cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6231 5678478
Journal Mail Official
nangkris@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya - 60265
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
ISSN : 23016558     EISSN : 25976699     DOI : https://doi.org/10.33508/jk
Komunikatif is issued by Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya since 2012. Komunikatif is a peer-reviewed journal. Komunikatif publishes an article from selected topics in communication studies; those are media studies, public relations, and human communication. Articles issued by Komunikatif are conceptual articles and research articles. Komunikatif aims at publishing research and scientific thinking regarding the development of communication studies and contemporary social phenomena. Komunikatif also wishes to become an eligible reference for students and/or academia, especially in the communication field. Komunikatif is issued twice a year (July and December). Komunikatif clarifies ethical behavior for all parties involved, including authors, editor-in-chief, Editorial Board, reviewers, and publisher. Komunikatif provides free access for the online version to support knowledge exchange globally.
Articles 188 Documents
Di Balik Teluk Balikpapan: Framing Eksploitasi Korporasi pada Film Dokumenter Gone with The Tide dan Into The Shadow Rini Asmiyati; Sumekar Tanjung
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v10i2.3179

Abstract

This study aims to explain the framing of corporate exploitation of fishermen's life and natural damage in Balikpapan Bay through the documentary films Gone with The Tide and Into The Shadow. Corporate exploitation activities are a major source of problems in Balikpapan Bay. Expansive corporate growth but not followed by efforts to save nature is the main highlight of this second film. The choice of research object takes into consideration the function of documentary films as a medium of criticism and awareness to the public. In addition, Gone with The Tide and Into The Shadow present the problems of Balikpapan Bay based on the same director's point of view. The researcher uses the Pan & Kosicki framing method to explain the framing of corporate exploitation through 16 scenes in the second film. Researchers found seven constructions formed in this film, namely, the allusion to the provincial and central government, Balikpapan Bay is a strategic area, cornering the Kariangau Industrial Area, lack of attention to fishermen's welfare, maintaining a balance between industrial and environmental activities, cornering corporate and government over endangerment of marine mammals. Although it does not necessarily change people's awareness, documentary films have provided inspiration for environmental changes.Penelitian ini bertujuan menjelaskan pembingkaian eksploitasi korporasi terhadap Teluk Balikpapan melalui film dokumenter Gone with The Tide dan Into The Shadow. Kegiatan eksploitasi korporasi menjadi sumber utama masalah di Teluk Balikpapan. Pertumbuhan korporasi yang ekspansif namun tidak diikuti dengan upaya penyelamatan alam menjadi sorotan utama kedua film ini. Pemilihan objek penelitian berdasarkan pertimbangan fungsi film dokumenter sebagai medium kritik dan penyadaran kepada masyarakat. Selain itu, Gone with The Tide dan Into The Shadow menyajikan permasalahan Teluk Balikpapan berdasarkan sudut pandang sutradara yang sama. Peneliti menggunakan metode framing Pan & Kosicki untuk menjelaskan pembingkaian eksploitasi korporasi melalui 16 scene dalam kedua film. Peneliti menemukan tujuh konstruksi yang terbentuk dalam film ini yaitu, sindiran bagi pemerintah provinsi dan pusat, Teluk Balikpapan merupakan kawasan strategis, menyudutkan Kawasan Industri Kariangau, kurangnya perhatian atas kesejahteraan nelayan, pentingnya keseimbangan antara kegiatan industri dan lingkungan, menyudutkan pihak korporat, dan kekhawatiran atas terancamnya mamalia laut. Meski tidak serta merta mengubah kesadaran masyarakat, namun film dokumenter telah memberikan inspirasi bagi perubahan lingkungan.
Studi Netnografi Pola Komunikasi Jaringan Komunitas Cryptocurrency Dogecoin Pada Twitter Lady Joanne Tjahyana
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v10i1.3188

Abstract

Cryptocurrency Dogecoin awalnya dianggap sebagai meme coin namun telah mengalami kenaikan nilai tukar sebanyak 800% pada Januari 2021 dan bertambah lagi sebesar 400% pada April 2021. Hal ini tidak lepas dari dukungan kuat dari komunitas cryptocurrency Dogecoin dan top public profiles pada media sosial Twitter. Penelitian ini menggunakan metode digital netnography untuk melihat pola komunikasi jaringan komunitas cryptocurrency Dogecoin di Twitter. Komunitas yang diteliti tidak terpusat pada akun komunitas tertentu namun meliputi seluruh akun Twitter yang aktif berdiskusi mengenai Dogecoin. Batasan penelitan adalah pada tanggal 1 April - 9 Mei 2021 bertepatan dengan beberapa peristiwa penting yang terjadi. Data yang digunakan adalah semua percakapan pada Twitter dengan kata kunci "Doge" dan diambil menggunakan social network analysis tools Brand24 dan Netlytic. Penelitian ini menemukan adanya 5 tipe interaksi yang merupakan pola komunikasi jaringan Dogecoin. Pola komunikasi yang ditemukan pada penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pengembang Dogecoin dan cryptocurrency lainnya tentang pentingnya memberikan informasi yang dapat meyakinkan komunitas untuk tetap hold sebuah cryptocurrency. Kemudian pentingnya membina komunitas yang saling mendukung dan memberi semangat di antara anggota komunitas, dan pentingnya bekerjasama dengan top public profiles untuk memberikan keyakinan dan konfirmasi untuk mengatasi keresahan komunitas terkait volatility yang tinggi dari sebuah cryptocurrency.
Konstruksi Identitas dan Relasi Interpersonal oleh Roleplayer Artis K-Pop di Twitter Nokia Putri Andika Lainsyamputty
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v10i2.3218

Abstract

Indonesia is a country with the highest development of the K-Pop target market in Southeast Asia. This also raises various participatory behaviors from fans. One form of participatory behavior is roleplaying, which is playing roles on social media using a K-Pop artist's identity. As roleplayers, they will present themselves as K-Pop artists and build relationships with other roleplayers. Twitter is the social media most commonly used by roleplayers because of its features that support identity presentation and personal communication with other people. Even though they use other people's identities, roleplayers will also build various interpersonal relationships with fellow roleplayers like in the real world, from friendships to romantic relationships. This study aims to explain how K-Pop artist roleplayers construct their identity and interpersonal relationships through Twitter. This research used symbolic interactionism theory as the guide. The research method used is qualitative, with research data obtained through questionnaires with open-ended questions and analyzed thematically. From the answers of 131 respondents, K-Pop artists' identity was the object that roleplayers were trying to present. They present it by providing factual information about the artist and forming a good self-image. The way they present the K-Pop artist's identity will affect their interactions with other roleplayers, which have several determining factors, namely similarities, trust, feedback, and the parasocial relationship with the used muse. This interaction will determine the formation of interpersonal relationships, including friendship and romantic relationships. There are different types of real-world roleplayer information given between their friends and lovers.Indonesia merupakan negara dengan perkembangan target pasar K-Pop tertinggi di Asia Tenggara. Ini pun memunculkan berbagai perilaku partisipatoris dari penggemarnya. Salah satu bentuk perilaku partisipatoris itu adalah roleplaying, yaitu bermain peran di media sosial dengan menggunakan identitas dari artis K-Pop. Sebagai roleplayer, mereka akan mempresentasikan diri menjadi artis K-Pop dan menjalin hubungan dengan roleplayer lain. Twitter merupakan media sosial yang paling umum digunakan oleh para roleplayer karena fiturnya yang mendukung presentasi identitas maupun komunikasi secara personal dengan orang lain. Meskipun menggunakan identitas orang lain, para roleplayer juga akan dapat membangun berbagai relasi interpersonal dengan sesama roleplayer layaknya di dunia nyata, mulai dari persahabatan hingga hubungan romantis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana para roleplayer artis K-Pop mengonstruksi identitas dan hubungan interpersonal mereka melalui media sosial Twitter. Penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik sebagai pedoman. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan data penelitian yang didapatkan melalui kuisioner dengan pertanyaan terbuka dan dianalisis secara tematik. Dari jawaban 131 responden, ditemukan bahwa identitas dari artis K-Pop adalah objek yang berusaha dipresentasikan oleh para roleplayer. Mereka mempresentasikannya dengan memberikan informasi faktual tentang artis terkait dan membentuk citra diri yang baik. Cara mereka mempresentasikan identitas dari artis K-Pop tersebut akan memengaruhi interaksi mereka dengan roleplayer lain, yang memiliki beberapa faktor penentu yaitu kesamaan, kepercayaan, umpan balik, dan hubungan parasosial dengan muse yang digunakan. Interaksi ini akan menentukan pembentukan hubungan interpersonal, termasuk di dalamnya adalah pertemanan dan hubungan romantis. Terdapat perbedaan jenis informasi dunia nyata roleplayer yang diberikan kepada teman dan pacar. 
Strategi Dialektika Relasional Pasangan Suami Isteri di Masa Pandemi Covid-19 Elisha Kristian Putri; Fanny Lesmana; Desi Yoanita
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v10i2.3295

Abstract

This research was conducted to determine the relational dialectics strategy of married couples facing the Covid-19 pandemic. There were two couples as interviewees, the first spouse experienced work from home (WFH). The second one whose husband has worked from office (WFO). This research uses a qualitative approach with a case study method. Based on the findings of the data obtained, it shows that the WFH pair is more directed at autonomy, stability and closedness, while the WFO pair refers to connection, change and openness. From the research conducted, researchers can find five things that can cause dialectical tension for couples during a pandemic. First, the closeness of the partner depends on the age and character of the child. Second, work determines the interaction of partners during a pandemic. Third, family backgrounds shape relationships in the family. Fourth, character and personal preferences shape responses in relationships. Finally, adaptations and communication alternatives facing the pandemic. Then the strategies that are mostly used by both partners are segmentation and integration. It is also seen how communication is an important (key) in forming an agreement by adjusting between partners. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi dialektika relasional pasangan suami isteri di masa pandemi Covid-19. Terdapat dua pasangan sebagai narasumber, pasangan pertama mengalami work from home (WFH) dan pasangan kedua yang suaminya telah work from office (WFO). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan teori dialektika relasional. Berdasarkan temuan data yang diperoleh menunjukkan pasangan WFH lebih mengarah pada autonomy, stability dan closedness sedangkan pasangan WFO merujuk pada connection, change dan openness. Ditemukan lima hal yang dapat menimbulkan tegangan dialektika bagi pasangan di masa pandemi. Pertama, kedekatan pasangan dipengaruhi oleh usia dan karakter anak. Kedua, pekerjaan menentukan interaksi pasangan di masa pandemi. Ketiga, latar belakang keluarga membentuk hubungan dalam keluarga. Keempat, karakter dan preferensi pribadi membentuk respon dalam hubungan. Terakhir, adaptasi dan alternatif komunikasi dalam menghadapi masa pandemi. Mayoritas strategi yang digunakan kedua pasangan adalah segmentasi dan integrasi. Dapat disimpulkan komunikasi adalah kunci dalam membentuk kesepakatan dengan menyesuaikan diri antar pasangan.
Pengaruh Perilaku Phubbing terhadap Berkurangnya Intensitas Komunikasi Keluarga pada Masa Pandemi Covid-19 Ayustia Puspita Handayani; Husnita Husnita
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v10i2.3370

Abstract

The Covid-19 pandemic has forced the government to implement a "stay at home" policy that requires people to reduce activities outside the home. The impact of this policy is that technology cannot be separated from the grip, causing phubbing behavior in the family environment. The purpose of this study was to determine whether there was an effect of phubbing behavior on the reduced intensity of family communication during the Covid-19 pandemic in the city of Jakarta. This study uses the Theory of Technological Determinism. The method used is descriptive quantitative, purposive sampling and data collection through questionnaires with a sample of 400 respondents. The results of the hypothesis test state that the value of sig. on the variable phubbing behavior of 0.000 < 0.005 and tcount 19,053 > ttable 1,984 so that Ho is rejected and Ha is accepted and from the results of the coefficient of determination (R2) an R Square value of 0.477 means that phubbing behavior affects the reduced intensity of family communication during the Covid-19 pandemic in the city of Jakarta by 47.7%. This result shows that the intensity of family communication during the Covid-19 pandemic is reduced due to the busyness of each family member with activities that are all technological. This is in accordance with the theory of Technological Determinism that the media is the main factor that most influences other things. The use of technology allows humans to be amputated from their duties and functions, both physically and mentally which causes the loss of dignity (dehumanization) as social beings. Pandemi Covid-19 membuat pemerintah menerapkan kebijakan “di rumah aja” yang mengharuskan masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Dampak dari kebijakan ini adalah tidak lepasnya teknologi dari genggaman sehingga memunculkan perilaku phubbing di lingkungan keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh perilaku phubbing terhadap berkurangnya intensitas komunikasi keluarga saat pandemi Covid-19 di Kota Jakarta. Penelitian ini menggunakan Teori Determinisme Teknologi. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, purposive sampling dan pengumpulan data melalui kuesioner dengan jumlah sampel 400 responden. Hasil uji hipotesis menyatakan bahwa nilai sig. pada variabel perilaku phubbing sebesar 0,000 < 0,005 dan thitung 19,053 > ttabel 1,984 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima dan dari hasil koefisien determinasi (R2) didapat nilai R Square 0,477 yang berarti bahwa perilaku phubbing berpengaruh terhadap berkurangnya intensitas komunikasi keluarga pada masa pandemi Covid-19 di kota Jakarta sebesar 47,7%. Angka tersebut menunjukkan bahwa intensitas komunikasi keluarga selama pandemi Covid-19 berkurang dikarenakan kesibukan masing-masing anggota keluarga dengan kegiatan yang menjadi serba teknologi. Hal ini sesuai dengan teori Determinisme Teknologi bahwasanya media adalah faktor utama yang paling mempengaruhi hal lainnya. Penggunaan teknologi memungkinkan manusia teramputasi dari tugas dan fungsinya, baik secara fisik maupun mental yang menyebabkan hilangnya harkat (dehumanisasi) sebagai makhluk sosial.
Kajian Tentang Komunitas Virtual: Kesempatan dan Tantangan Kajian di Bidang Ilmu Komunikasi Anastasia Yuni Widyaningrum
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v10i2.3457

Abstract

This article is a literature review on virtual communities from phenomena, theories to the application of methods and research opportunities and challenges. The Internet removes the constraints of space and time and allows individuals to be connected from multiple locations and across identities. Using Sociological thinking about gemeinschaft and gesselschaft to explain the existence of communities in the internet era called virtual communities, this literature review seeks to apply them in the study of Communication Science. Various studies on virtual communities have been driven by rapid development of social media which enable long distance communication among people living in the different places all over the world. Artikel ini merupakan kajian literatur mengenai komunitas virtual dari fenomena, teori hingga aplikasi metode dan peluang serta tantangan penelitian. Internet meniadakan kendala ruang dan waktu dan memungkinkan keterhubungan individu dari berbagai lokasi dan lintas identitas. Menggunakan pemikiran sosiologi tentang gemeinschaft dan gesselschaft untuk menjelaskan keberadaan komunitas di era internet yang disebut dengan komunitas virtual, kajian literatur ini berusaha untuk menerapkannya dalam kajian ilmu komunikasi. Berbagai kajian mengenai komunitas virtual muncul dikarenakan salah satunya perkembangan media sosial yang memungkinkan individu yang tersebar secara fisik berinteraksi di dunia maya.
Message of Nationalism in the Music Video 'Wonderland Indonesia' Teguh Dwi Putranto; Daniel Susilo
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v10i2.3520

Abstract

Film is a communication medium that includes audio-visual types that are used to convey messages to a group of people watching. In addition to films, music videos which are also a medium of communication also convey messages in an audio visual work. One of the trending music videos during the celebration of the 76th Anniversary of the Republic of Indonesia (HUT RI) in 2021 is "Wonderland Indonesia". Through “Wonderland Indonesia” the landscape of Indonesia and the diversity of Indonesian culture is shown with epic cinematography. This study aims to determine how the message of nationalism in the music video "Wonderland Indonesia". The method used in this research is Charles Sanders Peirce's semiotics of the music video "Wonderland Indonesia" on Alffy Rev's YouTube Channel. The conclusion of this study is that the message of nationalism in the music video "Wonderland Indonesia" is so that the Indonesian people have a sense of devotion for Indonesia, have courage in defending Indonesia, self-determination so as not to be shaken, purity of heart, and have an unyielding spirit and a spirit that never goes out.Film merupakan media komunikasi yang termasuk jenis audio visual yang dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan kepada sekelompok orang yang menyaksikan. Selain film, music video yang juga merupakan media komunikasi turut menyampaikan pesan dalam sebuah karya audio visual. Salah satu music video yang sedang trending selama perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-76 pada tahun 2021 ini adalah “Wonderland Indonesia”. Melalui “Wonderland Indonesia” pemandangan Indonesia dan keragaman budaya Indonesia ditampilkan dengan sinematografi yang epik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pesan nasionalisme dalam music video “Wonderland Indonesia”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika Charles Sanders Peirce terhadap music video “Wonderland Indonesia” pada YouTube Channel Alffy Rev. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pesan nasionalisme dalam music video “Wonderland Indonesia” agar masyarakat Indonesia memiliki rasa bakti bagi Indonesia, memiliki keberanian dalam membela Indonesia, ketegaran diri agar tidak tergoyahkan, kesucian hati, serta memiliki semangat pantang menyerah dan semangat yang tidak pernah padam.
Religiotainment: Tinjauan Semiotika dan Literasi Media Terhadap Animasi Nussa Anwar Kurniawan
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v10i2.3523

Abstract

This article discusses the religiotainment in Indonesia by the animation 'Nussa' which firmly adopts Islamic values and symbols in the midst of secular cartoons domination. Using new media platforms such as Youtube and TV, Nussa is here to accommodate the urban middle-class Muslim market. Two questions posed in this article are: how do new media create the possibility of representation of Islam? The author finds that the democratization of the media has encouraged people to voice out what was previously suppressed and even repressed under the Suharto's militaristic power, including the voices of Islam. On the other hand, the diversity of Islam itself causes the process of Islamization more dynamic. Nussa is one of many agents that enliven the contestation since the process of Islamization in Indonesia is in fact not controlled by any party. As a consequence, Nussa is not only received rave reviews from some Muslims, but also received unwelcome accusations from other Muslims at the same time.Artikel ini mendiskusikan tentang fenomena religiotainment di Indonesia lewat animasi Nussa yang secara tegas mengadopsi nilai-tanda dan nilai-simbol keislaman di tengah dominasi kartun sekuler. Menggunakan platform media baru seperti Youtube dan TV, animasi Nussa hadir untuk memenuhi kebutuhan pasar umat Muslim kelas menengah urban. Dua pertanyaan yang diajukan dalam artikel ini adalah: bagaimana media baru membuka kemungkinan representasi Islam? Dan, representasi Islam seperti apa yang dibawa animasi Nussa? Penulis menemukan bahwa demokratisasi media telah mendorong hadirnya suara-suara yang di masa sebelumnya ditekan dan bahkan direpresi oleh kekuasaan militeristik Soeharto. Islam adalah salah satunya. Di lain pihak, aspek keberagaman Islam itu sendiri menjadikan proses islamisasi lebih dinamis. Nussa hanyalah salah satu agen yang meramaikan kontestasi tersebut karena pada kenyataannya tidak ada satu pihak pun yang mengendalikan proses islamisasi di Indonesia. Sebagai konsekuensi, animasi Nussa tidak saja mendapat sambutan yang hangat dari sebagian umat Muslim, tetapi juga menerima tuduhan yang kurang menggembirakan dari umat Muslim lainnya. 
Melampaui ‘Literasi Digital’: Kelindan Teknokapitalisme, Ideologi Media, dan Hiperhermeneutika Pradipa P. Rasidi
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v10i2.3525

Abstract

Digital literacy is often proposed as a way to combat misinformation. However, the conception emphasizes individual competency. This conception is rooted in liberal assumption that places individual ethos as a public moral guardian. Left unanswered is the action taken by individuals itself and its meaning for them: what does it mean to spread misinformation? In the context of political misinformation, the inquiry goes further: what does it mean to engage in politics? To answer these questions, this paper attempts to move beyond digital literacy argument by investigating misinformation during Jakarta 2017 Election. Based on practice theory and theory on Indonesian politics, it focuses on the architectural configuration of the digital platform in which misinformation is spread, as well as the political culture that shapes such action. This paper attempts to refute the claims that misinformation is tied to religious populism and is inherently amplified by technological configuration. Ethnographic research with Twitter users informs this paper: participation-observation in six months conducted both online and offline. In-depth and informal interviews were also conducted. The research explores an urban middle class experience arguing against religious populism and are supporters of the then candidate Basuki T. Purnama (Ahok). This paper found that misinformation is spread by digitally literate people exactly to organize the muddle in Indonesian politics. Literasi digital kerap diajukan sebagai cara melawan misinformasi. Konsepsi literasi digital, meski begitu, menitikberatkan kompetensi individu dalam menyikapi informasi. Konsepsi ini berangkat dari asumsi liberal yang menempatkan etos individu sebagai penjaga moral publik. Namun menyoal tindakan individu itu sendiri dan apa makna bagi pelakunya kerap diabaikan: apa artinya saat membagikan misinformasi? Dalam konteks misinformasi politik, pertanyaannya berlanjut: apa artinya terlibat dengan politik? Berangkat dari pertanyaan tersebut, tulisan ini berusaha melampaui argumentasi literasi digital dengan mendedah misinformasi saat Pilkada Jakarta 2017. Berlandaskan teori tindakan dan politik Indonesia, perhatian dipusatkan pada konfigurasi arsitektur platform digital tempat sebaran misinformasi, serta budaya politik yang merupa penyebaran misinformasi. Tulisan ini berusaha membantah argumen yang menyatakan bahwa misinformasi lekat dengan populisme agama dan konfigurasi teknologi platform secara inheren mengamplifikasi populisme agama tersebut. Penelitian yang mendasari tulisan ini dilakukan dengan etnografi pengguna Twitter: partisipasi-observasi enam bulan di ranah online dan offline dengan selebritas mikro. Wawancara mendalam dan informal juga dilakukan dengan pengguna Twitter lain. Pengalaman yang digali adalah pengalaman kelas menengah urban yang menentang populisme agama dan merupakan pemilih calon gubernur Basuki T. Purnama (Ahok). Tulisan ini menemukan bahwa misinformasi dilakukan oleh kalangan cakap literasi digital justru sebagai cara menata keburaman politik Indonesia.
Fenomena Pengalaman Perempuan dalam Menggunakan Feminist Mobile Dating App Bumble Ryan Haryadi; Benedictus Arnold Simangunsong
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3589

Abstract

Mobile dating app Bumble telah dikenal sebagai ‘Tinder versi feminis’ karena memungkinkan perempuan untuk mengontrol penuh aktivitas percakapan mereka. Bumble juga dipandang sebagai lanskap teknologi baru, dimana perempuan dapat melakukan aktivitas kencan secara online melalui proses menginisiasikan percakapan, mengeksplorasi relasional yang beragam, hingga hasrat seksual. Penelitian ini menggunakan paradigma Kristis dengan metode fenomenologi dan dalam memperoleh data menggunakan wawancara tidak terstruktur terhadap 43 informan pengguna perempuan Jabodetabek, untuk menjawab pengalaman-pengalaman apa saja yang mereka temui selama menggunakan Bumble. Hasil dari penelitian menemukan bahwa fitur Bumble yang terkesan memberdayakan perempuan ini membuat perempuan dapat bernegosiasi dan berpartisipasi dalam menciptakan sebuah hubungan impian, meskipun dianggap melawan norma gender tradisional yang melekat di masyarakat. Dimulai dari hubungan yang paling banyak dan paling mudah ditemukan seperti hubungan pertemanan, hingga hubungan yang membutuhkan usaha lebih untuk menemukannya, seperti pacar atau suami, serta kejadian-kejadian lain yang mereka alami selama menggunakan mobile dating app Bumble, dari yang menyenangkan, hingga meninggalkan kekecewaan.

Page 11 of 19 | Total Record : 188