cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
PEMETAAN TINGKAT LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (Studi Kasus : Kabupaten Blora) Lorenzia Anggi Ramayanti; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.609 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Blora saat ini mengalami perubahan berupa alih fungsi lahan pertanian dan hutan menjadi lahan non pertanian atau lahan terbangun yang tidak memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya degradasi lahan, kekeringan, bencana tanah longsor dan bencana banjir yang akhirnya akan menimbulkan lahan kritis. Berangkat dari permasalahan diatas maka dilakukan tinjauan penelitian tentang pemetaann tingkat lahan kritis di Kabupaten Blora.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menghitung luas tingkat lahan kritis di Kabupaten Blora.Metode yang digunakanadalah metode overlay,skoring serta pembobotan. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Bina Pengelolaan DAS dan Perhutani Sosial No: P.4/V-SET/2013 faktor yang mempengaruhi lahan kritis adalah vegetasi, kelereng, erosi, produktivitas, dan manajemen.Berdasarkan hasil pengolahan data, lahan kritis di Kabupaten Blora didominasi lahan tidak kritis seluas 119.672,80 Ha. Lahan kritis paling banyak berada di kecamatan Bogorejo seluas 181,53 Ha dan lahan agak kritis paling banyak berada di Kecamatan Jiken seluas 2.441,54 Ha. Sedangkan lahan  potensial kritis paling banyak terdapat di Kecamatan Todanan seluas 13.245,71. Dari hasil penilaian tingkat lahan kritis diketahui bahwa kerapatan vegetasi berperan besar dalam tingkat lahan kritis pada fungsi kawasan lindung di luar kawasan hutan, sedangkan tingkat produktivitas lahan berpengaruh besar pada kawasan budidaya pertanian dan hutan produksi. Kata Kunci : Kabupaten Blora; Lahan Kritis.                                                                      ABSTRACT Blora at this time has changed such as conversion of agricultural land and forest land to non- agricultural or undeveloped land that does not pay attention to the terms of the conservation of soil and water and thus potentially lead to land degradation, drought, landslides and disasters flooding which will eventually lead to critical land. From the above problems therefore a study of mapping level critical land.This study aims to mapping and calculate  the area of level of critical land in Blora. The methods used in this study are the overlay method, scoring and weighting. According Regulation of the Director General of Watershed Management and Social Perhutani No: P.4 / V-SET / 2013factors affecting the occurrence of critical areas such asvegetation, slopes, erosion,  productivity and management.From the result of data processing, Blora dominated by criteria not critical area of 119.672,80 Ha. Most criteria critical in the district areBogorejoarea of 181,53 Ha and most criteria medium critical in the district are Jiken area of 2.441,54 Ha. While the most criteria potential critical in the district are Todanan area of 13.245,71Ha.  From the results of assessment of the level of critical land known that the density of vegetation plays a major role in the function of the level of critical land in protected areas outside the forest area, while the level of productivity of land have great impact on agricultural production areas and production forests. Keywords : Blora; Critical Land
ANALISIS PENGARUH DATA SVP (SOUND VELOCITY PROFILER) PADA HASIL PENGOLAHAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK EIVA (STUDI KASUS : MARINE STATION TELUK AWUR, JEPARA) Alfian Putra Setiadarma; Bandi Sasmito; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.968 KB)

Abstract

Pengolahan data multibeam echosunder memiliki proses yang kompleks karena memerlukan beberapa koreksi untuk mendapatkan nilai kedalaman yang akurat, seperti koreksi pasut, koreksi SVP (sound velocity profiler), koreksi pitch, heading, roll, dan lain-lain. Masing-masing koreksi ini akan memberikan efek yang berbeda pada visualisasi data serta tingkat ketelitian data sehingga perlu dikaji pengaruh masing-masing koreksi tersebut. Dalam penelitian ini mengkaji pengaruh dari koreksi SVP (sound velocity profiler) pada pengolahan data multibeam echosounder. Pada penelitian ini menggunakan data pemeruman multibeam echosounder di Marine Station Teluk Awur, Jepara. Data yang telah didapatkan tersebut diolah menggunakan perangkat lunak EIVA kemudian dilakukan perbandingan visualisasi dan ketelitian antara data yang diolah menggunakan data koreksi SVP dan data yang diolah tanpa menggunakan data koreksi SVP. Kedua data tersebut kemudian dianalisa ketelitiannya menggunakan standar yang sudah ditetapkan IHO. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa kedua data yang diolah menggunakan data koreksi SVP maupun tidak menggunakan data koreksi SVP masih termasuk ke dalam orde spesial berdasarkan S-44 IHO sehingga hasil pengolahan dengan dua metode tersebut dapat dianggap mewakili keadaan topografi bawah laut sesungguhnya. Pada perbandingan visualisasi diketahui bahwa data yang diolah dengan data koreksi SVP memiliki kedalaman terdalam sebesar 6,05 m dan kedalaman terdangkal 1,23 m. Sedangkan data yang diolah dengan tidak menggunakan data koreksi SVP memiliki kedalaman terdalam sebesar 6,01 m dan kedalaman terdangkal 1,21 m. Terdapat selisih 4 cm pada kedalaman terdalam dan 2 cm pada kedalaman terdangkal.
APLIKASI SIG UNTUK PEMETAAN PERSEBARAN TAMBAK DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus: Daerah Tambak Kota Semarang) Barkah Amirudin Ahmad; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.428 KB)

Abstract

ABSTRAKTambak merupakan salah satu jenis habitat yang dipergunakan sebagai tempat untuk kegiatan budidaya air payau yang berlokasi di daerah pesisir. Tambak di Indonesia terutama di kota Semarang biasanya menghasilkan produk perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi berorientasi eksport. Tingginya harga produk perikanan hasil budidaya tambak cukup menarik perhatian masyarakat untuk terjun dalam usaha budidaya tambabak. Persebaran tambak di kota semarang umumnya terdapat di wilayah pesisir, daerah yang berbatasan langsung dengan laut. Jumlah area tambak dari tahun ke tahun pasti mengalami perubahan. Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor seperti pembukaan lahan tambak, abrasi, tinggi air laut saat pasang, pengalihan fungsi lahan tambak dan faktor lain baik disebabkan oleh alam maupun manusia. Maka sangatlah penting untuk mengetahui persentase jumlah persebaran tambak dari tahun ke tahun, dengan pengaplikasian SIG. Pada penelitian ini memanfaatkan data dari citra landsat 8. Langkah selanjutnya adalah membuat peta persebaran Tambak dengan menggunakan software SIG yaitu ArcGIS. Dan kemudian diambil titik sampel penelitian yang dijadikan acuan titik kontrol keberadaan tambak. Penelitian ini menghasilkan sebuah peta persebaran lokasi tambak dan perbandingan dari tahun 2000 dengan 2015,yang diharapkan dapat membantu pemerintah Kota Semarang maupun masyarakat yang membutuhkan dalam mengetahui perubahan yang terjadi sekitrat tahun 2000 - 2015. Dan dalam dijadikan acuan dalam sebuah penelitian.Dari penelitian yang telah dilakukan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa luas persebaran tambak dari tahun 2000 ke tahun 2015 mengalami penurunan yang cukup drastis. Dari luas total area tambak di Kota Semarang pada tahun 2000 yaitu seluas 2.664,97 hektar. Dan pada tahun 2015 menjadi 2.308,78 hektar. Dengan demikian perubahan luas bersebaran tambak mengalami penurunan sekitar 356,19 hektar yang tersebar di beberapa kecamatan di Kota Semarang. Kata Kunci : SIG, GPS, Tambak, Perikanan, Kota Semarang ABSTRACTThe embankment is one type of habitat that was used as a place for the cultivation of brackish water which is located in the coastal region. Embankment in Indonesia especially in Semarang City usually produce fishery products which have high economic value export oriented. High price products results of riparian fishery enough public interest to plunge in cultivation embankment. The spread of the embankment in the city of semarang is commonly found in the coastal area, a region bordering the sea. The number of farmed area from year to year is definitely changing. This is caused by several factors such as the opening of land farmed, abrasion, high tide, sea water diversion function of land farmed and other factors either natural or caused by humans. Then it is necessary to know the percentage of the amount of the spread of the embankment from year to year, with deployment of GIS.In the current study utilizes image data from landsat 8. The next step is to create a map of the spread of the Embankment by using GIS software namely ArcGIS. And then taken a point sample research, which provided the reference point control the whereabouts of the embankment. This research resulted in a distribution map of the location of the embankment and comparisons from the year 2000 by 2015, which is expected to help the Government town of Semarang or public who need to know the changes that occur in the above 2000-2015. And in the reference was made in a study.From the research that has been done can be drawn the conclusion that the widespread distribution of embakment from the year 2000 to the year 2015 is a pretty drastic decline. Of the total surface area of embankment in the city of Semarang in 2000 i.e. covering an area of 2,664.97 hectares. And by 2015 be 2,308.78 hectares. With such far-reaching changes distribution of embankment experience a decrease of about 356.19 hectares spread over several districts in the city of Semarang. Keyword : GIS, GPS, Embankment, Fisheries, Semarang City *) Penulis, Penanggung Jawab
Verifikasi Koordinat Titik Dasar Teknik Orde 3 dengan Pengukuran GNSS Real Time Kinematic Menggunakan Stasiun CORS Geodesi UNDIP di Kota Semarang Arinda Yusi Madena; L. M. Sabri; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.891 KB)

Abstract

One of the tasks of BPN in Indonesia is doing the measurement of a Horizontal control points. The result of the measurement is a monument which has a definitive and coordinate values are implicitly understood by the term static datum. But in actual fact the Earth is dynamic and can be quantified as well, the position of the monument base or point of technique to physically change from time to time, consequently the coordinates values will change.Associated with these problems, in this final task has been carried research measurement Basic Point of Technique of Order 3 by using the system of CORS (Continuously Operating Reference Station). By conducting measurements of GNSS RTK method on the basic point of the order of 3 techniques analyzed how big a difference the coordinates of the measuring results and coordinates BPN.The results of this research show that result of plotting vector different coordinate value of Basic Point of Technique of Order 3 measurements of GNSS Real Time Kinematic method against of Basic Point of Technique of Order 3 BPN is not systematic in coordinate value. Keywords: Basic Point of Technique of Order 3, CORS, RTK.
IDENTIFIKASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK RELOKASI PERMUKIMAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus: Kabupaten Banjarnegara) Daud Panji Permana; Andri Suprayogi; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.459 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Banjarnegara terletak antara 7o12’–7 o 31’ Lintang Selatan dan 109 o 29’- 109 o 45’50” Bujur Timur. Berada pada jalur pegunungan di bagian tengah Provinsi Jawa Tengah sebelah barat yang membujur dari arah barat ke timur. Banjarnegara adalah kabupaten yang memiliki kawasan pegunungan dengan kerawanan tanah bergerak maupun longsor cukup tinggi. Salah satu bencana yang ada adalah tanah begerak. Tanah bergerak yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara menyebabkan lumpuhnya perekonomian, kerusakan bangunan, korban jiwa serta kehilangan harta benda. Oleh karena itu, diperlukan diperlukan upaya-upaya yang  komprehensif untuk mengurangi risiko bencana alam, antara lain yaitu dengan melakukan kegiatan mitigasi berupa relokasi.Permukiman yang akan direlokasi adalah permukiman yang terletak pada daerah sangat rentan tanah bergerak dan memiliki daerah yang luas serta tingkat kepadatan yang tinggi. Sedangkan penentuan posisi relokasi yang tepat melibatkan enam parameter kesesuaian lahan permukiman yaitu kerawanan longsor, kelerengan, jenis tanah, penggunaan lahan, hidrogeologi dan aksesibilitas. Penelitian ini menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process dalam penentuan nilai bobot tiap parameter yang kemudian dilakukan klasifikasi nilai kesesuaian lahan dengan interval 0-30 sebagai lahan tidak sesuai, 30-70 sebagai lahan kurang sesuai dan >70 adalah lahan sesuai untuk relokasi. Permukiman terdampak bencana tanah bergerak teridentifikasi sejumlah 88 titik dengan total luas sebesar 196 Ha atau 0,114 % dari total luas permukiman di Kabupaten Banjarnegara yang tersebar di bagian utara wilayah Kabupaten Banjarnegara. Sedangkan hasil pengolahan kesesuaian lahan permukiman didapatkan luas lahan dari tiap klasifikasi yaitu tidak sesuai relokasi 8,72% atau 10.019,274 Ha, kurang sesuai relokasi 59,26% atau 68.123,307 Ha dan lahan sesuai relokasi 32,03 % atau 36.816,024 Ha. Lahan pada kelas sesuai merupakan daerah yang akan dijadikan lahan relokasi.Pemilihan posisi relokasi terhadap permukiman terdampak bencana tanah bergerak yaitu dengan melakukan analisis kedekatan antar keduanya yang menghasilkan jarak rata rata perpindahan adalah 1,5 KM, dengan jarak terpendek yaitu 92 meter yang terdapat pada Kecamatan Kalibening dan jarak perpindahan terpanjang adalah titik di Kecamatan Pandanarum dengan sebesar 6,21 KM.
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI TANAH BERDASARKAN HARGA PASAR UNTUK MENENTUKAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK DI KECAMATAN GAJAH MUNGKUR KOTA SEMARANG Sarmedis Anrico Situmorang; Sawitri Subiyanto; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1080.821 KB)

Abstract

ABSTRAKNJOP (Nilai Jual Objek Pajak) yang menjadi dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan, seharusnya sesuai dengan Nilai Pasar Wajar (NPW) yang berlaku di daerah yang bersangkutan. Apabila NJOP tidak sesuai dengan NPW, maka NPW yang seharusnya dapat mewakili nilai tanah, tidak dapat mewakili nilai tanah dalam suatu zona tertentu. Zona tersebut merupakan zona geografis yang terdiri atas sekelompok bidang tanah  yang memiliki nilai tanah sama, sehingga disebut juga Zona Nilai Tanah (ZNT). NPW rata-rata yang tidak dapat mewakili nilai tanah dalam suatu zona tersebut, akan mengakibatkan tidak sesuainya pembentukan ZNT, sehingga akan terjadi ketidaksesuaian pula terhadap penetapan PBB pada beberapa bidang tanah.Pendekatan penilaian menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (Sales Comparative), dimana objek pajak yang akan dinilai dibandingkan dengan objek pajak lain sejenis yang sudah diketahui nilai jualnya. Cara penilaian dilakukan dengan penilaian massal (tidak memperhatikan properti khusus). Penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona untuk menentukan titik sampel yang akan dicari. Kemudian membuat peta zona nilai tanah berdasarkan Harga Transaksi dan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) Kecamatan Gajah Mungkur. Perhitungan penilaian menggunakan Microsoft Excel 2007. Pembuatan Peta Zona Nilai Tanah Kecamatan Gajah Mungkur Tahun 2015 menggunakan perangkat lunak SIG (Sistem Informasi Geografis).Hasil penelitian ini berupa Peta Zona Nilai Tanah yang terdiri dari 79 zona untuk peta ZNT Transaksi dan NJOP. Perubahan selisih harga tanah Transaksi dengan NJOP terendah sebesar 76,31% sedangkan untuk harga tertinggi adalah 747,40%.Kata Kunci : Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Nilai Pasar Wajar (NPW), Sistem Infomasi Geografik (SIG), Zona Nilai Tanah.ABSTRACTNJOP (Tax Object Sale Value) on which the imposition of tax on land and buildings, should in accordance with the Fair Market Value (NPW) applicable in the relevant area. If NJOP not in accordance with the NPW, the NPW is supposed to represent the value of the land, can not represent the value of the land in a specific  zone. The zone is a geographical zone made up of a group of parcels of land that have the same value, so it is also called the Land Value Zone (ZNT). The average of  NPW that  can not represent the value of the land in a zone, would result in incompatibility ZNT formation, so that there will be a mismatch also to the determination of the United Nations on several parcels of land.Assessment approach using the sales comparison approach (Comparative Sales), where the object of the tax is to be assessed in comparison to other similar tax object that has been known resale value. How to assessment done by mass appraisal (no special attention to the property). This research was conducted with the manufacturing zone to determine sample points to be observed. Then create a zone map of land values based on transaction of value and NJOP (Tax Object Sale Value) District of Gajah Mungkur. Assessment calculations using Microsoft Excel 2007. Making the District Land Value Zone Map Gajah Mungkur 2015 using GIS (Geographical Information Systems)  software.Results of this study showed Land Value Zone Map consists of 79 zones to map ZNT transaction and NJOP. Changed in land price difference with NJOP low of 76.31% while the highest price is 747.40%.Keywords : Geographical Information Systems (GIS), Land Value Zone, Tax Object Sale Value (NJOP), the Fair Market Value (NPW).  *) Penulis, Penanggungjawab
IDENTIFIKASI PENGARUH SISTEM KEAMANAN LINGKUNGAN TERHADAP TINGKAT KEJAHATAN PENCURIAN DI KOTA SURAKARTA DENGAN METODE SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Raihan Virgatama; Andri Suprayogi; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.753 KB)

Abstract

Pencurian merupakan salah satu jenis kejahatan atau kriminalitas yang sudah menjadi permasalahan sosial karena mengakibatkan keresahan dan mengganggu keamanan masyarakat, khususnya di Kota Surakarta. Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut, keberadaan sistem keamanan lingkungan sangat penting dalam meningkatkan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas, serta menurunkan tingkat kriminalitas agar aktivitas masyarakat dapat berjalan secara wajar. Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh sistem keamanan lingkungan terhadap tindak kejahatan pencurian yang dikaji dalam penelitian ini. Pada penelitian ini, dilakukan identifikasi pengaruh sistem keamanan lingkungan berupa kantor/pos polisi dan kamera CCTV yang telah tersedia di Kota Surakarta terhadap tingkat kejahatan pencurian dengan menggunakan metode clustering. Metode clustering dapat menentukan tingkat kerawanan suatu daerah dengan melakukan pengelompokan berdasarkan kerapatan lokasi TKP pencurian dan keberadaan fasilitas keamanan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kernel density untuk mengestimasi kepadatan suatu titik pada suatu daerah dan overlay union untuk membangun kelas fitur baru dengan menggabungkan fitur dan atribut dari masing-masing kelas fitur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 228 kasus tindak pencurian yang terdiri dari 32 kasus pencurian biasa, dan 196 kasus pencurian dengan pemberatan yang terjadi di Kota Surakarta selama tahun 2016-2017. Daerah yang paling rawan berada pada Kecamatan Banjarsari di kawasan GOR Manahan, sedangkan wilayah yang memiliki tingkat keamanan paling baik berada pada Kecamatan Pasar Kliwon yang merupakan kawasan pusat kota dan perkantoran. Analisis pengaruh sistem keamanan lingkungan terhadap tingkat kejahatan pencurian menunjukkan korelasi positif dengan nilai 0,36982. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang moderat antara kedua variabel, sehingga sistem keamanan lingkungan memberikan pengaruh yang tidak besar terhadap tingkat kejahatan pencurian. Hasil dari penelitian ini nantinya dapat digunakan oleh semua kalangan untuk membantu meminimalisir terjadinya tindak kejahatan pencurian.
PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD UNTUK IDENTIFIKASI PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH DI KABUPATEN SRAGEN Hayu Rianasari; Sawitri Subiyanto; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.614 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Sragen merupakan salah satu wilayah yang sedang berkembang, baik dalam bidang industri, jasa, permukiman, pendidikan, perdagangan, pariwisata maupun transportasi. Seiring dengan perkembangan wilayah tersebut maka terjadi alih fungsi lahan yang merupakan area yang tidak terbangun menjadi area terbangun sehingga akan meningkatkan kepadatan baik kepadatan penduduk maupun kepadatan permukiman. Dengan menggunakan teknik penginderaan jauh, dan dengan adanya citra penginderaan jauh yang multi waktu perubahan penggunaan tanah dapat dipantau dengan mudah dan cepat, sehingga dapat diketahui besar penggunaan tanah terhadap laju pertumbuhan penduduknya.Pada penelitian ini menggunakan citra Quickbird Kecamatan Sragen dan Kecamatan Karangmalang pada tahun 2004 dan tahun 2010. Sebelumnya terlebih dahulu dilakukan koreksi geometrik pada citra Quickbird tahun 2010. Langkah selanjutnya melakukan digitasi on screen dengan AutoCAD pada kedua citra untuk mengetahui penggunaan tanah menurut klasifikasi NSPM 2009 yang dikeluarkan oleh BPN. Kemudian peta diolah dengan software ArcGIS dan melakukan pengolahan dengan analysis tools antara lain dengan Extract dan Overlay sehingga didapatkan peta perubahan penggunaan tanah. Setelah itu, luas perubahan tersebut dihitung menggunakan Calculate Geometry. Pada tahap akhir dilakukan validasi lapangan untuk mengetahui kebenaran hasil interpretasi citra.Berdasarkan klasifikasi penggunaan tanah menurut NSPM 2009 BPN yang muncul di Kecamatan Sragen sebanyak 45 klasifikasi penggunaan tanah dan di Kecamatan Karangmlang sebanyak 25 klasifikasi penggunaan tanah. Perubahan penggunaan tanah yang terjadi pada rentang tahun 2004-2010 di Kecamatan Sragen sebesar 81.200,50 m2 dan di Kecamatan Karangmalang sebesar 138.543,24 m2.
STUDI DISTRIBUSI TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI PERAIRAN PANTAI KABUPATEN DEMAK MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT Jiyah Jiyah; Bambang Sudarsono; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.674 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Kecamatan Wedung dilalui oleh sungai utama dari DAS Serang yaitu Sungai Wulan yang bermuara di Pantai Utara Jawa, tepatnya di pesisir Kecamatan Wedung. Sungai Wulan yang digunakan oleh para nelayan sebagai jalur menuju laut lepas cenderung mengalami kerusakan dan pencemaran lingkungan. Sedimentasi di muara sungai telah meningkat dari tahun ke tahun. Sedimentasi yang tinggi dapat ditunjukkan dari tingginya nilai Total Suspended Solid (TSS) di perairannya.  TSS adalah material padatan, termasuk bahan organik dan anorganik yang tersuspensi di daerah perairan. Nilai konsentrasi padatan tersuspensi total yang tinggi dapat menurunkan aktivitas fotosintesis tumbuhan laut baik yang mikro maupun makro sehingga oksigen yang dilepaskan tumbuhan menjadi berkurang dan mengakibatkan ikan-ikan menjadi mati. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dilakukan penelitian dengan judul Studi Distribusi Total Suspended Solid (TSS) di Perairan Pantai Kabupaten Demak Menggunakan Citra Landsat.Penelitian ini dilakukan dengan data temporal menggunakan  Landsat 7 akuisisi citra pada tahun 2003, dan 2013, serta Landsat 8 dengan akuisisi citra pada tahun 2016. Nilai distribusi TSS setiap tahun diperoleh dengan perhitungan algoritma dari penelitian sebelumnya yang disesuaikan dengan TSS insitu.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah algoritma empiris yang sesuai untuk pemetaan TSS di perairan pantai Kabupaten Demak dengan persamaan : TSS = -140,8x + 913,8 serta peta dari distribusi TSS di Kabupaten Demak pada tahun 2003, 2013, dan 2016. Kata Kunci: Algoritma Empiris, Perairan Pantai, Kecamatan Wedung, Total Suspended Solid .  ABSTRACT Wedung Subdistrict is traversed by main river of Serang watershed which is Wulan River which estuary in Northern Coast of Java, rather in the coastal Subdistrict Wedung. The tendency of wulan river can create damage and environment pollution. the sedimentation in estuary river increased from another year to other. High sedimentation can be showed from high value of TSS in waters. TSS are solid materials, including organic and anorganic, that are suspended in the water. The value of total suspended solids concentration can lower the activity of photosynthetic marine plants both micro and macro that released oxygen plant to be reduced and result in fish being dead. According to the condition, this research took a title which is entitle Study The Distribution of Total Suspended Solid (TSS) in The Coastal Waters of Demak Using Landsat Imagery.The research using temporal data from landsat 7 imagery in 2003  and 2013 and landsat 8 in 2016. Then distribution value of TSS in every year is produced by the calculation of algorithm prior to the research that adapted  to TSS insitu. The results which obtained from this research are the most suitable empirical algorithm for estimating TSS concertration in the coastal waters of Wedung Subdistrict. The equation are TSS= -140,8x + 913,8, and then  map  of TSS distribution in Demak in 2003, 2013 and 2016. Keywords:Coastal waters of Demak,  Empirical Algorithm , Total Suspended Solid, Wedung Subdistrict
DETEKSI ZONASI BANJIR PADA LAHAN SAWAH MENGGUNAKAN CITRA SATELIT TERRA MODIS DAN TRMM (Studi Kasus Kabupaten Demak Jawa Tengah) Latifah Rahmadany; Arief Laila Nugraha; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.382 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu tanaman pangan yang menjadi komoditas utama di Indonesia adalah padi.Namun dengan kondisi cuaca yang ekstrim seperti hujan lebat hingga menyebabkan banjir, maka sawah yang ditanami padi dapat tergenang sehingga mengalami penurunan produktivitas.Dalam rangka membantu pemerintah untuk menentukan kebijakan pengadaan pangan di Indonesia agar tidak terjadi kerentanan pangan yang tinggi, maka diperlukan informasi tentang perkiraan kegagalan panen atau produksi pangan akibat kejadian banjir pada lahan pertanian.Pemantauan banjir dapat dilakukan menggunakan penginderaan jauh. Data penginderaan jauh yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Terra Modis dan data TRMM Desember 2012 – Februari 2013 dan Desember 2013 – Februari 2014  periode 8 harian, Peta luas baku sawah dan Peta administrasi. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten demak yang merupakan salah satu Kabupaten penyangga pangan di Jawa Tengah.Metode yang digunakan adalah metode overlay indeks faktor Enhance Vegetation Index (EVI) dengan curah hujan pada periode yang sama sehingga diperoleh tingkat rawan banjir yang diklasifikasi menjadi 5 kelas. Penentuan potensi banjir juga menggunakan beberapa asumsi yaitu: lahan sawah diasumsikan sebagai sawah tadah hujan sehingga tidak ada aliran air keluar dan masuk lahan sawah, lahan sawah berada di daerah datar (tidak terasering), curah hujan yang melebihi kebutuhan air tanaman akan berpotensi banjir, curah hujan diasumsikan memiliki pengaruh yang lebih besar dari pada indeks vegetasi. Hasil dari penelitian ini adalah daerah yang terdeteksi mengalami banjir periode 8 harian di Kabupaten Demak.Kata kunci: Terra Modis, TRMM, EVI, Curah hujan ABSTRACTOne of the crops which became a main commodity in Indonesia is rice. But in extreme weather such as rain that cause flooding, the rice field can be flooded to have decline in productivity.To facilitate the government to determine the food policy in Indonesia in order to avoid high food insecurity, it’s necessary to have some information about the estimate of crop or food production failures due to flood events on the agricultural land. Flood monitoring can be done using remote sensing. Remote sensing data used in this study is a Terra MODIS  and TRMM  in December 2012 - February 2013 and December 2013 - February 2014 in 8 daily period, standard extensive field map, and administration map. This research was conducted in Kabupaten Demak, which is one of the food buffer districts in Central Java. The method used is the index overlay factors method which combines Enhance Vegetation Index (EVI) with rainfall in the same period in order to obtain the level of flood-prone that is classified into 5 classes. Determination of the flood potential also uses several assumptions, namely: rice fields are assumed as wetland so that there is no water flow in and out of the fields; the fields are located in a flat area (no terracing);  the rainfall that in excess of crop water requirement will be potentially flooding; the rainfall is assumed to have a greater influence than the vegetation index. The resultsofthis studyaredetected of flooded areain 8 daily period in  Kabupaten Demak.Keywords:Terra MODIS, TRMM, EVI, rainfall

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue