cover
Contact Name
winci firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Baranangsiang No.259/34B Bandung
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
Aksara aims at providing a media or forum for researchers, faculties, and graduate students to publish their research papers in the field of linguistic and literary studies. The scope of Aksara includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. Aksara is published by Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aksara accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 201 Documents
CULTURAL MEANINGFULNESS ON INTERCULTURAL PERSPECTIVE OF ENGLISH LEARNING MATERIALS FOR ELEMENTARY SCHOOL Fardini Sabilah; Ni Luh Sujtiati Beratha; I Made Budiarsa; Ida Bagus Putra Yadnya
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.209.149-164

Abstract

This current paper brings into discussion cultural meaningfulness on intercultural perspective of English learning materials for elementary school. Students might be perceived to master English, but there has been no guarantee that they can properly make use of their acquired language skills upon direct interaction with native speakers of the target language. This is reasonable as English instruction in elementary school is projecting grammatical aspects, not touching cultural aspects of the target language yet. In fact, those cultural aspects are playing pivotal roles in achieving interactional comprehension between speakers and interlocutors. In regards to cultural studies, foreign language students are to be apt to target language’s cultures. Departing for the mentioned concerns, English is to be taught by incorporating cultural aspects of native speakers, and thus intercultural perspective. This current paper pinpoints the development of intercultural perspective in English learning materials for elementary school students aging from 6-12 years old. Cultural meaningfulness on intercultural perspective is set to be the target that encapsulates various topics for teaching English in elemenatry school. The so called perspective not merely comprises social skills, but training sensitivity and comprehension on values, point of view, proper way of life and thinking as well. A number of materials containing intercultural perspective and cultural meaningfulness are described in this paper. Those materials are presented within six intercultural topics in the forms of culture-related vocabularies, expressions, and meanings.
PERGESERAN KOSAKATA BAHASA BALI RANAH PERTANIAN: STUDI LINGUISTIK KEBUDAYAAN Nengah Arnawa
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.21.103-110

Abstract

Fokus penelitian ini adalah pergeseran kosakata bahasa Bali pada ranah pertanian dandampaknya terhadap pelestarian budaya darma pamacul ‘kewajiban petani’. Penelitian inidilatarbelakangi oleh kondisi empirik bahwa telah terjadi perubahan tatacara petani dalampengolahan lahan. Perubahan tersebut berdampak pada pergeseran kosakata yang berimplikasipada perubahan budaya. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk memetakan pergeserankosakata bahasa Bali ranah pertanian dan kaitannya dengan dinamika budaya lokal. Untukmencapai tujuan tersebut, penelitian ini berpijak pada teori linguistik kebudayaan danmakrosemantik. Penelitian ini dirancang dalam desain kualitatif. Data dikumpulkan melaluimetode cakap dengan para petani subak basah dan kering di Kabupaten Tabanan dan Buleleng.Informan diklasifikasi berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur. Berdasarkan prosedurpenelitian tersebut terungkap bahwa telah terjadi pergeseran kosakata dan budaya pertanianpada aspek: peralatan, budaya dan ikatan sosial, proses pengolahan lahan, perawatan tanamandan penanganan hasil panen. Pergeseran kosakata ranah pertanian tersebut berdampak padakegagalan anak-anak petani memahami metafora yang sering digunakan dalam wacanaberbahasa Bali.
KALIMAT IMPERATIF DALAM WACANA PERKAWINAN ADAT BALI I Gde Wayan Soken Bandana
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.133.227-239

Abstract

Penelitian ini membahas masalah kalimat dalam wacana perkawinan adat Bali. Salah satu kalimat yang digunakan dalam komunikasi pada proses ngidih ‘meminang’ dan majauman ‘pamitan pihak pengantin perempuan kepada leluhurnya’ adalah kalimat imperatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis kalimat dan makna, bentuk, dan penanda kalimat imperatif dalam wacana perkawinan adat Bali. Pada tahap penyediaan data digunakan metode studi pustaka dan metode observasi dengan teknik catat. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif analitik dan teknik interpretatif dengan mengacu pada teori linguistik antropologi. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kalimat imperatif dalam wacana perkawinan adat Bali berupa kalimat imperatif biasa, halus, permohonan atau permintaan, ajakan atau harapan, pelarangan, dan pembiaran. Makna yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah makna perintah, permohonan, ajakan, harapan, pelarangan, dan pembiaran. Bentuk dan penanda kalimat imperatif berupa afiks dan kata dengan kelas kata adverbia, adjektiva, dan verba. Dalam wacana perkawinan adat Bali, keenam kalimat imperatif digunakan secara berimbang.  
ILOKUSI-ILOKUSI HOAKS COVID-19 DI MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF CYBER-PRAGMATICS/COVID-19 HOAX ILLOCUTIONS IN INSTAGRAM IN THE PERSPECTIVE OF CYBERPRAGMATICS R. Kunjana Rahardi
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.561.313-322

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan wujud-wujud ilokusi hoax Covid-19 di media sosial Instagram dalam perspektif Cyberpragmatics. Data penelitian berupa tuturan-tuturan dalam Instagram yang di dalamnya terkandung ilokusi-ilokusi hoax covid-19. Data dikumpulkan dengan metode simak. Teknik yang digunakan dalam rangka penerapan metode simak adalah teknik simak bebas libat cakap sebagai teknik dasar dan teknik rekam dan teknik catat sebagai teknik lanjutan. Setelah tipe-tipe data tersaji dengan baik, langkah selanjutnya adalah memvalidasi data. Metode dan teknik analisis data diterapkan adalah metode analisis distribusional. Teknik yang digunakan dalam rangka menerapkan metode distribusional adalah teknik bagi unsur langsung. Adapun dimensi-dimensi ekstrakebahasan penelitian ini dianalisis dengan menerapkan metode kontekstual atau metode padan khususnya padan ekstralingual. Penelitian ini berhasil menemukan ilokusi-ilokusi hoax Covid-19 sebagai berikut: (1) ilokusi menebar informasi tidak jelas, (2) ilokusi menyoal informasi keliru, (3) ilokusi menebar berita palsu, (4) ilokusi menyoal desas-desus, (5) ilokusi menebar berita tidak benar, (6) ilokusi membesar-besarkan informasi keliru, (7) ilokusi menebar informasi yang tidak jelas, (8) ilokusi membesar-besarkan masalah. Kata Kunci: cyberpragmatics, ilokusi hoax, Covid-19 Abstract The purpose of this research is to describe the forms of Covid-19 hoax illocution in Instagram social media in the perspective of Cyberpragmatics. The research data were in the form of utterances in which contained the illusion of covid-19 hoaxes. Data were collected by the observation method. The technique used in the framework of applying the refer to method was a free, engaging, involved listening technique as the basic technique and the record technique and the note technique as an advanced technique. After the types of data were presented properly, the next step was to validate the data. The method and data analysis technique applied was the distributional analysis method. The technique used in the framework of applying the distributional method was the technique for the direct element. The extra dimensions of this research were analyzed by applying the contextual method or the matching method speci cally the extralingual padding. This research succeeded in nding Covid-19 hoax illocution as follows: (1) illocution to spread unclear information, (2) illocutionary to erroneous information, (3) illocution to spread false news, (4) illocution to rumors, (5) illocution to spread untrue news, (6) illocution to exaggerate misinformation, (7) illocution to spread information that is not clear, (8) illocution to exaggerate the problem. Keywords: cyberpragmatics, illocution hoaxes, Covid-19
ALIH KODE PADA PENTAS SENI PERTUNJUKAN WAYANG KULIT ”JOBLAR” LAKON I TUALEN DADI CARU I Made Sumalia
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.179.%p

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan alih kode pada pentas seni pertunjukan wayang kulit Joblar lakon I Tualen Dadi Caru. Analisisnya dititikberatkan pada masalah-masalah alih kode dan latar belakang alih kode tersebut. Metode yang dipakai adalah studi pustaka, observasi, dan wawancara. Dalam penjaringan data digunakan teknik catat dan rekam. Data dianalisis secara kualitatif melalui empat proses, yaitu (1) mentranskripsi data, (2) mereduksi data, (3) menyusun data, dan (4) menarik suatu simpulan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan adanya peristiwa alih kode yang dilakukan oleh Dalang Joblar (DJ) dalam pementasan wayangnya. Sebagai seorang bilingual, DJ menggunakan dua bahasa atau lebih dalam dialog pertunjukannya. Bahasa-bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali sebagai bahasa utama, sedangkan bahasa Jawa Kuno, bahasa Sanskerta, bahasa Jawa, bahasa Inggris, dan bahasa Arab sebagai bahasa kedua. Hasil analisis menunjukkan adanya fenomena alih kode ke luar dan alih kode ke dalam sebagai faktor penyebab terjadinya alih kode.
BUDAYA BALI SEBAGAI MEDIA MOTIVASI DALAM PEMBELAJARAN BIPA TINGKAT PEMULA/BALI CULTURE AS A MOTIVATION MEDIUM IN LEARNING INDONESIAN FOR FOREIGNERS (BIPA) FOR BEGINNER LEVEL Sang Ayu Putu Eny Parwati
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.654.323-333

Abstract

AbstrakPengenalan budaya lokal sebagai media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis bagi pemelajarnya. Media pembelajaran yang menyangkut budaya pada bahasa yang dipelajari juga dapat membantu peserta didik meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, serta memudahkan penafsiran dan memadatkan informasi, seperti yang ada dalam budaya Bali yang dapat diaplikasikan dalam pengajaran BIPA untuk Tingkat Pemula. Dengan menerapkan metode studi pustaka yang berlandaskan pada beberapa sumber dan pengetahuan penulis tentang budaya Bali, tulisan ini dapat dipaparkan dengan metode naturalistik karena hal-hal yang berkaitan dengan masalah budaya dilakukan pada kondisi alamiah (natural setting). Hasil yang diperoleh, yaitu budaya Bali sebagai media pembelajaran BIPA untuk pemelajar Tingkat Pemula, khususnya bagi pemelajar yang sedang belajar di Bali sangat menarik untuk disampaikan sebagai media penunjang pembelajaran utama dan sebagai motivasi untuk meningkatkan kemampuan memahami materi yang sedang dipelajari oleh pemelajar. Pengenalan etika berbicara dalam bentuk sapaan, mengucapkan salam dengan gestur yang tepat, dan mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan aktivitas adat dan keagamaan yang masih sangat kental dalam budaya Bali sangat perlu dan menarik untuk diketahui oleh pemelajar. Selain itu, gagasan ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun bahan ajar atau bahan penunjang pengajaran BIPA untuk Tingkat Pemula selanjutnya, khususnya bagi lembaga BIPA yang ada di Provinsi Bali.Kata kunci: BIPA, budaya Bali, media, motivasiAbstractThe introduction of local culture as arouse teaching medium in the teaching-learning process can arouse desire and interest, evoke motivation and stimulation of learning activities, and even bring psychological influences to the learners. Learning media related to the culture where a language is learned can also help students to increase understanding, present data attractively and reliably, facilitate interpretation and condense information is available in Balinese culture that can be applied in teaching BIPA for Beginner Level. By applying the literature study method which is based on several sources and the author’s knowledge about Balinese culture, this paper can be presented with naturalistic methods because matters relating to cultural issues are carried out in natural settings. The results obtained that the Balinese culture as BIPA learning media for Beginner Level students, especially for students who are studying in Bali is very interesting to be conveyed as a primary learning support medium and as a motivation to improve the ability to understand what is being learned by students. The introduction of ethics speaks in the form of greetings, says greetings with appropriate gestures, and expresses matters related to traditional and religious activities that are still very thick in Balinese culture. In addition, this idea can be taken into consideration in preparing teaching materials or supporting materials for BIPA teaching for the next Beginner Level, especially for BIPA institutions in the Province of BaliKeywords: BIPA, Balinesse culture, supporting materials, motivation
ANEKA PERPADUAN LEKSIKAL SEBAGAI PENANDA KOHESI ANTARKALIMAT DALAM WACANA BAHASA BALI Ni Luh Komang Candrawati
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.139.1-14

Abstract

Secara umum, penelitian ini bertujuan mengungkap aneka perpaduan leksikal sebagai penanda kohesi antarkalimat dalam wacana bahasa Bali. Secara khusus, penelitian ini bertujuan memecahkan masalah aneka perpaduan leksikal apa saja sebagai penanda kohesi antarkalimat dalam wacana bahasa Bali. Teori yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian ini adalah teori kohesi yang dikembangkan oleh M.A.K. Halliday dan R. Hasan. Buah pikiran mereka tertuang dalam sebuah buku berjudul Cohesion in English (1976). Beberapa konsep dasar yang dapat dipetik dari teori tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut. Disebutkan kohesi adalah alat bahasa untuk menyatakan adanya kepaduan di dalam sebuah wacana, dan wacana merupakan tataran di atas kalimat. Halliday dan Hasan (1976:1) mengemukakan bahwa teks adalah pemakaian bahasa baik lisan maupun tulisan, dalam bentuk prosa maupun puisi, dalam bentuk dialog maupun monolog, yang membentuk satu kesatuan gagasan. Teks inilah yang sering disebut dengan wacana. Kohesi muncul jika penafsiran unsur tertentu di dalam sebuah teks tergantung pada penafsiran unsur yang lain di dalam teks yang sama. Penelitian ini bermaksud membahas penanda hubungan leksikal. Dalam penelitian ini, dipaparkan sekadar pengertian dari aneka perpaduan leksikal disertai dengan beberapa contohnya. Pembicaraan aneka perpaduan leksikal itu meliputi: (1) repetisi, (2) sinonim, (3) kata generik, (4) kolokasi, dan (5) superordinat.
SNAKES AND LADDERS GAME: AN ALTERNATIVE INSTRUCTIONAL STRATEGY TO ENHANCE THE LEARNERS’ GRAMMATICAL PROFICIENCY Moh. Arif Mahbub
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i1.212.153-166

Abstract

This present study reports on the findings related to the use of the snake and ladder game as a strategy to enhance the learners’ grammatical proficiency in mastering simple future tense. The participants were 27 eleventh graders of SMK Asrama Pembina Masyarakat. A number of instruments used in this study. The developments of the students’ grammatical proficiency were collected through the two sets of pre-test and post-test. The data related to the students’ attitude toward grammatical problems and the implementation of snake and ladder game were collected through questionnaires. Observation was employed to record the students’ participation during the lesson. The findings revealed that the students’ grammatical proficiency significantly improved. There were 20 (74.07%) out of 27 students who passed the criterion of minimum completeness of 75. The average score of students showed 77.26. Through the distributed questionnaires, the findings also demonstrated the positive thoughts and attitudes related to the game they played during the lesson.  The students’ participation to the use of the snake and ladder game in teaching-learning activity in the classroom was also pleasing. It can be concluded that the application of this game can meet the all criteria of success of cycle. In other words, it can play positive role in developing the learners’ grammatical proficiency.
INTERFERENSI FONOLOGI PADA PEMBELAJAR BIPA ASAL EROPA DI BALI Ida Ayu Putri Adityarini; I Wayan Pastika; I Nyoman Sedeng
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.409.167-186

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui interferensi fonologi yang terjadi pada pemelajar BIPA asal Eropa di Bali dengan analisis interferensi didasarkan pada bahasa Inggris. Data yang digunakan, yaitu data lisan dan data tulisan yang diperoleh dari tuturan dan tulisan pemelajar ketika belajar bahasa Indonesia di kelas. Penelitian ini berpedoman pada teori interferensi menurut Weinreich (1953). Data lisan dikumpulkan dengan teknik simak libat cakap (SLC), teknik simak bebas libat cakap (SBLC), teknik perekaman, dan pencatatan. Data tulisan dikumpulkan dengan metode tes. Data tersebut kemudian dianalisis dan disajikan dalam bentuk formal dan informal. Hasil analisis data menunjukkan bahwa interferensi fonologi yang terjadi pada pemelajar BIPA asal Eropa di Bali, yaitu berupa interferensi bunyi vokal (terjadi pada vokal [a], [u], dan [ə]), interferensi bunyi konsonan (terjadi pada konsonan [r], [ŋ], dan [t]), interferensi berupa penambahan bunyi (terjadi pada bunyi [ŋ] dan [ɲ]), dan interferensi berupa penghilangan bunyi (terjadi pada konsonan [r], deret vokal [e] dan [a], serta konsonan [h]). Interferensi ini terjadi karena adanya perbedaan bunyi vokal dan bunyi konsonan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain itu, interferensi ini juga disebabkan oleh adanya perbedaan pelafalan sebuah bunyi vokal atau bunyi konsonan yang sama pada kedua bahasa tersebut. Kata kunci: Pemelajar BIPA, interferensi, fonologiThis study aimed to determine phonological interference that occurs on BIPA learners from Europe in Bali. Oraland written data are used in this research that were obtained from learners' speeches and writings when learning Indonesian in the class. This research was guided by interference theory according to Weinreich (1953). Oral data were collected using proficient inversion techniques (SLC), skillful in-flight listening techniques (SBLC), recording techniques, and note taking. Writing data were collected by the test method. The data analyzed and presented in formal and informal forms. The results of data analysis showed that phonological interference that occurred in BIPA learners from Europe in Bali, namely in the form of vocal noise interference (occurred in vowels [a], [u], and [ə]), consonant sound interference (occurred in consonants [h] , [r], [g], [ŋ], [t], [g], and [ɲ]), interference in the form of sound addition (occurred in the sounds [ŋ] and [ɲ]), and interference in the form of sound removal ( occurred in consonants [r], vowel series [e] and [a], and consonants [h]). This interference occurred because of differences in vowel and consonant sounds in Indonesian and English. In addition, this interference was also caused by the different pronunciation of a vowel sound or consonant sound in both languages. 
PENGGUNAAN ASPEK BAHASA DALAM TEKA-TEKI TRADISIONAL ETNIK KAILI Nursyamsi Nursyamsi
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.170.49-64

Abstract

Teka-teki tradisional merupakan salah satu bentuk tradisi lisan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah penggunaan aspek bahasa dalam teka-teki tradisional etnis Kaili. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan aspek bahasa dalam teka-teki tradisional etnik Kaili. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Dalam pengumpulan data digunakan metode simak dengan teknik sadap dan simak libat cakap. Teknik rekam dan teknik catat juga digunakan dalam penelitian ini. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa teka-teki tradisional etnis Kaili menggunakan kata tanya nuapa ‘apa’ yang terletak pada awal dan tengah kalimat pertanyaan (topik) dan kata tanya nuapa hai ‘apakah itu’ pada kalimat berikutnya setelah kalimat pertanyaan. Aspek makna yang terkandung dalam teka-teki tradisional etnis Kaili bersifat harfiah dan metaforis.

Page 10 of 21 | Total Record : 201