cover
Contact Name
Eny Puspani
Contact Email
eny_fapet@unud.ac.id
Phone
+62818555700
Journal Mail Official
jurnaltropika@unud.ac.id
Editorial Address
Gedung AB Lt. 1, Jl. Kampus Bukit Jimbaran, Fakultas Peternakan Universitas Udayana
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Peternakan Tropika
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 27227286     DOI : -
Jurnal Peternakan Tropika (JPT) merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan teknologi) dan bidang sosial ekonomi peternakan.
Articles 100 Documents
KOMPOSISI FISIK KARKAS ITIK BALI YANG DIBERI JUS DAUN KELOR BERPROBIOTIK BAKTERI SELULOLITIK LEWAT AIR MINUM DENGAN KONSENTRASI BERBEDA B. Rusdiansyah; I. M. Mudita; E. Puspani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Bali Duck (Anas sp) is a native Indonesian duck commonly found on the islands of Bali and Lombok. The growth of ducks influences the composition of the carcass; therefore, carcass quality must be taken into account. Moringa leaves (Moringa oleifera) are medicinal plants with numerous benefits, such as high nutritional content and antibacterial properties. The addition of antimicrobial compounds is expected to reduce harmful microbes in the duck’s digestive tract, thereby enhancing nutrient absorption from feed and improving the physical quality of the carcass. This research explores the influence of fermented Moringa leaf juice (Moringa oleifera) with cellulolytic probiotic bacteria in drinking water on the physical carcass composition of male Bali ducks. This research took place at the Sesetan Teaching Farm, Faculty of Animal Science, Udayana University, for eight weeks from December 2023 to February 2024 using a completely randomized design (CRD) with four treatments and four replications, resulting in 16 experimental units. Each unit consisted of three male Bali ducklings (DOD), totaling 48 ducks. The treatments were as follows Treatment 0 (no fermented Moringa leaf juice in drinking water), Treatment 1 (fermented Moringa leaf juice in drinking water at a 2.5% body weight level), Treatment 2 (fermented Moringa leaf juice in drinking water at a 5% body weight level), and Treatment 3 (fermented Moringa leaf juice in drinking water at a 7.5% body weight level). The observed variables included carcass weight, carcass percentage, meat percentage, bone percentage, and skin fat percentage. The findings revealed that providing fermented Moringa leaf juice with cellulolytic probiotic bacteria in drinking water at levels of 2.5%-7.5% had no effect on the physical carcass composition of male Bali ducks. ABSTRAK Itik Bali (Anas sp) termasuk di antara jenis itik lokal asal Indonesia di mana banyak dibudidayakan di Pulau Lombok serta Bali. Pertumbuhan itik akan mempengaruhi komposisi karkas, oleh sebab itu, kualitas karkas haruslah diperhatikan. Daun kelor (Moringa oleifera) ialah tanaman obat di mana mempunyai banyak kegunaan misalnya zat gizi tinggi, selaku antibakteri. Dengan menambahkan senyawa antimikroba harapannya kuantitas mikroba yang membahayakan saluran pencernaan itik bisa diminimalkan, sehingga pengabsorpsian zat nutrisi pakan sekaligus kualitas fisik karkas bisa bertambah. Penelitian ini bertujuan guna mengkaji pengaruh jus daun kelor difermentasi bakteri probiotik selulolitik pada air minum terhadap komposisi fisik karkas itik bali jantan. Studi ini diselenggarakan di Teaching Farm Sesetan, Fakultas Peternakan Udayana, dalam 8 minggu dari Desember 2023-Februari 2024 memakai rancangan acak lengkap (RAL) dimana mencakup 4 perlakuan sekaligus 4 ulangan, menghasilkan total 16 unit percobaan. Tiap unit berisi 3 ekor itik bali jantan DOD dan total keseluruhan 48 ekor. Perlakuan terdiri atas perlakuan 0 (Tanpa pemberian jus daun kelor difermentasi pada air minum), perlakuan 1 (Pemberian air minum dicampur dengan jus fermentasi daun kelor dengan takaran 2,5% menyesuaikan berat badan), perlakuan 2 (Pemberian air minum dicampur dengan jus fermentasi daun kelor dengan takaran 5% menyesuaikan berat badan), dan perlakuan 3 (Pemberian air minum dicampur dengan jus fermentasi daun kelor dengan takaran 7,5% menyesuaikan berat badan). Variabel yang diobservasi ialah bobot karkas, persentase karkas, persentase daging, persentase tulang, persentase lemak kulit. Temuan riset mengungkapkan bahwasanya pemberian jus daun kelor difermentasi bakteri probiotik selulolitik pada air minum dengan level pemberian 2,5%-7,5% tidak mempengaruhi komposisi fisik karkas itik bali jantan.
PENGARUH PUPUK EKOENZIM TERHADAP HASIL RUMPUT GAJAH KATE (Pennisetum purpureum cv. Mott) G. M. J. O Warata; K. N. N. Candraasih; N. G. K. Roni
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the yield of dwarf elephant grass that is fertilized with ecoenzyme organic fertilizers. The research was carried out in the greenhouse of the Sesetan research station, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, which lasted for three months from preparation to cutting. The experimental design used was a complete random design (RAL) consisting of five treatments and six replicates, so there were 30 experimental pots. Treatment as follows: D0: 0 l ha-1; D1: 5,000 l ha-1; D2: 10,000 l ha-1; D3: 15,000 l ha-1; D4: 20,000 l ha-1. The results showed that the application of ecoenzyme fertilizer with a dose of 15,000 l ha-1 produced the highest dry weight results against the variables of leaf dry weight, stem dry weight and total forage dry weight because at a dose of 15,000 l ha-1 ecoenzyme fertilizer contains enzymes, growth hormones, and microorganisms from organic waste fermentation, plants can utilize nutrients optimally so that they get maximum results. Based on the results of this study, it can be concluded that the administration of ecoenzyme fertilizer doses increased the yield of elephant grass (Pennisetum purpureum cv. Mott) and the ecoenzyme dose of 15,000 l ha-1 (30ml/jar) gave the best results of elephant grass plants (Pennisetum purpureum cv. Mott). ABSTRAK Tanaman Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan usaha peternakan, terutama ternak ruminansia. Rumput gajah kate (Pennisetum purpureum cv. Mott) adalah hijauan makanan ternak tropik yang mudah dikembangkan, produksinya tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak ruminansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil rumput gajah kate yang dipupuk dengan pupuk ekoenzim. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca stasiun penelitian Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, yang berlangsung selama tiga bulan mulai dari persiapan sampai pemotongan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari lima perlakuan dan enam ulangan, sehingga terdapat 30 pot percobaan. Perlakuan sebagai berikut: D0: 0 l ha-1; D1: 5.000 l ha-1; D2: 10.000 l ha-1; D3: 15.000 l ha-1; D4: 20.000 l ha-1. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk ekoenzim dengan dosis 15.000 l ha-1 menghasilkan hasil berat kering paling tinggi terhadap variabel berat kering daun, berat kering batang dan berat kering total hijauan karena pada dosis 15.000 l ha-1 pupuk ekoenzim mengandung enzim, hormon tumbuh, dan mikroorganisme dari fermentasi limbah organik, tanaman dapat memanfaatkan nutrient secara optimal sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian dosis pupuk ekoenzim meningkatkan hasil rumput gajah kate (Pennisetum purpureum cv. Mott) dan dosis ekoenzim 15.000 l ha-1 (30ml/pot) memberikan hasil terbaik tanaman rumput gajah kate (Pennisetum purpureum cv. Mott).
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KUNYIT TERFERMENTASI PADA AIR MINUM TERHADAP PERFORMA BURUNG PUYUH UMUR 2 - 8 MINGGU P. Kardiyani; G. A. M. K. Dewi; A. A. P. P. Wibawa
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of fermented turmeric extract administered through drinking water on the performance of quails aged 2–8 weeks. The study was conducted at the Sesetan Research Station, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, located at Jalan Raya, Gg Markisa No. 6, Denpasar, from September 4 to October 15, 2024. The experimental design used in this study was a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 5 replicates. Each replicate contained 2 quails with a homogeneous body weight of 55.08 ± 2.75 g, resulting in a total of 40 quails used in the study. The treatments used were drinking water without fermented turmeric extract as the control (P0), drinking water supplemented with 1% fermented turmeric extract (P1), drinking water supplemented with 2% fermented turmeric extract (P2), and drinking water supplemented with 3% fermented turmeric extract (P3). The variables observed were initial body weight, final body weight, weight gain, feed intake, water intake, and feed conversion ratio (FCR). The results showed that the administration of fermented turmeric extract at levels of 1%, 2%, and 3% via drinking water had a significant effect (P<0.05) on feed intake, weight gain, and FCR compared to P0. From the study results, it can be concluded that the administration of fermented turmeric extract through drinking water at levels of 1%, 2%, and 3% affects feed intake, weight gain, and FCR values. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kunyit terfermentasi melalui air minum terhadap performa burung puyuh umur 2-8 minggu. Penelitian ini dilaksanakan di Stasiun Penelitian Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana yang bertempat di Jalan Raya, Gg Markisa No.6, Denpasar, yang dimulai dari tanggal 4 September – 15 Oktober 2024. Rancangan yang digunakan dalam penilitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap ulangan berisi 2 ekor burung puyuh dengan berat badan yang homogen 55,08 ± 2,75 g, sehingga total burung puyuh yang digunakan sebanyak 40 ekor. Perlakuan yang digunakan adalah air minum tanpa ekstrak kunyit terfermentasi sebagai kontrol (P0), air minum yang diberi 1% ekstrak kunyit terfermentasi (P1), air minum yang diberi 2% ekstrak kunyit terfermentasi (P2), dan air minum yang diberi 3% ekstrak kunyit terfermentasi (P3). Variabel yang diamati adalah bobot badan awal, bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, konsumsi air minum, dan feed convertion ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kunyit terfermentasi pada level 1%, 2%, dan 3% melalui air minum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan berat badan dan nilai FCR di banding P0. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kunyit terfermentasi melalui air minum pada level 1%, 2%, dan 3% berpengaruh terhadap konsumsi ransum, pertambahan berat badan dan FCR, namun tidak berpengaruh terhadap konsumsi air minum dan berat badan akhir burung puyuh umur 2-8 minggu.
PENGARUH PENGGUNAAN MINYAK IKAN LEMURU (Sardinella lemuru) DALAM PAKAN TERHADAP LEMAK ABDOMINAL AYAM JOPER P. P. A. U. Dewi; I. M. Nuriyasa; M. Wirapartha
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine whether the use of lemuru fish oil (Sardinella lemuru) in the ration mixture can affect abdominal fat in joper chickens. This study was conducted for 8 weeks at the Teaching Farm of the Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, using 80 unsexed joper chickens of DOC age divided into 20 experimental cages. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 additional treatments of lemuru fish oil (0%, 2%, 4%, and 6%) in the ration, each repeated 5 times. The ration consisted of yellow corn, rice bran, fish meal, lemuru fish oil, bread waste, mineral mix, and table salt. The variables observed included slaughter weight, percentage of pad fat, percentage of mesenteric fat, percentage of ventricular fat and percentage of abdominal fat. The results of the study showed that the use of lemuru fish oil in joper chicken feed had a significant effect (P<0.05) on slaughter weight but had no significant effect (P>0.05) on the percentage of pad fat, mesenteric, ventricular and abdominal. Based on the research results, it can be concluded that the use of lemuru fish oil in feed has not been able to significantly reduce the percentage of pad, mesentery, ventricle and abdominal fat in joper chickens, but has a significant in increasing the slaughter weight of joper chickens at a level of 4% (P2). ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan minyak ikan lemuru (Sardinella lemuru) dalam campuran ransum dapat mempengaruhi lemak abdominal pada ayam joper. Penelitian ini dilaksanakan selama 8 minggu di Teaching Farm Fakultas Peternakan Universitas Udayana, menggunakan 80 ekor ayam joper unsexed umur DOC yang dibagi dalam 20 kandang percobaan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan tambahan minyak ikan lemuru (0%, 2%, 4%, dan 6%) dalam ransum, masing-masing diulang 5 kali. Ransum terdiri dari jagung kuning, dedak padi, tepung ikan, minyak ikan lemuru, limbah roti, mineral mix, dan garam dapur. Variabel yang diamati meliputi bobot potong, persentase lemak bantalan, persentase lemak mesentrium, persentase lemak ventrikulus dan persentase lemak abdominal. Hasil penelitian penggunaan minyak ikan lemuru dalam pakan ayam joper berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot potong, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase lemak bantalan, mesentirum, ventrikulus dan abdominal. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan minyak ikan lemuru dalam pakan belum mampu menurunkan persentase lemak bantalan, lemak mesentrium, lemak ventrikulus dan lemak abdominal ayam joper, tetapi meningkatkan bobot potong ayam joper pada level pemberian 4% (P2).
PERBEDAAN KUALITAS ORGANOLEPTIK DAGING SAPI BALI PADA PASAR TRADISIONAL, SWALAYAN, DAN DISTRIBUTOR DAGING DI KOTA DENPASAR I. A. A. A. Fahreza; N. L. P. Sriyani; N. M. S. Sukmawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The organoleptic quality of beef such as color, aroma, taste, texture, and tenderness is an imporant factor influencing consumer decisions in purchasing beef. Several factors affect the organoleptic quality of beef, including storage, handling, and distribution. The aim of this research is to determine the differences in organoleptic quality of Bali beef in traditional markets, supermarkets, and meat distributors in Denpasar City and to determine the best quality of Balinese beef sold in traditional markets, supermarkets, and meat distributors in Denpasar City. The design used is a completely randomized design (CRD) consisting of 3 treatments, namely: distributor (P1), supermarket (P2), and traditional market (P3). Each treatment was tested by 25 panelists as replicates. The observed variables include: color, aroma, taste, texture, tenderness, and overall acceptance. The research results show that the organoleptic quality of bali beef obtained from traditional markets, supermarkets, and distributors shows significant different results (P<0,05) regarding color, aroma, taste, texture, tenderness, and overall acceptance, with the highest preference score for meat originating from supermarkets (P2). From this research, it can be concluded that the place of meat sales affects the organoleptic quality, with the highest preference level found in supermarkets. ABSTRAK Kualitas organoleptik daging sapi seperti warna, aroma, rasa, tekstur, dan keempukan merupakan faktor penting yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli daging sapi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas organoleptik daging sapi, diantaranya penyimpanan, penangan, dan distributor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas organoleptik daging sapi bali pada pasar tradisional, swalayan dan distributor daging di Kota Denpasar dan untuk mengetahui kualitas terbaik daging sapi bali yang dijual dari pasar tradisional, swalayan, dan distributor daging di Kota Denpasar. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan, yaitu: distributor (P1), swalayan (P2) dan pasar tradisional (P3). Setiap perlakuann diuji oleh 25 orang panelis sebagai ulangan. Variabel yang diamati meliputi: warna, aroma, rasa, tekstur, keempukan dan penerimaan keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas organoleptik daging sapi bali yang diperoleh dari pasar tradisional, swalayan dan distributor menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap warna, aroma, rasa, tekstur, keempukan dan penerimaan keseluruhan dengan skor tingkat kesukaan tertinggi pada daging yang berasal dari swalayan (P2). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tempat penjualan daging sapi berpengaruh terhadap kualitas organoleptik dengan tingkat kesukaan tertinggi pada swalayan.
PENGARUH PERBANDINGAN KOMBINASI SUSU SAPI DAN SUSU KAMBING TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA YOGHURT K. N. Achmad; I. N. S. Miwada; S. A. Lindawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the physicochemical characteristics of yogurt made from a combination of cow's milk and goat's milk, as well as to identify the yogurt combination that provides the best physicochemical quality. The study was conducted over a four-week period at the Laboratory of the Faculty of Agricultural Technology, Udayana University, and at PT. Cheese Works Batu Bulan, Gianyar Regency. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and four replications. The four treatments were P0 (100% cow's milk yogurt without goat's milk, as the control), P1 (cow's milk yogurt mixed with goat's milk at a 1:1 ratio), P2 (cow's milk yogurt mixed with goat's milk at a 1:2 ratio), P3 (cow's milk yogurt mixed with goat's milk at a 2:1 ratio). The variables observed were total acidity, pH, fat content, protein content, moisture content, and viscosity. The results of this study showed that treatments P0, P1, P2, and P3 differed significantly (P<0.05) in terms of total acidity, pH, fat content, protein content, moisture content, and viscosity. It was concluded that the treatment of cow's milk yogurt mixed with goat's milk at a ratio of 1:2 has the potential to produce yogurt with the best physicochemical characteristics. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia yoghurt kombinasi susu sapi dan susu kambing, serta mengetahui kombinasi yoghurt yang memberikan kualitas fisikokimia terbaik. Penelitian dilaksanakan selama 4 minggu di Laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana dan di PT. Cheese Works Batu Bulan, Kab. Gianyar. Rancangan yang akan digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Keempat perlakuan tersebut yaitu P0 (yoghurt susu sapi 100% tanpa campuran susu kambing, sebagai kontrol), P1 (yoghurt susu sapi dicampur dengan susu kambing dengan rasio 1:1), P2 (yoghurt susu sapi dicampur dengan susu kambing dengan rasio 1:2), P3 (yoghurt susu sapi dicampur dengan susu kambing dengan rasio 2:1). Variabel yang diamati yaitu total asam, pH, kadar lemak, kadar protein, kadar air dan kekentalan (viskositas). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan P0, P1, P2 dan P3 berbeda nyata (P<0,05) terhadap total asam, pH, kadar lemak, kadar protein, kadar air dan kekentalan (viskositas). Disimpulkan bahwa perlakuan yoghurt susu sapi dicampur dengan susu kambing dengan rasio 1:2 berpotensi menjadi yoghurt dengan karakteristik fisikokimia terbaik.
HASIL ASOSIASI Pennisetum purpureum cv. Mott DENGAN Centrosema pubescens PADA TINGKAT NAUNGAN BERBEDA T. P. Tampubolon; N. M. Witariadi; I.W. Wirawan
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The success of ruminant farming is highly dependent on the availability of forage. Forage production is influenced by the season and sunlight intensity. The study aimed to determine the results of the association of Pennisetum purpureum cv. Mott with Centrosema pubescens at different shade levels, using a completely randomized design (CRD) with four shade level treatments, namely: N0 = 0% shade; N1 = 20% shade, N2 = 40% shade, and N3 = 60% shade. Each treatment was repeated seven times. The observed variables were: leaf dry weight, stem dry weight, total forage dry weight, and leaf and stem dry weight ratio. The results showed the highest leaf dry weight in N0 (10.99 g) was significantly different from N2 (4.19 g) and N3 (3.66 g). The highest stem dry weight in N0 (25.11 g), significantly different from N2 and N3 (8.10 g and 7.99 g). The highest total dry weight of forage was found in N0 (36.10 g), significantly different from N2 (12.29 g) and N3 (11.64 g). The highest leaf-stem ratio was found in N1 (0.62), followed by N2 and N3 (0.59), and the lowest in N0 (0.47), but not significantly different. It can be concluded that different shade level treatments can reduce the association results of Pennisetum purpureum cv. Mott with Centrosema pubenscens, and shade levels up to 20% provided the best association results of Pennisetum purpureum cv. Mott with Centrosema pubenscens. ABSTRAK Keberhasilan peternakan ruminansia sangat bergantung pada ketersediaan hijauan pakan. Produksi hijauan dipengaruhi oleh musim dan intensitas sinar matahari. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hasil asosiasi Pennisetum purpureum cv. Mott dengan Centrosema pubescens pada tingkat naungan berbeda, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan tingkat naungan, yaitu: N0 = naungan 0%; N1= naungan 20%, N2 = naungan 40%, dan N3 = naungan 60%. masing-masing perlakuan diulang tujuh kali. Variabel yang diamati, yaitu: berat kering daun, berat kering batang, berat kering total hijauan, dan nisbah berat kering daun dan batang. Hasil penelitian menunjukkan berat kering daun tertinggi pada N0 (10,99 g) berbeda nyata dengan N2 (4,19 g) dan N3 (3,66 g). Berat kering batang tertinggi pada N0 (25,11 g), berbeda nyata dengan N2 dan N3 (8,10 g dan 7,99 g). Berat kering total hijauan tertinggi pada N0 (36,10 g), berbeda nyata dengan N2 (12,29 g) dan N3 (11,64 g). Nisbah daun-batang tertinggi pada N1 (0,62), diikuti N2 dan N3 (0,59), terendah pada N0 (0,47), namun tidak berbeda nyata. Dapat disimpulkan perlakuan tingkat naungan berbeda dapat menurunkan hasil asosiasi Pennisetum purpureum cv. Mott dengan Centrosema pubenscens, dan tingkat naungan sampai 20% memberikan hasil asosiasi Pennisetum purpureum cv. Mott dengan Centrosema pubenscens terbaik.
SUBSTITUSI RANSUM KOMERSIAL DENGAN TEPUNG KULIT KERANG DAN MINYAK IKAN TERHADAP PERSENTASE POTONGAN KARKAS BROILER F. M. Nasrani; I. P. A. Astawa; I. M. Nuriyasa
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of commercial ration substitution with shellfish shell flour and fish oil on the percentage of broiler carcass pieces. This research was carried out at Farm Sesetan, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University which is located on Jalan Raya Sesetan, Denpasar, and lasted for 35 days. The design used was a Complete Random Design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replicas, each replica consisting of 4 one-day-old broilers. The treatment consisted of P0 (feed without the addition of shellfish meal and fish oil), P1 (feed with an additional 1% shellfish meal and 0.5% fish oil), P2 (feed with an additional 1% shellfish meal and 1% fish oil), and P3 (feed with an additional 1% shellfish meal and 1.5% fish oil). The variables observed included slaughter weight, the percentage of the carcass, and the percentage of pieces of the broiler carcass, namely the breast, upper thighs, drum stick, wings, and back. The data was analyzed using analysis of variance and if there were significant differences it was followed by the Duncan test. The results showed that the combination of shellfish shell flour and fish oil had a significantly effect (P<0.05) on the slaughter weight, but no significantly (P>0.05) on the percentage of carcasses and other commercial pieces. Based on the results of the study, it was concluded that the combination of 1% shellfish flour and 1% fish oil could increase sloughter weight of the broiler but not effect on the percentage of carcass pieces. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi ransum komersial dengan tepung kulit kerang dan minyak ikan terhadap persentase potongan karkas broiler. Penelitian ini dilaksanakan di Farm Sesetan, Fakultas Peternakan Universitas Udayana yang berlokasi di Jalan Raya Sesetan, Denpasar, dan berlangsung selama 35 hari. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari 4 ekor broiler berumur satu hari. Perlakuan yang diberikan yaitu, P0 (pakan tanpa penambahan tepung kulit kerang dan minyak ikan), P1 (pakan dengan tambahan 1% tepung kulit kerang dan 0,5% minyak ikan), P2 (pakan dengan tambahan 1% tepung kulit kerang dan 1% minyak ikan), dan P3 (pakan dengan tambahan 1% tepung kulit kerang dan 1,5% minyak ikan). Variabel yang diamati meliputi bobot potong, persentase karkas, serta persentase potongan karkas broiler yaitu dada, paha atas, paha bawah, sayap, dan punggung. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan jika terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi tepung kulit kerang dan minyak ikan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot potong, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas dan potongan komersial lainnya. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian kombinasi 1% tepung kulit kerang dan 1% minyak ikan dapat meningkatkan bobot potong broiler tanpa mengubah persentase potongan karkas secara signifikan.
PENGARUH DOSIS PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA (PGPR) AKAR RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum) DAN KADAR AIR TANAH BERBEDA TERHADAP PERTUMNBUHAN DAN HASIL TANAMAN Centrosema pubescens M. Sinulingga; M. A. P. Duarsa; N. N. C. Kusumawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Centrosema pubescens is a type of legume that has potential for development to increase the availability and meet the demand for forage for livestock. However, its growth is greatly influenced by water availability and soil microbial activity, such as Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). This study aims to investigate the effects of the interaction between PGPR root doses and different soil moisture levels on the growth and yield of Centrosema pubescens. The study was conducted at the Animal Science Research Station, University of Udayana, Jl. Raya Sesetan Gang Markisa, and lasted for 8 weeks, using a completely randomized design (CRD) with a factorial pattern. The first factor was PGPR dose: 0 ml/pot (D0), 10 ml/pot (D1), and 20 ml/pot (D2). The second factor was soil moisture content: 25% field capacity (K1), 50% field capacity (K2), and 100% field capacity (K3). There were 9 treatment combinations, and each treatment had 4 replications, resulting in 36 experimental units. The observed variables were growth variables, yield variables, and growth characteristic variables. The results showed no interaction between PGPR dose and different soil moisture levels across all variables. A dose of 20 ml/pot (D1) produced the highest average values for the variables of total dry weight of forage, ratio of dry weight of leaves and stems, ratio of total dry weight of forage and roots, leaf area per pot, and dry weight of leaves. Soil moisture content of 100% (K3) resulted in the highest average values for the variables number of leaves, dry weight of leaves, dry weight of roots, dry weight of stems, total dry weight of forage, and leaf area. From this study, it can be concluded that there is no interaction between the dose of PGPR for elephant grass roots and different soil moisture contents on growth variables, yield, and growth characteristics. The treatment of 20 ml/pot PGPR dose and 100% soil moisture content provided the best growth and yield for Centrosema pubescens plants. ABSTRAK Centrosema pubescens merupakan salah satu jenis legum yang potensial dikembangkan untuk meningkatkan ketersediaan dan mencukupi kebutuhan hijauan pakan ternak. Namun, pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dan aktivitas mikroba tanah seperti Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara dosis PGPR akar rumput gajah dan kadar air tanah berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tananaman Centrosema pubescens. Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Jl. Raya Sesetan Gang Markisa dan berlangsung selama 8 minggu, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah dosis PGPR : Dosis 0 ml/pot (D0), 10 ml/pot (D1), 20 ml/pot (D2). Faktor kedua terdiri kadar air tanah yaitu: 25% kapasitas lapang (K1), 50% kapasitas lapang (K2), 100% kapasitas lapang (K3). Terdapat 9 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan memiliki 4 kali ulangan, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, variabel hasil, dan variabel karakteristik tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara dosis PGPR dan kadar air tanah yang berbeda pada semua variabel. Dosis 20 ml/pot (D1) memberikan rataan tertiinggi pada variabel berat kering total hijauan, nisbah berat kering daun dan batang, nisbah berat kering total hijauan dan akar, luas daun per pot, berat kering daun. Kadar air tanah 100% (K3) memberikan rataan tertinggi pada variabel jumlah daun, berat kering daun, berat kering akar, berat kering batang, berat kering total hijauan, luas daun. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara dosis PGPR akar rumput gajah dengan kadar air tanah berbeda terhadap variabel pertumbuhan, hasil, dan karakteristik tumbuh. Perlakuan dosis PGPR 20ml/pot dan kadar air tanah 100% memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman Centrosema pubescens.
PERTUMBUHAN TANAMAN Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha YANG DIPUPUK DENGAN.CAMPURAN KOTORAN AYAM DAN LIMBAH ANGGUR PADA JENIS TANAH BERBEDA I.G.N.O. Priastana; M.G.P. Duarsa; N.N.C. Kusumawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): Vol 13 No 4 (2025): Vol. 13 No.4(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asystasia gangetica has the potential to serve as a high-quality forage crop; however, appropriate treatment is required to ensure its sustainable availability and nutritional value. Regosol soil is a young, underdeveloped soil, while Mediterranean soil originates from weathered limestone and is more developed. Chicken manure and grape waste are types of organic fertilizers known to improve plant growth. This study.aimed to observe the growth performance of Asystasia gangetica.(L.) subsp. micrantha fertilized with a combination of chicken manure and grape waste. The research was conducted over a 12-week period in Sading Village, Badung Regency,.Bali Province. A split-plot design with a completely randomized design (CRD).was employed, with soil type as the main plot and fertilizer combination as the subplot. Two types of soil were used: regosol (R) and Mediterranean (M). Fertilizer treatments included 100% chicken manure (A), 100% grape waste (B), 75% chicken manure + 25% grape waste (C), 50% chicken manure + 50% grape waste (D), and 25% chicken manure + 75% grape waste (E). Observed variables included plant height, number of leaves, number of branches,.leaf chlorophyll content, leaf color, and leaf area per pot. The results showed no interaction between soil type and fertilizer combination on all growth variables of Asystasia gangetica. In Mediterranean soil, the application of 75% chicken manure + 25% grape waste resulted in significantly higher plant height and leaf area per pot compared to regosol soil. The combination of chicken manure and grape waste significantly affected the number of leaves, number of branches, and leaf area per pot. It can be concluded that there was no interaction between soil type and the combination of chicken manure and grape waste. The best growth performance of Asystasia gangetica (L.) subsp. micrantha. was observed in Mediterranean soil with the application of 75% chicken manure + 25% grape waste. ABSTRAK Asystasia gangetica berpotensi sebagai hijauan berkualitas, namun perlu perlakuan tepat agar ketersediaannya berkelanjutan dan bernutrisi. Tanah regosol merupakan tanah muda yang belum berkembang sempurna. Tanah mediteran berasal dari batuan kapur yang telah mengalami pelapukan dan perkembangan lebih lanjut. Pupuk kotoran ayam dan limbah anggur salah satu pupuk yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan. mengamati pertumbuhan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha yang. dipupuk dengan campuran kotoran ayam dan limbah anggur. Penelitian ini berlokasi di Desa Sading, Kabupaten Badung, Provinsi Bali dalam jangka waktu 12 minggu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola split plot dua faktor yaitu;tanah sebagai petak utama dan campuran kotoran ayam dan limbah anggur sebagai anak petak. Tanah yang dipakai ada dua jenis yaitu tanah regosol (R) dan tanah mediteran (M). Campuran pupuk terdiri dari 100% kotoran ayam (A), 100% limbah anggur (B), 75% kotoran ayam + 25% limbah anggur (C), 50% kotoran ayam + 50% limbah anggur (D), dan 25% kotoran ayam + 75% limbah anggur (E). Variabel yang diamati meliputi; tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, klorofil daun, warna daun, luas daun per pot. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara jenis tanah dengan campuran pupuk terhadap seluruh variabel pertumbuhan Asystasia gangetica. Pada jenis tanah mediteran perlakuan 75% kotoran ayam + 25% limbah anggur memberikan pertumbuhan tinggi tanaman dan luas daun per pot nyata lebih tinggi dibandingkan dengan tanah regosol. Pada pengaruh campuran kotoran ayam dan limbah anggur terdapat perbedaan yang nyata terhadap jumlah daun, jumlah batang, dan luas daun per pot. Dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara jenis tanah dengan campuran kotoran ayam dan limbah anggur. Pada tanah mediteran dan campuran 75% kotoran ayam + 25% limbah anggur memberikan pertumbuhan terbaik bagi Asystasia gangetica.(L.) subsp. Micrantha.

Page 7 of 10 | Total Record : 100