cover
Contact Name
Muhammad Aldila Syariz
Contact Email
aldilasyariz@its.ac.id
Phone
+6282131726693
Journal Mail Official
aldilasyariz@its.ac.id
Editorial Address
Geomatics Engineering's Building, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Geoid - Journal of Geodesy and Geomatics
ISSN : 18582281     EISSN : 24423998     DOI : https://doi.org/10.12962/geoid.v20i1
General topics of interest include: - Geodesy and geomatics development theory - Geodesy and geomatics applications - Natural Disaster - Land and Ocean Development - Natural Resources - Environment - Science and technology in Mapping and Surveying - Earth Sciences A further issue related to geodesy and geomatics engineering such as: - Optical Remote Sensing and Radar Remote Sensing - Cadastre and 3D Modeling - Geodynamics theory and application - Geospatial - Land Surveying - Geomarine - Photogrammetry
Articles 504 Documents
Kesesuaian Penggunaan Lahan di Kota Metro Terhadap Pola Ruang Rahmadi, Eko; Dewi, Citra; Anisa, Rahma; Fajriyanto , Fajriyanto
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1773

Abstract

Perkembangan perekonomian di Kota Metro yang didominasi bidang industri, jasa dan pertanian berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan akan lahan. Pemenuhan kebutuhan akan lahan yang berimplikasi dengan kondisi ekonomi pada tingkat kabupaten/kota membutuhkan penggunaan lahan yang selaras dengan acuan yang ada agar mencapai tujuan pembangunan. Penelitian ini dilakukan dengan mengolah data citra landsat 8 menggunakan metode klasifikasi terbimbing dan pengujian hasil klasifikasi dengan menggunakan matriks konfusi. Proses analisis kesesuaian penggunaan lahan terhadap pola ruang dilakukan dengan menggunakan teknik overlay. Hasil penelitian menunjukkan kelas penggunaan lahan terdapat 4 kelas yaitu pemukiman, pertanian, tanah terbuka dan tubuh air. Luas penggunaan lahan yang sesuai dengan pola ruang sebesar 5416,75 Ha, sedangkan luas penggunaan lahan yang tidak sesuai sebesar 1457,25 Ha.    Kata kunci: kesesuaian lahan; penggunaan lahan; pola ruang
Pembuatan Model 3D Bangunan LoD3 Dengan Pemanfaatan Foto Udara dan Fotogrametri Terrestris Apriansyah, Muh; Harintaka, Harintaka
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1774

Abstract

Foto udara maupun fotogrametri terrestris yang merupakan teknologi dari fotogrametri dapat digunakan untuk pemodelan 3D. Untuk menampilkan sebuah informasi secara visual yang mengutamakan nilai estetika dan bentuk ojeknya. Fotogrametri telah lama digunakan untuk dokumentasi bangunan dan benda cagar budaya. Teknik ini memungkinkan untuk membuat model 3D dari foto 2D, dan dengan demikian sangat berguna dalam visualisasi detail arsitektur suatu bangunan atau gedung. Pada penelitian ini, dilakukan pemodelan bangunan 3D di wilayah Asrama Putri Ratnaninngsih Kinanti Universitas Gadjah Mada menggunakan metode kombinasi foto udara dan fotogrametri terrestris dengan memanfaatkan teknologi SfM (structure from motion). Point cloud diperoleh dari pengolahan foto udara dan fotogrametri terrestris. Kamera yang terpasang pada wahana udara yang digunakan untuk mengakuisisi data foto memungkinkan untuk mengakuisisi bagian bangunan seperti atap dan detail bangunan atau bagian gedung yang tidak memungkinkan menggunakan fotogrametri terrestris. Point cloud yang diperoleh dari hasil pengolahan SfM digunakan untuk melakukan pemodelan 3D dengan melakukan digitasi manual setiap elemen bangunan seperti jendela,pintu, lorong dan elemen bangunan lainya sesuai batasan tepi pada point cloud. Model 3D bangunan yang berhasil dimodelkan dari 1201 foto dan 19 buah sebaran titik kontrol tanah, apabila dilihat secara visual serupa dengan model dan bentuk obyek yang sebenarnya. Fasad yang terbentuk dari pemodelan hampir mengikuti model aslinya seperti pintu, jendela, lorong, dan teralis dapat terlihat pada model 3D. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini memberikan hasil yang baik. Model 3D yang dihasilkan dari penelitian ini memiliki ketelitian posisi geometri sebesar 8,843 cm dan ketelitian tinggi (H) 5,377 cm, ketelitian dimensi sebesar 11,120 cm dengan kelengkapaan semantik bangunan yang sesuai dengan bangunan aslinya. Proses pemodelan 3D secara otomastis menggunakan teknologi SfM (Structure from Motion) tersebut menghasilkan model bangunan 3D dalam Level of Detail (LoD) 3 dengan nilai Root Mean Square Error < 0,5 meter berdasarkan standar City Geography Markup Language (CityGML).
Kajian Terhadap Aspek Geospasial Kabupaten dan Kota yang Bercirikan Kepulauan di Indonesia Putri , Debi Nadia; Arsana, I Made Andi
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1775

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara kepulauan (archipelagic state) yang memiliki kondisi geografis sangat strategis. Luas wilayah perairan Indonesia terbagi menjadi perairan kepulauan dan perairan pedalaman yang memiliki luas 3.092.085 km2, laut teritorial memiliki luas 282.583 km2, untuk zona ekonomi eksklusif seluas 2.936.345 km2 dan luas landas kontinen Indonesia yaitu 2.749.001 km2. Dengan demikian Indonesia memiliki total wilayah laut seluas 3.223.137 km2 dan luas daratan sebesar 1.890.739 km2. Jumlah pulau yang ada di Indonesia dan sudah terverifikasi pada tahun 2017 tercatat sebanyak 16.056 pulau. Pulau-pulau dan ruang laut tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak luput dari pengelolaan dan tanggung jawab pemerintah Indonesia. Meskipun demikian, jumlah dan posisi pulau serta jarak antar pulau seringkali menjadi kendala dalam pembangunan sehingga menyebabkan tidak meratanya pembangunan yang ada di Indonesia khususnya pada daerah pulau-pulau kecil dan pulau-pulau terluar. Hal ini memerlukan perhatian dan langkah khusus agar isu ketidakmerataan pembangunan bisa diatasi, salah satunya dengan memberi kewenangan kepada pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan. Undang-Undang No 23/2014 pasal 14 menyatakan bahwa “daerah kabupaten/kota yang memiliki hasil laut mendapatkan pembagian hasil laut yang berada dalam batas wilayah 4 mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas atau kearah perairan kepulauan”. Hal ini menegaskan bahwakewenangan pengelolaan pulau-pulau dan wilayah laut diserahkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota. Pada proses pengelolaannya, daerah yang memiliki wilayah laut luas dengan banyak pulau tentunya berbeda dengan daerah yang tidak memiliki wilayah laut dan pulau-pulau. Karena kompleksitasnya, perlu dilakukan pengelolaan khusus untuk daerah yang memiliki laut dan pulau-pulau yang diistilahkan dengan “Bercirikan Kepulauan”. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi daerah kabupaten/kota yang bercirikan kepulauan berdasarkan aspek geospasialnya. Analisis dilakukan mulai dari 1) menentukan batas daerah laut 2) menghitung luas wilayah laut dan daratan 3) mengitung jumlah pulau dan gugusan pulau yang ada disetiap kabupaten/kota. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu kabupaten/kota yang memenuhi syarat secara geospasial sebagai daerah kepulauan yaitu sebanyak 66 kabupaten/kota.
Literature Review: Pengaruh Administrasi Pertanahan dalam Penilaian Tanah Deviantari, Udiana Wahyu; Djurdjani, Djurdjani
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1776

Abstract

Sistem Administrasi Pertanahan dalam suatu negara dapat menentukan infrastruktur dalam mengimplementasi kebijakan pertanahan dan strategi pengelolaan pertanahan. Pentingnya tanah sebagai faktor produksi dan bahan untuk pembangunan menyoroti peran administrasi tanah dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Pajak tanah merupakan instrumen yang dapat memberikan manfaat untuk pembangunan perkotaan. Dalam menentukan pajak tanah harus memadai, efisien dan adil. Permasalahan perpajakan properti adalah dalam pengenaan pajak properti yang dinilai terlalu rendah, dan pemungutan pajaknya yang kurang baik. Permasalahan tersebut akibat dari administrasi pertanahan yang tidak efisien, yaitu kurangnya transparansi informasi pertanahan. Tujuan dalam makalah adalah kajian literatur review mengenai pengaruh administrasi tanah dalam penilaian tanah di Indonesia. Dalam evaluasi administrasi tanah dalam penilaian tanah di Indonesia berdasarkan kelembagaan, hak atas tanah dan properti, penilaian tanah dan properti, kriteria penentuan pajak tanah. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa perlu adanya perangkat untuk standarisasi dan integrasi data, dalam hal ini adalah ISO 19110. Dan dalam proses penentuan pajak tanah dapat di kombinasikan dengan pemodelan yang dapat digunakan untuk memprediksi nilai pajak tanah dan properti serta melakukan otomatisasi dalam perhitungan NJOP.
Studi Ketelitian Planimetris dan Luas Hasil Foto Udara Unmanned Area Vehicle (UAV) Guna Menunjang Kegiatan Pendaftran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) (Studi Kasus : Desa Candi Laras Selatan dan Desa Baringin B, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan) Hariyanto, Teguh; Pakaya, Ihsan
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1777

Abstract

Program percepatan sertipikat Hak Atas Tanah melalui Program Pendaftaran Tanah Sistem Lengkap (PTSL), tengah digencarkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun 2017-2025. Program ini diharapkan akan mampu memecahkan konflik pertanahan yang ada di Indonesia serta mampu mendorong pergerakan dan kemajuan ekonomi masyarakat. Masih banyak bidang-bidang tanah yang belum terpetakan di setiap Kantor Pertanahan di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, dibutuhkan metode pengukuran dan pemetaan bidang tanah yang efektif dan efisien untuk menunjang program pemerintah tersebut.Salah satu metode yang dapat digunakan selain pengukuran terestris adalah metode fotogrametri menggunakan wahana pesawat tanpa awak atau biasa disebut Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Pengujian ketelitian geometri dilakukan dengan berpedoman pada peraturan BIG Nomor 6 Tahun 2018 tentang Perubahan Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 15 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar. Sedangkan pengujian ketelitian planimetrik dilakukan dengan membandingkan luas serta jarak dari sampel bidang tanah antara hasil pengukuran UAV dengan hasil pengukuran Pendaftaran Tanah Sistem Lengkap (PTSL) yang berpedoman pada Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. Hasil dari orthorektifikasi foto udara digunakan untuk menganalisis perbedaan luas dan jarak antara data pengukuran di lapangan dengan delineasi pada foto udara.Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 6 tahun 2018 mengenai Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar, akurasi geometrik yang dihasilkan berdasarkan ICP dengan nilai akurasi horizontal (CE90) yaitu sebesar 0,076 meter dan nilai akurasi vertikal (LE90) sebesar 0,108 meter memenuhi klasifikasi ketelitian geometri peta RBI skala 1:1000 kelas 3 dengan nilai CE90 kurang dari 0,9 meter dan nilai LE90 kurang dari 0,4 meter. Nilai RMSE berdasarkan pada Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar Pendaftaran sebesar 0,285 meter dan memenuhi skala 1:1000 dimana besar toleransi yang diberikan yaitu lebih besar atau sama dengan 0,3 mm pada skala peta. Hasil perbandingan luas berdasarkan pada Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun pada 16 bidang permukiman 13 bidang (81,25%) memenuhi toleransi, dari 12 bidang persawahan dan menunjukkan 7 bidang (58,33%) memasuki toleransi dan dari 8 bidang hanya 1 bidang (12,5%) yang memenuhi toleransi.
Analisis Hasil Identifikasi Persebaran Mangrove Berdasarkan Algoritma Normalized Difference Vegetation Index dan Mangrove Vegetation Index Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2 (Studi Kasus: Taman Nasional Alas Purwo) Hariyanto, Teguh; Pribadi, Cherie Bhekti; Atsilah, Inas Safitri
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1778

Abstract

Penginderaan jauh merupakan teknologi yang umum digunakan dalam pengamatan dan pemetaan area mangrove dengan cepat. Dalam pemrosesannya, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) adalah algoritma yang sering digunakan di Indonesia dan bekerja dengan mengidentifikasi indeks densitas kanopi vegetasi. Mangrove memiliki kenampakan kanopi yang unik sehingga dapat diidentifikasi menggunakan NDVI, namun vegetasi lain dengan kanopi rapat dapat memiliki nilai indeks NDVI yang sama dengan mangrove. Sehingga akan menimbulkan kesalahan identifikasi dan terjadinya penurunan kualitas hasil penelitian. Hingga pada tahun 2020, terdapat algoritma baru khusus mangrove dengan nama Mangrove Vegetation Index (MVI). MVI merupakan algoritma yang memiliki karakteristik yang berbeda untuk jenis hutan mangrove riverine dan fringe. Indonesia memiliki area mangrove mencakup kedua jenis hutan mangrove tersebut, yaitu pada area mangrove di Kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Oleh karena itu, dilakukanlah penelitian ini dengan lokasi studi berada di Taman Nasional Alas Purwo. Dengan menggunakan data citra satelit Sentinel-2 Level 2A, penelitian dilakukan untuk membandingkan hasil dari algoritma NDVI dan MVI terhadap data tersebut. Cakupan area mangrove diketahui dengan melakukan klasifikasi terbimbing metode CART yang menghasilkan data raster hasil klasifikasi area mangrove dengan nilai akurasi mencapai 96,10%, dengan luas area mangrove teridentifikasi mencapai 1583,914 Ha. Transformasi algoritma NDVI dan MVI dilakukan pada hasil klasifikasi, sehingga diperoleh nilai luasan mangrove teridentifikasi dari algoritma NDVI sebesar 1684,370 Ha dan sebesar 1501,808 Ha dari algoritma MVI. Kemudian dilakukan uji validasi dengan metode overlay dari hasil transformasi tersebut yang menunjukkan kesesuaian dalam penggunaan algoritma NDVI sebesar 32,1% pada bagian utara AOI, dan 21,3% untuk bagian selatan. Sedangkan, pada penggunaan algoritma MVI menunjukkan kesesuaian dalam kategori sesuai mencapai 40,9% untuk bagian utara, dan 15,5% untuk bagian selatan AOI.
Monitoring of Lake Water Quality Through Streamlit Web Application (Case Study: Lake Matano And Lake Towuti, South Sulawesi) Jaelani, Lalu Muhamad; Pangestu, Martanti Aji
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1779

Abstract

The Indonesian government, through the National Medium Term Development Plan (RPJMN) 2015-2019, stated that water reservation, including the function of lakes, is one of the priorities. Lakes are not only functioned to maintain the ecological balance but also to provide water, protein, mineral, energy sources, and even tourism to support the community's economic growth. Lake Matano and Lake Towuti are designated as Nature Tourism Park areas. However, the lakes' environment is starting to be damaged. The damages exist in areas such as water-absorbent areas, lake borders, and lake waters. In addition, these damages increase the disaster risk. Therefore, to maintain the lake's sustainability, it is necessary to conduct research on the parameters of the condition of the fertility level of the lake waters. One of the parameters of the fertility level of the waters is chlorophyll-a. In the previous studies, observations of chlorophyll-a in Lake Matano and Lake Towuti have been carried out using Landsat-8. However, with these observations, a chlorophyll-a had not properly been monitored by using an application through web-based satellite imagery using web applications using the primary python programming language. The data for processing chlorophyll-a itself are obtained through the geemap library. Chlorophyll-a itself was processed using the existing algorithm. The current web application displays several features, namely the web application information and the results of the chlorophyll-a map. The results of the estimated value of chlorophyll-a range from 0 - 0.6 mg/m3. The minimum value of chlorophyll-a was found in 2014 which was 0.4 mg/m3, while the highest value of chlorophyll-a was found at 0.6 mg/m3 in 2016. The results of this chlorophyll-a analysis was categorized into oligotrophic waters with low fertility.
Analisa Sebaran Sedimentasi di Waduk Selorejo dengan menggunakan Data Single Beam Echosounder Khomsin, Khomsin; Pratomo, Danar Guruh; Hariyanto, Teguh; Pribadi, Cheri Bhekti; Nugraha, Aditya
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1780

Abstract

Waduk Selorejo sebagai salah satu waduk destinasi wisata dari Perum Jasa Tirta I serta salah satu sumber air bagi masyarakat Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Dari waktu ke waktu, sungai-sungai yang berada di sekitar waduk membawa material sedimen (lumpur, pasir, kerikil, dan lainnya) yang menyebabkan pendangkalan (sedimentasi). Maka dari itu perlu dilakukan penelitian berupa pemetaan batimetri Waduk Selorejo yang diharapkan dapat menjadi acuan dan pertimbangan bagi pihak Perum Jasa Tirta I terkait untuk perlindungan dan pemeliharaan area sekitar Waduk Selorejo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Data yang digunakan diambil secara langsung menggunakan SBES (Singlebeam Echosounder) HD-370 yang dihubungkan dengan GNSS Hi-Target V60. Setelah dilakukan koreksi kedalaman, diketahui bahwa Waduk Selorejo saat proses pemeruman memiliki kedalaman minimum -9 m dan kedalaman maksimum -29 m dengan luas 86,40 ha. Fitur bawah air yang ada pada Waduk Selorejo adalah gundukan pertama yang terletak pada koordinat Easting dan Northing berturut-turut 649798,65 m;9129962,53 mdengan ketinggian 6 m kemiringan 10,96º, serta gundukan kedua yang terletak pada koordinat Easting dan Northing berturut-turut 649915,00 m;9129792,61 m serta memiliki ketinggian 18,51 m, kemiringan 19,13º pada bagian atas dan kemiringan 8,28º pada bagian bawah. Selain itu juga dilakukan pengambilan sedimen menggunakan grab sampler. Berdasarkan uji lab terhadap 20 sampel sedimen yang telah diambil, diketahui Waduk Selorejo didominasi oleh tipe sedimen silt (lanau, sebuah sedimen yang diendapkan oleh air) dengan nilai rata-rata 72,90%. Jenis sedimen lain yang terdeteksi yakni sand (pasir) dengan nilai rata-rata 18,05% dan clay (tanah liat) dengan nilai rata-rata 9,04%. Diketahui juga Waduk Selorejo mampu menampung air dengan volume maksimum 13.731.709,38 m3 pada kedalaman maksimum 50 m.
Analisis Perubahan Indeks Kekritisan Lingkungan Dengan Algoritma Environmental Criticality Index Menggunakan Citra Satelit Landsat 8 OLI/TIRS (Studi Kasus : Kota Bandung) Sukojo, Bangun Muljo; Hauzan, Naufal Shidqi
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1781

Abstract

Kekritisan Lingkungan merupakan rasio suhu permukaan tanah dengan ketersediaan tutupan vegetasi di sebuah area. Jika suhu sebuah area terbilang tinggi dan terdapat sedikit tutupan vegetasi pada area tersebut, maka area tersebut merupakan area dengan kualitas lingkungan yang rendah atau kritis. Faktor utama terjadinya kekritisan lingkungan adalah telah terjadinya fenomena Urban Heat Island. Kota Bandung merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Barat dan kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di Provinsi Jawa Barat. Fenomena UHI juga sudah terjadi di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk membahas kekritisan lingkungan Kota Bandung terutama pada tahun 2017-2021. Metode penelitian ini adalah menggunakan algoritma Environmental Criticality Index (ECI) dan teknologi penginderaan jauh berupa citra Landsat 8 OLI/TIRS untuk memperoleh indeks kekritisan lingkungan. ECI akan dihitung dengan memanfaatkan 4 (empat) variabel, yaitu Land Surface Temperature (LST), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Normalized Difference Built-Up Index (NDBI), dan Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI). Hasil penelitiannya adalah terjadinya kenaikan luas pada kelas tidak kritis sebesar 2,607 km², penurunan luas pada kelas kritis tingkat rendah sebesar 8,205 km², kenaikan luas pada kelas kritis tingkat sedang sebesar 9,63 km², dan penurunan luas pada kelas kritis tingkat tinggi sebesar 4,461 km². Secara keseluruhan, Kota Bandung mengalami kenaikan luas area tidak kritis sebesar 2,608 km² dan penurunan luas area kritis sebesar 3,037 km² dalam periode tahun 2017-2021.
Pemanfaatan Citra Sentinel-2 Untuk Analisa Perubahan Tutupan Lahan Akibat Erupsi Gunung Semeru Tahun 2021 Arafah, Feny; Tenis, Godlif Aristo
GEOID Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v18i2.1782

Abstract

Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada tanggal 04 Desember 2021 mengakibatkan kerusakan dan kerugian yang cukup besar di Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Kerusakan dan kerugian tersebut bisa diidentifikasi dengan melakukan analisa perubahan tutupan lahan menggunakan data citra satelit Sentinel-2 tahun 2021 (sebelum erupsi) dan 2022 (setelah erupsi) serta data survei kawasan yang terdampak erupsi Gunung Semeru yang dilakukan tahun 2022. Hasil dari proses klasifikasi adalah 7 kelas tutupan lahan yang meliputi hutan, semak belukar, sawah, sungai, lahan terbuka, pemukiman dan kebun campur. Dalam penelitian ini diperoleh hasil tutupan lahan secara keseluruhan sebelum maupun setelah erupsi adalah kelas hutan dan semak belukar mendominasi hampir sebagian besar wilayah di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo, sedangkan kelas sungai mempunyai luasan paling kecil namun justru mengalami perubahan yang cukup besar akibat aliran lahar dingin erupsi. Di Kecamatan Candipuro hanya tutupan lahan hutan yang mengalami penurunan luasan paling besar yaitu 1.278,340 ha dan sungai mengalami panambahan luasan cukup besar yaitu 284,364 ha, sedangkan tutupan lahan yang lainnya relatif stabil. Di Kecamatan Pronojiwo hampir seluruh tutupan lahan mengalami perubahan yang besar karena berada tepat di kaki Gunung Semeru. Namun perubahan paling besar terdapat di kelas semak belukar yang mengalami penurunan luasan 429,779 ha dan kelas sungai mengalami penambahan luasan 53,095 ha.