cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Analisis Geoteknik pada Teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP) dalam Perencanaan Flyover Antapani Sonny Riantama Bahari; Indra Noer Hamdhan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 4: Desember 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i4.70

Abstract

ABSTRAKJalan lintas atas (overpass) dapat dipilih untuk pengembangan jaringan jalan dalam mengurangi kemacetan yang diakibatkan oleh meningkatnya arus lalu lintas dan mengatasi konflik pada persimpangan sebidang. Pada tahun 2016 Puslitbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan) telah melakukan sebuah Pilot Project Flyover Antapani di Kota Bandung dengan menggunakan teknologi struktur baja bergelombang yang dikombinasikan dengan mortar busa sebagai oprit jembatan, teknologi ini dikenal dengan nama Corrugated Mortar Pusjatan (CMP). Timbunan dengan menggunakan mortar busa dapat mengurangi besar penurunan yang terjadi dibandingkan dengan teknologi konvensional. Analisis dilakukan dengan menggunakan program PLAXIS 3D yang berbasis metode elemen hingga. Dari hasil analisis didapat bahwa penurunan seketika pada fondasi Flyover Antapani di Kota Bandung sudah memenuhi standar izin. Selain itu penggunaan teknologi CMP pada perencanaan Flyover Antapani yang digunakan pada jenis tanah lunak juga menunjukkan hasil serupa, sehingga efektif apabila dilaksanakan pada tanah lunak.Kata kunci: penurunan, mortar busa, teknologi CMP, PLAXIS 3D ABSTRACTOverpass can be choosen as road network development to reduce traffic jam caused by increasing traffic flow and resolve conflict on intersection. In 2016 Puslitbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan) has done a Pilot Project Flyover Antapani in Bandung City using corrugated steel structure technology combined with foamed mortar as backfill, this technology was known as Corrugated Mortar Pusjatan (CMP). Foamed mortar embankment could reduce settlement compared to using conventional technology. Analysis was done using PLAXIS 3D program based on finite element method. It shows that immediate settlement on Flyover Antapani’s foundation in Bandung City met the necessary standard. On the other side the use of CMP technology in Flyover Antapani design which applied to soft soil resulting a similar output, which will be effective if applied to soft soil.Keywords: settlement, foamed mortar, CMP technology, PLAXIS 3D
Tinjauan Pendidikan dan Penelitian MRK di Indonesia Annisa Annisa; Biemo Woerjanto Soemardi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.124

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membahas mengenai perkembangan Manajemen dan Rekayasa Konstruksi (MRK) di Indonesia dan proyeksi ke depannya. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi dengan mencari referensi sejarah perkembangan MRK di Indonesia melalui penelusuran artikel di jurnal, textbook, white paper, proceeding untuk mendapatkan distribusi dan fokus kajian potret penelitian sebelumnya dikombinasi dengan metode survei melalui kuesioner untuk mendapatkan prediktif, persepsi, ekspektasi tentang pendapat perkembangan, kesesuaian, kendala, dan saran perkembangan pendidikan dan penelitian MRK ke depannya. Hasil analisis untuk fokus kajian ke depan, prioritas akan topik-topik yang ada sebagian besar sudah sesuai dan belum bergeser. Konfirmasi berdasarkan data primer didapat bahwa perkembangan MRK di bidang pendidikan dan penelitian dinilai baik dan sebagian besar sudah cukup sesuai dengan kebutuhan industri konstruksi saat ini, namun perlu peningkatan  dan realisasi hal-hal yang menjadi kendala dan saran pengembangan ke depannya agar sesuai dengan kebutuhan industri konstruksi saat ini.Kata kunci: manajemen dan rekayasa konstruksi, pendidikan, penelitian ABSTRACTThis study will be discussed about the development of Construction Management and engineering (CEM) and  the projected development in Indonesia. This research employed analysis method to search for historical references of CEM development in Indonesia through articles in journals, textbooks, white papers, proceedings to obtain the distribution and study portraits of history, then  it is combined with survey method through a questionnaire to obtain predictive, perceptions, expectations of the development, suitability, constraints, educational and research development advice for CEM further. The results of the analysis of priority study are mostly already fit and have not shifted. Based on primary data obtained that CEM developments in the field of education and research is considered good and most are already quite fit the needs of today's construction industry, but need improvement and realization of the things that become obstacles and suggestions for future development to fit the needs of today's construction industry.Keywords: construction engineering and management, education, research
Analisis Kapasitas Daya Dukung Pondasi Dangkal Tipe Menerus Pengaruh Kedalaman Tanah Keras Lutfy Ahmad Fauzi; Ikhya Ikhya
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.36

Abstract

ABSTRAKPondasi dangkal hanya memerlukan kedalaman kurang dari lebarnya. Kapasitas daya dukung ialah kekuatan pondasi untuk melayani beban diatasnya. Analisis menggunakan program PLAXIS 2D AE menghasilkan bahwa semakin lebar pondasi maka akan menaikan kapasitas daya dukung. Kenaikan tersebut sebesar 159,4% yang terbesar pada B=2m sebesar 1074,18 kN pada tanah jenis clay. Faktor kedalaman pondasi pun demikian, naiknya kapasitas daya dukung tersebut sebesar 68,24% yang terbesar pada Df=2m sebesar 3860,29 kN pada tanah jenis clay. Kapasitas daya dukung juga dipengaruhi oleh keberadaan muka air tanah yang bedanya sebesar 39,7%. Kedalaman tanah keras pun menaikan kapasitas daya dukung, apabila kedalaman tanah kerasnya berjarak dekat dengan dasar pondasi. Naiknya kapasitas daya dukung tersebut ditinjau dari kedalaman 4B hingga 0,25B sebesar 40,77% yang terbesar pada kedalaman 0,25B pada jenis tanah silty sand 19667,59 kN dan 15641,26 kN untuk tanah jenis clay.Kata kunci: pondasi dangkal, kapasitas daya dukung, muka air tanah, kedalaman tanah keras ABSTRACTShallow foundations only requires a depth of less than the widht. Bearing capacity is the strength of foundation to serve service load. Analysis using PLAXIS 2D AE which produce that wider foundation will increase bearing capacity. The increase is 159,4% which the highest on clay with B=2m is 1074,18 kN. The depth of foundation is also increase bearing capacity. The increase is 68,24% which the highest bearing capacity on clay with Df=2m is 3860,29 kN. Bearing capacity is also affected by the ground water level. The difference is 39,7%. The depth of hard soil also increase bearing capacity, when the depth of the hard soil is closer to the base of foundation. The rise in the bearing capacity only be reviewed at depth 4B to 0,25B is 40,77% which the highest bearing capacity on 0,25B depth of hard soil for silty sand is 19667,59 kN and 15641.26 kN for clay. Keywords: shallow foundation, bearing capacity, fully saturated soil, the bearing capacity, the depth of hard soil
Analisis Kebutuhan Pelat Injak pada Box Underpass Akibat Pengaruh Beban Wibisono Bangun Satrio; Bernardinus Herbudiman; Erma Desmaliana
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.98

Abstract

ABSTRAKUnderpass merupakan suatu bangunan terowongan termasuk sarana transportasi barang dan manusia. Underpass dibangun di bawah tanah untuk menghindari daerah/kawasan rawan kemacetan. Pada kasus tertentu, kebutuhan pelat injak dapat diabaikan keberadaanya pada struktur box underpass. Analisis dilakukan dengan membandingkan perilaku struktur dengan 2 kondisi yaitu kondisi 1 pelat tanpa timbunan dan kondisi 2 pelat injak yang tertimbun oleh tanah timbunan. Analisis dilakukan dengan perangkat lunak SAP2000. Intensitas beban mengacu pada pembebanan jembatan SNI 1725:2016. Variasi panjang untuk pelat injak yang digunakan 5 m, 6 m dan 7 m, variasi tebal pelat yaitu 30 cm, 35 cm dan 40 cm, serta pengaruh jarak spring yaitu 10 cm, 20 cm dan 30 cm. Dari penelitian, lendutan yang terjadi cenderung lebih besar pada kondisi 2 karena pengaruh beban SIDL yang besar, lendutan maksimum kondisi 1 dan 2 adalah 1,148 mm dan 1,486 mm. Perbedaan momen maksimum kondisi 1 dan 2 masing-masing 422,111 kN-m dan 309,883 kN-m. Gaya geser masing-masing sebesar adalah 259,634 kN dan 583,885 kN. Gaya-gaya yang terjadi pada kondisi 1 cenderung lebih besar dari pada kondisi 2.Kata kunci: pelat injak, tanah timbunan, distribusi beban ABSTRACTUnderpass is a tunnel building for transportation of goods and people. Underpasses are built underground to avoid areas / areas prone to congestion. In certain cases, requirement of approach slab may be ignored in structure of the underpass box. Analysis was done by comparing the behavior of the structure with 2 conditions, condition 1 with plate without soil embankment and the condition 2 approach slab is covered by soil embankment. Analysis was carried out with SAP2000. Load intensity refers to SNI 1725: 2016. Variation of length for approach slab used 5 m, 6 m and 7 m, variation of plate thickness are 30 cm, 35 cm and 40 cm, and influence of spring distance are 10 cm, 20 cm and 30 cm. From the research, deflection that occurred tends to be greater in condition 2 because influence of large SIDL loads, maximum deflection conditions 1 and 2 are 1.148 mm and 1.486 mm. Difference in maximum moment in conditions 1 and 2 is 422.111 kN-m and 309.888 kN-m. Respectively shear force is 259.634 kN and 583.885 kN. The forces that occur in condition 1 tend to be greater than conditions 2.Keywords:  approach slab,  soil  embankment, load distribution. 
Kajian Pengaruh Panjang ‘Back Span’ pada Jembatan Busur Tiga Bentang Yuno Yuliantono; Aswandy Aswandy
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.66

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini melakukan kajian pengaruh variasi bentang ‘back span’ pada jembatan. Jembatan yang dikaji adalah jembatan baja profil persegi tubular dengan bentang utama 150 meter dan ‘back span’ 51,2 meter. Ada 6 variasi penambahan dan pengurangan terhadap bentang ‘back span’ jembatan acuan awal yaitu : Model 1 berupa penambahan 10 meter, Model 2 berupa penambahan 5 meter, Model 3 berupa penambahan 0 meter, Model 4 berupa pengurangan 5 meter, Model 5 berupa pengurangan 10 meter, dan Model 6 berupa pengurangan 25 meter. Hasil analisis nilai terbesar menunjukan Model 1 sebesar 78.693,89 kN untuk reaksi perletakan rol, Model 1 sebesar 305,8 mm di girder jembatan untuk lendutan, Model 1 sebesar 21.611,454 kN di girder untuk aksial, Model 1 sebesar 36.775,691 kN di girder untuk momen lentur, dan model 1 sebesar 5.020,33 kN di girder untuk geser. Hal ini menunjukkan beban dari lengkung dan main span jembatan disalurkan menuju ‘back span’ seiring bertambahnya bentang.Kata kunci: jembatan lengkung baja, ‘back span’ ABSTRACTThis research investigate the effect of variant ‘back span’ length in a bridge. The type of the studied bridge is a hollow tube steel bridge with 150 meter of main span and 51,2 meter of back span. There are 6 variations of the addition and subtraction of the bridge 'back span'  length, that is: Model 1 with 10 meters addition, Model 2 with 5 meters addition, Model 3 with 0 meters addition, Model 4 with 5 meters reduction, Model 5 with 10 meters reduction, and Model 6 with 25 meters reduction. Results of the analysis showed that Model 1 have the greatest value of 78693.89 kN for the for roll joint reaction, 1Model amounted to 305.8 mm in girder bridge for deflection, Model 1 amounted to 21.611,454 kN in girder for axial, Model 1 amounted to 36.775,691 kN in girder for momen, and 1 Model amounted to 5.020,33 kN in girder for shear. This show that with increasing of the length, loads from arch and main span are distributed towards ‘back span’Keywords: steel arch bridge, ‘back span’
Studi Mengenai Kadar Maksimum Abu Terbang Sebagai Subtitusi Semen pada Campuran Beton dengan Kuat Tekan Tetap Dewindha Putri Dewanti; Abinhot Sihotang
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.42

Abstract

ABSTRAKPenggunaan beton dalam proyek konstruksi yang semakin besar, menuntut penggunaan semen yang semakin tinggi. Upaya yang banyak dilakukan adalah melakukan substitusi semen dengan suatu bahan yang sifatnya sama dengan semen. Abu terbang (fly ash) menjadi salah satu alternatif dalam pengurangan penggunaan semen. Pembuatan campuran beton normal digunakan cara SNI, dan untuk campuran beton abu terbang digunakan perancangan campuran beton metode Dreux dengan permodelan blended cement. Kuat tekan rencana yang dirancang sebesar 40 MPa dengan substitusi semen oleh abu terbang sebesar 0% sampai dengan 50%, dengan nilai pertambahan 5%. Ukuran maksimum agregat kasar yang digunakan adalah 20 mm, dan pengujian berupa kuat tekan beton dilakukakan saat umur beton mencapai 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. Hasil kuat tekan beton umur 28 hari menunjukkan kadar maksimum substitusi semen oleh abu terbang menggunakan cara Dreux Gorrise dengan permodelan blended cement hanya mencampai kadar 20% abu terbang.Kata kunci: beton abu terbang, Dreux Gorrise, kuat tekan, semen blended ABSTRACTThe use of concrete in construction projects is getting bigger, demanding the use of cement which is increasingly high. The current effort is to do cement substitution with a material that has the same properties of cement. Fly ash is an alternative in reducing the use of cement. The preparation of normal concrete mixtures is used by SNI method, and for fly ash concrete mixtures, the Dreux method as a blended cement modeling concrete mixture design is used. The planned compressive strength of 40 MPa with cement substitution by fly ash is 0% to 50%, with a 5% increase. The maximum size of coarse aggregate used is 20 mm, and testing in the form of concrete compressive strength is done when the concrete reaches 7 days, 14 days, and 28 days. The results of 28 days old concrete compressive strength showed the maximum cement substitution level by fly ash using the Dreux Gorrise method with blended cement modeling only reaching 20% fly ash content.Keywords: fly ash concrete, Dreux Gorrise, compressive strength, blended cement
Pengaruh Perkuatan Sheetpile terhadap Deformasi Area Sekitar Timbunan pada Tanah Lunak Menggunakan Metode Partial Floating Sheetpile (PFS) Azizi Rochman; Indra Noer Hamdhan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 3: September 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i3.75

Abstract

ABSTRAKKonstruksi timbunan pada tanah lunak mengakibatkan penurunan, deformasi lateral, dan geseran tanah ke atas yang dapat terjadi pada area sekitar timbunan. Hal ini disebabkan karena tanah lunak memiliki kuat geser dan permeabilitas yang rendah serta kompresibilitas besar. Perkuatan sheetpile digunakan untuk membentuk ketidaksinambungan tegangan antara timbunan dan area sekitarnya sehingga dapat mengurangi permasalahan yang terjadi. Tujuan penulisan ini adalah untuk membandingkan beberapa metode pemasangan sheetpile pada tanah lunak yaitu all bottom out (pemasangan semua sheetpile sampai tanah keras) dan partial floating sheetpile (pemasangan sheetpile dengan dengan sebagian mencapai tanah keras dan sebagian floating) dengan menggunakan program PLAXIS 3D. Sehingga hasil analisis dapat mengetahui besarnya penurunan dari berbagai metode pemasangan sheetpile yang telah dimodelkan.Kata kunci: timbunan, sheetpile, penurunan, metode elemen hingga, partial floating sheetpile (PFS) ABSTRACT The construction of embankment on a soft ground has involved a ground settlement, lateral deformation, and upheaval that occur to surrounding area. This is due to soft soils have low shear strength, low permeability and great compressibility. The sheetpile is used to form stress discontinuity between the embankment and the surrounding area so that its reduce the problem that occur. The purpose of this paper is to compare several methods of sheetpile installation on soft soil such as all bottom out (all sheetpile installation into bearing stratum), and partial floating sheetpile (installation of sheetpile with partially reaching bearing stratum and Partly floating) by using the PLAXIS 3D program. The results of the analysis is settlement of various methods of sheetpile installation that has been modeled.Keywords: embankment, sheetpile, settlement, finite element method, partial floating sheetpile (PFS)
Perubahan Karakteristik Aspal Pen 60/70 dengan Substitusi Getah Karet Alam Pangkalan Balai, Sumatera Selatan Barkah Wahyu Widianto; Mochamad Isa Faishal
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 6, No 3: November 2020
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v6i3.143

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan data Produksi Karet di Indonesia terdapat peningkatan rata-rata 1,5% pada tahun 2015-2020, dimana produksi karet terbesar adalah Provinsi Sumatera Selatan yaitu 28,77%. Dengan peningkatan dan upaya pemanfaatannya maka dilakukan penelitian substitusi getah karet ke aspal. Getah karet yang digunakan adalah berbentuk padat dan berasal dari Pangkalan Balai, Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik aspal pen 60/70 disubstitusi dengan kadar getah karet alam 0%, 2,5%, 5%, dan 7,5%. Pengujian mengacu pada SE Menteri PUPR No 04/SE/M/2019. Hasil pengujian menunjukan nilai penetrasi, daktilitas, berat jenis, viskositas 135°C, kelarutan dalam TCE, TFOT, serta penetrasi dan daktilitas setelah kehilangan berat mengalami penurunan dengan ditambahnya kadar getah karet. Sedangkan nilai titik lembek, titik nyala, dan kehilangan berat mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik aspal menjadi lebih keras dan diindikasi tahan terhadap deformasi tetapi rentan terhadap retak. Dari nilai pengujian disimpulkan bahwa kadar getah karet alam 5% memenuhi spesifikasi aspal modifikasi.Kata kunci: getah karet alam, aspal pen 60/70, aspal modifikasi ABSTRACTBased on Rubber Production data in Indonesia, there has been an average increasing of 1.5% for 2016-2020, where the largest production of rubber is South Sumatra Province, which is 28.77%. With the improvement and utilization efforts, research was carried out on mixing rubber sap into asphalt. The rubber sap that has been used is solid and comes from Pangkalan Balai, South Sumatra. This study aims to examine the characteristics of 60/70 pen asphalt substituted with natural rubber latex levels of 0%, 2.5%, 5%, and 7.5%. The test refers to SE Menteri PUPR No 04/SE/M/2019. The test results have shown the value of penetration, ductility, specific gravity, viscosity of 135° C, solubility in TCE, TFOT, penetration and ductility after weight loss has decreased with the addition of rubber sap content. Meanwhile, the values for softening point, flash point, and weight loss increased. This indicates that the characteristics of the asphalt become tougher and indicate that it is resistant to deformation but is prone to cracking. Judging from the test value, it can be concluded that the 5% natural rubber latex content meets the specifications of asphalt modification.Keywords: natural rubber, asphalt pen 60/70, asphalt modification
Desain Tebal Perkerasan Lentur Landas Pacu Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang Menggunakan Metode Design & Maintenance Guide 27, Inggris Aldo Budi Prayoga; Silvia Sukirman
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.38

Abstract

ABSTRAKPerkerasan merupakan salah satu komponen pada runway yang harus didesain dan dievaluasi agar dapat melayani lalu-lintas pesawat sehingga tidak menyebabkan kerusakan dan mengakibatkan terganggunya kinerja bandara. Studi kasus pada penelitian ini adalah mendesain tebal perkerasan lentur Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta menggunakan Design & Maintenance Guide 27. Tiga alternatif repetisi beban berdasarkan jenis penerbangan yang diasumsikan yaitu alternatif 1 50% internasional dan domestik, alternatif 2 75% internasional dan 25% domestik dan alternatif 3 100% internasional. Dari hasil desain berdasarkan 3 alternatif repetisi beban didapatkan hasil tebal perkerasan yang sama, yaitu 40 mm Marshall Asphalt Surface Course, 60 mm Marshall Asphalt Binder Course, 120 mm Marshall Asphalt Base Course, 401 mm Type FH Drylean Concrete untuk tipe High Strength Bound Base Material dan 563 mm Type F Drylean Concrete untuk tipe Bound Base Material.Kata kunci: perkerasan lentur, runway, marshall asphalt, HSBBM, BBM ABSTRACT                                                                              Pavement is a component of runway that must be designed and evaluated in order to serve airplane traffic so that is not causing damage and result disruption of airport performance. The case studies in this research is to design 3rd Runway's flexible pavement of the Soekarno-Hatta airport use Design & Maintenance Guide 27 . 3 alternative load reps based on the assumed flight type ie alternative 1 with 50% international and domestic, alternative 2 75% international and 25% domestic and alternative 3 100% international. From the results of the design based on 3 alternative reps load obtained the same pavement thickness results, namely 40 mm Marshall Asphalt Surface Course, 60 mm Marshall Asphalt Binder Course, 120 mm Marshall Asphalt Base Course, 401 mm Type FH Drylean Concrete for High Strength Bound Base Material and 563 mm Type F Drylean Concrete for Bound Base Material type. Keywords: flexible pavement, runway, marshall aphalt, HSBBM, BBM
Pengaruh Silica Fume sebagai Subtitusi Semen terhadap Nilai Resapan dan Kuat Tekan Mortar Bantot Sutriono; Retno Trimurtiningrum; Aditya Rizkiardi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.12

Abstract

ABSTRAKBeton dan mortar banyak digunakan sebagai bahan konstruksi di seluruh dunia. Meningkatnya permintaan beton dan mortar juga meningkatkan permintaan semen di pasar yang berdampak negatif bagi lingkungan. Industri semen  menghasilkan sekitar 6 hingga 7 persen dari seluruh CO2 di seluruh dunia. Oleh karena itu, para peneliti mencoba mengembangkan gagasan tentangbeton ramah lingkungan, dengan mengurangi penggunaan semen dengan menggunakan bahan alternatif seperti silica fume. Silica fume adalah bahan pozzolan yang kaya akan silika dan dapat bereaksi kimia dengan kalsium hidroksida, membentuk gel kalsium silikat (CSH) pada beton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh silica fume sebagai pengganti parsial semen terhadap nilai resapan dan kekuatan tekan mortar. Persentase silica fume bervariasi 0%, 5%, 10%, 12% dan 15%. Hasil pengujian menunjukkan nilai resapan minimum adalah 3,276% diperoleh campuran dengan 15% silica fume dan kuat tekan maksimum 312,574 kg/cm2 diperoleh campuran dengan 8% silica fume.Kata kunci: silica fume, nilai resapan, kuat tekan, mortar ABSTRACTConcrete and mortar are widely used as contruction materials. The increasing demand of concrete and mortar also increase the demand of cement in the market which has negative impact for environment. The cement industry produced for approximately 6 to 7 percent of all CO2 worldwide. Therefore, the researches try to develop the idea of green concrete with reducing the utilize of cement with using the alternative materials such as silica fume. Silica fume is a pozzolanic material that contain rich of silica and has chemical reaction with calcium hydroxide forming calcium silicate hydrate (C-S-H) gel in concrete.The aimed of this research is to investigate the influence of silica fume as partial replacement of cement on absoption and compressive strength of mortar.The percentage of silica fume were varied from 0%, 5%, 10%, 12% and 15%. The test result showed that the minimum absorption value is 3.276% obtain from the mixture with 15% of silica fume and the maximum compressive strength is 312.574 kg/cm2 obtain from the mixture with 8% of silica fume.Keywords: Silica fume, absorption, compressive strength, mortar