cover
Contact Name
asir Sidiq
Contact Email
dpu-drpps@ums.ac.id
Phone
+6281226371967
Journal Mail Official
profetika@ums.ac.id
Editorial Address
Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, 57169
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Profetika: Jurnal Studi Islam
ISSN : 14110881     EISSN : 25414534     DOI : 10.23917
Profetika: Jurnal Studi Islam is a scientific journal published by the Postgraduate Program of Universitas Muhammadiyah Surakarta. It aims to serve as an academic platform for publishing original and innovative research findings in the field of Islamic Studies. The primary focus of this journal is to support the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs) through multidisciplinary and interdisciplinary studies related to Islamic Studies.
Articles 243 Documents
PRODUKSI SENI PATUNG DALAM DUNIA BISNIS PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Imamul Arifin; Fika Firdha Fara; Lailatul Yulia Wati
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 23, No. 1, Juni 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v23i1.16805

Abstract

Jual beli barang merupakan transaksi paling kuat dalam dunia bisnis bahkan secara umum adalah bagian terpenting dalam aktivitas usaha. Sesungguhnya diantara bentuk jual beli ada juga yang di haramkan ada juga yang dipersilahkan hukumnya. Oleh sebab itu, menjadi satu kewajiban bagi seorang usahawan muslim untuk mengenal hal-hal yang menentukan sahnya jual beli tersebut, dan mengenal mana yang halal dan mana yang haram dari kegiatan itu sehingga ia betul-betul mengerti persoalan tentang akad jual beli. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab bagaimana pelaksanaan jual beli patung dan berfokus pada tinjauan hokum pembuatan patung dalam syari’at Islam. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan yaitu mengamati secara langsung praktik jual-beli patung yang dilakukan oleh pengrajin patung, seniman, dan konsumen. Tujuan lainnya juga untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan jual-beli patung, kemudian di analisis tentang bagaimana peran hokum agama dalam menjamin kegunaan para pihak yang berkecimpung dalam industri pahat patung tersebut. Pada dasarnya, setiap patung itu adalah gambar, tetapi tidak semua gambar adalah patung. Dari yang telah kita telusuri, menurut para ulama yaitu sepakat bahwa hukum membuat patung baik berbentuk manusia maupun hewan itu haram. Mereka juga sepakat tentang keharaman memperoleh dan memajangnya. Selain itu juga diharamkan menjual belikan serta memakan hasil penjualannya. Menurut etika bisnis Islam, bahkan patung juga menjadi pengecualian karena dapat disebut komoditi bisnis yang dijual adalah barang yang tidak suci dan halal, atau haram, setara babi, anjing, minuman keras, ekstasi, dan lain sebagainya.
ISLAM DAN PRODUK HALAL: MUSLIMAH, KOMODIFIKASI AGAMA DAN KONSOLIDASI IDENTITAS KEAGAMAAN DI INDONESIA Muhammad Suhadi; Azis Muslim
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 23, No. 1, Juni 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v23i1.18082

Abstract

Artikel ini membahas tentang Islam dan produk Halal. Secara spesifik, artikel ini menyoroti sejumlah iklan komersial produk halal yang menggunakan norma agama sebagai branding di Indonesia. Iklan tersebut dilihat sebagai sebuah komodifikasi agama dan konsolidasi identitas keagamaan, serta menampilkan gaya hidup Muslim kelas menengah. Artikel ini juga menelusuri persepsi anak muda muslimah pedesaan yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid Desa Parit Baru terkait fenomena Islam dan produk halal. Secara metodologi, artikel ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini diperoleh dari lapangan melalui wawancara langsung dengan sejumlah Muslimah Remaja Masjid Desa Parit Baru, dan juga berasal dari penelusuran data melalui berbagai literatur, buku-buku, majalah dan data-data yang tersedia di internet yang berhubungan dengan penelitian ini. Hasil studi menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang luas, ditandai dengan perhatian dan peraturan Islam terkait produk halal untuk dikonsumsi kalangan Muslim dalam kesehariannya. Artikel ini juga menyimpulkan bahwa iklan-iklan produk halal di Indonesia menggunakan norma agama sebagai branding untuk mendapatkan keuntungan disatu sisi, dan secara tidak langsung mengedukasi Muslim kelas menengah khususnya perempuan untuk tetap mempertahankan penggunaan jilbab sebagai bentuk representasi identitas keagamaan di sisi lain. Hal ini dapat dipandang sebagai bentuk konsolidasi identitas keagamaan disatu sisi dan komodifikasi agama di sisi lain.
ISLAMIC CHARACTER VALUES IN ECOLOGICAL EDUCATION PRACTICES AT SANGGAR ANAK ALAM (SALAM) NITIPTAYAN BANTUL Rifatul Anwiyah; Azam Syukur Rahmatullah; Aris Fauzan
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16662

Abstract

The purpose of this study is to analyze the values of Islamic character in the practice of ecological education in the non-formal school of Sanggar Anak Alam (SALAM), Nitiptayan, Bantul by examining the problem how the environmental practices carried out by the Nitiprayan Bantul Nature Studio? the ecological practices carried out by Sanggar Anak Alam?, how is the process of instilling Islamic character values in environmental practices at Sanggar Anak Alam?. based on the results of the data obtained, namely the importance of character education of Sanggar Anak Alam have a strong relationship with the substance of values in Islamic teachings which are reflected in fundamental aspects and give meaning to Islam. This study describes the development of the environment is to maintain the balance of nature and the balance of the social atmosphere. This research also confirms that the community, which also gives meaning to the relationship of spirituality with a deeper appreciation of religion, tends to have a deep concern for environmental issues. The character education process from this ecological practice can be shown from the learning cycle, namely awareness, habituation, actual training, example and reflection.
THE ROLE OF THE PRINCIPAL IN DEVELOPING A RELIGIOUS CULTURE AT SMPN 4 BOYOLALI Meti Fatimah; Muh Nur Rochim Maksum; Deddy Ramdhani
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16663

Abstract

This study aims to determine the importance of the role of the principal in developing a religious culture in schools. This study uses a qualitative approach aimed at describing and analyzing natural phenomena, events, social activities regarding the development of religious culture through the internalization of moral and religious values at SMPN 4 Boyolali. Documentation, observation and interviews are the methods used to collect data. Meanwhile, the technique of analyzing and analyzing the data is using data reduction, categorizing the checking of the validity of the data and interpreting the data. The results of this study indicate that developing a religious culture in schools requires systematic policies and concepts.
REALIZING DEMOCRATIC EDUCATION THROUGH THE DEVELOPMENT OF PESANTREN EDUCATION PROCESS Muh. Nur Rochim Maksum; Deddy Ramdhani; Meti Fatimah; Athia Tamyizatun Nisa
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16665

Abstract

An educational institution will be able to actualize democratic education in its school environment holistically as described by Zamroni (2011) must at least integrate three important elements in a school. The three elements are the structure, the culture of the school, and the educational process carried out by teachers. Previous literature studies show that the integration of the three elements has not been maximally actualized in educational institutions. This research will explain the actualization of democratic education through the reorientation of the democratic education process through the development of extracurricular activities of modern Islamic boarding school Assalaam Surakarta Indonesia. To achieve the research objectives, this study uses a qualitative approach with three data collection techniques: interviews, documentation, observations. The results of this study show that the actualization of democratic education in the boarding school environment through the development of extracurricular activities can be done by reorienting extracurricular activities. At least the reorientation process can be carried out in the early stages, namely, the use of extracurricular activities proportionately and professionally, to carry out the management of the extracurricular based on democratic values and develop extracurricular activities in a structured and planned manner to develop democratic values gradually and continuously.
THE CONCEPT OF WAQF IN INDONESIAN LAW: ITS HISTORY AND DEVELOPMENTمفهوم الوقف في القانون الإندونيسي: تاريخه وتطوره Ardhika Wahyu Kuncoro; Mohammad Syifa urrosidin; Ahmad bin Muhammad Husni
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16666

Abstract

يهدف هذا البحث إلى كشف العلاقة بين نظرية الوقف المتفق عليها عند جمهورملخص: الفقهاء وبين ما يكون في القانون الوقفي الإندونيسي. وهذه القضية مثيرة للإهتمام، لأنالتآزر بين القانون الوضعي وارتباطه بالشريعة الإسلامية مهم لضمان صحة الأساسالقانوني الذي سيتم تطبيقه في عامة الناس، وخاصة في إندونيسيا كأكبر الدول عدداللمسلمين في العالم. وسيتناول البحث مفهوم الوقف في القانون الإندونيسي الماضيوالحالي وبيان تطور فقه الوقف فيه. وقد استخدم الباحث ثلاثة مناهج؛ هي: الاستقرائيوالتحليلي والمنهج المقارن. ومن أهم النتائج التي توصل إليها الباحث: إن مفهوم الوقففي إندونيسيا يختلف قبل تشريع القانون رقم ١٤ عام ٤٠٠٢م وبعدها، وتشمل التطوراتالقانونية الناتجة على تطوير المحاولات الإدارية، وتطوير نوعية العين الموقوفة، وتطوير إدارة ممتلكات الوقف.(الموقوف به)
THE EPISTEMOLOGY OF USHUL FIQH AL-GHAZALI IN HIS BOOK AL-MUSTASHFA MIN USHUF FIQHنظرية المعرفة الأصولية عند الغزالي من خلال كتابه المستصفى من علم الأصول Muhamad Subhi Apriantoro; M Muthoifin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16668

Abstract

This study analyzed the epistemological theory of Ushul Fiqh, which is currently devoid of the interest of enthusiasts of the fundamentals of jurisprudence and followers of the philosophy of science. Given the demands to use this science cannot be separated from the development of his epistemology. For reference, this study evokes Al-Ghazali who has historically been a representative figure as a representative of classical thinkers. The data presented in this study are taken from the main source, Al-Mustasfa’s book from the science of Ushul. This study concluded that Al-Ghazali’s ushul fiqh epistemology is deductive rationality, very clearly reject non-rational arguments let alone metaphysics. Al-Ghazali has assumed that the senses can be used as a source of knowledge, Illustrated in three models of thinking, which are semantic thinking based on linguistic principles.Kajian ini menganalisis teori epistemologis ushul fikih, yang saat ini sepi dari minat peminat dasar-dasar fikih dan pengikut falsafah sains. Mengingat tuntutan untuk menggunakan ilmu ini tidak lepas dari perkembangan epistemologinya. Sebagai referensi, kajian ini membangkitkan Al-Ghazali yang secara historis merupakan sosok yang representatif sebagai wakil dari para pemikir klasik. Data yang disajikan dalam penelitian ini diambil dari sumber utama yaitu kitab Al-Mustasfa dari ilmu Ushul. Studi ini menyimpulkan bahwa epistemologi ushul fikih Al-Ghazali adalah rasionalitas deduktif, sangat jelas menolak argumentasi non-rasional apalagi metafisika. Al-Ghazali beranggapan bahwa indera dapat digunakan sebagai sumber ilmu, tergambar dalam tiga model pemikiran, yaitu berpikir semantik berdasarkan kaidah kebahasaan.
PRAKTIK PERNIKAHAN POLIGAMI DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM NEGARA Nurul Faizatur Rohmah; B Budihardjo
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16669

Abstract

Artikel ini membahas tentang bagaimana hukum poligami dalam Islam dan dalam hulum negara. Melihat situasi dan kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini, praktik poligami acap kali dijumpai di berbagai daerah dengan bermacam-macam latar pemahaman agama,sosial serta ekonomi masing-masing. Dalam artikel ini juga akan mengkorelasikan Nas al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 43 tentang poligami dengan realita yang ada di masyarakat. Tentu saja hukum Islam yang rahmah akan mengatur seluruh kehidupan dan cara pandang masyarakat. Oleh karena itu, akan terciptalah suatu keadilan bagi keluarga poligami dan mampu menepis anggapan buruk seseorang terkait praktik poligami.
PERSPEKTIF TEOLOGIS A COMMON WORD SEBAGAI TITIK TEMU ANTARA ISLAM DAN KRISTEN: TELAAH PEMIKIRAN IBRAHIM KALIN Agus Miswanto
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16670

Abstract

Artikel ini mengkaji pemikiran Ibrahim kalin tentang teologis A Common Word sebagai basis hubungan relasional islam-Kristen. Ibrahim kalin merupakan salah seorang intelektual Turkey kontemporer yang cukup berpengaruh. Dengan pendekatan historis dan filsafat kontemporer, Ibrahim Kalin menemukan basis teologis A Common Word hubungan Islam dan Kristen yang kuat dalam praktek Islam pada zaman Nabi SAW. Dan ini dapat menjadi landasan pengembangan hubungan Islam-Kristen yang positif dan harmonis. Dan hubungan Islam-Kristen yang adem panas selama ini, sesungguhnya berangkat dari polemic teologis paska Nabi SAW sebagai respon terhadap persoalan geopolitik zaman itu, sehingga berdampak pada hubungan Islam-kristen yang bersifat fluktuatif, dan cenderung kurang harmonis. Lebih lanjut, perubahan politik dan social dunia barat, juga tidak memberikan kontribusi dalam pengembangan hubungan relasional Islam Kristen. Karena paradigam hubungan unipolar yang dikembangan dunia barat, justru semakin merusak ragam peradaban yang berbeda dengan dunia barat. Oleh karena pengembangan hubungan Islam-Kristen kedepan harus mengedepankan pola multipolar, keragaman dunia dan kesetaraan.
MODERASI BERAGAMA SEBAGAI RESPON BIJAK DI TENGAH WABAH COVID-19 Khabib Musthofa
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16671

Abstract

Artikel ini mencoba menggambarkan respon masyarakat Indonesia dalam menyikapi wabah covid-19. Mulai dari response yang menganggap wabah ini telah menghalangi mereka dari beribadah kepada Allah, hingga respon ikhtiar kesehatan dengan berlebihan hingga memborong atribut protokol kesehatan (masker, handsanitizer) yang mengakibatkan kelangkaan hingga mahal barang tersebut demi kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri. Fenomena tersebut sejatinya tidak sejalan dengan pesan moderasi beragama yang mengandung nilai-nilai adil, tawazzun; seimbang, tolerir dan moderat. situasi pandemi seperti saat ini moderasi beragama menjadi sesuatu yang mutlak dimaksimalkan dalam menghadapi situasi yang tidak normal tersebut. Dikarenakan Covid 19 merupakan virus yang tidak memilih targetnya berdasarkan pertimbangan kesalihan diri, agama, suku dan budaya serta aliran. Setiap individu berpotensi terjangkit apabila ketahanan dan kondisi tubuh tidak kuat, tidak menerapkan pola hidup sehat atau tidak menjaga jarak (phsysical distancing).