cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
WISATA KELUARGA DALAM PROGRAM ACARA JATENG EXOTIC DI CAKRA SEMARANG TV Sigit Haryadi; Djoko Setyabudi; I Nyoman Winata; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.109 KB)

Abstract

Dalam dunia jurnalistik, media menjadi kunci utama dalam penyebaran informasi secara cepat dan akurat. Seiring dengan perkembangan teknologi, media televisi memegang kendali dengan kemampuan yang besar dalam mempengaruhi masyarakat melalui informasi satu arah dan bersifat audio-visual. Berbagai jenis penyampaian infomasi pun timbul sesuai dengan segmentasi dan kebutuhannya, dan dalam hal ini informasi di televisi dikemas dalam bentuk feature dengan konsep acara wisata keluarga. Feature dengan konsep acara wisata sudah sering ditampilkan oleh berbagai media televisi di Indonesia, namun kurangnya inovasi menjadi dasar pembuatan karya bidang ini. Konsep wisata keluarga merupakan gagasan baru yang diproduksi untuk memberikan variasi konsep linier yang selama ini ada. Feature wisata yang tayang selama 30 menit di program Jateng Exotic ini memiliki alur cerita tentang seorang presenter yang menjemput serta mengajak sebuah keluarga guna memanfaatkan waktu luang untuk berlibur ke beberapa tempat sekaligus dalam satu hari penuh. Dalam feature wisata keluarga ini, waktu serta keluarga menjadi hal yang paling utama dalam menentukan berbagai objek yang akan dikunjungi. Pendekatan waktu dipilih karena kecenderungan kurangnya waktu untuk berlibur bersama keluarga pada akhir pekan maupun liburan dengan kondisi orang tua yang bekerja, serta anak-anak yang sekolah. Pemilihan lokasi dilakukan melalui riset dengan berdasar waktu tempuh, serta konten yang ditawarkan oleh objek wisata (edukasi, alam, sejarah, budaya, dan kuliner). Tempat wisata yang diangkat di program antara lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea-Pantai Cahaya, Rumah Makan Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Water Blaster, Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Toko Oen, Wisata Kota Lama dengan vespa ndog, dan Pasar Semawis Semarang. Di produksi sebanyak 4 episode, dan memiliki tiga segmen dengan konten yang berbeda, Feature wisata ini bertujuan untuk memberikan referensi bagi keluarga yang akan memanfaatkan waktu yang singkat untuk dapat berwisata bersama ke beberapa objek wisata di Kota Semarang dan sekitarnya dalam satu hari penuh. Disuguhkan dengan kemasan atau cara penayangan yang inovatif, unik, dan menarik. Karya Bidang ini telah ditayang pada hari Minggu, tanggal 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014 pukul 14.30 wib di Cakra Semarang TV. Kata kunci: wisata, feature, jurnalistik, program televisi, jateng exotic
Gatekeeping Process of LGBT News in Republika Online Molasiarani S., Klaudia; Lukmantoro, S.Sos, M.Si, Triyono
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.57 KB)

Abstract

Mass media nowadays fight for the values, interest, and ideology through their reporting. In that case, all of the fact that is found by the journalist will pass the selection process in some steps to form a news that is worth to be published. For sure, it also happens in the process of LGBT news production in Republika Online. It makes the news tend to be unbalance and show the discriminatory to the group of LGBT. This research uses the theory of gatekeeping with descriptive qualitative method and critical paradigm. The data of this research was taken by interviewing some editorial crew involving in news production of LGBT, such as reporter, assistant of managing editor, and deputy of managing editor. The result of this research shows that in the individual level, both reporter and editor have their own values of interpreting LGBT phenomenon. As a gatekeeper, they use their own values to construct the reality. Some argue that the behaviour of LGBT is a kind of rights, but the others argue that their behaviour is not appropriate with the value that is constructed in the society. However, that diversity of ideas change into the same one because of the media routines. For sure, the media routines have some norms and regulation of reporting and directing the news angle to make a public opinion. And so, it limits the diversity of ideas owned by each reporter. Republika Online argue that LGBT is a deviant behaviour as it contradict with the value bringing by the society. Because of that, this media need to fight for the value that used to exist in society. Further, the editors as a gatekeeper in this level have an authority to edit the news written by reporter. So, it is very possible if the personal values bringing by reporter on their article are reduced. The attitude of Republika Online which is tend to be impartial to the group of LGBT is close to the vision and mision of this organization. It is a kind of guidance for the media worker in production news, especially LGBT news. Based on that guidance, Republika also try to fight for the interest of communities by voicing the Moslem’s values. Beside that, Republika Online also try to seek for legitimation of their attitude in reporting LGBT by selecting the source of information. It means, Republika Online try to give a space for them who defend for the rights and freedom of LGBT (cover both sides). But, the dominant part in the reporting focus on the sources of information that contradict with LGBT groups. The ratio space of people who contradict and defend is 70 : 30. It makes the news become bias of cover both sides. The last level of gatekeeping process is social system level. In this level, the dominant culture is assumsed that it refusing the behaviour of LGBT. That point of view seems to strength the Republika Online’s attitude to give a bad justification to LGBT. So, the dominant level of gatekeeping process of LGBT news in Republika Online is organization level.
Hubungan antara Asertivitas Komunikasi Manajer dan Iklim Komunikasi Organisasi dengan Tingkat Kedisiplinan Kerja Karyawan di CV Merapi Khairunnisya Sholikhah; Sri Widowati; Tandiyo Pradekso; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.464 KB)

Abstract

Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Perilaku komunikasi yang dilakukan pimpinan merupakan hal penting dalam kelangsungan organisasi, dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, maka pimpinan dapat menyampaikan pengetahuan, ide, gagasan kepada karyawannya. Pola-pola komunikasi yang ada dalam organisasi akan dapat membentuk sebuah iklim komunikasi. Iklim komunikasi sebuah organisasi mempunyai konsekuensi penting bagi pergantian dan masa kerja pegawai dalam suatu organisasi. Iklim komunikasi yang mendukung merupakan salah satu aspek bagi terciptanya hubungan kerja yang berhasil, karena iklim komunikasi menjembatani praktek-praktek pengelolaan sumber daya manusia dengan kinerja termasuk di dalamnya kedisiplinan karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asertivitas komunikasi manajer dan iklim komunikasi organisasi dengan tingkat kedisiplinan kerja karyawan. Asertivitas komunikasi manajer adalah gaya komunikasi manajer yang bersifat terbuka yang diukur dengan melihat kemampuan komunikasi manajer di dalam perusahaan. Iklim komunikasi organisasi diukur dengan lima dimensi iklim oleh Redding di antaranya supportiveness, partisipasi membuat keputusan, kepercayaan, keterbukaan dan keterusterangan, serta tujuan kinerja. Sedangkan disiplin kerja diukur dengan melihat tingkat kepatuhan karyawan terhadap jam kerja, penggunaan alat-alat kerja, dan prosedur kerja. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan tetap CV Merapi sebanyak 126 Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah quota samplingyang berjumlah 55 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rankKendall menggunakan perhitungan program SPSS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara asertivitas komunikasi manajer dengan tingkat kedisiplinan kerja karyawan. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,001 dengan koefisien korelasi sebesar 0,426. Oleh karena sig sebesar 0,001 < 0,01; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). sedangkan untuk variabel iklim komunikasi organisasi dan tingkat kedisiplinan kerja karyawan tidak terdapat hubungan karena uji hipotesis menunjukkan bahwa diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,096. Oleh karena sig sebesar 0,096 > 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menolak Hipotesis alternatif (Ha) dan menerima Hipotesis nol (Ho). Saran yang diberikan sebagai implikasi hasil penelitian adalah perlu diadakannya pelatihan ketenagakerjaan untuk line manajer maupun karyawan untuk dapat memperbaiki keahlian mereka dalam segi komunikasi maupun kinerja.Key words: Asertivitas Komunikasi Manajer, Iklim Komunikasi Organisasi, Tingkat Kedisiplinan Kerja Karyawan
Isu Identitas Etnis dan Agama Dalam Kontes Politik (Kasus Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2018) Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.948 KB)

Abstract

In the election of the Governor and Deputy Governor of North Sumatra in 2018, there was a campaign using identity politics. Identity issues are increasingly being used after a riot in the election of the Governor of DKI Jakarta in the previous year, where the Deputy Governor of DKI Jakarta who was nominating at that time was Djarot Syaiful Hidayat to re-run in North Sumatra. The issue of identity is widely discussed by the people of North Sumatra both directly and through social media. The purpose of this research is to find out the experience of the community involved in campaign activities and receive information from mass media and social media, know the experience of the community when conducting political discussions, and know the meaning of the community regarding issues of ethnic identity, religion, to black campaigns. In order to obtain data for this study, researchers used a type of qualitative research with an interpretive paradigm and a phenomenological approach using in-depth interviews or in-depth interviews. The subjects in this study were North Sumatra native voters aged 17 years and over or married who took part in the 2018 election for governor of North Sumatra. The results of this study indicate that informants who are the campaign teams or volunteers from both pairs of candidates are directly involved in the campaign of each pair of candidates who are promoted, and other informants who do not participate in the campaign, actively seeking information about the election of governors from the mass media, online media, and social media. During the campaign period, there was information that contained ethnic issues such as the "native son" issue, religious issues such as " invitation to choose the candidates for the governor of the faith", and black campaigns on online media, Instagram social media, and Whatsapp instant messaging. When accessing the media, there is information that can foster confidence and that does not foster confidence. Political discussions conducted by the community occur face to face or through social media Instagram and Whatsapp. In the process of political discussion there is an invitation to choose a candidate pair on the grounds of one tribe or one religion. When conducting a political discussion, there is information and invitations that can influence and which do not influence informants to choose a pair of candidate. The meaning of the informants carried out on campaigns that use ethnic issues, religion, and black campaigns, differ from one another based on previous experience, different educational backgrounds, ethnicities, and religions.
Persepsi Audiens tentang Kompetensi Public Speaking Petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah dalam Kegiatan Sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan Dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Kalangan Peserta Sosialisasi Ribka Minatisari Sekeon; M Yulianto; Agus Naryoso; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.542 KB)

Abstract

Prevention and Eradication of Illicit Drug Abuse dissemination activities undertakenby the Central Java BNNP basically aims to sensitize the public about the dangers of drug use. In this socialization certainly has a specific purpose and contains a lot of values andthings that would be submitted or implanted in the minds of the public. This study aimed to determine the audience's perception of the competence of public speaking officer in theCentral Java BNNP Prevention and Eradication of Illicit Drug Abuse socialization among participants sozialization. It is assessed by the audience became one of which was consideredideal or not by the audience. The theory used is the Communication Competency whichbasically refers to the speaker's ability to communicate effectively, means of communicationwill affect the audience, if the speaker has the competence: knowledge of the content of the message of public communication, motivation expressed communicator, non-verbal abilityand technical ability. Competencies that make the speaker assessed by the audience to raisethe audience's perception of the speaker who is considered to have a good competence as a speaker or not.This type of research is a descriptive study using a quantitative approach with surveyresearch methods. The sampling technique using nonprobability sampling with saturatedsample method. This study uses positivism paradigm. Data collection tool was a questionnaire with the use of questionnaires to respondents. Analysis of data usingdescriptive statistics to classify the answer in the form of mono table.Broadly speaking, the results of this study stated that the Central Java BNNP Officerscompetent in doing public speaking competence. However, there are still some shortcomingsof Officers BNNP Central Java, it is advisable to further establish a close relationship withthe audience, to adapt the communication with the audience, and the corresponding timemanagement. 
MEMAHAMI KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA DAN GURU DALAM MEMBANGUN KETERAMPILAN SOSIAL (SOCIAL SKILLS) PADA ANAK AUTIS Arlini Agestia Pangestika; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 5, No 4: Oktober 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.294 KB)

Abstract

Autism is a developmental disorder characterized by disruption in communication and limited social interaction. This limitation makes the importance of the role of parents and teachers in building social skills in autism children to help them interact with others and organize themselves in certain social situations. This research focuses to describe the interpersonal communication performed by parents and teachers in the process of building social skills of autism children that using Symbolic Interaction Theory (George Herbert Mead) which explains that behavior can be formed through interaction, and Social Learning Theory (Albert Bandura) which explains that people can form behavior based on observation result. This research used descriptive qualitative type of research and phenomenology approach, and the research resource are parents who have autism children as much as three informants, and teachers who special educate autism children as much as two informants. The results showed that the interpersonal communication performed by parents and teachers to autism children is built through the closeness that get in by openness, attention, empathy, equality, and supportive when communicating, this closeness is used to build social skills through interpersonal persuasion in autism children. The understanding of parents and teachers to verbal and nonverbal messages of autism children becomes very important because it will be help the communication process between parents, teachers, and autism children.Then the belief of parents and teachers to the ability of autism children is the one of the factors that encourage the development of social skills, because autism children will be more flexible to develop their behavior according to ability possessed. In addition, rewarding and positive assessment to autism children also provide their motivation and confidence to form positive behavior, while punishment will provide an understanding to autism children that negative behavior should be avoided. Therefore, parents and teachers should have a commitment in educating autism children by giving examples of positive behaviors and practice together with them to be more easily observed and perfomed by autism children, because parents and teachers have an important role to provided awareness about social norms in society obtained through the formation of social skills in autism children.
Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM” Jeffry Septian Putra; Djoko Setiabudi; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.034 KB)

Abstract

JUDUL : Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”NAMA : Jeffry Septian PutraNIM : D2C607024ABSTRAKSIPersaingan radio saat ini semakin ketat, industri media siaran perlu memahamidan mengenali ekspektasi atau apa yang diinginkan para pendengar. Pengelola radioperlu strategi untuk mendapatkan perhatian dari para pendengarnya terlebih dari sisipemasaran yang akan memberikan dampak bagi kelancaran merebut perhatianpendengar. Untuk menciptakan strategi yang tepat dalam membuat mengelola radioagar tetap disukai dan didengarkan oleh audience adalah dengan memperhatikan danmemahami perilaku pendengar mereka. Radio SSFM adalah radio anak muda yanginspiring, dynamic, dan entertaining. Dengan basic itulah Radio SSFM melakukanvisi misinya. Menjadi radio yang menginspirasi anak muda, menjadi radio yangdinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan jaman, serta radio yang syaratakan hiburan.Tujuan dari kampanye PR “Assik Ala SSFM” ini adalah memperkenalkan SSfmsebagai radio anak muda di Semarang dan meningkatkan awareness anak muda diSemarang terhadap radio SSFM melalui event roadshow yang diselenggarakan di 3Sekolah Menengah Atas di Semarang dengan mengedukasi target audiens bagaimanacara berkendara dengan baik dan benar (Safety Riding). Mengacu pada analisiskhalayak yang dituju, target audiens diberikan pengalaman secara langsung untukberpartisipasi didalam program acara melalui permainan-permainan dan informasimengenai Radio SSFM.Persiapan event dimulai dengan riset, konsep acara, penyusunan anggaran,pencarian sponsor, penentuan vendor untuk produksi acara, pembagian kerja untukanggota, dan perijinan tempat.Event dilaksanakan dengan mengambil jam pelajaran sekolah, dengan programdidalamnya berupa edukasi dalam ruangan mengenai safety riding dari pihak AstraHonda Semarang didalam aula sekolah masing-masing, selanjutnya praktek safetyriding dan 3 permainan mengenai safety riding dengan konten berisi informasimengenai Radio SSFM. Tidak lupa juga hiburan berupa pertunjukan music dari siswasekolah itu sendiri dan hadiah-hadiah yang menarik. Event ini adalah cara untukmemperkenalkan Radio SSFM dengan menampilkan para penyiar dari radio tersebutsecara langsung berinteraksi dengan audiens, mascot radio, informasi program radio,frekuensi radio, dan semua informasi mengenai radio tersebut.Kata kunci : Kampanye Humas, Radio SSFM2TITLE : Radio PR campaign SSFM "Ala Assik SSFM"NAME : Jeffry Septian PutraNIM : D2C607024ABSTRACTCompetition of radio industry is getting tougher, the broadcast media industryneeds to understand and recognize the expectations or what the audience want. Radioneeds a strategy business to get the attention of the audience especially from themarketing side that will give effect to grab the attention of listeners. To create theright strategies in order to make managing radio remains popular and is heard by theaudience to pay attention and understand the behavior of their audience. Radio SSFMis inspiring young, dynamic, and entertaining. With that basic vision Radio SSFMperform its mission. Being a radio that inspires young people, into a dynamic radioand can evolve with changing times, as well as the requirement of radioentertainment.The goal of the PR campaign "AlaAssik SSFM" This is introduced SSFM as ayouth radio in Semarang and increase the awareness of young people in Semarangagainst SSFM through radio roadshow event held at 3 high schools in Semarang toeducate the target audience how to drive properly and right (Safety Riding). Referringto the analysis of the target audience, they directly given experience to participate inthe program through games and information about Radio SSFM.Event begins with the preparation of research, concept of the show, budgeting,sponsorship, determination of vendors for event production, division of labor for themembers,and permitting place.Event held during the school hours, with the form of educational programs inthe indoor from Astra Honda Semarang professionals in each school hall, the nextprogram is practice and 3 safety riding games contains information about RadioSSFM, and also entertainment in the form of music performances from students theschool itself and attractive prizes. This event is a way to introduce radio SSFM withthe radio broadcasters from directly interacting with the audience, radio mascot,information radio program, radio frequency, and all the information about the radio.Keywords: Public Relations Campaign, Radio SSFM3Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”Jurnal Laporan Project OfficerPenyusunNama : Jeffry Septian PutraNIM : D2C607024JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO20134PENDAHULUANSekarang ini, radio masih mempunyai tempat dalam dunia komunikasi sebagaisalah satu media komunikasi yang mempunyai keunggulan tersendiri dibanding mediakomunikasi lainnya. Radio sebagai media komunikasi dengan suara dan membuatpendengarnya berimajinasi atau membuat gambar di benak pendengar. Radiomerupakan media tercepat karena tidak membutuhkan proses produksi yang rumit,percetakan, atau perekaman. Dari segi pendengar radio dapat merasakan kedekatansecara personal dengan penyiarnya dan bersifat fleksibel karena tidak menggangguaktifitas lainnya. Semakin berkembangnya jaman, radio juga dapat digunakan secaramobile dengan menggunakan gadget atau alat elektronik yang memadai. Semua halini adalah karakteristik radio yang dijelaskan oleh Asep Syamsul M. Romli dalambukunya Broadcast Jurnalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, danScripwrite.Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkangagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa programyang teratur dan berkesinambungan. (Asti Musman dan Sugeng WA, 2011)Persaingan dalam pengelolaan radio saat ini semakin ketat, perlu adanya strategikhusus untuk merebut perhatian pendengar, pengelola media siaran harus benar-benarmemahami dan mengenali ekspektasi atau apa yang diinginkan para pendengar.Strategi yang tepat adalah memperhatikan dan memahami perilaku pendengaryang dapat ditemukan dari ketertarikan mereka pada isi radio tersebut. Program radio,penyiar radio, feature radio, dan lagu-lagu yang disajikan adalah beberapa contoh darikonten radio yang menjadi kesukaan dari pendengar. Pada umumnya perilakupendengar yang memiliki kegemaran mendengarkan radio, akan lebih prefer untukmemilih radio dari kesukaannya pada kategori tersebut, mereka suka pada programradio yang ada didalamnya contohnya program cerita misteri, program musik indie,program masalah rumah tangga, dan lainnya. Dari konsep program musik yangdirancang itulah tim produksi menjadi tahu apa saja yang menjadi tolak ukur suatuprogram musik radio terus bertahan lama dan tetap dicintai oleh pendengarnya, danjuga daya tarik apa yang menjadikan program musik begitu digemari dan terus diikutioleh pendengar. Dalam konsep radio anak muda, di Semarang sendiri terdapatbeberapa radio diantaranya Prambors, trax, RCT, SSfm dan lainnya. Masing-masingdari radio tersebut mempunyai ciri khas yang masih berbeda, mulai dari pemilihanmusik, program acara di dalamnya, gaya berbicara penyiarnya, dan juga kontenkontendi dalamnya.SSFM adalah sebuah brand yang baru walaupun sebenarnya radio ini sudahlama berdiri. Dulu SSFM bernama “Suara Sakti” dengan konsep konten-konten lagujazz, lalu berubah menjadi radio keluarga, radio untuk profesional muda, dankemudian barulah merubah namanya menjadi SSFM (tanpa singkatan) yangbersegmentasi anak muda, dengan range usia 15 – 34 tahun. Target audienceprimernya adalah usia 15 – 25 tahun, target bisa sampai dengan 34 tahun. Targetaudience yang diutamakan adalah usia SMA, kuliah, dan professional muda. Darisangat luasnya target audience yang dimiliki oleh SSFM, sangat sulit pula untukmengelola program sesuai dengan masing-masing karakteristik usia tersebut.Brand atau merek didefinisikan oleh American Marketing Association sebagainama, istilah, tanda, symbol, atau desain, atau kombinasi dari keseluruhannya yang5dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari penjual atausekelompok penjual agar dapat dibedakan dari kompetitornya. Seperti yang sudahdijelaskan di atas, SSFM sudah mempunyai sesuatu yang berbeda dibanding radiobersegmen anak muda di Semarang, hanya saja kurangnya promosi menjadikanSSFM kurang dikenal.Dari aspek psikografisnya, anak muda di Semarang dapat dibilang mengikutitren-tren yang ada baik itu positif maupun negatif. Tren yang positif diantaranyatermasuk dalam bidang olahraga, musik, seni, komunitas dan lainnya, sedangkan trennegatif nya adalah alcohol, pergaulan bebas, balapan liar, dan lainnya. Dalamkegiatan kampanye PR yang akan kami lakukan, kami mengambil isu kecelakaanyang diakibatkan lalainya pengendara motor khususnya pelajar di Semarang.Menurut Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Jateng, Sukonomenjelaskan, data kendaraan yang terlibat kecelakaan selama Januari hingga Maret2012, didominasi oleh sepeda motor. Diikuti mobil pribadi dan truk.. Berdasarkanusia korban paling besar untuk rentang usia 15-29 tahun (39,22%), diikuti usia 30-49tahun (30.65%). Sedangkan jika berdasar profesi, sebagian besar adalah karyawan(28,33%) diikuti pelajar/mahasiswa (23.67%) dan wiraswasta (22,90%).Strategi yang akan digunakan untuk memperkenalkan SSFM sebagai radio lokalpendatang baru mengacu pada bentuk kegiatan dengan kemasan yang menarik danmenyasar langsung kepada audiens dan bersifat mendidik atau mengedukasi. RadioSSFM sabagai radio baru sudah melakukan berbagai kegiatan promosi beberapa tahunkebelakang ternyata belum mampu menyasar pada target audiencenya. Bahkan bagimasyarakat muda kota semarang yang merupakan target utama dari radio ini, namaSSFM itu sendiri pun belum terlalu dikenal. Melihat kondisi tersebut, sebuah kegiatanberupa event roadshow yang menjurus langsung kepada target primer yaitu siswaSMA merupakan cara yang efektif untuk membangun awareness terhadap SSFMkarena salah satu filosofi dari SSFM adalah radio yang berorientasi padapendengarnya.Dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan siswa SMA sebagai target audiens,strategi yang mengacu pada experience target audiens dianggap efektif untukmencapai tujuan karena memungkinkannya terjadi interaksi dengan target audiencedalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan. Dengan taktik seperti ini mampumemberikan pengalaman menarik dan kesan baik terhadap Radio SSFM, sesuaidengan karakter psikografis target audiens yang suka tantangan dan suka hal baruakan memungkinkan informasi diserap secara maksimal. Strategi experience ini jugamemberikan pengalaman langsung kepada target audiens mengenai program SSFM.Dengan keterlibatan audiens diharapkan mampu menciptakan kesan menyenangkansehingga akhirnya mereka merasa penasaran dan mencoba untuk mendengarkanSSFM. Kegiatan utama yang dilakukan adalah Assik ala SSFM (Aman SelamatSaat Naik Kendaraan ala SSFM).Assik ala SSFM sebagai proses untuk memasukan input berupa informasi ataupengetahuan mengenai radio SSFM dan juga edukasi mengenai cara berkendara yangbaik dan benar, input ini diproses secara menarik dengan permainan-permainan seruyang diikuti siswa-siswa tersebut sehingga menciptakan mood yang menyenangkandan dapat dengan mudah untuk menerima informasi mengenai SSFM. Didalampermainan tersebut dimasukan features dari SSFM baik dari tagline, frekuensi, dan6informasi lainnya, dalam edukasi mengenai safety riding akan dikemas secaramenarik dan interaktif. Untuk memperkuat ingatan mereka mengenai informasi ini,kami juga menambahkan gimmick yang akan diberikan kepada siswa berupa helmSNI, masker motor, sarung tangan berkendara, stiker, gantungan kunci sepeda motor,dan hadiah uang tunai, dengan tujuan siswa yang berkendara yang baik akan dianggapsebagai anak Assik SSFM. Output yang diharapkan adalah berupa awareness yangdimiliki siswa-siswa sma yang terlibat didalam kegiatan tersebut meningkat, baikdalam pengetahuan mengenai radio SSFM maupun behaviour mereka dalamberkendara. Dalam pemeragaan cara berkendara yang baik dan benar dilakukan olehtim dari SSFM “Laskar Kawi”, didalamnya juga terdapat komptisi-kompetisimenarik seputar berkendara dan hal-hal ang behubungan dengan SSFM. Tentunyadalam sebuah kompetisi, pemenang akan mendapatkan hadiah. Hadiah yang kamisiapkan dalam satu sekolah berjumlah Rp. 1.052.000,00 yang akan dibagi menjadi 21hadiah. Sistematika pemilihan sekolah dilakukan oleh klien yang menurut merekasekolah tersebut termasuk sasaran utama target dari radio SSFM.Konsep kegiatan berupa serangkaian acara dengan mengangkat isu disekitartarget audiens yaitu anak muda Semarang mengenai masalah berkendara sepedamotor yang dikemas dalam permainan dan kuis interaktif yang memunculkan featuresmengenai radio SSFM. Dalam program Assik ala SSFM dibagi menjadi tiga tahapanyaitu pre-event, event dan post event.Event ASSIK ALA SSFM sebagai kegiatan PR Campaign Radio SSFMmemperoleh hasil berdasarkan tujuan yang akan dicapai yaitu memperkenalkan RadioSSFM sebagai radio anak muda Semarang, hal ini dapat dilihat dari evaluasi kegiatanyang menganalisis hasil akhir apakah event ini berhasil dan dapat dilanjutkan lagikedepannya.Menurut Anne Gregory dalam bukunya Perencanaan dan ManajemenKampanye PR tahun 2004, terdapat 3 point penting dalam evaluasi, yang pertamayaitu input, penjelasan dari produk tersebut, latar belakangnya, kemasan, dan pilihansaluran distribusi. Yang kedua adalah output, bagaimana input digunakan oleh publikyang dihitung dari analisis pembaca atau audiens, penyebutan dalam media, dananalisis isi. Ketiga adalah outcome (hasil akhir) ini melibatkan pengukuran efek akhirdari komunikasi yang diukur dalam 3 cara yaitu kognitif (perubahan tingkatpemikiran atau kesadaran), afektif (perubahan sikap atau opini) dan konatif(perubahan dalam perilaku).Evaluasi kegiatan kampanye PR ”Assik Ala SSFM” tidak terlepas darioperasional pelaksanaan kegiatan yang dibagi menjadi tiga tahapan. Tahap praproduksi (planning), tahap produksi (acting), dan tahap pasca produksi (reporting).Seluruh tahapan dievaluasi mulai dari perencanaan sampai pelaporan. Tahap planning”Assik Ala SSFM” diuraikan menjadi beberapa kegiatan diantaranya penjabaran idemenjadi konsep berupa roadshow edukasi safety riding, pembentukan tim danpembagian jobdesk untuk eksekusi event, pengembangan konsep kreatif (rundown,talent, dan dekorasi), penentuan tempat, perlengkapan, akomodasi, dokumentasi),promosi dan publikasi, penyelesaian kontrak, perijinan tempat, dan lainnya. Tahapproduksi (acting) pada event ”Assik Ala SSFM” diantaranya kesiapan pengisi acarayaitu penyiar radio SSFM atau laskar kawi, kesiapan perlengkapan untuk produksievent ”Assik Ala SSFM” berupa tenda (stage), sound system, kesiapan team, danproses event yang diadakan sesuai dengan rundown. Tahap reporting diantaranyaevaluasi event, dan pembuatan laporan.7ASSIK ala SSFM merupakan Event yang berisi kegiatan edukasi mengenai safetyriding sepeda motor dan games-games yang dikemas secara menarik mengenai radio SSFM.Sebagai radio yang inspiring, dynamic, and entertaining, SSFM peduli anak muda Semarangsebagai target market mereka untuk lebih concern mengenai lalu lintas dan berkendara sepedamotor. Kegiatan ini melibatkan langsung target audience untuk berpartisipasi dalam gamesgamesdan konten acara didalamnya. Siswa-siswi di Sekolah yang terpilih dapat secaralangsung terlibat dalam kegiatan Radio 105.2 SSFM, bertemu dengan Laskar Kawi /penyiarRadio 105.2 SSFM secara langsung dan lebih mengenal mereka untuk mengetahui programprogramon air apa saja. Melalui Event ini Radio 105.2 SSFM juga mampu memperkenalkanlebih jauh mengenai radio 105.2 SSFM mengenai frekuensi radio tersebut, berbagai programradio SSFM, keunggulan yang dimiliki oleh Radio 105.2 SSFM, memperkenalkan maskotradio SSFM dan berbagai informasi lainnya.Selain itu melalui Event ini pihak manajemen Radio 105.2 SSFM juga dapat melihatkondisi target audiens secara langsung , hal ini menjadi penting karena dari sinilah fungsiPublic relation akan sangat dibutuhkan, agar dapat diselenggarakan sebuah kegiatan yangdapat meningkatkan awareness dan menjalin hubungan antara Radio 105.2 SSFM dengantarget audiens yaitu pelajar SMA/SMK secara langsung. Sudah menjadi tugas public relationsuntuk melakukan kegiatan komunikasi pemasaran yang mengutamakan interaksi,koneksivitas serta hubungan yang akrab dengan target audience untuk menciptakanpencitraan yang baik dan peningkatan awareness dari target audiens.Secara garis besar Event sebagai tools PR dalam IMC pada Event ASSIK ala SSFMterlakasana dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.PENUTUPKesimpulanKegiatan PR Campaign “ASSIK ALA SSFM berhasil diselenggarakan dan mencapaitujuan yang diinginkan berdasarkan evaluasi yang dilakukan. Terjalinnya hubungan yang baikdari pihak klien Radio SSFM dan juga sponsor pendukung acara seperti Astra MotorSemarang (Honda), AEOC, INKRAFT, Rinjani View, serta media lainnya.Dengan menganalisis target audiens dengan tepat, event ini telah menjadi tool PRCampaign yang efektif karena dapat menjadi rangsangan bagi siswa-siswi sekolah lainnyauntuk penasaran dan mencari tahu informasi mengenai “ASSIK ALA SSFM”. Dua diantaraketiga sekolah yang terpilih untuk menjadi target audiens dalam acara ini cukup berperanbesar dalam menyebarkan informasi dan menjadi teaser, namun SMK Perintis 29 kurangberperan dalam menjadi buzzer dalam social media dikarenakan siswa-siswinya kurang aktifdalam kegiatan social media.Saran Riset merupakan hal yang penting untuk menganalisis situasi dan target audiens.Untuk target anak muda, khususnya pelajar sebaiknya menggunakan metodewawancara sehingga hasil yang diperoleh benar-benar valid, dan communicationtools yang digunakan untuk menyampaikan pesan dapat efektif menuju targetaudiens, dan event yang diselenggarakan dapat memperoleh hasil maksimal. Penyebaran informasi event atau publikasi harus dilakukan dari jauh hari danmenggunaan media yang bersegmentasi sama dengan target audiens yaitu anakmuda. Publikasi event juga aharus mempunyai jangkauan luas, tidak hanyaditerima oleh target audiens di sekolah yang terpilih saja, social media danwebsite perlu dimaksimalkan penggunaannya untuk publikasi karena efektifmenjadi teaser untuk target audiens yang lain.8 Tujuan komunikasi dan penyampaian pesan dalam event akan efektif apabilamendatangi audiens secara langsung dan dilibatkan didalam acara tersebutsehingga memperoleh experience dan lebih kuat mengingat pesan yangdisampaikan. Intensif menjalin hubungan dengan perusahaan yang ditargetkan menjadi sponsordan melakukan proses lobby secara santai namun santun. Setelah mendapatkankesepakatan kerjasama, perusahaan sponsorship selalu diberikan informasiinformasimengenai event dan laporan event.9DAFTAR PUSTAKAAaker, David. 1991. Managing Brand Equity; Capitalizing on the Value of Brand Name. NewYork : Free Press(http://www.scribd.com/doc/76703520/Managing-Brand-Equity)Astute, Santi Indra. 2008. Jurnalisme Radio Teori dan Praktik. Bandung:Simbiosa RekatamaMediaDuncan, Tom. 2005. The Principle of Advertising and IMC. New York : McGraw HillGregory, Anne. 2004. Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public Relations.Jakarta : ErlanggaKasali, Rhenald. 2009. Manajemen Public Relation Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta : GrafitiKottler. 2000. Marketing Management, The Millnium Edition. New Jersey :Prentice Hall International, Inc.Lattimore, Dan., Otis Baskin., Suzette T.Heiman & Elizabeth L.Toth. (2010).Public Relations : Profesi & Praktik. Jakarta : Salemba Humanika.Masterman, Guy & Wood, Emma. 2006. Innovative Marketing Communication, Strategiesfor the Events Industry. United Kingdom : Butterworth HeinemannMusman, Aswi & WA, Sugeng.2011.Marketing Media Penyiaran, BukanSekedar Jual Kecap. Yogyakarta: Cahaya Atma Pusaka.Peter, J Paul dan Olson, Jerry C. 1996. Customer Behaviour and MarketingStrategy. 4th Edition. New York : McGraw Hill Co.Tjiptono, Fandy. 2008. Pemasaran Strategik. Yogyakarta : Andi Publisher
Pengelolaan Aplikasi Berbasis Lokasi “Dalam Kota” (Dalkot) Sebagai Editor Foto Dachman, Dina Tasyalia; Lukmantoro, Triyono; Setiabudi, Djoko; Sateria, Candra
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.713 KB)

Abstract

“Dalam Kota” atau Dalkot merupakan aplikasi berbasis lokasi asal Semarang dengan segmentasi pengunduh berada di umur 15-25 tahun. Aplikasi ini menyuguhkan informasi panduan wisata yang dapat digunakan sebagai referensi mencari tempat-tempat kuliner, tempat wisata, lifestyle, event, hotel dan transportasi yang ada di Semarang.Aplikasi Dalkot sudah menginjak usia lima bulan sejak didirikan, namun tidak cukup dikenal di masyarakat Semarang, terlihat dari jumlah pengunduhnya yang hanya berjumlah 500 orang. Selain karena kurangnya promosi, konten artikel pun tidak cukup memberikan infromasi kepada para pengguna, serta terdapat teguran dari pihak lain yang merasa karya fotonya diambil tanpa izin untuk ditampilkan di aplikasi. Inilah alasan konten dan tampilanAplikasi Dalkot perlu dikembangkan lagi.Tugas penulis adalah sebagai reporter yang bertugas memverifikasi data di lapangan agar informasi sesuai dengan fakta. Kemudian, sebagai foto editor untuk menyunting foto agar dapat dengan baik ditampilkan di aplikasi. Terakhir, sebagai administrator yang bertugas memasukkan konten ke dalam aplikasi agar dapt dinikmati para pengguna. Selama menjalankan tugas, penulis mengalami beberapa kendala namun semua bisa diatasi sehingga acara tetap berjalan dengan lancar.Selama 5 minggu, penulis berhasil mengembangkan konten aplikasi menjadi lebih baik. Karenanya, pengunduh menjadi bertambah dan Aplikasi Dalkot cukup dikenal. Beberapa pengguna menyebutkan bahwa Aplikasi Dalkot dapat menjadi panduan wisata yang baik di Semarang. Diharapkan Aplikasi Dalkot dapat terus menambah konten yang baik dan kekinian serta mengembangkan fitur-fitur aplikasinya.
Disolusi Hubungan Persahabatan Lawan Jenis Ketika Friendzone Kartini Lidyawati; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.822 KB)

Abstract

Pesahabatan lawan jenis berbeda dari persahabatan sesama jenis dan lebih kompleks sifatnya. Adanya tantangan dalam persahabatan lawan jenis dapat dilihat pada fenomenan unik yang sudah banyak terjadi di kalangan anak muda yang menjalin hubungan persahabatan lawan jenis oleh dua orang, yaitu friendzone. Friendzone populer didefinisikan sebagai situasi dimana seseorang memiliki perasaan romantis atau seksual yang tidak berbalas terhadap temannya. Keinginan untuk mengembangkan hubungan dari seorang sahabat menjadi pacar yang tidak terwujud acap kali menimbulkan masalah bahkan mengakibatkan hubungan persahabatan menjadi rusak dan tidak jarang putus hubungan Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam mengenai disolusi hubungan yang terjadi dalam persahabatan lawan jenis ketika friendzone. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, paradigma interpretif, dan teknik analisa data yang digunakan mengacu pada metode fenomenologi. Teori yang digunakan adalah Relational Dissolution Theory. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa disolusi hubungan dalam persahabatan lawan jenis dapat dilakukan melalui beberapa fase. Namun tidak semua individu melalui fase-fase tersebut, setiap individu memiliki caranya tersendiri melalui fase disolusi hubungan. Dalam penelitian ini hanya informan kedua dan keempat yang melalui semua fase disolusi hubungan, yaitu mulai dari breakdown phase, intrapsychic phase, dyadic phase, social phase, grave-dressing phase, hingga resurrection phase. Sedangkan informan pertama tidak melalui social phase dan grave-dressing phase. Pada informan ketiga dan kelima tidak melalui grave-dressing phase.
REPRESENTASI NASIONALISME WARGA PERBATASAN KALIMANTAN BARAT DALAM FILM (Analisis Semiotika pada Film Tanah Surga...Katanya) Febryana Dewi Nilasari; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.258 KB)

Abstract

Film bertema nasionalisme dianggap memiliki daya tarik tersendiri. Berbeda dengan film lainnya yang memiliki tema drama dan mengangkat fenomena kehidupan sehari-hari, film yang bertema nasionalisme sangat dipengaruhi oleh faktor sosial politik yang ada di Indonesia. Pada film Tanah Surga... Katanya memperlihatkan secara gamblang kondisi keterpurukan dan kekalahan Indonesia dari negara tetangga (Malaysia) dalam  hal mensejahterakan rakyatnya. Film ini bercerita tentang sudut pandang lain dari semangat nasionalisme bangsa Indonesia yaitu bagaimana perjuangan warga perbatasan Kalimantan Barat untuk mempertahankan semangat nasionalismenya di tengah kehidupan yang serba terbatas di daerah perbatasan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi nasionalisme warga perbatasan Kalimantan Barat dalam film Tanah Surga... Katanya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori representasi Stuart Hall dalam paradigma konstruktivis. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske “the code of television” yang memasukkan kode-kode sosial ke dalam tiga level yakni level realitas, level representasi dan level ideologi.Hasil penelitian menunjukkan pada level realitas film ini menunjukkan realitas kesenjangan yang terjadi di perbatasan Kalimantan Barat dan perbatasan Malaysia (Sarawak). Perbatasan Kalimantan digambarkan miskin (tradisional) sedangkan Malaysia digambarkan sejahtera (modern). Pada level representasi film ini menunjukkan visualisasi pesan nasionalisme di tengah keterpurukan warga perbatasan Kalimantan Barat yang disampaikan melalui beberapa aspek teknis. Alur cerita, konflik, dan dialog menceritakan kehidupan Salman dan Kakek Hasyim sebagai tokoh utama yang memiliki jiwa nasionalisme melawan setiap keadaan perbatasan yang menguji rasa nasionalisme. Level ideologis dalam film ini mengungkapkan ideologi nasionalisme warga perbatasan Kalimantan Barat melalui bentuk-bentuk perlawanan atau perjuangan melawan menghadapi keadaan (kemiskinan, keterpencilan, ketidakadilan dalam pembangunan). Bentuk-bentuk nasionalisme warga perbatasan meliputi, nasionalisme pada simbol-simbol negara, nasionalisme dalam mempertahankan kewarganegaraan, nasionalisme dalam kemiskinan, nasionalisme untuk generasi selanjutnya. Kata Kunci : film, nasionalisme, semiotika, perbatasan Kalimantan Barat

Page 51 of 157 | Total Record : 1563