cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6231 5678478
Journal Mail Official
nangkris@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya - 60265
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
ISSN : 23016558     EISSN : 25976699     DOI : https://doi.org/10.33508/jk
Komunikatif is issued by Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya since 2012. Komunikatif is a peer-reviewed journal. Komunikatif publishes an article from selected topics in communication studies; those are media studies, public relations, and human communication. Articles issued by Komunikatif are conceptual articles and research articles. Komunikatif aims at publishing research and scientific thinking regarding the development of communication studies and contemporary social phenomena. Komunikatif also wishes to become an eligible reference for students and/or academia, especially in the communication field. Komunikatif is issued twice a year (July and December). Komunikatif clarifies ethical behavior for all parties involved, including authors, editor-in-chief, Editorial Board, reviewers, and publisher. Komunikatif provides free access for the online version to support knowledge exchange globally.
Articles 188 Documents
Kritik Sosial Netizen terhadap Identitas LGBTQ+ dalam Ruang Digital: Studi Kasus @awbimax Rosita Kumala Dewi; Mutia Rahmi Pratiwi
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The development of social media has given rise to the phenomenon of netizen power as a new force in shaping public opinion in the digital space . In Indonesia, social media not only functions as a means of social criticism but also as an arena for negotiating identity, moral values, and symbolic power. This study aims to analyze the shift in the discourse of netizen criticism toward public figures on the TikTok account @awbimax, from support for social criticism of public services to identity-based rejection following self-disclosure related to sexual orientation. This study employs a qualitative approach using netnography, with data consisting of publicly available content and comments from netizens on the TikTok account @awbimax during the period of April–May 2025. Analysis was conducted by interpreting interaction patterns, language choices, and dominant narratives of netizens using the Negative Electronic Word of Mouth (Negative e-WoM) and Spiral of Silence theoretical frameworks. The results of the study show a significant shift in netizen discourse, from collective solidarity based on public interest to moral judgment of the personal identity of public figures. Negative comments spread massively and were legitimized by majority values, while voices of support weakened and tended to remain silent. These findings confirm that Indonesia's digital space is not yet completely safe for the expression of minority identities, and show how netizen power can transform from a tool for social criticism into a mechanism for exclusive social control. ABSTRAK Perkembangan media sosial telah melahirkan fenomena netizen power sebagai kekuatan baru dalam pembentukan opini publik di ruang digital. Di Indonesia, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana kritik sosial, tetapi juga menjadi arena negosiasi identitas, nilai moral, dan kekuasaan simbolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran wacana kritik netizen terhadap figur publik pada akun TikTok @awbimax, dari dukungan terhadap kritik sosial pelayanan publik menuju penolakan berbasis identitas personal setelah terjadinya self-disclosure terkait orientasi seksual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi, dengan data berupa konten dan komentar netizen yang tersedia secara publik pada akun TikTok @awbimax selama periode Mei – Juni 2025. Analisis dilakukan dengan menafsirkan pola interaksi, pilihan bahasa, serta narasi dominan netizen menggunakan kerangka teori Negative Electronic Word of Mouth (Negative e-WoM) dan Spiral of Silence. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran signifikan wacana netizen, dari solidaritas kolektif berbasis kepentingan publik menjadi penghakiman moral terhadap identitas personal figur publik. Komentar negatif menyebar secara masif dan terlegitimasi oleh nilai mayoritas, sementara suara dukungan mengalami pelemahan dan kecenderungan untuk diam. Temuan ini menegaskan bahwa ruang digital Indonesia belum sepenuhnya aman bagi ekspresi identitas minoritas, serta memperlihatkan bagaimana netizen power dapat bertransformasi dari alat kritik sosial menjadi mekanisme kontrol sosial yang eksklusif.  
Praktik Komunikasi Politik Calon Legislatif & Anggota Legislatif Perempuan di Wilayah Jawa Timur Serta Implikasinya bagi Representasi Gender Suprihatin; Wulandari, Anita Agustina; Sari, Ratna Puspita; Oktarina, Riesta Ayu; Amalia, Dwi Ananda
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The affirmative action policy mandating a 30% quota for women in legislative candidacy is stipulated in the Indonesian General Election Law (Law No. 7 of 2017). Nevertheless, women’s representation in both national and regional parliaments has yet to reach the intended target. This study aims to explore the underlying reasons for the unmet 30% quota by examining the political communication strategies employed by female legislators in East Java and assessing the extent to which these strategies influence their electability and representation. Using a qualitative–exploratory approach, data were collected through in-depth interviews with female legislative candidates who previously contested but were unsuccessful, as well as with currently serving female legislators. The data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The findings indicate that the failure to achieve the 30% quota is not due to the absence of effective political communication strategies among female candidates. In fact, the informants employed a range of strategies, including grassroots engagement, the use of social media, and the mobilization of community networks. However, structural barriers within political parties, patriarchal cultural norms, the dominance of male candidates, and internal party hierarchies significantly constrained women’s chances of being elected. Additionally, political capital—particularly access to financial resources and advantageous ballot placement—played a decisive role in electoral outcomes, often outweighing the impact of communication strategies. The study concludes that beyond the need for more targeted political communication strategies tailored to specific constituencies, broader institutional reforms, enhanced public political education (political literacy), and a more equitable party system are essential to strengthening women’s political representation. ABSTRAK Kebijakan afirmasi yang mewajibkan kuota 30% untuk perempuan dalam pencalonan legislatif telah disuratkan dalam Undang-Undang Pemilihan Umum Nomor 7 Tahun 2017. Namun demikian representasi perempuan di parlemen nasional dan regional tetap belum berhasil mencapai target. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi mengapa kuota afirmasi 30% belum terpenuhi, dengan berfokus pada strategi komunikasi politik yang digunakan oleh anggota legislatif perempuan di Jawa Timur, dan sejauh mana strategi tersebut mempengaruhi elektabilitas dan representasi mereka? Dengan pendekatan kualitatif-eksploratif, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam pada calon legislatif yang sudah maju namun gagal terpilih dan anggota legislatif perempuan yang saat ini aktif menjabat. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Temuan menunjukkan bahwa kegagalan mencapai kuota 30% bukan disebabkan oleh kurangnya strategi komunikasi politik yang efektif dari calon perempuan. Faktanya, narasumber menggunakan strategi yang beragam, termasuk keterlibatan akar rumput, pemanfaatan media sosial, dan jaringan komunitas. Namun, hambatan struktural dalam partai politik, norma budaya patriarki, dominasi calon laki-laki, dan hierarki internal partai secara signifikan menghambat peluang perempuan untuk terpilih. Selain itu, modal politik, termasuk akses ke sumber daya keuangan dan nomor urut dalam pemilihan yang menguntungkan, memainkan peran yang menentukan hasil pemilihan—hal ini seringkali melebihi efektivitas komunikasi. Hasil dari penelitian menemukan bahwa adanya kebutuhan strategi komunikasi politik yang lebih tepat, juga kebutuhan akan reformasi institusional, peningkatan pendidikan politik publik (literasi politik), dan sistem partai yang lebih adil untuk mendukung representasi politik perempuan yang lebih baik.
Komunikasi Transendental Usif Boti dalam Ritual Halaika dan Pembentukan Harmoni Komunitas Andung, Petrus Ana; Nope, Hotlif Arkilaus; Doko, Meryana Micselen
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The Boti Dalam indigenous community in South Central Timor Regency, East Nusa Tenggara Province, continues to uphold the traditional Halaika belief system, which positions the Usif (king) Boti as both the spiritual leader and the guardian of social order. The study aims to explore the forms and meanings of the Usif Boti’s transcendental communication within Halaika rituals and to examine its contribution to maintaining social order and community harmony. The research adopts a constructivist paradigm with an ethnographic approach, and the data were collected through participant observation and in-depth interviews with the Boti King, community leaders, and members of the Boti Dalam community. The findings show that the Usif Boti’s transcendental communication is expressed through prayers and decrees addressed to Uis Neno (the sky deity) and Uis Pah (the earth deity) across various stages of life, particularly within the agricultural cycle. This form of communication is regarded as a sacred invocation that carries spiritual and moral legitimacy, and is therefore followed by all members of the Boti Dalam community. Through rituals such as onen (prayer), including the ninth-day observance (neon leuf) and the harvest thanksgiving (poi pah), the Usif Boti’s transcendental communication functions as a symbolic force that unites the community, sustains social order, and reinforces the value of fraternal love (lais manekat). The study concludes that the transcendental communication of the Usif Boti plays a central role as a symbolic instrument that supports social and economic harmony and order within the Boti Dalam community. ABSTRAK Masyarakat adat Boti Dalam di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, masih mempertahankan sistem kepercayaan tradisional Halaika yang menempatkan Usif (raja) Boti sebagai pemimpin spiritual sekaligus penjaga keteraturan sosial. Tujuan penelitian antara lain mengeksplorasi bentuk dan pemaknaan komunikasi transendental Usif Boti dalam ritual Halaika, serta menelaah kontribusinya dalam membangun keteraturan sosial dan harmoni komunitas. Paradigma penelitian yang digunakan adalah konstruktivistik dengan pendekatan etnografi, dan data dihimpun melalui observasi partisipan serta wawancara mendalam dengan Raja Boti, tokoh masyarakat, serta warga Boti Dalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa komunikasi transendental Usif Boti terwujud melalui doa dan titah yang dipersembahkan kepada Uis Neno (dewa langit) dan Uis Pah (dewa bumi) dalam berbagai tahapan kehidupan, khususnya dalam siklus pertanian. Komunikasi transendental Usif Boti dikonstruksi sebagai doa sakral yang mengandung legitimasi spiritual dan moral, sehingga ditaati oleh seluruh warga masyarakat Boti Dalam. Melalui ritual seperti onen (sembahyang) baik pada momentum hari kesembilan (neon leuf), maupun syukuran panen (poi pah), komunikasi transendental Usif Boti berfungsi sebagai simbol yang mengikat komunitas, menjaga keteraturan sosial, serta meneguhkan nilai kasih persaudaraan (lais manekat). Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi transendental Usif Boti memiliki peran sentral sebagai instrumen simbolik yang dapat menopang harmoni dan keteraturan sosial dan ekonomi dalam masyarakat Boti Dalam.
Oversharing dan Resiko Phishing: Tinjauan Perilaku Bermedia Sosial Mahasiswa di Salatiga Angga Prastiyo; Widodo, Tri; Avrilida, Era Zaher; Widyanti, Agnes
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The rapid growth of social media has transformed how individuals communicate and manage personal information, while also creating space for oversharing that is often carried out without a clear awareness of its risks. Oversharing opens opportunities for digital crimes such as phishing, especially when users, including university students, fail to manage their privacy boundaries properly. This study aims to analyze how students’ oversharing practices on social media increase their vulnerability to phishing by using Communication Privacy Management (CPM) theory as the main framework, particularly through the concepts of boundary rules, co-ownership, and boundary turbulence. This research adopts a descriptive qualitative approach with a constructivist paradigm and involves 40 informants from four universities in Salatiga. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The findings show that most students understand the idea of oversharing, yet they continue to engage in it for social recognition and self-expression. Many of them do not have clear boundary rules in deciding who can access their personal information and to what extent it can be shared, which leads them to unintentionally disclose sensitive data such as location, identity, and daily routines.Once personal information has been shared and becomes co-owned by others, weak coordination over how that information is used can trigger boundary turbulence, creating opportunities for data misuse in the form of phishing. Theoretically, this study reinforces the relevance of CPM in explaining students’ digital privacy management; practically, it underscores the importance of digital literacy and stronger privacy policies in higher education settings. ABSTRAK Perkembangan media sosial telah mengubah cara individu berkomunikasi dan mengelola informasi pribadi, sekaligus membuka ruang bagi fenomena oversharing yang sering kali tidak disadari risikonya. Oversharing menciptakan peluang bagi tindakan kriminal digital seperti phishing, terutama ketika batas privasi tidak dikelola dengan baik oleh pengguna, termasuk mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana praktik oversharing mahasiswa di media sosial meningkatkan kerentanan terhadap phishing dengan menggunakan teori Communication Privacy Management (CPM) sebagai kerangka utama, khususnya melalui konsep boundary rules, co-ownership, dan boundary turbulence. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme, melibatkan 40 informan dari empat perguruan tinggi di Kota Salatiga. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memahami konsep oversharing, tetapi tetap melakukannya demi pengakuan sosial dan ekspresi diri. Banyak dari mereka belum memiliki boundary rules yang jelas dalam menentukan siapa yang boleh mengakses informasi pribadi dan sejauh mana informasi tersebut dibagikan, sehingga secara tidak sadar mengungkapkan data sensitif seperti lokasi, identitas, dan kebiasaan sehari-hari. Ketika informasi pribadi telah dibagikan dan menjadi co-ownership dengan orang lain, lemahnya koordinasi penggunaan informasi memicu boundary turbulence yang membuka peluang penyalahgunaan data dalam bentuk phishing. Secara teoretis, penelitian ini menegaskan relevansi CPM dalam menjelaskan pengelolaan privasi digital mahasiswa serta secara praktis, menyoroti pentingnya literasi digital dan penguatan kebijakan privasi di lingkungan perguruan tinggi.
Analisis Resepsi Jurnalis Terkait Berita Pemidanaan Direktur JAKTV dengan Pasal Perintangan Penyidikan Suryawati, Indah
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT In early 2025, news broke that JAKTV News Director Tian Bahtiar was implicated in a crude palm oil corruption case, sparking public and journalistic debate. This study describes and analyzes journalists’ responses to his indictment under obstruction of justice, using Stuart Hall's Encoding-Decoding Theory. The theory suggests that media messages are encoded by producers and interpreted differently by audiences. Through qualitative reception analysis, the study identifies three audience positions: dominant hegemonic, negotiated, and oppositional. Results show that journalists responded in varied ways—some aligned with the Attorney General's narrative, some negotiated it with ethical considerations, and others rejected it. These differences are shaped by factors like journalistic background, experience, and ethical integrity. The study highlights the dynamic relationship between media, law, and journalistic ethics, stressing the need to strengthen journalistic independence in the face of ethical challenges. ABSTRAK Awal 2025, muncul kabar Direktur Pemberitaan JAKTV, Tian Bahtiar, terseret kasus korupsi CPO dan dijerat pasal perintangan penyidikan oleh Kejaksaan Agung. Isu ini ramai diperbincangkan, termasuk di kalangan jurnalis, menunjukkan kuatnya pengaruh pesan media terhadap wacana publik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis resepsi jurnalis terhadap pemberitaan tersebut, menggunakan teori Encoding-Decoding Stuart Hall. Dengan metode reception analysis dan pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa jurnalis merespons berita ini secara beragam: ada yang mengikuti narasi hukum, menegosiasikannya dengan etika jurnalistik, atau menolaknya. Perbedaan ini dipengaruhi latar belakang, pengalaman, posisi, dan integritas masing-masing. Hasil penelitian menegaskan bahwa hubungan media, hukum, dan etika jurnalistik bersifat dinamis, serta pentingnya menjaga independensi jurnalis di tengah berbagai tekanan.  
Deconstructing the narrative of power: a critical discourse analysis of Tempo.Co ‘Bagi-bagi konsesi tambang’ in youtube. Arzeti, Dinda Syakilla Dwi Putri; Elviria, Samia; Muhaimin, Muhaimin; Mairita, Desy; HM, Pahrudin; Maghfirah, Noor Khalida
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This study examining the convergence of textual strategies, newsroom politics, algorithmic infrastructures, and investigates how investigative journalism functions in platformized media environments. The study examines Tempo.co's Bocor Alus Politik episode "Bagi-Bagi Konsesi Tambang" on YouTube using Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) to learn how oppositional discourse is created, shared, and limited within a platform-driven ecosystem. In order to determine how investigative journalism manages the conflicts between democratic accountability and platform monetization logics, this study integrates algorithmic visibility, newsroom power dynamics, and digital news discourse—all of which were previously studied independently. The results show that Tempo deliberately uses linguistic framing, narrative sequencing, and visual cues to criticize elite networks related to the distribution of mining concessions in Indonesia. However, YouTube's recommendation system, which favors engagement-optimized content and has an impact on editorial choices, shapes these textual strategies. The study also demonstrates how the production and platforming of investigative pieces are heavily influenced by internal newsroom politics, including negotiations between editorial autonomy and commercial divisions. This study provides a cutting-edge framework that explains how investigative journalism becomes both a market-oriented adaptation to algorithmic economies and a form of political intervention by combining CDA with platform analysis and production studies. In addition to practical implications for media organizations trying to preserve critical independence while functioning within digital infrastructures that control visibility, revenue, and audience reception, the study provides theoretical insights into the hybrid nature of platformized watchdog journalism. ABSTRAK Dengan mengkaji konvergensi strategi tekstual, politik ruang redaksi, dan infrastruktur algoritmik, studi ini menyelidiki bagaimana jurnalisme investigasi berfungsi dalam lingkungan media berbasis platform. Studi ini mengkaji episode "Bagi-Bagi Konsesi Tambang" dari Tempo.co di YouTube menggunakan Analisis Wacana Kritis (CDA) Fairclough untuk mempelajari bagaimana wacana oposisional diciptakan, dibagikan, dan dibatasi dalam ekosistem berbasis platform. Untuk menentukan bagaimana jurnalisme investigasi mengelola konflik antara akuntabilitas demokratis dan logika monetisasi platform, studi ini mengintegrasikan visibilitas algoritmik, dinamika kekuatan ruang redaksi, dan wacana berita digital—yang semuanya telah dikaji secara independen sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tempo sengaja menggunakan pembingkaian linguistik, pengurutan naratif, dan isyarat visual untuk mengkritik jaringan elit terkait distribusi konsesi pertambangan di Indonesia. Namun, sistem rekomendasi YouTube, yang mengutamakan konten yang dioptimalkan untuk interaksi dan berdampak pada pilihan editorial, membentuk strategi tekstual ini. Studi ini juga menunjukkan bagaimana produksi dan platforming artikel investigasi sangat dipengaruhi oleh politik internal ruang redaksi, termasuk negosiasi antara otonomi editorial dan divisi komersial. Studi ini menyediakan kerangka kerja mutakhir yang menjelaskan bagaimana jurnalisme investigasi menjadi adaptasi berorientasi pasar terhadap ekonomi algoritmik sekaligus bentuk intervensi politik dengan menggabungkan CDA dengan analisis platform dan studi produksi. Selain implikasi praktis bagi organisasi media yang mencoba mempertahankan independensi kritis sambil berfungsi dalam infrastruktur digital yang mengendalikan visibilitas, pendapatan, dan penerimaan audiens, studi ini memberikan wawasan teoretis tentang sifat hibrida jurnalisme pengawas yang berbasis platform.
Seni Sebagai Media Komunikasi Pembangunan Partisipatif (Studi Kasus Rampak Genteng Jatiwangi) Dewi, Liza Dwi Ratna; Santoso, Prasetya Yoga; Liliweri, Aloysius
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT In 2012, the Majalengka Regency Government planned to develop the former Jatiwangi sugar factory into a commercial area. JAF, along with the Jatiwangi community, responded by holding the Rampak Genteng Festival in the area and making it a triennial event. Over the course of its existence, the festival has received various awards from the government, and the government has invited JAF to manage the area as a public space. This research aims to identify how art can be used as a medium for development communication. The analysis was conducted using Melkote and Steves' development communication theory. This research uses a constructivist interpretive paradigm and a single case study method. From the discussions conducted, it was identified that in the Rampak Genteng Festival, the form of dialogue on development messages about the community's anxiety and resistance to the massive land conversion that occurred in Jatiwangi was packaged in the form of the Jatiwangi Pledge. In the tug-of- war over the land use change of the former Jatiwangi sugar factory between the government-investors versus JAF- community, the JAF and the community asserted their territorial claims through song and dance. Dialogue and participation were demonstrated by the sound of rampak roof tiles played by all participants. Meanwhile, from the government side, giving awards, the presence and statements of appreciation by state officials are a way that feels more respectful and familiar to the community to show that the government hears and considers the aspirations of the community in the development of this area. ABSTRAK Pada tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Majalengka berencana melakukan pembangunan area bekas pabrik gula Jatiwangi sebagai wilayah komersial. Rencana pembangunan ini dilakukan tanpa melibatkan dialog dengan masyarakat. JAF bersama masyarakat Jatiwangi memberikan reaksi dengan menggelar Festival Rampak Genteng di area ini dan menjadikan sebagai kegiatan 3 tahunan. Dalam perjalanannya, festival ini mendapatkan berbagai penghargaan dan pengakuan dari pemerintah, dan pemerintah mengajak JAF, mewakili unsur masyarakat, untuk mengelola area ini sebagai ruang publik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana seni dapat dijadikan media komunikasi pembangunan. Analisis dilakukan dengan teori komunikasi pembangunan Melkote and Steves dengan konsep utama: dialog dan partisipasi. Penelitian ini berparadigma interpretif konstruktivis, dan metode studi kasus tunggal. Dari diskusi yang dilakukan, teridentifikasi bahwa dalam Festival Rampak Genteng, wujud dialog pesan pembangunan tentang kegelisahan dan resistensi masyarakat atas alih fungsi lahan masif yang terjadi di Jatiwangi dikemas dalam bentuk Ikrar Jatiwangi yang disuarakan dengan lantang, namun tidak tampak sebagai perlawanan melalui kekerasan. Dalam tarik ulur alih fungsi lahan bekas pabrik gula Jatiwangi antara pemerintah-investor versus JAF-masyarakat, klaim wilayah dilakukan JAF dan masyarakat melalui lagu dan tari. Dialog sekaligus partisipasi ditunjukkan dengan bunyi rampak genteng yang ditabuh oleh seluruh partisipan yang ada dalam festival tersebut. Partisipasi juga ditunjukkan dengan berbagai karya seni terakota pada gerbang acara. Sedangkan dari pihak pemerintah, pemberian penghargaan, kehadiran dan pernyataan penghargaan pejabat negara merupakan cara yang terasa lebih terhormat dan akrab dengan masyarakat untuk menyatakan bahwa pemerintah mendengar dan mempertimbangkan aspirasi masyarakat dalam pembangunan area ini.
Diskursus Patriarki pada Pemberitaan Gayung Lope Pink dan Lisa Mariana-Ridwan Kamil Listiorini, Dina; Vidiadari, Irene Santika
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2025): Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This study examines the operation of patriarchal discourse in online news coverage of infidelity, particularly through the use of the term “pelakor” (a derogatory label for women involved in extramarital affairs). Using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA) framework supported by the Hierarchy of Influence and Feminist Media Theory, the study aims to reveal how patriarchal ideology is reproduced in digital journalism. Findings from micro, meso, and macro analyses show that online media reproduce patriarchal ideology through news framing, reinforce sexism and double standards, and sacrifice gender justice for economic interests. These practices contribute to the normalization of patriarchal values and gender bias in public discourse. The study concludes by emphasizing the need for gender-sensitive journalism guidelines and training programs on gender and sexuality to foster equality and inclusivity in media representation. This finding also reinforce the arguments of media feminism that the media functions as an ideological agent in the era of digital capitalism by simultaneously reproducing and regulating moral values imposed on women, while perpetuating the patriarchal ideology. ABSTRAK Studi ini membahas mengenai diskursus patriarki yang beroperasi pada berita perselingkuhan dengan penyebutan kata pelakor.  Studi ini bertujuan memperlihatkan cara-cara ideologi patriarki beroperasi di media massa daring. Teori yang digunakan adalah teori Critical Discourse Analysis (CDA), Hierarchy of Influence dan Media Feminisme. Metode yang digunakan adalah metode CDA dari Norman Faiclough. Dari analisis mikro, meso dan makro ditemukan tiga hal penting yaitu media mereproduksi praktik ideologi patriarki melalui berita perselingkuhan; media meregulasi norma sosial patriarkal melalui seksisme dan standar ganda; media mengorbankan keadilan gender bagi kepentingan ekonomi. Kesimpulan dalam studi ini adalah fakta bahwa media mereproduksi dan menormalisasi nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat mengenai perselingkuhan dan menerapkannya di media dalam bentuk seksisme dan standar ganda. Untuk mencegahnya diperlukan itikad baik media menerapkan pedoman berita yang ramah perempuan dan anak serta menginisiasi pelatihan jurnalis berbasis gender dan seksualitas.  Temuan ini sekaligus menguatkan argumen feminisme media bahwa media menjadi salah satu agen ideologi patriarki dalam era kapitalisme digital dengan mereproduksi sekaligus mengontrol nilai-nilai moralitas bagi perempuan  dan mengekalkannya.