cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
ISSN : 23026383     EISSN : 25021648     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi & Aplikasi (JPPFA) is interested in comparative studies that lead to new insights and challenge of orthodox theories; that have potential for policy impact; and that apply to broad range of settings, including industrial democracies as well as low and middle income countries, countries in political transition and countries recovering from armed conflict and social unrest. JPPFA also considers papers that look at education and development through the policies and practices of official development assistance and commercial education trade. JPPFA engages these approaches to deepen the understanding of the relationship between education policy and development.
Arjuna Subject : -
Articles 219 Documents
PENGEMBANGAN KOMPETENSI DAN PENDIDIKAN BERKELANJUTAN PUSTAKAWAN PTAIN: STUDI KASUS DI PERPUSTAKAAN UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA Masruri, Anis; Kuntoro, Sodiq A.; Arikunto, Suharsimi
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 1 (2016): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.685 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i1.9818

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan pengembangan kompetensi dan pendidikan berkelanjutan pustakawan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menurut persepsi pustakawan, pimpinan, dan pengguna perpustakaan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) kompetensi pustakawan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang perlu dikembangkan terbagi menjadi enam bidang, yaitu: kompetensi manajerial, kompetensi pengelolaan informasi, kompetensi kependidikan, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi pengembangan profesi; (2) pendidikan berkelanjutan bagi pustakawan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dilakukan melalui pendidikan nonformal berbentuk pelatihan dengan mengacu pada prinsip pendidikan orang dewasa (andragogi). Adapun materi yang perlu dipelajari dalam kegiatan pelatihan oleh pustakawan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meliputi kajian minat dan kebutuhan informasi, seleksi bahan pustaka, pengadaan bahan pustaka, organisasi dan analisis informasi, manajemen perpustakaan, pelayanan informasi, literasi informasi, teknologi informasi, pengembangan kepribadian, dan keterampilan interpersonal.Kata kunci: kompetensi pustakawan, pendidikan berkelanjutan THE DEVELOPMENT OF ADVANCED EDUCATION AND COMPETENCY FOR THE LIBRARIANS OF ISLAMIC STATE UNIVERSITY: A CASE STUDY IN THE LIBRARY OF SUNAN KALIJAGA STATE ISLAMIC UNIVERSITY YOGYAKARTAAbstractThe study was to reveal the development of advanced education and competency for the librarians of Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta according to the perception of the librarians, the leaders and the users. The method that the researchers employed was a qualitative method by means of case study approach and the study was conducted in the Library of Sunan Kalijaga State Islamic University. The results of the study were as follows: (1) The competencies for the librarians of Sunan Kalijaga State Islamic Universities that should be developed were divided into six domains namely: managerial competency, information-processing competency, education competency, personality competency, social competency and professional development competency; and (2) The advanced education for the librarians of Sunan Kalijaga State Islamic University should be conducted through a non-formal education in the form of training programs by referring to the principles of andragogy (education for the adult people). However, the materials that should be studied by the librarians of Sunan Kalijaga State Islamic University in the training activities included the interest and information needs analysis, the literary material selection, the literary material procurement, the information organization and analysis, the library management, the information service, the information literacy, the information technology the personality development and the interpersonal skills.Keywords: librarians’ competency, advanced education
KEPEMIMPINAN (UNTUK) PEMBELAJARAN: JEMBATAN UNTUK MEMPERKUAT PEMBENTUKAN KARAKTER Udik Budi Wibowo
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.282 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12425

Abstract

Pendidikan dipandang belum dapat melahirkan dalam jumlah banyak manusia pintar, bermoral, dan profesional, yang mampu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan ketaqwaan dalam perilaku keseharian. Sehubungan dengan itu kepemimpinan untuk pembelajaran dapat dijadikan strategi dan solusi guna menjawab keprihatinan bangsa tersebut. Kepemimpinan untuk pembelajaran berkaitan dengan pengelolaan penjaminan kualitas pembelajaran, yang dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif untuk mengembangkan potensi peserta didik seutuhnya sehingga dapat mencapai prestasi akademik dan non-akademik yang maksimal, serta bermanfaat bagi kehidupan sendiri dan lingkungannya. Kepemimpinan pembelajaran mengutamakan praktek-praktek pendidikan yang ideal dengan landasan kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan estetika (keindahan); sehingga dapat melahirkan insan-insan yang berkarakter mulia dan profesional.Kata kunci: kepemimpinan untuk pembelajaran, kualitas pembelajaran, insan berkarakter, dan pengembangan sekolah LEADERSHIP (FOR) LEARNING: BRIDGE TO STRENGTHEN THE CHARACTER BUILDINGAbstractEducation couldn’t have been produced a large number of peoples who smart,  have high moral standards, and professional, yet; who capable to give priority to human values and faithful in daily live. In keeping with the nation concern, leadership for learning could be use as a strategy or an alternative solution. Leadership for learning concerned with learning quality assurance management, which can create condusive learning environment to develop the wholeness student potential, so he/she could reach maximum academic and non-academic achievement, which is worthwhile for him/her-self live, and the environment. Leaderhip for learning consider as most important the ideal of educational practices, based on truth, justice, humanity, and aesthetics; so it could provide a large number of noble and professional peoples.Keywords: leadership for learning, learning quality, noble people, and school improvement
Peran modal sosial dalam implementasi konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara di SD Taman Muda Yogyakarta Wijayanto, Sukma
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 5, No 1 (2017): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.079 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v5i1.13566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) implementasi pendidikan Ki Hadjar Dewantara; dan (2) modal sosial di SD Taman Siswa Jetis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Unit analisis penelitian adalah SD Tamansiswa Jetis. Penentuan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan subjek penelitian adalah pamong, kepala sekolahdan ketua yayasan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa cabang Jetis. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis penelitian ini menggunakan model interaktif Milles Huberman. Berdasarkan penelitian diperoleh sebagai berikut: (1) Konsep pemikiran Ki Hadjar terlaksana di SD Taman Siswa Jetis yakni sistem among tidak dapat dipisahkan prinsip kemerdekaan dan kodrat alam. Pelaksanaan sistem among dilaksanakan dengan keteladanan, pembiasaan, pengajaran, serta hukumam, paksaan dan perintah. (2) Trust, Jaringan, dan norm dalam melaksanakan konsep Ki Hadjar Dewantara menggunakan nilai-nilai kekeluargaan. Kekeluargaan modal sosial yang menjadi kekuatan dalam melaksanakan konsep pendidikan Ki Hadjar di SD Taman Siswa Jetis.Kata kunci: Ki Hadjar Dewantara, Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Modal Sosial
Manajemen budaya sekolah berbasis pesantren di Madrasah Tsanawiyah Ali Maksum, Sewon, Bantul, Yogyakarta Lilik Ardiansyah; Achmad Dardiri
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 6, No 1 (2018): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.663 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v6i1.22626

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan manajemen budaya sekolah yang ada di MTs Ali Maksum Sewon, Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif naturalistik dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, tenaga pendidik, dan siswa. Data penelitian dikumpulkan melalui pengamatan langsung (observasi), analisis dokumen, dan wawancara secara mendalam. Untuk meningkatkan keabsahan data, peneliti menggunakan tehnik trianggulasi. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) pengembangan budaya sekolah berbasis pesantren sebagai identitas atau karakteristik madrasah dilakukan dengan berpedoman pada nilai-nilai kepesantrenan melalui sistem pendidikan dan pengajaran, yaitu kurikulum yang diterapkan dengan mengadopsi kurikulum kemenag 100% dan kurikulum pesantren 100%, dan program unggulan dan kegiatan ekstrakurikuler mampu meningkatkan motivasi belajar dan prestasi peserta didik, (2) pengelolaan budaya sekolah yang dikembangkan menyertakan peran langsung kepala madrasah dengan melakukan kegiatan manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, motivasi, dan evalusi melalui pembentukan tim yang bertanggungjawab mengatur kegiatan, penjadwalan, koordinasi langsung dengan bawahan dan pembimbing di pondok, serta peninjauan dan pengawasan baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai pertimbangan dalam evaluasi.Kata Kunci: budaya sekolah, manajemen, pesantren MANAJEMEN OF PESANTREN BASED SCHOOL CULTURE AT MADRASAH TSANAWIYAH ALI MAKSUM, SEWON, BANTUL, YOGYAKARTAAbtractThis research was aimed to discription the management of school culture at MTs Ali MaksumSewon, Bantul. This was qualitative naturalistic research using the qualitative approach. The research subjects were the headmaster, deputy headmaster, teachers, and students. The data were gathered through three main direct observation, document analysis, and in-depth interview. To develop the data validity, the researcher used the triangulation technique. The research results were as follows. (1) The development of pesantren-based school culture as a madrasah identity and characteristic was conducted based on Islamic school of Koranic studies values through educational and teaching system, curriculum applied by adopting the curriculum of Kemenag 100% and curriculum of pesantren 100% as well as excellent programs and extracurricular activities which were able to improve students learning motivation and achievement. (2) The management of school culture was developed by involving direct roles of madrasah principal by performing management activities that covered planning, organizing, motivation and evaluation through establishment team that was responsible to handle activities, scheduling, direct coordination with subordinates and instructors in school and direct and indirect observation and supervision as an observation in evaluation.Keywords: school culture, management, pesantren (Islamic school)
Kontribusi komunikasi dan keterampilan manajemen konflik kepala sekolah terhadap kinerja guru Syaifulloh Nugroho
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 7, No 1 (2019): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.999 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v7i1.24774

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1.) Mengetahui kontribusi komunikasi kepala sekolah terhadap kinerja guru; 2.) Mengetahui kontribusi keterampilan manajemen konflik kepala sekolah terhadap kinerja guru; dan 3.) Mengetahui kontribusi komunikasi dan keterampilan manajemen konflik kepala sekolah terhadap kinerja guru di Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan jenis expost-facto dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh guru di SD Negeri Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun ajaran 2017/2018. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah angket. Teknik analisis data menggunakan regresi sederhana dan regresi ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kontribusi komunikasi dan keterampilan manajemen konflik kepala sekolah terhadap kinerja guru SD Negeri di Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kontribusi komunikasi kepala sekolah terhadap kinerja guru adalah sebesar 64,9%, kontribusi keterampilan manajemen konflik kepala sekolah terhadap kinerja guru adalah sebesar 80,6%, dan kontribusi komunikasi dan keterampilan manajemen konflik kepala sekolah terhadap kinerja guru adalah sebesar 85,8%. AbstractThis research aims to: 1.) Knowing the contribution of communication made by the headmaster to teacher performance; 2.) Knowing the contribution of headmaster conflict management skills to teacher performance, and 3.) Knowing the contribution of communication and conflict management skills by the headmaster to the performance of teachers in Primary Schools in Mlati District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. This study uses a post-facto type with a quantitative approach. The study population was all teachers at the Primary School in Mlati District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta in the academic year 2017/2018. Data collection techniques using a questionnaire. Data analysis techniques using simple regression and multiple regression. The results of this study indicate that there is a contribution of communication and conflict management skills made by the principal to the performance of elementary school teachers in the Mlati District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. The contribution of communication made by the headmaster to teacher performance was 64.9%, the contribution of conflict management skills made by the headmaster to teacher performance was 80.6%, and the contribution of communication and conflict management skills made by the headmaster to performance the teacher is 85.8%.
PRAKTEK DAN PROBLEMATIK PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SMK Dewi Indrapangastuti
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.226 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v2i1.2614

Abstract

Pendidikan multikultural adalah sebuah konsep yang dibuat dengan tujuan untuk menciptakan persamaan peluang pendidikan bagi semua siswa yang berbeda-beda ras, etnis, kelas sosial dan kelompok budaya, dan untuk membantu semua siswa agar memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan peran-peran seefektif mungkin pada masyarakat demokratik-pluralistik serta diperlukan untuk berinteraksi, negosiasi, dan komunikasi dengan warga dari kelompok beragam agar tercipta sebuah tatanan masyarakat bermoral yang berjalan untuk kebaikan bersama. Melalui pendidikan multikultural peserta didik diharapkan memiliki kompetensi yang baik, bersikap dan menerapkan nilai-nilai demokratis, humanisme dan pluralisme di sekolah dan di luar sekolah. Pendidikan multikultural diberikan kepada siswa SMK agar mereka memahami bahwa di dalam lingkungan mereka dan di lingkungan lain terdapat keragaman budaya yang berpengaruh terhadap tingkah laku, sikap, pola pikir manusia sehingga manusia tersebut memiliki cara-cara, kebiasaan, aturan-aturan bahkan adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Bila perbedaan itu tidak dapat dipahami dengan baik dan diterima dengan bijaksana, maka konflik akan mudah terjadi baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Penerapan konsep yang sistematis dalam mengatasi praktek dan problematik pembelajaran pendidikan multikultural yang bisa diterapkan di SMK, yaitu: a) meningkatkan peran seluruh warga sekolah, terutama guru dengan menggunakan panduan lima dimensi pendidikan multikultur dari Banks, b) mengintegrasikan materi pendidikan multikultural ke dalam kurikulum ataupun pembelajaran di sekolah dengan menggunakan panduan empat pendekatan pendidikan multikultural dari Banks, dan c) meningkatkan peran guru dalam pendidikan multikultural yaitu:1) membangun paradigma keberagamaan inklusif di lingkungan sekolah, 2) menghargai keragaman bahasa di sekolah, 3) membangun sikap sensitif gender di sekolah, 4) membangun pemahaman kritis dan empati terhadap ketidakadilan serta perbedaan sosial, 5) membangun sikap anti diskriminasi etnis, 6) menghargai perbedaan kemampuan, dan 7) menghargai perbedaan umur.Kata kunci: praktek dan problematik, pendidikan multikultural, SMK
DINAMIKA PENANAMAN NILAI-NILAI BELA NEGARA KADET MAGUWO DALAM PERSPEKTIF HISTORIS Yulianto Hadi; Djoko Suryo; F.X. Sudarsono
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.912 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v2i2.2660

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengetahui, memahami, dan menemukan: 1) formulasi nilai-nilai bela negara yang terkandung dalam peristiwa Serangan Fajar dan jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA pada tanggal 29 Juli 1947; 2) dinamika interpretasi tokoh  dan pejabat TNI AU terhadap bela negara; 3) rumusan dinamika proses penanaman nilai-nilai bela negara di Sekbang; 4) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dinamika penanaman nilai-nilai bela negara di Sekbang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan kombinasi dari berbagai pendekatan dan metode penelitian. Simpulan dari penelitian ini adalah: 1) core value bela negara Kadet Maguwo yang masih relevan; sesuai dengan landasan historis dan landasan filosofis pendidikan meliputi nilai-nilai kesetiaan dan kecintaan terhadap negara Indonesia dengan tetap didasari nilai-nilai ketuhanan, ketulusan, kekuatan tekad, kesatria, moralitas, keteladanan, integritas, profesionalitas, dan kedisiplinan; 2) bela negara awalnya bersifat filosofis, dan diperkuat secara ideologis untuk mengembangkan eksistensinya yang mengutamakan keberanian dengan integritas dan profesionalitas; 3) penanaman nilai diawali secara sederhana dengan landasan filosofis yang penuh makna, berlanjut dengan intensitas yang tinggi untuk pemantapan ideologis, dan psikologis, kemudian mengarah ke sosiologis yang intensitasnya menuru; 4) dinamika penanaman nilai-nilai bela negara dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik, zaman, dan budaya yang berada pada empat tingkatan, yaitu nasional/internasional, departemen, unit pelaksana, dan individu siswa. Proses penanaman nilai-nilai bela negara yang berpola behavioristik dan melibatkan kesadaran siswa untuk turut aktif dalam proses pendidikan akan berdampak sangat dalam, merasuk kedalam jiwa dan menjadi sikap hidup sepanjang hayat siswa, karena telah mencapai pada tataran titik kesadaran integral. Kata kunci: penanaman nilai, nilai bela negara
PEMBERDAYAAN MADRASAH BERBASIS MODAL SOSIAL DI LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF PONOROGO JAWA TIMUR Moh Miftachul Choiri; S. Suyata; S. Sumarno
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 2 (2015): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.188 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i2.8398

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: (1) memaparkan proses pemberdayaan madrasah di lingkungan LP Ma’arif Ponorogo Jawa Timur (2) menggali modal sosial yang dimanfaatkan madrasah di lingkungan LP Ma’arif Ponorogo Jawa Timur dalam kegiatan pemberdayaan; (3) menjelaskan kontribusi modal sosial dalam kegiatan pemberdayaan madrasah di lingkungan LP Ma’arif Ponorogo Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul melalui catatan etnografi direduksi dengan analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen dan menemukan tema budaya model analisa Spradley. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kegiatan pemberdayaan madrasah di lihat dari prosesnya dapat dibedakan menjadi tiga tahapan; a) pembentukan kesadaran; (b) Pengkapasitasan; dan (c) kegiatan pendayaan. (2) Terdapat modal sosial yang beragam pada madrasah di lingkungan LP Ma’arif Ponorogo. Keragaman modal sosial tersebut dapat dibedakan dalam tiga hal; nilai-nilai, jejaring sosial dan kepercayaan (trust) masyarakat. (3) Kontribusi modal sosial dalam pemberdayaan madrasah di lingkungan LP Ma’arif Ponorogo dapat mempengaruhi pencapaian akreditasi, pembentukan budaya organisasi madrasah dan program peningkatan mutu pendidikan.Kata Kunci: pemberdayaan,modal sosial, madrasah, etnografi, lembaga pendidikan Ma’arif THE MADRASAH EMPOWERMENT BASED ON SOCIAL CAPITALS AT MA’ARIF EDUCATIONAL INSTITUTION OF PONOROGO, EAST JAVAAbstractThe aims of this stduy are: (1) to describe the process of madrasah empowerment at Ma’arif Educational Institution (EI) of Ponorogo, East Java; (2) to explore a variety of social capitals utilized by Ma’arif EI of Ponorogo, East Java, in empowerment activities; and (3) to explain the contributions of social capitals in madrasah empowerment activities at Ma’arif EI of Ponorogo, East Java. This study was an ethnograpic study employing a qualitative approach. It was conducted through a stage of data collection by means of interviews, observations and documentations. The data collected through ethnographic records were reduced by carrying out domain analysis, taxonomy analysis, and component analysis and finding out cultural themes using Spradley’s analysis model. The results of the study are as follows. (1) Madrasah empowerment activities at Ma’arif Educational Institution of Ponorogo in terms of the process can be distinguished into three stages, namely: (a) consciousness formation, (b) capacity building, and (c) empowerment activities. (2) There are a variety of social capital at the madrasah in Ma’arif EI of Ponorogo. The diversity of social capital can be differentiated in three ways: values, social networks and trust of communities. (3) The contribution of social capital in the empowerment of madrasah at Ma’arif EI of Ponorogo may affect the achievement of accreditation, the formation of madrasah organizational culture, and the program of upgrading the quality of education.Keywords: empowerment, social capital, madrasah, ethnography, Ma’arif EI
KULTUR PENDIDIKAN PESANTREN DAN RADIKALISME Abdul Malik; Ajat Sudrajat; Farida Hanum
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.732 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.11279

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk, (a) mendeskripsikan dan mengungkapkan adanya hubungan kultur pendidikan pesantren al-Madinah dengan radikalisme, (b) mengungkapkan kultur pendidikan pesantren radikal. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, partisipasi, interview dan dokumentasi. Sementara teknik analisis datanya adalah teknik analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) kultur pendidikan pesantren al-Madinah memiliki kecenderungan pada radikalisme dan ekslusifisme, (b) kultur pendidikan pesantren memiliki kurikulum jihad sebagai bagian dari pemahaman agama yang dikembangkan dalam pendidikan pesantren. Hal tersebut menunjukan adanya perubahan kultur pendidikan pesantren yang mengarah pada heterogenitas pola, model, tujuan dan kultur pendidikan yang dikembangkan.  Kultur pesantren yang cenderung pada radikalisme, sejauh ini tidak hanya dapat diukur dari adanya kurikulum jihad atau lainnya akan tetapi dapat diamati dari muatan hidden curriculum yang cenderung dapat diukur melalui gejala dan ekspresi perilaku santri dan ustad. Misalnya segala perangkat nilai, pemikiran, syimbol, sistem, pola, proses pendidikan dan tradisi yang melekat dalam seluruh kegiatan, baik pada aspek yang dapat di amati (tangible) seperti perilaku fisik, bangunan, sikap fanatik, dan syimbol maupun yang tidak teramati (intangible) seperti aspek motivasi, keyakinan, antusisme, ideologi, niat, keberkahan, dan pemikiran..Kata kunci: pesantren, pendidikan, radikalisme, kultur CULTURE OF PESANTREN EDUCATION AND RADICALISMAbstractThis study aims to, (a) describe and disclose their relationship education culture Pesantren al-Madinah with radicalism, (b) disclose the culture of radical pesantren education. This study was descriptive qualitative research. Data collection techniques using observation, participation, interview and documentation. While data analysis technique is inductive analysis techniques. The results showed that (a) the culture of al-Madinah Islamic boarding schools have a tendency to radicalism and exclusiveness, (b) the culture of jihad education schools have the same curriculum as part of the understanding of religion that developed in pesantren education. It shows the change in the culture of pesantren education leading to heterogeneity in patterns, models, goals and educational culture developed. Pesantren culture that tends to the radicalism, has so far not only be measured from their curriculum or other jihad but can be observed from the charge hidden curriculum which tends to be measured by the expression of symptoms and behavior of students and chaplains. For example all the values, thoughts, symbols, system, pattern, process of education and tradition inherent in all activities, both on aspects that can be observed (tangible) such as physical behavior, building, bigotry, and symbols and unobservable (intangible ) as aspects of motivation, confidence, enthusiasm, ideology, faith, blessings, and thinking.Keywords: School, education, radicalism, culture
Model kurikulum pendidikan multikultural di taman kanak-kanak Muhammad Fadlillah
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 5, No 1 (2017): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.715 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v5i1.13286

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui: (1) konsep kurikulum pendidikan multikultural di Taman Kanak-Kanak, dan (2) model pengembangan kurikulum pendidikan multikultural di Taman Kanak-Kanak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak. Penelitian ini berhasil menemukan bahwa: (1) konsep kurikulum pendidikan multikultural di Taman Kanak-Kanak merupakan bentuk kurikulum yang memuat materi-materi pendidikan multikultural yang diperuntukkan bagi pembelajaran anak usia dini dalam rangka mengenalkan dan menanamkan sikap kebersamaan, keadilan, dan toleransi pada diri anak. (2) model pengembangan kurikulum pendidikan multikultural di Taman Kanak-Kanak dilakukan dengan menggunakan empat pendekatan, yaitu pendekatan kontribusi, aditif, transformasi, dan aksi sosial. Dari keempat pendekatan tersebut yang dapat diterapkan dalam pendidikan anak usia dini hanya ada dua, yakni: pendekatan kontribusi dan pendekatan aditif.Kata kunci: kurikulum, pendidikan multikulturan, taman kanak-kanak.  THE MODEL OF MULTICULTURAL EDUCATION CURRICULUM IN KINDERGARTENAbstractThis article aims to know: (1) The concept of multicultural education curriculum in kindergarten, and (2) The model of multicultural education curriculum. This study method used descriptive qualitative method. The collecting data was done by interview, observation and documentation of learning activities in the kindergarten. This study resulted the findings that: (1) The concept of multicultural education curriculum in kindergarten as a form of curriculum contains the materials of multicultural education which given to the learning of the childhood in order to introduce and inculcate unity, justice, and tolerance in children. (2) The model of curriculum development of multicultural education in kindergarten is done by using four approaches, namely the contrivution of additives, transformation, and social action. From the four approaches that can be applied in early childhood education, there are only two, namely the contribution approach and additive approach.Keywords: curriculum, multicultural education, kindergarten

Page 2 of 22 | Total Record : 219