cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6231 5678478
Journal Mail Official
nangkris@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya - 60265
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
ISSN : 23016558     EISSN : 25976699     DOI : https://doi.org/10.33508/jk
Komunikatif is issued by Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya since 2012. Komunikatif is a peer-reviewed journal. Komunikatif publishes an article from selected topics in communication studies; those are media studies, public relations, and human communication. Articles issued by Komunikatif are conceptual articles and research articles. Komunikatif aims at publishing research and scientific thinking regarding the development of communication studies and contemporary social phenomena. Komunikatif also wishes to become an eligible reference for students and/or academia, especially in the communication field. Komunikatif is issued twice a year (July and December). Komunikatif clarifies ethical behavior for all parties involved, including authors, editor-in-chief, Editorial Board, reviewers, and publisher. Komunikatif provides free access for the online version to support knowledge exchange globally.
Articles 188 Documents
Penyerangan Mabes Polri Dalam Bingkai Media (Analisis Framing Tribunnews.com dan Republika.co.id) Pratiwi Purna Nugraha
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3721

Abstract

Pemberitaan peristiwa penyerangan Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri) di media online menimbulkan komentar kontroversi dikalangan pengamat terorisme. Hal ini berkaitan dengan adanya penonjolan isu yang dikonstruksikan oleh media terkait pelekatan label “teroris” terhadap pelaku penyerangan Zakiah Aini. Beberapa pengamat mengatakan bahwa tindakan penyerangan merupakan aksi terorisme, namun ada pula pengamat yang berkomentar agar penyerangan tersebut tidak terlalu cepat dispekulasikan kearah tindakan terorisme. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan framing analisis model Robert N. Entman pada media online Tribunnews.com dan Republika.co.id yang memberitakan peristiwa penyerangan mabes polri oleh Zakiah Aini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frame yang dibangun oleh kedua media online tersebut sangat berbeda. Frame yang dibangun oleh Tribunnews.com adalah terorisme stigmatik ideology yakni aksi tersebut dilakukan karena adanya ideologi dengan dalih jihad, sedangkan Republika.co.id mengarah kepada insiden penembakan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa ideologi yang dibawa oleh setiap media berkontribusi terhadap konstruksi berita. 
Dialog Antar Budaya: Interpretasi Video Musik Wonderland Indonesia Firdaus Noor; Della Bagusnur Hidayah
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3728

Abstract

August 17, 2021, coinciding with the 76th Independence Day of the Republic of Indonesia, a music video with a duration of 08 minutes 15 seconds appeared on the Alffy Rev’s Youtube channel, which managed to top trending number 1 on Youtube. Wonderland Indonesia, which is used as the material object of this research, is a collaborative work that compiles nine folk songs and one national anthem mixed with Electronic Music Dance elements. This study examines the dialectic of the combination of technology, communications, and culture until an intercultural dialogue is finally found that offers an encounter with local cultures. The music video in this object study is visually used as a cultural code, including myths displayed in the form of a music video arrangement that imagines the wonders of Indonesia. The methodology in this study uses a descriptive qualitative approach which includes the interpretation meaning of the presence of images, music, and lyrics in the Wonderland Indonesia music video. This study found that the elements of motion and sound in Alffy Rev’s Wonderland Indonesia music video can play a role in presenting a cultural code that communicates with local cultural identity to the global realm. Likewise, it also offers intercultural dialogue for creating music videos in the Revolutionary era of 4.0. 17 Agustus 2021, bertepatan dengan hari raya kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 muncul video musik berdurasi 08 menit 15 detik di kanal Youtube Alffy Rev yang berhasil memuncaki trending nomor 1 di Youtube. Wonderland Indonesia yang dijadikan objek material dalam penelitian ini merupakan sebuah karya kolaboratif yang mengkompilasikan sembilan lagu daerah dan satu lagu nasional, dan diramu dengan elemen musik Electronic Music Dance. Kajian ini bertujuan menelaah dialektika perpaduan antara teknologi, komunikasi, dan budaya, hingga akhirnya ditemukan dialog antarbudaya yang menawarkan perjumpaan budaya lokal. Video musik dalam objek material kajian ini dijadikan kode kultural secara visual mencakup mitos yang ditampilkan dalam wujud sebuah tatanan musik video yang membayangkan keajaiban Indonesia. Dengan memakai pendekatan kualitatif deskriptif yang mencakup interpretasi makna dari kehadiran gambar, musik, dan lirik dalam video musik wonderland Indonesia. Hasil penelitian ini bahwa elemen-elemen gerak dan bunyi dalam video musik Wonderland Indonesia karya Alffy Rev dapat dapat berperan menghadirkan kode kultural yang mengkomunikasikan identitas kultural lokal ke ranah global, selain juga menawarkan dialog antarbudaya bagi penciptaan karya video musik di era Revolusi 4.0.
Pengalaman Komunikasi Kesehatan pada Anak Didik Pemasyarakatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Syaza Yasmin
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3747

Abstract

Setiap anak dan remaja berhak untuk menjalani masa pertumbuhan yang baik dan sehat. Hal ini termasuk pada Anak Didik Pemasyarakatan (Andikpas) yang berada dalam Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). “Andikpas” adalah istilah khusus yang diberikan kepada remaja yang melakukan tindak kriminal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengalaman “Andikpas” dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, motif serta pemaknaan terhadap pelayanan kesehatan yang ada di LPKA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode fenomenologi dengan teknik pengumpulan data wawancara pada empat orang “Andikpas”. Hasil penelitian diketahui bahwa adanya “Andikpas” yang melapor kepada petugas dan teman jika mengalami sakit. Namun adanya “Andikpas” yang menahan diri untuk tidak menyampaikan rasa sakit. “Andikpas” tersebut berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit dan kendala yang dihadapi. Motif yang mendorong “Andikpas” untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yakni motif kesembuhan diri yang termasuk dalam in order to motives dan motif kepatuhan yang berkaitan dengan because motives. “Andikpas” memaknai pelayanan kesehatan sebagai suatu sarana yang diberikan LPKA dengan tujuan agar “Andikpas” dapat menjalani aktivitas pembinaan dengan baik.
Kim Seon Ho, You Are Cancelled: The Collective Understanding of Cancel Culture Cendera Rizky Bangun; Nareswari Kumaralalita
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3785

Abstract

On October 2021, Kim Seon Ho was on peak of his career when faced a wave of backlash after an anonymous post circulated in online communities saying that an unnamed actor “manipulated her into getting an abortion under false pretenses” and being cancelled. Researchers will use a case study of a Kim Seon Ho from South Korea who has been subjected to cancel culture in order to examine the complexity of this social phenomenon. This research tries to understand the cancel culture phenomenon that is not only happened in South Korea, but also USA, or other countries. Using FGD and also literature for data collection, this study explores how the responses from the participants’ expected to give meaning about regarding cancel culture. The result is some of participants agree with the cancel culture to be implemented, and some of them disagree. The conclusion is cancel culture can be a good thing when we want to make those who can be role model are those with positive attitudes. But on the other hand, cancel culture can be a bad thing when we place celebrity as a material commodity and get cancelled easily.
Krisis Otonomi Media Lokal: Analisis Model Propaganda Herman-Chomsky pada Harian Victory News dalam Kontestasi Pemilihan Gubernur NTT 2018 Merlina Maria Barbara Apul
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3799

Abstract

This work is intended to answer how the consequences of media ownership by local elites on the production and construction of discourses of dominant-marginal figures of candidate pairs in the news on the 2018 NTT Governor Election in the Local Newspaper Victory News edition of February – June 2018. With these research questions, this research adopts a critical political economy perspective, instrumental approaches, and critical discourse analysis. The findings show that the different access of the elite to the media is responsible for producing different access to the structure of news reports. This access generates the following five filters 1.) Victory News as an instrument for adding Viktor Laiskodat's hand; 2.) Advertising as a source of income; 3.) Elite as the main news source; 4.) Criticism as a means of disciplining the media and 5.) Pancasila as the ideology of the Republic of Indonesia as a media control mechanism. Meanwhile, from the text level, four main findings can be drawn, namely 1.) Victory News has a minimum critical attitude; 2.) Reliance on elites as news sources; 3.) How and why to become a marginal element in the news Victory News; and 4.) The dominant words of hyperbole when describing the figure of the candidate pair Victory-Joss.
Ahok dalam Internet Meme (Analisis Semiotika Penggambaran Ahok sebagai Pemimpin dalam Internet Meme) Brigitta Revia Sandy Fista
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3824

Abstract

Sosok Ahok banyak digambarkan dalam beragam media komunikasi baik media konvensional maupun media modern berbasis digital seperti meme di internet yang tersebar luas dalam masyarakat. Meme sendiri sebagai media komunikasi yang dikreasikan oleh individu bersifat sangat anonim, banyak digunakan oleh para pengguna internet, khususnya pengguna media sosial. Munculnya meme sebagai media pesan di berbagai media sosial kian menambah bahan bagi para netizen (internet citizen) – sebutan untuk para pengguna internet –yang kreatif untuk menciptakan pesan-pesan sosialnya. Dalam beberapa kasus, meme seringkali digunakan untu mengkomunikasikan pesan khusus dengan konsep humor atau sindiran. Penyajian konten tentang Ahok pun beragam, mulai dari sekedar sindiran tidak penting sampai problematika politik pun menjadi kajian meme. Dikemas dalam kajian konten yang sangat beragam dan tak terhitung jumlahnya, karakter Ahok yang kerap dikatakan kasar dan tak tahu sopan santun. Penelitian ini kemudian berfokus pada penggambaran Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta dalam internet meme. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis semiotika C.S.Peirce. Didapatkan hasil bahwa Penggambaran Ahok sebagai pemimpin dalam internet meme adalah sang pemimpin yang terbiasa bertutur kasar tanpa tata karma, Ahok sebagai pemimpin yang sukar menghargai perasaan orang lain, bahkan Ahok pemimpin Tionghoa dan Kristen yang tak cukup pantas memimpin, masih menempel pada makna tanda di beberbapa internet meme yang telah dianalisis. Namun disisi lain, pada kumpulan teks di internet meme lainnya, Ahok digambarkan sebagai sosok yang berani, berkharisma, bertekad kuat, jujur, dan pantang mundur. Bahkan Ahok ditampilkan sebagai pemimpin yang sempat dirindukan karena prestasi kinerja dan keberhasilannya dalam memimpin.
Pengaruh Gamification Terhadap Brand Engagement dengan E-satisfaction sebagai Variabel Mediator Stella Setiawan; Dorien Kartikawangi
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3866

Abstract

Seiring berkembangnya teknologi, pengimplementasian gamification, yaitu membawa elemen permainan dalam berbagai bidang sudah banyak dilakukan, termasuk dalam e-commerce atau perdagangan elektronik. Pengimplementasian gamification dilakukan dengan berbagai tujuan, seperti membuat konsumen terlibat secara aktif dengan suatu brand. Penelitian ini dilakukan pada implementasi gamification Shopee Tanam dalam aplikasi Shopee Indonesia untuk melihat apakah terdapat pengaruh gamification terhadap brand engagement. Konsep yang digunakan adalah gamification dengan dimensi entertainment, interaction, dan novelty; e-satisfaction terkait convenience, customisation, information, dan communication; dan brand engagement yang mencakup emosi, kognitif, dan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan memperoleh data melalui survei. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa implementasi gamification Shopee Tanam dapat mempengaruhi brand engagement Shopee secara langsung tanpa dimediasi oleh e-satisfaction terhadap Shopee Tanam. Namun, dengan dimediasi oleh e-satisfaction, implementasi gamification Shopee Tanam memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap brand engagement.
The Relationship Between Mother’s Safety Competency and The Risk Perception in Sharenting Activities Birgitta Bestari Puspita; Paulus A Edvra
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i2.4080

Abstract

Social media has attracted many groups of society to use it for various goals. Some parents use it as digital gallery for their children’s photographs, which is now becomes common digital activity in Instagram. In the midst of Instagram popularity, there is risk, lurks children’s safety. The risk includes misuse of children’s images or even kidnapping threat. The activity of sharing online information about children by parents is known as ‘sharenting’, which is mostly practiced by mothers. By practicing ‘sharenting’, they might violate children’s privacy rights. To avoid this, parents' digital literacy skill is needed. Parents’ digital literacy may affect their skill in using digital media, including safety competency. Thus, this research aims to measure the relationship between mother’s safety competencies and risk perception of children’s privacy in ‘sharenting’ activities. The method for this research is web survey, using questionnaire to collect the data from 385 mothers who have children under 13 years old, in accordance with Instagram’s age restriction policy, who live in East Java. The results show that the safety competency factor only correlates 14.4% with the mothers' risk perceptions of children's privacy. Another factor of 85.6% is not seen in this study. The weak relation between mothers’ safety competency and their risk perception of child’s privacy in this research shows that there are many other factors that can be explored in the future research.ABSTRAK Media sosial menarik banyak kalangan masyarakat untuk menggunakannya dengan berbagai tujuan. Beberapa orang tua menggunakannya sebagai galeri digital untuk foto anak-anak mereka, yang sekarang menjadi aktivitas digital yang umum di Instagram. Di tengah popularitas Instagram, terdapat risiko yang mengintai keselamatan anak-anak. Risiko tersebut termasuk penyalahgunaan gambar anak-anak atau bahkan ancaman penculikan. Kegiatan berbagi informasi daring tentang anak oleh orang tua dikenal dengan istilah ‘sharenting’, yang paling banyak dilakukan oleh para ibu. Dengan mempraktikkan 'sharenting', mereka mungkin melanggar hak privasi anak-anak. Untuk menghindari hal tersebut, orang tua perlu memiliki keterampilan literasi digital. Literasi digital orang tua dapat memengaruhi keterampilan mereka dalam menggunakan media digital, termasuk kompetensi keamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan antara kompetensi keamanan ibu dan persepsi risiko atas privasi anak dalam kegiatan 'sharnting'. Metode penelitian yang digunakan adalah survei web, dengan menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data dari 385 ibu yang memiliki anak di bawah 13 tahun, sesuai dengan kebijakan pembatasan usia Instagram, yang tinggal di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kompetensi keamanan hanya berkorelasi 14,4% dengan persepsi risiko ibu terhadap privasi anak. Faktor lain sebesar 85,6% tidak terlihat dalam penelitian ini. Lemahnya hubungan antara kompetensi keselamatan ibu dan persepsi risiko mereka terhadap privasi anak dalam penelitian ini menunjukkan bahwa masih banyak faktor lain yang dapat dieksplorasi dalam penelitian selanjutnya. 
Jurnalisme Imersif dan Partisipasi Publik dalam Industri Media Clara Ariski Paramitha
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i2.4119

Abstract

This article aims to introduce the concept of immersive journalism as a new genre in digital journalism. Hierarchy of influence is used to understand the condition of immersive journalism in the media industry. This article describes the condition of digital journalism in Indonesia and the concept of immersive journalism using the literature review method. The results of the analysis show that the production, distribution, and consumption processes of news are influenced by internal and external media organizations. The public participation opportunity that has been created in digital journalism has the potential to sustain in immersive journalism. The audience can actively participate and have control over narrative construction. A series of challenges in the development of immersive journalism that have been identified include business potential, adaptation of supporting tools, narrative creation, and vulnerability to manipulation. The dilemmatic problems faced by media industry players will be even more complex if they apply immersive journalism: redefining with the audience the limits of participation, narrative framing, objectivity, and sensitive content.ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep jurnalisme imersif sebagai genre baru dalam jurnalisme digital. Teori hierarki pengaruh digunakan untuk memahami kondisi jurnalisme imersif dalam industri media. Tulisan ini memaparkan kondisi jurnalisme digital di Indonesia dan konsep jurnalisme imersif dengan menggunakan metode kajian literatur. Hasil analisis menunjukkan proses produksi, distribusi, hingga konsumsi berita dipengaruhi oleh internal dan eksternal organisasi media. Ruang partisipasi publik yang telah terbentuk dalam jurnalisme digital, memiliki potensi keberlanjutan dalam jurnalisme imersif ketika khalayak dapat berpartisipasi aktif dan memiliki kendali terhadap konstruksi narasi. Serangkaian tantangan dalam prengembangan jurnalisme imersif yang telah diidentifikasi antara lain potensi bisnis, adaptasi piranti penunjang, pembuatan narasi, dan kerentanan manipulasi. Permasalahan dilematis yang dihadapi pelaku industri media akan semakin kompleks jika menerapkan jurnalisme imersif: merumuskan kembali bersama khalayaknya batasan partisipasi, pembingkaian narasi, objektivitas, serta konten sensitif.
Peran Media Lokal dalam Pencegahan Radikalisme Guna Mendukung Kerukunan Beragama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Lestari Nurhajati; Xenia Angelica Wijayanto; Lamria Raya Fitriyani
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i2.4121

Abstract

Radicalism and terrorism are still common in Indonesia, so all parties have a common obligation to carry out prevention and countermeasures. Even the Press Council issued Press Council Regulation Number 01/Peraturan-DP/IV/2015 concerning Guidelines for Reporting on Terrorism on April 9, 2015. However, it is really not easy for the mass media to report and report on this issue in various situations and interests in Indonesia. Likewise for local media in East Nusa Tenggara (NTT). This study aims to find out how the role of local journalists in NTT is to perform their functions in preventing radicalism and supporting religious harmony in NTT Province. What obstacles they face in the field, as well as what kind of news construction they have to do in carrying out their duties. Mass media, terrorism and radicalism are theories that continue to develop in line with how the discourse of radicalism is inseparable from the role of mass media coverage in encouraging or inhibiting radicalization and existing acts of violence. The position of the media, both at the local, national and global levels, becomes very important in carrying out counter narration when there are efforts by parties who want to promote the idea of radicalism and terrorism in a region. This research will use the FGD method on 10 journalists from local media in NTT, as an effort to dig deeper into the real conditions in the field. However, nowadays with the strengthening of transnational radical groups, they are trying to do various ways to divide Indonesia, and it is very likely that it will be present in NTT as one of the heart of the province which has been considered very ideal in maintaining religious harmony.ABSTRAK Radikalisme  dan terorisme masih sering terjadi di Indonesia, sehingga semua pihak memiliki kewajiban bersama untuk melakukan pencegahan dan penanggulangannya.  Bahkan  Dewan Pers mengeluarkan Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/IV/2015 tentang Pedoman Pemberitaan Terorisme pada 9 April 2015. Meski demikian sungguh tidak mudah untuk media massa melakukan peliputan dan pemberitaan isu ini dalam berbagai situasi dan kepentingan yang ada di Indonesia. Demikian juga bagi media-media lokal yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya peran jurnalis lokal di NTT untuk melakukan fungsinya dalam mencegah radikalisme dan mendukung kerukunan beragama di Provinsi NTT. Kendala apa saja yang mereka hadapi di lapangan, serta konstruksi pemberitaan seperti apa yang mereka harus lakukan dalam menjalankan tugasnya.  Media massa, terorisme  dan radikalisme menjadi teori yang terus berkembang sejalan dengan bagaimana wacana radikalisme  tidak terlepas dari peran liputan media massa dalam mendorong atau menghambat radikalisasi dan tindakan kekerasan yang ada. Posisi media baik di tingkat lokal, nasional maupun global, menjadi sangat penting dalam melakukan narasi balasan (counter narration) ketika ada upaya pihak-pihak yang ingin mempromosikan gagasan radikalisme dan terorisme di sebuah wilayah. Riset ini akan menggunakan metode FGD pada 10 jurnalis dari media-media lokal yang ada di NTT, sebagai upaya menggali lebih dalam kondisi riil yang ada di lapangan. Bagaimanapun juga saat ini dengan makin menguatnya kelompok radikal yang bersifat transnasional, mereka berupaya melakukan berbagai cara untuk memecah belah Indonesia, dan sangat mungkin akan hadir di NTT sebagai salah satu jantung provinsi yang selama ini dianggap sangat ideal dalam menjaga kerukunan umat beragama.