cover
Contact Name
winci firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Baranangsiang No.259/34B Bandung
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
Aksara aims at providing a media or forum for researchers, faculties, and graduate students to publish their research papers in the field of linguistic and literary studies. The scope of Aksara includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. Aksara is published by Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aksara accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 201 Documents
PANDANGAN DUNIA MOCHTAR LUBIS DALAM NOVEL SENJA DI JAKARTA Nurweni Saptawuryandari
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.184.195-206

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pandangan dunia Mochtar Lubis sebagai penulis Senja di Jakarta, dengan cara mendeskripsikan hubungan isi  novel itu  dengan keadaan masyarakat pada saat  novel tersebut ditulis oleh  pengarangnya.  Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang memaparkan tulisan berdasarkan isi karya sastra dan buku-buku yang menggambarkan keadaan masyarakat Jakarta pada saat karya sastra (novel) itu ditulis, yaitu pada tahun lima puluhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Senja di Jakarta menggambarkan suasana atau keadaan yang tidak jauh berbeda dengan keadaan Jakarta pada tahun lima puluhan sehingga dapat diketahui pandangan dunia pengarang novel Senja di Jakarta.
KONSTRUKSI IDEALISME DI DALAM ANTOLOGI PUISI UNTUK REFORMASI I Ketut Sudewa; Sri Jumadiah
Aksara Vol 34, No 1 (2022): AKSARA, EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i1.672.1-18

Abstract

Abstrak Anotologi Puisi Untuk Reformasi merupakan salah satu antologi yang di dalamnya mengungkapkan tentang keadaan sosial politik di Indonesia pada zaman Orde Baru dan awal reformasi. Di dalam antologi tersebut memuat sajak-sajak dari empat penyair yang terkenal di Indonesia, yaitu: W.S Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi, dan Remy Sylado. Permasalahan yang dibahas di dalam penelitian ini adalah (1) konstruksi idealisme yang diungkapkan oleh penyair di dalam antologi Puisi Untuk Reformasi dan (2) bagaimana cara penyair mengungkapkan idealismenya tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi kepustakaan. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik baca, simak, catat, dan interpretatif. Teori yang digunakan adalah teori semiotik dan sosiologi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyair di dalam antologi Puisi Untuk Reformasi mengungkapkan berbagai idealisme yang berangkat dari keadaan sosial masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru dan masa awal reformasi. Konstruksi idealisme yang terbangun di dalam antologi tersebut didasari oleh berbagai persoalan bangsa Indonesia pada masa tersebut, seperti: kebabasan/demokrasi, politik, hukum, dan degradasi kemanusiaan. Para penyair mengung kapkan persoalan-persoalan tersebut dengan cara menggunakan diksi tertentu yang memperkuat maksud yang ingin diungkapkan. Di samping menggunakan diksi masing-masing penyair yang menjadi ciri khasnya juga dominan menggunakan gaya hiperbola, repetisi, metafora, dan sisnisme. bahasa Kata kunci: konstruksi, idealisme, sosial, politik one of the anthologies in which it reveals the socio-political situation in Indonesia during the Orde Baru era and the beginning of reform. In the anthology includes poems from four famous poets in Indonesia, namely: W.S Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi, and Remy Sylado. The problems discussed in this research are: (1) the construction of idealism expressed by the poet in the anthology of Poetry for Reform and (2) how the poet expresses his idealism.The research method used is a qualitative method through literature study. Research techniques used are reading, note taking, and interpretive techniques. The theory used is the theory of semiotics and sociology of literature.The results showed that the poet in the anthology of Poetry for Reform expressed various ideals that departed from the social conditions of the Indonesian people during the Orde Baru era and the biginning of reform. The construction of idealism built in the anthology is based on various problems of the Indonesian nation at that time, such as freedom / democracy, politics, laws, and human degradation. The poets express these problems by using certain diction which reinforces the intention to be expressed. In addition to using the diction of each poet who is his trademark, he also uses hyperbole, repetition, metaphor, and sisnism. Keywords: construction, idealism, social, politics
Ideological Fantasy on Feminist Cliché in Harold Pinter’s The Room: A Žižekian Analysis Armelia Nungki Nurbani; Sri Nurhidayah
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.898.53--61

Abstract

This study aims to reveal women desires for freedom (without any menace), but she reproduces of male power restraints as it is represented in the drama script of Harold Pinter’s The Room. This research uses Žižek’s critical thinking framework regarding ideology, subject and practice. The approach used in this research is ground theory, the data used are quotations in the script, and the data source is the play script Harold Pinter’s The Room. With interpretation analysis techniques, this research reveals that the great ideals of women’s freedom are fantasmatic. Women’s freedom is an ideological fantasy. This play script reflects women’s freedom but instead explains the reality that they are shackled by patriarchal discourse. Harol Pinter seems to assert male power through the definition of women’s freedom through Rose in The Room. Therefore, the result shows that postmodernist, whose perspective is opposed to hierarchal system, is still trapped in patriarchal perspective AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap hasrat perempuan akan kebebasan (tanpa ancaman), namun ia justru mereproduksi pengekangan kekuasaan laki-laki seperti yang ada dalam naskah drama The Room karya Harold Pinter. Penelitian ini menggunakan kerangka berpikir kritis Žižek tentang ideologi, subjek dan tindakan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah grounded theory, data yang digunakan adalah kutipan dalam naskah, dan sumber datanya adalah naskah drama The Room karya Harold Pinter. Dengan Teknik analisis interpretasi, penelitian mengungkapkan bahwa cita-cita agung kebebasan perempuan bersifat fantasmatik. Kebebasan perempuan adalah fantasi ideologis. Teks drama ini merefleksikan Kebebasan perempuan tetapi justru menjelaskan realitas bahwa ia terbelenggu oleh wacana patriarkis. Harold Pinter menegaskan kuasa laki-laki melalui definisi kebebasan perempuan melalaui Rose dalam The Room. Dengan kata lain, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posmodernis, yang notabene menentang hirarki, juga ada yang patriarkis.
MORFEM SUPRASEGMENTAL PADA TEKS PIDATO PENGUNDURAN DIRI PRABOWO-HATTA DALAM PILPRES TAHUN 2014: SEBUAH TINJAUAN FONOLOGIS Irma Setiawan
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.17.61-76

Abstract

Bahasa verbal pidato pengunduruan diri Prabowo-Hatta menjadi fenomena yang menarikuntuk ditelaah. Rumusan masalah pada penelitian ini terfokus pada bentuk dan fitur morfemsuprasegmental pada teks pidato pengunduran diri Prabowo-Hatta dari Pilpres 2014. Tujuanpenelitian untuk mendeskripsikan bentuk dan fitur morfem suprasegemntal pada teks pidatopengunduran diri Prabowo-Hatta dari Pilpres 2014. Teori yang dipergunakan berupa analisisfonologi kewacanaan yang dikombinasikan dengan analisis wacana kritis (AWK) untukmencermati intonasi, tekanan, durasi, dan aksen tertentu yang memuat makna terselubung.Metode penelitian yang dipergunakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulandata dilakukan dengan metode simak dan catat serta menggunakan peranti lunak SpeechAnalyzer (SA) sebagai penentu frekuensi suara dan ELAN sebagai penentu lokasi waktututuran dalam pidato. Penganalisisan data dilakukan dengan tahap reduksi, tahap penyajian,dan tahap penyimpulan/verifikasi. Penganalisisan data dilakukan dengan deskripsi kualitatifkuantitatif.Data disajikan secara formal dan informal. Hasil penelitian diperoleh korelasisecara fonologis morfem suprasegmental terhadap produksi makna, situasi, dan ideologidalam teks pidato yang menunjukkan posisi pembicara dalam pidato yang disampaikan.
KEAKURATAN DAN KEBERTERIMAAN TERJEMAHAN RESPON TERHADAP TINDAK TUTUR KOMISIF PADA NOVEL DARK MATTER KARYA BLAKE CROUCH Dewi Santika; Mangatur Nababan; Djatmika .
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i1.307.107-122

Abstract

Novel terjemahan adalah karya sastra yang paling banyak diminati di dalam negeri karena alur cerita yang lebih dinamis, genre yang lebih beragam dan pengenalan aspek budaya bsa. Semakin baik kualitas terjemahan pada sebuah novel maka semakin tinggi peminatnya. Dalam penerjemahan novel terdapat aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan salah satunya adalah tindak tutur komisif dan responnya.  Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan terjemahan yang berkualitas dari segi keakuratan dan keberterimaan. Berdasarkan alasan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan kualitas respon dari tindak tutur komisif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah sebuah novel yang berjudul Dark Matter. Data primer pada penelitian ini berupa tuturan respon dari tindak tutur komisif. Sedangkan data sekundernya adalah kualitas terjemahan tuturan respon dari tindak tutur komisif. Data tersebut dikumpulkan menggunakan analisis dokumen dan FGD melalui penyebaran kuesioner dan diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 25 jenis tuturan dalam merespon 79 tindak tutur komisif. Tuturan yang merupakan respon terhadap tindak tutur komisif memiliki nilai keakuratan dan keberterimaan yang cukup tinggi. Kualitas terjemahan secara keseluruhan juga cukup tinggi.
Orientasi Budaya Manusia Toraja dalam Puama Suatu Tinjauan Hermeneutika Perspektif Hans-Georg Gadamer Simega, Berthin
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4162.109--123

Abstract

This study  is reviewed under hermeneutics to identify the cultural orientation of Torajan people in Puama a Hermeneutics Review of Hans-Georg Gadamer's Perspective. The information is presented orally by the storyteller, who narrates the characters' behaviors and events in puama while expressing thoughts that are pertinent to the study subject.  Research data was collected through several techniques: (1) recording, (2) observation, and (3) in-depth interview. The data analysis technique used in this study is cyclical pattern technique. The results of this study show that the Torajan people have spiritual, traditional, and mythical cultural orientations. Spiritual cultural orientation in puama or Toraja folklore was found in their obedience to aluk (faith), ada’na pemali (AAP or laws of taboos). The Torajan people's submission to agreements reached through ma'kombongan (deliberation) activities can be used to identify their traditional cultural orientation. Torajan mythical cultural orientation in Toraja folklore was found in their belief in pemali (taboos/prohibitions). Puama was used to determine the Torajan cultural orientations, it is therefore imperative to be preserved as one source of  Torajan knowledge and local wisdom (indigenous or local knowledge) which in turn beneficial for any stakeholders.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan informasi tentang orientasi budaya manusia Toraja melalui pendekatan hermeneutika perspektif Hans-Georg Gadamer. Data berupa tuturan lisan dari juru cerita yang menggambarkan peristiwa dan tindakan para tokoh dalam puama yang mengandung pemikiran-pemikiran yang terarah pada fokus masalah penelitian. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik (1) rekam, (2) observasi, dan (3) wawancara mendalam. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik cyclical pattern. Temuan penelitian ini, yaitu orientasi budaya manusia Toraja adalah orientasi budaya spiritual, orientasi budaya tradisional, dan orientasi budaya mitis. Orientasi budaya spiritual manusia Toraja dalam puama atau Cerita Rakyat Toraja (CRT) ditemukan  pada ketaatannya terhadap aluk, ada’ na pemali  (AAP). Orientasi budaya tradisional ditemukan melalui sikap tunduk manusia Toraja pada  kesepakatan melalui kegiatan ma’kombongan (musyawarah). Orientasi budaya mitis manusia Toraja dalam CRT ditemukan melalui kepercayaannya  pada pemali (pantangan/larangan). Dengan teridentifikasinya orientasi budaya manusia Toraja melalui puama tersebut, puama perlu dilestarikan sebagai salah satu satu sumber pengetahuan dan kecerdasan lokal (indigenous or local knowledge) masyarakat Toraja yang dapat bermanfaat bagi pemangku kepentingan. 
LEGENDA MALIN KUNDANG DALAM PERSPEKTIF FEMINISME Eva Krisna
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.129.171-180

Abstract

Penelitian ini membahas tradisi merantau dan falosentrisme dalam legenda Minangkabau berjudul Malin Kundang dengan pendekatan feminisme. Legenda tersebut mengisahkan anak durhaka yang dikutuk oleh ibunya menjadi batu. Pengutukan itu seakan-akan mencerminkan kekuasaan seorang ibu atas anak laki-lakinya sebagai bentuk reperesentasi sistem matrilineal masyarakat Minangkabau. Namun, kebenaran matriarkat dalam karya sastra rakyat pada masyarakat matrilineal itu terbantahkan setelah mengkritisi legenda Malin Kundang. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dengan teknik rekam dan catat. Analisis data menggunakan metode deskriptif analitik dengan teknik analisis kontens. Penelitian ini memanfaatkan kritik sastra feminis yang pada dasarnya merupakan kritik ideologis atas cara pandang yang mengabaikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas sosial berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Hasil pembahasan menguatkan hipotesis bahwa tidak satu pun wacana di dunia ini yang terbebas dari falogosentrisme, meskipun ideologi tersebut disamarkan melalui slogan-slogan kematrilinealan. Kritik feminisme dapat dilakukan dengan menggunakan analisis wacana Foucault, teori dekonstruksi Derrida, dan teori poskolonial Edward Said. Kritik feminisme membahas masalah gender, esensialisme dan konstruksi sosial, patriarkat dan falogosentrisme, serta wacana representasi dan resistensi. 
ORAL TRADITION OF SANSANA BANDAR OF DAYAK NGAJU IN KAPUAS WATERSHED CENTRAL KALIMANTAN/TRADISI LISAN SANSANA BANDAR DAYAK NGAJU DI DAS KAPUAS KALIMANTAN TENGAH Titik Wijanarti; Bani Sudardi; Mahendra Wijaya; Sri Kusumo Habsari
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.513.235-246

Abstract

Abstract Sansana Bandar is one of the oral traditions of the Dayak Ngaju people of Central Kalimantan in the form of a story about Bandar. This study aims to examine the narrative of the Bandar by contextualizing all aspects of the story to the socio-cultural history of the Dayak ethnic group. This study used an ethno- graphic approach. Data collection techniques used were library research, interviews, staging, recording, and transcription. The data obtained were then analyzed semiotics. The results show that Sansana Bandar is still maintained by the Dayak Ngaju community in the Kapuas Regency. The purpose of staging Sansana Bandar is so that one’s ideals can be achieved. Sansana Bandar staging requires requirements and is carried out from afternoon to morning. Sansana Bandar’s text analysis shows the in uence of cultures outside the island of Kalimantan in the life of the Ngaju Dayak community. Keywords: oral tradition, Sansana Bandar, Dayak Ngaju, Kapuas wastershed, Central Kalimantan Abstrak Sansana Bandar adalah salah satu tradisi lisan masyarakat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah yaitu berupa cerita tentang seorang tokoh bernama Bandar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasicerita Bandar melalui seluruh aspek cerita yang dikaitkan dengan konteks social historis dan social budaya suku Dayak Ngaju. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnogra . Teknik pengambilan data yang dilakukan adalah penelusuran pustaka, wawancara, pementasan, perekaman, dan transkripsi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara semiotik. Hasil penelitian menunjuk- kan bahwa Sansana Bandar masih dipertahankan oleh masyarakat Dayak Ngaju di wilayah Kabupaten Kapuas. Tujuan pementasan Sansana Bandar bagi tuan rumah adalah supaya cita-cita berhajat dapat tercapai. Sansana Bandar dipentaskan memerlukan persyaratan dan dilakukan pada waktu sore sampai pagi hari. Analisis teks cerita Sansana Bandar menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan luar pulau Kalimantan dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju. Kata kunci: tradisi lisan, Sansana Bandar, Dayak Ngaju, DAS Kapuas, Kalimantan Tengah 
LITERARY FOLKTALES PROMOTING CHILDREN'S MULTIPLE INTELLIGENCES/KARYA SASTRA YANG MENINGKATKAN KECERDASAN MULTIPEL ANAK-ANAK Berhanu Asaye Agajie
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.557.245-256

Abstract

AbstractThe objective of this study wasto investigate how literary folktale narrations promoting children's multiple intelligences. In this study qualitative design was adopted. The target populations of this study were found in Awi zone. In this case, expert sampling was used to capture multiple intelligences entrenched in a meticulous manifestation of knowledge in folktales.Through purposive sampling 20 folktale narrators (10 females and 10 male) were interviewed and two group discussions were conducted. The result of the study showed that engagement of children within literary narrations enablesthem to promote their linguistic, logical, spatial, musical, natural, interpersonal, intrapersonal, and bodily kinesthetic intelligences. Result and discussion showed thatliterary folktale narrations promote social cohesion regardless of age and gender. The children at any talent stage were acquainted with how to use their multiple intelligent through learning and their life experiences. This hypothesis is significant to elementary education because teachers able to observe more recurrently that students learn in different ways. Therefore, there is close relationship between literacy and folklore in influencing naturalist intelligencechildrento make a distinction among animals, categorize, and use features of the environment.Keywords: children, folktale, intelligences, literaryAbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk meneliti bagaimana narasi folktale yang meningkatkan  kecerdasan multipel anak-anak. Dalam penelitian ini, digunakan desain kualitatif. Target populasi penelitian ini ditemukan di wilayah Awi. Dalam kasus ini, expert sampling digunakan untuk mengkaji kecerdasan multipel yang berakar dalam manifestasi pengetahuan folktale. Melalui purposive sampling(penyampelan berdasarkan tujuan), 20 pencerita folktale (10 perempuan dan 10 laki-laki) diwawancarai dan dua diskusi kelompok dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelibatan anak-anak dalam narasi sastra memungkinkan mereka untuk meningkatkan kecerdasan linguistik, logis, spasial, musik, alami, interpersonal, dan kinestetik tubuh mereka. Hasil dan pembahasan ini menunjukkan bahwa narasi folktale meningkatkan hubungan sosial tanpa memandang usia dan jenis kelamin. Anak-anak pada setiap tahap bakat berkenalan dengan bagaimana menggunakan kecerdasan multipel mereka melalui pembelajaran dan pengalaman hidup mereka. Hipotesis ini sangat penting bagi pendidikan dasar guru dapat mengamati secara berulang-ulang bahwa siswa belajar dengan cara yang berbeda. Oleh karena itu, ada kaitan erat antara literasi dan cerita rakyat dalam memengaruhi kecerdasan alami anak-anak untuk membuat perbedaan di antara hewan, mengategorikannya, dan menggunakan karakteristik lingkungan.  Kata Kunci: anak-anak, dongeng, kecerdasan, literasi 
ADAPTASI LINGKUNGAN MASYARAKAT PENDATANG DALAM CERITA RAKYAT BONTANG Aquari Mustikawati
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.125.59-73

Abstract

Kota Bontang letaknya bersebelahan dengan Selat Makassar. Letak geografis tersebut memungkinkan Bontang sebagai wilayah tujuan migrasi dari wilayah sekitarnya. Oleh sebab itu, masyarakat di wilayah Bontang bagian pesisir didominasi oleh pendatang yang berasal dari Sulawesi dan Kutai. Perbedaan kondisi daerah dengan daerah asal memaksa para pendatang melakukan beberapa adaptasi lingkungan. Tulisan ini berusaha menjelaskan adaptasi masyarakat pendatang yang tinggal di daerah Bontang terhadap lingkungan baru melalui cerita rakyatnya. Dengan menggunakan pendekatan antropologi dan teori ekologi budaya, tulisan ini menganalisis proses pemertahanan lingkungan dan budaya masyarakat pendatang sebagai adaptasi yang tinggal di daerah tersebut. Analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan cara-cara adaptasi masyarakat terhadap lingkungan dalam cerita rakyatnya. Bagi masyarakat agraris adapatasi yang silakukan adalah beradaptasi dengan lahan pertanian dengan menggunakan teknologi yang sesuai dengan pola daerah baru. Sementacentra itu, masyarakat bahari berusaha beradaptasi dengan menggunakan teknologi yang berhubungan dengan  kelautan. Adaptasi yang dilakukan masyarakat pendatang tersebut selain bertujuan untuk kebertahanan hidup mereka di daerah baru juga secara tidak langsung telah menciptakan ketahanan budaya dari tempat asal mereka di tempat baru, yaitu wilayah Bontang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagai daerah tujuan pendatang, Bontang mengalami berbagai perkembangan budaya  sebagai hasil dari adaptasi lingkungan yang dilakukan para pendatang.