cover
Contact Name
Komang Wisnanda
Contact Email
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trengguli I Nomor 34 Denpasar Timur, Bali 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : 10.29255/aksara
Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. Aksara was first published in Denpasar in 1991, by Balai Penelitian Bahasa Denpasar. The name of Aksara had undergone the following changes: Aksara (1991—1998), Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra (1998—2016), and Aksara (2017). By 2017, Aksara has started to publish in electronic version under the name of Aksara. Since the electronic version should refer to the printed version and following the official document SK 0005.25800353/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 dated May 20th, 2017 stating that ISSN 0854-3283 printed version uses the (only) name of Aksara, in 2017 the electronic version began to use the name Aksara and obtained a new e-ISSN number: 2580-0353. Starting in 2020, Aksara published 12 articles. Aksara accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 159 Documents
THE ANALYSIS OF UNIT SHIFT IN THE RESEARCH OF TRANSLATION WITH COMMENTARY: ENGLISH INTO INDONESIAN Fika Agistiawaty
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i1.316.123-136

Abstract

Unit shift is one of a shift that is found in the translation. Unit shift is a translation strategy that changes the unit of the source text, such as a word into a phrase, a phrase into a clause, and a phrase into a word. This article aims to find out the unit shift in the translation of the novel Counting by 7s that is from English into Indonesian. The methods used in this article are introspective and retrospective method. The procedure of the research were reading the novel, translating it, marking the problem found, taking the problem concerning unit shift to be analyzed, and analyzing the chosen data based on Duff’s principles of translation, Chesterman’s unit shift translation strategy, and theories of languages. The results of this research show that the translation strategy of unit shift can be combined with the translation strategy of expansion, compression, cohesion change, and antonymy. Besides, the unit shift analyzed is only from a word to a phrase and vice versa.
POTRET KONDISI SOSIAL MASYARAKAT JAWA DALAM NASKAH KETOPRAK KLASIK GAYA SURAKARTA Bagus Wahyu Setyawan; Kundharu Saddhono; Ani Rakhmawati
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i2.315.205-220

Abstract

Ketoprak merupakan seni tradisional Jawa yang lahir dan berkembang dari kalangan masyarakat, sehingga seni ketoprak sangat kental dengan nilai yang relevan dengan kehidupan masyarakat Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan mengenai potret sosial masyarakat Jawa yang tercermin dalam naskah ketoprak klasik gaya Surakarta. Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra pada naskah ketoprak klasik gaya Surakarta. Sumber data primer dalam penelitian adalah naskah ketoprak dengan judul Ronggolawe Gugur, Pandanaran Mbalela, dan Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Setelah dilakukan analisis data dapat disimpulkan bahwa dalam naskah ketoprak klasik gaya Surakarta terdapat potret sosial masyarakat Jawa yang tercermin dari kon ik dan masalah yang dibahas dalam ketiga naskah tersebut, nilai sosial yang tercermin, dan bahasa yang digunakan. Kon ik yang terdapat dalam ketiga naskah ketoprak tersebut berkaitan dengan masalah bela negara, budaya perjodohan kalangan masyarakat Jawa, nilai pertemanan, dan permasalahan kekuasaan. Dari analisis data dapat disimpulkan bahwa dalam naskah ketoprak klasik gaya Surakarta terdapat re eksi dari kehidupan sosial masyarakat Jawa ditinjau dari aspek bahasa, sistem nilai, dan permasalahan sosial yang dibahas. 
Membangun Wacana `Perdamaian` di Era Pandemi Covid-19: Analisis Wacana Positif Tuturan Joko Widodo Agik Nur Efendi
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.691.1--16

Abstract

This article uses positive discourse analysis to examine President Joko Widodo's speech during the Covid-19 Pandemic era. The purpose of this study is to offer exploratory insights into texts and utterances that reflect discursive practices in providing serenity and describe how discourse can be used to provide social progressiveness. This analysis is guided by positive discourse analysis which focuses more on progressivity using lexical items, delivery strategies, metaphors, diction selection, and modalities. With this strategy, we try to describe how a state leader constructs a discourse of peace and suggest people to stay calm in the community amid panic caused by the Covid-19 pandemic. This research highlights how rhetoric can be interpreted as a message, hope, protection, and giving peace. The results showed that Joko Widodo used metáfor and diction to support the stability and tranquility of society in the era of the Covid-19 pandemic. Joko Widodo gave a calm feeling by conveying the same feelings about getting through the pandemic. Positive discourse at least contributes to the problems at hand. AbstrakArtikel ini menggunakan analisis wacana positif untuk menelaah tuturan Presiden Joko Widodo di era Pandemi Covid-19. Tujuan penelitian ini untuk menawarkan wawasan eksplorasi teks dan tuturan yang menyarankan praktik diskursif dalam memberikan keterangan dan menggambarkan bagaimana wacana dapat digunakan untuk memberi progresif sosial. Analisis ini berpedoman pada analisis wacana positif yang lebih fokus pada progresivitas dengan menggunakan piranti leksikal, strategi penyampaian, metafor, pemilihan diksi, dan modalitas. Dengan strategi ini, penelitian ini mencoba menggambarkan konstruksi wacana kedamaian dan menciptakan ketenangan pada masyarakat di tengah kepanikan akibat pandemi Covid-19. Penelitian ini menyoroti bagaimana retorika dapat dimaknai sebagai sebuah pesan, harapan, perlindungan, dan pemberi ketenangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Joko Widodo menggunakan metáfor dan diksi guna mendukung stabilitas dan ketenangan masyarakat di era pandemi Covid-19. Joko Widodo memberikan sebuah ketenangan dengan menyampaikan perasaan yang sama untuk melewati pandemi. Wacana positif setidaknya memberi kontribusi dalam permasalahan yang dihadapi.
PERUBAHAN IDENTITAS SOSIAL TOKOH AYUH DALAM DUA NOVEL KARYA SANDI FIRLY Titik Wijanarti
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i1.101.63-74

Abstract

AbstrakKarya sastra tidak terlepas dari peristiwa sosial budaya masyarakatnya yang dengan sengaja direfleksikan pengarangnya dalam karyanya. Salah satu unsur penting dalam karya sastra adalah tokoh dan perwatakannya. Penelitian ini meneliti dua novel karya Sandi Firly, yaitu Lampau dan Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu.  Masalah penelitian ini adalah perubahan sosial tokoh Ayuh dalam kedua novel tersebut. Tujuan penelitian adalah memaparkan perubahan identitas sosial tokoh Ayuh dalam kedua novel karya Sandy Firly tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kepustakaan dengan teknik simak dan catat. Metode analisis data menggunkan metode deksriptif analisis dengan teknik interpretatif. Teori yang digunakan adalah sosiologi sastra. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan identitas sosial yang dilakukan oleh tokoh Ayuh dalam kedua novel tersebut merupakan sarana untuk melakukan migrasi sosial menuju kelas sosial yang lebih baik dalam masyarakat. Peristiwa dialami oleh individu dalam masyarakat dapat menjadi sebuah konstruksi identitad sosial dan memengaruhi identitas seseorang. Oleh karena itu, keberadaan tokoh dalam cerita tidak statis dan dapat berubah bergantung pada peristiwa yang dialaminya.  
PARALELISME SEMANTIK TUTURAN RITUAL BERLADANG DALAM GUYUB TUTUR KODI Ni Putu Ayu Krisna Dewi
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.134.241-252

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk paralelisme semantik dalam tuturan ritual berladang dan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini merupakan kajian linguistik kebudayaan yang berlandaskan pada pendekatan etnografi, paralelisme, dan teori semiotik sosial. Data bersumber pada data lisan berupa tuturan ritual pengolahan ladang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan wawancara dengan teknik rekam dan teknik catat. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan metode padan dengan teknik ganti dan teknik perluas. Hasil analisis disajikan dengan metode penyajian formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk paralelisme semantik dalam tuturan ritual berladang Guyub Tutur Kodi terdiri atas hubungan makna antarperangkat diad dan hubungan makna antarunsur paralel. Selain bentuk paralelisme semantik, ditemukan juga makna budaya yang terkandung dalam tuturan ritual tersebut, seperti makna yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan/roh leluhur, makna yang menggambarkan hubungan antarsesama manusia, makna yang menggambarkan hubungan manusia dengan lingkungan alam. 
PERAN SEMANTIK PREDIKAT PADA VERBA BERVALENSI SATU, DUA, DAN TIGA DALAM BAHASA SAMAWA DIALEK SUMBAWA BESAR/THE SEMANTIC ROLES OF THE PREDICATES ON VERB ONE, TWO, AND THREE SUMBAWA LANGUAGES IN THE SUMBAWA BESAR DIALECT Kasman Kasman
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.445.287-298

Abstract

Abstrak Penelitian terhadap peran semantik bahasa Samawa masih belum banyak dilakukan. Untuk mendukung pengembangan dan pelestarian bahasa Samawa, penelitian-penelitian deskriptif seperti ini tetap perlu dilakukan. Penelitian ini difokuskan pada peran verba bervalensi satu, dua, dan tiga dalam bahasa Samawa dialek Sumbawa Besar dan bertujuan untuk mendeskripsikan peran semantik verba bervalensi tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sintaksis struktural. Data dikumpulkan dengan metode cakap dan metode simak. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan me- tode padan intralingual. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa verba bervalensi satu melibatkan argumen-argumen yang secara semantik mencermainkan verba proses, tindakan, dan verba keadaan. Adapun verba bervalensi dua melibatkan argumen-argumen yang secara semantik merefleksikan verba tindakan, seperti pada sangode (mengecilkan), samasak (memasak), dan pina (membuat). Secara sintaksis verba-verba tindakan itu membutuhkan kehadiran dua argumen kalimat sekaligus. Sementara itu, verba bervalensi tiga yang secara semantik merefleksikan makna benefaktif membutuhkan kehadiran tiga argu-men kalimat sekaligus. Kata kunci: semantik, sintaksis, subjek, predikat, argumen Abstract Research on semantic roles in Samawa language has not been comprehensively done. To support the ef- forts of fostering and developing Samawa language, descriptive studies like this study are always needed. This study is focused on the role of verb valency one, two, and three in Samawa language, especially in Sumbawa Besar Dialect and aimed to describe their semantic roles. The theory used in this study is syntax structural theory. The data were collected using two methods realized by observing and listening to the conversation. The collected data were then analyzed using comparative method. Results of data analysis indicated that syntactically one-valence verbs require argument which semantically re ies process, ac- tion, and constant meaning. While two-valence verb requires arguments which semantically re ies action, such as verbs Sangode (to make something smaller), Samasak (to cook), and Pina (to make). These kind of verbs syntactically require two sentence arguments. While three-valence verb which semantically shows benefective meaning needs the presence of three sentence arguments. Keywords: Semantic, syntactic, subject, predicate, argument 
KONJUNGSI SUBORDINATIF DALAM TEKS BUKU PELAJARAN SLTA: ANALISIS BENTUK, DISTRIBUSI, DAN MAKNA Ida Ayu Mirah Purwiati
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.180.133-150

Abstract

Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih dan klausa itu tidak memiliki status yang sama. Pengamatan terhadap teks bahan ajar SLTA memperlihatkan bahwa terdapat cukup banyak pemakaian kalimat dengan konjungsi subordinatif seperti kata jika, sebelum, walaupun, atau bahwa. Sebagai konjungsi subordinatif, kata-kata itu  selalu mengawali klausa yang berfungsi sebagai anak kalimat. Dari hal itu tampak distribusi konjungsi tersebut, yakni di awal dan di tengah kalimat. Adapun makna yang dimunculkan oleh konjungsi itu bervariasi, antara lain menyatakan 'waktu', 'tujuan', dan 'pengandaian'.  
KAJIAN PESAN TEKS MONOLOGIS WHATSAPP/A STUDY OF WHATSAPP MONOLOGIC TEXT MESSAGE  Subiyantoro Subiyantoro
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.728.295-308

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untukmenemukan dan mendeskripsikan struktur, bahasa yang dipilih untuk mentransmisikan, serta karakter pesan teksmonologis yang ditulis di ruang pesan tiga grup WhatsAppdan sekaligus dikirim ke seluruh anggota grup. Data berupa pesan teks monologis, diperoleh dari sumber tertulis tiga grup WhatsAppberbeda dengan cara membuat tangkapan layar pesan teks yang dipilih. Untuk menguji validitas data dilakukan wawancara dengan informan terkait. Data berbahasa Prancis bersumber dari sebuah grup WhatsAppyang anggotanya berprofesi sebagai guru bahasa Prancis, data berbahasa Indonesia diambil dari sebuah kelompok pengajian, dan data berbahasa Jawa diperoleh dari sebuah grup WhatsAppRW. Data terkumpul dianalisis berdasar perspektif monologis Bakhtin. Hasil analisis menunjukkan bahwa pesan teks monologis di dalam ruang pesan grup-grup WhatsApptersebut dituturkan dari penutur yang berwewenang kepada seluruh partisipan di masing-masing grup dalam konteks pemberian informasi.  Pesan teks monologis tersebut dapat berstruktur lengkap atau semi lengkap, cenderung disampaikan dalam bahasa yang prestise di lingkungannya, dan secara umum bersifat otoritatif. Kata kunci: monologis, otoritatif, pesan teks, WhatsApp AbstractThis studyaimed to discover and describe the structures, language preference, and characters of the monologic text messages written and sent to all group members in the message spaces of three WhatsApp groups.The data that were in the forms of monologic text messages were obtained from three written sources, which were three WhatsApp groups, by taking and saving screenshots of selected text messages. To test the validity of the data, interviews were conducted with informants. The data written in French were collected from a WhatsApp group whose members are the French language teachers. The data written in Indonesian were obtained from a Quran reading group, and those in Javanese were collected from a WhatsApp group of a community unit (RW). All of the collected data were analyzed based on Bakhtin's monologic perspective. The results of the analysis showed that the monologic text messages in the message spaces of the WhatsApp groups were written by speakers (group members) with authority over all other group members in the three WhatsApp groups in terms of providing information. The monologic text messages were either complete or semi-complete, tended to be conveyed in language that showed prestige in each group’s environment, and were generally authoritative. Keywords: monologic, authoritative, text message, WhatsApp
Tumpeng sebagai Simbol: Tinjuan Etnolinguistik Makna Makanan Pada Tradisi Baritan di Dataran Tinggi Dieng Sarwiji Suwandi; Titi Setiyoningsih; Chafit Ulya; Ari Suryawati Secio Chaesar; Eko Setyawan; Sugit Zulianto
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4909.324-339

Abstract

Javanese people use food in various traditional rituals as symbols that represent certain meanings and philosophies, one of which is Tumpeng and is used in the Baritan tradition by people in Java. This research aims to reveal the meaning of food in the form of tumpeng in the Baritan tradition practiced by people in the Dieng Plateau, Central Java. This research uses a qualitative approach with ethnolinguistic methods to study and explain the meaning of food. Data and data sources include food used in the traditions held. Data collection techniques through field observations, interviews and documentation. The data was analyzed using meaning triangle analysis to decipher symbols through the stages of understanding concepts, signs and signifiers. The results of the research show that the food used in the Baritan tradition by the people of the Dieng Plateau includes tumpeng with various special colors which have meanings and philosophical elements which also come in various shapes accompanied by complementary foods such as ingkung chicken and apem. The use of this food has meaning and has philosophical value in the form of expressing gratitude to God, hope for abundant sustenance from nature, and apologizing to God and fellow humans. The Baritan tradition in the Dieng Plateau has the meaning of strengthening the relationship between humans, humans and nature, humans and their ancestors, and the relationship between humans and God. Thus, food, especially tumpeng, is not only used for tradition, but also has deep meaning and philosophy so that it represents people's beliefs. AbstrakMasyarakat Jawa menggunakan makanan dalam berbagai ritual tradisi sebagai simbol yang merepresentasikan makna dan filosifi tertentu salah satunya yakni Tumpeng dan digunakan pada tradisi Baritan oleh masyarakat di Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna makanan berupa tumpeng pada tradisi Baritan yang dilakukan oleh masyarakat di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnolinguistik untuk mengkaji dan menjabarkan makna makanan. Data dan sumber data berupa makanan yang digunakan dalam tradisi yang digelar. Teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, serta dokumentasi. Data dianalisis dengan analisis segitiga makna guna menguraikan simbol melalui tahapan pemahaman konsep, tanda, dan petanda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan yang digunakan pada tradisi Baritan oleh masyarakat Dataran Tinggi Dieng meliputi tumpeng dengan beragam warna khusus yang memiliki pemaknaan dan unsur filosofis yang juga beragam bentuknya disertai dengan makanan pelengkap seperti ayam ingkung dan apem. Penggunaan makanan tersebut memiliki makna dan memiliki nilai filosofos berupa ungkapan rasa syukur pada Tuhan, harapan akan rezeki yang melimpah dari alam, serta permohonan maaf pada Tuhan dan juga sesama manusia. Tradisi Baritan di Dataran Tinggi Dieng memiliki makna memperkuat hubungan antara sesama manusia, manusia dengan alam, manusia dengan leluhur, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian, makanan khususnya tumpeng tidak hanya dimanfaatkan untuk tradisi, tetapi juga memiliki makna dan filosofi mendalam sehingga merepresentasikan keyakinan masyarakat.
ASOSIASI WACANA “ALUN-ALUN SERIBU PATUNG” DENGAN SITUASI POLITIK KEBANGSAAN DI INDONESIA PADA MASA DAN PASCAREFORMASI Natal P. Sitanggang
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.236.107-120

Abstract

From a linguistic point of view, short stories are classified into the type of discourse. Therefore, the tracing of everything on the authors’ intentions can be done through linguistic approaches, among them through discourse and pragmatic analysis approaches. Furthermore, since short stories also classified as works of art (literature), so a semiotic approach can be relevant to support the approaches of discourse and pragmatics analysis. The data in this study comes from the text of a short story titled “Alun-Alun Seribu Patung” by Danarto.  The data was obtained by using observation method through recording technique as a basic technique and note-taking technique as an advanced technique.   Through text deconstruction, at least there are 16 derivative text constructions selected as the data which reflect the association of  the short story with the political reality at the reformation and post-reformation periods (1998—2006). The description of data becomes the clues that actually the author pragmatically did a number of actions, namely reflecting, associating, predicting, evaluating, and criticizing something related to the political and natural events during the reformation and post-reformation periods.