cover
Contact Name
Fauzan
Contact Email
jurnal.madania@gmail.com
Phone
+6281331852714
Journal Mail Official
jurnal.madania@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu Jl. Raden Fatah, Pagar Dewa Kota Bengkulu 38211 Bengkulu, Sumatra, Indonesia
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Madania: Jurnal Kajian Keislaman
ISSN : 14108143     EISSN : 25021826     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/madania
Madania: Jurnal Kajian Keislaman is a peer-reviewed international journal focusing on Islamic studies. The journal provides a platform for disseminating the latest research and scholarly discussions on Islam and Muslim culture in a broad sense, encompassing theoretical and empirical investigations of themes relevant to Muslim societies globally and beyond. Madania publishes articles under six main topics: Islamic Law – Discussions on fiqh, legal theory, and contemporary issues in Islamic jurisprudence. Islamic Education – Research on pedagogical theories, practices, and innovations in Islamic education. Islamic Economy – Analyses of Islamic financial systems, economic theories, and practices. Islamic Theology, Philosophy, and Psychology – Studies exploring theological debates, philosophical perspectives, and psychological dimensions of Islamic thought. Islamic Communication – Research on communication ethics, media studies, and the role of communication in Islamic contexts. Study of the Qur’an and Hadith – Investigations of textual analysis, interpretations, and the application of Islamic scriptures. Madania accepts two types of articles: Research Articles: Scholarly reports presenting the results of quantitative or qualitative studies that contribute to the advancement of knowledge in Islamic studies across the six themes. Conceptual Articles: Papers offering theoretical perspectives, models, or philosophical analyses relevant to Islamic studies, engaging with contemporary theories and frameworks. All submissions to Madania undergo a rigorous double-blind peer-review process to ensure high standards of quality and academic integrity. The journal is committed to publishing original, innovative, and impactful research that addresses contemporary challenges in the Islamic world.
Articles 242 Documents
The Construction of Family Responsibility in the Practice of Khurûj in the Tablighi Jamaat: An Analysis of Islamic Family Law and Critical Theory Muhibbuddin Muhibbuddin; Faisal Abdullah; Nazar Husain Hadi Pranata Wibawa
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.12560

Abstract

This article examines the construction of family responsibilities in the practice of khurûj among members of the Tablighi Jamaat (TJ) in Gorontalo, Indonesia, from the perspectives of Islamic Family Law and critical theory. This study aims to understand how JT members interpret the responsibilities of husbands and wives, the fulfillment of family needs, and the relationship between the practice of khurûj and domestic life. The study employs an ethnographic approach, with the researcher serving as the primary instrument in naturalistic fieldwork to capture the experiences, practices, and meanings constructed by TJ members. The findings show that family responsibilities are constructed not solely in material terms but also encompass spiritual fulfillment, religious guidance, and an orientation toward the hereafter. The practice of maqâmî serves as a mechanism for maintaining family life while members engage in khurûj, whereas the fulfillment of the family’s basic needs and livelihood remains the husband’s responsibility. From a critical theory perspective, this construction represents a form of resistance to materialistic orientations and instrumental rationality, while simultaneously reflecting collective discipline and power relations in the division of family roles. Thus, the practice of khurûj reflects a negotiation between family obligations, commitments to da‘wah, and the ideals of Islamic life. Atikel ini mengkaji konstruksi tanggung jawab keluarga dalam praktik khurûj Jamaah Tabligh (JT) di Gorontalo, Indonesia, dengan menganalisisnya dari perspektif Hukum Keluarga Islam dan teori kritis. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana anggota JT menafsirkan tanggung jawab suami dan istri, pemenuhan kebutuhan keluarga, dan hubungan antara praktik khurûj dan kehidupan domestik. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi, dengan peneliti sebagai instrumen utama dalam kerja lapangan naturalistik untuk menangkap pengalaman, praktik, dan makna yang dibangun oleh anggota JT. Temuan menunjukkan bahwa tanggung jawab keluarga dibangun tidak hanya dalam dimensi materi, tetapi juga mencakup pemenuhan spiritual, bimbingan agama, dan orientasi menuju kehidupan setelah mati. Praktik maqâmî berfungsi sebagai mekanisme untuk mempertahankan kehidupan keluarga saat anggota menjalankan khurûj, sementara pemenuhan kebutuhan dasar dan mata pencaharian keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami. Perspektif teori kritis menunjukkan bahwa konstruksi ini berfungsi sebagai bentuk perlawanan terhadap orientasi materialistis dan rasionalitas instrumental, sekaligus menunjukkan disiplin kolektif dan hubungan kekuasaan dalam pembagian peran keluarga. Dengan demikian, praktik khurûj menunjukkan negosiasi antara kewajiban keluarga, komitmen terhadap da‘wah, dan cita-cita kehidupan Islam.
Silariang in Bugis-Makassar Culture: Civil Rights Protection Based on Islamic Law, Customary Law, and Maqâshid al-Syarî‘ah Jusalim Sammak; Nurrohman Nurrohman; Harry Yuniardi; Budi Tresnayadi
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.12561

Abstract

This study analyzes the forms and mechanisms of silariang marriage, its causes, legal implications for family status and civil rights protection, and its relevance within maqâshid al-syarî‘ah in Bugis-Makassar society. It employs qualitative descriptive-analytical field research using normative-juridical, sociological, and maqâshidî perspectives. Research was conducted in six South Sulawesi regencies: Maros, Bone, Gowa, Takalar, Jeneponto, and Bulukumba. Primary data came from 102 silariang participants, 72 community or religious leaders, and 18 Office of Religious Affairs (KUA) officials through in-depth interviews, participant observation, and documentation, analyzed using the Miles, Huberman, and Saldana model. Analysis involved data reduction, data display, and conclusion drawing to compare participants, local leaders, and institutional perspectives systematically across study sites. Findings show that silariang generally occurs as an unregistered marriage facilitated by a wali hakim or religious leader because the wali nasab withholds consent. Causes include family factors such as parental rejection and arranged marriage, economic factors involving high uang panai’, customary factors involving social stratification or sayye, and social factors such as premarital pregnancy. The practice creates legal uncertainty concerning marriage registration, inheritance rights, children’s lineage, and protection of wives’ rights. From a maqâshid al-syarî‘ah perspective, a dialectic arises between hifzh al-nasl and hifzh al-dîn, prioritized by religious leaders, and hifzh al-‘irdh, prioritized by customary leaders to preserve family siri’. The study recommends strengthening KUA’s role in resolving wali ‘adhal cases and facilitating itsbat nikah, educating communities on reasonable mahar and uang panai’, and revitalizing abbaji’ as a local-wisdom-based reconciliation mechanism without compromising family civil rights. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk dan mekanisme perkawinan silariang, faktor penyebabnya, implikasi hukum terhadap status dan perlindungan hak keperdataan keluarga, serta relevansinya dalam kerangka maqâshid al-syarî‘ah pada masyarakat Bugis-Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui penelitian lapangan deskriptif-analitis dengan pendekatan normatif-yuridis, sosiologis, dan maqâshidî. Penelitian dilakukan di enam kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Maros, Bone, Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba. Data primer diperoleh dari 102 pelaku silariang, 72 tokoh masyarakat atau agama, dan 18 pejabat Kantor Urusan Agama (KUA) melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana. Analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk membandingkan pengalaman pelaku, tokoh lokal, dan perspektif kelembagaan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silariang umumnya berlangsung dalam bentuk perkawinan tidak tercatat (nikah siri) yang difasilitasi wali hakim atau tokoh agama karena wali nasab tidak memberikan persetujuan. Faktor penyebabnya meliputi faktor keluarga berupa penolakan orang tua dan perjodohan, faktor ekonomi berupa tingginya uang panai’, faktor adat berupa perbedaan stratifikasi sosial atau sayye, serta faktor sosial berupa kehamilan di luar nikah. Praktik ini menimbulkan ketidakpastian hukum terkait pencatatan perkawinan, hak waris, nasab anak, dan perlindungan hak istri. Dalam perspektif maqâshid al-syarî‘ah, terdapat dialektika antara hifzh al-nasl dan hifzh al-dîn yang diprioritaskan tokoh agama dengan hifzh al-‘irdh yang diprioritaskan tokoh adat untuk menjaga siri’ keluarga. Penelitian merekomendasikan penguatan peran KUA dalam penyelesaian wali adhal dan itsbat nikah, edukasi mengenai kewajaran mahar dan uang panai’, serta revitalisasi abbaji’ sebagai mekanisme rekonsiliasi berbasis kearifan lokal tanpa mengorbankan hak-hak keperdataan keluarga.