cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 593 Documents
RELASI ONTOLOGIS BAHASA DAN SAINS: QUO VADIS FILSAFAT ILMU DI ERA DISRUPSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE Yudhi Hertanto
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8416

Abstract

This study aims to reconstruct the dialectical relationship between language and science in the midst of digital technological disruption, particularly the rapid development of Generative Artificial Intelligence (AI). In science, language functions not only as a means of communication but also as an ontological foundation that shapes the reality and validity of scientific knowledge. This research employs a qualitative approach through library research and philosophical hermeneutic analysis of literature in the philosophy of science, philosophy of language, and contemporary studies on AI. The analysis focuses on the role of terminology in the construction of knowledge, the demarcation between natural sciences (Naturwissenschaften) and social sciences and humanities (Geisteswissenschaften), and the future direction of the philosophy of science in responding to epistemic challenges in the AI era. The findings indicate that the stability of scientific terminology is experiencing a crisis due to AI hallucinations and paper mill practices that produce fake scientific works. At the same time, there is a shift in language games from descriptive to performative functions, as reflected in the use of the term “Global Boiling.” This study concludes that an adaptive epistemology is necessary to safeguard the integrity and validity of scientific knowledge in the algorithmic era. ABSTRAK Kajian ini bertujuan merekonstruksi relasi dialektis antara bahasa dan ilmu pengetahuan di tengah disrupsi teknologi digital, khususnya perkembangan Generative Artificial Intelligence (AI). Bahasa dalam sains tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai fondasi ontologis yang membentuk realitas dan validitas pengetahuan ilmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan analisis hermeneutika filosofis terhadap literatur filsafat ilmu, filsafat bahasa, serta kajian mutakhir tentang AI. Fokus kajian meliputi peran terminologi dalam konstruksi pengetahuan, demarkasi antara ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial-humaniora (Geisteswissenschaften), serta arah masa depan filsafat ilmu dalam merespons tantangan epistemik era AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas terminologi ilmiah mengalami krisis akibat fenomena halusinasi AI dan praktik paper mills yang memproduksi karya ilmiah palsu. Di sisi lain, terjadi pergeseran permainan bahasa dari fungsi deskriptif ke performatif, sebagaimana tercermin dalam istilah “Global Boiling”. Penelitian ini menyimpulkan perlunya epistemologi adaptif guna menjaga integritas dan validitas ilmu pengetahuan di era algoritmik.
SYNTAX ANALYSIS OF ENGLISH NOMINAL PHRASE STRUCTURE AND ITS IMPLICATIONS FOR GRAMMAR LEARNING: EFL LEARNERS Imelda Kurniati Siregar; Reinasya Br Surbakti; Tiara Adelia; Siti Ismahani
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8474

Abstract

This study aims to analyze the structure of English noun phrases and examine their implications for grammar learning for learners of English as a Foreign Language (EFL). The study employs a qualitative approach using a literature study method by reviewing and analyzing books and journal articles that discuss noun phrase structures from a syntactic perspective and common errors made by EFL learners. The analysis focuses on the constituent elements of noun phrases, including the head noun, determiners, pre-modifiers, and post-modifiers. The findings show that EFL learners still experience significant difficulties in constructing correct noun phrases, particularly in the use of determiners, adjective order, and post-modifying structures such as prepositional phrases and relative clauses. The errors identified generally include omission, addition, misformation, and misordering, which are influenced by the complexity of noun phrase structures and interference from the learners’ first language. These errors affect clarity of meaning, grammatical accuracy, and the quality of learners’ academic writing. Therefore, a solid understanding of noun phrase structure is essential to improve learners’ syntactic competence and academic writing ability. This study is expected to contribute to the development of more effective and structure-based grammar teaching strategies for EFL learners. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur frasa nomina dalam bahasa Inggris serta mengkaji implikasinya terhadap pembelajaran tata bahasa bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui penelaahan dan analisis buku serta artikel jurnal yang membahas struktur frasa nomina dari perspektif sintaksis dan kesalahan yang umum dilakukan oleh pembelajar EFL. Analisis difokuskan pada unsur-unsur pembentuk frasa nomina yang meliputi unsur inti (head noun), penentu (determiner), pre-modifier, dan post-modifier. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajar EFL masih mengalami kesulitan yang signifikan dalam membentuk frasa nomina yang benar, khususnya dalam penggunaan determiner, urutan adjektiva, serta struktur post-modifier seperti frasa preposisional dan klausa relatif. Kesalahan yang ditemukan umumnya berupa omission, addition, misformation, dan misordering yang dipengaruhi oleh kompleksitas struktur frasa nomina serta interferensi bahasa pertama pembelajar. Kesalahan-kesalahan tersebut berdampak pada kejelasan makna, ketepatan gramatikal, dan kualitas penulisan akademik pembelajar. Oleh karena itu, pemahaman yang kuat terhadap struktur frasa nomina sangat penting untuk meningkatkan kompetensi sintaksis dan kemampuan menulis akademik pembelajar EFL. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi pembelajaran tata bahasa yang lebih efektif dan berbasis struktur.
INTEGRASI EVALUASI PSIKOLOGIS DAN RANAH SPIRITUAL DALAM PEMBELAJARAN PAI: DIAGNOSIS POTENSI DAN PENGEMBANGAN KARAKTER HOLISTIK PESERTA DIDIK Ema Maesaroh; Siti Robi’ah; Risna Risnawati; Tarsono Tarsono
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8489

Abstract

This study explores the integration of psychological diagnostic evaluation and spiritual domains within Islamic Religious Education (PAI) as a foundation for developing students’ holistic character. The research aims to analyze the conceptual meaning and functions of evaluation from the perspective of educational psychology, describe the integration of affective–spiritual assessment in PAI, and identify the application of key evaluation principles, including objectivity, validity, and reliability. This study employs a qualitative literature review design through descriptive–analytical content analysis. Data were obtained from primary documents and secondary sources such as academic books and accredited journals published between 2020–2025. The findings reveal that psychological diagnostic evaluation plays a crucial role in identifying students’ potential, learning barriers, and specific psychological needs. Meanwhile, the spiritual domain—positioned as the highest level of the affective taxonomy—supports the formation of moral consciousness, emotional regulation, and sense of purpose. The study also highlights methodological challenges in assessing non-cognitive domains and emphasizes the use of multiple techniques, such as observation, attitude scales, and reflective journals, to strengthen evaluation validity and objectivity. Overall, the integration of psychological and spiritual evaluation is essential for designing adaptive PAI learning that supports comprehensive character development. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji integrasi evaluasi psikologis yang bersifat diagnostik dengan penilaian ranah spiritual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai dasar pengembangan karakter holistik peserta didik. Tujuan penelitian adalah menganalisis makna dan fungsi evaluasi dari perspektif psikologi pendidikan, menggambarkan integrasi penilaian afektif–spiritual dalam pembelajaran PAI, serta menjelaskan penerapan prinsip objektivitas, validitas, dan reliabilitas dalam evaluasi non-kognitif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi literatur melalui analisis isi deskriptif-analitis. Data diperoleh dari dokumen primer dan literatur sekunder berupa buku akademik dan jurnal terakreditasi yang terbit pada rentang 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi diagnostik psikologis berperan penting dalam mengidentifikasi potensi, hambatan, dan kebutuhan belajar individu. Sementara itu, ranah spiritual—sebagai tingkat tertinggi ranah afektif—berkontribusi pada pembentukan kesadaran moral, pengelolaan emosi, serta pengembangan tujuan hidup yang bermakna. Penelitian ini juga menemukan bahwa penilaian ranah afektif dan spiritual memiliki tantangan metodologis, sehingga diperlukan teknik non-tes yang beragam, seperti observasi, skala sikap, dan jurnal refleksi, untuk meningkatkan akurasi dan objektivitas. Secara keseluruhan, integrasi evaluasi psikologis dan spiritual menjadi kunci dalam merancang pembelajaran PAI yang adaptif dan berorientasi pada pembentukan karakter secara komprehensif.  
SOCIOLINGUISTIC STUDY NARRATIVE STRUCTURE AND LANGUAGE FUNCTION IN CATCH ME IF YOU CAN Muhammad Rahman Darmawan; Muhammad Rafi Ikhsandi; Yanti Rosalinah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8504

Abstract

ABSTRACT Language plays a central role in shaping and legitimizing professional identity across various social interactional contexts. This study aims to examine how the character Frank Abagnale Jr. constructs and sustains multiple professional identities through language use in the film Catch Me If You Can (2002). The analysis focuses on patterns of linguistic variation that emerge when the main character impersonates a pilot, a doctor, and a lawyer, with particular attention to register management, speech style adaptation, and language functions within institutional settings. This research adopts a descriptive qualitative approach by analyzing selected dialogues transcribed from key scenes in the film. The analysis involves identifying lexical choices, levels of formality, interactional patterns, and communicative purposes that reflect the professional demands of each assumed role. The findings indicate that language use aligned with professional norms and expectations through the deployment of technical terminology, formal registers, and authoritative speech styles plays a crucial role in shaping perceptions of competence and gaining social recognition. These findings underscore that language functions as a primary performative resource in the construction of professional identity, in which membership and legitimacy within professional communities are interactionally achieved rather than solely determined by formal qualifications. ABSTRAK Bahasa memiliki peran sentral dalam membentuk serta melegitimasi identitas profesional dalam berbagai situasi interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tokoh Frank Abagnale Jr. membangun dan mempertahankan beragam identitas profesional melalui penggunaan bahasa dalam film Catch Me If You Can (2002). Kajian difokuskan pada praktik variasi bahasa yang muncul ketika tokoh utama menyamar sebagai pilot, dokter, dan pengacara, dengan menyoroti pengelolaan register, penyesuaian gaya tutur, serta fungsi bahasa dalam konteks institusional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menganalisis dialog-dialog terpilih yang ditranskripsikan dari adegan penting dalam film. Analisis dilakukan melalui identifikasi pilihan leksikal, tingkat formalitas, pola interaksi, dan tujuan komunikatif yang mencerminkan tuntutan profesional masing-masing peran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang selaras dengan norma dan ekspektasi profesi tertentu melalui pemanfaatan istilah teknis, register formal, dan gaya tutur berotoritas berperan penting dalam membangun persepsi kompetensi dan memperoleh pengakuan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa bahasa berfungsi sebagai perangkat performatif utama dalam konstruksi identitas profesional, di mana keanggotaan dan legitimasi dalam komunitas profesional dibentuk secara interaksional, bukan semata-mata ditentukan oleh kualifikasi formal.
PARADIGMA PENDIDIKAN AKADEMIK-SENTRIS DAN DEGRADASI EMPATI PESERTA DIDIK: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Ahmad Muzari; Daroe Iswatiningsih
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8512

Abstract

The contemporary academic-centric educational paradigm, with its overemphasis on academic achievement and high-stakes assessments, has raised concerns about its impact on students' holistic development, particularly on socio-emotional dimensions such as empathy. This study aims to systematically examine the construction of this paradigm in the literature, analyze its influence on the degradation of students' empathy, and formulate effective counter-strategies. Using a Systematic Literature Review (SLR) of 44 relevant journal articles from the last decade, the study found that a dominant academic orientation creates a competitive climate and significant psychological stress, which in turn erodes empathy through academic stress, social comparison, and weakened cooperative relationships. The findings also highlight that the integration of Social Emotional Learning (SEL), the management of a cooperative classroom climate, and the reduction of academic stress are key strategies for restoring the balance between academic achievement and character development. It concludes that a shift towards a more humanistic and balanced approach to education is crucial to prevent the marginalization of empathy in the education system. ABSTRAK Paradigma pendidikan kontemporer yang cenderung akademik-sentris, dengan penekanan berlebihan pada capaian akademik dan asesmen berisiko tinggi, telah memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap perkembangan holistik siswa, khususnya pada dimensi sosial-emosional seperti empati. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis konstruksi paradigma tersebut dalam literatur, menganalisis pengaruhnya terhadap degradasi empati peserta didik, serta merumuskan strategi penyeimbang yang efektif. Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) terhadap 44 artikel jurnal relevan dari dekade terakhir, studi ini menemukan bahwa orientasi akademik yang dominan menciptakan iklim kompetitif dan tekanan psikologis yang signifikan, yang pada gilirannya mengikis empati melalui stres akademik, perbandingan sosial, dan melemahnya relasi kooperatif. Temuan juga menyoroti bahwa integrasi Social Emotional Learning (SEL), pengelolaan iklim kelas yang kooperatif, dan reduksi tekanan akademik merupakan strategi kunci untuk memulihkan keseimbangan antara prestasi akademik dan pengembangan karakter . Disimpulkan bahwa pergeseran menuju pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan seimbang sangat krusial untuk mencegah marginalisasi aspek empati dalam sistem pendidikan.    
PERAN MANAJEMEN WAKTU, GAYA BELAJAR, DAN MOTIVASI BELAJAR DALAM MENINGKATKAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA Navila Ayu Anggraini; Puja Dewiarni; Hanifan Firasyanidhar; Tsara Rahadiyan; Wahyu Lestari
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8523

Abstract

Student academic achievement is an important indicator of educational success, which is influenced by various factors. This study aims to analyze and examine three internal factors, namely time management, learning style, and learning motivation, on the Grade Point Average (GPA) of students at the Faculty of Economics and Business, Jakarta State University. This study uses a quantitative approach with a survey method. The research sample consisted of 66 respondents selected using simple random sampling. Primary data were collected through a Likert scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The analysis results produced a significant model and were able to explain 57.6% of the variation in GPA (Adj.R²: 0.576). Time management was the most dominant predictor of GPA (=0.429), followed by learning motivation (= 0.370), so that both had a positive and significant effect on student GPA. Meanwhile, learning style with a value of (=-0.039) did not contribute positively to GPA. This indicates that the better the time management and the higher the learning motivation of students, the higher their GPA will be. ABSTRAK Prestasi akademik mahasiswa merupakan indikator penting dalam keberhasilan pendidikan, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji tiga faktor internal yaitu manajemen waktu, gaya belajar, dan motivasi belajar terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian berjumlah 66 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil analisis menghasilkan model yang signifikan dan mampu menjelaskan 57.6% variasi IPK (Adj.R²: 0.576). Manajemen waktu merupakan prediktor IPK paling dominan (=0.429) disusul dengan motivasi belajar sebesar (= 0.370), sehingga keduanya berpengaruh positif dan signifikan terhadap IPK mahasiswa. Sedangkan gaya belajar dengan nilai (=-0.039) tidak memberi kontribusi positif terhadap IPK. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik pengelolaan waktu, serta semakin tinggi motivasi belajar mahasiswa, maka semakin tinggi pula IPK yang diperoleh.  
ESTETIKA, ETIKA, DAN IDENTITAS DALAM PEMBELAJARAN MUSIK TRADISIONAL UNTUK ANAK USIA DINI Dina Christina; Eliendra Yetti; Dian Herdiati
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8534

Abstract

Traditional music learning in early childhood plays an important role not only in the development of musical abilities, but also in the formation of character, emotional sensitivity, and the strengthening of cultural identity. This article aims to examine traditional music education from a philosophy of education perspective by positioning aesthetics, ethics, and identity as the three main pillars of arts education. The study employs a normative qualitative approach through a literature review and conceptual reflection on traditional music learning practices in early childhood education institutions in Indonesia. The findings indicate that traditional music functions as a holistic educational medium that integrates aesthetic experiences, the cultivation of moral virtues, and the reinforcement of children’s cultural identity. Aesthetic values are reflected in the process of appreciating harmony, rhythm, and musical expression, which foster children’s sensitivity and creativity. Ethical dimensions develop through collective musical practices that instill discipline, responsibility, cooperation, and empathy. Meanwhile, identity values play a role in strengthening a sense of nationalism and appreciation for local cultural heritage amid globalization. These findings affirm that traditional music learning is a sustainable educational strategy that supports the formation of well-rounded individuals. ABSTRAK Pembelajaran musik tradisional pada anak usia dini memiliki peran penting tidak hanya dalam pengembangan kemampuan musikal, tetapi juga dalam pembentukan karakter, kepekaan rasa, dan penguatan identitas budaya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pembelajaran musik tradisional dari perspektif filsafat pendidikan dengan menempatkan estetika, etika, dan identitas sebagai tiga pilar utama pendidikan seni. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif normatif melalui studi literatur dan refleksi konseptual terhadap praktik pembelajaran musik tradisional di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa musik tradisional berfungsi sebagai media pendidikan holistik yang mengintegrasikan pengalaman estetis, pembentukan kebajikan moral, serta penguatan jati diri budaya anak. Nilai estetika tercermin dalam proses apresiasi harmoni, ritme, dan ekspresi musikal yang menumbuhkan kepekaan dan kreativitas anak. Dimensi etika berkembang melalui praktik musikal kolektif yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan empati. Sementara itu, nilai identitas berperan dalam memperkuat rasa kebangsaan dan kecintaan terhadap warisan budaya lokal di tengah arus globalisasi. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran musik tradisional merupakan strategi pendidikan berkelanjutan yang mendukung pembentukan manusia seutuhnya.
KELAS SOSIAL DALAM NOVEL TERUSLAH BODOH JANGAN PINTAR KARYA TERE LIYE Ida Fitriani; Akhmad Fauzan
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8541

Abstract

ABSTRACT This study aims to examine the social class represented in the novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar by Tere Liye. The novel was selected because it is not only a popular literary work but also reflects strong social criticism of capitalism in Indonesia. The method employed is descriptive qualitative research. Data were collected through library research using reading and note-taking techniques. The background of the study highlights social inequality that affects social structures, in which literature functions as a mirror of social injustice. The research problem focuses on how social class is portrayed in the novel, with the objective of describing its influence on character development and social conflict. The findings show that social class in the novel is analyzed using Karl Marx’s theory, which includes class dualism (bourgeois and proletariat), means of production, class state, and ideology. The novel depicts the exploitation of natural resources through illegal mining by the upper class, state apparatus repression against the lower class, and false ideology that conceals injustice. In conclusion, the novel serves as a reflection of unequal social reality, criticizes capitalist domination, and encourages critical awareness toward more equitable social change. Data analysis employed the interactive model of Miles and Huberman, including data reduction, data display, and conclusion drawing with triangulation for validity. This study is expected to enrich understanding of the role of literature in criticizing unequal social structures. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meneliti kelas sosial yang terdapat dalam novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye. Novel ini dipilih karena bukan hanya karya sastra populer, tetapi juga mencerminkan kritik sosial yang kuat terhadap kapitalisme di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode pustaka dengan teknik simak dan catat. Latar belakang masalah menyoroti ketimpangan sosial yang memengaruhi struktur masyarakat, di mana sastra berfungsi sebagai cermin realitas ketidakadilan. Rumusan masalah difokuskan pada bagaimana kelas sosial digambarkan dalam novel tersebut, dengan tujuan mendeskripsikan pengaruhnya terhadap pembentukan karakter tokoh dan konflik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas sosial dalam novel dianalisis menggunakan teori Karl Marx, yang mencakup dualisme kelas (borjuis dan proletar), alat produksi, negara kelas, serta ideologi. Novel ini menggambarkan eksploitasi sumber daya alam melalui tambang ilegal oleh kelas atas, penindasan aparat negara terhadap kelas bawah, dan ideologi palsu yang menyembunyikan ketidakadilan. Kesimpulannya, novel berfungsi sebagai cermin realitas sosial yang timpang, mengkritik dominasi kapitalisme, dan mendorong kesadaran kritis menuju perubahan sosial yang lebih setara. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi untuk validitas. Penelitian ini diharapkan memperkaya pemahaman tentang peran sastra dalam mengkritik struktur sosial yang timpang.
EXPLORING SYNTACTIC COMPETENCE IN ACADEMIC WRITING: EVIDENCE FROM UINSU TADRIS ENGLISH STUDENTS Anissa Anissa; Asti Ananta; Harshanda Rafika Putriana; Siti Ismahani
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8638

Abstract

This study investigates the syntactic competence of fifth-semester Tadris English students at Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) in producing academic writing. The purpose of this study is to identify common syntactic errors and examine students’ ability to apply syntactic structures accurately in academic texts. This research employed a qualitative descriptive approach involving 20 students as participants. The data were obtained from students’ academic writing assignments in the form of short essays and analyzed using error analysis techniques. The analysis focused on sentence structure, clause construction, subject–verb agreement, word order, and the use of connectors. The findings indicate that although students demonstrate basic understanding of English syntax, they still encounter difficulties in producing complex syntactic structures. Sentence structure errors, subject–verb agreement problems, and clause construction errors were the most frequently identified. These findings suggest that students have not fully mastered syntactic rules required for effective academic writing. Therefore, this study highlights the importance of explicit syntactic instruction, guided writing practice, and corrective feedback to enhance students’ syntactic competence in EFL academic contexts. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kompetensi sintaksis mahasiswa semester lima Program Studi Tadris Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) dalam penulisan akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan 20 mahasiswa sebagai partisipan. Data diperoleh dari tugas menulis akademik mahasiswa berupa esai singkat yang dianalisis menggunakan teknik analisis kesalahan. Analisis difokuskan pada struktur kalimat, konstruksi klausa, kesesuaian subjek dan verba, urutan kata, serta penggunaan konjungsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa telah memiliki pemahaman dasar mengenai sintaksis bahasa Inggris, mereka masih mengalami kesulitan dalam menggunakan struktur sintaksis yang kompleks. Kesalahan yang paling sering ditemukan meliputi kesalahan struktur kalimat, kesesuaian subjek dan verba, serta konstruksi klausa. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa belum sepenuhnya menguasai kaidah sintaksis yang diperlukan dalam penulisan akademik. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya pengajaran sintaksis secara eksplisit, latihan menulis yang terarah, serta pemberian umpan balik untuk meningkatkan kompetensi sintaksis mahasiswa dalam konteks EFL.
CLAUSE STRUCTURE IN INDONESIAN POP SONG LYRICS: A SYNTACTIC STUDY Rismayani Marpaung; Nazwa Umri Damanik; Lili Elisa Rahma; Tiara Sani; Siti Ismahani
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8639

Abstract

This article examines clause structure in Indonesian pop song lyrics from a syntactic perspective using a literature review approach. Rather than conducting primary data analysis, the study synthesizes findings from journal articles, undergraduate theses, and empirical studies that focus on syntactic patterns in song lyrics. As a form of artistic discourse, pop song lyrics exhibit flexible linguistic characteristics and frequently diverge from canonical syntactic rules to accommodate aesthetic, expressive, and rhythmic demands. The synthesis reveals that Indonesian pop song lyrics predominantly employ simple clause structures, subject and object ellipsis, inversion, and fragmentary constructions. These syntactic patterns function to enhance emotional expression, maintain alignment with melodic structure, and increase memorability and listener engagement. The findings further indicate that syntactic realization in song lyrics occupies an intermediate position between spoken and written language, emphasizing functional and contextual meaning over formal grammatical completeness. This article provides a comprehensive overview of dominant clause structure characteristics in Indonesian pop song lyrics and discusses their implications for syntactic analysis, lyrical interpretation, and linguistic studies in popular music media. ABSTRAK Artikel ini mengkaji struktur klausa dalam lirik lagu pop Indonesia dari perspektif sintaksis melalui pendekatan tinjauan literatur. Penelitian ini tidak melakukan analisis data primer, melainkan mensintesis temuan dari artikel jurnal, skripsi, dan studi empiris yang membahas pola sintaksis dalam lirik lagu. Lirik lagu pop sebagai bentuk wacana artistik memiliki karakteristik kebahasaan yang cenderung fleksibel dan sering menyimpang dari kaidah sintaksis kanonik guna memenuhi tuntutan estetika, ekspresif, dan ritmis. Hasil sintesis menunjukkan bahwa lirik lagu pop Indonesia secara dominan menggunakan struktur klausa sederhana, elipsis subjek dan objek, inversi, serta konstruksi fragmentaris. Pola-pola sintaksis tersebut berfungsi untuk memperkuat ekspresi emosional, menjaga keselarasan dengan struktur melodi, serta meningkatkan daya ingat dan keterlibatan pendengar. Temuan ini juga menunjukkan bahwa realisasi sintaksis dalam lirik lagu menempati posisi antara bahasa lisan dan bahasa tulis, dengan penekanan pada fungsi komunikatif dan kontekstual. Artikel ini memberikan gambaran komprehensif mengenai karakteristik struktur klausa dalam lirik lagu pop Indonesia serta implikasinya bagi kajian sintaksis, interpretasi lirik, dan studi kebahasaan dalam media musik populer.