cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Penilaian Resiliensi Dimensi Sosial Berdasarkan Konsep Climate and Disaster Resilience Initiative (CDRI) Mega Utami Ciptaningrum; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.56 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25028

Abstract

Banjir akibat meluapnya Kali Lamong selalu berdampak terhadap 2 wilayah perkotaan di Kabupaten Gresik, yaitu wilayah perkotaan Desa Cerme Kidul dan Desa Bulurejo.  Banjir tahun 2014 hingga 2015, telah merendam sebanyak 30 rumah, 110 ha sawah dan 105 ha tambak di Desa Cerme Kidul. Sedangkan di Desa Bulurejo, banjir telah merendam 300 rumah dan 41 ha sawah, serta merendam pasar Benjeng dan beberapa fasilitas umum. Tren dalam menghadapi bencana saat ini lebih ditekankan pada upaya peningkatan resiliensi bencana karena lebih menghemat biaya. Untuk merumuskan arahan adaptasi peningkatan resiliensi sosial yang sesuai perlu dilakukannya penilaian terhadap level resiliensi eksisting terlebih dahulu. Konsep Climate and Disaster Resilience Initiative (CDRI) dipilih untuk menilai resiliensi dalam penelitian ini karena kesesuaiannya dengan kondisi wilayah penelitian. Dimensi sosial menjadi fokus utama dalam penelitian ini karena merupakan kunci utama peningkatan resiliensi masyarakat dalam menghadapi bencana. Artikel ini merupakan bagian dari penelitian mengenai penentuan arahan adaptasi peningkatan resiliensi dimensi sosial di wilayah perkotaan desa Bulurejo dan Desa Cerme Kidul terhadap banjir luapan Kali Lamong. Melalui analisis terhadap kuesioner menggunakan skala likert dan deskriptive kualitatif diperoleh nilai resiliensi kedua wilayah perkotaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat resiliensi kedua desa tersebut termasuk dalam level tinggi. Namun Desa Cerme Kidul lebih resilien jika dibandingkan dengan Desa Bulurejo.
Arahan Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Karanggongso dan Pantai Prigi di Kabupaten Trenggalek Astarina Cleosa Damayanti; Arwi Yudhi Koswara
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.849 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25052

Abstract

Kabupaten Trenggalek merupakan Kabupaten pada pesisir selatan yang memiliki potensi wisata pantai yang besar. Pantai yang berkembang adalah pantai Karanggongso dan pantai Prigi. Kedua pantai tersebut memiliki karakteristik yang berbeda yang mengakibatkan terjadinya perbedaan jumlah kunjungan  yang signifikan. Selama ini pengembangan kepariwisataan kurang adanya keterpaduan pembangunan komponen daya tarik wisata.. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah arahan pengembangan kawasan wisata Pantai Karanggongso dan Pantai Prigi di Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini dilakukan pada 2 pantai yaitu pantai Karanggongso dan pantai Prigi. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, Delphi dan triangulasi. Hasil dari penelitian ini berupa arahan pengembangan kawasan wisata pantai Karanggongso dan pantai Prigi, yaitu pada ODTW di pantai Karanggongso diharapkan mempertahankan atraksi wisata yang ada, sedangkan pantai Prigi harus menambahkan atraksi wisata dan mempertahankan Larung Sambonyo. Pada aksesibilitas diarahkan untuk pelebaran jalan dan memperbaiki kondisi jalan. Perbaikan dan penambahan fasilitas dan infrastruktur. Aspek kelembagaan dan partisipasi masyarakat juga diperlukan demi perkembangan kawasan wisata pantai. Untuk menjaga keindahan pantai diarahkan untuk selalu menjaga kondisi lingkungan baik didarat maupun bawah laut serta pentingnya promosi wisata untuk lebih mengenalkan kawasan wisata pantai Karanggongso dan pantai Prigi.
Pandangan Terhadap Fenomena Gentrifikasi dan Hubungannya dengan Perencanaan Spasial Azka Nur Medha; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.443 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25056

Abstract

Perencanaan spasial di Indonesia bersandar pada pendekatan Rational Comprehensive Planning (RCP), yang cenderung mengasumsikan bahwa seorang perencana merupakan pihak dengan kepemilikan ilmu yang kompeten sehingga mampu merencanakan apa yang sesuai untuk masyarakat. Namun, fakta menunjukan bahwa produk perencanaan di Indonesia memperlihatkan adanya gap yang cukup besar antara pengetahuan perencana dengan masyarakat sebagai klien utama seorang perencana. Maka dari itu,  diperlukan dedikasi yang tinggi bagi akademisi untuk mengeksplor lebih dalam lagi mengenai fenomena-fenomena perkotaan yang sudah terlihat nyata keberadaannya. Artikel ini membahas suatu fenomena perkotaan yang diberi istilah gentrifikasi, dimana istilah ini masih relatif asing untuk dibahas dalam proses perencanaan di Indonesia. Gentrifikasi diyakini sebagai fenomena perkotaan yang memberikan dampak negatif pada masyarakat yang mengalaminya. Disisi lain, gentrifikasi memberikan sebuah pandangan yang meyakinkan bahwa suatu proses perencanaan yang dimiliki oleh domain publik harus memakai pendekatan-pendekatan sosial untuk menghasilkan produk perencanaan yang lebih kontekstual.
Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Subsektor Perikanan Tangkap di Pesisir Selatan Kabupaten Tulungagung dengan Konsep Pengembangan Ekonomi Lokal Marindi Briska Yusni; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.558 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25153

Abstract

Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki potensi sumberdaya lokal perikanan tangkap di wilayah pesisirnya dan memiliki peran untuk pengembangan wilayah khususnya dalam pembangunan ekonomi. Produksi perikanan tangkap yang dihasilkan oleh Kabupaten Tulungagung tergolong besar, yaitu sebesar 206.408,952 ton. Namun potensi perikanan yang besar masih belum dimanfaatkan keseluruhan oleh masyarakat dimana diketahui terdapat masyarakat yang tergolong miskin di pesisir selatan Kabupaten Tulungagung sebesar 8,60% atau 87.360 jiwa. Selain itu, jumlah keseluruhan perikanan tangkap yang mengalami proses pengolahan hanya 1.462,456 ton atau hanya sekitar 0,7% dari total keseluruhan. Untuk itu diperlukan pengembangan subsektor perikanan tangkap dengan mengoptimalkan potensi lokal melalui pendekatan pengembangan ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor apa saja yang berpengaruh untuk pengembangan subsektor perikanan tangkap di pesisir selatan Kabupaten Tulungagung dengan pendekatan PEL. Metode analisis yang digunakan untuk penelitian ini adalah confirmatory factor analysis.
Arahan Peningkatan Kualitas Lingkungan Kawasan Permukiman Kumuh Berat di Kelurahan Ciketingudik dan Sumurbatu Kota Bekasi Anindita Wilandari; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.57 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25189

Abstract

Salah satu wilayah permukiman kumuh berat di Kota Bekasi terletak di sekitar TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) Bantargebang yang termasuk ke dalam wilayah administrasi Kelurahan Ciketingudik dan Kelurahan Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang. Kekumuhan yang ada dapat dilihat dari kualitas lingkungan yang menurun serta ketersediaan infrastruktur yang tidak memadai. Berdasarkan isu tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan arahan yang tepat untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman kumuh di wilayah tersebut. Terdapat tiga metode yang digunakan yaitu (1) Delphi, untuk menganalisis variabel penyebab kumuh, (2) AHP (Analytical Hierarchy Process), untuk menentukan prioritas peningkatan kualitas variabel penyebab kumuh, dan (3) Deskriptif kualitatif, untuk menentukan arahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jaringan air bersih merupakan prioritas tertinggi dalam peningkatan kualitas lingkungan dengan arahan sebagai berikut : (a) Penutupan sumur bor yang tercemar di RW 01 Sumurbatu RT 01 – 07. Penutupan dapat dilakukan dengan cor semen, (b) Revitalisasi sumur artesis yang telah tidak berfungsi di RT 01/03 dan 02/04 Sumurbatu, dan (c) Pengadaan HIPPAM di RW 04 Ciketingudik, RW 01, 03 (RT 02 dan 05), 04 Sumurbatu
Analisis Potensi Perubahan Pemanfaatan Lahan Berdasarkan Model Spasial Harga Lahan di Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang Muhammad Ermando Nurman Sasono; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.129 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.25213

Abstract

Pembangunan interchange gerbang TOL Jombang di Kecamatan Tembelang menyebabkan harga lahan meningkat dan muncul indikasi perubahan pemanfaatan lahan. Untuk itu, pemerintah perlu mengantisipasi perubahan pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya sebagaimana yang terdapat pada rencana tata ruang. Penentuan potensi perubahan pemanfaatan lahan dilakukan berdasarkan pada model spasial harga lahan yang secara keseluruhan meliputi tiga teknik analisis. (1) Teknik analisis Delphi bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penentu harga lahan, (2) analisis regresi spasial digunakan untuk melakukan pemodelan spasial harga lahan, dan (3) analisis Query Builder menghasilkan peta potensi perubahan pemanfaatan lahan di Kecamatan Tembelang. Tiap tahapan penelitian menghasilkan luaran yang saling berkaitan. Terdapat 15 faktor penentu harga lahan yang telah konsensus dari teknik analisis Delphi dalam dua tahap iterasi. Adapun model spasial harga lahan dihasilkan dari model matematis memiliki konstanta 796.763,84565. Faktor yang berpengaruh positif dalam model tersebut yaitu jalur angkutan umum, daerah rawan banjir, fasilitas perdagangan dan jasa, jalan lingkungan, dan rencana jaringan jalan. Faktor yang berpengaruh negatif yakni fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas peribadatan, fasilitas perkantoran, jalan kolektor, kawasan permukiman, rencana kawasan industri, rencana kawasan permukiman, sungai, dan interchange gerbang TOL. Model spasial menunjukkan mayoritas harga lahan tinggi terdapat di sekitar interchange gerbang TOL dan semakin rendah di wilayah perbatasan Kecamatan Tembelang. Luas lahan di Kecamatan Tembelang menurut potensi perubahan pemanfaatannya dari lahan tidak terbangun ke lahan terbangun yang dibagi menjadi kategori tinggi, sedang, dan rendah secara berturut-turut yaitu 571,29 Ha (17%), 788,68 Ha (23%), dan 2.088,44 Ha (61%).
Keterkaitan Karakteristik Pelajar & Perjalanannya Terhadap Kesediaan Menggunakan Bus Sekolah Di Surabaya Shofia Ermirasari; Ketut Dewi Martha Erli Handayeni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.817 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25224

Abstract

Bangkitan dan tarikan lalu lintas tata guna lahan, khususnya pada kawasan pendidikan, merupakan salah satu kegiatan yang sering menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas. Penggunaan kendaraan pribadi sebagai moda menuju ke sekolah masih dominan di Kota Surabaya. Bus sekolah sebagai strategi Transport Demand Management (TDM) memberikan salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan. Kecenderungan para pelajar menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda menuju sekolah menunjukkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi pelajar dalam pemilihan moda menuju sekolah. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kajian yang mengidentifikasi karakteristik pelajar dan perjalanannya terhadap kesediaannya menggunakan bus sekolah di Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan metode analisis Crosstab. Dalam metode analisis Crosstab, karakteristik pelajar dan perjalanannya menuju sekolah akan disilangkan terhadap kesediaannya menggunakan bus sekolah, Dari hasil studi menunjukkan bahwa kesediaan menggunakan bus sekolah memiliki keterkaitan yang signifikan dengan kepemilikan kendaraan dengan nilai signifikansi sebesar 0,081 dan nilai keterkaitan sebesar 0,209 yang berarti memiliki keterkaitan yang rendah. Pemilihan bus sekolah sebagai angkutan menuju sekolah di Surabaya, besar dipengaruhi oleh penyediaan atribut pelayanan yang lebih baik dibanding angkutan pribadi.
Karakteristik Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Bahari di Kecamatan Cilandak Jakarta Selatan Endy Hernowo; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.096 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25293

Abstract

Kota layak anak menjadi salah satu program strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi DKI Jakarta 2013-2017. Kota Administrasi Jakarta Selatan telah ditetapkan sebagai salah satu wilayah pengembangan kota layak anak oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Salah satu indikator dari Kota Layak Anak adalah tersedianya ruang interaksi publik yang memadai bagi anak. Oleh karena itu, saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan perubahan besar yang bisa dilihat dengan konsep baru penyediaan ruang publik yaitu yang bernama Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik ruang publik terpadu ramah anak yang sudah terbangun. Dalam artikel ini,  RPTRA Bahari di Kecamatan Cilandak menjadi sampel lokasi dikarenakan menjadi pilot project RPTRA di wilayah Jakarta Selatan. Metode yang digunakan dengan analisis deskriptif kualitatif. Artikel ini menunjukkan bahwa ruang publik terpadu ramah anak adalah ruang publik yang memiliki fungsi beragam yang utamanya untuk pendidikan anak dengan mencoba menampilkan konsep yang berbeda dalam pembangunan taman. Ruang publik terpadu ramah anak itu adalah ruang publik yang memiliki karakteristik sebagai taman terbuka publik, wahana permainan dan tumbuh kembang anak, bagian dari prasarana dan sarana kota layak anak, ruang terbuka hijau, dan sarana kegiatan sosial.
Preferensi Pemerintah terhadap Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Malang Melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) Auliyaa Syara Diinillah; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.772 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25350

Abstract

Kota Malang memiliki presentase RTH publik yang belum memenuhi proporsi minimal RTH publik 20%. Salah satu penyebabnya adalah karena Pemerintah Kota Malang memiliki kendala keterbatasan dana APBD dalam hal pembangunan RTH publik, sehingga menjalin kerjasama dengan sejumlah pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Agar program CSR dari pihak swasta sesuai dengan kebutuhan pemerintah, maka diperlukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui preferensi Pemerintah Kota Malang terhadap pengembangan RTH publik melalui program. Preferensi terhadap pengembangan RTH publik ini ditentukan dengan menggunakan teknik content analysis. Teknik ini dilakukan dengan cara mengandalkan kode-kode yang ditemukan dalam sebuah teks perekaman data selama wawancara dilakukan dengan responden penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah preferensi pemerintah terhadap pengembangan RTH publik di Kota Malang yang terbagi atas 3 aspek, yaitu aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Dari aspek lingkungan adalah jenis hutan kota, taman kota, dan jalur hijau yang dapat dikembangkan pada lokasi potensial dipinggir Kota Malang dengan mempertimbangkan tematik pengembangan, fungsi ekologis, fungsi sosial budaya, fungsi edukatif dan fungsi estetika serta sesuai dengan aturan tata ruang yang berlaku. Dari aspek ekonomi maka bentuk bantuan yang dibutuhkan berupa pembangunan fisik RTH publik melalui mekanisme penyelenggaraan program CSR yang ada dan dilakukan oleh perusahaan yang memiliki visi dan misi dibidang lingkungan. Dari aspek sosial maka dalam merumuskan program CSR perlu peran aktif masyarakat seperti tokoh masyarakat setempat, akademisi, komunitas serta program CSR perlu dipublikasikan sebagai wujud branding Kota Malang dan stimulasi pihak swasta lain untuk terlibat.
Identifikasi Karakteristik Pengelolaan Ekowisata Mangrove Wonorejo Berdasarkan Preferensi Stakeholder Mega Widiyah Wati; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.841 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25545

Abstract

Perubahan kawasan konservasi menjadi kawasan ekowisata ternyata menimbulkan penurunan kualitas lingkungan seperti contohnya kerusakan mangrove, menurunnya hasil tangkapan ikan dan berkurangnya spesies burung peksia. Kerusakan ini disebabkan oleh pengelolaan yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan. Selain itu, pengelolaan ekowisata dianggap belum sepenuhnya melibatkan masyarakat lokal. Pelibatan masyarakat masih bersifat pasif. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik pengelolaan ekowisata mangrove wonorejo berdasarkan prinsip ekowisata. Metode yang digunakan adalah content analysis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik pengelolaan ekowisata mangrove wonorejo belum memenuhi prinsip ekowisata khususnya prinsip konservasi lingkungan dan manajemen kelembagaan. Pengelola ekowisata masih terdiri dari 3 pengelola yang tidak terkoordinasi dengan baik sehingga masih adanya konflik antar stakeholder. Karya penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengelola sehingga dapat dilakukan peningkatan kualitas pengelolaan agar ekowisata dapat berkelanjutan.