cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA KARSA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 382 Documents
Kenyamanan Visual Pada Rancangan Tribun Gor Pajajaran Bandung Mamiek Nur Utami; Ahmad Aril Ismayana; Rizki Perbawa Nugraha; Agus Sopian; Arief Rismayadi
REKA KARSA Vol 5, No 4
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v5i4.3623

Abstract

ABSTRAK Gedung Olaharaga umumnya di sebut dengan ”Gelanggang”, merupakan sebuah wadah atau tempat yang dikhususkan untuk mewadahi kegiatan olahraga, istilah gelanggang dipakai untuk sebuah tempat cabang olahraga. Seperti : Gelanggang Renang, Gelanggang basket dapat juga sebagai tempat berkumpulnya sebuah kegiatan. Seperti : Gelanggang Remaja. Istilah gelanggang ini memiliki kesan luas, dan sering terjadinya suatu kegiatan. Kegiatan di dalam bangunan harus memenuhi kondisi kenyamanan yang diperkenankan. Kenyamanan dalam beraktivitas di dalam bangunan berhubungan dengan kenyamanan fisik dan psikologis. Manusia membutuhkan kondisi yang nyaman secara spasial, visual, audial, dan juga termal yang tetap perlu memenuhi aspek psikologis setiap individu. Beberapa faktor yang memberikan kenyamanan visual bagi pengunjung terlebih terhadap tribun/ bangku penonton sangat berdampak pada saat para pengunjung menonton pertandingan seperti : cahaya, sudut pandang & warna. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas kenyamanan visual dari suatu perencanaan tribun penonton gedung olahraga yang mempengaruhi pengguna yang ada. Penelitian ini difokuskan pada GOR Pajajaran dan menggunakan metode kualitatif serta kuantitatif, dimana data didapat dari hasil observasi lapangan dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan metoda field research dengan cara survey, penelitian studi kasus, studi literatur yang nantinya di analisis data kualitatif maupun kuantitatif dan analisis perbandingannya, digunakan untuk mengetahui kondisi kenyaman visual yang ideal untuk perancangan tribun gedung olahraga. Kata kunci: gedung olahraga, tribun, kenyamanan visual, ABSTRACT Sports Hall is generally called "Arena", is a container or a place devoted to accommodate a sporting activity, usually the term arena used for a place for the sport. Such as: Swimming Arena, Basketball Center can also as a gathering place an activity. Like: Youth Center. The term arena has a broad impression, and often the occurrence of an activity. Activities inside the building must meet the conditions of allowable comfort. Comfort in activity within the building is related to physical and psychological comfort. Humans need comfortable conditions spatially, visually, audially, and also thermally that still need to meet the psychological aspects of each individual. some factors that provide visual comfort for visitors especially to the stand / audience bench is very impacted when the visitors watch the game such as: light, viewpoint & color. This study was conducted to determine the quality of a planning stands spectators sports hall in terms of visual comfort that affects existing users. This research is focused on GOR Padjajaran and using qualitative and quantitative research methods, where data obtained from field observation and interview. The data were analyzed using field research method by survey, case study of literature study and interview which will be analyzed both qualitative and quantitative data and comparative analysis, used to determine ideal visual comfort condition for design of sporting stands. Keywords: sports hall, tribune, visual comfort,
Faktor Penyebab Keterlambatan Proses Pembangunan Proyek Bandung International Convention Center Alif Yuniar Firdaus; Aninda -; Gifardi Gimahakim; Bambang Subekti
REKA KARSA Vol 5, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v5i2.1533

Abstract

Faktor Penyebab Keterlambatan Proses Pembangunan Proyek Bandung International Convention Center Alif Yuniar Firdaus, Aninda, Gifardi Gimahakim, Bambang Subekti Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Itenas, Bandung Email: alnius.mail@gmail.com   Abstrak   Pada umumnya seluruh proyek mengharapkan pekerjaan berjalan sesuai rencana, namun pada pelaksanaannya terdapat kendala yang menghambat pekerjaan tersebut terutama pada proyek besar seperti proyek High Rise dan Bangunan Bentang Lebar. Salah satu contohnya adalah proyek Bandung International Convention Center. Bandung International Convention Center (BICC) dipilih karena bangunan ini merupakan bangunan konvension bertaraf internasional pertama di Bandung. Hal ini membuat peneliti mencoba untuk menganalisis penyebab dominan dari keterlambatan proyek tersebut. Penelitian ini menggunakan Metode Analisis Deskriptif. Metode Analisis Deskriptif adalah metode yang dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek dalam penelitian. Jenis Analisis Deskriptif yang dipakai yaitu Studi Kasus. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penyebab dominan keterlambatan proyek BICC berasal dari aspek kepemimpinan dan ketegasan dalam pengambilan keputusan perencanaan proyek, sehingga berdampak pada aspek lain yang menyebabkan proses pembangunan berjalan tidak sesuai target pelaksanaan. Kata kunci: metoda pelaksanaan, koordinasi, komunikasi, permasalahan teknis.   AbstraCT In general, the entire project expect the work goes according to the plan, but there are factors that hinder the work especially on large projects like High Rise Building. One example is the project of Bandung International Convention Center. Bandung International Convention Center (BICC) is the first international convention building in Bandung. This makes the researchers tried to analyze the dominant cause of delay in the project. This study uses Descriptive Analysis Method. Descriptive Analysis method is a method that can be interpreted as a troubleshooting procedure investigated by describing the state of the subject or object in the study. Descriptive Analysis types are used, namely Case Studies. These results indicate that the dominant cause of project delays BICC is derived from aspects of leadership and decisiveness in project planning decisions, so the impact on other aspects that led to the development process goes untargeted. Keywords: method of implementation, coordination, communication, technical problems.
Pola Tatanan Ruang Penunjang Terhadap Efektifitas Akses Keberangkatan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Adri Fadhilah; Rivan Anugrah; Muh Al Kautsar; Moch Risnul Hidayat; Erwin Yuniar
REKA KARSA Vol 5, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v5i3.3669

Abstract

ABSTRAK Bandar udara merupakan tempat yang penting bagi berlangsungnya suatu kegiatan transportasi udara. Pesawat terbang merupakan sarana transportasi cepat yang dapat menjangkau wilayah yang sangat luas sampai saat ini sehingga banyak masyarakat memilih menggunakan moda transportasi tersebut. Dalam proses perancangan Bandar Udara idealnya diperlukan pemahaman terhadap perilaku pengguna itu sendiri. Perancangan terkait dengan kebutuhan ruang pengguna untuk memperoleh rasa nyaman dan ruang yang dirancang harus sesuai dengan fungsinya, hal ini berkaitan dengan sirkulasi. Sirkulasi secara umum terbentuk dari susunan ruang dan organisasi ruang, serta tata letak dan fasilitas yang ada. Penataan ruang yang baik dan memenuhi standar dapat berpengaruh terhadap berlangsungnya kegiatan keberangkatan dan kedatangan penumpang. Kata kunci: Bandar Udara, sirkulasi, penataan ruang ABSTRACT Airport is an important place for an air transport activity. Airplane is a fast transportation that can reach a very wide area so many people choose to use the mode of transportation. In the process of designing the airport ideally required understanding of the user's own behavior. The design related to the needs of the user space to obtain a sense of comfort and space designed must be in accordance with its function, it is related to the circulation. Circulation is generally formed from the composition of space and organization space, as well as layout and existing facilities. A good spatial arrangement can affect the ongoing departure and arrival of passengers. Keywords: Airport, circulation, spatial arrangement
Pengaruh Bentuk Terhadap Fungsi Ruang Luar dan Ruang Dalam pada Bangunan Masjid Meta Riany; Ilham Muhamad Hasbi; Dicky Herdinanto; Fasya Nadhira; Widyanto Nugroho
REKA KARSA Vol 6, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i1.3630

Abstract

ABSTRAK Seiring dengan perkembangan zaman, desain bangunan masjid pun ikut berkembang. Masjid-masjid tidak lagi dijumpai dengan penggunaan kubah serta denah yang sederhana. Masjid As—Safar ialah sebuah masjid yang memiliki sudut pandang konsep berbeda dalam perancangannya jika dibandingkan dengan masjid lainnya di Indonesia. Konsep bentuk yang diambil tercipta dari penarikan garis vector imajiner sehingga menghasilkan ruang asimetris yang terbentuk diantaranya. Dari lipatan tersebut terbentuk segmen-segmen bidang dinding yang mempengaruhi bentuk massa bangunan masjid As-Safar. Bentuk ini berpengaruh terhadap fungsi Ruang Luar maupun Ruang Dalamnya. Terutama pada Ruang Dalam karena menimbulkan sisi ruang negatif pada setiap shafnya. Walaupun memiliki bentuk yang asimetris dan berbeda dengan bangunan masjid pada umumnya, namun Masjid As-Safar masih dapat berfungsi sebagaimana mestinya serta memberikan kesan yang berbeda bagi para jamaah Masjid As-Safar. Dengan menggunakan metode analisis kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisis bagaimana pengaruh bentuk masjid As-Safar terhadap fungsinya sebagai tempat beribadah. Kata kunci : masjid, konsep bentuk, fungsi ruang ABSTRACT Along with time, a mosque design also developed. It was found that Mosque is no longer have a dome and have a simple floor plan. Masjid As-safar is a mosque that has a different viewpoint of the design concept when compared with other mosque in Indonesia. The concept of the form created by imaginary vector line that produce asymmetrical space. From the folds, it formed segment of the wall that affect the shaped of a mosque it self. This shape also affect the function of a space inside out. Especially in the Interior because it creates the negative side of the space on each shaf. Despite being asymmetrical and different from a general mosque building, As- safar mosque is functioning properly and giving different impression to everyone who visited the mosque. By using a qualitative analysis, this study aim to observe and analyse how the form influence to its function as a place to worship. Keywords: mosque, design form concept, function of space.
Perbandingan Biaya dan Waktu Pekerjaan Dinding Bata Merah dan B-Panel Tecky Hendrarto; Nida Fadhilah; Ferris Kurnia Rishanda; Muhammad Luthfi Hartanto; Riyan Rafie Wiranata
REKA KARSA Vol 5, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v5i3.3608

Abstract

ABSTRAK Semakin pesatnya pertumbuhan pengetahuan dan teknologi di bidang konstruksi, menghasilkan berbagai inovasi material sebagai kebutuhan pembangunan. Diperlukan suatu bahan bangunan yang memiliki banyak keunggulan untuk dapat meningkatkan pembangunan yang lebih baik. Salah satu material yang digunakan untuk dinding saat ini adalah dinding pengisi berbahan bata merah, namun pada tahun 2007 mulai dikembangkan material B-panel di Indonesia. Pembahasan material ini bertujuan sebagai pemahaman, tolak ukur perbandingan tingkat efisiensi terhadap biaya dan waktu, metode pelaksanaan, pada penggunaan material. Lingkup studi kajian mencakup penggunaan material Bata merah dan Bpanel pada bangunan rumah tinggal. Keduanya mencakup spesifikasi material, harga, dan waktu pelaksanaan pembuatan dinding yang dilandasi oleh kegiatan observasi dan studi lapangan pada supplier. Hasil observasi dan studi literatur menunjukkan biaya pemasangan dinding bata merah untuk sebuah rumah tinggal dengan luas bidang dinding 236,2276 m2 berjumlah Rp. 22.015.181,- dan waktu yang diperlukan adalah 109 jam 48 menit 20 detik. Sedangkan untuk hasil biaya pemasangan dinding BPanel untuk luas yang sama berjumlah Rp.66.686.056 dan waktu yang diperlukan adalah 110 jam 2 detik dengan catatan luas bidang dinding, penggunaan SDM, peralatan, dan kondisi lapangan yang sama. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah biaya dan waktu yang diperlukan untuk membuat sebuah rumah tinggal berbahan dinding pengisi bata merah lebih cepat dan lebih murah dibanding menggunakan BPanel apabila SDM dan peralatan yang digunakan sama. Kata kunci: waktu, biaya, Bata merah, B-panel, bangunan hunian. ABSTRACT Rapid growth of knowledge and technology in the field of construction has resulting in various material innovations as a development need. It takes a building material that has many advantages to be able to improve the better development. One of the materials used commonly for the wall filler is a red brick, but in 2007 the development of a new materials for wall filler resulting in B-panel, a new material, being released in Indonesia. Discussion of this material aims as an understanding, benchmark comparison method of implementation, the level of efficiency against cost and time on the use of materials. Scope of studies including using B-panel and red brick in residential buildings. Both include material specifications, prices, distribution methods on buildings based on observation and field studies on suppliers. Observation and literature studies show the cost of red brick installation for a residential house with a wall area of 236,2276 m2 is Rp. 22.015.181,- and the required time is 109 hours 48 minutes 20 seconds. As for the results of installation costs of B-Panel for the same area amounted to Rp.66.686.056,- and the required time is 110 hours 2 seconds with the same human resource usage, equipment, and field conditions as red brick. The conclusion of this research is the cost and time needed to make a house made of red brick wall filler are faster and cheaper than using B-Panel if human resources and equipments used are the same. Keywords: time, cost, Red brick, B-panel, residential building.
Kenyamanan Visual Melalui Pencahayaan Alami Ditinjau dari Desain Bukaan Pada Mall 23 Paskal Sri Sularti; Indah Mutiara Ratnasari; Dila Oktavia Setiawati; Raden Andina Nurshadriani
REKA KARSA Vol 6, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i2.3638

Abstract

ABSTRAK Pusat perbelanjaan merupakan sarana komersial dimana berbagai aktivitas banyak terjadi di dalamnya, sehingga harus diperhatikan kenyamanan visual bagi para penggunanya. Untuk mencapai kenyamanan visual ini, bangunan Mall 23 Paskal harus memiliki pencahayaan alami yang sesuai dengan SNI – 2396 - 2001 yang dapat dihitung dengan menggunakan alat lux meter dan simulasi software ecotect. Kenyamanan visual dapat dipengaruhi oleh berbagai konsep desain bukaan bangunan, diantaranya adalah orientasi bangunan, dimensi bukaan, kedalaman ruang, dan kualitas penerangan yang meliputi jenis material, warna material, tingkat penerangan dan tingkat penyilauan sehingga dapat menciptakan kenyamanan visual di dalam bangunan. Pada penelitian ini, ruangan-ruangan yang diteliti adalah Ruang Atrium, Tenant Starbucks, Tenant Sephora, dan Tenant Foodmarket. Dari segi orientasi bangunan dan dimensi bukaan, pencahayaan alami pada tenant-tenant yang diteliti sudah memenuhi standar. Dari segi kedalaman ruang, sebagian tenant yang diteliti sudah memenuhi standar. Dari segi kualitas penerangan, sebagian ruangan yang diteliti memiliki tingkat penerangan yang cukup tinggi sehingga telah memenuhi standar, namun Ruang Atrium belum memenuhi standar dikarenakan kondisi cuaca yang berawan saat melakukan pengukuran. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ruang-ruang yang diteliti pada Mall 23 Paskal telah memiliki kenyamanan visual yang cukup baik melalui pencahayaan alami yang diterima bangunan. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan atau referensi dalam mendesain pusat perbelanjaan dengan desain bukaan yang dapat memenuhi standar kenyamanan visual. Kata kunci: desain bukaan, ecotect, kenyamanan visual, lux meter, pencahayaan alami. ABSTRACT Shopping center is a commercial place where a lot of activities to take place, so it needs visual comfort for the sake of building users. To achieve this visual comfort, a 23 Paskal Mall building should be able to receive natural lighting that compatible with SNI – 2396 – 2001 which can be measured by a lux meter and a simulation software namedly ecotect. Visual comfort can be affected by design concepts of building opening, such as building orientation, opening dimension, depth of space, and lighting quality including the types and the colors the materials used, illuminance, and glare. In this study, the measured spaces are Event Hall, Starbucks, Sephora, and Foodmarket. In terms of building orientation and opening dimension, the natural lighting of the measured tenants have met the standard. In terms of depth of space, most of the measured tenants have met the standard. In terms of lighting quality, the measured tenants have high levels of illuminance, except for the Event Hall whose lighting quality haven’t met the standard due to the cloudy weather on the day of measurement. Based on the analysis done in this study, it can be concluded that the measured spaces of 23 Paskal Mall have relatively good visual comfort by an abundant amount of natural lighting received by the building. The result of this study is expected to be a reference in designing a shopping center with building openings that can meet the standard of visual comfort. Keywords: ecotect, lux meter, natural lighting, opening design, visual comfort.
Orientasi Massa Bangunan Terhadap Olahan Ruang Dalam Pada Masjid An Nuur Biofarma Bandung Utami Utami; Nilan Khoirul B.; Athiyyah Fitri I.; Siti Nurul H.; Rais Indah Z.
REKA KARSA Vol 5, No 4
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v5i4.3624

Abstract

ABSTRAK Orientasi bangunan sangat penting dalam proses perancangan karena dapat mempengaruhi olahan ruang dalam pada suatu bangunan. Namun orientasi bangunan harus kontekstual dengan kawasan yaitu lingkungan dan tapaknya serta memenuhi persyaratan bangunan secara fungsional agar dapat menampung aktifitas pengguna bangunan sesuai dengan fungsinya. Hal ini bertujuan agar bangunan mengikuti konteks kawasan dan tidak merusak konteks kawasan tersebut namun tetap mengutamakan fungsi bangunan. Sehingga peran arsitek sangat penting dalam kasus ini. Masjid An Nuur Biofarma Bandung memiliki keunikan dari orientasi bangunan. Orientasi massa bangunan mengikuti konteks kawasan sekitarnya yang simetris dengan mengikuti sumbu-sumbu kawasan, tetapi memiliki orientasi ruang dalam yang tidak sama dengan orientasi bangunannya. Hal ini dikarenakan bangunan mengikuti fungsinya sebagai masjid sehingga ruang dalam harus beorientasi ke arah kiblat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui orientasi bangunan pada tapak, pengaruh orientasi massa bangunan terhadap olahan ruang dalam dan mengetahui pengolahan ruang dalam meliputi pola ruang dan elemen pembentuk ruang. Metode penelitian dilakukan melalui metode deskriptif dengan menjelaskan orientasi massa bangunan terhadap olahan ruang dalam pada Masjid An Nuur Biofarma Bandung. Kata kunci: orientasi, olahan ruang dalam, masjid. ABSTRACT Building orientation is very important in the design process because it can affect the processing of inner space in a building. But the orientation of the building must be contextual with the area, it is a environment and footprint, and complete the requirements of the building according to its function. It is intended that the building follows the context of the area and doesn't damage the context of the area but still prioritizes the function of the building. So, the architect's role is very important in this case. An Nuur Biofarma Bandung Mosque has the uniqueness of the building orientation. The mass orientation of the building follows the context of the surrounding area which is symmetrical by following the axes of the area, but it has an inner orientation, that is not the same as the orientation of the building. This is because the building follows its function as a mosque, so the inner space must be oriented towards Qibla. This study aims to determine the orientation of buildings on the site, the influence of mass orientation of the building on the processing of inner space and knows the processed of the inner space, covering the pattern of space and the element of space-forming . The research method is implemented through descriptive method by explaining the mass orientation of building towards the procesing of inner space at An Nuur Biofarma Mosque.. Keywords: orientation, processed inner space, mosque.
KONSEP ORIENTASI BANGUNAN DAN DESAIN BUKAAN YANG MEMPERHATIKAN DAYLIGHT FACTOR PADA BANGUNAN CARRO PUSJATAN Eghar Purnama C.
REKA KARSA Vol 6, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i1.3631

Abstract

ABSTRAK Indonesia sebagai negara berkembang belum memiliki infrastruktur yang memadai. Hal tersebut ditandai oleh tidak meratanya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Indonesia dibawah departemen kementrian Dinas Pekerjaan Umum sudah memiliki fasilitas untuk mengawasi pembangunan infrastruktur yang deberi nama gedung Control Assistance for Road Research Operation atau disingkat gedung CARRO PUSJATAN. Gedung ini menyimpan semua database infrastruktur jalan dan jembatan di seluruh Indonesia serta memiliki kelebihan dan sangat menarik karena desainnya yang memperhatikan daylight factor dengan menerapkan orientasi bangunan dan bukaan cahaya yang maksimal. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengetahui tingkat keberhasilannya dengan lingkup studi yang mencakup penerapan, pengaruh, dan sejauh mana keberhasilan penerapan konsep yang memperhatikan daylight factor pada orientasi dan desain bukaan bangunan CARRO PUSJATAN. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif yang dimana peneliti berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan gedung CARRO sesuai dengan apa adanya dan berdasarkan data yang diambil secara kualitatif dan kuantitatif. Terdapat beberapa sampel pengujian terhadap gedung CARRO terkait desainnya yang memperhatikan daylight factor dengan menerapkan orientasi bangunan dan bukaan cahaya yang maksimal seperti analisa kesesuaian orientasi bangunan, analisis bukaan dan presentasi jumlah cahaya dalam standar lux yang masuk ke dalam bangunan. Karena hasil analisis membuktikan bahwa gedung CARRO masuk kedalam kriteria gedung yang memperhatikan daylight factor, presentasi jumlah cahaya dalam lux yang masuk sesuai maka dapat disimpulkan bahwa gedung CARRO sangat baik dan layak digunakan sesuai fungsi utamanya sebagai kantor pusat pengawasan. Kata kunci: konsep perencanaan, daylight factor, Orientasi ABSTRACT Indonesia as a developing country does not yet have adequate infrastructure. It is characterized by the uneven development of infrastructure in various regions. Indonesia under the ministry of the Department of Public Works already has facilities to oversee the development of infrastructure that is named the Control Assistance for Road Research Operation or abbreviated CARRO PUSJATAN building. This building stores all databases of road and bridge infrastructure throughout Indonesia and has advantages and is very interesting because its design is paying attention to daylight factor by applying building orientation and maximum light openings. This study was conducted with the aim to study, identify, analyze and know the success rate with the scope of study that includes the application, influence, and the extent of the successful application of concepts that pay attention to daylight factor on the orientation and design of building openings CARRO PUSJATAN. The method of analysis used is the descriptive method in which the researcher tried to describe and interpret the CARRO building in accordance with what it is and based on the data taken qualitatively and quantitatively. There are several test samples of CARRO building related to the design that pays attention to daylight factor by applying building orientation and maximal light openings such as building orientation suitability analysis, openings analysis, and presentation of the amount of light in lux standard entering the building. Because the results of the analysis prove that the CARRO building entered into the criteria of building that pay attention to the daylight factor, the percentage of the amount of light in the incoming lux accordingly it can be concluded that the CARRO building is very good and feasible to use as its main function as the headquarters of supervision. Keywords: concept planning, daylight factor, orientation
Kontekstualitas Gaya Art Deco Hotel Prama Grand Preanger dan Wisma HSBC Ditinjau dari Fasad Udjianto Pawitro; Anne Rosmeiliana Bunga; Anisa Ulfa Mirananda; Vina Idamatusilmy; Fatya Karimah
REKA KARSA Vol 5, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v5i3.3609

Abstract

ABSTRAK Art Deco merupakan salah satu gaya arsitektur yang paling berkembang di Kota Bandung. Salah satu bangunan dengan langgam Art Deco di kota Bandung adalah Hotel Prama Grand Preanger yang didisain ulang oleh C. P. Schoemaker. Hotel Preanger berada di kawasan Grote Postweg (Asia Afrika), seiring berkembangnya zaman terdapat bangunan baru pada kawasan tersebut yaitu Wisma HSBC. Kedua bangunan tersebut memiliki jarak yang berdekatan pada lokasi yang sama tetapimemiliki fasad berlainan jika dilihat dengan kasat mata karena dibangun pada zaman yang berbeda. Pengamatan dan analisis ini dibatasi pada ada tidaknya langgam art deco pada kedua fasad tersebut serta selaras atau tidaknya kedua fasad bangunan tersebut.. Memberi perbandingan mengenai kajian teori arsitektur yang telah ada di dalam literatur-literatur dengan pengaplikasian nyata pada desain arsitektur terutama fasad bangunan. Kata kunci: arsitektur Art Deco, kontekstualitas ABSTRACT Art Deco is one of the most developed architectural styles in Bandung. One of the buildings with Art Deco style in Bandung is Hotel Prama Grand Preanger designed by C. P. Schoemaker. Preanger Hotel is located in the Grote Postweg (Asia Afrika) region, as the era of new buildings in the region that is Wisma HSBC. Both buildings have adjacent distances at the same location but have different facades when viewed visually as they were built in different times. These observations and analyzes are limited to the presence or absence of art deco styles on both facades as well as whether or not the two facades of the building are comparable. Provide a comparison of the existing sciences in the literature with real application on the architectural design of the building facade. Keywords: Art Deco architecture, contextuality
PENGOLAHAN TATA RUANG PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI JALAN L.L.RE. MARTADINATA BANDUNG Thomas Brunner; Tantri Nurfadilah Gunawan; Dina Susilawati; Vivien Kania Dewi; Syifa Dwi Andini
REKA KARSA Vol 6, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i2.3640

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan tentang bagaimana wajah bangunan pada kawasan cagar budaya di jalan L.L.R.E. Martadinata yang mengacu pada peraturan yang berlaku di kota Bandung yaitu, Peraturan Daerah Kota Bandung No. 18 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota, Peraturan Daerah Kota Bandung No. 10 Tahun 2015 Tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Zonasi Kota Bandung, Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 19 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya, selain itu penelitian ini dikaitkan dengan prinsip perancangan arsitektur serta isu penataan kawasan urban dunia International Union of Architects. Tujuan penelitian ini merumuskan tentang elaborasi antara peraturan pembangunan terhadap kawasan cagar budaya yang terkait dengan prinsip perancangan arsitektur serta memberikan usulan terhadap wajah bangunan pada kawasan jalan L.L.R.E. Martadinata. Kata kunci: Jalan Riau Bandung, Pengelolaan Kawasan Jalan Riau, Bangunan Cagar Budaya, Art-Nouveau Dan Art-Deco ABSTRACT This research describes how the faces of buildings in the cultural preserve area on the road L.L.R.E. Martadinata which refers to the regulations in force in the city of Bandung is, Bandung City Local Regulation No. 18 Year 2011 About City Spatial Planning, Bandung City Local Regulation No. 10 Year 2015 About Spatial Plan and Zoning Plan of Bandung City, Bandung City Regulation No. 19 Year 2009 About Area Management and Heritage Building, beside that this research is related to architectural design principle and also issue of urban area arrangement of international world of Union of Architects. The purpose of this research is to formulate the elaboration between development regulation on cultural heritage area related to architectural design principles and to propose to the faces of buildings on L.L.R.E. Martadinata. Keywords: Riau Riau Road, Management of Riau Road Area, Heritage Building, Art-Nouveau And Art-Deco