure-based grammar teaching strategies for EFL learners. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur frasa nomina dalam bahasa Inggris serta mengkaji implikasinya terhadap pembelajaran tata bahasa bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui penelaahan dan analisis buku serta artikel jurnal yang membahas struktur frasa nomina dari perspektif sintaksis dan kesalahan yang umum dilakukan oleh pembelajar EFL. Analisis difokuskan pada unsur-unsur pembentuk frasa nomina yang meliputi unsur inti (head noun), penentu (determiner), pre-modifier, dan post-modifier. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajar EFL masih mengalami kesulitan yang signifikan dalam membentuk frasa nomina yang benar, khususnya dalam penggunaan determiner, urutan adjektiva, serta struktur post-modifier seperti frasa preposisional dan klausa relatif. Kesalahan yang ditemukan umumnya berupa omission, addition, misformation, dan misordering yang dipengaruhi oleh kompleksitas struktur frasa nomina serta interferensi bahasa pertama pembelajar. Kesalahan-kesalahan tersebut berdampak pada kejelasan makna, ketepatan gramatikal, dan kualitas penulisan akademik pembelajar. Oleh karena itu, pemahaman yang kuat terhadap struktur frasa nomina sangat penting untuk meningkatkan kompetensi sintaksis dan kemampuan menulis akademik pembelajar EFL. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi pembelajaran tata bahasa yang lebih efektif dan berbasis struktur.
INTEGRASI EVALUASI PSIKOLOGIS DAN RANAH SPIRITUAL DALAM PEMBELAJARAN PAI: DIAGNOSIS POTENSI DAN PENGEMBANGAN KARAKTER HOLISTIK PESERTA DIDIK Maesaroh, Ema; Robi’ah, Siti; Risnawati, Risna; Tarsono, Tarsono
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8489

Abstract

This study explores the integration of psychological diagnostic evaluation and spiritual domains within Islamic Religious Education (PAI) as a foundation for developing students’ holistic character. The research aims to analyze the conceptual meaning and functions of evaluation from the perspective of educational psychology, describe the integration of affective–spiritual assessment in PAI, and identify the application of key evaluation principles, including objectivity, validity, and reliability. This study employs a qualitative literature review design through descriptive–analytical content analysis. Data were obtained from primary documents and secondary sources such as academic books and accredited journals published between 2020–2025. The findings reveal that psychological diagnostic evaluation plays a crucial role in identifying students’ potential, learning barriers, and specific psychological needs. Meanwhile, the spiritual domain—positioned as the highest level of the affective taxonomy—supports the formation of moral consciousness, emotional regulation, and sense of purpose. The study also highlights methodological challenges in assessing non-cognitive domains and emphasizes the use of multiple techniques, such as observation, attitude scales, and reflective journals, to strengthen evaluation validity and objectivity. Overall, the integration of psychological and spiritual evaluation is essential for designing adaptive PAI learning that supports comprehensive character development. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji integrasi evaluasi psikologis yang bersifat diagnostik dengan penilaian ranah spiritual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai dasar pengembangan karakter holistik peserta didik. Tujuan penelitian adalah menganalisis makna dan fungsi evaluasi dari perspektif psikologi pendidikan, menggambarkan integrasi penilaian afektif–spiritual dalam pembelajaran PAI, serta menjelaskan penerapan prinsip objektivitas, validitas, dan reliabilitas dalam evaluasi non-kognitif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi literatur melalui analisis isi deskriptif-analitis. Data diperoleh dari dokumen primer dan literatur sekunder berupa buku akademik dan jurnal terakreditasi yang terbit pada rentang 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi diagnostik psikologis berperan penting dalam mengidentifikasi potensi, hambatan, dan kebutuhan belajar individu. Sementara itu, ranah spiritual—sebagai tingkat tertinggi ranah afektif—berkontribusi pada pembentukan kesadaran moral, pengelolaan emosi, serta pengembangan tujuan hidup yang bermakna. Penelitian ini juga menemukan bahwa penilaian ranah afektif dan spiritual memiliki tantangan metodologis, sehingga diperlukan teknik non-tes yang beragam, seperti observasi, skala sikap, dan jurnal refleksi, untuk meningkatkan akurasi dan objektivitas. Secara keseluruhan, integrasi evaluasi psikologis dan spiritual menjadi kunci dalam merancang pembelajaran PAI yang adaptif dan berorientasi pada pembentukan karakter secara komprehensif.  
SOCIOLINGUISTIC STUDY NARRATIVE STRUCTURE AND LANGUAGE FUNCTION IN CATCH ME IF YOU CAN Darmawan, Muhammad Rahman; Ikhsandi, Muhammad Rafi; Rosalinah, Yanti
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8504

Abstract

ABSTRACT Language plays a central role in shaping and legitimizing professional identity across various social interactional contexts. This study aims to examine how the character Frank Abagnale Jr. constructs and sustains multiple professional identities through language use in the film Catch Me If You Can (2002). The analysis focuses on patterns of linguistic variation that emerge when the main character impersonates a pilot, a doctor, and a lawyer, with particular attention to register management, speech style adaptation, and language functions within institutional settings. This research adopts a descriptive qualitative approach by analyzing selected dialogues transcribed from key scenes in the film. The analysis involves identifying lexical choices, levels of formality, interactional patterns, and communicative purposes that reflect the professional demands of each assumed role. The findings indicate that language use aligned with professional norms and expectations through the deployment of technical terminology, formal registers, and authoritative speech styles plays a crucial role in shaping perceptions of competence and gaining social recognition. These findings underscore that language functions as a primary performative resource in the construction of professional identity, in which membership and legitimacy within professional communities are interactionally achieved rather than solely determined by formal qualifications. ABSTRAK Bahasa memiliki peran sentral dalam membentuk serta melegitimasi identitas profesional dalam berbagai situasi interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tokoh Frank Abagnale Jr. membangun dan mempertahankan beragam identitas profesional melalui penggunaan bahasa dalam film Catch Me If You Can (2002). Kajian difokuskan pada praktik variasi bahasa yang muncul ketika tokoh utama menyamar sebagai pilot, dokter, dan pengacara, dengan menyoroti pengelolaan register, penyesuaian gaya tutur, serta fungsi bahasa dalam konteks institusional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menganalisis dialog-dialog terpilih yang ditranskripsikan dari adegan penting dalam film. Analisis dilakukan melalui identifikasi pilihan leksikal, tingkat formalitas, pola interaksi, dan tujuan komunikatif yang mencerminkan tuntutan profesional masing-masing peran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang selaras dengan norma dan ekspektasi profesi tertentu melalui pemanfaatan istilah teknis, register formal, dan gaya tutur berotoritas berperan penting dalam membangun persepsi kompetensi dan memperoleh pengakuan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa bahasa berfungsi sebagai perangkat performatif utama dalam konstruksi identitas profesional, di mana keanggotaan dan legitimasi dalam komunitas profesional dibentuk secara interaksional, bukan semata-mata ditentukan oleh kualifikasi formal.
PARADIGMA PENDIDIKAN AKADEMIK-SENTRIS DAN DEGRADASI EMPATI PESERTA DIDIK: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Muzari, Ahmad; Iswatiningsih, Daroe
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8512

Abstract

The contemporary academic-centric educational paradigm, with its overemphasis on academic achievement and high-stakes assessments, has raised concerns about its impact on students' holistic development, particularly on socio-emotional dimensions such as empathy. This study aims to systematically examine the construction of this paradigm in the literature, analyze its influence on the degradation of students' empathy, and formulate effective counter-strategies. Using a Systematic Literature Review (SLR) of 44 relevant journal articles from the last decade, the study found that a dominant academic orientation creates a competitive climate and significant psychological stress, which in turn erodes empathy through academic stress, social comparison, and weakened cooperative relationships. The findings also highlight that the integration of Social Emotional Learning (SEL), the management of a cooperative classroom climate, and the reduction of academic stress are key strategies for restoring the balance between academic achievement and character development. It concludes that a shift towards a more humanistic and balanced approach to education is crucial to prevent the marginalization of empathy in the education system. ABSTRAK Paradigma pendidikan kontemporer yang cenderung akademik-sentris, dengan penekanan berlebihan pada capaian akademik dan asesmen berisiko tinggi, telah memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap perkembangan holistik siswa, khususnya pada dimensi sosial-emosional seperti empati. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis konstruksi paradigma tersebut dalam literatur, menganalisis pengaruhnya terhadap degradasi empati peserta didik, serta merumuskan strategi penyeimbang yang efektif. Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) terhadap 44 artikel jurnal relevan dari dekade terakhir, studi ini menemukan bahwa orientasi akademik yang dominan menciptakan iklim kompetitif dan tekanan psikologis yang signifikan, yang pada gilirannya mengikis empati melalui stres akademik, perbandingan sosial, dan melemahnya relasi kooperatif. Temuan juga menyoroti bahwa integrasi Social Emotional Learning (SEL), pengelolaan iklim kelas yang kooperatif, dan reduksi tekanan akademik merupakan strategi kunci untuk memulihkan keseimbangan antara prestasi akademik dan pengembangan karakter . Disimpulkan bahwa pergeseran menuju pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan seimbang sangat krusial untuk mencegah marginalisasi aspek empati dalam sistem pendidikan.    
PERAN MANAJEMEN WAKTU, GAYA BELAJAR, DAN MOTIVASI BELAJAR DALAM MENINGKATKAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA Anggraini, Navila Ayu; Dewiarni , Puja; Firasyanidhar, Hanifan; Rahadiyan, Tsara; Lestari, Wahyu
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8523

Abstract

Student academic achievement is an important indicator of educational success, which is influenced by various factors. This study aims to analyze and examine three internal factors, namely time management, learning style, and learning motivation, on the Grade Point Average (GPA) of students at the Faculty of Economics and Business, Jakarta State University. This study uses a quantitative approach with a survey method. The research sample consisted of 66 respondents selected using simple random sampling. Primary data were collected through a Likert scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The analysis results produced a significant model and were able to explain 57.6% of the variation in GPA (Adj.R²: 0.576). Time management was the most dominant predictor of GPA (=0.429), followed by learning motivation (= 0.370), so that both had a positive and significant effect on student GPA. Meanwhile, learning style with a value of (=-0.039) did not contribute positively to GPA. This indicates that the better the time management and the higher the learning motivation of students, the higher their GPA will be. ABSTRAK Prestasi akademik mahasiswa merupakan indikator penting dalam keberhasilan pendidikan, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji tiga faktor internal yaitu manajemen waktu, gaya belajar, dan motivasi belajar terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian berjumlah 66 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil analisis menghasilkan model yang signifikan dan mampu menjelaskan 57.6% variasi IPK (Adj.R²: 0.576). Manajemen waktu merupakan prediktor IPK paling dominan (=0.429) disusul dengan motivasi belajar sebesar (= 0.370), sehingga keduanya berpengaruh positif dan signifikan terhadap IPK mahasiswa. Sedangkan gaya belajar dengan nilai (=-0.039) tidak memberi kontribusi positif terhadap IPK. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik pengelolaan waktu, serta semakin tinggi motivasi belajar mahasiswa, maka semakin tinggi pula IPK yang diperoleh.  
ESTETIKA, ETIKA, DAN IDENTITAS DALAM PEMBELAJARAN MUSIK TRADISIONAL UNTUK ANAK USIA DINI Christina, Dina; Yetti, Eliendra; Herdiati, Dian
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8534

Abstract

Traditional music learning in early childhood plays an important role not only in the development of musical abilities, but also in the formation of character, emotional sensitivity, and the strengthening of cultural identity. This article aims to examine traditional music education from a philosophy of education perspective by positioning aesthetics, ethics, and identity as the three main pillars of arts education. The study employs a normative qualitative approach through a literature review and conceptual reflection on traditional music learning practices in early childhood education institutions in Indonesia. The findings indicate that traditional music functions as a holistic educational medium that integrates aesthetic experiences, the cultivation of moral virtues, and the reinforcement of children’s cultural identity. Aesthetic values are reflected in the process of appreciating harmony, rhythm, and musical expression, which foster children’s sensitivity and creativity. Ethical dimensions develop through collective musical practices that instill discipline, responsibility, cooperation, and empathy. Meanwhile, identity values play a role in strengthening a sense of nationalism and appreciation for local cultural heritage amid globalization. These findings affirm that traditional music learning is a sustainable educational strategy that supports the formation of well-rounded individuals. ABSTRAK Pembelajaran musik tradisional pada anak usia dini memiliki peran penting tidak hanya dalam pengembangan kemampuan musikal, tetapi juga dalam pembentukan karakter, kepekaan rasa, dan penguatan identitas budaya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pembelajaran musik tradisional dari perspektif filsafat pendidikan dengan menempatkan estetika, etika, dan identitas sebagai tiga pilar utama pendidikan seni. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif normatif melalui studi literatur dan refleksi konseptual terhadap praktik pembelajaran musik tradisional di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa musik tradisional berfungsi sebagai media pendidikan holistik yang mengintegrasikan pengalaman estetis, pembentukan kebajikan moral, serta penguatan jati diri budaya anak. Nilai estetika tercermin dalam proses apresiasi harmoni, ritme, dan ekspresi musikal yang menumbuhkan kepekaan dan kreativitas anak. Dimensi etika berkembang melalui praktik musikal kolektif yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan empati. Sementara itu, nilai identitas berperan dalam memperkuat rasa kebangsaan dan kecintaan terhadap warisan budaya lokal di tengah arus globalisasi. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran musik tradisional merupakan strategi pendidikan berkelanjutan yang mendukung pembentukan manusia seutuhnya.
INTEGRASI ETIKA PENDIDIKAN ISLAM DALAM KURIKULUM BERBASIS CINTA DI ERA DISRUPSI DIGITAL DAN ANONIMITAS GLOBAL Syafi’i, Imam; Noviani, Dwi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8823

Abstract

ABSTRAK Disrupsi digital dan anonimitas global telah memengaruhi perilaku moral peserta didik melalui melemahnya kontrol etika dan munculnya fenomena online disinhibition effect di ruang digital. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara pengetahuan keagamaan dan praksis moral, sehingga menuntut pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan reflektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi etika Pendidikan Agama Islam dalam kurikulum berbasis cinta sebagai respons terhadap tantangan moral di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yang dianalisis secara normatif-teologis, filosofis-pedagogis, dan kontekstual-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum berbasis cinta yang berlandaskan nilai rahmah, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia mampu memperkuat internalisasi akhlak peserta didik secara kontekstual. Penguatan kesadaran muraqabah serta pembiasaan nilai tabayyun dan akhlak karimah terbukti efektif dalam meredam dampak negatif disinhibisi daring dan membentuk perilaku digital yang bertanggung jawab. Penelitian ini menegaskan bahwa kurikulum PAI berbasis cinta merupakan model pedagogis humanis yang relevan dalam menghadapi kompleksitas kehidupan digital global.
ADAPTASI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN PESISIR Alimato, Alimato; Hanisu, Hanisu; Marsel, Marsel; Jana, La
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8844

Abstract

ABSTRAK Perubahan lingkungan pesisir, seperti kenaikan muka air laut, abrasi, degradasi ekosistem, dan meningkatnya cuaca ekstrem, telah menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan mata pencaharian masyarakat nelayan, khususnya di wilayah kepulauan terpencil yang memiliki keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, informasi, dan layanan pemerintah. Kondisi tersebut mendorong nelayan untuk mengembangkan berbagai strategi adaptasi guna menjaga keberlanjutan ekonomi dan sosial rumah tangga mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk strategi adaptasi sosial-ekonomi masyarakat nelayan di Desa Holimombo Jaya, Kabupaten Buton, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan dan hambatan strategi adaptasi tersebut. Penelitian dilaksanakan selama Juni–Agustus 2025 menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan dokumentasi. Sebanyak 60 kepala keluarga nelayan dipilih secara purposive sebagai responden penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan tematik melalui proses transkripsi, pengkodean, kategorisasi, dan penarikan tema utama, serta diperkuat dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan menerapkan lima strategi adaptasi utama, yaitu penyesuaian pola dan waktu melaut, diversifikasi mata pencaharian, penguatan jejaring sosial, pemanfaatan teknologi sederhana, dan pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal. Strategi-strategi tersebut memberikan dampak ganda, yakni memperkuat ketahanan ekonomi melalui pengurangan kerugian, stabilisasi pendapatan, dan peningkatan efisiensi, serta memperkuat ketahanan sosial melalui peningkatan keselamatan, solidaritas, pembelajaran kolektif, dan kesadaran lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa adaptasi nelayan di wilayah terpencil merupakan proses integratif yang melibatkan dimensi ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi, sehingga penting dijadikan dasar dalam perumusan kebijakan pembangunan pesisir yang berkelanjutan dan inklusif. ABSTRACT Coastal environmental changes, including sea level rise, coastal erosion, ecosystem degradation, and increasing extreme weather events, pose serious challenges to the sustainability of fishing livelihoods, particularly in remote island communities with limited access to capital, technology, information, and government services. These conditions have compelled small-scale fishers to develop various adaptation strategies to maintain their economic and social resilience. This study aims to identify the forms of socio-economic adaptation strategies employed by fishing communities in Holimombo Jaya Village, Buton Regency, and to analyze the factors influencing the success and constraints of these strategies. The research was conducted from June to August 2025 using a qualitative approach through semi-structured interviews, field observations, and documentation. A total of 60 fishing household heads were selected purposively as research participants. Data were analyzed using a thematic approach involving transcription, coding, categorization, and theme development, supported by source and method triangulation. The findings reveal that fishers implement five main adaptation strategies: adjustment of fishing patterns and timing, livelihood diversification, strengthening of social networks, utilization of simple technologies, and resource management based on local wisdom. These strategies generate dual impacts by enhancing economic resilience through reduced losses, income stabilization, and improved operational efficiency, while simultaneously strengthening social resilience through increased safety, solidarity, collective learning, and environmental awareness. The study concludes that adaptation among fishers in remote coastal areas represents an integrative process involving economic, social, cultural, and technological dimensions, and therefore should serve as an empirical basis for formulating sustainable and inclusive coastal development policies.