cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
journalsharia@gmail.com
Editorial Address
Sharia Journal and Education Center Publishing Jalan Gotong Royong, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia Kode Pos 70711
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory
ISSN : 30310458     EISSN : 30310458     DOI : https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i3.1280
Core Subject : Religion, Social,
The Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory (IJIJEL) is a peer-reviewed academic journal that focuses on advancing research in Islamic jurisprudence, economics, and legal theory within the Indonesian context. Published quarterly (March, June, September, and December), the journal serves as a platform for scholars, researchers, and practitioners to explore theoretical and practical developments in Islamic law. IJIJEL welcomes original research articles, conceptual papers, critical reviews, and comparative studies covering topics such as Islamic legal methodology, contemporary jurisprudential issues, legal reform, and interdisciplinary perspectives. The journal aims to foster academic discourse, enhance understanding of Islamic law, and contribute to the integration of Islamic legal principles within Indonesia’s legal and socio-economic systems.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 550 Documents
Review of Supreme Court Regulation Number 5 of 2019 on The Consideration of The Judge Rejecting Dispensation of Pregnant Marriage (Analysis of Decision Number 85/Pdt.P/2023/PA.Pn) Ramadhani, Muhammad; Mariani, Mariani
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.603

Abstract

Abstract This study is motivated by the rejection of a request for dispensation of marriage by the judge of the Painan Religious Court with the condition that the child who applied for dispensation of marriage was pregnant outside of marriage due to her intimate relationship with her prospective husband. The judge's consideration rejected the application because the applicant’s child and husband candidate were not ready for marriage and free sexual behavior was increasingly rampant. This case is a dilemma considering the emergency situation of the pregnant the applicant’s child, where the judge is faced with two potential harms in granting or rejecting the petition. The purpose of this study is to determine the legal basis for the judge's consideration in rejecting the application for dispensation to marry the case and to find out the review of Supreme Court Regulation Number 5 of 2019 on Guidelines for Adjudicating Marriage Dispensation Applications against the judge's consideration. This type of research is normative legal research with a case approach. The collection of legal materials is done through document studies and literature studies. The results showed that the legal basis for the judge's consideration was Supreme Court Regulation Number 5 of 2019 as a guide in adjudicating cases, surah at-Tahrim verse 6, hadith about the recommendation to marry for those who are able, the opinion of scholars about the prohibition of marriage of pregnant women, Article 80 paragraph (2) of the Compilation of Islamic Law, and fiqh rules on rejecting harm in assessing the readiness of parties to marry. Based on the review of Supreme Court Regulation Number 5 of 2019 and the judge's consideration that the judge was not too sharp in digging up information, assessing the feasibility of the parties, and considering the social and psychological impact on the the applicant’s child and the fetus that is being conceived so that the protection and best interests of the child are not maximally implemented, the judge's rejection of this marriage dispensation application as a form of legal certainty by the judge to provide legal order for the phenomenon of free sex that is rampant in society. Keywords: Supreme Court Regulation Number 5 of 2019, Judge’s Consideration, Marriage Dispensation Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi adanya penolakan permohonan dispensasi kawin oleh hakim pengadilan agama painan dengan kondisi anak yang dimohonkan dispensasi kawin tengah hamil diluar nikah akibat hubungan intimnya dengan calon suami. Pertimbangan hakim menolak permohonan karena Anak pemohon dan calon suami belum siap untuk menikah dan semakin merajalelanya perilaku seks bebas. Perkara ini bersifat dilematis mengingat keadaan darurat dari anak pemohon yang tengah hamil, dimana hakim dihadapkan dua potensi kemudaratan dalam mengabulkan atau menolak permohonan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dasar hukum pertimbangan hakim dalam menolak permohonan dispensasi kawin perkara tersebut dan mengetahui tinjauan perma nomor 5 tahun 2019 tentang pedoman mengadili permohonan dispensasi kawin terhadap pertimbangan hakim tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan kasus. Pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi dokumen dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa dasar hukum pertimbangan hakim adalah dengan perma nomor 5 tahun 2019 sebagai panduan dalam mengadili perkara, surah at-tahrim ayat 6, hadits tentang anjuran menikah bagi yang sudah mampu, pendapat ulama tentang haramnya perkawinan wanita hamil, pasal 80 ayat (2) kompilasi hukum islam, dan kaidah fikih tentang menolak kemudaratan dalam menilai kesiapan pihak untuk menikah. Berdasarkan tinjauan perma nomor 5 tahun 2019 terhadap pertimbangan hakim tersebut bahwa hakim tidak terlalu tajam dalam menggali informasi, menilai kelayakan para pihak, dan mempertimbangkan dampak sosial dan psikologis terhadap anak pemohon dan janin yang tengah dikandungnya sehingga perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak tidak terlaksana secara maksimal, penolakan hakim atas permohonan dispensasi kawin ini sebagai wujud kepastian hukum oleh hakim untuk memberikan ketertiban hukum atas fenomena seks bebas yang tengah merajalela di tengah masyarakat. Kata Kunci: Perma Nomor 5 Tahun 2019, Pertimbangan Hakim, Dispensasi Kawin
Konsep Iddah Bermasuk Masukan Menurut Kitabun Nikah Dan Mugni Al-Muhtaaj Pambudi, Bagus; Riah, Juai; Hafizah, Nurul; Hafidzi, Anwar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.612

Abstract

Abstract This research analyzes the concept of iddah entry in the work of Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari Kitabun Nikah, Rujuk is an alternative in Islamic law as a solution for couples who have divorced. Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari believes that husband reconciliation is invalid without words, which is classified as one of the conditions for reconciliation in the "Wedding Book". This requirement causes the wife's iddah period to be repeated, thereby giving the impression of increasing the iddah period which must be completed by three months. Therefore, this research aims to review and analyze more deeply the overlapping concepts of iddah and legal istinbat used by Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari in this regard. This research is normative research, carried out by analyzing library materials using a conceptual and analytical approach, as well as Islamic legal theory as an analytical tool. The research results show that Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari has the same legal views as the mugni manhaaj book. Keywords: Iddah, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, The Book Of An-Marriage Abstrak Penelitian ini menganalisis konsep iddah bermasuk-masukan dalam karya syekh Muhammad arsyad al-banjari kitabun nikah, Rujuk merupakan salah satu alternatif dalam hukum Islam sebagai solusi bagi pasangan yang pernah bercerai. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari berpendapat bahwa rujuk suami tidak sah tanpa ucapan, yang digolongkan sebagai salah satu syarat rujuk dalam "Kitabun Nikah". Syarat ini menyebabkan pengulangan masa iddah istri, sehingga terkesan menambah masa iddah yang harus disempurnakan selama tiga bulan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meninjau dan menganalisis lebih dalam tentang konsep iddah yang tumpang tindih dan istinbat hukum yang digunakan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari terkait hal tersebut. Penelitian ini adalah penelitian normatif, dilakukan dengan menganalisis bahan pustaka menggunakan pendekatan konsep dan analisis, serta teori hukum Islam sebagai alat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari memiliki pandangan hukum yang sama dengan kitab mugni manhaaj. Kata Kunci: Iddah, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Kitabun Nikah
Konsep Masa Iddah Perempuan yang Ditinggal Mati Suami Juwairiah; Gina, Miftahul; Azkiya, Muhammad Rifqi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.613

Abstract

Abstract             ‘Iddah is intended as a calculation or something that is counted. Calculating ‘iddah can be done either by counting the menstrual cycles or by counting the period of purity for a woman. ‘Iddah is the waiting period for a woman to remarry after the dissolution of a marriage, whether due to divorce or the death of the spouse. The purpose is to determine the condition of her womb and to reconsider reconciliation with her husband. The method used in this research is a literature study, primarily sourced from the book written by Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjary titled “Kitabun Nikah”. The results of this study indicate that the ‘iddah for a woman who is not pregnant is four months and ten days. Keywords: 'Iddah Period, Women, Husband's Death Abstrak ‘Iddah dimaksudkan sebagai perhitungan atau sesuatu yang dihitung. Menghitung ‘iddah baik dengan menghitung dari haid ataupun menghitung dari sucinya seorang perempuan. Iddah adalah masa menunggu bagi seorang perempuan untuk melakukan perkawinan setelah terjadinya perkawinan, dan terjadi perpisahan yang disebabkan cerai hidup atau cerai mati. Dengan tujuan untuk mengetahui keadaan rahimnya dan untuk memikirkan ulang untuk bisa rujuk dengan suaminya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, yang bersumber utama dari kitab karangan Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjary yang berjudul “Kitabun Nikah”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ‘iddah bagi perempuan yang tidak hamil adalah empat bulan sepuluh hari. Kata kunci : Masa ‘Iddah, Perempuan, Mati Suami  
Perwalian Menurut Para Fuqaha (Tela'ah Kitab Fiqih Islam Wa Adillatuh, Dan Kitabun Nikah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari) Muhammad Parhan, Fathullah; Abdul Hamid; Lutfi Annisa
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.618

Abstract

Abstract This study examines the rights, conditions, and order of marriage guardianship according to the Imams of the schools of thought and jurists, with a review of the books "Fiqh Islam Wa Adillatuh" and "Kitabun Nikah" by Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Marriage guardianship is a crucial aspect of Islamic marriage law that ensures compliance with Sharia and protects the rights of the involved parties. This study discusses the views of various schools regarding the rights and duties of guardians, as well as the conditions required for valid guardianship. By analyzing these classical literatures, this research provides a deep understanding of the guardian's role in the context of Islamic marriage and its relevance in contemporary practice. Abstrak Penelitian ini mengkaji hak, syarat, dan urutan perwalian nikah menurut para imam madzhab dan fuqaha, dengan tela'ah pada kitab "Fiqih Islam Wa Adillatuh" dan "Kitabun Nikah" karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Perwalian nikah adalah aspek penting dalam hukum pernikahan Islam yang memastikan kepatuhan terhadap syariah dan melindungi hak-hak pihak yang terlibat. Studi ini membahas pandangan berbagai madzhab mengenai hak dan kewajiban wali, serta kondisi yang harus dipenuhi untuk sahnya perwalian. Dengan menganalisis literatur klasik ini, penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang peran wali dalam konteks pernikahan Islam dan relevansinya dalam praktik kontemporer.
Perception of Married Couples on Religious Counseling Conducted by KUA, Basarang District, Kapuas Regency Ulfah, Putri Rahmaida; Fadillah, Rahmat
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.619

Abstract

Abstract This research is motivated by the requirement in applying for marriage at KUA, namely using religious counseling. Based on the background of the problem, the purpose of this study is to find out the impact of couples who are given and not given religious counseling, to find out the impact of attending and not attending religious counseling by KUA, Basarang District, Kapuas Regency, to find out the obstacles faced by KUA in religious counseling This study uses empirical law research methods. The approach of this research is qualitative descriptive, with the research location located in Basarang District, Kapuas Regency. The data used in this study came from interviews with the community or couples in Basarang District. The methods used to collect data for this research are interviews and documentation studies. The results of this study are: first, the perception of husband and wife on the impact of providing religious counseling and not providing counseling to couples who want to get married in Basarang District, Kapuas Regency. The perception of married couples towards religious counseling is as a means for married couples to form a sakinah family. The benefits of religious counseling itself are very many, such as the procedure for marriage contracts, , fiqh sciences about marriage (munakahat) so that attending religious counseling is influential in the harmony of married couples. Second, is how the obstacles obtained by the KUA of Basarang District towards religious counseling, The constraint of this implementation is because the KUA gets obstacles from people who cannot attend because their domicile is far away or sick and so on. Kua also gets obstacles from the lack of organizational managerial. Keywords: Perception, Counseling, KUA Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya persyaratan dalam pengajuan nikah di KUA yaitu menggunakan penyuluhan agama. Berdasarkan latar belakang masalah, tujuan dilakukan penelitian ini adalah Untuk mengetahui dampak pasangan yang diberi dan tidak diberi penyuluhan agama, untuk mengetahui dampak dari hadir dan tidak hadir dalam penyuluhan agama oleh KUA Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas, untuk mengetahui kendala yang dihadapi KUA dalam penyuluhan agama Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris. Pendekatan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan lokasi penelitian yang bertempat di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari wawancara masyarakat atau pasangan di Kecamatan Basarang. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini adalah wawancara dan studi dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah pertama, persepsi suami istri terhadap dampak dari diberikan penyuluhan agama dan tidak diberikannya penyuluhan kepada pasangan yang ingin menikah di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Persepsi pasangan suami istri terhadap dilakukannya penyuluhan agama adalah sebagai sarana untuk modal pasangan suami istri dalam membentuk keluarga yang sakinah. Manfaat dari penyuluhan agama itu sendiri sangat banyak seperti tata cara akad nikah, ilmu-ilmu fikih tentang perkawinan (munakahat) sehingga menghadiri penyuluhan agama berpengaruh dalam keharmonisan pasangan suami istri. Kedua, adalah bagaimana kendala yang di dapatkan oleh KUA Kecamatan Basarang terhadap penyuluhan agama, Terkendalanya pemberlakuan ini dikarenakan KUA mendapatkan kendala dari masyarakat yang tidak bisa berhadir dikarenakan domisilinya yang bersangkutan jauh atau karera sakit dan lain sebagainya. Kua juga mendapatkan kendala dari kurangnya manajerial organisasi,dalam pengelolaan sumber daya manusia. Kata Kunci : Persepsi, Penyuluhan, KUA
Implementation Of Article 38 Point M Of Paser District Regulation Number 7 Of 2016 Concerning Village Head Elections Case Study Of Pulau Rantau Village Head Elections Sari, Husna; Faralita, Ergina
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.620

Abstract

Abstract The legal product on the election of village heads in Paser Regency is Regional Regulation No. 07/2016 on the Election of Village Heads. This regulation stipulates that each village head must fulfill the requirement of being willing to reside in the village where he/she serves from the time of inauguration. This Regional Regulation also states that the village head can be dismissed because he no longer meets the requirements as a village head. in this dismissal mechanism, the Village Consultative Body proposes to the regent through the sub-district head. In Pulau Rantau Village, there is an assumption that the elected village head does not live in a permanent house in Pulau Rantau Village during his/her term of office as stipulated in Regional Regulation No. 07/2016 on Village Head Elections. This has happened for a long time before the village head who served for 2 periods with an interval of 12 years also did not live in the village during his tenure. The Village Consultative Body as the legislative body at the village level also did not conduct deliberations to propose the dismissal of the village head as stipulated in Regional Regulation of Paser Regency Number 07 of 2016 concerning Village Head Elections. Keywords: implementation, local regulation, village head election Abstrak Produk hukum tentang pemilihan kepala desa di Kabupaten Paser yakni Peraturan Daerah Nomor 07 Tahun 2016 Tentang Pemilihan Kepala Desa. peraturan ini mengatur bahwa setiap kepala desa wajib memenuhi persyaratan yakni bersedia bertempat tinggal di desa dimana dia menjabat terhitung sejak dilantik. Di dalam Peraturan Daerah ini juga menyebutkan kepala desa dapat diberhentikan karena tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai kepala desa. dalam mekanisme pemberhentian ini Badan Permusyawaratan Desa mengusulkan kepada bupati melalui camat. Di desa Pulau Rantau terdapat asumsi bahwa kepala desa selama menjabat, kepala desa yang terpilih tidak bertempat tinggal menetap dengan rumah permanen di Desa Pulau Rantau sebagaimana diatur di dalam Peraturan Daerah Nomor 07 Tahun 2016 Tentang Pemilihan Kepala Desa. Hal ini sudah terjadi sejak lama sebelumnya kepala desa yang menjabat selama 2 periode dengan selang waktu 12 tahun juga tidak bertempat tinggal di desa selama menjabat. Badan Permusyawaratan Desa selaku lembaga legislatif di tingkat desa juga tidak melakukan musyawarah usul pemberhentian kepala desa sebagaimana Peraturan Daerah Kebupaten Paser Nomor 07 Tahun 2016 Tentang Pemilihan Kepala Desa. kata Kunci: Implementasi, peraturan daerah, kepala desa
Praktik Gadai Rumah Yang Digadaikan Kembali (Studi Kasus Desa Banua Batung Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah) Nurhidayah
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.624

Abstract

Abstract This research is motivated by the practice of pawning a re-pawned house in Banua Batung Village, Pandawan District, Hulu Sungai Tengah Regency which is carried out by several people in overcoming their daily needs. Pawn is one way to quickly get a money loan with collateral. The legal basis for pawning is allowed, but the utilization of the pawn object is not allowed in Islam or civil law, because it contradicts the terms of the pawn. Therefore, this research aims to find out how the practice of pawning a re-pawned house in Banua Batung Village, Pandawan District, Hulu Sungai Tengah Regency and to find out the factors that cause the pawn giver to re-pawn his house in Banua Batung Village, Pandawan District, Hulu Sungai Tengah Regency. The research method used is empirical law with a qualitative approach. The results of this study include, among others, in practice, the utilization of the pawn object by rahin (pawn giver) without the knowledge and permission of murtahin (pawn recipient). According to the Hanafiyah and Malikiyah scholars and article 1150 of the Civil Code, rahin may not use collateral without the permission of the pawn holder and vice versa. The factor causing the pawn giver to re-mortgage the collateral is that in the first case the rahin argued because of the urgent need to fulfill his daily needs. As for the second case, the reason why rahin borrowed money was to play dice that used money or was called a gambling game. Keywords; Practice, Pawn, House Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi dengan adanya praktik gadai rumah yang digadaikan kembali di Desa Banua Batung Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang dilakukan beberapa masyarakat dalam mengatasi kebutuhan sehari-hari. Gadai merupakan salah satu cara cepat mendapatkan pinjaman uang dengan barang jaminan. Adapun dasar hukum gadai diperbolehkan, namun dalam pemanfaatan objek gadai tidak diperbolehkan dalam Islam maupun perdata, karena bertentangan dengan syarat gadai. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana praktik gadai rumah yang digadaikan kembali di Desa Banua Batung Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan untuk mengetahui faktor penyebab pemberi gadai menggadaikan kembali rumah yang dimilikinya di Desa Banua Batung Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Adapun hasil dari penelitian ini antara lain yaitu, dalam praktiknya adanya pemanfaatan objek gadai oleh rahin (pemberi gadai) tanpa sepengetahuan dan seizin dari murtahin (penerima gadai). Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah dan pasal 1150 KUHperdata rahin tidak boleh menggunakan barang jaminan tanpa seizin dari pemegang gadai begitu sebaliknya. Faktor penyebab pemberi gadai menggadaikan kembali barang jaminannya yaitu untuk kasus pertama rahin beralasan karena kebutuhan yang mendesak untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Adapun dalam kasus kedua alasan rahin meminjam uang adalah untuk bermain dadu yang menggunakan uang atau disebut permainan judi. Kata Kunci; Praktik, Gadai, Rumah
Konsep Hukum Muasyarah Pada Masyarakat Modern Menurut Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Dan Syekh Nawawi Al-Bantani Endika Permana Putra; Putri Adhalia Mariza; Al-'Aina, Nadhrah; Anwar Hafidzi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.625

Abstract

Abstract This study aims to analyze the understanding and application of the laws of iddah and mu'asharah within the context of modern society. The law of iddah, which is the waiting period for women after divorce or the death of a husband, and mu'asharah, which pertains to the interactions between husband and wife, have strong foundations in classical Islamic jurisprudence. However, the social and cultural dynamics of the modern era influence how these laws are interpreted and applied by contemporary society. Utilizing a literature review approach, this research examines the evolving understanding and implementation of the laws of iddah and mu'asharah by collecting data through extensive literature review. The findings indicate that while there are efforts to maintain the essence of classical law, significant adaptations have been made by modern society to align with current social conditions and contemporary needs. This study also identifies the factors driving these changes. These findings provide insights into how Islamic law remains relevant and dynamic in the face of changing times and highlight the importance of contextualizing legal principles in the daily lives of modern society. Keywords: Iddah, Deceased, Passed Away, Muasyarah Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman dan penerapan hukum iddah dan muasyarah dalam konteks masyarakat modern. Hukum iddah, sebagai masa tunggu bagi wanita setelah perceraian atau kematian suami, serta muasyarah, yang berkaitan dengan interaksi suami istri, memiliki landasan yang kuat dalam hukum Islam klasik. Namun, dinamika sosial dan budaya di era modern mempengaruhi cara masyarakat memaknai dan menerapkan hukum ini. Melalui pendekatan studi literatur, penelitian ini mengkaji perubahan pemahaman dan pelaksanaan hukum iddah dan muasyarah dengan mengumpulkan data melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada upaya mempertahankan esensi hukum klasik, terdapat adaptasi signifikan yang dilakukan oleh masyarakat modern untuk menyesuaikan dengan kondisi sosial dan kebutuhan kontemporer. Penelitian ini juga mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong perubahan tersebut. Temuan ini memberikan wawasan tentang bagaimana hukum Islam tetap relevan dan dinamis dalam menghadapi perubahan zaman, serta pentingnya kontekstualisasi hukum dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Kata Kunci:Iddah, Wafat, Meninggal, Muasyarah
Pendayagunaan Dana Zakat, Infak dan Sedekah dalam Program Kotim Sejahtera pada Baznas Kabupaten Kotawaringin Timur Hafiz, Ahmad; Nurani, Muhammad Fahmi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.626

Abstract

Abstract This research is motivated by the problem of poverty that occurs in Indonesia is still high. Therefore, the role of zakat is expected to be a means to alleviate poverty. One way to overcome poverty is to optimize the utilization of zakat, infaq and alms (ZIS) funds. BAZNAS Kotawaringin Regency has several programs, one of which is a program to alleviate poverty and improve community welfare, namely the Kotim Sejahtera program which is engaged in economic empowerment by providing productive assistance to mustahik. This study aims to determine the form of utilization of zakat, infaq and alms funds in the Kotim Sejahtera program at BAZNAS East Kotawaringin Regency and the impact of the Kotim Sejahtera program on the welfare of mustahik. This research is included in the type of empirical legal research, which is a type of legal research that examines the operation of law in society. The approach used in this research is descriptive qualitative. The subjects of this research are Vice Chairman II of Distribution and Empowerment, BAZNAS staff and mustahik recipients of business capital assistance Kotim Sejahtera program. Data collection using interview, observation and documentation methods which were then classified and analyzed by qualitative methods. The results of this study indicate that the utilization of zakat, infaq and alms funds in the Kotim Sejahtera program at BAZNAS East Kotawaringin Regency is a type of economic empowerment program by providing productive business capital assistance in the form of providing business necessities for mustahik. The implementation of this program has been carried out well and is able to achieve the desired goals. The impact of utilization in the program is able to improve the welfare of mustahik as evidenced by the fulfillment of 10 indicators of mustahik welfare. Keyword: Utilization, Zakat, Infaq and Sadaqah Funds, Kotim Sejahtera. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kemiskinan yang terjadi di Negara Indonesia tercatat masih tinggi. Oleh karena itu, peran zakat diharapkan mampu menjadi sarana untuk mengentaskan kemiskinan. Salah satu cara mengatasi kemiskinan ialah optimalisasi dalam pendayagunaan dana zakat, infak dan sedekah (ZIS). BAZNAS Kabupaten Kotawaringin memiliki beberapa program yang mana salah satunya adalah program untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yaitu program Kotim Sejahtera yang bergerak dibidang pemberdayaan ekonomi dengan cara memberikan bantuan secara produktif kepada mustahik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pendayagunaan dana zakat, infak dan sedekah dalam program Kotim Sejahtera pada BAZNAS Kabupaten Kotawaringin Timur dan dampak program Kotim Sejahtera tersebut terhadap kesejahteraan mustahik. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian hukum empiris, yakni jenis penelitian hukum yang mengkaji bekerjanya hukum di masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, staf BAZNAS serta para mustahik penerima bantuan modal usaha program Kotim Sejahtera. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi yang kemudian diklasifikasi dan dianalisis dengan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendayagunaan dana zakat, infak dan sedekah dalam program Kotim Sejahtera pada BAZNAS Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan jenis program pemberdayaan ekonomi dengan cara memberikan bantuan modal usaha produktif yakni dalam bentuk pemberian barang-barang keperluan usaha untuk mustahik. Pelaksanaan program ini telah dilakukan dengan baik dan mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Adapun dampak pendayagunaan dalam program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan mustahik yang dibuktikan dengan terpenuhinya 10 indikator kesejahteraan mustahik. Kata Kunci: Pendayagunaan, Dana Zakat, Infak dan Sedekah, Kotim Sejahtera.
Persepsi Masyarakat Desa Sungai Danau Kecamatan Satui Tentang Wakaf Uang Yang Dilakukan Melalui Platform Digital Wahidi, Akhmad; Adawiyah, Rabiatul
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.627

Abstract

Abstract As time progresses, the implementation of cash waqf also continues to develop, Previously, cash waqf could only be done directly, but now cash waqf can be done via digital platforms. The developments in the implementation of cash waqf made the author interested in conducting research to find out how the people of Sungai Danau Village, Satui District feel about cash waqf which is carried out through digital platforms and to find out what factors influence the perception of the people in Sungai Danau Village regarding cash waqf which is carried out through digital platforms. digital platforms. The type of research used in this research is empirical legal research using a qualitative descriptive research approach. The research method uses empirical facts taken from human behavior through behavior obtained from interviews. The subjects of this research are the people of Sungai Danau Village, Satui District, with the object being the perception of the people of Sungai Danau Village, Satui District regarding cash waqf which is carried out through digital platforms. The results of this research show that there are three differences in perceptions regarding cash waqf carried out via digital platforms. The first perception, five out of ten people perceive that cash waqf which can be done via digital platforms is more practical. Second perception, two out of ten informants perceived that cash waqf directly handed over to nazhir or waqf institutions was safer and the money would definitely be distributed well. The third perception, three out of ten informants felt that cash waqf could only be done directly because the law had been clear from the past, it was safer and more reassuring. This perception is influenced by functional factors such as knowledge, experience and education and is also influenced by structural factors such as cultural factors. Keywords: Public Perception, Cash Waqf, Digital Platforms Abstrak Seiring berjalannya waktu, pelaksanaan wakaf tunai juga terus mengalami perkembangan, jika sebelumnya wakaf tunai hanya dapat dilakukan secara langsung, kini wakaf tunai dapat dilakukan melalui platform digital. Perkembangan pelaksanaan wakaf tunai tersebut membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat Desa Sungai Danau Kecamatan Satui mengenai wakaf tunai yang dilakukan melalui platform digital dan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi persepsi masyarakat Desa Sungai Danau mengenai wakaf tunai yang dilakukan melalui platform digital. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Metode penelitian menggunakan fakta empiris yang diambil dari perilaku manusia melalui tingkah laku yang diperoleh dari hasil wawancara. Subjek penelitian ini adalah masyarakat Desa Sungai Danau Kecamatan Satui, dengan objeknya adalah persepsi masyarakat Desa Sungai Danau Kecamatan Satui mengenai wakaf uang yang dilakukan melalui platform digital. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga perbedaan persepsi mengenai wakaf tunai yang dilakukan melalui platform digital. Persepsi pertama, lima dari sepuluh orang mempersepsikan bahwa wakaf uang yang dilakukan melalui platform digital lebih praktis. Persepsi kedua, dua dari sepuluh informan mempersepsikan bahwa wakaf tunai yang diserahkan langsung kepada nazhir atau lembaga wakaf lebih aman dan uangnya pasti tersalurkan dengan baik. Persepsi ketiga, tiga dari sepuluh informan merasa bahwa wakaf uang hanya bisa dilakukan secara langsung karena hukumnya sudah jelas dari dulu, lebih aman dan menentramkan. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor fungsional seperti pengetahuan, pengalaman dan pendidikan dan juga dipengaruhi oleh faktor struktural seperti faktor budaya. Kata Kunci : Persepsi Masyarakat, Wakaf Uang, Platform Digital