cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS KESESUAIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI SEKITAR DANAU RAWA PENING KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2013 DAN 2018 Indriyanto, Ignatius Wahyu; Sudarsono, Bambang; Sasmito, Bandi
Jurnal Geodesi Undip Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.792 KB)

Abstract

ABSTRAKDanau Rawa Pening merupakan salah satu danau di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di Kabupaten Semarang. Danau Rawa Pening yang dikelilingi oleh Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Bawen, Kecamatan Tuntang dan Kecamatan Banyubiru teridentifikasi terjadi konversi lahan yang cukup besar. Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat mengakibatkan peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana, sehingga akan menimbulkan masalah penggunaan lahan yang fungsinya tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kesesuaian antara rencana dengan keadaan yang ada di lapangan sehingga mempermudah dalam melakukan pengawasan dan membuat kebijakan terkait penataan ruang. Proses yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu membuat peta penggunaan lahan tahun 2013 dan 2018 dengan digitasi on screen. Hasil peta penggunaan lahan tahun 2013 dengan interpretasi citra Worldview-2 sedangkan peta penggunaan lahan tahun 2018 dengan citra SPOT 6. Peta penggunaan lahan tersebut akan dianalisis perubahan dan kesesuaiannya dengan RTRW. Berdasarkan analisis perubahan penggunaan lahan tahun 2013 dan 2018 didapatkan hasil berupa peningkatan dan penurunan luas penggunaan lahan. Luas lahan yang bertambah yaitu Kawasan Danau sebesar 18,61 Ha (1,15%), Kawasan Industri sebesar 45,51 Ha (56,63), Kawasan Perkebunan sebesar 43,63 Ha (0,51%), Kawasan Permukiman Perdesaan sebesar 77,02 Ha (5,69%), Kawasan Permukiman Perkotaan sebesar 68,17 Ha (4,69%) sedangkan luas lahan yang berkurang yaitu Kawasan Pertanian Lahan Basah sebesar 225,14 Ha (4,52%)  dan Kawasan Pertanian Lahan Kering sebesar 27,79 Ha (3,54%). Kesesuaian penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Semarang Tahun 2011-2031 pada tahun 2013 sebesar 14.627,34 Ha atau 76,10 % sedangkan pada tahun 2018 sebesar 14.433,01 Ha atau 75,09% dari total luas wilayah penelitian, sehingga kesesuaian penggunaan lahan wilayah penelitian mengalami penurunan dalam rentang waktu 5 tahun sebesar 194,33 Ha atau 1,01%.Kata Kunci :Danau Rawa Pening, Kesesuaian, Penggunaan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan, Rencana Tata                      Ruang Wilayah. ABSTRACTRawa Pening Lake is one of the lakes in Central Java Province located in Semarang Regency. Rawa Pening Lake is surrounded by Ambarawa Subdistrict, Bawen Subdistrict, Tuntang Subdistrict and Banyubiru Subdistrict, identified a fairly large land conversion. The rapid population in that place is increase causing the development of need for facilities and infrastructure, so that it will cause land use problems whose functions are not in accordance with the Spatial Regional Planning (RTRW). This study aims to look at how the plan matches the circumstances in the field making it easier to conduct surveillance and make policies related to spatial planning. The process carried out in this study is to make land use maps in 2013 and 2018 with digitization on screen. The results of the 2013 land use map with the interpretation of  Worldview-2 image while the land use map in 2018 with the SPOT 6 image. The land use map will be analyzed for changes and compliance with the RTRW. Based on the analysis of land use changes in 2013 and 2018 the results obtained in the form of an increase and decrease in land use. The area of land that has been increased is the Lake Area by 18,61 Ha (1,15%), Industrial Area by 45,51 Ha (56,63%), Plantation Area by 43,63 Ha (0,51%), Rural Settlement Area by 77,02 Ha (5,69%), Urban Settlement Area at 68,17 Ha (4,69%) while the reduced land area is Wetland Agriculture Area at 225,14 Ha (4,52%) and Land Agricultural Area Dry matter of 27,79 Ha (3,54%). The suitability of land use to the Semarang Regency’s Spatial Regional Planning (RTRW) in 2011-2031 in 2013 was 14.627,34 Ha or 76,10% while in 2018 it was 14.433,01 Ha or 75,09% of the total area of the study, so that the suitability of the land use of the study area has decreased in the span of 5 years by 194,33 Ha or 1,01%.Keyword : Change of Land Use, Land Use, Rawa Pening Lake, Spatial Planning, Suitability
MONITORING PERGERAKAN STRUKTUR JEMBATAN DI SEMARANG BERBASIS FOTOGRAMETRI JARAK DEKAT (STUDI KASUS: JEMBATAN TOL SEMARANG SOLO SEKSI 1 SEMARANG – UNGARAN DI KM 20 DIWILAYAH SUSUKAN, UNGARAN TIMUR, KABUPATEN SEMARANG) Amran Nur Utomo; Sutomo Kahar; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.631 KB)

Abstract

Jembatan merupakan bangunan yang membentangi sungai, jalan, saluran air, jurang dan lain sebagainya untuk menghubungkan kedua tepi yang dibentangi itu agar orang dan kendaraan dapat menyeberang. Secara umum, jembatan mempunyai struktur atas, bangunan bawah dan pondasi. Kebanyakan pada jembatan mengalami kerusakan fasilitas infrastruktur yang disebabkan oleh keadaan alam, bencana alam, kerusakan pemakaian yang berlebihan maupun penuan. Maka Perlu dilakukan monitoring / pengamatan secara berkala supaya didapat data yang akurat mengenai pergerakan struktur ataupun deformasi yang terjadi pada suatu jembatan. Selama ini untuk mengetahui informasi mengenai struktur dan perubahan dimensi jembatan belum ada dikarenakan untuk melakukannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tugas akhir ini menerapkan metode Close Range Photogrametry (CRP) atau fotogrametri jarak dekat sebagai metode alternatif untuk melakukan pengukuran dalam menentukan deformasi jembatan dengan memanfaatkan teknologi kamera dijital non metric. Metode fotogrametri jarak dekat mempunyai kelebihan terutama jika objek yang akan diukur sulit untuk dijangkau atau memiliki dimensi yang kecil. Dengan teknik dan metodologi pengukuran deformasi ataupu struktur jembatan dapat dilakukan secara cepat dan akurat hanya dengan kamera dijital SLR. Kata Kunci : Jembatan, Struktur, Deformasi, Kamera digital SLR, Close Range Photogrametry (CRP)
ANALISIS PENURUNAN MUKA TANAH (LAND SUBSIDENCE) KOTA SEMARANG MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-1 BERDASARKAN METODE DINSAR PADA PERANGKAT LUNAK SNAP Lukman Jundi Fakhri Islam; Yudo Prasetyo; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.884 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang adalah ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang mengalami perkembangan dan pertumbuhan kota yang pesat. Namun, jika ditinjau dari kondisi geologinya, Kota Semarang merupakan wilayah yang terbentuk dari endapan aluvial yang masih tergolong muda yang mana masih memungkinkan terjadinya kompaksi yang dapat menyebabkan fenomena penurunan muka tanah. Selain itu, pengambilan air tanah juga berkontribusi dalam proses penurunan muka tanah di Kota Semarang. Untuk mengurangi dampak negatif yang dapat ditimbulkan, maka diperlukan pemantauan terhadap fenomena tersebut sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. Salah satu metode pemantauannya adalah dengan memanfaatkan citra satelit Synthetic Aperture Radar (SAR) yang digunakan dalam penelitian ini.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan muka tanah di Kota Semarang dengan metode DInSAR. Metode ini dipilih dikarenakan memiliki kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap kawasan yang luas dengan waktu yang cepat. Data yang digunakan adalah 3 citra satelit Sentinel-1a level 1 yang diakuisisi pada tahun 2015-2016. Metode DInSAR yang digunakan adalah two-pass interferometry dengan Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) 30 m sebagai referensi untuk topografi. Proses DInSAR ini diproses dengan menggunakan perangkat lunak sumber terbuka SNAP.Dari penelitian ini diperoleh nilai penurunan tanah rata-rata Kota Semarang sebesar 4,37±4 cm/tahun. Wilayah yang mengalami penurunan rata-rata tertinggi berada di Kecamatan Genuk, Pedurungan dan Semarang Utara dengan nilai masing-masing sebesar 10,35±1,02 cm/tahun, 8,31±2,36 cm/tahun dan 8,23±1,58 cm/tahun. Untuk mengetahui ketelitian hasil DInSAR, dilakukan validasi yang diukur menggunakan GPS yang kemudian diperoleh standar deviasi sebesar 1,9 cm. Dari hasil penelitian ini juga diperoleh adanya korelasi antara penurunan muka tanah dengan perluasan area banjir rob dan susunan stratigrafinya. Korelasi dengan banjir rob tersebut ditunjukkan oleh adanya perluasan area banjir rob pada wilayah yang mengalami penurunan tertinggi di Kota Semarang. Adapun korelasi terhadap susunan stratigrafi terlihat jelas pada wilayah yang terbentuk dari aluvial, dimana pola  penurunan yang terjadi cenderung mengikuti pola aluvial dengan nilai penurunan yang lebih besar dari daerah dengan susunan stratigrafi lainya.Kata Kunci : DInSAR, Kota Semarang, Penurunan Muka Tanah, Sentinel-1, SNAP ABSTRACTSemarang city is the capital of Central Java province that is experiencing growth and rapid urban growth. However, based on its geological condition, Semarang City is formed by young alluvial deposits in which still allows the compaction that can cause land subsidence. In addition, groundwater extraction also contributed in the process of land subsidence in the Semarang City. To minimize its damage, land subsidence monitoring is required as a part of natural disaster mitigation. One of methods to monitoring land subsidence is by utilize Synthetic Aperture Radar (SAR) satellite image which is used in this research.The purpose of this research is to estimate the land subsidence in Semarang city using DInSAR method. This method is selected because of the ability to assess a wide area in a short time. The data used is 3 images Sentinel-1a level 1 which acquired between years 2015-2016. DInSAR method using two-pass interferometry with the Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) 30 m as a reference to the topography. DInSAR is processed using SNAP open-source software.From this study, the average value of subsidence of Semarang City is 4,37±4 cm/year. The highest average subsidence is located in Sub-district Genuk, Pedurungan and North Semarang which each subsidence value is 10,35±1,02 cm/year, 8,31±2,36 cm/year and 8,23±1,58 cm/year. To know the DInSAR result’s accuracy, GPS measurement is used to validate which resulted standard deviation of 1,9 cm. From the results of this study also found a correlation between subsidence with tidal inundation and stratigraphy composition. Correlation with the tidal inundation was shown by the expansion of tidal inundation in areas which experiencing the highest subsidence in Semarang City. The correlation of the stratigraphic composition is clearly visible on alluvial areas, where the pattern of subsidence that occurred tend to follow the alluvial pattern which has higher subsidence value than areas to the other stratigraphic composition.Keywords: DInSAR, Land Subsidence, Semarang City, Sentinel-1, SNAP
PEMBUATAN APLIKASI BUS TRANS SEMARANG BERBASIS MOBILE GIS PADA SMARTHPHONE ANDROID LUTHFI RAHMANDHANI; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.753 KB)

Abstract

Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Sayangnya, pesatnya jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas di dalam Kota Semarang semakin macet. Oleh sebab itu pada tanggal 18 September 2009 diluncurkan Bus Rapid Transit (BRT) atau yang sering dikenal dengan Trans Semarang. Trans Semarang adalah sebuah sistem transportasi bus cepat, murah, dan ber AC di seputar Kota Semarang. Trans Semarang merupakan salah satu bagian dari program penerapan Bus Rapit Transit (BRT) yang dicanangkan Departemen Perhubungan untuk meminimalisir permasalahan tersebut.Penelitian ini dilakukan untuk membuat persebaran shelter Trans Semarang yang ditampilkan di aplikasi mobile berbasis android menggunakan software Android Studio yang terintegrasi dengan Google Maps API dan Database PostgressSQL untuk pembuatan data halte dan koridor. Fungsi yang dimanfaatkan pada aplikasi ini adalah fungsi Location Based Service sehingga pengguna aplikasi dapat dengan mudah menemukan shelter terdekat dari lokasi pengguna untuk menuju lokasi shelter tersebut.Hasil dari penelitian ini adalah aplikasi Trans Semarang yang dapat digunakan pada smartphone berbasis Android. Pada aplikasi ini berisi informasi mengenai persebaran shelter tiap koridor Trans Semarang, info shelter terdekat dari lokasi user dan informasi rute . Dengan aplikasi ini diharapkan dapat memudahkan pengguna untuk beralih menggunakan transportasi umum sehingga dapat mengurangi tingkat kemacetan di Kota Semarang.
KAJIAN KERAPATAN SUNGAI DAN INDEKS PENUTUPAN LAHAN SUNGAI MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus : DAS Juana) Utama, Alfian Galih; Wijaya, Arwan Putra; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.013 KB)

Abstract

ABSTRAK DAS Juana merupakan DAS yang mencangkup dua kabupaten yang sedang berkembang pesat di Jawa Tengah antara lain Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati. Dalam sebuah Daerah Aliran Sungai keberadaan vegetasi merupakan hal yang sangat penting. Indeks Penutupan Lahan Daerah Aliran Sungai adalah suatu nilai yang menyatakan kualitas tutupan lahan pada Daerah Aliran Sungai. Berdasarkan keputusan Keputusan Menteri Kehutanan No52/Kpts-II/2001 nilai indeks penutupan lahan dikatakan buruk apabila kurang dari 30%. Dalam aliran air yang deras, kondisi penahan aliran air berupa vegetasi seharusnya lebih diperhatikan untuk menghindari bencana yang mungkin terjadi dan untuk meminimalisir kekeringan.Pada penelitian ini, analisis menggunakan citra satelit Landsat 7 tahun 2000, 2005 dan tahun 2011 serta Landsat 8 tahun 2015. Pengklasifikasian terbimbing digunakan untuk mencari nilai indeks penutupan lahan sungai (IPL), sedangkan kajian mengenai sifat aliran sungai menggunakan data ASTER GDEM melalui proses analisis watershed.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 2000 nilai IPL DAS Juana tidak pernah dalam kondisi baik. Nilai IPL DAS Juana secara keseluruhan menurun, pada tahun 2000 nilai IPL sebesar 38,298% namun pada tahun 2005  mengalami kenaikan menjadi 43,125%. Kemudian hingga tahun 2015 nilai tersebut terus turun menjadi 23,462% atau dalam kondisi buruk. Sedangkan nilai kerapatan sungai DAS Juana didapatkan sebesar 0,500 km/km2 dalam kelas sedang dimana erosi berpotensi cenderung besar dengan arus yang kuat. Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Indeks Penutupan Lahan, Kerapatan Sungai, Daerah Aliran Sungai.  ABSTRACT Juana Watershed is a watershed covered two counties that are growing rapidly in Central Java, there is Kudus and Pati. In a watershed existenced of vegetation was very important. River Land Cover Indes is a value that showing the quality of land cover in the watershed. Based on the decision of Ministerial Decree No52 / Kpts-II / 2001 Land Cover Index of Watershed was classified poor if that value was less than 30%. Under conditions of heavy water, the condition of retaining the water flow in the form of vegetation should be taken to avoid disasters that may occur and to minimize dryness.In this study, the analysis using Landsat 7 satellite images in 2000, 2005 and 2011 as well as 2015. The classification of Landsat 8 guided used to search the index value of land cover indeks, while the study of the watersheds using ASTER GDEM through the analysis watershed.The results showed that since 2000 the value of Land Cover Indeks from DAS Juana was never in a good condition. IPL value DAS Juana overall decreased, in 2000 the value of the Land Cover Indeks are 38.298% but increased in 2005 to 43.125%. And then until 2015, the value of Land Cover Index continues to dropped to 23.462% or in bad condition. While the value of the density of the river watershed Juana obtained by 0.500 km / km2 or in classed where erosion has potential and with strong streams. Keywords: Remote Sensing, Land Cover Index, The density of the river, Watershed.  *) Penulis, PenanggungJawab 
EVALUASI RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP TINGKAT KENYAMANAN TERMAL (Studi Kasus: Kota Semarang, Jawa Tengah) Titis Ismayanti; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.841 KB)

Abstract

ABSTRAKWilayah Pusat Kota Semarang merupakan daerah paling berkembang di Kota Semarang. Wilayah Pusat Kota Semarang merupakan kawasan Golden Triangle Bussiness District. Keberadaan Central Bussiness District (CBD) ini mempengaruhi perubahan penggunaan lahan. Penggunaan lahan mengalami perubahan dari lahan terbuka menjadi lahan terbangun. Perkembangan pembangunan memiliki dampak negatif yaitu berkurangnya luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), sehingga mengakibatkan peningkatan suhu. Suhu semakin meningkat akan mempengaruhi tingkat kenyamanan termal pada wilayah tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persebaran RTH dan THI di Pusat Kota Semarang. Hasil pengolahan distribusi THI digunakan untuk merencanakan pengembangan RTH di Kecamatan yang paling tidak nyaman. Penelitian ini menghasilkan peta rekomendasi RTH berdasarkan distribusi THI, ketersediaan RTH dan penggunaan lahan. Metode yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pengindraan jauh untuk pengolahan tingkat kenyaman termal dan SIG untuk pengolahan RTH. Tingkat kenyaman termal diperoleh dengan menggunakan algoritma Single – Channel dan THI. Pengolahan RTH menggunakan metode digitasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecamatan yang paling nyaman adalah Kecamatan Gajah Mungkur. THI rata-rata Kecamatan Gajah Mungkur sebesar 25,95 oC. Luas RTH Kecamatan Gajah Mungkur telah memenuhi target Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2010. Daerah yang paling tidak nyaman adalah Kecamatan Semarang Selatan. Kecamatan ini membutuhkan RTH seluas 67,47 Ha. Rata-rata THI Kecamatan Semarang Selatan adalah 26,78 oC. Berdasarkan distribusi THI, ketersediaan RTH dan penggunaan lahan, rekomendasi penambahan RTH untuk Kecamatan Semarang Selatan adalah vertical garden/penanaman vegetasi di sekitar bangunan seluas 53,72 Ha, penghijauan lahan parkir seluas 1,80 Ha, green roof seluas 4,41 Ha, taman dan lapangan seluas 0,23 Ha, RTH kawasan sempadan sungai seluas 3,90 Ha dan RTH jalur jalan seluas 4,04 Ha. Kata Kunci : Algoritma Single - Channel, Ruang Terbuka Hijau, Tingkat Kenyamanan Termal ABSTRACTSemarang City Center is the most developed area in Semarang City. The Semarang City Center has the Golden Triangle Business District. The existence of the Central Business District (CBD) affects changes in land use. Land use is dominated by built up area. Development has a negative impact which reduces the area of green open space. Decreasing of green open space affects increase the temperature. Increasing temperature will affect Themal Humidity Index (THI) in this region.This study aims to determine the distribution of green open space and THI in Semarang City Center. Results Processing the distribution of THI is used for planning the development of green open space in the most uncomfortable subdistricts. This research generates references based on THI distribution, green open space distribution and land use. The method used in this study uses remote sensing for high-level thermal processing and GIS for green space processing. The level of thermal humidity index is obtained by using the Single-Channel and THI algorithm. Green open space processing uses the digitization method. The results of this study indicate that the most comfortable district is Gajah Mungkur District. THI average Gajah Mungkur District is 25.95 oC. The area of green open space Gajah Mungkur District has met the target of Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2010. The most uncomfortable area is the South Semarang District. This subdistrict needs green open space of 67.47 Ha. The average THI Subdistrict of South Semarang is 26.78oC. Based on THI distribution, green open space distribution and land use, green space evaluation for South Semarang District is a vertical garden / vegetation planting around a building area of 53.72 Ha, greening a parking area of 1.80 Ha, green roof  area of 4.41 Ha, park and field area of 0.23 Ha, RTH of river border area of 3.90 Ha and RTH of road area of 4.04 Ha.
ANALISIS SEA LEVEL RISE MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-2 PERIODE 2008-1012 (STUDI KASUS: LAUT UTARA JAWA DAN LAUT SELATAN JAWA) Yugi Limantara; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.42 KB)

Abstract

Sea level changes carried by tidal observations at the beach. But, the method as it still has some shortcomings in some ways such as limited coverage areas around the coast so the sea face of changing data is only accurate for a relatively shallow sea close to the shore. The existence of tidal palm should be tied to the tidal station and measured by GPS in order to be bound by such a reference ellipsoid..Advances in the development of satellite technology, especially satellite altimetry is intended to observe ocean phenomena, has helped many observations of sea level temporally. To see the trend of changes in sea level rise do linear regression. Calculating the regression process SLA and linear trend analysis of the data altimetry satellite Jason 2. In this final project  the results of this regression will be used also to compare the differences in sea level rise in the North Sea Java and South Sea Java. As long years 2008-2012 with satellite altimetry abservations shows that the phenomenon of sea level rise occurred in the North Sea Java and South Sea Java. Sea level rise occurred in the North Sea Java is equal +10.77 mm/yr. Lowest values occurred in Waters Semarang on pass number 64 is equal to +7.92 mm/yr and the highest occurred in the Waters of Madura on pass number 203 is equal to +15.84 mm/yr. For in the sea south of Java, sea level rise is at +16.79 mm/yr. Lowest values occurred in Waters Prigi on pass number 203 is equal to +12.60 mm/yr. As for the sea level rise occurred in the Waters of Cilacap is at +23.04 mm/yr.Keywords: Sea level rise, Altimetry, Sea
PENENTUAN KAWASAN PERUNTUKAN INDUSTRI MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kabupaten Sragen) Kandiawan, Ulfa Fathul; Hani’ah, Hani’ah; Subiyanto, Sawitri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.909 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Sragen memiliki kelebihan yang dapat dijadikan sebagai modal pembangunan daerah karena berada di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur) dan termasuk wilayah yang sangat strategis untuk mendirikan sebuah kawasan industri. Untuk mendorong pertumbuhan sektor industri agar lebih terarah, terpadu dan memberikan hasil guna yang lebih optimal maka di butuhkan pengembangan kawasan industri. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat potensi lahan pengembangan kawasan industri di Kabupaten Sragen. Penelitian ini mempertimbangkan enam parameter yang menunjang dalam pengembangan kawasan industri, yaitu kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, jarak terhadap jalan, jarak terhadap sungai, dan jarak jaringan listrik.Dari analisis dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) menunjukkan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 37% untuk kemiringan lereng, 12% penggunaan lahan, 5% jenis tanah, 24% jarak terhadap jalan utama, 3 % jarak terhadap sungai, dan 19% untuk jarak terhadap jaringan listrik. Dari hasil intersect peta prioritas lahan dengan RTRW Kabupaten Sragen, dan kemudian hasil tersebut dilakukan pengurangan berdasarkan luas lahan RTRW maka hasil yang didapat adalah hasil potensi lahan sebesar 5877,929 Ha.Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan dengan skoring, tingkat potensi lahan di Kabupaten Sragen untuk pengembangan kawasan industri dibagi menjadi 5 kelas, yaitu kelas sangat sesuai (S1) dengan luas 6852,56 Ha, kelas sesuai (S2) dengan luas 32616,26 Ha, kelas cukup sesuai (S3) dengan luas 49856,82 Ha, kelas kurang sesuai (N1) dengan luas 9918,97 Ha, kelas tidak sesuai (N2) dengan luas 207,60 Ha.
ANALISIS PENGARUH TOTAL SUSPENDED SOLID DALAM PENENTUAN KEDALAMAN LAUT DANGKAL DENGAN METODE ALGORITMA VAN HENGEL DAN SPITZER Lukman Maulana; Andri Suprayogi; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.842 KB)

Abstract

ABSTRAKTeknologi penginderaan jauh dapat memberikan informasi kedalaman dengan efektif dan efisien, terutama untuk daerah yang memiliki morfologi dasar laut yang sering berubah-ubah. Namun untuk mengekstraksi data kedalaman tersebut banyak faktor yang akan menyebabkan kesalahan dalam penentuan nilai kedalaman.Pada penelitian ini digunakan metode penentuan kedalaman laut dangkal citra satelit Landsat dengan menggunakan metode Van Hengel dan Spitzer yang pernah digunakan oleh Wahyuningrum et.al, 2008 untuk mengetahui kemampuan citra digital Landsat 7 ETM+ dalam memetakan kedalaman perairan dangkal di  Pulau  Pari. Dan Lestari, 2009 menggunakan metode penentuan konsentrasi TSS untuk melihat kecenderungan perubahan TSS dan transparansi perairan Teluk Jakarta. Sedangkan dalam penelitian ini kedua metode tersebut digunakan untuk mengkaji pengaruh TSS terhadap penentuan kedalaman laut dangkal dengan metode VHS di perairan Marina Kota Semarang menggunakan citra satelit Landsat 8 OLI tahun 2013.Hasil dari pengolahan citra Landsat dengan menggunakan metode VHS diperoleh nilai kedalaman antara 3 – 13 m dengan R2 (koefisien determinasi) 0,7127 dan RMS error 1,2929. Sedangkan untuk penentuan konsentrasi TSS diperoleh konsentrasi TSS antara 1 – 181 mg/l dengan nilai R2 (koefisien determinasi) 0,8669 dan RMS error 14,1668. Pada kedalaman < 3 m diperoleh simpangan kedalaman antara lapangan dengan citra yang besar yaitu 11,013 m hal ini dipengaruhi oleh konsentrasi TSS yang cukup tinggi karena dekat dengan pesisir pantai. Dan pada kedalaman lebih dari 13 m simpangan kedalaman meningkat kembali yaitu 24,090 m dengan semakin dalamnya permukaan dasar laut. Kata Kunci :    Landsat 8 OLI, Kedalaman Laut Dangkal, Total Suspended Solid (TSS), Algoritma Van Hengel dan Spitzer (VHS). ABSTRACTRemote sensing technology can provide depth information effectively and efficiently, especially for areas that have seabed morphology are often fickle. But to extract depth data there are some factors that will cause an error in the determination of the depth value.In this study used a method of determining the depth of the shallow sea with Landsat images using the Van Hengel and Spitzer which is ever used by Wahyuningrum et.al, 2008, to determine the ability of the digital image of Landsat 7 ETM + to map shallow water depth at Pari Island. And Lestari, 2009 using the method of determining the concentration of TSS to see the trend change and transparency TSS in Jakarta Bay waters. While in this study both methods are used to assess the effect of TSS to determine the depth of the shallow marine waters of Marina using VHS method in Semarang with Landsat satellite imagery 8 OLI in 2013.The Results of Landsat image processing using VHS method obtained depth values between 3-13 m with R2 (coefficient of determination) 0,7127 and RMS error 1,2929. whereas for determining the TSS concentration obtained TSS concentrations between 1-181 mg/l with value of R2 (coefficient of determination) 0,8669 and RMS error 14,1668. At a depth of < 3 m between the depths of field with a large image obtained difference 11,013 m. it is influenced by high TSS concentrations as it is close to the coast. And at a depth of more than 13 m, the difference in the depth increased again 24,090 m with the deepening of the sea floor. Keywords :            Landsat 8 OLI, Depth Shallow Seas, Total Suspended Solid (TSS), Algorithm Van Hengel and Spitzer (VHS).
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP EKSISTENSI MANGROVE MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) TAHUN 2014-2018 (STUDI KASUS : KABUPATEN KENDAL) Ghazian Hazazi; Bandi Sasmito; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.611 KB)

Abstract

Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 99.093 kilometer sehingga membuat  Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang. Namun, akibat berbagai macam faktor menyebabkan garis pantai mengalami abrasi yang berakibat berkurangnya wilayah pesisir. Salah satu cara untuk mencegah atau mengurangi abrasi adalah dengan cara menanam mangrove di sepanjang garis pantai. Ekosistem mangrove memiliki fungsi sebagai pelindung garis pantai dari abrasi, mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan atau akresi, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kerapatan mangrove terhadap perubahan garis pantai di pesisir Kabupaten Kendal. Pada penelitian ini menggunakan citra Landsat 8 tahun 2014-2018 untuk mendapatkan perubahan garis pantai dan indeks vegetasi berdasarkan pengolahan indeks vegetasi NDVI. NDVI digunakan untuk memetakan kerapatan vegetasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perubahan garis pantai di Kabupaten Kendal dengan menggunakan aplikasi DSAS mengalami penambahan sebesar 10,487 m. Perubahan luasan mangrove di pesisir Kabupaten Kendal mengalami kenaikan pada tahun 2014-2018 sebesar 427,50 ha. Kecamatan yang mengalami penambahan luas mangrove paling besar adalah Kecamatan Kaliwungu sebesar 152,32 ha. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan perubahan garis pantai dengan kerapatan mangrove di pesisir Kabupaten Kendal menggunakan regresi linear sederhana memiliki korelasi sebesar 0,592. Hasil korelasi apabila ditinjau dari tingkat hubungan korelasi termasuk korelasi kuat. Berdasarkan perhitungan uji F hubungan kerapatan mangrove dengan perubahan garis pantai memiliki pengaruh signifikan, sehingga jika perubahan garis pantai semakin meningkat atau mengalami penambahan (akresi) maka nilai NDVI atau kerapatan mangrove akan cenderung meningkat.

Page 9 of 84 | Total Record : 839


Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue