cover
Contact Name
winci firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Baranangsiang No.259/34B Bandung
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
Aksara aims at providing a media or forum for researchers, faculties, and graduate students to publish their research papers in the field of linguistic and literary studies. The scope of Aksara includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. Aksara is published by Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aksara accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 201 Documents
Motif Itik Pulang Patang Pada Rumah Adat Tradisional Minangkabau (Rumah Gadang): Analisis Semantik Inkuisitif Hermandra Hermandra
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.827.272--281

Abstract

This study uses an inquisitive semantic approach as its main analysis. The aim of the research is to find and find reasons for using a motif so that it is chosen as one of the carvings in the traditional traditional house of the Minang people as one of the cultural identity of the Minang tribe. The data and data sources in the research are in the form of words and sentences obtained through field studies and interviews with informants with the age limit of 40-60 years who are native Minang tribes. Data collection techniques in this study used interviews, notes, and analysis. The data analysis technique uses three stages of analysis, namely script semantics to explain the meaning of the dictionary or written meaning, cognitive semantics to explain the meaning that connects experience with knowledge, and inquisitive semantics to find reasons for using an object, symbol or motif that is chosen. The results of the study explained that the duck motif was chosen because ducks have attitudes that can reflect a good life. The duck home patang motif depicts a philosophy of harmony or order in life. This motif is a form of Minang community identity that needs to be preserved and also cultivated. The values taught must be applied in order to be able to live based on the rules and norms that apply to the Minangkabau people. The implications of this research are expected to be one of the justifications for using a carved motif in Minang traditional houses, so that immigrants and local people do not wonder why this motif is used and not other motifs. AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik inkuisitif sebagai analisis utamanya. Tujuan penelitian adalah untuk mencari dan menemukan alasan penggunaan suatu motif sehingga dipilih sebagai salah satu ukiran di rumah adat tradisional masyarakat Minang yang merupakan salah satu bentuk jati diri kebudayaan suku Minang. Data dan sumber data pada penelitian berupa kata-kata dan kalimat yang diperoleh melalui studi lapangan dan wawancara narasumber dengan ketentuan usia 40-60 tahun yang bersuku minang asli. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, catat, dan analisis. Teknik analisis data menggunakan tiga tahap analisis yaitu semantik skrip untuk menjelaskan makna kamus atau makna tulis, semantik kognitif menjelaskan makna yang menghubungkan pengalaman dengan pengetahuan, dan semantik inkuisitif yang menemukan alasan penggunaan suatu objek, lambang ataupun motif tersebut dipilih. Hasil penelitian menjelaskan bahwa motif itik dipilih karena itik memiliki sikap-sikap yang dapat mencerminkan kehidupan yang baik. Motif itik pulang patang menggambarkan filosofi keserasian atau keteraturan dalam hidup. motif ini merupakan salah satu bentuk jati diri masyarakat minang yang perlu dilestarikan dan juga dibudayakan. Nilai-nilai yang diajarkan harus diterapkan agar mampu hidup berdasarkan aturan dan norma-norma yang berlaku pada kaum Minangkabau. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pembenaran atas penggunaan suatu motif ukiran pada rumah adat Minang, sehingga masyarakat pendatang maupun lokal tidak bertanya-tanya mengapa motif ini yang digunakna bukan motif yang lain.
PEMILIHAN BAHASA WALSA-BAHASA INDONESIA OLEH PENUTUR ASLI BAHASA WALSA: STUDI KASUS PADA MASYARAKAT PUND Suharyanto Suharyanto
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.142.35-45

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemilihan bahasa Walsa-bahasaIndonesia pada ranah keluarga oleh penutur asli bahasa Walsa pada masyarakatPund, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Secara lebih khusus,penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel umur berpengaruh secara signifikan terhadap pilihan bahasa mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik dengan metode kuantitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa pada ranah keluarga semakin muda usia responden maka semakin besar pemakaian bahasa Indonesia mereka. Fenomena ini mengindikasikan bahwa telah terjadi pergeseran pemakaian bahasa antargenerasi dalam masyarakat Pund. Adanya pengaruh variabel umur responden terhadap pilihan bahasa ini ditunjukkan oleh hasil anova pada setiap situasi pemakaian bahasa yang memperlihatkan bahwa nilai F selalu berada jauh di atas nilai F tabel. Hasil anova ini semakin diperkuat oleh hasil pengelompokan Duncan yang memperlihatkan adanya perbedaan kelompok pemilih bahasa yangditandai oleh perbedaan besarnya nilai rata-rata (mean) pilihan bahasa setiapkelompok tersebut. Hasil pengelompokan Duncan ini secara tegas memperlihatkan perbedaan kelompok pemilih bahasa sebagai akibat perbedaan variabel umur tersebut.
Unveiling the Aesthetic Charms of 'Khabar Mati': A Deep Dive into Text Folk Performance on the Southern Coastal Shores Emridawati Emridawati; Awerman Awerman; Irdawati Irdawati; Alfalah Alfalah; Sriyanto Sriyanto
Aksara Vol 35, No 2 (2023): Aksara, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i2.4161.319--330

Abstract

This research delves into the aesthetic elements of 'Khabar Mati,' a renowned folk theater performance in the Southern Coastal region. The study employs qualitative analysis with a descriptive method to decipher this traditional theatrical expression's intricate artistic and cultural dimensions. The research meticulously examines the narrative and performance aspects of 'Khabar Mati,' providing a comprehensive analysis of the text and its enactment on the stage. Through this in-depth investigation, the study aims to provide valuable insights into the rich aesthetics embedded within 'Khabar Mati.' The findings promise to shed light on the profound artistic heritage of the Southern Coastal communities, offering a deeper understanding of the cultural and aesthetic significance of this captivating folk theater tradition. By scrutinizing the textual and performative aspects, this research provides a holistic exploration of 'Khabar Mati,' contributing to a more comprehensive appreciation of its artistic and cultural merits.
RESEPSI SASTRA KISAH GANDARI DALAM PUISI INDONESIA MODERN Puji Santosa
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i1.116.1-18

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan dan memaknai resepsi sastra kisah Gandari dalam puisi Indonesia modern yang dilakukan oleh Gunawan Maryanto, Djoko Saryono, dan Goenawan Mohamad. Masalah penelitian adalah resepsi sastra kisah Gandari yang digubah menjadi puisi Indonesia modern. Untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan digunakan metode kualitatif yang ditopang dengan deskripsi, analisis isi, dan komparasi. Hasil dan pembahasaan penelitian ini membuktikan bahwa resepsi sastra kisah Gandari dalam puisi Indonesia modern melalui pemaknaan: (1) transformasi kisah Gandari dengan kreativitas estetis sebagai proses kreatif penyair, (2) referensi gerak budaya sebagai pertanda bahwa kisah Gandari itu dinamis, akulturatif, dan integratif menjadi lambang perjuangan wanita yang menjadi korban kekuasaan, wibawa, dan cinta, serta (3) reaktualisasi filosofi dan nilai budi pekerti perjuangan Gandari melawan suratan takdir dan nasib, meskipun pada akhirnya kalah dan menyerah, sebagai suatu pembelajaran bahwa manusia diberi hak untuk tetap berusaha sekuat kemampuan mencapai cita-cita dan harapannya. Dari hasil penelitian itu dapat disimpulkan bahwa resepsi sastra kisah Gandari dalam puisi Indonesia modern menunjukkan adanya pemaknaan yang dinamis, kreatif, estetis, serta memberi roh dan kehidupan mitos yang tidak dapat dipisahkan dari realitas sehari-hari.  
DONGENG BARBE BLEUE ‘SI JANGGUT BIRU’ KARYA CHARLES PERRAULT DALAM KAJIAN RESEPSI PEMBACA AKTIF Tania Intan
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.312.31-46

Abstract

Penelitian ini membahas resepsi pembaca aktif terhadap kisah Barbe Bleue ‘Si Janggut Biru’ karya Charles Perrault, sastrawan dari abad XVII. Pembaca aktif yang dimaksud adalah Amélie Nothomb dan Tahar ben Jelloun, dua pengarang frankofon yang memberi tanggapan terhadap kisah dari abad Pertengahan itu dengan menciptakan teks Barbe Bleue dalam versi masing-masing. Penelitian ini berfokus pada perbandingan elemen-elemen narasi di antara teks-teks tersebut seperti plot, penokohan dan latar. Teori resepsi diakronik-intertekstual dengan metode deskriptif kualitatif digunakan untuk penelitian ini. Dapat disimpulkan bahwa sebagai pembaca aktif dari abad XXI, Amélie Nothomb dan Tahar ben Jelloun meresepsi kisah Barbe Bleue dengan cara menciptakan karya baru namun tidak menghilangkan sekuen-sekuen utama dari cerita aslinya. Perubahan terjadi pada genre, dari dongeng menjadi novel dan cerita pendek, bobot penokohan yang berimbang di antara tokoh laki-laki dan perempuan, serta setting latar waktu-tempat-sosial-budaya. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perubahan zaman, semangat zaman, serta perubahan cakrawala harapan pembaca.This study discusses the reception of active readers of the story of Barbe Bleue by Charles Perrault, a writer from the seventeenth century. The active readers in question are Amélie Nothomb and Tahar ben Jelloun, two frankophone authors who responded to the story of the Middle Ages by creating the Barbe Bleue text in their respective versions. This study focuses on the comparison of narrative elements between the texts such as plot, characterization and setting. Diachronic-intertextual reception theory with qualitative descriptive method was used for this study. It can be concluded that as active readers of the XXI century, Amélie Nothomb and Tahar ben Jelloun perceive the story of Barbe Bleue by creating new works but not eliminating the main sequences of the original story. Changes occur in genres, from fairy tales to novels and short stories, the weight of balanced characterization between male and female characters, and the setting of time-place-social-cultural settings. This cannot be separated from the changing times, the spirit of the times, and changes in the horizon of readers’ expectations.Keywords: reception of literary, actif reader, diachronic-intertextual, Barbe Bleue
FLORA SEBAGAI METAFORA DALAM TEKS WANITA UTAMA Dewi, Nur Eka Ratna; -, Mulyana
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.4255.359-372

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna flora sebagai bentuk metafora di dalam teks Wanita Utama. Teks Wanita Utama merupakan manuskrip beraksara Jawa yang terhimpun dalam bundel naskah Kandha Gedhog Saha Kempalan Warni-Warni. Teks ini merupakan koleksi perpustakaan Pura Pakualaman dengan nomor koleksi Ll. 12/0114/PP/73. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kajian naskah yang diadaptasi dari metode penelitian filologi modern terbatas. Langkah-langkah penelitian kajian naskah yang dilakukan adalah (1) deskripsi naskah, (2) transliterasi teks dari aksara Jawa ke aksara Latin, (3) terjemahan teks dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, dan (4) analisis isi teks dengan melakukan pembacaan heuristik dan hermeneutik untuk mengungkap makna flora yang terdapat dalam teks Wanita Utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks Wanita Utama menggunakan beberapa nama bunga, bagian dari bunga, dan nama tumbuh-tumbuhan sebagai bentuk metafora untuk menggambarkan serta memuji sosok wanita. Nama tumbuh-tumbuhan yang dipakai sebagai metafora adalah: (1) sebagai tipologi wanita, yaitu kembang Anggrek Wulan, kembang Nagasari, kembang Sulastri, Murtiningkang sari, Si Kebon, Dewadaru, dan Tembako (2) sebagai bagian dari tubuh wanita, yaitu pradapa, dan kandhaone, (3) sebagai sebutan untuk wanita, yaitu puspita dan kusuma, serta (4) sebagai wangsalan, yaitu wilada dan elo.
SISTEM NAMA ORANG BALI: KAJIAN STRUKTUR DAN MAKNA I Gde Wayan Soken Bandana
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.166.1-11

Abstract

Pemberian nama pada bayi saat lahir, secara umum, memiliki maksud dan tujuan tertentu. Hal itu dapat dijumpai di Indonesia, termasuk di Bali. Dalam masyarakat Bali pemberian nama pada bayi umumnya memiliki harapan-harapan tertentu. Kajian ini termasuk dalam bidang ilmu linguistik antropologi. Sehubungan dengan hal itu, tulisan ini membahas dua masalah: struktur linguistik dan makna, baik makna leksikal/tekstual maupun makna kontekstual. Berdasarkan analisis struktur linguistik, ditemukan nama-nama orang Bali yang tergolong dalam tiga jenis kata: (1) kata sandang, (2) kata sifat, dan (3) kata bilangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara leksikal nama orang Bali mempunyai makna pengharapan dan makna kenangan. Di samping itu, secara kontekstual, nama-nama tersebut mengandung makna tersendiri sesuai dengan interpretasi pemberi nama.
SISTEM FONOLOGI BAHASA LIMOLA/PHONOLOGY SYSTEM IN LIMOLA LANGUAGE Jusmianti Garing; Nuraidar Agus; Nurlina Arisnawati; Ramlah Mappau
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.671.153-168

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengonservasi sistem fonologi bahasa Limola. Data dikumpulkan melalui instrumen berisikan 200 kosakata swadesh dan 200 kosakata budaya. Kosakata tersebut berbahasa Indonesia dan diterjemahkan dalam bahasa Limola berdasarkan kebutuhan data. Analisis data dilakukan dengan mentranskripsikan data dalam bentuk fonetis. Setelah data ditranskripsikan, dilakukan pembuktian klasifikasi dan distribusi fonem. Selanjutnya menelaah penyukuan dan perubahan bunyi dalam bahasa Limola. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Limola memiliki lima buah fonem vokal dasar dan tiga belas vokal variasi, sehingga secara keseluruhan terdapat delapan belas vokal yang berfungsi sebagai pembeda makna. Lima vokal dasar bahasa Limola adalah /i/, /e/, /a/, /u/, /o/ dan tiga belas vokal variasi atau alofon dari lima vokal dasar, yaitu adalah /i/ = [i:], [ii], [I]; /e/= [e:], [ɛ], {ɛ:]; /a/= [a:], [aa]; /o/= [o:], [oo], [ɔ]; dan /u/=[u:], [uu]. Uniknya, bahasa Limola selain memiliki diftong, seperti [ia], [ea], [ai], [oɛ], [ua] dan lainnya, juga memiliki diftong yang disebut sebagai diftong kembar atau identik yang terdapat pada bunyi vokal tertentu, yakni bunyi /ii/, /aa/, /oo/, dan /uu/. Keempat bunyi tersebut merupakan bunyi vokal depan /aa/ dan /ii/ dan vokal belakang /oo/ dan /uu/. Selanjutnya, fonem konsonan bahasa Limola terdiri atas tujuh belas konsonan dan ada enam fonem yang tidak ditemukan di dalam bahasa Limola, yaitu, /f/, /h/, /x/, /z/, /q/, dan /v/. Penyukuan bahasa Limola adalah V, VK, KV, KVK, KVV. Selanjutnya, perubahan bunyi bahasa Limola berdasarkan pada proses fonologis melalui asimilasi, diftongisasi, monoftongisasi, anaptiksis, protesis, epentesisi, paragoge, dan zeroisasi. Kata kunci: konservasi, fonologi, bahasa Limola AbstractThe research aims to conserve the phonology system of the Limola language. The data collected using an instrument containing 200 words of Swadesh and 200 words of culture. The words in the Indonesian language were translated into the Limola language based on the data needs. Data analysis was conducted by transcribing data in phonetic form. After the data transcribed, it was proving the classification and distribution of phonemes. Next, the researchers examined the syllable and sound changes that occurred in the Limola language. The results show that the Limola language has five basic vowel phonemes and thirteen vowels of variation, thus in total, eighteen Limola vowels function as distinctive meaning. The five basic vowels are /i/, /e/, /a/, /u/, /o/ and the thirteen vowels are /i/ = [i:], [ii], [I]; /e/= [e:], [ɛ], {ɛ:]; /a/= [a:], [aa]; /o/= [o:], [oo], [ɔ]; and /u/=[u:], [uu]. Apart from diphthongs such as [ia], [ea], [ai], [o], [ua], and others, the Limola language also has diphthongs known as twin or identical diphthongs, which are found in some vowels, i.e., [ii], [aa], [oo], and [uu]. The four sounds are the front vowel, namely [aa] and [ii], and the back vowel, namely [oo] and [uu]. Furthermore, the Limola consonant phoneme consists of seventeen consonants and there are six phonemes that are not found in the Limola language, namely, /f/, /h/, /x/, /z/, /q/, and /v/. The syllables of the Limola language are V, VK, KV, KVK, KVV. Then, the phonological process of assimilation, diphthongization, monophthongization, anaptyxis, prosthesis, epenthesis, paragoge, and zeroization is being used to demonstrate the sound changes throughout the Limola language. Keywords: conservation, phonology, the Limola language
MAKNA KOSAKATA “JATUH” DALAM BAHASA SUNDA DAN BAHASA JAWA Emma Maemunah
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i2.38.239-252

Abstract

Sundanese and Javanese language derived from the same proto language. There are many similarities in both languages. The similarities are in the form and meaning. This study discusses the form and the meaning of vocabularyof "fall" in Sundanese and Javanese. The aim of this study is to describe the form of "fall" in Sundanese and Javanese as well as the shift of meaning happened to the vocabulary. Using the comparative historical linguistics and semantics, the vocabularyof "fall" will be analyzed qualitatively. The data are list of vocabulary of "fall" in Sundanese and Javanese. Data are qualified in accordance with the objectives to be achieved. The analysis showed that the vocabulary of "fall" of Sundanese and Javanese have similarities, in both form and meaning. In addition, There are also some vocabularies which shifted (expanded and narrowed) and changed the meaning.
POTRET KONDISI SOSIAL MASYARAKAT JAWA DALAM NASKAH KETOPRAK KLASIK GAYA SURAKARTA Bagus Wahyu Setyawan; Kundharu Saddhono; Ani Rakhmawati
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i2.315.205-220

Abstract

Ketoprak merupakan seni tradisional Jawa yang lahir dan berkembang dari kalangan masyarakat, sehingga seni ketoprak sangat kental dengan nilai yang relevan dengan kehidupan masyarakat Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan mengenai potret sosial masyarakat Jawa yang tercermin dalam naskah ketoprak klasik gaya Surakarta. Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra pada naskah ketoprak klasik gaya Surakarta. Sumber data primer dalam penelitian adalah naskah ketoprak dengan judul Ronggolawe Gugur, Pandanaran Mbalela, dan Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Setelah dilakukan analisis data dapat disimpulkan bahwa dalam naskah ketoprak klasik gaya Surakarta terdapat potret sosial masyarakat Jawa yang tercermin dari kon ik dan masalah yang dibahas dalam ketiga naskah tersebut, nilai sosial yang tercermin, dan bahasa yang digunakan. Kon ik yang terdapat dalam ketiga naskah ketoprak tersebut berkaitan dengan masalah bela negara, budaya perjodohan kalangan masyarakat Jawa, nilai pertemanan, dan permasalahan kekuasaan. Dari analisis data dapat disimpulkan bahwa dalam naskah ketoprak klasik gaya Surakarta terdapat re eksi dari kehidupan sosial masyarakat Jawa ditinjau dari aspek bahasa, sistem nilai, dan permasalahan sosial yang dibahas.