cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
iin_indrayani@polsri.ac.id
Editorial Address
Politeknik Negeri Sriwijaya Jurusan Teknik Sipil Jl. Srijaya Negara Bukit Besar Palembang - 30139 Telp: 0711-353414, Fax:0711-355918
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
PILAR
ISSN : 19076975     EISSN : 27222926     DOI : -
Jurnal Pilar adalah jurnal dibidang Teknik Sipil dengan Bidang kajian : Sumber Daya Air Manajemen Rekayasa Geoteknik Struktur Transportasi
Articles 162 Documents
PENGARUH PEMAKAIAN KAWAT BENDRAT GALVANIS SEBAGAI BAHAN TAMBAH TERHADAP KUAT TEKAN BETON ( 21-24 ) Hamdi Hamdi; Dafrimon Dafrimon; Sugeng Harijadi1
PILAR Vol. 14 No. 2 (2019): Pilar: September 2019
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kekuatan struktur beton mengidentifikasikan kualitas beton yang digunakan. Semakin tinggi kekuatan struktur beton yang dikehendaki, maka semakin tinggi pula mutu beton yang harus digunakan. Penambahan serat  baja berupa kawat bendrat berkait (hooked), diharapkan dapat memperbaiki kualitas beton dari sisi kekuatan lenturnya. Penelitian dilakukan melalui uji sampel yang dilakukan di laboratorium, yaitu dengan menggunakan beton polos mutu K-300 (umur 28 hari), dengan penambahan serat kawat bendrat kadar 0%, 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%. Hasil pengujian pada sampel usia 14 hari diperoleh bahwa, pada penambahan 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% kawat bendrat terhadap semen, berturut-turut dihasilkan kekuatan lentur sebesar 219 kg/cm2, 230 kg/cm2, 212 kg/cm2, 208 kg/cm2, 187 kg/cm2 dan 181 kg/cm2. Dapat disimpulkan bahwa penambahan kawat bendrat 1% kedalam campuran beton memiliki nilai kuat tekan tertinggi diantara komposisi lainnya.Kata kunci: beton, kawat bendrat, kuat tekan.
PENGARUH ENCENG GONDOK DAN KAPUR TERHADAP UNIT PENGOLAHAN AIR GAMBUT Zainuddin Muchtar
PILAR Vol. 9 No. 2 (2013): PILAR 09092013
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam upaya penyediaan air bersih dan sehat bagi masyarakat pedesaan yang mana kualitas air tanahnya buruk serta belum mendapatkan pelayanan air minum dari PAM,  penggunaan sumur didaerah bergambut atau daerah rawa umumnya dangkal dengan air berwarna coklat, berkadar asam humus, za t organik dan besi yang tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya pengolahan air gambut, agar air didaerah gambut atau rawa dapat dipakai untuk  memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian  perlu dilakukan penelitian pembuatan alat pengolah air gambut yang  murah, mudah pengerjaannya serta hasil olahan yang memenuhi mutu air minum.Penentuan pengaruh komposisi  kapur  sebagai adsorben tambahan pada proses filtrasi menggunakan koral dan pasir kuarsa, dimana pada tahapan ini dibuat unit pengolahan air gambut tetapi menurut panjang pipa paralon dibuat lebih panjang 30 cm. Komposisi adsorben yang dipakai pada tahap ini  adalah variasi kapurnya adalah 10cm, 20cm dan 30cm. Komposisi adsorben di atas yang menghasilkan kadar besi dan magnesium terendah, dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu menentukan pengaruh penambahan kapur terhadap pH (Derajat keasaman) air gambut hasil olahan. Komposisi tanah gambut+ kapur adalah 250+10 ; 250+20 dfan 250+30. Air gambut hasil olahan unit pengolahan air dengan masing-masing komposisi di atas dianalisis kandungan besinya menggunakan metode SSA (Spektrometri Serapan Atom) serta diukur pH n yaDari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa  penambahan kapur sebagai bahan tambah pada unit pengolahan air gambut, mampu menaikkan kadar pH pada air baku. Dari 16 (enam belas) sampel yang diuji, Sampel yang masuk ke dalam kriteria Permenkes  RI No.492  tahun 2010 adalah sampel sebelas, duabelas, tigabelas, empatbelas dengan nilai 6,5 s/d 7,46.  Enceng Gondok sebagai adsorben dan pengisi bahan di dalam tabung, berhasil mengurangi kandungan kadar besi dan mampu mengurangi tingkat kekeruhan pada air baku.  Penggunaan Tanah gambut, kapur , pasir kuarsa dan Enceng mampu mengurangi kandungan zat organik pada air baku.  Susunan saringan yang terbaik untuk air baku di desa Tanjung Barangan dengan kondisi awal air baku (pH 3.5, kandungan kadar besi 1.21 mg/l, kekeruhan 26,12 mg/l dan zat organik 14,32 mg/l) adalah sampel ketigabelas dengan komposisi Tanah gambut sebagai koagulan sebanyak 250 gram, penambahan kapur sebanyak 30 gram, Enceng setinggi 20 cm, dan Pasir kuarsa setinggi 60 cm.
PENGARUH PENAMBAHAN FLY ASH DALAM CAMPURAN BETON SEBAGAI SUBSITUSI SEMEN DITINJAU DARI UMUR DAN KUAT TEKAN Masyita Dewi Koraia
PILAR Vol. 9 No. 2 (2013): PILAR 09092013
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fly ash sebagai subsitusi semen dalam campuran beton ditinjau dari umur dan kuat tekan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kekuatan maksimum untuk beton dengan berbagai variasi campuran fly ash. Metode yang digunakan berdasarkan hasil penelitian. Variasi campuran beton yang digunakan pada penelitian pada penelitian ini adalah o%, 5%, 10% dan 15% dengan waktu pengamatan 7, 14, 28, 35, 42 dan 56 hari. Dalam penelitian ini kuat tekan beton dihitung dengan menggunakan rumus P/A (kg/cm2). Hasil penitian menunjukan bahwa beton normal (0%) kuat tekannya 34,889 Mpa > 25 Mpa. Berdasarkan hasil kuat tekan yang diperoleh, fly ash bisa digunakan sebagai subsitusi semen dalam campuran beton tetapi waktu untuk mencapai kuat tekan maksimum lebih lambat dibanding dengan beton normal (> 56 hari).
PENERAPAN SISTEM SATU ARAH PADA RUAS JALAN POM IX, KOTA PALEMBANG. ( 24-30 ) Yusri Bermawi; Herlinawati Herlinawati; Feri Hari Sandi; Indra Putra
PILAR Vol. 13 No. 2 (2018): Pilar: September 2018
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPalembang dengan jumlah penduduk 1.7 juta jiwa tidak luput dari masalah transportasi. Sistem satu arah yang diterapkan pada tanggl 6 november 2017 merupakan manajemen transportasi yang baru diterapkan di Kota Palembang guna mengurai kemacetan yang sering terjadi pada simpang lima DPRD, Palembang. Dalam hal ini Jalan Pom IX merupakan jalan yang turut menjadi bagian dari sistem satu arah diberlakukan. Kajian ini dimaksudkan sebagai masukan bagi instansi terkait dalam untuk evaluasi manajemen masa akan dating. Metoda yang dipakai adalah pengamatan lalulintas kendaraan langsung pada ruas jalan yang bersangkutan dan sekitarnya Dari hasil kajian terhadap karakteristik lalulintas dan kapasitas pada ruas jalan POM IX kota Palembang menghasilkan hasil volume kendaraan pada jam puncak sebesar 2808,85 smp/jam pada titik pertama, 2874,65 smp/jam pada titik kedua, dengan kecepatan pada masing-masing titik 22,12 km/jam dan 17,70 km/jam serta kepadatan 126,95 smp/km dititik pertama dan 161,48 dititik kedua, dengan derajat kejenuhan sebesar 0,47 dan 0,49 pada masing- masing titik. Disertai hambatan samping yang tinggi sehingga memperoleh nilai tingkat pelayanan C yang memiliki karakteristik arus stabil dan kecepatan yang dikontrol oleh lalulintas. Dengan demikian penerapan sistem satu arah pada ruas jalan POM IX layak diterapkan sesuai dengan hasil analisa yang telah dilakukan.
BANGKITAN LALULINTAS DAN KEBUTUHAN PARKIR PADA KAMPUS POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA Yusri Bermawi
PILAR Vol. 7 No. 1 (2012): PILAR 07032012
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Politeknik Negeri Sriwijaya adalah salah satu dari tiga Perguruan Tinggi yang ada di Sumatera Selatan, yang dalam kiprahnya sebagai penyelengara pendidikan tinggi, dituntut untuk selalu meningkatakan pelayanan kepada masyarakat.  Hal ini dapat dilihat perannya dari tahun ke tahun dengan terjadi peningkatan jumlah mahasiswa yang diterima.  Dengan terus bertambahnya jumlah mahasiswa akan berpengaruh kepada penyediaan prasarana yang ada, termasuk lahan perparkiran. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui fasilitas tersedia berdasarkan peruntukannya,  mendapatkan karakteristik parkir, pemanfaatan lahan yang ada dan kebutuhan parkir pada lima tahun mendatang serta rekomendasi untuk pengembangan.  Metoda yang dipakai adalah dengan pengamatan langsung selama satu hari dengan tetap memperhatikan arus lalulintas disekitar kampus.Dari analisa diperoleh : akumulasi parkir sepeda motor = 1320 kendaraan, roda empat =161 kendraan.  Luas lahan yang tersedia berdasarkan peruntukan sepeda motor = 280 m2 dan untuk roda empat= 1036 m2  Berdasarkan pemanfaatan (optimasi) lahan luas lahan parkir roda dua = 2080 m2., roda  empat = 4.912,7 m2Kebutuhan luas lahan parkir lima tahun mendatang untuk roda dua =2.940 m2 sedangkan untuk roda empat = 4.596,7 m2.  Untuk kelancaran arus lalulintas dalam kampus, perparkiran perlu dilengkapi marka dan rambu sesuai dengan fungsinya.  Disarankan untuk membedakan arus keluar dan masuk kampus mengingat berdekatan dengan jalan utama Srijaya Negara
BETON MUTU K-400 DENGAN PENAMBAHAN ABU SEKAM PADI DAN SUPERPLASTISIZER Djaka Suhirkam; Dafrimon Dafrimon
PILAR Vol. 10 No. 1 (2014): PILAR 10032014
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton adalah suatu bahan material menyerupai batu yang dihasilkan dari campuran bahan – bahan dengan perbandingan tertentu dari semen , agregat halus ( pasir ) , agregat kasar ( koral/split ) dan air tanpa atau dengan bahan tambah . Campuran tersebut akan mengeras pada suatu cetakan yang sesuai dengan keinginan. Semen dengan air akan bereaksi secara kimiawi dengan mengikat partikel dari agregat agregat menjadi suatu masa yang sangat padat. Dalam mempermudah pekerjaan perlu penambahan air yang melampaui jumlah air yang dibutuhkan untuk beraksi, penambahan ini diperlukan supaya campuran pasta beton dapat mengisi celah – celah dan membungkus tulangan dengan sempurna. Bila hal ini dilaksanakan maka kemungkinan kekuatan beton akan menurun, karena faktor air semennya terlalu berlebih. Kekuatan beton dipengaruhi oleh kualitas bahan pembentuk beton, kepadatan dan FAS, sehingga jumlah air yang digunakan dalam pembuatan beton sangat menentukan kekuatannya. Untuk menanggulanginya digunakan bahan tambah Superplasticizer yang dapat mengurangi penggunaan air, tetapi akan meningkatkan kekuatan tekan beton serta memudahkan dalam pelaksanaannya.Untuk meningkatkan kekuatan beton perlu dilakukan penambahan bahan tambah mineral dalam campuran beton. Bahan tambah yang dimaksud adalah bahan tambah yang berupa material yang mengandung pozzolan yang halus dengan komposisi banyak mengandung silika. Salah satu material yang mengandung pozzolan yang banyak mengandung silika adalah abu sekam padi yang halus.Abu sekam padi sebagai pozzolan digunakan untuk pengganti sebagian semen apakah akan mempengaruhi terhadap kekuatan beton. Untuk itu dilakukan penelitian di Laboratorium Bahan untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya bila sebagian semen diganti dengan abu sekam padi pada beton K – 400 . Dalam penelitian ini persentase semen yang diganti dengan abu sekam padi sebesar 2,5% , 5% , 7,5% , dan 10% dengan menggunakan superplastizicer sebesar 0,6% terhadap air yang digunakan. Dalam penelitian menggunakan benda uji kubus untuk kuat tekan dan benda uji silinder untuk kuat tarik.Hasil kuat tekan dan kuat tarik beton yang menggunakan abu sekam padi dan superplastizicer hasilnya lebih basar bila dibandingkan dengan beton normal. Lebih besar persentase penggunaan abu sekam kekuatannya lebih meningkat .
PENDEFINISIAN STATION GNSS CORS GMU1 YANG DIIKATKAN TERHADAP TITIK IKAT GPS REGIONAL DAN GLOBAL ( 1-6 ) Sri Rezki Artini
PILAR Vol. 13 No. 1 (2018): Pilar: Maret 2018
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stasiun GNSS CORS dapat digunakan sebagai titik acuan dalam menentukan posisi relatif baik secara real time maupun post processing. Titik acuan ini digunakan untuk pengukuran titik-titik di permukaan bumi. Dalam pengukuran ini diperlukan ketelitian tinggi yaitu sampai fraksi milimeter. Dalam penelitian ini, stasiun GNSS CORS yang digunakan adalah stasiun GNSS CORS GMU1 yang sudah beroperasi sejak tahun 2009 yang terletak di Gedung Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geodesi (Lantai Tiga) Universitas Gadjad Mada Yogyakarta, Indonesia. Penelitian ini mendefinisikan ulang koordinat stasiun GNSS CORS GMU1 menggunakan data pengamatan GNSS selama tujuh hari yaitu tanggal 14 Juli 2012 sampai dengan tanggal 20 Juli 2012 menggunakan kombinasi titik ikat stasiun global IGS dan regional.Ttitik ikat stasiun global IGS yang digunakan dalam penelitian ini yaitu DGAR, GUAM, IISC, KARR, KUNM, PIMO, dan TOW2. Sedangkan titik ikat stasiun Regional yang digunakan adalah BAKO, CJPR, CDNP, CSRJ, SAMP, CBAL dan CBIT. Pengolahan data menggunakan software ilmiah GAMIT/GLOBK. Hasil penelitian ini berupa nilai koordinat kartesian 3D dari stasiun GNSS CORS GMU1 pada tahun 2012 dan kecepatan posisinya. Koordinat hasil pengolahan yaitu X (m) = -2200206,97088 m ± 26,08 mm; Y (m) = 5924895,45433 m ± 26,30 mm; Z (m) = -855932,55993 m ± 192,51 mm. Dapat dilihat simpangan baku yang dihasilkan dari hasil pengolahan kombinasi titik ikat stasiun Global IGS dan regional adalah sampai fraksi milimeter.
KAJIAN PEMODELAN LEBAR JALAN PADA PERUMAHAN BUKIT SEJAHTERA INDRAYANI INDRAYANI
PILAR Vol. 7 No. 2 (2012): PILAR 07092012
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk menentukan lebar jalan di suatu komplek perumahan perlu diketahui peruntukan dari keberadaan komplek perumahan tersebut, sehingga jalan yang dibuat dapat melayani kebutuhan pemilik rumah.  Dari dasar inilah maka pada penelitian ini dibuat suatu persamaan model untuk menentukan lebar jalan pada salah satu komplek perumahan di kota Palembang yaitu Komplek Perumahan Bukit Sejahtera dengan meninjau beberapa variabel yang ada dalam komplek perumahan tersebut dengan beberapa type rumah didalamnya sehingga didapatkan lebar jalan yang ideal untuk dapat digunakan pada komplek yang sama pada perumahan yang lain.  Pemodelan lebar jalan pada komplek perumahan terdiri atas beberapa variabel yaitu : lebar jalan sebagai variabel terikat sedangkan panjang jalan, kecepatan kendaraan, arus kendaraan, jarak ke pasar, jarak ke kantor, jarak ke sekolah, jarak ke mesjid, jarak ke tempat olah raga dan rekreasi serta jarak ke pintu keluar merupakan variabel bebas.  Aplikasi terhadap lebar jalan hasil pemodelan dengan menggunakan model korelasi menunjukkan bahwa lebar jalan eksisting  untuk lebar jalan 4,00 m dan 4,50 m tidak perlu diperlebar dengan batasan kecepatan kendaraan 15 km/jam,  untuk lebar jalan 5,00 m tidak perlu diperlebar dengan batasan kecepatan kendaraan 20 km/jam,  untuk lebar jalan 5,50 m perlu diperlebar hingga 7,00 m dengan batasan kecepatan kendaraan 20 km/jam, pada jalan dengan lebar 6,00 m tidak perlu diperlebar bahkan kecepatan kendaraan dapat ditambah hingga 30 km/jam, pada jalan dengan lebar 7,00 m tidak perlu diperlebar bahkan kecepatan kendaraan dapat ditambah hingga 30 km/jam dan pada jalan dengan lebar 15,00 m perlu diperkecil hingga 11,00 m dengan batasan kecepatan kendaraan 60 km/jam.
TINGKAT KEPUASAN BERDASARKAN RESPON PENGHUNI RUMAH SUSUN SEWA KASNARIANSYAH PALEMBANG Dafrimon Dafrimon
PILAR Vol. 10 No. 1 (2014): PILAR 10032014
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The solution provided by the government to meet the residence habitable for residents on low incomes are flat, so that in the long term the government can concentrate on a simple home-based apartment rental (Rusunawa). in serving the needs of the people there are limitations that are still encountered.The aim of this study is determine the level of occupant satisfaction, by comparing the quality of service expected from residents and the quality of care received. Results from the adaptation of hosts with a jug of behavior influence and impact on the level of satisfaction.Locations used for research on the Flats are managed by PD. Sarana Pembangunan Palembang Jaya (PD. SP2J) located in Kasnariansyah Street.This study shows that residents in the Flats PD. Sarana Pembangunan Palembang Jaya not satisfied with thequality of care they receive, because there are gaps and level of satisfaction based on dimensions of Tangibles 0.01 and 1.00, Realibility 0.00 and 1.00, Responsive 0.00 and 1.00, Assurance 0.02 and 1.01, Emphaty 0.02 and 1.01 In the analysis of a Cartesian diagram obtained Rusunawa Kasnariansyah statement that residents of the 35 attributes/statement only 21 attributes/statements are satisfied and 6 attributes/ statements which need to be processed.To meet the satisfaction level of residents, managers Flats Rusunawa Kasanriansyah need to do a repair of the interior design, playgrounds and expand the walkaways.
MENGOPTIMALKAN PENCAHAYAAN DAN SIRKULASI UDARA UNTUK MENAMBAH KENYAMANAN DAN KESEGARAN RUMAH TINGGAL Agus Subrianto
PILAR Vol. 5 No. 2 (2011): PILAR 07032011
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One effort to increase comfort and freshness in the household is to optimize the lighting and air circulation for either natural or artificial. Lighting and air conditioning is a very important element of the work in the occupation of the building because many disciplines are involved there, namely architectural, electrical and mechanical. To construct a house to live is not necessarily all components of the planners involved because a smaller scope of work. For that a Civil Engineer should consider the basics of planning for lighting and air circulation inside the house to live more optimally. In this manuscript is introduced a simple concept of lighting design and air conditioning. Starting from giving space to light and air can enter with either naturally or artificially (artificial) if necessary, including the equations that can determine the capacity or electrical power and air conditioning in the room are planned. The concept of lighting and air circulation must be understood very well because when designing one component will have an impact that could have a negative on the other components.

Page 8 of 17 | Total Record : 162