cover
Contact Name
Komang Wisnanda
Contact Email
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trengguli I Nomor 34 Denpasar Timur, Bali 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : 10.29255/aksara
Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. Aksara was first published in Denpasar in 1991, by Balai Penelitian Bahasa Denpasar. The name of Aksara had undergone the following changes: Aksara (1991—1998), Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra (1998—2016), and Aksara (2017). By 2017, Aksara has started to publish in electronic version under the name of Aksara. Since the electronic version should refer to the printed version and following the official document SK 0005.25800353/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 dated May 20th, 2017 stating that ISSN 0854-3283 printed version uses the (only) name of Aksara, in 2017 the electronic version began to use the name Aksara and obtained a new e-ISSN number: 2580-0353. Starting in 2020, Aksara published 12 articles. Aksara accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 159 Documents
PRONOMINA PENUNJUK DALAM BAHASA BALI Ni Luh Partami
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.22.111-120

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pronomina penunjuk bahasa Bali yangberkaitan dengan (a) jenis, (b) ciri-ciri, dan (c) perilaku sintaksis. Teori yang diterapkandalam penelitian ini adalah teori linguistik struktural yang memandang bahasa itu sebagaiunit-unit yang tersusun dalam sebuah struktur. Data bersumber pada data lisan dan tulisan.Sumber lisan diperoleh melalui wawancara dan sumber tulisan melalui cerita rakyat Bali,Kamus Bali--Indonesia, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Bali. Pengumpulan data menggunakanmetode wawancara dengan teknik simak dan catat. Data yang telah terkumpul kemudiandianalisis dengan metode agih dengan teknik substitusi. Hasil analisis disajikan denganmetode formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pronomina penunjukbahasa Bali dapat berupa bentuk dasar. Jika dilihat berdasarkan peran sintaksis, pronominapenunjuk bahasa Bali dapat berperan substantif, lokatif, deskriptif, dan temporal. Dalamtataran kalimat pronomina penunjuk bahasa Bali dapat mengisi fungsi subjek, predikat,objek, dan keterangan. 
KORESPONDENSI BUNYI BAHASA DAERAH DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA Prima Hariyanto
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i2.340.269-283

Abstract

AbstrakPenelitian ini akan menguraikan korespondensi bunyi dalam bahasa-bahasa daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini merupakan penelitian dialektologi yang bertujuan untuk membuat gambaran bentuk serta kecenderungan korespondensi bunyi dan membuat deskripsi perbedaan dialektal atau subdialektal pada tataran fonologi kosakata bahasa-bahasa daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori korespondensi bunyi. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, sedangkan metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Berdasarkan analisis, terdapat 34 pasangan fonem yang memiliki potensi sebagai korespondensi bunyi dan tiga belas di antaranya dapat dipastikan sebagai bentuk korespondensi bunyi karena muncul berulang. Dari ketiga belas fonem tersebut, terdapat dua belas garis yang menghubungkan tiga belas fonem di dalam peta korespondensi bunyi. Akan tetapi, tidak semua pasangan fonem tersebut memiliki kedekatan dalam hal kesamaan artikulator, daerah artikulasi, ataupun posisi glotis. Beberapa pasangan hanya memiliki perbedaan dalam salah satu faktor, seperti sama artikulator dan daerah artikulasi beda posisi glotis, atau sebaliknya.Kata kunci: korespondensi bunyi, bahasa daerah Sulawesi Tenggara, pasangan fonem AbstractThis study describes sound correspondence in regional languages in the Southeast Sulawesi Province. This research is a dialectology study which aims to describe the shape and tendency of sound correspondence and make a description of dialectal or subdialectal differences at the phonology level of the vocabulary of regional languages in the Southeast Sulawesi Province. This study uses sound correspondence theory. The approach used is quantitative, while the method used is the descriptive method. Based on the analysis, there are 34 phoneme pairs which have the potential as sound correspondence and 13 of which can be ascertained as a form of sound correspondence because it appears repeatedly. Of the thirteen phonemes, there are 12 lines that connect 13 phonemes in the sound correspondence map. However, not all phoneme pairs have closeness in terms of the similarity of articulators, articulation areas, or glottic positions. Some couples only have differences in one factor, such as the articulator and the articulation area of the glottic position, or vice versa.Keywords: sound correspondence, regional languages of Southeast Sulawesi, phoneme pair
MODEL REKREASI-PROKREASI BERBASIS CERITA RAKYAT DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS NARASI IMAJINATIF Bambang Eko Hari Cahyono; Panji Kuncoro Hadi; Rosse Vista Lovenia
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.4412.409-426

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikanimplementasi model rekreasi-prokreasi berbasis cerita rakyat, kemampuan menulis teks narasi imajinatif siswa, dan keunggulan serta kelemahan model rekreasi-prokreasi berbasis cerita rakyat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran, yaitu metode penelitian deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif.Lokasi penelitian dipilih secara purposif berdasarkan klaster kualitas sekolah, yaitu SMP Negeri 1 Magetan, SMP Negeri 2 Sukomoro, dan SMP Negeri 2 Poncol. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII pada masing-masing sekolah. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes menulis teks narasi imajinatif, pedoman observasi, dan panduan wawancara. Jenis sumber data yaitu 3 orang guru matapelajaran bahasa Indonesia dan 6 orang siswa danaktivitas kegiatan pembelajaran menulis teks narasi imajinatif. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif, dan analisis model interaktif untuk data kualitatif. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa guru telah menerapkan model pembelajaran sesuai dengan sintaksnya. Selain itu, juga ditemukan bahwa kemampuan menulis teks narasi imajinatif siswa tergolong baik dengan diterapkannya model rekreasi-prokreasi berbasis cerita rakyat. Model ini memiliki keunggulan, yaitu dapat mendorong terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kreativitas siswa melalui berpikir kritis dan mencipta, sedangkan kelemahan yang ditemukan berkaitan dengan masalah teknis dan prosedural.
REALISASI TINDAK KESANTUNAN POSITIF DALAM WACANA AKADEMIK DI MEDIA SOSIAL BERPERSPEKTIF HUMANIS/POSITIVE POLITENESS OF ACADEMIC DISCOURSE TAKING PLACE IN SOCIAL MEDIA INTERACTION: A HUMANITY PERSPECTIVE Hari Kusmanto; Nadia Puji Ayu; Harun Joko Prayitno; Laili Etika Rahmawati; Dini Restiyanti Pratiwi; Tri Santoso
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.454.323-338

Abstract

Abstrak Studi ini bertujuan mendeskripsikan wujud kesantunan berkomunikasi dalam media sosial WhatsApp antara mahasiswa dan dosen. Studi ini adalah kualitatif. Data dalam studi ini adalah kalimat-kalimat santun dalam wacana akademik di media sosial. Sumber data dalam studi ini adalah tuturan wacana akademik di media sosial. Pengumpulan data dalam studi ini menggunakan metode dokumentasi, simak, dan dilanjutkan dengan teknik catat. Analisis data dalam studi ini dilakukan dengan metode padan intralingual; padan pragmatis dan diperkuat dengan teknik analisis kesantunan Brown dan Levinson berperspektif humanis. Hasil studi ini menunjukkan tindak kesantunan positif meliputi: (1) mengucapkan terima kasih sebagai penghormatan kepada mitra tutur, 48%; (2) memberikan pertanyaan sebagai wujud perhatian kepada mitra tutur, 8%; (3) memberikan informasi kepada mitra tutur sebagai wujud kepedulian, 18%; (4) menunjukkan keoptimisan kepada mitra tutur supaya termotivasi, 4%; (5) memberikan hadiah kepada mitra tutur dengan memberikan dukungan, 4%; (6) mengucapkan salam kepada mitra tutur sebagai upaya mendoakan kebaikan kepada mitra tutur, 8%; dan (7) menggunakan penanda identitas sebagai wujud menjalin solidaritas antara penutur dan mitra tutur, 10%. Hal ini menunjukkan mahasiswa memiliki sikap penghormatan yang tinggi kepada dosen dengan menunjukkan komunikasi bernada positif. Tindak kesantunan mengucapkan terima kasih, memberikan informasi yang dibutuhkan mitra tutur, menunjukkan sikap percaya diri, mengucapkan salam merupakan wujud komunikasi yang berperspektif humanis, yakni menjunjung nilai-nilai kemanusian. Penelitian ini bermanfaat dalam membangun komunikasi pembelajaran yang berorientasi pada kesantunan berbahasa yang memartabatkan nilai-nilai humanitas dalam pembelajaran. Kata kunci: kesantunan positif, akademik, media sosial, humanis Abstract This study aims to describe the form of politeness in communicating on WhatsApp social media between students and lecturers. This study is qualitative. The data in this study are polite sentences in academic discourse on social media. The data source in this study is the speech of academic discourse on social media. Data collection in this study uses the documentation method, refer to it, and proceed with note taking technique. Data analysis in this study was carried out using the intralingual equivalent method; pragmatic equivalent and strengthened by Brown and Levinson’s politeness analysis techniques with a sweet perspective. The results of this study show positive politeness actions include: (1) Thank you for the speech partner observer 48%; (2) giving questions as a form of attention to the speech partners 8%; (3) providing information to the speech partners as a form of concern 18%; (4) showing optimism for the speech partners to be motivated 4%; (5) giving gifts to speech partners by giving support 4%; (6) greeting the speech partners in an effort to pray for the kindness of the speech partners 8%; and (7) using identity markers as a form of establishing solidarity between the speaker and the speech partner 10%.. ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 32, No. 2, Desember 2020 323 Realisasi Tindak Kesantunan Positif dalam Wacana Akademik di Media Sosial Berperspektif Humanitas Halaman 323 — 338 (Hari Kusmanto, Nadia P. Ayu, Harun J. Prayitno, Laili E. Rahmawati, Dini R. Pratiwi, dan Tri Santoso) This shows students have a high attitude of respect for lecturers by showing positive communication. Actions of thanksgiving, giving information needed by the speech partner, showing self-con dence, greeting is a form of communication with a humanist perspective, namely upholding human values. This research is useful in building learning communication that is oriented towards language politeness that digni es human values in learning. Keywords: positive politeness, academic, social media, humanity 
Political Narrative About The Fake Diploma Controversy on an Online News Portal Farida Yufarlina Rosita; Ani Rakhmawati; Kundharu Saddhono
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4861.419-432

Abstract

This study aims to investigate how political realities are discursively constructed in media texts and to uncover the underlying power relations and ideological frameworks embedded in the narratives of CNN Indonesia’s news portal. This research employs a qualitative descriptive approach using observation and note-taking techniques applied to six news articles concerning Jokowi’s alleged fake diploma. Data analysis adopts Norman Fairclough’s three-dimensional CDA framework: (a) text analysis, (b) discourse practice, and (c) sociocultural practice. The findings suggest that CNN Indonesia, while maintaining a formal and ostensibly objective tone, employs strategic lexical choices, grammatical structures, and rhetorical strategies to legitimize state authority and shift public focus away from the substance of the allegations toward the legal proceedings against the accusers. The news employs a legalistic and institutional tone that appears neutral but implicitly fosters public trust in state institutions and skepticism toward civil criticism. This study highlights that media discourse is never entirely neutral and plays a critical role in reproducing power structures through carefully constructed narratives. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki realitas politik yang dibangun secara diskursif dalam teks-teks media dan mengungkap hubungan kuasa serta kerangka ideologis yang tertanam dalam narasi-narasi portal berita CNN Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik observasi dan pencatatan pada enam artikel berita tentang ijazah palsu Jokowi yang diterbitkan pada Mei 2025. Analisis data penelitian menerapkan tiga kerangka kerja Analisis Wacana Kritis menurut Norman Fairclough: (a) analisis teks, (b) praktik wacana, dan (c) praktik sosiobudaya. Hasil menunjukkan bahwa, meskipun CNN Indonesia mempertahankan nada formal dan tampak objektif, terdapat penggunaan strategi leksikal, struktur gramatikal, dan retorika untuk melegitimasi pemerintah negara dan mengalihkan perhatian publik dari tuduhan yang dibuat ke proses hukum terhadap mereka yang dituduh. Berita tersebut menggunakan nada hukum dan institusional yang tampak netral, tetapi secara tidak langsung meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Penelitian ini menekankan bahwa diskursus media tidak pernah sepenuhnya netral, dan bahwa itu sangat penting untuk menggambarkan struktur kekuasaan melalui cerita yang direncanakan dengan baik.
ANALISIS NARATIF PERSONAL LISAN SISWA SEKOLAH DASAR Adi Budiwiyanto
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.183.185-193

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat konsep sederhana atau kompleks struktur bercerita siswa sekolah dasar. Permasalahan ini menjawab tiga pertanyaan, yaitu (1) struktur naratif personal lisan siswa sekolah dasar; (2) perbedaan struktur naratif personal antara siswa pria dan perempuan; dan (3) fitur-fitur kebahahasaan apakah yang muncul dalam naratif personal siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis struktural dan teori sosiolinguistik sebagai dasar pijakan membahas struktur naratif. Hasil penelitian ini dapat memberi sumbangan bagi guru dalam mengembangkan metode naratif dalam pemelajaran. Pertimbangan lainnya adalah melihat bahwa narasi atau pengisahan adalah metode yang sangat baik untuk diterapkan untuk meningkatkan daya imajinasi, kemampuan verbal, dan kepercayaan diri siswa.
Karakteristik Verba Aktivitas Bahasa Minangkabau: Pendekatan Makna Aspektualitas Elvina A. Saibi; Iman Laili
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.883.308--322

Abstract

The purpose of this study is to reveal the characteristic situation of activity verbs which emphasize the inherent aspectual meaning of verbs in verbal phrases as predicates. The situations expressed by the class of activity verbs have the characteristics of dynamic, atelic, durative, and nonhomogeneous situations. The method in this study uses a descriptive method and a structural approach, namely the principle of the unity of form and meaning is the starting point of the analysis. Furthermore, the data in this study are verbal phrases in the Minangkabau language which express the situation that occurs. The data source used comes from the Singgalang Newspaper published by West Sumatra, which uses the Minangkabau language. The data collection method is done by listening to the use of language. The technique used is note-taking technique. To analyze the data used distribution method. The techniques used in this study are expansion techniques, replacement techniques, and disappearance techniques. The results found in this research are incoative meaning, progressive meaning; continuative meaning, durative meaning, perfective meaning, iterative meaning, habituative meaning, and repetitive meaning. AbstrakTujuan penelitian ini mengungkapkan situasi karakteristik verba aktivitas yang menekankan pada makna aspektualitas inheren verba pada frasa verbal sebagai predikat. Situasi yang diungkapkan kelas verba aktivitas memiliki sifat-sifat situasi dinamis, atelik, duratif, dan nonhomogen. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pendekatan struktural, yakni prinsip kesatuan bentuk dan makna merupakan titik tolak analisis. Selanjutnya, data dalam penelitian ini merupakan frasa verbal berbahasa Minangkabau yang mengungkapkan situasi yang terjadi. Sumber data yang digunakan bersumber dari Surat Kabar Singgalang terbitan Sumbar yang menggunakan bahasa Minangkabau. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Teknik yang digunakan adalah teknik catat. Untuk menganalisis data digunakan metode agih. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini merupakan teknik perluasan, teknik ganti, serta teknik lesap. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah makna inkoatif, makna progresif; makna kontinuatif, makna duratif, makna perfektif, makna iteratif, makna habituatif, dan makna repetitif.
MOTIF KARGOISME DALAM CERITA RAKYAT FAKFAK: SEBUAH PENDEKATAN ANTROPOLOGI SASTRA/THE MOTIVATION OF CARGOISM IN FAKFAK'S FOLKLORE: AN APPROACH TO LITERATURE ANTHROPOLOGY Sriyono Sriyono
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.602.187-200

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis refleksi kargoisme di dalam cerita rakyat Fakfak melalui pendekatan antropologi sastra. Untuk menganalisis unsur budaya motif kargoisme (kultus kargo) masyarakat Fakfak dalam cerita rakyat, maka peneliti menggunakan metode deskriptif interpretatif dengan memanfaatkan cara-cara penafsiran dan menyajikannya dalam bentuk deskripsi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan catat, kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan antropologi sastra dengan model analisis konten. Analisis konten dilakukan melalui tahap inferensi, analisis, validitas dan reliabilitas. Dari analisis diketahui bahwa motif kargoisme di dalam 6 cerita rakyat Fakfak yang berjudul “Botol Manci”, “Kisah Kaprangit Gewab”, “Sayap Burung Kasuari”, “Perlawanan Para Binatang Buruan””, Perundingan Sekelompok Burung”, dan “Pohon Kayu” terlihat jelas. Temuan ini mengukuhkan pernyataan bahwa setiap ada tindakan represif pasti akan timbul perlawanan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sebagian besar cerita yang ada bermotif perlawanan. Kata kunci:motif kargoisme, cerita rakyat Fakfak, antropologi sastra AbstractThe study was intended to describe a cargoism reflection in the folklore of Fakfak through the approach of literary anthropology.To analyze cultural elements of Fakfak cargoism motive (cargo cult) in folklore, descriptive methods of interpretation used to utilize interpretations by presenting them in a description.Data collection is done with interview and recording techniques, and then analyzed using literary anthropology approaches with content analysis models. Analysis shows the cargoism motive in 6 Fakfak folklore called  Botol Manci, Kisah Kaprangit Gewab, Patahnya Sayap Burung Kasuari, Perlawanan Para Binatang Buruan, Perundingan Sekelompok Burung, and Pohon Kayuclearly reflected. These findings confirm the claim that any repressive action will inevitably result in resistance. It is not suprising, therefore, that most stories have ulterior motives. Keywords:cargoism motive, Fakfak folklore, literarture anthropology 
Leksikologi Kata Tabu dalam Bahasa Indonesia Gita Anggria Resticka; Erwita Nurdiyanto
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4257.15--28

Abstract

Taboo expressions are one example of the growing use of figurative language. The word taboo (taboo) means actions that are prohibited or avoided. The focus of this research is verbal taboo expressions which are partial or complete prohibitions against the use of certain words, expressions, and topics in social interactions. This research discusses lexical items (taboo lexicon) in Indonesian, examining their origins, form and formation, fields, and semantic aspects of taboo vocabulary in Indonesian. The lexicological research aims to identify taboo vocabulary or lexicon based on semantic division (nouns, verbs, adjectives), usage division (frequency, general/local), activity division, and grammatical division. This study used a descriptive qualitative method. The object of this research is vocabulary or lexicon of taboo in Indonesian. The data were collected by basic o techniques of observation, that is observing to taboo words of Indonesian in dictionaries, books, etc., while the advanced technique uses note-taking techniques. The data of this research were analyzed by distribution and matching methods. The results of this research identified divisions of Indonesian taboo vocabulary in terms of sources of acquisition, semantic divisions, usage divisions, and field of activity divisions. This research identifies the grammatical formation of taboo words through the affixation process, reduplication, and composition. Apart from that, this research also identifies the semantic aspects of Indonesian taboo vocabulary. AbstrakUngkapan tabu merupakan salah satu contoh dari semakin berkembangnya penggunaan bahasa kias. Kata tabu (taboo words) mempunyai makna tindakan yang dilarang atau dihindari. Fokus dalam penelitian ini adalah kata tabu, yang secara verbal  merupakan larangan secara sebagian atau keseluruhan terhadap penggunaan kata-kata, ekspresi, dan topik tertentu dalam interaksi sosial. Penelitian ini membahas mengenai butir-butir leksikal (leksikon) tabu dalam bahasa Indonesia yang dikaji dari asal-usulnya, bentuk dan pembentukannya, pembidangannya, serta aspek semantik kosakata tabu dalam bahasa Indoenesia. Tujuan penelitian leksikologi ini adalah untuk mengidentifikasi kosakata atau leksikon tabu berdasarkan pembidangan semantik (nomina, verba, adjektiva), pembidangan penggunaan (frekuensi, umum/lokal), pembidangan kegiatan, dan pembidangan gramatikal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Objek dalam penelitian ini adalah kosakata atau leksikon tabu dalam bahasa Indonesia. Metode pengumpulan data menggunakan teknik dasar simak, yaitu menyimak kata-kata tabu dalam bahasa Indonesia yang ada di kamus, buku-buku, dan lain-lain, sedangkan teknik lanjutannya menggunakan teknik catat. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode agih dan metode padan. Hasil penelitian ini mengidentifikasi pembidangan kosakata tabu bahasa Indonesia berdasarkan pembidangan sumber ambilan, semantik, penggunaan, dan bidang kegiatan. Penelitian ini mengidentifikasi pembentukan gramatikal kata tabu melalui proses afiksasi, reduplikasi, komposisi. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi aspek semantik kosakata tabu bahasa Indonesia
PENAMPIL LINTAS GENDER DALAM SASTRA LISAN MINANGKABAU, RONGGEANG PASAMAN Eka Meigalia; Yerri Satria Putra
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i1.331.51-64

Abstract

Ronggeang[1] Pasaman merupakan salah satu sastra lisan dari etnis Minangkabau yang berkembang di wilayah Pasaman. Tradisi ini masih hidup dan diapresiasi oleh masyarakat pendukungnya hingga saat ini. Dalam pertunjukannya, ronggeang (penari) dalam tradisi Ronggeang Pasaman ini dilakukan oleh laki-laki yang berdandan sebagaimana seorang perempuan. Namun dialektika antara adat dan agama di Minangkabau secara tidak langsung juga berdampak pada penerimaan masyarakat terhadap kehadiran mereka dalam pertunjukan. Untuk itu, tulisan ini akan memaparkan permasalah yang dihadapi oleh penampil lintas gender dalam tradisi Ronggeang Pasaman berkaitan dengan dialektika antara adat dan agama di Minangkabau.. Dengan melalui proses penelitian yang bermetode etnografis dan kualitatif, data-data untuk tulisan ini diperoleh melalui proses pengamatan, wawancara, serta studi pustaka. Berdasarkan proses tersebut dapat dipahami bahwa kehadiran penampil lintas gender dalam tradisi Ronggeang Pasaman merupakan hasil negosiasi dan adaptasi terhadap perbenturan budaya yang ada, yaitu Jawa dengan Minang. Juga perbenturan antara adat dan syarak yang dianut masyarakat Minangkabau.[1] Penulisan kata ronggeang di sini disesuaikan dengan pelafalan masyarakat Pasaman terhadap tradisi ini yang bagi mereka sendiri berbeda dengan tradisi ronggeng di Jawa.