cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : 30891973     DOI : -
AL-IKTIAR, Journal of Islamic Studies is to publish original empirical research articles and theoretical reviews of Islamic Studies, covering a wide range of issues on Islamic studies in a number of fields including as below. 1. Islamic Education 2. Islamic Thought 3. Islamic Law 4. Islamic Theology 5. Islamic Politics 6. Islamic History and Civilization
Articles 112 Documents
Pendidikan Moderasi Beragama:Membangun Toleransi Dan Keberagaman Dhea Gita Ananda; Aisyah Puspita; Dewi Lidia
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article reviews the importance of religious moderation, tolerance and diversity in social and religious contexts. Religious moderation refers to a balanced approach to practicing religious teachings, while religious tolerance includes respect for differences in religious beliefs and practices between individuals and groups. Diversity, on the other hand, includes various dimensions such as religion, culture and ethnicity that enrich the social and cultural life of society.The importance of religious moderation, tolerance and diversity is reflected in their role in building social harmony and preventing interreligious conflict. These principles also form the basis for peaceful coexistence and respect for human rights in practicing their beliefs. Implementation of religious moderation involves education in the values of tolerance from an early age, promotion of interfaith dialogue, and inclusive public policies to support diversity. The benefits include creating an inclusive social environment, strengthening peace in multicultural societies, and developing open-minded individuals who contribute positively to building diverse and harmonious communities. Thus, this article emphasizes the importance of religious moderation, tolerance and diversity as the foundation for a just, co-existent and sustainable society. Abstrak Artikel ini mengulas pentingnya moderasi beragama, toleransi, dan keberagaman dalam konteks sosial dan keagamaan. Moderasi beragama mengacu pada pendekatan yang seimbang dalam menjalankan ajaran agama, sementara toleransi beragama mencakup penghargaan terhadap perbedaan keyakinan dan praktik keagamaan antarindividu dan kelompok. Keberagaman, di sisi lain, mencakup berbagai dimensi seperti agama, budaya, dan suku bangsa yang memperkaya kehidupan sosial dan budaya masyarakat.Pentingnya moderasi beragama, toleransi, dan keberagaman tercermin dalam peran mereka dalam membangun harmoni sosial dan mencegah konflik antaragama. Prinsip-prinsip ini juga membentuk dasar bagi kehidupan bersama yang damai dan menghormati hak asasi manusia dalam menjalankan keyakinan mereka. Implementasi moderasi beragama melibatkan pendidikan nilai-nilai toleransi sejak dini, promosi dialog antaragama, serta kebijakan publik yang inklusif untuk mendukung keberagaman. Manfaatnya termasuk menciptakan lingkungan sosial yang inklusif, memperkuat kedamaian dalam masyarakat multikultural, dan mengembangkan individu yang berpikiran terbuka serta berkontribusi positif dalam membangun komunitas yang beragam dan harmonis. Dengan demikian, artikel ini menekankan pentingnya moderasi beragama, toleransi, dan keberagaman sebagai fondasi bagi masyarakat yang adil, berdampingan, dan berkelanjutan.
Moderasi Beragama : Tantangan Dan Peluang Dalam Masyarakat Multikultural Muhammad Alfikri; Aril Rizki; Sudar
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diversity is a condition in which the population as a whole has many differences, including those related to religion, race, and culture. In a multicultural society like Indonesia, religious moderation is an important key in maintaining harmony between religious communities. Moderate Islamic education plays a major role in promoting tolerance, avoiding extremism, and creating wise leaders. Although there are challenges in implementing religious moderation, steps such as revitalizing Islamic education and instilling multicultural values ​​from an early age can help overcome conflicts and strengthen the harmony of a multicultural society. Thus, religious moderation is not only a weapon in facing challenges, but also an opportunity to strengthen harmony in a multicultural society. Abstrak Keragaman merupakan suatu kondisi di mana penduduk secara keseluruhan memiliki banyak perbedaan, termasuk yang terkait dengan agama, ras, dan budaya. Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, moderasi beragama menjadi kunci penting dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Pendidikan Islam moderat memainkan peran utama dalam mempromosikan toleransi, menghindari ekstremisme, dan menciptakan pemimpin yang bijaksana. Meskipun terdapat tantangan dalam mengimplementasikan moderasi beragama, langkah-langkah seperti revitalisasi pendidikan islam dan penanaman nilai multikulturalisme sejak dini dapat membantu mengatasi konflik dan memperkuat keharmonisan masyarakat multikultural. Dengan demikian, moderasi beragamatidak hanya menjadi senjata dalam menghadapi tantangan, tetapi juga peluang untuk memperkuat keharmonisan dalam masyarakat multikultural.
Hubungan Moderasi Beragama Dan Toleransi Nurhalimah; Uswatun hasanah; Nurwahid
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to investigate the relationship between religious moderation and tolerance in the context of society. Religious moderation is defined as a moderate attitude in religious practices, while tolerance refers to the ability of individuals or groups to accept differences and appreciate pluralism in society. The results of the analysis show a positive relationship between religious moderation and tolerance. Individuals who have a moderate attitude in religious practices tend to be more tolerant of differences and more accepting of pluralism in society. This research provides an important contribution to understanding the importance of religious moderation in building tolerance and harmony among religious communities. Proposed policy implications include increasing religious education that emphasizes the values of moderation and tolerance, as well as promoting interfaith dialogue to strengthen tolerance and harmony in society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi hubungan antara moderasi beragama dan toleransi dalam konteks masyarakat. Moderasi beragama didefinisikan sebagai sikap moderat dalam praktik keagamaan, sementara toleransi merujuk pada kemampuan individu atau kelompok untuk menerima perbedaan dan menghargai pluralitas dalam masyarakat. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif antara moderasi beragama dan toleransi. Individu yang memiliki sikap moderat dalam praktik keagamaan cenderung lebih toleran terhadap perbedaan dan lebih menerima pluralitas dalam masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami pentingnya moderasi beragama dalam membangun toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Implikasi kebijakan yang diusulkan termasuk peningkatan pendidikan agama yang menekankan nilai-nilai moderasi dan toleransi serta promosi dialog antaragama untuk memperkuat toleransi dan kerukunan di masyarakat.
Moderasi Beragama Untuk Persatuan Dan Kesatuan Bangsa Indonesia Rafita; Fitra Aryansyah; Darul Fadhli
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the concept of religious moderation in Indonesia as a crucial element in strengthening national unity and cohesion. Through in-depth analysis of various strategies and implementations of religious moderation, the article reveals the complexity and urgency of the need for moderation in the context of religious diversity in Indonesia. By addressing the root causes of religious conflicts, this research highlights the importance of dialogue, tolerance, and appreciation of belief differences as the fundamental basis for building harmony and social solidarity. Emphasizing the active role of the community in strengthening religious moderation, the article also offers a progressive view on collective efforts to create an inclusive and just society. As a contribution to a broader understanding of religious moderation, this article is expected to serve as a valuable for the sustainability of peace and unity amidst religious diversity in Indone Indonesia the context of globalization and the challenges of modern times, religious moderation becomes increasingly relevant in strengthening national identity and preserving diversity as a cultural asset. This article underscores the crucial role of education in instilling the values of religious moderation from an early age, as well as the need for cross-sector cooperation to create a supportive environment for practicing moderation. By inspiring a spirit of mutual cooperation and respect, religious moderation is expected to become a key pillar in building a peaceful, fair, and prosperous society. Thus, this article calls on all elements of society to unite in the spirit of religious moderation to realize the vision of unity and cohesion of the Indonesian nation based on the values of diversity and harmony. Abstrak Artikel ini membahas konsep moderasi beragama di Indonesia sebagai elemen penting dalam memperkuat persatuan dan kesatuan nasional. Melalui analisis mendalam terhadap berbagai strategi dan implementasi moderasi beragama, artikel ini mengungkapkan kompleksitas serta urgensi perlunya moderasi dalam konteks keberagaman agama di Indonesia. Dengan menggali akar permasalahan yang melatarbelakangi konflik agama, penelitian ini menyoroti pentingnya dialog, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan sebagai landasan utama dalam membangun harmoni dan solidaritas sosial. Dengan menekankan peran aktif masyarakat dalam memperkuat moderasi beragama, artikel ini juga menawarkan pandangan progresif terhadap upaya bersama dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan. Sebagai kontribusi terhadap pemahaman yang lebih luas tentang moderasi beragama, artikel ini diharapkan dapat menjadi panduan yang berharga bagi keberlanjutan perdamaian dan persatuan dalam keragaman agama di Indonesia. Dalam konteks globalisasi dan tantangan zaman modern, moderasi beragama menjadi semakin relevan dalam memperkuat identitas bangsa dan menjaga keberagaman sebagai kekayaan budaya. Artikel ini menyoroti peran penting pendidikan dalam menanamkan nilai moderasi beragama sejak dini, serta perlunya kerjasama lintas sektor untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi praktik moderasi. Dengan mengilhami semangat gotong-royong dan saling menghormati, moderasi beragama diharapkan dapat menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera. Dengan demikian, artikel ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dalam semangat moderasi beragama demi mewujudkan visi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang berlandaskan pada nilai-nilai keberagaman dan harmoni.
Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Pandangan Nurcholish Madjid Adi, Adi Rahmat Kurniawan
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wacana tentang Hak Asasi Manusia (HAM) Barat dan Islam sering kali menimbulkan kontroversi baik melalui ide atau gagasan yang tuangkan didalamnya. Hal ini dibuktikan dengan kesenjangan setiap orang dalam mendapatkan haknya untuk hidup, mendapatkan perlindungan, bekerja dan sebagainya. Pentingnya problematika ini perlu dibahas karena mencangkup kemashlahatan setiap individu. Didalam agama Islam, masalah mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) erat kaitannya dengan pokok point pembahasan Maqasid Syari’ah. Berkenaan dengan hal itu, salah satu tokoh pemikir Islam yang mencurahkan gagasannya mengenai topik tersebut ia adalah Nurcholish Madjid. Sebagai pemikir neo modern, beliau terkenal dengan gagasannya yaitu sekularisasi. Hal ini dianggap sebagai solusi efektif dengan cara memasukkan nilai-nilai Islam ditengah perkembangan zaman dalam menghadapi tantangan pemikiran. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini penulis akan menggunakan literatur studies dan bersifat kualitatif. Yaitu dengan merujuk berbagai guna sebagai pendukung dalam penulisan topik ini. 
Konsep Ketuhanan Agama Agama, Toleransi Dan Pluralisme Agama Sriyono Fauzi; Aulia Arsinta; Ikke Fitriana Nugrahini
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the era of increasingly widespread globalization, intercultural interactions and religious diversity have become inevitable realities in the social dynamics of world society. This paper examines three main concepts, namely divinity, religious tolerance, and religious pluralism, and their application in the context of increasingly complex religious diversity. The concept of divinity in various religions reflects a panorama of diverse views of the Divine, from monotheism in Islam, Christianity and Judaism, to polytheism in Hinduism. Religious tolerance, which reflects an attitude of respect for diversity of beliefs, faces various challenges such as religious extremism and prejudice. Religious pluralism, which emphasizes the value and truth of various beliefs, is important in interreligious dialogue and interfaith cooperation. Through literature-based qualitative research, this paper identifies strategies to promote tolerance and respect for diversity of beliefs, as well as overcome barriers to realizing an inclusive and harmonious society. The research results show that a deep understanding of different concepts of divinity, promotion of religious tolerance, and respect for religious pluralism are key to building a peaceful and diverse global society. Abstrak Pada era globalisasi yang semakin meluas, interaksi antarbudaya dan keberagaman agama telah menjadi realitas yang tak terelakkan dalam dinamika sosial masyarakat dunia. Makalah ini mengkaji tiga konsep utama, yaitu ketuhanan, toleransi agama, dan pluralisme agama, serta implikasinya dalam konteks keberagaman agama yang semakin kompleks. Konsep ketuhanan dalam berbagai agama mencerminkan panorama keberagaman pandangan akan yang Ilahi, dari monoteisme dalam Islam, Kristen, dan Yahudi, hingga politeisme dalam Hinduisme. Toleransi agama, yang mencerminkan sikap menghargai keberagaman keyakinan, menghadapi berbagai tantangan seperti ekstremisme agama dan prasangka. Pluralisme agama, yang menekankan nilai dan kebenaran berbagai keyakinan, penting dalam dialog antaragama dan kerjasama lintas agama. Melalui penelitian kualitatif berbasis literatur, makalah ini mengidentifikasi strategi untuk mempromosikan toleransi dan penghargaan terhadap keragaman keyakinan, serta mengatasi hambatan-hambatan dalam mewujudkan masyarakat yang inklusif dan harmonis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman mendalam tentang perbedaan konsep ketuhanan, promosi toleransi agama, dan penghargaan terhadap pluralisme agama adalah kunci dalam membangun masyarakat global yang damai dan beragam.
Penerapan Furudhul Ainiyah Dalam Pembentukan Akhlaq Mulia Peserta Didik MI Tarbiyatul Wathan Kraksaan Probolinggo M.Mahbubi; Ridwan Gunawan; Abdur Rosid; Muhammad Bahrul Ulum; Ahmad Hisyam Assibli
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan furudhul 'ain dalam pembentukan akhlak mulia peserta didik di MI Tarbiyatul Wathan Kraksaan Probolinggo. Fokus utama penelitian adalah untuk memahami bagaimana kewajiban-kewajiban agama, seperti shalat, puasa, zakat, dan membaca Al-Qur'an, diterapkan dalam kurikulum sekolah dan dampaknya terhadap pembentukan karakter siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma fenomenologis dan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru, peserta didik, dan kepala sekolah, serta melalui observasi kegiatan di kelas dan analisis dokumentasi kurikulum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MI Tarbiyatul Wathan berhasil mengintegrasikan kewajiban furudhul 'ain ke dalam rutinitas sekolah dengan pendekatan yang terstruktur. Program-program shalat berjamaah, puasa Ramadan, zakat, dan membaca Al-Qur'an memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan akhlak mulia siswa. Shalat sebagai ritual harian, puasa yang diiringi dengan kegiatan sosial, zakat yang melibatkan distribusi amal, serta pembelajaran Al-Qur'an secara rutin, semuanya berfungsi tidak hanya sebagai kewajiban agama tetapi juga sebagai alat untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan etika. Namun, penelitian juga mengidentifikasi beberapa tantangan, seperti variasi dalam pemahaman agama di kalangan siswa, pengaruh lingkungan sosial yang tidak mendukung, dan keterbatasan fasilitas pendidikan agama. Untuk mengatasi tantangan tersebut, sekolah menerapkan berbagai strategi, termasuk pelatihan untuk guru, peningkatan fasilitas, dan memperkuat keterlibatan orang tua. Kesimpulannya, penerapan furudhul 'ain di MI Tarbiyatul Wathan efektif dalam pembentukan akhlak mulia peserta didik, meskipun memerlukan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak untuk mengatasi tantangan yang ada. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan praktik pendidikan agama di lembaga pendidikan Islam lainnya. Abstract. This study aims to explore the implementation of furudhul 'ain in shaping the noble character of students at MI Tarbiyatul Wathan Kraksaan Probolinggo. The primary focus is to understand how religious obligations, such as daily prayers (shalat), fasting (puasa), almsgiving (zakat), and Quran recitation, are integrated into the school curriculum and their impact on students' character development. Employing a qualitative approach with a phenomenological paradigm and case study method, data were collected through in-depth interviews with teachers, students, and the principal, as well as observations of classroom activities and curriculum documentation analysis. The results indicate that MI Tarbiyatul Wathan effectively incorporates furudhul 'ain into daily school routines with a structured approach. Programs such as congregational prayers, Ramadan fasting accompanied by social activities, zakat collection and distribution, and daily Quran recitation contribute significantly to the development of students' noble character. These activities not only fulfill religious duties but also serve as tools for teaching moral and ethical values. However, the study also identifies several challenges, including variability in students' religious understanding, the impact of unsupportive social environments, and limitations in educational resources. In response to these challenges, the school has implemented strategies such as teacher training, facility improvements, and enhanced parental involvement. In conclusion, the application of furudhul 'ain at MI Tarbiyatul Wathan is effective in shaping students' noble character, though it requires ongoing support from various stakeholders to address existing challenges. The findings provide valuable insights for enhancing religious education practices in other Islamic educational institutions.
LARANGAN INSECURE DALAM KEHIDUPAN(Studi Tafsir Tematik) Lathifatul Qolbiah; Eka Prasetiawati; Muhammad Nur Amin
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Islamic Studies
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belakangan ini istilah insecure sedang marak disebut, baik di kalangan anak-anak, remaja, maupun dewasa. Sering merasa khawatir, sedih dan putus asa adalah sikap yang sering dirasakan oleh individu-individu yang sedang dalam proses perkembangan. Pada kitab suci yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. kerap muncul ayat yang menyinggung terkait perasaan-perasaan itu. dan dari ayat-ayat tersebut tidak di perkenankan untuk merasakan hal-hal seperti itu secara berlebihan, Maka dari itu peneliti akan membahas tentang mengapa insecure dilarang dalam kehidupan. Penelitian ini tergolong penelitian pustaka, yang metode kualitatif. Dan pendekatan yang yaitu pendekatan tematik. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwasanya perasaan insecure (khawatir, sedih, dan putus asa) adalah sesuatu yang wajar dimiliki oleh tiap individu, namun bisa jadi dilarang jika perasaan tersebut, terus meningkat, dan mempengaruhi perkembangan pada individu tersebut. Karena dalam kehidupan individu dapat masuk dalam dua golongan, individu yang introvert (yang tertutup), dan individu yang ekstrovert (terbuka), keduanya memiliki cara tersendiri untuk bertahan hidup, namun individu yang masuk dalam ktegori introvert cenderung lebih sulit, dan sangat rentan mengalami perasaan-perasaan tersebut. Perasaan insecure tak hanya merugikan diri sendiri namun juga merugikan manusia-manusia yang ada disekililingnya. Dikarenakan manusia tersebut akan sering mengalami perasaan sedih yang berlebihan jika apa yang telah dilakukannya tidak sesuai dengan harapan yang telah diimpikannya, dan tak sedikit juga yang mengalami keputus asaan yang membuat individu yang gagal tidak ingin mengulangi hal tersebut, dan tidak akan berkembang karena takut akan terjadi kesalahan atau kekalahan yang sama. Abstract Lately the term insecure is being widely called, both among children, adolescents, and adults. Often feeling worried, sad and hopeless are attitudes that are often felt by individuals who are in the process of development. In the holy book revealed to the prophet Muhammad SAW. verses often appear that offend related to those feelings. and from these verses it is not permissible to feel things like that excessively. Therefore, the researcher will discuss why insecurity is prohibited in life. This research is classified as literature research, which is a qualitative method. And that approach is a thematic approach. The results of this study explain that feelings of insecurity (worry, sadness, and hopelessness) are something that is natural for every individual to have, but it may be prohibited if these feelings continue to increase, and affect the development of the individual. Because in life individuals can fall into two groups, individuals who are introverted (closed) and individuals who are extroverted (open), both of whom have their own way of surviving, but individuals who are included in the introverted category tend to be more difficult, and very vulnerable to experiencing feelings -those feelings. Feelings of insecurity not only harm oneself but also harm the people around them. Because humans will often experience excessive feelings of sadness if what they have done is not in accordance with the expectations they have dreamed of, and not a few also experience despair that makes individuals who fail do not want to repeat this, and will not develop because they are afraid something will happen. the same mistake or defeat.
Penerapan Kompetensi Pedagogik Guru di SD Smart Indonesia 2 Pekanbaru Mahfuzah Ilma Daulay; Dianty Permatasari Manullang; Ade Irma
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to explore the application of teacher pedagogical competence at SD Smart Indonesia 2 Pekanbaru. Pedagogical competence is an essential ability that a teacher must have to manage the learning process effectively and be responsive to student needs. Through this competency, teachers are expected to be able to create a conducive learning environment, design innovative learning strategies, and evaluate learning outcomes appropriately. The research methods used were interviews and observations, with a focus on one of the santri guardians to gain an in-depth perspective regarding learning practices in the classroom. The research results show that teachers have implemented various strategies in learning, such as the use of varied media and different approaches according to student characteristics. However, this research also found that there were challenges, especially in mastering the material by students who varied. Some students have difficulty understanding lessons, which requires teachers to provide additional support. It is hoped that this research can provide a clear and comprehensive picture of the importance of pedagogical competence in improving the quality of education, as well as encouraging the development of teacher professionalism in the future. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan kompetensi pedagogik guru di SD Smart Indonesia 2 Pekanbaru. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan esensial yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mengelola proses pembelajaran secara efektif dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Melalui kompetensi ini, guru diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, merancang strategi pembelajaran yang inovatif, serta mengevaluasi hasil belajar secara tepat. Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara dan observasi, dengan fokus pada salah satu wali santri untuk mendapatkan perspektif yang mendalam mengenai praktik pembelajaran di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah menerapkan berbagai strategi dalam pembelajaran, seperti penggunaan media yang bervariasi dan pendekatan yang berbeda sesuai dengan karakteristik siswa. Namun, penelitian ini juga menemukan adanya tantangan, terutama dalam penguasaan materi oleh siswa yang bervariasi. Beberapa siswa mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran, yang mengharuskan guru untuk memberikan dukungan tambahan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas dan komprehensif tentang pentingnya kompetensi pedagogik dalam meningkatkan kualitas pendidikan, serta mendorong pengembangan profesionalisme guru di masa yang akan datang.
Konstruksi Gender dalam Perspektif Islam: Studi pada Tradisi dan Praktik Sosial Helma Winda
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konstruksi gender dalam perspektif Islam merupakan kajian penting yang bertujuan untuk memahami bagaimana ajaran Islam membentuk peran dan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Penelitian ini mengeksplorasi dinamika tradisi dan praktik sosial yang sering kali menjadi refleksi dari interpretasi ajaran Islam tentang gender. Dalam konteks sejarah, nilai-nilai Islam secara ideal menegaskan keadilan dan kesetaraan gender. Namun, penerapan nilai-nilai tersebut kerap kali dipengaruhi oleh budaya patriarki yang mendominasi masyarakat Muslim. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis data lapangan untuk mengidentifikasi konstruksi gender dalam ajaran Islam serta penerapannya di berbagai tradisi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun teks-teks suci dalam Islam mendukung keadilan gender, interpretasi yang bias gender sering kali menjadi penyebab terbatasnya peran perempuan dalam masyarakat. Selain itu, pengaruh globalisasi dan wacana modern tentang kesetaraan gender menimbulkan tantangan baru bagi umat Islam dalam memahami dan mengadaptasi ajaran agama dengan realitas sosial kontemporer. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi pemahaman tentang gender dalam Islam harus berlandaskan pada prinsip-prinsip keadilan yang inklusif dan humanis, tanpa mengesampingkan nilai-nilai utama dalam ajaran agama. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi terciptanya masyarakat Muslim yang lebih adil, setara, dan harmonis. AbstractGender construction from an Islamic perspective is an important study that aims to understand how Islamic teachings shape the roles and relationships between men and women in society. This research explores the dynamics of traditions and social practices which often reflect the interpretation of Islamic teachings on gender. In a historical context, Islamic values ideally emphasize justice and gender equality. However, the application of these values is often influenced by the patriarchal culture that dominates Muslim society. This study uses a qualitative approach with literature study methods and field data analysis to identify gender construction in Islamic teachings and its application in various social traditions. The research results show that although sacred texts in Islam support gender justice, gender-biased interpretations are often the cause of the limited role of women in society. In addition, the influence of globalization and modern discourse on gender equality poses new challenges for Muslims in understanding and adapting religious teachings to contemporary social realities. This research concludes that the reconstruction of understanding of gender in Islam must be based on inclusive and humanist principles of justice, without ignoring the main values in religious teachings. It is hoped that this can contribute to the creation of a more just, equal and harmonious Muslim society.

Page 3 of 12 | Total Record : 112