cover
Contact Name
Irsal
Contact Email
bengkuluirsal@gmail.com
Phone
+6285381305810
Journal Mail Official
bengkuluirsal@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : 10.29300/mtq.v9i2.8963
Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam pernah mengalami kerusakan servers jurnal secara total (di hack), yang mengakibatkan semua artikel yang sudah dipublish mulai Vol.1 No.1 2019 s-d Edisi tahun 2023 hilang semua. Maka untuk menghindari kekosongan artikel, maka tim pengelola jurnal melakukan upload ulang artikel secara quiksubmite Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam di tahun 2022 telah merubah institusi/lembaga penerbit dari IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Perubahan status IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER" : 13 Documents clear
Pemikiran Tasawuf Nasarudin Umar dan Relevansinya bagi Kehidupan Masyarakat Urban Syarif Hidayatullah
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.9071

Abstract

Abstract: This study explores Nasaruddin Umar’s modern Sufi thought, emphasizing wasathiyah (moderation), contextual spirituality, and the integration of inner ethics with social engagement. Rejecting escapist mysticism, Umar promotes practical Sufism that harmonizes spiritual consciousness (ihsan) with social transformation. Using a library research approach based on his work Tasawuf Modern, the study finds that Umar’s Sufism addresses urban issues such as alienation, materialism, and social disconnection by fostering inner peace, tolerance, interfaith dialogue, and community empowerment through religious institutions. Ultimately, his thought represents a model of practical and socially relevant Sufism for contemporary urban life.Keywords: Modern Sufism, Nasaruddin Umar, urban society, public religiosity, social cohesion.Abstrak: Artikel ini mengkaji pemikiran tasawuf modern Nasaruddin Umar yang menekankan moderasi (wasathiyah), relevansi sosial, dan etika spiritual dalam kehidupan modern. Menolak tasawuf yang bersifat eskapistis, Umar menawarkan sufisme praktis yang menggabungkan dimensi batin (ihsan) dengan transformasi sosial. Melalui studi pustaka terhadap karya Tasawuf Modern dan referensi terkait, penelitian ini menemukan bahwa pemikiran Umar relevan dalam menjawab tantangan masyarakat urban seperti alienasi, materialisme, dan disintegrasi sosial. Tasawuf menjadi sarana menumbuhkan ketenangan batin, memperkuat etika sosial dan toleransi, serta mendorong peran masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, tasawuf Umar merepresentasikan paradigma sufisme praktis yang relevan bagi kehidupan urban kontemporer.Kata kunci: Tasawuf modern, Nasaruddin Umar, masyarakat urban, religiositas publik, kohesi sosial.
Teologi Rasional dan Sains dalam Islam: Sintesis Ilmiah-Religius Menurut Ibnu Rusyd Afifah Afifah; Muhammad Noval Ifkar; Sulaiman Sulaiman; Nasihun Amin
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.8482

Abstract

Abstract: Ibn Rushd is one of the leading philosophers who sought to harmonize religion, philosophy, and science within the framework of Islamic teachings. He developed a synthesis between theology and science, based on philosophical and theological principles that emphasize reason as the primary means of interpreting revelation and the natural world. This study explores Ibn Rushd's contributions in integrating these three domains and examines the contemporary relevance of his ideas in uniting religion, philosophy, and science. Utilizing library research methods, data were collected from various sources including academic journals, scholarly articles, and books relevant to the theme. This study yielded several key findings. Among these is Ibn Rushd's assertion that reason is not only valid but also a necessary tool for understanding divine revelation and the workings of nature. This perspective offers a valuable paradigm for revitalizing scientific inquiry in Islamic educational settings. Furthermore, Ibn Rushd interprets Qur'anic verses to indicate that the universe was not created from absolute nothingness but from pre-existing matter. He believes that the Qur'an explicitly underscores the purposeful creation of nature for humanity, positioning humans as servants (khalifah) tasked with acquiring knowledge of the Creator's existence and oneness.Keywords: Ibn Rushd, Qur'an, Philosophy and Science.Abstrak : Ibnu Rusyd adalah salah satu filsuf terkemuka yang berusaha menyelaraskan agama, filsafat, dan sains dalam kerangka ajaran Islam. Dia mengembangkan sintesis antara teologi dan sains, didasarkan pada prinsip-prinsip filosofis dan teologis yang menekankan akal sebagai sarana utama untuk menafsirkan wahyu dan dunia alami. Studi ini mengeksplorasi kontribusi Ibnu Rusyd dalam mengintegrasikan ketiga domain ini dan meneliti relevansi kontemporer dari ide-idenya dalam menyatukan agama, filsafat, dan sains. Dengan memanfaatkan metode penelitian perpustakaan, data dikumpulkan dari berbagai sumber termasuk jurnal akademik, artikel ilmiah, dan buku yang relevan dengan tema. Studi ini menghasilkan beberapa temuan utama. Di antaranya adalah pernyataan Ibnu Rusyd bahwa akal tidak hanya valid tetapi juga alat yang diperlukan untuk memahami wahyu ilahi dan cara kerja alam. Sudut pandang ini menawarkan paradigma yang berharga untuk merevitalisasi penyelidikan ilmiah dalam pengaturan pendidikan Islam. Selain itu, Ibnu Rusyd menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an menunjukkan bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan mutlak melainkan dari materi yang sudah ada sebelumnya. Dia percaya bahwa Al-Qur'an secara eksplisit menggarisbawahi penciptaan alam yang bertujuan bagi umat manusia, memposisikan manusia sebagai pelayan (khalifah) yang ditugaskan untuk memperoleh pengetahuan tentang keberadaan dan keesaan Sang Pencipta.Kata kunci : Ibnu Rusyd, Al Qur’an, Filsafat dan sains
Bahagia itu Tidak Sederhana: Relevansi Konsep Eudaimonia Aristoteles di Masa Kontemporer Imam Iqbal; Eliawati Eliawati; M. Zikri; Muhammad Aska Irfani; Afdalul Ummah
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.8963

Abstract

Abstract: This article highlights common views that define happiness in a simplistic and shallow way. Philosophical analysis reveals these conceptions to be superficial and fail to capture the essence and true nature of human identity. As Aristotle demonstrates, an authentic human happiness is inherently complex, yet more substantive, profound, and meaningful. This article presents Aristotle’s account of eudaimonia and investigates its pertinence as a corrective to superficial popular interpretations of happiness. To this end, a qualitative study was carried out on Aristotle’s works as well as on supplementary materials drawn from journal articles, books, book chapters, and relevant online literature. Employing hermeneutic text interpretation and theoretical reflection, the research reveals that Aristotle’s model of eudaimonia —grounded in the synergistic interplay of ultimate end (telos), distinctive function (ergon), and virtue (aretē), underpinned by practical wisdom (phronesis)— more fully satisfies the existential demands of happiness and a purposeful and meaningfull life. Far from being an antiquarian curiosity, this classical framework offers a robust corrective to both ancient and contemporary shallow readings of happiness by affirming the rational character of human nature and the depth of a truly flourishing life.Keywords: reductive conceptions of happiness, Aristotle, eudaimonic happiness, plesure-centered morality, hedonism, virtue ethicsAbstrak: Artikel ini menyorot pandangan populer yang memaknai kebahagiaan secara sederhana dan dangkal. Dari perspektif filsafat, pandangan tersebut seringkali bernilai superfisial dan tidak mencerminkan hakikat dan jati diri manusia. Sebagaimana ditunjukkan Aristoteles, kebahagiaan yang manusiawi justru bersifat kompleks, namun lebih substansial, mendalam, dan bermakna. Artikel ini mendeskripsikan konsep kebahagiaan eudaimonis Aristoteles tersebut dan menggali relevansinya dalam merespons pandangan populer yang simplistis tentang kebahagiaan. Untuk itu, dilakukan penelitian kualitatif terhadap karya-karya Aristoteles dan karya lain dari artikel jurnal, buku, book chapter, dan literatur daring yang membahas topik ini. Data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan teknik hermeneutika teks dan refleksi teoritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kompleks dan klasik, konsep kebahagiaan eudaimonis Aristoteles lebih substantif dan menyentuh kebutuhan eksistensial manusia dalam mencapai kebahagiaan dan hidup yang bermakna. Kebahagiaan eudaimonis Aristotelian didasarkan atas variabel utama, yakni tujuan akhir (telos), fungsi khas (ergon), dan keutamaan (aretē) yang sinergis dengan kebijaksanaan praksis (phronesis). Konsep ini lebih mencerminkan hakikat manusia sebagai makhluk rasional, dan relevan dalam merespons pandangan populer yang memaknai kebahagiaan secara dangkal dan simplistis, baik pada masa Yunani Kuno maupun pada masa kontemporer.Kata kunci: kebahagiaan yang simplistis, Aristoteles, kebahagiaan eudaimonis, moralitas berdasar kesenangan, etika keutamaan
Analisis Progam Makan Bergizi Gratis (Mbg) Dalam Prespektif Kesehatan Masyarakat dan Etika Islam: Kajian Deskriptif Kualitatif Berdasarkan Ayat-Ayat Al Quran Fariz Zakariya Fauzan; Bagus Farih Hidayatullah; Ahmad Subhan; Akhmad Ali Mas'ud; Fauzatul Az'zaujha
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.9386

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the Free Nutritious Meal Program (MBG) from the perspective of public health and Islamic ethics using a qualitative descriptive approach. The main focus is to examine the program’s implementation concerning national nutrition standards, food safety, and the halalan thayyiban principles as taught in the Qur’an. Data were collected through interviews with MBG managers, nutritionists, and beneficiaries (students or communities). The findings reveal that empirically, MBG implementation aligns with Indonesia’s national nutrition standards and maintains food hygiene and quality, although issues remain in distribution equity and quality control. From an Islamic ethical perspective, halalan thayyiban encompasses not only the physical aspects of food cleanliness and permissibility but also moral responsibility and social trust in public food provision. Using Ian G. Barbour’s framework of science–religion integration, the study concludes that science and religion can synergize to produce more ethical, holistic, and human-centered public nutrition policies. Therefore, this research introduces a conceptual innovation of an integrative policy model that unites scientific evidence, spiritual ethics, and governmental social responsibility to enhance community well-being.Keywords: Free Nutritious Meal, Public Health, Islamic Ethics, Halalan Thayyiban, Science–Religion IntegrationAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam perspektif kesehatan masyarakat dan etika Islam dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Fokus utama penelitian ini adalah mengkaji implementasi MBG dalam kaitannya dengan standar gizi nasional, keamanan pangan, serta penerapan prinsip halalan thayyiban sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan pengelola MBG, ahli gizi, dan penerima manfaat (siswa atau masyarakat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara empiris, pelaksanaan MBG telah mengikuti standar gizi nasional dari Kementerian Kesehatan dan memperhatikan aspek kebersihan serta kelayakan bahan pangan. Namun, masih ditemukan kendala dalam hal pemerataan distribusi dan pengawasan mutu makanan di lapangan. Dari perspektif etika Islam, penerapan prinsip halalan thayyiban tidak hanya mencakup aspek kebersihan dan kehalalan bahan, tetapi juga tanggung jawab moral dan amanah sosial dalam penyediaan makanan publik. Melalui kerangka teori integrasi sains dan agama yang dikemukakan oleh Ian G. Barbour, penelitian ini menemukan bahwa sains dan agama dapat bersinergi dalam mewujudkan kebijakan gizi publik yang lebih etis, holistik, dan manusiawi. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kebaruan konseptual berupa model integratif kebijakan gizi yang menggabungkan pendekatan ilmiah, etika spiritual, dan tanggung jawab sosial pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Kata kunci: Makan Bergizi Gratis, Kesehatan Masyarakat, Etika Islam, Halalan Thayyiban, Integrasi Sains dan Agama.
Pemikiran Imam Al-Ghazali Tentang Etos Kerja Dalam Kitab Ihya Ulumuddin Desma Wahyuni; M. Ridho Syabibi; Moch Iqbal
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.9048

Abstract

Abstract: This research is based on the author's interest in discussing work ethic and then the thoughts of Imam Al-Ghazali in a very phenomenal book, namely the book of Ihya Ulumuddin, and Imam Ghazali's thoughts on work ethic. This research uses a library research method, namely the type of library research using a descriptive-analytical method, namely describing Imam Al-Ghazali's thoughts in the book of Ihya Ulumuddin about work ethics, the results of the research found that Imam Al-Ghazali's thoughts on work ethic in the book of Ihya Ulumuddin place work as part of worship that has spiritual and social dimensions. Imam Al-Ghazali does not separate worldly activities such as work from the values of faith. For Imam Al-Ghazali, work is not only to fulfill the needs of life, but also as a means of getting closer to God, maintaining self-esteem, and contributing to society. According to Al-Ghazali, several core values shape his work ethic, including: sincerity, honesty, trustworthiness, responsibility, professionalism, modesty, asceticism, devotion, independence, and independence from others.Keywords: Work Ethic, Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin.Abstrak: Penelitian ini berangkat dari ketertarikan penulis membahas tentang etos kerja dan kemudian di pemikiran imam Al-Ghazali dalam kitab yang sangat fenomenal yaitu kitab Ihya Ulumuddin, dan pemikiran Imam Ghazali terhadap etos kerja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan, yaitu jenis penelitian library research dengan menggunakan metode deskriptif-analisis yakni mendeskripsikan tentang pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin tentang esos kerja, adapun hasil penelitian yang ditemukan bahwa pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai etos kerja dalam kitab Ihya Ulumuddin menepatkan kerja sebagai bagian dari ibadah yang memiliki dimensi spiritual dan sosial. Imam Al-Ghazali tidak memisahkan antivitas duniawi seperti bekerja dari nilai-nilai keimanan. Bagi imam Al-Ghazali kerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, akan tetapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, menjaga harga diri, dan berkontribusi pada masyarakat. Terdapat sejumlah nilai utama yang membentuk etos kerja dalam pandangan Al-Ghazali, antara lain: Ikhlas, Jujur, Amanah, Tanggung Jawab, Profesionalitas, Sederhana, Zuhud, Wara, Mandiri, serta tidak bergantung kepada orang lain.Kata Kunci: Etos Kerja, Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddi.
Filsafat Islam Klasik: Kontribusi, Perkembangan, dan Relevansinya dalam Dunia Modern Awan Farih; Nagib Romadhony; Suadi Saad; Endang Saeful Anwar
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.8661

Abstract

Abstract : Classical Islamic philosophy is a significant branch of thought that has played a crucial role in the development of knowledge and culture, both in the Islamic world and the West. This study aims to analyze the development of classical Islamic philosophy, the factors influencing it, and the contributions of key figures such as Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, AlGhazali, and Ibn Rushd. The research employs a qualitative approach with historical analysis and literature studies on the primary works of Muslim philosophers. The findings indicate that classical Islamic philosophy evolved through interactions with Greek, Persian, and Indian philosophical traditions while being deeply influenced by Islamic teachings. Muslim philosophers sought to harmonize reason and revelation in understanding the nature of reality, knowledge, and ethics. Their ideas not only contributed to the advancement of knowledge within the Islamic world but also influenced Western philosophy, particularly during the Renaissance. Furthermore, this study highlights that classical Islamic philosophy remains relevant in the modern world, especially in fostering a balanced approach between rationality and spirituality. Thus, this research affirms that classical Islamic philosophy is an invaluable intellectual heritage that provides insights into the relationship between religion and reason, as well as solutions to contemporary social, ethical, and scientific challenges.Keywords: Classical Islamic philosophy, Islamic thought, Muslim philosophers, rationality, spirituality.Abstrak: Filsafat Islam klasik merupakan salah satu cabang pemikiran yang memainkan peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, baik di dunia Islam maupun Barat. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan filsafat Islam klasik, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta kontribusi tokoh-tokoh utama seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Rushd. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis historis dan studi literatur terhadap karya-karya utama filsuf Muslim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat Islam klasik berkembang melalui interaksi dengan tradisi filsafat Yunani, Persia, dan India, serta mendapat pengaruh kuat dari ajaran Islam. Para filsuf Muslim berusaha mengharmoniskan akal dan wahyu dalam memahami hakikat realitas, ilmu pengetahuan, dan etika. Pemikiran mereka tidak hanya memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu dalam dunia Islam tetapi juga berpengaruh pada filsafat Barat, terutama selama masa Renaisans. Selain itu, studi ini menemukan bahwa filsafat Islam klasik tetap relevan dalam dunia modern, terutama dalam membangun pemikiran yang seimbang antara rasionalitas dan spiritualitas. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa filsafat Islam klasik merupakan warisan intelektual yang berharga dalam memahami hubungan antara agama dan akal, serta dalam memberikan solusi terhadap tantangan sosial, etika, dan ilmu pengetahuan di era kontemporer.Kata Kunci: Filsafat Islam klasik, pemikiran Islam, filsuf Muslim, rasionalitas, spiritualitas
Paradigma Ilmu Pengetahuan dalam Pengembangan Artificial Intelligence (AI): Positivisme vs Konstruktivisme Didin Halim; Herman H; Ummi Kalsum Syam; Ibunga Tang; Muhammad Ibnu Kafsir Sudding; Muhammad Nur Alil Makmur
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.9530

Abstract

Abstract: The development of artificial intelligence (AI) has brought about a major transformation in the fields of science and technology. However, this progress has also given rise to philosophical debates regarding the epistemological foundations used in its development. This article aims to critically examine two major paradigms in the philosophy of science, positivism and constructivism, and their implications for the development of AI. The research method used is a literature review with a qualitative-descriptive approach to the latest academic literature. The results of the study indicate that the positivist paradigm dominates the development of modern AI due to its focus on objectivity, empirical data, and algorithmic logic, while constructivism offers a more humanistic approach by emphasizing social values, ethics, and cultural context. This article concludes that an integration of the two is necessary to create AI systems that are not only technically intelligent but also ethical and humanity-oriented.Keywords: Scientific paradigm, Positivism, Constructivism, Artificial Intelligence, Ethics of Technology.Abstrak: Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menghadirkan transformasi besar dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, kemajuan tersebut juga menimbulkan perdebatan filosofis terkait landasan epistemologis yang digunakan dalam pengembangannya. Artikel ini bertujuan untuk menelaah secara kritis dua paradigma utama dalam filsafat ilmu, yaitu positivisme dan konstruktivisme, serta implikasinya terhadap pengembangan AI. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif-deskriptif terhadap literatur akademik terbaru. Hasil kajian menunjukkan bahwa paradigma positivistik mendominasi pengembangan AI modern karena fokus pada objektivitas, data empiris, dan logika algoritmik, sementara konstruktivisme menawarkan pendekatan yang lebih humanistik dengan menekankan nilai sosial, etika, dan konteks budaya. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi keduanya diperlukan untuk menciptakan sistem AI yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga etis dan berorientasi pada kemanusiaan.Kata kunci: Paradigma ilmu pengetahuan, positivisme, kontruktivisme, Arttificial Intelegence, Etika Tekonologi.
Pemahaman Hadis Eskatologi Perspektif Teori Strukturalisme: Pendekatan Mongin Ferdinand De Saussure Sultan Gholand Astapala; Rohimin Rohimin
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.9049

Abstract

Abstract: This study attempts to understand the eschatological hadiths about the signs of cessation using a structuralism theory approach, this study is very necessary to be studied because in understanding the eschatological hadiths, they are often understood literally without considering the historical and social context at the time the hadith was delivered. This study uses a library research method, namely a type of library research using a descriptive-analytical method, namely describing the structuralism theory and analyzing the eschatological hadiths about the signs of cessation using a structuralism theory approach. The eschatology of the hadith discusses the descent of the Prophet Jesus, the emergence of the Dajjal, the rising of the sun from the west, and the signs of its cessation. In the hadith of the descent of the Prophet Jesus, the redaction is explained as a signifier-signified, langueparole, as well as synchronic and diachronic understanding, with the syntagmatic and paradigmatic role of the Prophet Jesus as a savior. The hadith of the rising of the sun from the west is studied from the redaction, meaning, langue-parole, contextual interpretation, and the paradigmatic syntagmatic structure of the subject-predicate-adverb sentence. The hadith on the appearance of the Dajjal is studied in terms of signifiers, editorial and meaning, langue-parole as a reminder of faith, as well as synchronic diachronic and syntagmatic paradigmatic understanding of the Dajjal as an object.Keywords: Hadith, Eschatology, Structuralism Theory.Abstrak: Penelitian ini berusaha memahami hadis-hadis eskatologi tentang tanda-tamda kiamat dengan menggunakan pendekatan teori strukturalisme, kajian ini sangat perlu dilakukan untuk dikaji karena dalam memahami hadis eskatologi sering dipahami secara literal tanpa mempertimbangkan konteks historis dan sosial pada saat hadis disampaikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan, yaitu jenis penelitian library research dengan menggunakan metode deskriptif-analisis yakni mendeskripsikan teori strukturalisme serta menganalisis hadis-hadis eskatologi tentang tandatanda kiamat dengan menggunakan pendekatan teori strukturalisme. Hadis eskatologi membahas turunnya Nabi Isa, kemunculan Dajjal, terbitnya matahari dari barat, dan tanda kiamat. Pada hadis turunnya Nabi Isa dianalisis redaksi sebagai signifier-signified, langue-parole, serta pemahaman sinkronik dan diakronik, dengan peran sintagmatik dan paradigmatik Nabi Isa sebagai penyelamat. Hadis terbitnya matahari dari barat ditelaah dari redaksi, makna, langue-parole, interpretasi kontekstual, dan struktur sintagmatik paradigmatik kalimat subjek-predikat-keterangan. Hadis kemunculan Dajjal dikaji dari segi signifier-signified, redaksi dan makna, langue-parole sebagai peringatan keimanan, serta pemahaman sinkronik diakronik dan simbolik sintagmatik paradigmatik Dajjal sebagai objek.Kata kunci: Hadis, Eskatologi, Teori Strukturalisme.
Menjaga Keutuhan Pesan Agama : Urgensi Konteks dalam Memahami Teks Keagamaan M. Samsul Ma'arif; Diah Dwi Ikranegara
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.9527

Abstract

Abstract : The problem of understanding is crucial because misunderstanding can have fatal consequences. This awareness of understanding needs to be instilled in understanding various symbols and signs, including texts and symbols related to religion. This research aims to address the effectiveness of understanding religious language, and how generations living in different times and places are able to grasp the ideas of religious texts correctly and comprehensively from previous generations. This research is a literature review using a qualitative-descriptive approach to analyze various relevant books and scientific journal articles. The study concludes that interaction with religious texts is not merely about reading and understanding the text but also requires a comprehensive, contextual understanding of its context and message. Ignoring the context of space and time is very dangerous, as it will present an incomplete, unequal, and even problematic image of religion.Keywords: Religious Messages, Religious Texts, Urgency of Context.Abstrak: Problem memahami merupakan hal penting karena salah memahami berakibat fatal. Kesadaran memahami ini perlu dibawa untuk memahami berbagai simbol dan tanda, termasuk teks dan simbol yang terkait dengan agama. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab efektifitas memahami bahasa agama, bagaimana generasi yang hidup di zaman dan tempat yang berbeda mampu menangkap gagasan teks agama secara benar dan utuh dari generasi sebelumnya. Penelitian ini merupakan studi pustaka dengan pendekatan kualitatif-deskriptif untuk melakukan analisis berbagai literatur buku-buku yang relevan dan berbagai artikel jurnal ilmiah yang relevan. Sebagai hasil kajian, interaksi dengan teks keagamaan tidaklah cukup dengan kecakapan membaca dan mengetahui teks saja melainkan harus dengan memahami konteks serta pesannya secara komprehensif kontekstualis. Terabaikannya konteks ruang dan waktu sangat berbahaya, karena justru akan menampilkan wajah agama yang tidak utuh, timpang bahkan bermasalah.Kata kunci: Pesan Agama, Teks Keagamaan, Urgensi Konteks.
Islamisasi Demokrasi: Telaah Kritis Atas Teori Mayoritas Hans Kelsen Savier Nayaka Gunawardana; Muhammad Rafi Dhiaulhaq Sasongko
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.8669

Abstract

Abstract: This research is motivated by the dominance of democracy in modern state governance, particularly the principle of majority rule as developed by Hans Kelsen. Although considered a solution to social anarchy, this principle is vulnerable to marginalizing minority groups and opens the door to abuse of power. The aim of this study is to critically examine Kelsen’s theory of majority rule from an Islamic perspective, by analyzing the thoughts of Muslim scholars such as Abbas Mahmud Al-Aqqad and Syed Naquib Al-Attas. The method used is qualitative with a library research approach, relying on both classical and contemporary literature sources. The study aims to critique Kelsen’s theory of majority rule through the lens of Islamic thought. The findings show that the principle of majority is not always synonymous with justice in Islam. The Qur’an often warns of misguidance that can be supported by the majority. Islam places greater emphasis on consultation (shura) involving those who are knowledgeable (ahlul halli wal ‘aqdi) and on the implementation of sharia as the foundation of law. Additionally, the concept of ta’dib (education in adab or moral discipline) is seen as a fundamental solution to building a just and civilized society. In conclusion, the democratic principle of majority rule needs to be Islamized in order to remain aligned with divine values and to ensure it does not contradict the Islamic concept of justice.Keywords: Hans Kelsen, islamic critique, majority principle.Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dominasi sistem demokrasi dalam tata kelola negara modern, khususnya pada prinsip suara terbanyak yang dikembangkan oleh Hans Kelsen. Meskipun dianggap sebagai solusi atas anarkisme sosial, prinsip ini rentan menyebabkan marginalisasi terhadap kelompok minoritas dan membuka celah penyalahgunaan kekuasaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkritisi teori suara terbanyak Kelsen melalui perspektif Islam, dengan menelaah pemikiran para cendekiawan muslim seperti Abbas Mahmud Al-Aqqad dan Syekh Naquib Al-Attas. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yang mengandalkan sumber-sumber literatur klasik dan kontemporer. Penelitian ini bertujuan mengkritisi teori suara terbanyak Kelsen melalui pendekatan pemikiran Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip mayoritas tidak selalu identik dengan keadilan menurut Islam. Al-Qur’an bahkan sering memperingatkan tentang kesesatan yang didukung oleh mayoritas. Islam lebih menekankan musyawarah oleh orang-orang berilmu (ahlul halli wal ‘aqdi) dan pelaksanaan syariat sebagai dasar hukum. Selain itu, pendidikan adab (ta’dib) dianggap sebagai solusi fundamental untuk membentuk masyarakat adil dan berkeadaban. Kesimpulannya, prinsip demokrasi dalam bentuk suara terbanyak perlu diislamisasi agar tetap sejalan dengan nilai-nilai wahyu dan tidak bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam.Kata kunci: Hans Kelsen, Kritik Islam, Prinsip Mayoritas.

Page 1 of 2 | Total Record : 13