cover
Contact Name
Fauzan
Contact Email
jurnal.madania@gmail.com
Phone
+6281331852714
Journal Mail Official
jurnal.madania@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu Jl. Raden Fatah, Pagar Dewa Kota Bengkulu 38211 Bengkulu, Sumatra, Indonesia
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Madania: Jurnal Kajian Keislaman
ISSN : 14108143     EISSN : 25021826     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/madania
Madania: Jurnal Kajian Keislaman is a peer-reviewed international journal focusing on Islamic studies. The journal provides a platform for disseminating the latest research and scholarly discussions on Islam and Muslim culture in a broad sense, encompassing theoretical and empirical investigations of themes relevant to Muslim societies globally and beyond. Madania publishes articles under six main topics: Islamic Law – Discussions on fiqh, legal theory, and contemporary issues in Islamic jurisprudence. Islamic Education – Research on pedagogical theories, practices, and innovations in Islamic education. Islamic Economy – Analyses of Islamic financial systems, economic theories, and practices. Islamic Theology, Philosophy, and Psychology – Studies exploring theological debates, philosophical perspectives, and psychological dimensions of Islamic thought. Islamic Communication – Research on communication ethics, media studies, and the role of communication in Islamic contexts. Study of the Qur’an and Hadith – Investigations of textual analysis, interpretations, and the application of Islamic scriptures. Madania accepts two types of articles: Research Articles: Scholarly reports presenting the results of quantitative or qualitative studies that contribute to the advancement of knowledge in Islamic studies across the six themes. Conceptual Articles: Papers offering theoretical perspectives, models, or philosophical analyses relevant to Islamic studies, engaging with contemporary theories and frameworks. All submissions to Madania undergo a rigorous double-blind peer-review process to ensure high standards of quality and academic integrity. The journal is committed to publishing original, innovative, and impactful research that addresses contemporary challenges in the Islamic world.
Articles 239 Documents
From Compliance to Commodity: Halal Commodification, the Price of Compliance, and Authority Tensions in Indonesia's JPH System Muhammad Toriq Nurmadiansyah; Muhammad Irfai Muslim
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.10803

Abstract

This study aims to analyze how Indonesia's Halal Product Assurance System (JPH) transforms halal from a religious consumption norm into a market and legal infrastructure. The analysis focuses on label commodification, the price of compliance, policy acceleration, and authority tensions in the implementation of JPH. This study uses a qualitative approach based on document analysis. The primary data are drawn from a research report containing descriptions of JPH implementation, cost schemes, socialization practices, and quotations from field actors. The data were analyzed through thematic content analysis involving repeated reading, open coding, code grouping, and the identification of cross-theme patterns. The findings show that the halal label operates as a market-valued symbol that enhances reputation, competitiveness, and competitive pressure. Compliance also has a price because formal costs, additional costs, and the need for assistance can burden business actors, especially small enterprises. Acceleration through national targets and facilitation programs expands the adoption of certification, but implementation still faces friction arising from authority pluralism, regulatory changes, technological barriers, and uncertainty in the fatwa process. From a fiqh-legal perspective, halal certification gains dual legitimacy from state regulations and religious norms. However, this legitimacy must be balanced with a maslahah-based policy design so that certification does not become a mechanism of exclusion. This study contributes by showing that JPH is not merely an administrative instrument, but an arena of co-production among symbols, costs, authority, and market interests. Studi ini bertujuan menganalisis bagaimana Sistem Jaminan Produk Halal (JPH) di Indonesia mengubah halal dari norma konsumsi keagamaan menjadi infrastruktur pasar dan hukum. Analisis berfokus pada komodifikasi label, biaya kepatuhan, akselerasi kebijakan, dan ketegangan otoritas dalam implementasi JPH. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis dokumen. Data utama berasal dari laporan penelitian yang memuat deskripsi implementasi JPH, skema biaya, praktik sosialisasi, dan kutipan aktor lapangan. Data dianalisis melalui analisis isi tematik melalui pembacaan berulang, pengodean terbuka, pengelompokan kode, dan identifikasi pola lintas tema. Temuan menunjukkan bahwa label halal bekerja sebagai simbol bernilai pasar yang meningkatkan reputasi, daya saing, dan tekanan kompetitif. Kepatuhan juga memiliki harga karena biaya formal, biaya tambahan, dan kebutuhan pendampingan dapat membebani pelaku usaha, khususnya usaha kecil. Akselerasi melalui target nasional dan program fasilitasi memperluas adopsi sertifikasi, tetapi implementasi masih menghadapi friksi akibat pluralisme otoritas, perubahan regulasi, hambatan teknologi, dan ketidakpastian proses fatwa. Dari perspektif fikih-hukum, sertifikasi halal memperoleh legitimasi ganda dari regulasi negara dan norma agama. Namun, legitimasi tersebut harus diimbangi dengan desain kebijakan berbasis maslahah agar sertifikasi tidak berubah menjadi mekanisme eksklusi. Studi ini berkontribusi dengan menunjukkan bahwa JPH tidak semata-mata merupakan instrumen administratif, melainkan juga arena ko-produksi antara simbol, biaya, otoritas, dan kepentingan pasar.
The Aisyiyah Child Protection Model: A Retrospective Life-Course Analysis of Maqâshid al-Syarî‘ah in Adolescent Pregnancy Betra Sarianti; Linda Safitra
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.11037

Abstract

This article examines the Aisyiyah Child Protection Model as a transformative framework for addressing teenage pregnancy within Islamic family law in Indonesia, moving beyond formal legal marriage. Driven by the high number of requests for marriage dispensations, this study aims to evaluate the effectiveness of this non-marital support ecosystem against the legalistic enforcement of the Religious Court. Employing a qualitative-empirical approach within a retrospective life-course analysis, data were collected from a qualitative content analysis of 408 marriage dispensation case files at the Class 1A Religious Court of Bengkulu (2020-2024), alongside in-depth, open-ended interviews with key institutional and community informants. These informants included executives of Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Aisyiyah, professional social workers (Peksos), religious court judges, biological/adoptive parents, and the Head of Neighborhood Unit 16 in Rawa Makmur, Bengkulu City, who served as a 25-year community historical witness for past retrospective cases. The findings reveal a judicial paradox where judges granted 100% of dispensation petitions due to emergency pregnancies and intense parental pressure to conceal social stigma, which conversely triggered high school dropout rates and long-term socio-economic vulnerability. Conversely, the Aisyiyah Protection Model has proven highly successful in the long term. By enforcing strict conditionality for absolute educational continuity, utilizing structured family economic empowerment, and leveraging community-backed foster care systems, the model successfully secures the dimensions of hifz al-nafs (protection of life) and hifz al-nasl (protection of lineage). Longitudinal evidence demonstrates that by bypassing forced marriage, teenage mothers successfully achieved university degrees while their children transitioned into adulthood (16-20 years old) with a stable, multidimensional quality of life (hayat tayyibah). Artikel ini mengkaji Model Perlindungan Anak Aisyiyah sebagai kerangka kerja transformatif dalam menangani kehamilan remaja dalam ranah hukum keluarga Islam di Indonesia, dengan melangkah melampaui formalitas pernikahan legal. Dipicu oleh tingginya permohonan dispensasi kawin, studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ekosistem pendampingan non-marital ini terhadap penegakan legalistik di Pengadilan Agama. Menggunakan pendekatan kualitatif-empiris dengan analisis alur-hidup retrospektif (retrospective life-course analysis), data dikumpulkan melalui analisis isi kualitatif terhadap 408 berkas perkara dispensasi kawin di Pengadilan Agama Kelas 1A Bengkulu (2020-2024), serta wawancara mendalam dan terbuka dengan informan kunci institusional dan komunitas. Informan tersebut meliputi pengurus Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Aisyiyah, pekerja sosial profesional (Peksos), hakim pengadilan agama, orang tua kandung/angkat, dan Ketua RT 16 Rawa Makmur, Kota Bengkulu yang bertindak sebagai saksi sejarah komunitas selama 25 tahun untuk kasus-kasus retrospektif masa lalu. Temuan penelitian mengungkap adanya paradoks yudisial di mana hakim mengabulkan 100% permohonan dispensasi akibat kehamilan darurat dan tekanan kuat orang tua untuk menutupi aib sosial, yang sebaliknya justru memicu tingginya angka putus sekolah dan kerentanan sosio-ekonomi jangka panjang. Sebaliknya, Model Perlindungan Anak Aisyiyah terbukti sangat sukses dalam jangka panjang. Dengan menerapkan syarat ketat untuk keberlanjutan pendidikan mutlak, memanfaatkan pemberdayaan ekonomi keluarga yang terstruktur, dan menggerakkan sistem orang tua asuh berbasis komunitas, model ini berhasil mengamankan dimensi hifz al-nafs (perlindungan jiwa) dan hifz al-nasl (perlindungan keturunan). Bukti longitudinal menunjukkan bahwa dengan menghindari pernikahan paksa, ibu remaja sukses meraih gelar sarjana sementara anak-anak mereka tumbuh dewasa (usia 16-20 tahun) dengan kualitas hidup multidimensi yang stabil (hayat tayyibah).
Murabahah Accounting under PSAK 102 and FAS 28: A Maqâshid al-Syarî‘ah and Fiqh Mu‘âmalah Analysis Basri Naali; Abdul Hamid; Andi Achmad Zulkarnaen
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.11928

Abstract

This study examines whether PSAK 102, issued by the Indonesian Institute of Accountants, and FAS 28, issued by AAOIFI and effective from 1 January 2019, converge or diverge in their accounting treatment of the murabahah contract, and it reads the findings through a maqâshid al-syarî‘ah and fiqh mu‘âmalah lens. Using a qualitative comparative analysis of the official texts of PSAK 102, FAS 28, IFRS 15, and IFRS 9, supplemented by an illustrative simulation of a vehicle financing contract worth IDR 350 million, the study finds partial convergence at the structural level of recognition, measurement, and presentation. The principal divergence lies in profit allocation: PSAK 102 permits the proportional and annuity methods, whereas FAS 28 mandates the effective profit rate for contracts exceeding twelve months. The annuity method recognises roughly sixty percent more profit in the first year than the proportional method, mirroring IFRS 9. The study argues that the sharia distinctiveness of murabahah accounting is more terminological than substantive at the level of recognition, and that its ethical surplus lies in a maqâshid -grounded disclosure culture accessible to the customer. It endorses the term sharia contract accounting over the broader Islamic accounting. Studi ini mengkaji apakah PSAK 102 yang diterbitkan Ikatan Akuntan Indonesia dan FAS 28 yang diterbitkan AAOIFI serta berlaku efektif sejak 1 Januari 2019 bertemu atau berbeda dalam perlakuan akuntansi akad murabahah, dan membaca temuannya melalui perspektif maqâshid al-syarî‘ah dan fiqh mu‘âmalah. Dengan analisis komparatif kualitatif atas teks resmi PSAK 102, FAS 28, IFRS 15, dan IFRS 9 yang dilengkapi simulasi ilustratif kontrak pembiayaan kendaraan senilai Rp350 juta, studi menemukan konvergensi parsial pada tataran struktural pengakuan, pengukuran, dan penyajian. Divergensi utama terletak pada alokasi keuntungan: PSAK 102 mengizinkan metode proporsional dan anuitas, sedangkan FAS 28 mewajibkan metode effective profit rate untuk kontrak di atas dua belas bulan. Metode anuitas mengakui keuntungan sekitar enam puluh persen lebih besar pada tahun pertama dibanding metode proporsional, menyerupai IFRS 9. Studi berargumen bahwa distingsi maqâshid dalam akuntansi murabahah lebih bersifat terminologis daripada substantif pada tataran pengakuan, dan surplus etisnya terletak pada budaya pengungkapan yang berlandaskan maqâshid sehingga pengungkapan harga perolehan dapat diaudit dan diakses pihak yang berkontrak. Istilah sharia contract accounting didukung sebagai deskriptor yang lebih akurat daripada Islamic accounting yang lebih luas.
Integrating Sustainable Development Goals and Maqâshid al-Syarî‘ah: A Conceptual Framework for Islamic Sustainable Development Hotman Hotman; Putri Swastika; Diana Ambarwati; Yuyun Yunarti; Riyan Damara Putra
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.11561

Abstract

This study aims to develop an integrative conceptual framework between the Sustainable Development Goals (SDGs) and maqâshid al-syarî‘ah within the discourse of Islamic sustainable development. This objective is grounded in the growing criticism that contemporary sustainability discourse remains largely shaped by technocratic and secular-developmentalist assumptions, which often prioritize institutional performance, economic growth, and measurable indicators while overlooking ethical, spiritual, and civilizational dimensions of human well-being. Methodologically, this study employs a qualitative conceptual review using Critical Interpretive Synthesis supported by a PRISMA-inspired literature screening procedure. Literature was collected from Scopus, ScienceDirect, Dimensions, Crossref, and Google Scholar using keywords related to SDGs, maqâshid al-syarî‘ah, Islamic sustainable development, Islamic sustainability, and Islamic environmental ethics. The review focused on peer-reviewed and indexed scholarly publications published between 2021 and 2026. From 86 initially identified records, 41 publications were retained after preliminary screening, and 19 core studies were selected for thematic coding and conceptual synthesis. The findings reveal substantial convergence between SDGs and maqâshid al-syarî‘ah in relation to justice, welfare, environmental stewardship, social sustainability, transcendental accountability, moral responsibility, and civilizational balance. This study concludes that Islamic sustainable development should not be positioned merely as a religious adaptation of global sustainability agendas, but as an ethical-civilizational paradigm capable of enriching and reconstructing contemporary sustainability theory. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka konseptual integratif antara Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan maqâshid al-syarî‘ah dalam wacana pembangunan berkelanjutan Islam. Tujuan ini didasarkan pada kritik yang berkembang bahwa wacana keberlanjutan kontemporer sebagian besar masih dibentuk oleh asumsi teknokratis dan sekuler-pembangunan, yang seringkali memprioritaskan kinerja kelembagaan, pertumbuhan ekonomi, dan indikator terukur sambil mengabaikan dimensi etika, spiritual, dan peradaban dari kesejahteraan manusia. Secara metodologis, studi ini menggunakan tinjauan konseptual kualitatif menggunakan Sintesis Interpretatif Kritis yang didukung oleh prosedur penyaringan literatur yang terinspirasi oleh PRISMA. Literatur dikumpulkan dari Scopus, ScienceDirect, Dimensions, Crossref, dan Google Scholar menggunakan kata kunci yang terkait dengan SDGs, maqâshid al-syarî‘ah, pembangunan berkelanjutan Islam, keberlanjutan Islam, dan etika lingkungan Islam. Tinjauan ini berfokus pada publikasi ilmiah yang ditelaah sejawat dan terindeks yang diterbitkan antara tahun 2021 dan 2026. Dari 86 catatan yang awalnya diidentifikasi, 41 publikasi dipertahankan setelah penyaringan awal, dan 19 studi inti dipilih untuk pengkodean tematik dan sintesis konseptual. Temuan menunjukkan konvergensi substansial antara SDGs dan maqâshid al-syarî‘ah dalam kaitannya dengan keadilan, kesejahteraan, pengelolaan lingkungan, keberlanjutan sosial, akuntabilitas transendental, tanggung jawab moral, dan keseimbangan peradaban. Studi ini menyimpulkan bahwa pembangunan berkelanjutan Islam seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai adaptasi agama dari agenda keberlanjutan global, tetapi sebagai paradigma etika-peradaban yang mampu memperkaya dan merekonstruksi teori keberlanjutan kontemporer.
Transformation of Palembang Malay Language Politeness in Arab Village Sei Bayas: An Innovative Socio-Pragmatic Study Sri Parwanti; Ris'an Rusli; Masyhur Masyhur
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.7929

Abstract

This study aims to analyse the transformation of Palembang Malay politeness in the social interaction of the Arab Village Sei Bayas community, using an innovative socio-pragmatic approach. The main focus of this study is to identify politeness strategies as well as the community's ability to express directive speech acts politely and according to context. The phenomenon of shifting politeness values in Palembang Malay language practices is the main background of this research. The method used is qualitative, through observation and in-depth interviews with people in RT 02 and RT 26, with a total of 40 respondents and 4 representative speakers. Data analysis was conducted based on Searle's theory of directive speech acts, which includes forms of requests, questions, orders, prohibitions, giving permission, and advice. The results showed that directive speech acts in the form of requests dominated in 43 interaction situations. In addition, a significant influence of Javanese language on the forms of speech in the local Palembang Malay language was found. This finding confirms the process of politeness transformation influenced by cultural and language contact, as well as making an important contribution to the development of socio-pragmatic studies and understanding the linguistic dynamics of traditional communities in contemporary social contexts.
Internalizing Moral Responsibility in the Legal Profession through Student Internship Programs: A Study at the Faculty of Sharia, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Ilhampatahillah Ilhampatahillah; Alfauzan Amin; Andang Sunarto
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.12277

Abstract

This study aims to analyze the internalization of moral responsibility in legal professional ethics through the internship program of students at the Faculty of Sharia, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Moral responsibility constitutes an essential element in developing professionalism in the legal field, because legal practice requires technical competence, integrity, and ethical judgment. In legal education, internship programs provide an important space for students to understand, experience, and practice the ethical values of the legal profession in real professional settings. This study employs a descriptive qualitative approach, with data collected through interviews, observation, and document analysis involving internship students, academic supervisors, and institutional mentors. The findings indicate that the implementation of moral responsibility during internship contributes significantly to shaping the professional character of law students, particularly in relation to discipline, integrity, honesty, confidentiality, professionalism, respect for institutional procedures, and concern for justice. The internship experience also encourages students to reflect on the moral consequences of legal services and the importance of protecting the rights of justice seekers. Therefore, internship programs function not only as a medium for practical legal learning but also as a strategic means of instilling moral values and professional ethics as foundations for future legal practice. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis internalisasi tanggung jawab moral dalam etika profesi hukum melalui program magang mahasiswa Fakultas Syariah UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Tanggung jawab moral merupakan unsur penting dalam pengembangan profesionalisme di bidang hukum karena praktik hukum tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga integritas dan pertimbangan etis. Dalam pendidikan hukum, program magang menyediakan ruang penting bagi mahasiswa untuk memahami, mengalami, dan mempraktikkan nilai-nilai etika profesi hukum dalam lingkungan profesional yang nyata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen yang melibatkan mahasiswa magang, dosen pembimbing akademik, dan pembimbing instansi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan tanggung jawab moral selama magang berkontribusi secara signifikan dalam membentuk karakter profesional mahasiswa hukum, khususnya dalam aspek kedisiplinan, integritas, kejujuran, kerahasiaan, profesionalisme, penghormatan terhadap prosedur kelembagaan, dan kepedulian terhadap keadilan. Pengalaman magang juga mendorong mahasiswa untuk merefleksikan konsekuensi moral dari pelayanan hukum serta pentingnya melindungi hak-hak para pencari keadilan. Oleh karena itu, program magang tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran praktik hukum, tetapi juga sebagai sarana strategis untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika profesi sebagai dasar bagi praktik hukum di masa depan.
Muslim Youth Readiness for Indonesia Emas 2045 in the Era of Disruption: Digital and Islamic Economic Literacy, Islamic Values, and Organizational Participation Mawaddatul Ulya; Asmi Lidya Pradipta Rahayu; Taufik Taufik; Ratih Ayu Muflihah
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.10513

Abstract

This study analyzes the readiness of Indonesian Muslim youth to support the Indonesia Emas 2045 vision. Readiness is invoked constantly in debates about Indonesia’s demographic bonus, yet it is rarely defined in terms that can be measured. This study operationalizes the readiness of Indonesian Muslim youth through four indicators, namely digital literacy, Islamic economic literacy, internalization of Islamic values, and participation in Islamic organizations, and examines how far each contributes to youth awareness of the Indonesia Emas 2045 vision. A quantitative survey was administered to 100 Muslim youth respondents selected by purposive sampling from varied educational and organizational backgrounds across several regions of Indonesia. The instrument used a five-point Likert scale and was tested for validity and reliability, followed by classical assumption testing and multiple linear regression processed in SPSS. Participation in Islamic organizations emerged as the strongest predictor (β = 0.283; t = 3.292; p = 0.001), followed by digital literacy (β = 0.218; t = 2.193; p = 0.031). Islamic economic literacy (p = 0.164) and Islamic values (p = 0.136) were positive but not significant at the partial level. The four indicators were jointly significant, F (4, 95) = 51.224, p < 0.001, and explained 67% of the variance in awareness (adjusted R² = 0.670). The findings indicate that readiness is not a single undifferentiated capacity but a division of function: organizational involvement and digital competence act as direct channels, whereas economic literacy and religious values operate as an enabling moral and cognitive foundation that requires a practical arena before it turns into national awareness. Strengthening spaces for collective participation therefore matters as much as strengthening individual literacy. Penelitian ini menganalisis kesiapan pemuda Muslim Indonesia dalam menghadapi era disrupsi menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045. Kesiapan merupakan istilah yang terus disebut dalam perdebatan mengenai bonus demografi Indonesia, tetapi jarang dirumuskan dalam ukuran yang dapat diuji. Penelitian ini mengoperasionalkan kesiapan pemuda Muslim Indonesia melalui empat indikator, yaitu literasi digital, literasi ekonomi syariah, internalisasi nilai-nilai Islam, dan partisipasi dalam organisasi Islam, serta menguji sejauh mana masing-masing berkontribusi terhadap kesadaran pemuda akan visi Indonesia Emas 2045. Survei kuantitatif dilakukan terhadap 100 responden pemuda Muslim yang dipilih secara purposive dari beragam latar belakang pendidikan dan organisasi di sejumlah wilayah Indonesia. Instrumen menggunakan skala Likert lima poin dan diuji validitas serta reliabilitasnya, dilanjutkan uji asumsi klasik dan regresi linear berganda melalui SPSS. Partisipasi dalam organisasi Islam merupakan prediktor terkuat (β = 0,283; t = 3,292; p = 0,001), diikuti literasi digital (β = 0,218; t = 2,193; p = 0,031). Literasi ekonomi syariah (p = 0,164) dan nilai-nilai Islam (p = 0,136) berpengaruh positif namun tidak signifikan secara parsial. Keempat indikator signifikan secara simultan, F(4; 95) = 51,224; p < 0,001, dan menjelaskan 67% variasi kesadaran (adjusted R² = 0,670). Temuan ini menunjukkan bahwa kesiapan bukan kapasitas tunggal yang seragam, melainkan pembagian fungsi: keterlibatan organisasi dan kompetensi digital bekerja sebagai jalur langsung, sementara literasi ekonomi dan nilai keagamaan berfungsi sebagai landasan moral dan kognitif yang memerlukan wadah praktis sebelum berubah menjadi kesadaran kebangsaan. Penguatan ruang partisipasi kolektif karena itu sama pentingnya dengan penguatan literasi individual.
Digital Transformation in Realizing Fair and Integral Bureaucratic Governance through the ASN Portal: A Maqâshid al-Syarî‘ah Perspective M Findo Riatama; Siti Nurjanah; Isa Ansori; Warsono Warsono; Ariza Umami
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.12301

Abstract

This study aims to examine the gap between technical efficiency and public ethics in Indonesia’s ASN digital management and to propose a maqâshid al-syarî‘ah-based governance model. Although Law Number 20 of 2023 mandates efficiency and transparency, digital platforms such as ASN Digital, SIASN, e-Kinerja, and MOOC remain largely focused on administrative targets, often overlooking moral integrity, service integration, and digital fatigue among civil servants. This study employs normative legal research using statutory and conceptual approaches. Regulations governing ASN management are analyzed systematically and deductively through the principles of maqâshid al-syarî‘ah, particularly hifdz al-din and hifdz al-mal. The findings reveal that the absence of an ethical dimension in ASN digital platforms creates opportunities for maladministration, subjectivity in promotion decisions, manipulation of performance data, and inefficient use of state resources. To address these problems, this study proposes a transcendental value-based reconstruction model through three strategies. First, digital platforms should incorporate an ethical oath or integrity contract upon user access. Second, an integrated merit-system algorithm should be developed to flag promotion applications involving disciplinary violations or unexplained financial irregularities for further review. Third, competency modules should be transformed from mere training-hour recording systems into platforms for ethical reflection and moral commitment. The study concludes that integrating maqâshid al-syarî‘ah principles into the technical architecture of ASN digital platforms can transform technology from an administrative burden into an instrument of ethical bureaucratic governance that promotes honesty, justice, accountability, and public welfare, thereby supporting clean and integrity-based governance. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesenjangan antara efisiensi teknis dan etika publik dalam pengelolaan digital Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia serta menawarkan model tata kelola berbasis maqâshid al-syarî‘ah. Meskipun Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 mengamanatkan efisiensi dan transparansi, platform digital seperti ASN Digital, SIASN, e-Kinerja, dan MOOC masih cenderung berfokus pada target administratif, serta kurang memperhatikan integritas moral, integrasi layanan, dan kelelahan digital di kalangan aparatur sipil negara. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Peraturan yang mengatur manajemen ASN dianalisis secara sistematis dan deduktif berdasarkan prinsip-prinsip maqâshid al-syarî‘ah, khususnya hifdz al-din dan hifdz al-mal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan dimensi etis dalam platform digital ASN membuka peluang terjadinya maladministrasi, subjektivitas dalam keputusan promosi, manipulasi data kinerja, dan inefisiensi penggunaan sumber daya negara. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini menawarkan model rekonstruksi berbasis nilai transendental melalui tiga strategi. Pertama, platform digital perlu mengintegrasikan fitur sumpah etis atau kontrak integritas pada saat pengguna mengakses sistem. Kedua, perlu dikembangkan algoritma sistem merit yang terintegrasi untuk menandai usulan promosi yang melibatkan pelanggaran disiplin atau ketidakwajaran profil keuangan agar dapat ditinjau lebih lanjut. Ketiga, modul kompetensi perlu ditransformasikan dari sekadar sistem pencatatan jam pelatihan menjadi sarana refleksi etis dan penguatan komitmen moral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi prinsip-prinsip maqâshid al-syarî‘ah ke dalam arsitektur teknis platform digital ASN dapat mengubah teknologi dari beban administratif menjadi instrumen tata kelola birokrasi yang etis, yang mendorong kejujuran, keadilan, akuntabilitas, dan kemaslahatan publik, sehingga mendukung terwujudnya tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas.
Beyond the Halal Seal: Maqâshid al-Syarî‘ah Content Marketing and Customer Engagement in Halal Small and Medium Enterprises Ahmad Dumyathi Bashori; Suhendra Suhendra; Sucayono Sucayono
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.12200

Abstract

This research tries to examine whether the marketing value that is owned by halal small and medium enterprises (SMEs) does not stop at the certification seal but rather moves toward the substance of the content that such firms publish on social media. By departing from customer engagement theory and also from the higher objectives of Islamic law (maqâshid al-syarî‘ah), this study tests how four drivers at the content level, namely halal content authenticity, Islamic content quality, maqâshid al-syarî‘ah content implementation, and trust toward halal social media content, give effect to customer engagement. The data in this research were collected from customers who follow the accounts of halal SMEs on social media, and the analysis itself was carried out through partial least squares structural equation modelling with the SEMinR package, together with 1,000 bootstrap resamples. As for the measurement model, its internal consistency and its convergent validity were proven to be adequate, whereas the discriminant validity among the constructs, which are strongly correlated with one another, is still examined and is marked for further confirmation. The structural model was able to explain a fairly large portion of the variance in customer engagement (R² = 0.754), and all four hypotheses in this study were supported. Among the four of them, trust toward halal social media content gave the strongest effect, and it was then followed quite closely by Islamic content quality and by halal content authenticity, while maqâshid al-syarî‘ah content implementation still contributed a significant effect even though it was more modest. Based on such findings halal certification only works as a threshold cue and not as a relational cue, so that engagement is in fact built through content that can be trusted, that is correct from the religious side, and that stands on ethics. Therefore, this study contributes an integrative reading, which is based on maqâshid, upon halal content marketing, and at the same time it also gives practical direction for the owners of SMEs who compete within crowded digital marketplaces. Penelitian ini berusaha menelaah apakah nilai pemasaran yang dimiliki oleh usaha kecil dan menengah (UKM) halal sesungguhnya tidak berhenti pada label sertifikasi, melainkan justru bergerak menuju substansi konten yang mereka publikasikan di media sosial. Dengan berpijak pada teori keterlibatan pelanggan dan juga pada tujuan tertinggi hukum Islam (maqâshid al-syarî‘ah), penelitian ini menguji bagaimana empat pendorong pada tingkat konten, yakni autentisitas konten halal, kualitas konten Islami, implementasi konten maqâshid al-syarî‘ah, serta kepercayaan terhadap konten halal di media sosial, memberikan pengaruh terhadap keterlibatan pelanggan. Data dalam penelitian ini dihimpun dari pelanggan yang mengikuti akun UKM halal di media sosial, dan analisisnya sendiri dilakukan melalui pemodelan persamaan struktural berbasis partial least squares dengan paket SEMinR beserta 1.000 resampel bootstrap. Adapun untuk model pengukuran, konsistensi internal dan validitas konvergennya terbukti memadai, sedangkan validitas diskriminan di antara konstruk yang saling berkorelasi kuat masih dikaji dan ditandai untuk dikonfirmasi lebih lanjut. Model struktural mampu menjelaskan bagian yang cukup besar dari varians keterlibatan pelanggan (R² = 0,754), dan keempat hipotesis dalam penelitian ini pun terdukung. Di antara keempatnya, kepercayaan terhadap konten halal di media sosial memberikan pengaruh yang paling kuat, yang kemudian diikuti secara cukup dekat oleh kualitas konten Islami dan oleh autentisitas konten halal, sementara implementasi konten Maqashid Syariah tetap menyumbang pengaruh yang signifikan walaupun lebih moderat. Berdasarkan temuan yang demikian dapat dilihat bahwa sertifikasi halal hanya bekerja sebagai isyarat ambang dan bukan sebagai isyarat relasional, sehingga keterlibatan pada kenyataannya dibangun melalui konten yang dapat dipercaya, yang benar dari sisi keagamaan, serta yang berpijak pada etika. Oleh karena itu, penelitian ini menyumbangkan sebuah pembacaan yang integratif, yang berbasis maqâshid, atas pemasaran konten halal, dan sekaligus juga memberikan arahan praktis bagi para pemilik UKM yang bersaing di dalam pasar digital yang padat.