cover
Contact Name
I Gede Arya Juni Arta
Contact Email
widya.katambung.ojs@gmail.com
Phone
+62811394042
Journal Mail Official
widya.katambung.ojs@gmail.com
Editorial Address
Jalan G. Obos X Kelurahan Menteng Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Widya Katambung Jurnal Filsafat Agama Hindu
ISSN : 20896662     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Widya Katambung is scientific journal published by LPPM of the State Hindu Institute of Religion Tampung Penyang, Palangka Raya. This journal presents academic articles discussing developments and research findings in the fields of philosophy and Hinduism. It is published twice a year, in June and December. Editorial team Jurnal Widya Katambung accept submissions of manuscripts related to philosophy and Hinduism that have never been published in other media. The editors team reserve the right to edit manuscripts as long as they do not alter the essence of the content. The scope of this journal is as follows: Hindu Philosophy, Nusantara Philosophy, Western Philosophy, Hindu Religion.
Articles 35 Documents
STUDI KOMPARASI KONSEP TUHAN MENURUT BARUCH DE SPINOZA DAN KARL THEODOR JASPERS Siswadi, Gede Agus
Widya Katambung Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v15i2.785

Abstract

Recognizing God in empirical knowledge is indeed very difficult and even impossible to understand the reality of God. Philosophers and theologians both have different understandings of God, so that from the time of Ancient Greece to modern human civilization, there is no agreement about God. Various views of God emerged along with the development of human thought. Various characters appear with different concepts. This research focuses on examining the thoughts of Baruch de Spinoza and Karl Theodor Jaspers. This research uses a philosophical hermeneutic method. The results of this research are as follows: according to Spinoza, God is a single substance and has many attributes, everything in this universe comes from God. Spinoza also thought that the universe was identical with God. Meanwhile, according to Jaspers God is a mystery and transcendence. God can only be trusted, but cannot be recognized as an empirical object. God also cannot be reached by logical thinking. God can only be understood as a metaphysical reality.
EKSISTENSI PURA LANGGAR SEBAGAI ANALISIS PENDIDIKAN MULTIKUKTUR DI BALI Paramita, Agung Agung Gde Krisna; Linda Dewi, Dewa Ayu Kade; Arsana, Dewa Nyoman
Widya Katambung Vol 14 No 1 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i1.973

Abstract

Temple as a place of worship for Ida Sang Hyang Widhi Wasa is one of the ways to foster a sense of devotion and establish a relationship with God Almighty in the form of soul or niskala. The existence of God in the form of a soul and niskala needs to be manifested in the human mind because without that manifestation the human mind will not be directed and not steady enough to worship Him. Bali is an island of a thousand temples, one of which is a temple that has an existence in the era of globalization, namely Pura Langgar which is in Pakraman Bunutin Village, Bangli Regency, Bali Province. Pura Langgar is one of the characteristics of multicultural education in the religious life of Hindus and Muslims. Langgar Temple was formerly a Langgar, a place of prayer for Muslims. But the empress died, so a temple was built in that place with the name Pura Langgar. Where residing there is Ida Bhatara Pedanda Ratu. Because it is related to the Islamic religion, the ceremony does not use pork as a complement to the ceremony, but only ducks and chickens are sufficient.
Prananan Caru dalam Upacara Pembersihan di Kabupaten Pulang Pisau Wiranata, Anak Agung Gede
Widya Katambung Vol 14 No 1 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i1.986

Abstract

Dalam pelaksanaan Upacara bagi Umat Hindu terdiri dari tiga kerangka dasar sebagai berikut : tattwa (filsafat), etika (tata susila), dan ritual (upacara yadnya). Ketiga kerangka tersebut merupakan landasan bagi umat Hindu dalam usahanya untuk mencapai ketenangan dan ketentraman. Kerangka dasar ini merupakan satu kesatuan yang saling memberikan fungsi atas sistem agama secara keseluruhan. Berbagai yadnya (pengorbanan) yang dilakukan oleh umat Hindu untuk mencapai moksa (kebahagiaan yang bersifat kekal dan abadi) untuk menciptakan jagadhita (dunia) berdasarkan dharma (kebenaran). Buku ini menguraikan tentang pentingnya upacara yang dilaksanakan dengan hati yang tulus ikhlas berlandaskan srada dan bakti pada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Caru adalah merupakan pelaksanaan dari pada Bhuta Yadnya yaitu salah satu bagian dari Panca Yadnya. Beberapa sumber kitab suci seperti Agastya Parwa, kitab Sarasamuscaya, kitab Manawa Dharmasastra dan Kitab Ramayana menyebutkan bahwa upacara caru yang termasuk Bhuta Yadnya yang mengandung makna korban suci yang tulus ikhlas kepada sekalian mahluk – mahluk bawahan, baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman – ketentraman alam semesta. Tujuan dari upacara Bhuta Yadnya atau caru ini untuk memohon adanya kenyamanan dan ketentraman yang langgeng serta dapat menjalin hubungan yang harmonis dan dapat berdaya guna. sebagai organisasi musyawarah untuk mufakat, selalu menyediakan diri untuk mengadakan dialog atau musyawarah dengan tokoh-tokoh dalam melaksanakan kegiatan upacara yadnya apapun baik sekala besar maupun kecil ini tidak terlepas dari kerjasama dengan masyarakat. Memupuk rasa kekeluargaan dan solidaritas dalam kebersamaan terhadap masyarakat desa.
Nilai Sosial dalam upacara perkawinan Umat Hindu Kaharingan di Desa Jaman Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara Propinsi Kalimantan Tengah Handoko, Handoko
Widya Katambung Vol 14 No 1 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i1.995

Abstract

Kalimantan tengaah terdiri dari berapa adat tradisi budaya yang turun temurun dilaksanakan pada masyarakat. Pelaksanaan upacara-upacara ritual Keagamaan merupakan salah satu kekayaan budaya yang ada di Kalimantan Tengah sangat perlu di pertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan, dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh iman dan taqwa. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat dalam menjalankan kehidupannya itu mulai dari sejak dalam kandungan, ia lahir hingga dewasa dan sampai pada ia kembali Tuhan Yang Maha Esa, selalu dilaksanakan dengan dengan upacara Ritual Keagamaan.Salah satu upacara Ritual Keagamaan yang selalu dilaksanakan dan perlu dipertahankan adalah Upacara Ritual Keagamaan Perkawinan Masyarakat Kalimatan Tengah (Dayak) yang mendiami Daerah Kabupaten Barito Utara merupakan penduduk asli yang telah turun tumurun mendiami wilayah tersebut. Selama berabad-abad mereka hidup dengan budaya dan tradisi serta keyakinan yang mereka laksanakan secara turun-temurun. Dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, mereka selalu
RITUAL WARA DALAM PERSPEKTIF PANATURAN DI KECATAMAN DUSUN TENGAH KABUPATEN BARITO TIMUR yoppie, yoppie choy
Widya Katambung Vol 14 No 1 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i1.996

Abstract

Tujuan dari ajaran agama Hindu yaitu tercapainya kebahagiaan lahir dan batin di dunia maupun di akhirat. Untuk mencapai tersebut, maka setiap umat Hindu dituntut untuk selalu berusaha meningkatkan Sradha dan Baktinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setiap umat Hindu dimanapun berada memiliki tujuan yang sama, begitu juga umat Hindu di Kalimantan Tengah.Bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan khususnya Dayak Lawangan, bahwa Ritual Wara merupakan suatu kegiatan yang sudah turun-temurun sehingga menjadi suatu kewajiban yang harus dijalankan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek yang dilakukan pada penelitian ini yaitu masyarakat di Kecamatan Dusun Tengah. Objek penelitian yang digunakan yaitu masyarakat Hindu Kaharingan di Kecamatan Dusun Tengah. Adapun teknik pengumpulan datanya terdiri dari teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Hasil dari penelitian ini sesungguhnya proses pelaksanaan wara yang dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Dusun Tengah terdapat kesamaan tujuan dari pelaksanaannya seperti yang tertulis dalam Kitab Suci Panaturan, antara lain Wara merupakan suatu upacara ritual kematian bagi agama Hindu Kaharingan yang ada di wilayah Kalimantan Tengah terdapat pada suku Dayak Lawangan, Dusun, Taboyan dan Pasir Kanilu. Dengan tujuan untuk mengantar roh yang meninggal ke Gunung Lumut (tempat roh orang yang meninggal tahap pertama sebelum mencapai alam leluhur atau Lewu Tatau; menjadi Ju’us Kelalungan Aning Kalalio) yang dilaksanakan para balian wara. kaitannya pada kitab suci panaturan sama dengan Ritual Tantulak Ambun Rutas Matei dan Ritual Tiwah pada suku Dayak Ngaju.
TIRTA DALAM UPACARA PITRA YADNYA UMAT HINDU DI DESA BATU PUTIH KECAMATAN DUSUN TENGAH KABUPATEN BARITO TIMUR (Kajian Sosio Religius) govinda, ardika
Widya Katambung Vol 14 No 1 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i1.998

Abstract

Tirta or holy water is the main means of religious ceremonial activities for Hindus, as well as believed to be a medium of cleansing (pemarisudha) divine grace water (wangsuh pada) as holy water called tirta. In the context of yadnya the use of tirta as a means of pitra yadnyaceremony because of its function and meaning, then tirta in the pitra yadnya ceremony is studied using a socio-religious perspective that is routinely used by Hindus. The problem of what tirta is used in the pitra yadnya ceremony and how socioreligious tirta is in the pitra yadnya ceremony for Hindus in Batu Putih Village, Central Hamlet District, East Barito Regency, is analyzed using phenomenological and religious theories.Qualitative data on tirta used and reviews from socio-religious perspectives sourced from primary data and skunder data obtained by data collection techniques using observation, interviews and documentation analyzed using analytical methods when researching, reducing data, presenting and drawing conclusions.The result of the study is that water that has been matrai by Sulinggih or Regent is called tirtha "penglukatan" or cleansing of oneself as well as a medium for cleaning the facilities and infrastructure of the pitra yadnya ceremony requested in pelinggih or places considered sacred by Hindus. This kind of tirtha tirta "grace" because of its purity or spiritual power is believed to come from Ida Sang Hyang Widhi Wasa/God Almighty in His various manifestations worshipped at pelinggih or holy places. Socio-religious studies and religious analysis of water as a symbol of physical and spiritual purification (tirtha), called amertha, is as the water of life, has a meaningful role and position in all spheres of life. Tirta has an important position and role in implementing the form of sacrifice (yadnya), tirta or holy water is a means that implications for the coolness of life both individually and in groups, so that this implementation will give birth to good thoughts, good words and good deeds in a directed manner in carrying out life.
Arak Bali Dalam Kehidupan Masyarakat Karangasem Bali Perspektif Sosioreligius Putra, I Wayan Sunampan
Widya Katambung Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i2.1067

Abstract

Arak Bali merupakan salah satu kebudayaan Bali yang di dalamnya terdapat kebudayaan universal. Baik halnya sistem kepercayaan, sistem sosial, sistem pengetahuan, teknologi, sistem ekonomi, bahasa dan kesenian. Namun dalam perkembangannya, arak Bali memperlihatkan adanya kontradiksi. Kontradiksi yang terlihat yakni memiliki dua sisi yang bertentangan baik yang bersifat positif maupun negatif sebagai sistem kebudayaan. Namun dibalik kontradiksinya, arak Bali tetap eksis dalam kehidupan masyarakat Bali. Adapun alasan mengapa arak Bali masih bisa eksis yakni karena adanya faktor teologis, faktor sosiologis dan faktor ekonomi. Penggunaan arak Bali dalam masyarakat biasanya digunakan sebagai pendukung aktivitas reitual. Digunakan sebagai perekat hubungan solidaritas. Dari penggunaannya, maka arak Bali tentu berimplikasi terhadapa kebudayaan Bali, yakni implikasi dalam aspek teologis. Implikasi terhadap hubungan sosial, dan implikasi terhadap perekonomian masyarakat.
Tri Hita Karana Dalam Upacara Memapas Lewu Di Pura Salipaseban Batu Tangkiling (Kajian Bentuk Fungsi Dan Makna) Nurlensi, Nurlensi
Widya Katambung Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i2.1098

Abstract

Tujuan/ maksud penelitian atau gambaran penelitian sekarang dengan terdahulu, Ajaran Tri Hita Karana ini adalah manusia. Karena kalau terbangun hubungan vang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungannya. Sedangkan menurut Deselinga Mamapas Lewu berasal dari bahasa dayak Ngaju, Mamapas berati menyapu dan lewu berati membersihi Kampung atau kota tempat tinggal manusia. jadi mamapas lewu berati sebagai upacara membersihkan kampung atau membersihkan kota tempat tinggal, dengan kata lain Mamapas Lewu sama dengan Upacara tolak bala. Upacara Mamapas Lewu dapat dilakukan karenaUntuk Mensejaterakan dan meselaraskan alam baik dalam bentuk yang kecil maupun dalam bentuk yang sangat besar ini juga dapat dilaksanakan oleh Masyarakat kampung atau kota atau juga membayar ajat atau niat kita jika keingginan tercapai, upacara ini dilakukan oleh masyarakat menyakininya. Metode yang digunakan metode kualitatip karena karena sumber yang didapatkan melalui wawancara yang menjadi simple dalam tulisan ini adalah beberapa tokoh Masyarakat dan buku – buku yang menjadi rujukan dalam tulisan ini.
SENI DALAM UPACARA DEWA YADNYA UMAT HINDU DI KOTA PALANGKA RAYA Wiranata, A.A Gede; Sarma, Nyoman
Widya Katambung Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i2.1123

Abstract

Seni memiliki posisi yang sangat mendasar karena dalam upacara tidak terlepas dari seni begitu juga dengan kehidupan masyarakat tidak terlepas dari dunia seni, Seni erat kaitannya dengan kegiatan, upacara menciptakan atau mewujudkan sesuatu berupa ide, gagasan, pengalaman, pengetahuan yang perwujudannya harus memenuhi nilai estetika. Estetik atau estetika sering dihubungkan dengan cabang ilmu “filsafat” tentang keindahan yaitu teori keindahan yang menerangkan serta membahas tentang keindahan tersebut. Sedangkan seni yang digunakan oleh umat Hindu dipalangka raya banyak mengunakan berbagai seni yang berkaitan dengan Upacara dari urain latar belakang diatas penulis sangat tertarik untuk mengangkat sebuah tulisan dengan judul Seni dalam Upacara dewa yadnya Umat Hindu di Kota Palangka Raya. Sedankan Konsep Yang digunakann yang digunakan dalam tulisan ini adalah Konsep Seni, Upacara Dewa yadnya, Umat Hindu. Seni Sebagai Simbol Satyam, Siwam Sundharam dilaksanakan oleh umat Hindu yang ada di kota palangka raya maka sekecil apapun pelaksanaan ritual tidak bisa terlepas dari aktivitas seni dan budaya yang mendukungnya. Jika dicermati apa yang dilakukan umat Hindu di dalam melaksanakan aktivitas ritual keagamaan yang seolah manunggal dengan berbagai aktivitas seni dan budaya, sehingga sulit ditafsirkan mana aktivitas seni, budaya dan agama. Hal ini disebabkan oleh karena di dalam setiap aktivitas ritual keagamaan yang dilaksanakan oleh umat Hindu selalu dibarengi dengan berbagai aktivitas seni dan budaya. Jika disimak secara mendalam maka bisa dikatakan bagi umat Hindu bahwa seni dan budaya itu adalah merupakan salah satu alat atau media pelaksanaan ajaran agama yang disajikan dan dipersembahkan secara tulus ikhlas oleh umat Hindu melalui konsep “ Ngayah atau gotong Royong, jika ada seorang seniman yang mau menari, menabuh atau apapun bentuknya maka kita akan selalu mendengar kata “ Ngayah ini bisa juga di katakana persembahan suci kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa sebagai simbol kebenaran, kesucian dan keindahan ( Satyam, Siwam, Sundharam ).
SIKAP MODERASI BERAGAMA DALAM MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL Arsana, I Nyoman Alit; Purnawati, Ni Wayan; Handoko, Handoko; Evriani, Yulis
Widya Katambung Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i2.1124

Abstract

Internet kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Selama ini Internet hanya digunakan untuk bertukar informasi melalui email dan chatting, serta untuk mencari informasi menggunakan mesin pencari Google. Salah satu bentuk perkembangan teknologi dan informasi saat ini dapat dirasakan dengan hadirnya berbagai media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, WhatsApp, dan Telegram. Kehadiran media sosial saat ini memberikan dampak dan manfaat tidak langsung bagi masyarakat baik dari sudut pandang positif maupun negatif. Dampak negatif media sosial antara lain penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian. Tujuan penyebaran berita palsu bermacam-macam, namun umumnya berita palsu disebarkan di media sosial sebagai lelucon atau sekedar iseng untuk meremehkan pesaing (black campaign). Mulai dari periklanan melalui penipuan, provokasi, propaganda, atau pembentukan opini publik, hingga upaya yang ditargetkan untuk menutupi kesalahan tertentu. Dengan bersikap waspada, mengaitkannya dengan kehidupan sosial diantara kita, serta mengkategorikan dan memilih konten media sosial yang dapat diterima dan konten media sosial yang sebaiknya ditolak, kita akan dapat memfilter konten media sosial. Dan dengan penguatan kepemimpinan keagamaan melalui Kementerian Agama, kita dapat memperkuat moderasi beragama.

Page 1 of 4 | Total Record : 35