cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
STUDI DEFORMASI WADUK PENDIDIKAN DIPONEGORO TAHUN 2016 Rizki Fadillah; Bambang Darmo Yuwono; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.328 KB)

Abstract

 Menurut SNI No. 1731-1989 bendungan adalah setiap penahan buatan, jenis urugan atau jenis lainnya yang menampung air atau dapat menampung air baik secara alamiah maupun buatan. Selain manfaatnya yang sangat banyak bendungan juga mempunyai resiko yang tinggi karena mengandung potensi bahaya keruntuhan yang dapat mengakibatkan kehilangan jiwa dan kerugian materil yang besar, oleh karena itu perlu dilakukan  pengamatan deformasi untuk mengetahui kondisi dari bendungan.Dalam penelitian ini akan dilakukan pengamatan deformasi terhadap Waduk Pendidikan Diponegoro, dengan metode pengamatan GPS (Global Positioning System) dilakukan pengamatan terhadap 9 titik pantau deformasi (bench mark) yang tersebar di sekitar tubuh bendungan, data hasil pengamatan GPS diolah dengan menggunakan scientific software GAMIT 10.6, titik pantau deformasi juga diamati perubahan jarak dan tingginya terhadap titik kontrol yang dipasang diluar tubuh bendungan, pengamatan deformasi dilakukan dari bulan April sampai dengan Juni 2016 dengan dua kali periode pengamatan.Hasil pengamatan GPS selama periode pengamatan menunjukkan titik pantau deformasi mengalami perubahan koordinat dengan nilai perubahan berkisar antara 0,06 cm sampai dengan 1,4 cm untuk sumbu X, 0,03 cm sampai dengan 1,9 cm untuk sumbu Y, dan 0,4 cm sampai dengan 1,3 cm untuk sumbu Z. Perubahan jarak dan tinggi dari hasil pengamatan total station dan waterpass selama periode pengamatan berkisar antara 0,09 mm sampai dengan 1,7 mm dan 0,15 mm sampai dengan 1,8 mm. Dari hasil pengamatan deformasi bendungan dengan metode pengamatan GPS, total station, dan waterpass secara nilai terjadi deformasi terhadap titik pantau deformasi selama periode pengamatan, namun berdasarkan hasil uji statistik dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan tidak terjadi deformasi terhadap semua titik pantau deformasi.Kata Kunci: Bendungan, Deformasi, GAMIT, GPS, Velocity rateABSTRACT According to SNI No. 1731-1989 dam is any artificial barrier, urugan type or any other type that can hold or store water both natural and artificial. In addition to benefits are very much dams also have a high risk because has the potential danger of collapse that could result in the loss of life and material losses, therefore it needs to be observed deformation to determine the condition of the dam.In this research will be observation of the deformation of Pendidikan Diponegoro dam, with GPS (Global Positioning System) observation methods will be observed of 9 monitoring points deformation (bench mark) spread around the body of the dam, the GPS observed data will be processing using scientific software GAMIT 10.6, deformation monitoring points were also observed changes in distance and height from the control points are placed outside the body of the dam, deformation observations carried out from April to June 2016, with twice the period of observation.The results of GPS observations during the observation period showed deformation monitoring points change the coordinate value with ranging from 0.06 cm to 1.4 cm for the X axis, 0.03 cm to 1.9 cm for the Y axis, and 0.4 cm to 1.3 cm for the Z axis. Distance and height changes based on total station and waterpass measurement during the observation period ranging from 0.09 mm to 1.7 mm and 0.15 mm to 1.8 mm. From the result of the dam deformation observation by GPS observation methods, total station, and waterpass shows deformation of the deformation monitoring points during the observation period, but based on the statistical test with 95% confidence level showed that there is no deformation of all the deformation monitoring points.Keywords: DAM, Deformation, GAMIT, GPS, Velocity rate
PEMODELAN KAWASAN RAWAN BENCANA ERUPSI GUNUNG API BERBASIS DATA PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus Di Gunung Api Merapi) Arliandy Pratama; Arief Laila Nugraha; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.03 KB)

Abstract

ABSTRAKErupsi gunung api menghasilkan sejumlah bencana yaitu lava, jatuhnya piroklastik, aliran piroklastik, lonjakan piroklastik, ledakan lateral, longsoran puing-puing, tsunami vulkanik, lumpur, banjir dan gas. Dasar pemikiran pengkajian bencana gunung api dihubungkan ke ukuran, style/gaya, frekuensi erupsi dan kedekatan dengan gunung api, pengaruhnya terhadap masyarakat adalah kematian dan keracunan akibat gas.Diantara 127 Gunung Api aktif yang terletak di Indonesia mungkin Merapi termasuk yang paling terkenal. Banyak aspek yang membuat gunungapi ini menarik selain yang pertamatentu saja aktivitas vulkaniknya. Tujuan dari tugas akhir ini adalah membuat peta kawasan rawan bencana erupsi gunung api untuk memberikan panduan yang memadai bagi daerah terkait bencana akibat erupsi gunung api. Manfaat dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko bencana gunung api terhadap keselamatan jiwa didaerah penelitian, Sebagai bagian dalam membantu kebijakan pemerintah dalam meminimalisir korban jiwa di daerah penelitian dan sebagai landasan dokumen rencana aksi daerah pengurangan risiko akibat bencana gunung api.Hasil dari penelitian ini yaitu berupa kawasan rawan bencana disekitar kawasan gunung api Merapi yang terlanda aliran lava terdiri dari 778 desa yang terbagi dalam 61 kecamatan dalam dua provinsi yakni Jawa Tengah dan D.I.Y. kawasan tersebut dibagi dalam tiga zona bahaya, yaitu tinggi dengan luas wilayah 671,828 Km², sedangdengan luas wilayah 764.017 Km²dan rendah dengan luas wilayah 1276,767 Km², berdasarkan luas wilayah maka jumlah akumulasi wilayah yang terdampak yaitu 11 wilayah kecamatan dengan status risiko tinggi, 18 wilayah kecamatan dengan status risiko sedang dan 32 wilayah kecamatan dengan status rendah.Kata Kunci : Gunung Merapi, Kawasan Rawan Bencana, Risiko dan Lava ABSTRACTThe volcanic eruption has produced disasters like the lava, pyroclastic fall, pyroclastic flows, pyroclastic surges, lateral blast, debris avalanche, volcanic tsunamis, mud, flooding and harmfull gases. The basic theory of volcano disaster assessment link to size, style / style, frequency of eruptions and proximity of volcanoes, can impact on the society region became a mortality and poisoning caused by gases. Among the 127 active volcano located in Indonesia, Merapi is among the most famous volcano. Many aspects that make this an interesting addition to the first course about volcanic activity observed. The purposed of this research is to created a map of areas prone the volcanic eruption to provide adequate guidelines for disaster-related areas as a result of volcanic eruption. This thesis is to determine the level of disaster risk to life safety volcano research area, as part of the government's policy to help minimize casualties in the area of research and as a foundation document risk reduction of action plan.The results of this study in the form of disaster-prone areas around the area that was devastated by the Merapi volcano lava flow consists of 778 villages that are divided into 61 sub-districts in the two provinces of Central Java and Yogyakarta. The region is divided into three prone zones, high-risk with an area of 671.828 km², moderate-risk is the area of 764 017 km² and low-risk with an area of 1276.767 km², based on the total accumulated area of the affected region is sub-district with 11 high-risk status, 18 districts have moderate risk status and 32 districts have low-risk status.Keywords : Merapi Volcano, Disaster-Proned Areas, Risky and Lava.
DESAIN PENGEMBANGAN APLIKASI SEBARAN PENDIDIKAN BERBASIS WEBGIS DI KECAMATAN DEMAK KABUPATEN DEMAK Tri Afiebbawa Exactanaya; Arief Laila Nugraha; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1329.036 KB)

Abstract

ABSTRAKInformasi pendidikan adalah sebuah jasa yang menginformasikan tentang pendidikan umum dan keagamaan. Tempat pendidikan selama ini dicari oleh orang dengan cara bertanya kepada beberapa orang yang pernah bersekolah atau masih bersekolah di lokasi tersebut. Bahkan tidak jarang pula ada informasi yang disajikan di internet. Namun, informasi tentang pendidikan ini biasanya hanya menyajikan data-data sekolah umum. Maka dari itu hal utama yang melatar belakangi pembuatan web ini adalah perlunya informasi pendidikan yang bertujuan untuk memudahkan seseorang untuk mencari informasi pendidikan keagamaan dan umum. Penelitian ini berupa aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) tentang tempat pendidikan berbasis web dengan wilayah penelitian di area kecamatan Demak. WebGIS digunakan karena dalam penyampaian dan tampilan sistem informasi geografis lebih menarik serta mempresentasikan kondisi sebenarnya. Aplikasi ini dibuat menggunakan struktur website HTML, bahasa pemrograman (javascript dan PHP), MySQL sebagai pembuat database, serta menggunakan peta dasar dari Google Maps API. Hasil penelitian ini berupa aplikasi WebGIS informasi pendidikan di area kecamatan Demak yang menggunakan Google Map API sebagai penyedia peta gratis yang diintegrasikan ke dalam web. Data sekolah yang ditampilkan dalam web sejumlah 237 sekolah, yang terdiri dari sekolah umum dan keagamaan. Hasil uji usability efektvfitas aplikasi “cukup efektif”, kemudahan pengguna “cukup mudah”, dan kepuasan pengguna “Cukup puas”.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN HARGA JUAL TANAH TERHADAP ZONA NILAI TANAH DI KEC. BLORA KAB. BLORA PROVINSI JAWA TENGAH Galih Putro Pamungkas; Sawitri Subiyanto; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.345 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Blora adalah salah satu dari 16 Kecamatan yang ada di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Blora merupakan salah satu wilayah yang berada di pusat pemerintahan di Kabupaten Blora, maka dari itu pertumbuhan penduduk yang tinggi di kecamatan ini menuntut adanya pengendalian pemanfaatan lahan  yang mampu menampung aktivitas penduduk yang juga selalu berkembang. Kecamatan Blora merupakan salah satu tujuan pemukiman yang ideal, hal ini terbukti dari meningkatnya penggunaan lahan, terutama untuk pembangunan pemukiman. Untuk itu diperlukan adanya penelitian untuk menganalisis terjadinya perubahan harga jual tanah.Pada awalnya penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona awal dengan menggunakan peta administrasi Kecamatan Blora dan citra Quick Bird. Selanjutnya dilakukan pembuatan peta Zona Nilai Tanah tahun 2012 dan 2014 dengan menggunakan peta zona awal dan data transaksi hasil survey lapangan. Selanjutnya pembuatan peta perubahan harga tanah, yang diperoleh dari hasil overlay peta ZNT tahun 2012 dan peta ZNT tahun 2014. Kemudian dilakukan analisis terhadap perubahan harga jual tanah yang terjadi.Hasil penelitian menunjukkan dalam rentang waktu  tahun 2012 sampai tahun 2014 perubahan kenaikan harga tanah terbesar terjadi pada zona 62, yaitu sebesar Rp. 642.773,00 per meter persegi. Zona tersebut merupakan kawasan perekonomian dan bisnis. Sedangkan zona yang mengalami perubahan harga tanah terkecil terjadi pada zona 45, yaitu sebesar Rp. 3.442,00 per meter persegi, zona tersebut merupakan kawasan pertanian yang tandus.Kata kunci : Faktor Nilai Jual Lahan, Perubahan Harga Tanah , Zona Nilai TanahABSTRACT                 Blora district is one of sixteen districts in Blora Town, Central Java, Indonesia. Blora district is one area that is located in the Centre of Government in Blora, hence the high population growth requires in this distric control of land use that which are able to accommodate population activities which also always evolving. Blora district is one of the ideal residential destination, that evident from the increasing use of land, especially for residential development. It is necessary to have study or researhc for changes to the selling price of the land.                First, the research is done by making an initial zone by using the administration map of Blora district and Quick Bird image. The second step is making zone map of sale value in  2012 and 2014 using the initial zone and transactional data from the result of field survey. The next step is making the changes of land price which is obtained from the result of overlaying ZNT map in 2012 and 2014. Finally, it will analyze the changes sale value of land.                The results showed in the range-time from 2012 to 2014, the biggest changes in land prices occurred in zone 62, which amounted to Rp. 642,773.00 per square meter. The zone is an area of the economy and business. While the zones that has smallest change in land prices occurred in zone 45, which is to Rp. 3442.00 per square meter. the zone is a barren agricultural area.Keywords : Sale Value of Land Factor,  Changes of Land, Land Value Zone *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS FAKTOR AKSESBILITAS,FASUM DAN FASOS TERHADAP HARGA BIDANG TANAH SERTA VISUALISASI BERBASIS WEBGIS (STUDI KASUS : KELURAHAN TLOGOSARI KULON, KECAMATAN PEDURUNGAN, KOTA SEMARANG) Oktaviani Arumingtyas; Sawitri Subiyanto; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.917 KB)

Abstract

ABSTRAK Salah satu proyek perumahan tersukses yang dibangun di kota Semarang adalah proyek bumi Tlogosari. Selama lebih dari 30 tahun,kelurahan tersebut berkembang sangat pesat. Jumlah rencana unit rumah yang dibangun adalah 9.260 unit dengan luas area perumahan 170,74 Ha atau 1,7 km2. Sekarang, kelurahan Tlogosari Kulon sendiri memiliki luas area kurang lebih 2,8 km2 dengan jumlah blok tanah kurang lebih 11.000 blok.Perkembangan ini didukung dengan peletakan dan pembangunan fasilitas umum dan sosial yang memang diarahkan untuk kawasan perumahan komersial.  Berkembang pesatnya kelurahan Tlogosari Kulon dengan jumlah lahan yang semakin terbatas, menimbulkan peningkatan harga tanah di daerah tersebut, dan pastinya fasilitas umum (fasum) dan sosial (fasos) turut berpengaruh dalam hal ini. Namun, belum ada kepastian fasilitas apa saja di kelurahan Tlogosari Kulon yang mempengaruhi harga tanah di kawasan tersebut. Selain itu,sampai sekarang juga belum ada model matematis harga tanah berdasarkan faktor aksesbilitas, fasilitas umum dan fasilitas sosial serta visualisasinya dalam bentuk WebGIS di Tlogosari Kulon. Hal ini bisa diselesaikan dengan persamaan regresi linier berganda dimana variabel yang digunakan adalah perhitungan jarak antar centeroid  fasilitas dengan bidang tanah, dengan dua data berupa harga tanah pasar wajar dan NJOP. Hasilnya, faktor aksesbilitas,fasum dan fasos pada harga tanah pasar wajar mempengaruhi 67,1 % , sedangkan pada NJOP mempengaruhi 18,1 %. Besar kecilnya pengaruh faktor dapat dilihat dari nilai koefisien beta pada model prediksi,dimana faktor aksesbilitas yang paling berpengaruh adalah jalan arteri sekunder, sedangkan fasum pada harga tanah pasar wajar dan NJOP adalah pasar dan kantor kelurahan , serta fasos pada harga pasar wajar dan NJOP adalah mall. Sebagian besar kesesuain hasil prediksi harga pasar wajar dan NJOP berada pada katagori sangat sesuai 44% dan 75%. Visualisasi peta harga tanah dapat dilihat pada bit.ly/landpricego. Hasil uji usability mendapatkan nilai 86,2% dengan katagori  sangat baik. Kata Kunci: Harga Tanah Pasar Wajar, NJOP, Prediksi, Tlogosari Kulon, WebGIS  ABSTRACTOne of the most successful house building projects in Semarang is Tlogosari . For 30 years,Tlogosari Kulon has developed very rapidly, the total planned house that built were 9,260 units, with an area 170.74 Ha or 1.7 km2, now the area of  Tlogosari Kulon is 2.8 km2 and approximately have 11,000 plots of land. This is supported by public and social facilities that are indeed directed to commercial residential areas. The rapid development of the Tlogosari Kulon and limited amount of land has led to an increase in land prices in the area, and certainly public and social facilities are influential in this regard. However, there is no certainty of any facilities in the Tlogosari Kulon  that affect the price of land. In addition, until now there is also no mathematical model of land prices based on accessibility factors, public facilities and social facilities as well as visualization in the form of WebGIS in Tlogosari Kulon. This can be solved by multiple linear regression equations where the variable used is the calculation of the distance between the centeroid facility and the plot of land, with two data are market land prices and NJOP. It turns out that the accessibility, public and social facilities factors on the market land price affect 67.1%, while NJOP affects 18.1%. The size of the influence of the factor can be seen from the value of the beta coefficient on the prediction model where the most influential access factor is the secondary arterial road, while the facilities at  market land prices and NJOP are traditional market and sub-district Tlogosari Kulon office, and social facilities at  market land prices and NJOP is the mall. suitability of  market land price prediction results and NJOP is in the category of very appropriate 44% and 75%. Visualization of land price maps can be seen in bit.ly/landpricego. Usability test results get a value of 86.2% with a very good category. Keywords: Market Land Price, NJOP, Prediction,Tlogosari Kulon,WebGIS
ANALISIS DISTORSI PETA BIDANG TANAH PADA PEMBUATAN PETA PENDAFTARAN MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD Febrina Aji Ratnawati; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.385 KB)

Abstract

Pada bidang pemetaan distorsi dapat diartikan sebagai perubahan suatu hasil pengukuran terhadap bentuk aslinya. Ada 3 bentuk distorsi yaitu translasi atau pergeseran, rotasi dan dilatasi. Pelaksanaan pengukuran dan pemetaan sekarang ini selalu mengacu pada teknologi digital, sehingga standarisasi juga mengacu pada alat dan produk digital. Salah satu perkembangan teknologi yang sangat mendukung dalam bidang pengukuran dan pemetaan adalah teknologi GPS (Global Positioning system). Jenis GPS yang sering digunakan untuk pengukuran adalah jenis GPS geodetik karena memiliki ketelitian yang paling tinggi dari pada jenis GPS yang lain, tetapi karena mahalnya harga GPS geodetik sehingga pengukuran bidang tanah di BPN dilakukan dengan menggunakan GPS handheld. Koordinat yang didapat dari GPS handheld memiliki ketelitian yang relatif rendah sehingga ketika dilakukan plotting pada Peta Pendaftaran akan terjadi distorsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rata-rata nilai distorsi peta bidang tanah pada pembuatan peta pendaftaran menggunakan citra Quickbird dan untuk mengetahui rata-rata selisih perubahan luas bidang tanah pada peta bidang tanah dan pada peta pendaftaran. Pada penelitian ini besarnya distorsi dihitung dengan menggunakan transformasi Helmert sehingga didapat nilai parameter yang dibutuhkan. Berdasarkan parameter tersebut dapat dihitung rotasi dan faktor skalanya serta dapat diketahui besar nilai translasinya. Kata kunci : Distorsi, Peta Bidang Tanah, Peta Pendaftaran
PEMETAAN SEBARAN TERUMBU KARANG DENGAN METODE ALGORITMA LYZENGA SECARA TEMPORAL MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 5 7 DAN 8 (Studi Kasus : Pulau Karimunjawa) Johan Irawan; Bandi Sasmito; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.829 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Karimunjawa adalah salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Karimunjawa merupakan taman nasional yang ada di Indonesia. Karimunjawa juga terkenal dengan wisata air atau lautnya, terutama terumbu karang. Terumbu karang menjadi alasan nomor satu para wisatawan berkunjung ke karimunjawa, namun kurangnya  Informasi ilmiah terkait perubahan habitat terumbu karang di kepulauan karimunjawa membuat proses monitoring keadaan terumbu karang karimunjawa mengalami kesulitan.                Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan luasan terumbu karang menggunakan Citra Landsat 5 tahun 1996, Citra Landsat 7 tahun 2002 dan Citra Landsat 8 tahun 2016 Kepulauan Karimunjawa dan Peta RBI Skala 1:25000. Metodologi  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini adalah  pemanfaatan penginderaan  jauh  guna menentukan  seberapa  banyak  terumbu karang yang berkurang atau bertambah secara temporal dengan algoritma lyzenga menggunakan citra satelit landsat dan validasi lapangan.Dari penelitian ini didapatkan Luasan Terumbu karang mengalami penurunan sejak tahun 1996, 2002 dan 2016 sebesar 15,94% atau 1,128,000 m2 dari 7.0748.00 m2 atau. Sedangkan kelas lainya bertambah seperti pada tahun 1996, 2002, 2016, yaitu kelas pasir bertambah 6,009,000 m2, kelas substrat bertambah 1,755,600 m2, kelas air bertambah 859,600 m2. Kata Kunci : Algoritma Lyzenga, Citra Landsat, Karimunjawa, Terumbu Karang   ABSTRACT                 karimunjawa is a sub district located in the Jepara District, Central Java. Karimunjawa is a national park in Indonesia. Publications also famous for sea travel, especially coral reefs. Reefs may be the number one reason tourists visit karimunjawa, but the lack of scientific information related to changes in coral reef habitats in the archipelago karimunjawa make the process of monitoring the state of coral reefs karimunjawa experiencing difficulties.                The purpose of this study was to determine differences in coral reef area, using Landsat 5 in 1996, Landsat 7 in 2002 and 2016 Landsat 8 Karimun Islands and RBI Map Scale 1: 25000. The methodology used in this study is the use of remote sensing to determine how many coral reefs that decreases or increases lyzenga temporal algorithm using Landsat satellite imagery and field validation.                The extent of this study found coral reefs has decreased since 1996, 2002 and 2016 amounted to 15.94% or 1,128,000 m2 of 7.0748.00 m2. While other classes increases as in 1996, 2002, 2016, the class of sand increased 6,009,000 m2, grade substrates increases 1,755,600 m2, grade water becomes 859.600 m2. Keywords: Coral Reef,  Karimunjawa, Lyzenga algorithm, Landsat images. 
ANALISIS PERBANDINGAN KOREKSI DATA PENGUKURAN EDM (Electronic Distance Measurement) GUNA MONITORING METODE EPISODIK DEFORMASI GUNUNG MERAPI LUKMAN MAULANA ABDILLAH; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1311.575 KB)

Abstract

Gunung Merapi adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Karena itulah dibentuk badan khusus yang melakukan pengawasan dan penelitian terhadap gunung ini. Badan tersebut adalah BPPTKG yang berlokasi di kota Yogyakarta. Salah satu fokus utama badan ini adalah mengawasi proses deformasi yang terjadi pada gunung Merapi. Deformasi pada permukaan tubuh gunung api berkaitan dengan kegiatan vulkanik di dalam tubuh gunung Merapi. Salah satu metode pengamatan deformasi yang dilakukan adalah dengan melakukan pengukuran jarak miring menggunakan alat EDM (Electronic Distance Measurement). Dan didalam pengolahan hasil pengukuran EDM harus memperhatikan beberapa hal terkait nilai koreksi pada data pengukuran. Pada penelitian ini, peneliti melakukan pengolahan data menggunakan 2 jenis metode, yakni metode yang dikembangkan oleh J.M Rüeger dan BPPTKG. Dimana hasil pengolahan divalidasi dengan nilai hasil pengukuran jarak dekat dan survei GPS Geodetic.  Dalam rentan 25 hari pengamatan,pengukuran dapat dilakukan selama 17 hari dengan jumlah pengukuran sebanyak 124 kali untuk 4 titik reflektor. Selisih nilai jarak antar titik reflektor yang menggunakan metode J.M Rüeger dengan hasil data validasi jarak dekat adalah sebagai berikut : R1 = 0,526 m , R2 = 0,284 m, R3 = 0,082 m, R4 = 0,230 m dan hasil validasi dengan pengukuran GPS Geodetic  R2 = 0.333 m. Sedangkan selisih nilai jarak antar titik reflektor yang menggunakan metode kombinasi J.M Rüeger dan BPPTKG dengan hasil data validasi jarak dekat adalah sebagai berikut : R1 = 1,528 m, R2 = 1,389 m, R3 = 0,806 m, R4 = 0,556 m dan hasil validasi dengan pengukuran GPS Geodetic  R2 = 1,201 m.
ANALISIS FAKTOR AKSESIBILITAS TERHADAP PERBEDAAN NILAI TANAH DI KAWASAN PUSAT KOTA KECAMATAN GEMOLONG DAN KECAMATAN SRAGEN KABUPATEN SRAGEN Nadia Anggraeni Yuristasari; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.217 KB)

Abstract

ABSTRAKTanah merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia untuk melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah kegiatan pembangunan, saat ini kegiatan pembangunan semakin pesat menjadikan sumber daya tanah semakin langka. Menjadikan tanah dapat diperjual belikan dan dapat dijadikan jaminan.Penelitian ini dilakukan survei nilai tanah pasar untuk mendapatkan Nilai Indeks Rata-rata (NIR) pada Zona Nilai Tanah (ZNT) di kedua kecamatan dan untuk analisis faktor aksesibilitas pada penelitian ini menggunakan pembobotan dengan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP).Penelitian ini menghasilkan nilai tanah tertinggi pada Kecamatan Sragen sebesar Rp. 16.500.000,00 dan Kecamatan Gemolong sebesar Rp. 10.000.00,00 berdasarkan hasil survei nilai tanah tahun 2015. Parameter yang memiliki presentase nilai bobot tertinggi adalah Rute Trayek Angkutan Umum yaitu 50,59%, parameter jaringan jalan sebesar 33,63%, parameter lebar jalan sebesar 9,87%, dan parameter jenis permukaan jalan dengan presentase 5,91%. Untuk hasil pembobotan variabel-variabel pada setiap parameternya yaitu jalan Arteri 0,197, jalan Kolektor 0,122, jalan Lokal 0,017, lebar jalan > 7 meter 0,070, lebar jalan 5-7 meter 0,021,lebar jalan < 5 meter 0,007, jalan Aspal 0,034, jalan Beton 0,022, jalan batu/tanah 0,003, rute trayek angkutan umum AKAP 0,256, rute trayek angkutan umum AKDP 0,179, rute trayek angkutan umum Perkotaan 0,050, dan rute trayek angkutan umum Perdesaan 0,020. Kata Kunci : ZNT,Faktor Aksesibilitas, AHP ABSTRACTLand is one resource that is essential for the survival of humans to perform various activities. The one is development activities, the current development activities more rapidly make increasingly scarce land resources. Making the land can be traded and can be used as collateral.This study was conducted a survey to get the land value for Nilai Indeks Rata-rata (NIR) on Zona Nilai Tanah (ZNT) in both districts and for the accessibility factor analysis in this study using the weighting method Analytical Hierarchy Process (AHP).This research resulted in the highest land value in Sragen District of Rp. 16,500,000.00 and the District Gemolong Rp. 10.000.00,00 based on the results of the survey in 2015. The parameter value of the land that has the highest percentage of weight value is Public Transport Route These are 50.59%, parameters of 33.63% of the road network, road width parameter of 9.87%, and parameter type of road surface with a percentage of 5.91%. For the weighting variables on each parameter which 0,197 Arteri roads, Kolektor roads 0.122, 0.017 Lokal roads, road width> 7 meters of 0.070, 0.021 meter road width 5-7, the road width <5 meters of 0.007, 0.034 Aspal roads, Beton roads 0.022, the rock / soil 0.003, public transportation route service AKAP 0.256, public transportation route service AKDP 0.179, these 0,050 Perdesaan transportation route, and the 0,020 Perkotaan transportation route. Keywords: ZNT, Accessibility Factors, AHP *) Penulis, PenanggungJawab
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN DENSIFIKASI BANGUNAN TERHADAP FENOMENA URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN ALGORITMA URBAN INDEX DENGAN CITRA LANDSAT MULTITEMPORAL (STUDI KASUS : KOTA PEKALONGAN) Faradina Sekar Melati; Abdi Sukmono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.273 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Pekalongan merupakan salah satu kota yang mengalami peningkatan populasi sebesar 12.860 jiwa dari tahun 2014 ke 2019. Peningkatan populasi di Kota Pekalongan menyebabkan perkembangan wilayah pemukiman sehingga terjadi ekspansi lahan terbangun yang ditandai dengan adanya konversi penggunaan lahan. Konversi penggunaan lahan menyebabkan berkembangnya densifikasi bangunan sebagai wujud adanya perkembangan fisik suatu daerah secara horizontal. Lahan terbangun yang terus menerus berkembang namun tidak diiringi dengan peningkatan jumlah vegetasi penyerap CO2 mengakibatkan kondisi suhu di wilayah Kota Pekalongan meningkat dan terasa semakin panas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar perubahan tingkat densifikasi bangunan dan suhu permukaan di Kota Pekalongan sehingga menyebabkan terjadinya fenomena Urban Heat Island (UHI). Pengindraan jauh memanfaatkan data citra Landsat 8 dapat mengidentifikasi besarnya perubahan densifikasi bangunan yang terjadi pada suatu daerah dengan menggunakan interpretasi hibrida. Interpretasi hibrida dilakukan dengan menggabungkan interpretasi visual dan digital dapat menonjolkan kenampakan kawasan lahan terbangun. Ekstraksi suhu permukaan diperoleh dengan algoritma Land Surface Temperature (LST). Fenomena UHI didapat dari hasil pengolahan LST yang diklasifikasikan dengan ambang batas. Perubahan densifikasi bangunan dikorelasikan dengan daerah terdampak UHI untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan densifikasi bangunan terhadap daerah terdampak fenomena UHI. Hasil penelitian menunjukkan pada tahun 2014 dan 2019 peningkatan densifikasi bangunan  sebesar 279,983 Ha dan peningkatan suhu permukaan sebesar 4,4℃ dari selisih nilai rerata suhu permukaan. Pengaruh kepadatan bangunan terhadap daerah terdampak fenomena UHI memiliki nilai korelasi sebesar 0,6735 yang menunjukkan tingkat hubungan kuat atau dapat dikatakan kepadatan bangunan mempengaruhi nilai UHI di Kota Pekalongan. Kata Kunci : Densifikasi Bangunan, Interpretasi hibrida, Lahan Terbangun, LST, UHI ABSTRACTPekalongan City is one of the cities that increase in population of 12,860 people from 2014 to 2019. The increase in population in Pekalongan City has an impact on the development of residential areas so that there is an expansion of built land which is marked by land use conversion. Land use conversion causes development of building densification as a form of horizontal physical development in an area. The developed land that continues to grow but is not accompanied by an increase in the amount of CO2-absorbing vegetation causes the temperature conditions in the Pekalongan City area to increase and feel increasingly hot.This research was conducted to find out how many the change in the level of building densification and surface temperature in the city of Pekalongan, causing the phenomenon of Urban Heat Island (UHI). Remote sensing methods using Landsat imagery can identify the magnitude of changes in building densification that occur in an area by using hybrid interpretation. Hybrid interpretation  by combining visual and digital interpretations can accentuate the appearance of the flight area. Surface temperature extraction is obtained by the Land Surface Temperature (LST) algorithm. UHI phenomenon is obtained from the processing of LST thresholding classification. Changes in building densification are correlated with areas affected by UHI to find out how much influence the changes in building densification on areas affected by UHI phenomena.The results showed an increase in building densification by 279,983 Ha and an increase in surface temperature by 4.4℃ from the difference in mean surface temperature in 2014 and 2019. The effect of building density on the area affected by the UHI phenomenon has a correlation value of 0.6735 which indicates the level of strong relationship or it can be said that building density affects the value of UHI in Pekalongan City. Keywords: Building Densification, Built-Up Area, Hybrid Interpretation, LST, UHI

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue