cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : 30891973     DOI : -
AL-IKTIAR, Journal of Islamic Studies is to publish original empirical research articles and theoretical reviews of Islamic Studies, covering a wide range of issues on Islamic studies in a number of fields including as below. 1. Islamic Education 2. Islamic Thought 3. Islamic Law 4. Islamic Theology 5. Islamic Politics 6. Islamic History and Civilization
Articles 112 Documents
Moderasi Beragama di Kalangan Muslim Indonesia Juhrianto Ardian Lutfhi; Try Sabella; Mofari jatul Fitriani
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious moderation among Indonesian Muslims is an important concept in viewing, implementing and practicing religious teachings in an inclusive and progressive manner. The concept of religious moderation emphasizes the need to build attitudes that respect human dignity, promote tolerance, and strengthen harmony between religious communities. Challenges in implementing religious moderation include efforts to minimize violence against different beliefs, maintain plurality, and ensure the implementation of increasingly strong and collaborative religious moderation programs. With a focus on sustainable leadership and human resource development, religious moderation is expected to be the key to a Golden Indonesia 2045. The importance of a religious moderation perspective in building tolerance, harmony and shared prosperity in Indonesia is increasingly emphasized through various initiatives and regulations, such as Presidential Regulation Number 58 of the Year 2023 concerning Strengthening Religious Moderation. The research results show that religious moderation among Indonesian Muslims has a multidimensional meaning. Moderation is defined as a middle, balanced and tolerant attitude in understanding and understanding.. Abstrak Moderasi beragama di kalangan umat Islam Indonesia merupakan sebuah konsep penting dalam pengkajian, penerapan dan pengamalan ajaran agama secara inklusif dan progresif. Konsep moderasi beragama menekankan perlunya membangun sikap yang menghormati martabat kemanusiaan, mempromosikan toleransi, dan memperkuat kerukunan antar umat beragama. Tantangan dalam menerapkan moderasi beragama termasuk upaya untuk meminimalisir kekerasan terhadap kepercayaan yang berbeda, menjaga pluralitas, serta memastikan implementasi program-program moderasi beragama yang kian kuat dan kolaboratif. Dengan fokus pada keberlanjutan kepemimpinan dan pengembangan sumber daya manusia, moderasi beragama diharapkan menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045. Pentingnya perspektif moderasi beragama dalam membangun toleransi, kerukunan, dan kesejahteraan bersama di Indonesia semakin ditekankan melalui berbagai inisiatif dan regulasi, seperti arahan Eksekutif Nomor 58 Tahun 2023 yaitu tentang Penguatan Moderasi Beragama. Penelitian tersebut menunjukkan bahwasannya moderasi beragama di kalangan umat Islam Indonesia memiliki makna yang multidimensi. Moderasi diartikan sebagai sikap tengah, seimbang, dan toleran dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Implementasi moderasi beragama diwujudkan melalui berbagai pendekatan, seperti pendidikan agama, dialog antarumat beragama, dan pemberdayaan masyarakat.
Menghadapi Tantangan Zaman: Peran dan Strategi Pola Asuh Orang tua dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital Helma Winda
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid development of technology in the current digital era has caused the values ​​that are born, both positive and negative, to experience extraordinary shocks for humans. From this shock, the role of parents in educating their children has also changed in accordance with the development of the times. In the 80s, parents in educating their children must have experienced differences compared to the current digital era. Parenting patterns that initially only applied authoritarian, permissive, or democratic parenting patterns have experienced success in educating children. However, in the digital era, the three parenting patterns will not be successful if they do not synchronize according to the situation and conditions in terms of raising children. The method used in this study is a qualitative method in document studies. The intended document study is a study that searches for literature in accordance with study materials such as books, articles, the internet and so on. The results of this study show the importance of the active role of parents in directing their children's use of technology, as well as the need for a structured strategy to ensure that children grow up with strong and positive characters amidst the challenges of the digital era. Abstrak Perkembangan teknologi yang semakin pesat di era digital sekarang ini menyebabkan nilai-nilai yang dilahirkan, baik positif maupun negatif, ikut mengalami kejutan yang luar biasa bagi manusia. Dari kejutan tersebut, peran orang tua dalam mendidik anaknya ikut mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Di era 80-an, orang tua dalam mendidik anaknya pasti mengalami perbedaan dibandingkan dengan era digital saat ini. Pola asuh orang tua yang pada awalnya hanya menerapkan tipe pola asuh otoriter, permisif, atau demokratis, telah mengalami keberhasilan dalam mendidik anak. Namun, di era digital, ketiga pola asuh tersebut tidak akan berhasil jika tidak melakukan sinkronisasi sesuai dengan situasi dan kondisi dalam hal mengasuh anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dalam kajian dokumen. Kajian dokumen yang dimaksud adalah kajian yang mencari literatur sesuai dengan bahan kajian seperti buku, artikel, internet dan lain sebagainya. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya peran aktif orang tua dalam mengarahkan penggunaan teknologi anak-anak mereka, serta perlunya strategi yang terstruktur untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan karakter yang kuat dan positif di tengah tantangan era digital.
Ektremisme Agama dan Radikalisme Sebagai Pendorong Terorisme Emilna; Darlina; Della Putri
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radicalism is a concept that has been widely discussed in various fields, including politics, sociology and psychology. This article aims to provide a comprehensive understanding of radicalism, its characteristics and implications. The author defines radicalism as the tendency to take an extreme stance on an issue, which often leads to violent or extreme behavior. This article highlights the difference between radicalism and extremism, and how the two concepts are often confused. Radicalism is seen as the process of adopting an extreme ideology and using it to justify violence or terrorism. This article also discusses the relationship between radicalism and terrorism, noting that not all radicals are terrorists, but that many terrorists are radicalized individuals who have been influenced by extremist ideologies. The author believes that radicalization is a complex process that can be influenced by various factors, including psychological, social and economic factors. This article also touches on the issue of deradicalization, namely the process of reversing radicalization and promoting moderate beliefs and behavior. The author notes that deradicalization programs have been implemented in various countries, including Indonesia, but much still needs to be done to address the root causes of radicalization. Overall, this article provides a comprehensive overview of radicalism and its implications, highlighting the importance of understanding this complex phenomenon to address the problem of terrorism and promote coexistence. Abstrak Radikalisme merupakan sebuah konsep yang telah banyak dibahas di berbagai bidang, termasuk politik, sosiologi, dan psikologi. Artikel ini bermaksud untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai radikalisme, karakteristiknya, dan implikasinya. Penulis mendefinisikan radikalisme sebagai kecenderungan untuk mengambil sikap ekstrem terhadap suatu isu, yang sering kali mengarah pada perilaku kekerasan atau ekstrem. Artikel ini menyoroti perbedaan antara radikalisme dan ekstremisme, dan bagaimana kedua konsep tersebut sering kali membingungkan. Radikalisme dipandang sebagai proses mengadopsi ideologi ekstrem dan menggunakannya untuk membenarkan kekerasan atau terorisme. Artikel ini juga membahas hubungan antara radikalisme dan terorisme, dengan mencatat bahwa tidak semua radikal adalah teroris, tetapi banyak teroris adalah individu yang teradikalisasi yang telah dipengaruhi oleh ideologi ekstremis. Penulis berpendapat bahwa radikalisasi adalah proses rumit yang dapat dipengaruhi oleh bermacam faktor, khususnya faktor psikologis, sosial, dan ekonomi. Artikel ini juga menyinggung isu deradikalisasi, yaitu proses membalikkan radikalisasi dan mempromosikan keyakinan dan perilaku moderat. Penulis mencatat bahwa program deradikalisasi telah dilaksanakan di banyak negara, termasuk Indonesia, namun masih banyak yang perlu dilakukan untuk mengatasi akar penyebab radikalisasi. Secara keseluruhan, artikel ini memberikan gambaran menyeluruh tentang radikalisme dan implikasinya, menyoroti pentingnya memahami fenomena kompleks ini untuk mengatasi masalah terorisme dan mempromosikan hidup secara berdampingan.
Upaya Lembaga Dakwah Kampus As-Salam Iain Pontianak Dalam Membangun Karaker Moderat Para Kadernya Syahri Harendi; Soma
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The As-Salam campus dakwak institution of IAIN Pontianak or abbreviated as LDK As-Salam is an internal campus organization engaged in the religious field. Engaging in the religious field has the responsibility of being a good role model for students in order to maintain the good name of the IAIN Pontianak campus as an Islamic campus. However, these good intentions are often considered too right-wing by ordinary people and considered immoderate by some individuals. This paper aims to explain the efforts of the campus da'wah organization As-Salam IAIN Pontianak to build the moderate character of its cadres so that the bad sigma about LDK As-Salam disappears. Through the Qualitative method with direct interviews to LDK As-Salam administrators and some of its cadres. Researchers produced results stating that LDK As-Salam's efforts to build the character of its cadres through several routine activities, first, the NGOPI (Ngobrol Perkara Islam) work program, second, holding religious moderation seminars, third, sharing in the month of Ramadan. Abstrak Lembaga dakwak kampus As-Salam IAIN Pontianak atau yang disingkat dengan LDK As-Salam merupakan organisasi internal kampus yang bergerak di bidang keagamaan. Bergerak di bidang keagamaan mempunyai tanggung jawab menjadi suri tauladan yang baik bagi mahasiswa demi menjaga nama baik kampus IAIN Pontianak sebagai kampus Islam. Namun niat baik itu sering kali dianggap terlalu eksream kanan oleh orang yang awam dan dianggap tidak moderat oleh sebagian oknum. Penulisan ini bertujuan memaparkan upaya lembaga dakwah kampus As-Salam IAIN Pontianak membangun karakter moderat kadernya sehingga sigma buruk mengenai LDK As- Salam hilang. Melalui metode Kualitaif dengan wawancara langsung kepada pengurus LDK As- Salam dan beberapa kadernya. Peneliti membuahkan hasil yang menyatakan jika upaya LDK As-Salam membangun karakter para kadernya melalui beberapa kegiatan rutin pertama, Program kerja NGOPI (Ngobrol Perkara Islam), Kedua, Mengadakan seminar moderasi Beragama, Ketiga berbagi di bulan Ramadhan.
Menggali Nilai-Nilai Etika Komunikasi di Media Sosial dari Surah Taha Ayat 41-46 Ach Rifai
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Surah Taha ayat 41-46, terdapat panduan yang berharga untuk memahami dan menerapkan etika komunikasi dalam konteks media sosial. Ayat-ayat ini mengajarkan beberapa prinsip penting yang dapat membimbing kita dalam berinteraksi di dunia maya dengan cara yang bermartabat dan bermanfaat. Tujun dari penelitian ini tidak lain, hanyalah ingin menggali pada nilai-nilai etika komunikasi di media sosial dari surah Taha Ayat 41-46. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang bersifat literatur, yang dikenal sebagai library research. Data yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan rujukan utama yang menjadi fokus penelitian. Dalam hal ini, adalah al-Qur’an menjadi sumber data primer, baik dalam bentuk aslinya maupun dalam terjemahannya. Sedangkan data sekunder ini mencakup berbagai sumber seperti buku-buku, jurnal ilmiah, dokumen, serta sumber-sumber dari internet.  Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa nilai-Nilai Etika Komunikasi di Media Sosial dari Surah Taha Ayat 41-46, terdapat enam hal. Pertamam pemilihan komunikator yang tepat. Kedua memanfaatkan keunggulan diri perintah Allah untuk menggunakan tanda-tanda-Nya mengajarkan kita untuk memanfaatkan keunggulan dan sumber daya yang kita miliki dalam komunikasi, Ketiga konsistensi dan integritas, Keempat pendekatan yang tepat sasaran. Kelima kelembutan dan kesantunan. Keenam menghadapi tantangan dengan ketenangan. Abstract In Surah Taha verses 41-46, there is a valuable guide to understanding and applying communication ethics in the context of social media. These verses teach several important principles that can guide us in interacting in cyberspace in a dignified and beneficial way. The purpose of this study is none other than to explore the values ​​of communication ethics in social media from Surah Taha Verses 41-46. This study uses a literature research method, known as library research. The data used can be divided into two types, namely primary data and secondary data. Primary data is the main reference that is the focus of the study. In this case, the Qur'an is the source of primary data, both in its original form and in its translation. While this secondary data includes various sources such as books, scientific journals, documents, and sources from the internet. The results of this study indicate that the values ​​of Communication Ethics in Social Media from Surah Taha Verses 41-46, there are six things. First, choosing the right communicator. Second, utilizing one's own superiority, Allah's command to use His signs teaches us to utilize the superiority and resources we have in communication, Third, consistency and integrity, Fourth, a targeted approach. Fifth, gentleness and politeness. Sixth, facing challenges with calm.
Peran Pemimpin Agama dalam Memfasilitasi Dialog Antaragama untuk Moderasi Beragama Agus; Ahmad Darussalam; Muhammad Ferryandhi
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  In order to interreligious moderation, the study aims to examine the role played by religious leaders in promoting interfaith dialogue. Studies are under way to identify the obstacles and prospects faced by the religious authorities in their efforts to promote inter-faith communication. The conclusions of the analysis indicate that religious leaders are dealing with a variety of issues, including radicalism and extremism, miscommunication and mistrust, variations in religious beliefs and interpretations, depleted resources, and traditional and conservative customs. But religious leaders also have the opportunity to improve education and learning, take advocacy and teaching, collaborate and socialize with other religious leadership, use technology and social media, and constantly find themselves in the hope of promoting interreligious communication. Religious leaders can effectively promote diversity, tolerance, and shared respect among different groups of society by being aware of potential obstacles and opportunities. Religious leadership can contribute positively to creating societies of compassion, understanding, and peace by upholding religious law, collaborating in religious education, and using technology wisely. Abstrak Untuk mencapai moderasi antar agama, studi ini bertujuan untuk memeriksa peran yang dimainkan oleh para pemimpin agama dalam mempromosikan percakapan antar agama. Studi sedang dilakukan untuk menentukan hambatan dan prospek yang dihadapi oleh otoritas agama dalam upaya mereka untuk mempromosikan komunikasi antar agama. Studi ini didasarkan pada berbagai sumber informasi, termasuk kertas, jurnal, dan publikasi tentang komunikasi antar agama dan moderasi. Kesimpulan dari analisis menunjukkan bahwa para pemimpin agama berurusan dengan berbagai masalah, termasuk radikalisme dan ekstremisme, kesalahan komunikasi dan ketidakpercayaan, variasi keyakinan dan interpretasi agama, penurunan daya sumber, dan kebiasaan tradisional dan konservatif. Tetapi pemimpin agama juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan pendidikan dan belajar, mengambil advokasi dan pengajaran, bekerja sama dan bersosialisasi dengan pemimpin agama lain, menggunakan teknologi dan media sosial, dan terus-menerus menemukan diri mereka sendiri dalam harapan mempromosikan komunikasi antar agama. Pemimpin agama dapat secara efektif mempromosikan keragaman, toleransi, dan rasa hormat bersama di antara berbagai kelompok masyarakat dengan menyadari hambatan dan peluang potensial. Pemimpin agama dapat berkontribusi positif untuk menciptakan masyarakat yang penuh belas kasihan, pengertian, dan damai dengan mempertahankan hukum agama, berkolaborasi dalam pendidikan agama, dan menggunakan teknologi dengan bijak.
Tantangan Dan Dinamika Dalam Moderasi Beragama Menuju Harmoni Sosial Anggita Wulansari; Azizah; Muhammad Zidan
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The dynamics of religious moderation towards social harmony is a complex challenge in the context of religious diversity in society. The concept of religious moderation presents an effort to create a balance between individual religious beliefs and tolerance for differences. The main challenge is to overcome attitudes of exclusivism and truth claims that can trigger conflict between religions. In an effort to achieve social harmony, it is important to strengthen the values of tolerance, mutual respect and interfaith cooperation. Thus, religious moderation can be a solid foundation for building a harmonious and peaceful society. Dinamika dalam moderasi beragama menuju harmoni sosial merupakan tantangan yang kompleks dalam konteks keberagaman agama di masyarakat. Konsep moderasi beragama menghadirkan upaya untuk menciptakan keseimbangan antara keyakinan agama individu dengan toleransi terhadap perbedaan. Tantangan utamanya adalah mengatasi sikap eksklusifisme dan klaim kebenaran yang dapat memicu konflik antar agama. Dalam upaya mencapai harmoni sosial, penting untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan kerjasama lintas agama. Dengan demikian, moderasi beragama dapat menjadi landasan yang kokoh untuk membangun masyarakat yang harmonis dan damai  
Moderasi Beragama Dalam Menciptakan Nilai-Nilai Toleransi Dan Kerukunan Aisyah; Aisyah Hayatun Suaibah; Muhammad Kamil
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the era of globalization of the 21st century, harmony and peace between religious communities is becoming increasingly important. The concept of religious moderation has emerged as a promising solution for creating tolerance and harmony amidst diversity. This article aims to examine the concept of religious moderation and its implementation in building a tolerant and harmonious society. Through literature studies, this research identifies key elements of religious moderation, such as an open attitude, mutual respect, and commitment to universal human values. Furthermore, it also discusses how religious moderation can be applied in everyday life, both within the family, community and wider society. This research concludes that religious moderation is an effective approach in maintaining social harmony and creating a tolerant and harmonious society. In the Indonesian context which is rich in religious, cultural and ethnic diversity, religious moderation is important in maintaining tolerance and harmony between religious communities. Further efforts are needed to apply this concept to everyday life and overcome the persistent challenges of religious-based intolerance and conflict. Abstrak Dalam era globalisasi abad ke-21, keharmonisan dan kedamaian antar umat beragama menjadi semakin penting. Konsep moderasi beragama muncul sebagai solusi yang menjanjikan untuk menciptakan toleransi dan kerukunan di tengah keragaman. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep moderasi beragama dan implementasinya dalam membangun masyarakat yang toleran dan rukun. Melalui studi literatur, penelitian ini mengidentifikasi elemen-elemen kunci moderasi beragama, seperti sikap terbuka, saling menghargai, dan komitmen terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan. Selanjutnya, dibahas pula bagaimana moderasi beragama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, komunitas, maupun masyarakat luas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa moderasi beragama merupakan pendekatan efektif dalam menjaga keharmonisan sosial dan menciptakan masyarakat yang toleran serta rukun. Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keragaman agama, budaya, dan etnis, moderasi beragama menjadi penting dalam menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Upaya yang lebih lanjut diperlukan untuk menerapkan konsep ini dalam kehidupan sehari-hari dan mengatasi tantangan intoleransi dan konflik berbasis agama yang masih ada.
Peran Moderasi Beragama dalam MembangunMasyarakat yang Harmonis: Menciptakan Percakapan yang Seimbang dan Damai Muhammad Ridha; Sri Rejeki Nurhidayah; Aisyah Putrisari Sutejo
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study discusses sommunication patterns and aims to assess the faktors that can influence communication within the framework of religious moderation, as well as the impacts they have. This jurnal uses a literature study and literature study approach in its creation so it must analyze the text in depth. The research findings indicate that using inclusive and non-discriminatory language, correctly understanding different religions, and practicing active listening, empathy, and cooperation among individuals or groups with diverse religious beliefs are crucial. These elements contribute to promoting and building harmonious dialogue. Effective communication patterns in the context of religious moderation are essential for fostering harmonious relationships. This includes recognizing the importance of using inclusive language and accurately understanding various religions as fundamental components for enhancing effective communication. Abstrak Pada studi ini membahas mengenai pola komunikasi yang mana ini tujuannya untuk menilai faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi komunikasi didalam kerangka moderasi beragama dan dampak yang ditimbulkannya. Jurnal ini menggunakan pendekatan studi literatur serta studi kepustakaan dalam pembuatannya sehingga harus menganalisis teksnya secara mendalam. Penelitian ini mengungkapkan bahwa beberapa faktor penting, misalnya menggunaan bahasa yang inklusif dan non-deskriminatif, interpretasi yang tepat mengenai berbagai keyakinan agama, kemampuan untuk menerima secara aktif, empati, serta kerjasama antar individu dan kelompok dengan kepercayaan agama yang beragam, dan perihal moderasi beragama, memainkan peran yang hakiki. Usaha untuk memperkenalkan dan menciptakan komunikasi yang harmonis antar individu dan kelompok dari pola komunikasi ini sangat penting. Acuan untuk berkomunikasi secara efektif pada konteks moderasi beragama mampu menciptakan ikatan yang harmonis antar individu. Hal ini melibatkan kesadaran akan pentingnya menggunakan bahasa yang inklusif serta non-diskriminatif serta interpretasi yang benar mengenai berbagai agama sebagai elemen kunci untuk meningkatkan pola komunikasi yang efektif.
Moderasi Beragama Dalam Sudut Pandang Al-Qur’an Dan Hadist Puan Aisyah Maharani; Isma Eka Handayani; Vivin Kurnia Putri
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religius moderations means balanced, not too extreme and not too excessive in one's understanding and practice of religion This writing aims to be material in the extent of understanding the holy book of Islam, the Qur'an and Hadith there is a basis that may invite its people to take harsh actions against people, especially those who are not religious. In the research, the author uses the approach of tafsir maudhu'i, which is meant to select important points and then determine verses and hadiths related to religious intervention and then unite them in a meaningful context. The results of the study prove that basically the Qur'an and Hadith do not provoke adherents of this religion to commit violence, extremism or practices that go beyond their religion. The Quran and Hadith show that in consciousness in its application in religion must be balanced and become a middle way so that religion appears kind, weak and of course full of love and affection. Actuallyy, balance is important and necessary in natural law like a harmony in life. If it were not like that, the world would have vanished and perished.  This allows students to easily understand diversity, respect other people's inputs, respect others and other people's opinions and of course be moral or in the sense of tolerance. With the existence of religious moderation, it can be done continuously so as to give birth to moral wisdom towards students, so that it is possible for the students to know the difference between good and bad and then also instill in them good habits of life, thereby they realize that they have a high awareness or between their emotions. Applying this strategy in daily life is a form of application in diversity throughout the archipelago. Keywords: Religious Moderation, Al-Qur’an, Hadist .Abstrak. Moderasi keaagamaan berarti seimbang, tidak terlalu ekstrem dan tidak terlalu berlebihan dalam pemahaman dan praktik agama seseorang Penulisan ini bertujuan sebagai bahan dalam sejauh mana pemahaman terhadap kitab suci Islam, Al – Qur’an dan Hadist terdapat dasar yang mungkin mengajak umatnya dalam berbuat tindakan yang keras tindakan tidak wajar kepada orang terutama mereka yang bukan segama. Pada penelitian, penulis memanfaatkam pendekatan tafsir maudhu'i, yang dimaksud yakni ia memilih pokok point penting kemudian mementukan ayat dan hadits terkait medorasi keagamaan dan kemudian menyatukan dalam konteks yang bermakna. Hasil dari penelitian tersebut membuktikan pada dasarnya Qur’an dan Hadits sama sekali bukan memprovokasikan para penganut agama ini untuk melakukan kekerasan, ekstremisme atau praktik yang melampaui keagamaannya. Dalam Quran dan Hadits menunjukkan dalam kesadaran dalam penerapannya dalam keagamaan harus berjalan seimbang dan menjadi jalan tengah agar agama tampak baik hati, lemah.lenbutt dan tentunya penuh kasih dan sayang. Padahal, keseimbangan itu penting dan diperlukan dalam hukum alam ibarat suatu keharmonisan dalam hidup. Seandainya tidak seperti itu, dunia ini akan lenyap dan binasa. Hal ini memungkinkan, siswa mudah memahami keberagaman, menghormati masukan orang lain, menghargai oranglain dan pendapat orang lain dan tentunya bermoral atau dalam artian bertoleransi. Dengan adanya moderasi beragama dapat dikerjakan terus-menerus sehingga melahirkan moral kebijaksanaan terhadap siswa, sehingga memungkin siswa tersebut mengetahui perbedaan baik dan buruk kemudian juga menamkan dalam diri mereka kebiasaan hidup yang baik, sehingga mereka sadar mereka mempunyai kesadaran yang tinggi ataupun antara emosinya. Menerapakan startegi tersebut dalam kehidupan sehari-hari adalah suatu bentuk penerapan dalam keberagaman di seluruh penjuru Nusantara.

Page 2 of 12 | Total Record : 112