Articles
101 Documents
Fenomena Dispensasi Nikah Untuk Melegalkan Nikah Usia Dini
efendy, noor
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 16 No. 01 (2023): An-Nahdhah Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v16i01.162
Fenomena dispensasi nikah untuk nikah usia dini terus mengalami lonjakan setelah adanya perubahan Undang-Undang Perkawinan tentang batas minimal usia calon pengantin. Pernikahan usia dini dianggap sebagai masalah sosial karena melanggar hukum, peraturan, dan norma di sebagian masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fenomena dispensasi nikah untuk melegalkan nikah usia dini. Hasil penelitian menyebutkan bahwa terdapat berbagai faktor penyebab terjadinya pernikahan usia dini atau diberikannya dispensasi nikah, yaitu kehamilan sebelum menikah, faktor ekonomi, faktor pendidikan, dan faktor lingkungan. Pemberian dispensasi nikah oleh Pengadilan Agama dilakukan atas dasar empat hal, yaitu tindakan rasionalitas instrumental, tindakan rasionalitas nilai, tindakan afektif, dan tindakan tradisional.
PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI PASIR PUYA MENGANDUNG EMAS DIDESA TELUK KEPAYANG
Nur Azizah, Raudah;
Rahmat Sholihin;
Muhammad Haris
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 16 No. 2 (2023): An-Nahdhah Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v16i2.177
Penelitian ini dilatar belakangi dengan adanya praktik jual beli pasir puya yang mengandung emas di Desa Teluk Kepayang Kecamatan Teluk Kepayang Kabupaten Tanah Bumbu yang dilakukan antara penjual dan pembeli. Transaksi jual beli pasir tersebut mempunyai kendala yaitu emas yang ada didalam pasir tersebut tidak terlihat, tidak nampak, dan tidak diketahui ada atau tidaknya kandungan emas yang terdapat didalamnya, pembeli bisa saja mendapatkan keuntungan jika didalamnya terdapat kadar emas dan bisa saja rugi jika tidak terdapat kadar emas sama sekali. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana praktik jual beli pasir puya yang mengandung emas dan bagaimana pandangan hukum Islam terhadap praktik jual beli pasir puya yang mengandung emas yang ada di Desa Teluk Kepayang Kecamatan Teluk Kepayang Kabupaten Tanah Bumbu. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris atau secara umum merupakan penelitian studi lapangan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu menggambarkan dan menganalisis serta memaparkan keadaan yang terjadi pada transaksi jual beli pasir puya yang berlokasi di Desa Teluk Kepayang Kecamatan Teluk Kepayang Kabupaten Tanah Bumbu. Subjek penelitian ini adalah penjual dan pembeli pasir puya yang mengandung emas. Adapun objeknya ialah pandangan hukum Islam terhadap praktik jual beli pasir puya yang mengandung emas. Hasil penelitian dalam jual beli ini, objek yang diakadkan yaitu pasir puya yang sudah dimasukkan kedalam karung goni tanpa mengetahui jelas objek yang diakadkan, baik secara kualitas maupun kuantitas barang, sehingga objek yang diakadkan mengandung kesamaran atau ketidakjelasan barang dan menimbulkan kerugian salah satu pihak akibat objek akad tersebut. Akad yang digunakan dalam jual beli pasir puya yang mengandung emas ini yaitu akad langsung, tempat berlangsungnya jual beli pasir puya ini berada disekitaran tempat pendulang emas. Jadi jual beli pasir puya yang mengandung emas ini terdapat unsur ketidakpastian, tidak transparan antara kedua belah pihak yang melakukan akad sehingga bisa menyebabkan kerugian disalah satu pihak. Dengan demikian praktik jual beli ini termasuk jual beli termasuk hukum jual beli gharar yang dibolehkan karena didalamnya terdapat unsur gharar yang ringan.
ANALISIS MUQADDIMAH MUHAMMAD SYUKRI UNUS DALAM KITAB IS’AFUL KHOID FI ILMI AL-FARAIDH
Jaidi, Muhammad
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 16 No. 2 (2023): An-Nahdhah Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v16i2.183
Abstract: This study examines a Malay-language book authored by one of the famous scholars who is still alive in Banjarmasin. The book is Is'aful Khoid Fi Ilmi Al-Faraidh, a translation into Malay of the book Tuhfah As-Saniyyah Fi Ahwal Al-Waratsatil Arba'iniyyah authored by Shaykh Hasan Muhammad Al-Masysyath Al-Makki. In addition to being translated into Malay, there are also additional explanations and procedures in calculating inheritance. This research is a library research. The subject is a number of literatures related to the problem under study. The object of this research is the analysis of muqaddimah in the book Is'aful Khoid Fi Ilmi Al-Faraidh which discusses the science of faraidh or the science of inheritance. This research produces findings, namely that in the muqaddimah of the book Is'aful Khoid Fi Ilmi Al-Faraidh there is an explanation of the science of faraidh in the form of definitions, urgency, virtues, sources, laws, concise examples, pillars, conditions, causes, and barriers in Islamic inheritance.
TELAAH KOMPARATIF TERHADAP HADIS RIWAYAT BUKHARI DAN MUSLIM TENTANG DO’A IFTITAH
Zainuddin
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 16 No. 2 (2023): An-Nahdhah Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v16i2.193
Fokus kajian ini adalah redaksi hadis tentang do’a iftitah yang di-takhrij Imam Bukhari dan Imam Muslim yang menggunakan redaksi beragam pada bagian hadis fi’liyah dan ditemukan perbedaan jenis kata, sedikit redaksi, dan susunan redaksi di bagian hadis qauliyah. Konsekuensi logisnya adalah benturan terhadap konsep al-dhabth dan al-maqlub yang dapat menurunkan kualitas hadis tersebut. Penyebabnya sangat potensial ada pada proses transmisi dari ‘Umarah bin Al-Qa’qa’i ke ‘Abdul Wahid bin Ziyad yang kemudian dikutip Imam Bukhari dan Jarir bin Hazm yang selanjutnya dirujuk oleh Imam Muslim. Di sisi lain, meskipun Imam Al-Tirmidzi juga men-takhrij hadis senada melalui perantaraan Muhammad bin Fudhail, tetapi masih belum mampu menyingkap sumber permasalahan, sedangkan Zuhair bin Harb dan ‘Ali bin Hujr hanya bisa membuktikan bahwa proses transmisi dari Jarir kepada mereka berdua berlangsung dengan sempurna, bukan dalam posisi pembuktian bahwa redaksi hadis versi Jarir lebih valid dari riwayat ‘Abdul Wahid.
KONSEP TAWASSUL DAN KUMPULAN DO’A DALAM KITAB RISALAH NURANIYYAH: (STUDI KITAB RISALAH NURANIYYAH KARYA SYEKH MUHAMMAD ZAINI AL-BANJARI)
Zubaidah
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 16 No. 2 (2023): An-Nahdhah Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v16i2.194
Tawassul is a practice carried out by Rasulullah SAW, his friends, past Ahlussunnah scholars until now. The Risale Nuraniyyah Book is a book written by His Excellency Sheikh Muhammad Zaini Al-Banjari. Risalah Nuraniyyah is an explanation of one of the tawassul written by Sheikh Samman. Apart from containing explanations of tawassul sammaniyyah, this book also includes several written prayers interspersing the discussion. Based on the data to be collected, this type of research is library research. The subject of this research is the Risalah Nuraniyyah book. Meanwhile, the object itself is the Tawassul Concept and Collection of Prayers. The results of this research state that the ability of tawassul has been explained by the Al-Qur'an, Al-Hadith, and the atsar of the Ulama. There are 16 prayers listed in the Risalah NuraniyyahI book, which are quoted based on their relevance to the material being discussed.
KONSEP KAFAAH DALAM PERNIKAHAN PERSPEKTIF ULAMA DI KECAMATAN KANDANGAN
Erma, Erma Sauva Asvia
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 17 No. 1 (2024): An-Nahdhah - Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v17i1.196
Abstract This research discusses the concept of kafaah in marriage from the Ulama in Kandangan District. This research aims to determine the concept of the perspective of Ulama in Kandangan District. This reseacrh is field are Ulama who live in Kandangan District, and are registered or regestered with the MUI (Indonesian Ulama Council), and the object of the research is the Concept of Kafaah in Marriage from the Ulama Perspective in Kandangan District. The data analysis technique in this researcrh uses qualitative methods, and the results obtained from this research are that the Ulama agree that it is mandatory to apply the concept of Kafaah in marriage which emphasizes aspects of religios issues. Keywords: Kafaah, Ulama
STUDI KRITIS PEMIKIRAN SITI MUSDAH MULIA TENTANG IDDAH PADA KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI)
efendy, noor
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 16 No. 2 (2023): An-Nahdhah Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v16i2.197
This research departs from Siti Musdah Mulia's thoughts as stated in the Couter Legal Draft Compilation of Islamic Law (CLD KHI), that husbands and wives both have equal iddah periods. In relation to the Compilation of Islamic Law in Indonesia, iddah is only intended for wives, the reason is because it is related to female reproduction. Given these differences, it is necessary to examine further the thoughts of Siti Musdah Mulia which often sparks this controversy. This research aims to find out Siti Musdah Mulia's thoughts about Iddah in the Compilation of Islamic Law (KHI). In detail, this objective includes Siti Musdah Mulia's thoughts about women and about iddah as well as Siti Musdah Mulia's methodology regarding the concept of Iddah. This research is library research using a normative theological approach. Through inductive methods and interpretation in data analysis techniques, this research produces the following findings: first, in the Compilation of Islamic Law (KHI) the iddah provisions for women are regulated in a complex way. According to the Compilation of Islamic Law (KHI), iddah is the waiting period and prohibition on marriage for women after their husband dies or divorces them. Second, according to Siti Musdah Mulia, the iddah provisions are not only obligatory for women, but the iddah provisions are also obligatory for men. This opinion is different from the majority of ulama regarding the obligations of iddah. Keywords: Siti Musdah Mulia, Iddah, Compilation of Islamic Law.
TASYAHUD IBN MAS’UD VERSI KUTUB AL-SITTAH (ANALISIS RIWAYAT BI AL-LAFZHI)
Zainuddin
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 17 No. 1 (2024): An-Nahdhah - Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v17i1.288
Usually, mayority of the hadith’s redaction was transmited by meaning, but this studies found that the kutub al-sittah’s writers whose used the variatif sanad whith refered to Ibn Mas’ud as its source, tha fact the hadith of tasyahud praying used riwayat bi al-lafzhi. Although Imam Al-Tirmidzi and Iman Al-Nasa’i informated that Ibn Mas’ud was not only one its source, but this transmison still in habar ahad category because mayority of its sanad used individual system. Besides that Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibn Majah and Imam Abu Daud reported the something wrong of Rasulullah’s friends with variatif redaction in matan of hadith as sabab al-wurud, whereas Imam al-Tirmidzi dan Imam al-Nasa’i informated that Rasulullah saw taught them the tasyahud praying. In the same position, four men of mukharrij also reported the explanation of Rasulullah saw in the text of tasyahud with variatif redaction, but no axplanation in transmision of Imam al-Tirmidzi dan Imam al-Nasa’i.
KAIDAH USHULIYYAH MANTHUK DAN MAFHUM DALAM PROSES ISTIMBATH HUKUM THARIQOH MUTAKALLIMIN DAN FUQOHA
ardi, sahibul
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 17 No. 1 (2024): An-Nahdhah - Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v17i1.292
Usul Fiqh is a science related to sharia which is 'Ijmali or kulli, a method of imposing and the conditions for establishing a law that must be fulfilled by a mujtahid. Istinbat al-Ahkam from the texts of the Qur'an and Hadith can be reached in two ways, namely the lughawiyah (usuliyyah) principles approach; and the tasyri'iyyah rules approach. Kaidah (rules) mean a system in general. The word usuliyyah means principal and comprehensive. It means that Usuliyyah does not only apply to a certain law. The rule of usuliyyah is a general rule that is used to set or establish a law. The ushuliyyah rule is related to pronunciation and dalalah or more related in to language (Arabic). There are many discussions related to language, including Manthuq and mafhum, wadih and mubham, 'am and khas, amr and nahi, mutlaq and muqayyad and others. This paper will explore the usuliyyah rules of Manthuq and mafhum from two groups, namely Mutakallimin and Fuqoha in a normative descriptive side with a qualitative approach. The results of the study show that there are differences in Dilalah Alfadz and its hujjah between the Mutakalillimin and Fuqoha people in the context of taking texts as a source of law.
TRANSFORMASI KONSEP MUSYTARAKAH PADA ADAT WARIS ISLAM BANJAR
Jaidi, Muhammad
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 17 No. 1 (2024): An-Nahdhah - Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63216/annahdhah.v17i1.299
This research focuses on the transformation of the musytarakah concept within the inheritance customs of Banjar Islam. The selection of this topic is based on the importance of understanding how the principles of justice in inheritance distribution can be applied in the local context of the Banjar community. The hypothesis of this study is that the musytarakah concept introduced by Umar bin Khattab can be adapted and applied in the Banjar's badamai customs to resolve inheritance disputes fairly. The research method used is a descriptive qualitative analysis with a case study approach in the Banjar community. The results of the study show that the musytarakah principle, which emphasizes justice and dispute resolution, can be applied in badamai customs, although there are some differences in the implementation mechanisms. This transformation demonstrates that the musytarakah concept can be adjusted to local social and cultural norms, providing an effective solution to inheritance distribution issues.