cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
KAJIAN REGANGAN SELAT BALI BERDASARKAN DATA GNSS KONTINU TAHUN 2009-2011 Gina Andriyani; Sutomo Kahar; Moehammad Awaluddin; Irwan Meilano
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.028 KB)

Abstract

Indonesia bagian barat terdiri dari Sunda Shelf (landas kontinen Asia Tenggara), yang meliputi pulau-pulau Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, dan barat daya bagian dari Sulawesi. Sunda Shelf adalah bagian dari lempeng Eurasia yang luas, tetapi tabrakan dari India dengan Asia Tengah memungkinkan terjadinya gerakan yang signifikan dari Asia Tenggara dan Sunda Shelf relatif terhadap Eurasia. Selat Bali teletak diantara pulau Jawa dan Bali yang termasuk ke dalam blok Sunda. Blok Sunda meliputi Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi bagian barat [Hamillton, 1979]. Saat Lempeng Indo-Australia bergerak kebawah Lempeng Eurasia, terjadi kontak bidang antar lempeng sehingga terakumulasi regangan. Regangan yang telah melewati batas elastisitas akan dilepaskan sebagai gempa bumi. Namun demikian berdasarkan Journal of Geophysical Research tahun 2003 hasil penelitian Bock mengenai Crustal motion in Indonesia from Global Positioning System Measurements disebutkan bahwa regangan yang terjadi di Blok Sunda adalah kecil yaitu 5 x 10-8 per tahun. Berdasarkan hasil pengolahan data hasil pengamatan GNSS di Selat Bali menggunakan software Bernese versi 5 dapat diketahui bahwa Selat Bali mengalami pergeseran ke arah tenggara yang mengindikasikan adanya proses inter-seismic. Besar regangan (strain) yang terjadi di Selat Bali dihitung  menggunakan metode perhitungan regangan (strain) garis sehingga dapat di tentukan besar regangan antara ke dua titik pengamatan GNSS CORS yang digunakan pada penelitian ini.   Kata Kunci : Sunda Shelf, Selat Bali, Regangan (Strain), Pergeseran, Bernese
ANALISIS KESEHATAN HUTAN MANGROVE BERDASARKAN METODE KLASIFIKASI NDVI PADA CITRA SENTINEL-2 (Studi Kasus : Teluk Pangpang Kabupaten Banyuwangi) Kawamuna, Arizal; Suprayogi, Andri; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.496 KB)

Abstract

ABSTRAK Teluk Pangpang terletak di kecamatan Muncar dan kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Kedua kecamatan ini berlahan basah dan memiliki keanekaragaman ekosistem, baik ekosistem pasir, ekosistem rawa, ekosistem payau, dan ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove adalah salah satu obyek yang bisa diindentifikasi dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit Sentinel-2 tahun 2016. Dalam menentukan luasan mangrove di daerah penelitian, penulis menggunakan metode Supervised Classification sementara untuk menentukan tingkat kesehatan vegetasi mangrove di daerah penelitian, penulis menggunakan algoritma Normalized Difference Vegetation Index (NDVI).Berdasarkan penelitian, hasil konfusi matrik dengan Overall Accuration 99,189% dan koefisien kappa 0,987. Nilai NDVI mangrove di Teluk Pangpang dengan data tertinggi 0,811 dan terendah -0,119. Korelasi antara NDVI dengan nilai kerapatan jenis yaitu 0,91. Hasil korelasi tersebut termasuk korelasi sangat kuat (0,75–1,00). Koefisien korelasi bertanda positif menunjukkan hubungan nilai NDVI pada citra dengan nilai kerapatan jenis adalah satu arah. Semakin tinggi nilai NDVI (kesehatan vegetasi sangat baik), maka semakin tinggi pula nilai kerapatan jenis. Hasil luasan mangrove sebesar 1039,21 ha. Dari total luas tersebut, 246,62 ha atau 23,73% daerah luasan mangrove memiliki kondisi yang sangat baik dan 409,31 ha atau 39,39% daerah luasan mangrove memiliki kondisi yang baik. Kedua kondisi tersebut didominasi di kecamatan Tegaldlimo. Selain itu, luas 148,77 ha atau 14,32% merupakan daerah mangrove dengan kondisi normal, 19,62 ha atau 1,89% merupakan daerah mangrove dengan kondisi buruk dan 214,89 ha atau 20,6% merupakan daerah mangrove dengan kondisi sangat buruk, ketiga kondisi tersebut didominasi di kecamatan Muncar. Kata Kunci: Mangrove, NDVI, Sentinel-2, Supervised Classification ABSTRACTPangpang bay is located in Muncar and Tegaldlimo districts, Banyuwangi. Both districts are wetlands and have a diversity of ecosystems such as sand ecosystem, coastal ecosystem, brackish ecosystem, and mangrove ecosystem. The mangrove ecosystem is one of the objects that can be identified using remote sensing technology. The data used in this research is Sentinel-2 year 2016 satellite image. In determining the extent of mangroves in the research area, the writer uses Supervised Classification method, while in determining the level of mangrove vegetation health in the research area, the writer uses Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) algorithm.According to the research, the result of matrix confusion with Overall Accuration is 99,189% and kappa coefficient is 0,987. The NDVI value of mangrove in Pangpang bay reaches 0,811 as the highest value and 0,119 as the lowest value. The correlation between NDVI and the value of density of type is 0,91. The result of the correlation is included to a very strong correlation 0,75-1,00). The positive correlation coefficient shows that the relationship between NDVI value on the image with the density of type is one direction. The higher NDVI value (vegetation health is very good), the higher density of type value. The result of the mangrove extent is 1039,21 ha. From the total extent, 246,62 ha or 23,73% of the area has a very good condition and 409,32 ha or 39,39% of the area has a good condition. Both conditions are dominated in Tegaldlimo district. Furthermore, 148,77 ha or 14,32% of mangroves area has normal condition, 19,62 ha or 1,89% of the area has poor condition, and 214,89 ha or 20,6% of the area has very poor condition. The three conditions are dominated in Muncar district. Keywords:  Mangrove, NDVI, Sentinel-2, Supervised Classification
ANALISIS KORELASI SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP CURAH HUJAN DENGAN METODE PENGINDERAAN JAUH TAHUN 2012-2013 (Studi Kasus : Kota Semarang) Monica Apriliana Pertiwi; Sutomo Kahar; Bandi - Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1412.348 KB)

Abstract

ABSTRAKSetiap tahun Indonesia mengalami dua musim, yaitu musim hujan dengan hujan maksimum terjadi pada bulan Desember-Januari sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Juni-Agustus dengan hujan minimum. Namun demikian ada suatu saat terjadi penurunan curah hujan sehingga mengalami kekeringan dan pada saat yang lain curah hujannya meningkat sehingga terjadi banjir. Salah satu penyebab perubahan tersebut adalah adanya perubahan suhu permukaan laut sehingga mempengaruhi atmosfer di atasnya. Misalnya beberapa wilayah di Kota Semarang terkadang mengalami kekeringan saat musim hujan atau terjadi hujan pada saat musim kering.Seiring dengan  berkembangnya teknologi, maka untuk mengetahui nilai rata-rata suhu permukaan laut dalam penelitiaan ini menggunakan metode Penginderaan Jauh dengan mengolah citra NOAA/AVHRR dan untuk mengetahui nilai curah hujan harian rata-rata menggunakan citra satelit TRMM.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan korelasi dan pengaruh antara suhu permukaan laut di bagian utara Jawa Tengah (Semarang-Tegal) dengan curah hujan di daratan Semarang pada tahun 2013.Dalam penelitian ini, hasil analisis uji statistik didapatkan hubungan korelasi yang signifikan setiap bulannya selama tahun 2013. Korelasi maksimum terjadi pada bulan basah di bulan November 2012 dengan koefien korelasi sebesar 0.968. Dan korelasi minimum terjadi pada bulan kering yaitu bulan September 2013 dengan koefien korelasi sebesar 0.65. Sedangkan dari hasil analisis regresi diketahui bahwa suhu permukaan laut bagian utara Jawa Tengah mempengaruhi curah hujan di daerah Semarang dengan nilai regresi tertinggi yaitu 0.935 atau 93.5%, dan nilai regresi terendah yaitu 0.167 atau 16.7%. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti suhu di Samudera Pasifik atau suhu global, el nino,  la nina, dan aktifitas matahari.Kata Kunci : Penginderaan Jauh,  Suhu Permukaan Laut,  Curah Hujan ABSTRACKEvery year Indonesia experienced two seasons, raining season with the maximum rainfall occurs in December-January while the dry season occurs in June-August with the minimum rainfall. However, there is a rainfall downturn so it experience drought and in other time the rainfall increase so it resulting flood. One of the cause of these changing is because of the temperature changing of the sea surface so it affect the atmosphere above it.  E.g., some of the Semarang area sometimes experience dry in the rainfall season or occurs rainfall in the dry season.Along with the technology development, then to know the average value of deep sea surface, this study use a Remote Sensing with NOAA/AVHRR image processing and use TRMM’s Satellite Imaging to know the average value of the rainfall.This study aims to know the correlation relationship and the side-effect between the sea surface’s temperatures in the north area of East Java (Semarang-Tegal) with the rainfall in the Semarang’s mainland in the year 2013.The statistic analysis test results of this study discover a significant correlation relationship every month in the year 2013. The maximum correlation occurs in wet month in November 2012 with coefficient correlation of 0.968. And the minimum correlation occurs in dry month in September 2013 with coefficient correlation of 0.65. While from the regression analysis result note that the sea surface temperature in the north area of Central Java affect the rainfall in Semarang area with the highest regression value of 0.935 or 93.5%, and the lowest regression value is 0.167 or 16,7%. The rest are affect by other factor such as the temperature in the Pacific Ocean or global temperature, el nino, la nina, and the activity of the sun.Keywords : Remote Sensing, Sea Surface’s Temperature, Rainfall 
STUDI PENURUNAN MUKA TANAH DENGAN METODE SMALL BASELINE AREA SUBSET (SBAS) MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-1A (STUDI KASUS: KOTA SEMARANG) An Nisa Tri Rahmawati; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.006 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia dan salah satu kota paling berkembang di Jawa Tengah. Pesatnya perkembangan yang dialami Kota Semarang tidaklah luput dari adanya bencana yang harus dihadapi. Bencana terbesar bagi Kota Semarang adalah penurunan muka tanah. Oleh sebab itu, penelitian ini mengkaji terkait penurunan muka tanah di Kota Semarang. Pengamatan penurunan muka tanah pada penelitian ini diamati dengan menggunakan teknik Small Baseline Area Subset (SBAS). Teknik SBAS merupakan teknik yang biasa digunakan untuk mengamati deformasi secara time series untuk mengamati daerah perkotaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 13 citra Sentinel-1A SLC tahun 2015-2018. Pengolahan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak GMTSAR untuk mendapatkan nilai laju penurunan muka tanah. Hasil pengolahan SBAS mendapatkan nilai laju penurunan muka tanah di Kota Semarang dengan rentang 0 ± 1,3 hingga 9,4 ± 1,3 cm/tahun yang terjadi pada 128,65 km2 (32,92%) dari luas wilayah Kota Semarang. Laju penurunan muka tanah rata-rata di Kota Semarang adalah 0,4 ± 1,3 cm/tahun. Kecamatan Genuk merupakan kecamatan yang memiliki nilai rata-rata laju penurunan muka tanah tertinggi, yaitu sebesar 5,8 ± 1,3 cm/tahun yang terjadi pada seluruh wilayah Genuk. Sementara itu, kecamatan yang memiliki nilai rata-rata laju penurunan muka tanah terendah adalah Kecamatan Candisari dengan laju 0,1 ± 1,3 cm/tahun yang terjadi pada 0,01 km2 (0,22%) dari total luas wilayah Kecamatan Gunungpati.  Kata Kunci : GMTSAR, Penurunan Muka Tanah, SBAS, Sentinel-1A  ABSTRACTSemarang City is Indonesia’s fifth-largest metropolis and one of the most thriving cities in Central Java. The rapid development of the Semarang City has not escaped the disaster it has to deal with which leads to land subsidence that occurs to be the most problematic disaster in Semarang City. Therefore, this study examines the land subsidence of Semarang City. The land subsidence observation in this study is observed using Small Baseline Area Subset (SBAS) technique. SBAS technique that is commonly used to observe time series deformation in urban areas. The data used in this study is a stack of Sentintel-1A SLC imagery data consisted of 13 images from 2015-2018. The process is done by using GMTSAR software to get the land subsidence rate. The result of SBAS technique is the land subsidence rate in Semarang with range 0 ± 1.3 through 9.4 ± 1.3 per year that happens in 128.65 km2 or 32.92% of Semarang City area. The land subsidence rate for Semarang city is 0.4 ± 1,3 per year. Genuk district has the highest land subsidence rate, that is 5.8 ± 1.3 cm per year happens in all of Genuk district area. Meanwhile, district which has the lowest land subsidence rate is Camdisari district with 0.1 ± 1.3 cm per year rate happens in 0.01 km2 or 0.22% of Gunungpati district area.
APLIKASI PENANDA LOKASI PETA DIGITAL BERBASIS MOBILE GIS PADA SMARTPHONE ANDROID Gunita Mustika Hati; Andri Suprayogi; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.355 KB)

Abstract

Berkunjung ke tempat baru dalam  kota maupun luar kota merupakan hal yang sangat wajar. Permasalahannya adalah terkadang beberapa orang susah mengingat kembali letak suatu tempat ataupun arah rute menuju tempat tersebut. Sehingga meningkatnya mobilitas masyarakat berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan informasi berupa peta digital.  Dalam penelitian ini aplikasi penanda lokasi peta digital berbasis mobile GIS pada smartphone android diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menyimpan data-data lokasi sesuai kebutuhan pengguna.Dengan bantuan Global Positioning System (GPS) yang berfungsi sebagai penunjuk lokasi, Location Based Service (LBS) yang menyediakan informasi berdasarkan letak geografis perangkat mobile, melalui visualisasi Google Maps, maka aplikasi ini akan mudah digunakan. Aplikasi ini dibangun dengan pemograman java Android menggunakan software ADT Bundle yang di dalamnya terdapat Eclipse sebagai editor bahasa pemograman java, ADT sebagai plugin untuk Eclipse, dan SDK untuk kepentingan development aplikasi berbasis Android.Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa aplikasi penanda lokasi peta digital berbasis mobile GIS pada smartphone android. Aplikasi ini memilki beberapa fitur utama seperti input data,  menampilkan list data tersimpan, menampilkan rute pada peta, dan membackup dan mengimpor data.Kata Kunci : Peta Digital, Aplikasi, Smartphone, Android
ANALISIS KORELASI DEFORMASI DAN TUTUPAN LAHAN KAWASAN GUNUNG MERAPI PRA DAN PASCA ERUPSI Riska Pratiwi; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1302.853 KB)

Abstract

ABSTRAKPertemuan tiga lempeng tektonik yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik menyebabkan Indonesia memiliki banyak gunung api aktif. Salah satu gunung api aktif di Indonesia adalah Gunung Merapi yang terletak di Pulau Jawa dan pernah mengalami erupsi pada tanggal 26 Oktober 2010. Aliran lava dari erupsi yang mengalir akan mempengaruhi tutupan lahan di sekitar kawasan, sehingga akan ada perubahan tutupan lahan pra dan pasca erupsi Gunung Merapi. Perubahan permukaan tanah (deformasi) yang signifikan juga merupakan salah satu akibat dari pergerakan magma di bawah permukaan bumi yang tidak stabil pada saat terjadinya erupsi.Pada penelitian ini digunakan dua metode yaitu DInSAR dan klasifikasi Supervised. Kedua metode tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan deformasi dan tutupan lahan pra dan pasca erupsi dengan menggunakan data ALOS PALSAR, Sentinel-1, Landsat 5 dan Landsat 8. Hasil korelasi perubahan deformasi dan tutupan lahan dikombinasikan dengan data Kawasan Rawan Bencana, sehingga didapatkan korelasi terhadap penetapan Kawasan Rawan Bencana.Penelitian ini menghasikan perubahan deformasi pra dan pasca erupsi sebesar 1,87 cm/th hingga 30,56 cm/th dan perubahan volumetrik sebesar 122.980.109,9 ton. Perubahan tutupan lahan sebesar 53,46% dari luas keseluruhan wilayah penelitian seluas  97.958,155 Ha. Korelasi perubahan deformasi dan tutupan lahan didasarkan pada perubahan perkecamatan dengan 3 tingkatan yaitu : rendah, sedang dan tinggi, sehingga didapatkan korelasi sebesar 95% yang merupakan gabungan dari tingkat sedang dan tinggi. Kesimpulan yang didapatkan adalah perubahan deformasi berkolerasi terhadap perubahan tutupan lahan.Korelasi perubahan deformasi dan tutupan lahan terhadap penetapan KRB terbagi menjadi 3 yaitu : rendah, sedang dan tinggi. Pada KRB I korelasi sebesar 98,97 %, KRB II sebesar  98,87% dan KRB III sebesar 99,28% yang merupakan gabungan dari tingkat sedang dan tinggi. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah perubahan deformasi dan tutupan lahan berpengaruh terhadap penetapan Kawasan Rawan Bencana.Penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi tentang perubahan deformasi  dan tutupan lahan pra dan pasca erupsi Gunung Merapi, serta memberikan informasi dalam penentuan Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi berdasarkan perubahan deformasi dan perubahan tutupan lahanKata Kunci : DInSAR, Kawasan Rawan Bencana, Supervised dan Tutupan Lahan, ABSTRACTThe encounter of three tectonic plates of Eurasian, Indo-Australian and Pacific Plate cause Indonesia has many active volcanoes. One of the active volcanoes in Indonesia is Mount Merapi located in Java Island and has erupted on October 26, 2010. Lava flow from eruption that flows will affect the land cover around the area, so there will be changes in land cover pre and post eruption of Mount Merapi. Significant ground level changes (deformations) are also one of the effects of unstable magma movements under the earth's surface during eruptions.In this study used two methods namely DInSAR and Supervised classification. Both methods are used to determine the changes of deformation and land cover pre and post eruption using ALOS PALSAR, Sentinel-1, Landsat 5 and Landsat 8. The correlation result of deformation change and land cover is combined with the data of Disaster Prone Areas, so that the correlation to the determination Disaster-prone areas.This study resulted in the change of pre and post-eruption deformation by 1.87 cm / th to 30.56 cm / year and volumetric changes of 122,980,109.9 tons. Land cover change of 53.46% of the total area of research area of 97,958.155 Ha. The correlation of deformation change and land cover is based on the change of crater with 3 levels ie: low, medium and high, so that the correlation is obtained by 95% which is a combination of medium and high level. Thus, it can be concluded that the deformation changes correlate to changes in land cover.The correlation of deformation change and land cover to the determination of KRB is divided into 3 namely: low, medium and high. In KRB I the correlation of 98.97%, KRB II of 98.87% and KRB III of 99.28% which is a combination of medium and high level. The conclusions obtained from this study are changes in deformation and land cover affect the determination of Disaster Prone Areas.This research is expected to provide information about the change of deformation and land cover pre and post eruption of Mount Merapi, and provide information in determination of Mount Merapi Disaster Prone Area based on deformation change and land cover change.Keywords : DInSAR, Disaster Prone Areas, Land Cover and Supervised
PENENTUAN BATAS DAERAH KECAMATAN TANJUNG REDEB, GUNUNG TABUR, SAMBALIUNG DAN TELUK BAYUR DI KABUPATEN BERAU DENGAN METODE KARTOMETRIK (Studi Kasus : Kawasan Perkotaan Kabupaten Berau) Andika Malik; Bambang Sudarsono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.427 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Berau adalah kabupaten yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan tersebar di beberapa kecamatan yang ada di dalamnya, akan tetapi belum ada garis batas administrasi yang jelas, sehingga sering terjadi masalah dalam penentuan letak dan posisi suatu objek antara kecamatan-kecamatan di Kabupaten BerauDalam penelitian ini dilakukan penentuan garis batas wilayah antara empat kecamatan di kawasan perkotaan Kabupaten Berau menggunakan metode kartometrik dengan mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri  Nomor 76 Tahun 2012 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah. Metode kartometrik adalah penentuan garis batas dan pilar batas suatu daerah dengan menggunakan data dari citra satelit. Citra satelit yang digunakan adalah Citra Worldview-2, Ikonos dan Aster GDEM serta data pendukung lainnya seperti Peta RBI, Peta RTRWK dan Peta RDTR Kabupaten Berau.Penelitian ini menghasilkan  batas wilayah di darat dan di sungai. Panjang garis batas di darat diperoleh hasil sepanjang 14.833 meter, yang membatasi 3 batas kecamatan, dan panjang garis batas di sungai diperoleh hasil sepanjang 25.843 meter yang membatasi 4 batas kecamatan. Untuk luas area terjadi perubahan, perubahan tersebut terjadi di 4 kecamatan yang ada di kawasan perkotaan Kabupaten Berau. Pertambahan luas area terjadi di dua kecamatan yaitu Kecamatan Tanjung Redeb dan Kecamatan Teluk Bayur, sedangkan Kecamatan Gunung Tabur dan Kecamatan Sambaliung mengalami pengurangan luas area.Kata Kunci : Batas Wilayah, Citra Worldview-2, Citra Ikonos, Kartometrik ABSTRACT Berau is a district that has a wealth of natural resources that are abundant and spread across several subdistricts in it, but there is no clear administration boundary makes frequent occurrence of problems in determining the location and position of an object between sub-districts in Berau.In this research, the determination of the boundaries between the four districts in urban areas in Berau are done by using Kartometrik method with reference to Minister Regulation No. 76 Year 2012 on Guidelines Region Emphasis. Kartometrik method is a method to detemine the boundary line and pillar limits of the area using data from satellite imagery. The Satellite images that were used are WorldView-2 imagery and Ikonos and other supporting data such as RBI maps, RTRWK Maps and RDTR Berau Maps.This thesis resulted in the boundaries line on land and the river. The length of the land boundary obtained is 14 833 meters, which restricting the 3 sub-district boundaries, and the length of the boundary line in the river is 25 843 meters showed that restricting 4 sub-district boundary. There is a change for area wide length, the changes occurred in 4 districts on urban areas in Berau. The increasing area length, occurs in two sub-districts, Tanjung Redeb and Teluk Bayur, while the other sub-district as Gunung Tabur and Sambaliung experienced a reduction of area length. This is because the previous boundary line determination is not done by a professional.Keywords: Borders, WorldView-2 imagery, Ikonos imagery, Kartometrik 
PENGAMATAN DEFORMASI SESAR KALIGARANG DENGAN METODE SURVEI GNSS TAHUN 2018 LAURENTIUS IMMANUEL YUDIT PRABOWO; Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.271 KB)

Abstract

Sesar Kaligarang merupakan sesar yang membelah kota Semarang dari utara hingga selatan. Identifikasi sesar dan struktur dapat membantu mengenali karakteristik dan tipe dari sesar Kaligarang. Berdasarkan hal tersebut diperlukan penelitian yang tepat untuk mempelajari tipe dan laju geser Sesar Kaligarang . Hal ini diperlukan sebagai kebutuhan pemetaan gempa dan mitigasi bencana. Pada pengukuran Sesar Kaligarang diperlukan ketelitian yang tinggi sampai dengan milimeter untuk mengetahui pergeseran posisi yang terjadi. Pada penelitian ini  pengukuran dilakukan dengan menggunakan GNSS dual frequency. Penelitian tugas akhir ini menggunakan data hasil pengukuran survei GNSS yang dilakukan pada dua periode yaitu Maret dan Juni tahun 2018 menggunakan metode statik serta dengan data sekunder yaitu hasil pengukuran GNSS pada bulan Oktober tahun 2016. Pengukuran dilakukan pada titik titik yang sudah dibentuk pada penelitian sebelumnya serta titik tambahan. Data pengukuran GNSS diolah dengan menggunakan software scientific GAMIT 10.7. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi deformasi yang terjadi di daerah Sesar Kaligarang serta mengetahui nilai slip rate dan locking depth dari Sesar Kaligarang. Hasil dari penelitian ini adalah terjadi pergeseran sebesar 2,6 mm/tahun hingga 10,23 mm/tahun pada bagiar barat sesar dan sebesar 2,89 mm/tahun hingga 10,35 mm/tahun pada bagian timur sesar. Nilai slip rate serta locking depth dari Sesar Kaligarang belum dapat ditentukan karena hasil koordinat titik pengamatan tidak konvergen pada permodelan dengan grafik slip rate .
PEMBUATAN PETA POTENSI LAHAN BERDASARKAN KONDISI FISIK LAHAN MENGGUNAKAN METODE WEIGHTED OVERLAY Fahrunnisa Wulandari Adininggar; Andri Suprayogi; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.758 KB)

Abstract

ABSTRAK Suatu pembangunan selain mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah juga perlu memperhatikan kondisi fisik lahan, karena lahan memiliki keterbatasan. Kecamatan Kota Kendal, Kecamatan Brangsong, dan Kecamatan Kaliwungu berbatasan langsung dengan Laut Jawa, elevasinya 0 – 100 mdpl yang mengakibatkan tiga kecamatan tersebut sangat sering dilanda bencana banjir padahal tiga kecamatan tersebut termasuk padat penduduknya dan merupakan jantung dari Kabupaten Kendal. Pada saat ini sedang banyak pembangunan di wilayah studi, maka evaluasi pun sangat diperlukan untuk mengawasi pembanguan yang ada, apakah sudah sesuai dengan potensi lahannya ataukah belum sesuai.Untuk menentukan potensi penggunaan lahan pertanian, permukiman, dan industri berdasarkan kondisi fisik lahan dapat dilakukan dengan weigted overlay, salah satu metode pembobotan dengan mengoverlaykan beberapa peta yang berkaitan dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penilaian kerentanan. Peta parameter kondisi fisik lahan di overlaykan dengan bobot yang dihasilkan dari analisis AHP. Kemudian dibandingkan dengan peta penggunaan lahan eksisiting dan peta Rencana Tata Ruang Wilayah. Hasil akhir dari penelitian ini adalah peta potensi lahan untuk masing – masing peruntukan berdasarkan kondisi fisik lahan dan peta evaluasi kecocokan antara peta potensi lahan, peta penggunaan lahan eksisting, dan peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kendal Tahun 2011 – 2031. Kata Kunci : Kondisi Fisik, Potensi Lahan, Weighted Overlay, Kendal  ABSTRACT A development in addition to referring to the Spatial Plan also needs to pay attention to the physical condition of the land, because the land has limitations. District Kendal City, District Brangsong, and District Kaliwungu directly adjacent to the Java Sea, the elevation 0-100 meters above sea level resulted in three districts are very frequently hit by floods when the three districts including the densely populated and is the heart of Kendal. Currently a lot of development in the study area, the evaluation is very necessary to keep an eye on the Development of existing, is already in line with the potential of the land or is not appropriate.To determine the potential land of farmland, homes and industry based on the physical condition of the land to do with weighted overlay, one method of weighting by overlay some maps related to the factors that influence the vulnerability assessment. Map parameters of the physical condition of land in overlay with weights produced from AHP analysis. Then compared with land use maps and urban planing maps. The end result of this research is a map of potential land for each allotment based on the physical condition of the land and map evaluation of the suitability of potential maps of land, existing land use map, and urban planning maps Kendal Year 2011-2031. Keywords : Physical Condition, Potential Land, Weighted Overlay, District Kendal  *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS AKURASI MODEL 3 DIMENSI BANGUNAN DARI FOTO SECARA TEGAK DAN MIRING (Studi Kasus : Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro) Christovel Natar Pardo; L.M Sabri; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.639 KB)

Abstract

Pemodelan tiga dimensi merupakan salah satu metode yang sangat dikembangkan beberapa tahun belakangan ini dalam menggambarkan secara kesuluruhan suatu objek. Salah satu manfaat dari metode merupakan merekonstruksi bangunan yang mengalami kerusakan akibat suatu kecelakaan atau bencana alam. Untuk membentuk pemodelan tiga dimensi diperlukan beberapa data foto udara yang overlap minimal 60% dan sidelap minimal 30%. penelitian ini menggunakan DJI Phantom 4 dan menggunakan dua metode pengambilan foto udara, yaitu secara vertikal (orto) dan miring (oblique). Kemiringan foto udara akan sebesar 45º dalam akuisisi foto oblique. Kedua metode tersebut akan diolah menggunakan software Pix4Dmapper dan menggunakan data GCP yang disebar secara merata. Kemudian akan diuji dengan uji akurasi ketinggian dan uji planimetrik guna mencari metode yang lebih baik. Akuisisi orthofoto menghasilkan kualitas data pemodelan yang lebih baik dibandingkan dengan hasil akuisisi oblique foto. Hasil perhitungan uji planimetrik, orthofoto memiliki nilai RMSE (root mean square error) sebesar 1,127 m dengan nilai rata-rata sebesar 1,271 m. Hasil perhitungan RMSE foto oblique sebesar 1,363 m dengan nilai rata-rata sebesar 3,175 m. Hasil uji akurasi tinggi, orthofoto memiliki RMSE sebesar 1,997 m dan oblique foto memiliki RMSE sebesar 4,247 m.Kata Kunci: Fotogrametri,  Pemodelan tiga dimensi, Pix4Dmapper, UAV   ABSTRACTThree-dimensional modeling is method that has been grown in recent years in describing the entire object. The benefits of this method is to reconstruct buildings that have been damaged due to an accident or natural disaster. To form a three-dimensional modeling requires some aerial photo data that overlaps at least 60% and sidelap at least 30%. In this study, researchers used DJI Phantom 4 and used two methods of capturing aerial photographs, vertical (ortho) and oblique. The slope of the aerial photograph will use 45º. Both methods will be processed using Pix4Dmapper software using GCP and ICP data. Then it will be tested with altitude accuracy test and planimetric test to find a better method. In results, orthophoto acquisition results in better data modeling quality compared to the results of the oblique photo acquisition. In the planimetric test calculation, orthophoto has a RMSE of 1.127 m with an average value of 1.277 m. For oblique photos, the RMSE calculation result is 1.363 with an average value of 3.175 m. In the high accuracy test, orthophoto has a RMSE of 1.997 m and oblique photos have a RMSE of 4.247 m.Keywords: Photogrammetry, Pix4Dmapper, Three-dimensional modeling, UAV

Page 11 of 84 | Total Record : 839


Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue