cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Pembuatan Program Talkshow Wedangan di Radio IBC FM ( Produser ) Dilla Maulida; Indra Prasetya; Primada Qurrota Ayun; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.215 KB)

Abstract

Memasuki era baru, dimana persaingan media semakin ketat. Banyak media baru yang bermunculan sebagai sarana informasi dan hiburan. Radio adalah salah satu media lama yang hingga kini masih memiliki eksistensi dalam memberikan informasi dan hiburan dengan terus berinovasi dalam program-program yang dimilikinya.Menyadari belum adanya program talkshow radio pada radio-radio di Semarang yang bersegmentasi anak muda, maka dibuatlah program talkshow radio Wedangan. Program talkshow radio yang inspiratif tapi menghibur. Bekerjasama dengan radio IBC FM Semarang, selama satu bulan program ini berjalan dengan tema-tema dan mendatangkan satu narasumber yang berbeda setiap kali siarnya. Sarana promosi yang digunakan dalam program ini adalah twitter, facebook, instagram, path, dan line.Tugas yang dilaksanakan selama pelaksanaan program ini adalah sebagai produser. Sebagai produser hal yang dilakukan membuat konsep pra dan hari H program, mencari bahan materi siaran, mengatur dan mengawasi saat program berjalan. Produser juga memberikan evaluasi setelah program selesai agar program selanjutnya dapat berjalan lebih baik.Meskipun begitu ada pula beberapa hambatan yang dialami seperti mengalami kesalahpahaman dengan narasumber, kekurangan bahan materi siaran, kesulitan dalam mencari narasumber. Namun, secara keseluruhan hambatan tersebut bisa diatasi.Selanjutnya, dari hasil data kuesioner yang diperoleh bahwa pendengar radio IBC FM meningkat 50% dari target yang ditentukan sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa melalui program Wedangan dapat menaikkan jumlah pendengar radio IBC FM. Konsep dapat berjalan sesuai dengan rencana. Program Wedangan mampu mencapai target sasaran pendengar yaitu anak muda. Meskipun begitu masih terdapat beberapa kekurangan dalam program Wedangan, seperti kurang matangnya persiapan serta publikasi. Hal tersebut perlu diperbaiki agar program Wedangan di episode selanjutnya dapat lebih baik.
Analisis Isi: Propaganda dalam Pemberitaan VOA-ISLAM Terhadap Kepemimpinan Jokowi Adha Satrio Har Utomo, Noor; Yulianto, Muchammad
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.115 KB)

Abstract

Propaganda is a form of systematic communication which attempts to affect people’s worldview and behavior according to the interest of perpetrator of the propaganda. Mass media have a great role as medium for distributing the ideology of propaganda, and Voa-islam is no exception. As 2019 presidential election draw nearer, Voa-islam.com incessantly broadcasted series of news about Jokowi, who is an incumbent president, as the main object. This research aims to understand what form of propaganda is done by Voa-islam.com against Jokowi’s regime. The research uses descriptive quantitative approach and content analysis method with data analysis technic of frequency table by inputting data into tables categorically. Subject of the study is Jokowi. Paradigm in this research uses positivism and a theory called Agenda Setting theory. Result of this research shows that news from Voa-islam.com do not indicate a balance (cover both sides) characterized by the absence of informant from Jokowi’s side. The news from Voa-islam.com also tend to be biased and deploy hidden propaganda proven by the fact that most of the news do not mention Jokowi as the subject in them. From majority of the news made, Voa-islam.com uses propaganda technic called card stacking by taking groundless opinion from politician and public figure who are quoted from Twitter. Majority of moslem in Indonesia become the main target for Voa-islam.com news as mentioned in the redaction. Besides that, Voa-islam,com is one of the media which drives the mass emotional rising and leads to social movement in Internet such as symbolic aspiration of #2019GantiPresiden hashtag and several rallies by the people wearing clothes with #2019GantiPresiden on it as a part of opposition against Jokowi.
PENGARUH PERINGATAN KESEHATAN BERGAMBAR PADA KEMASAN ROKOK TERHADAP MOTIVASI PEROKOK UNTUK BERHENTI MEROKOK Septian Aldo Pradita; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.789 KB)

Abstract

Kampanye anti-rokok dengan menggunakan peringatan kesehatan bergambar terbukti memiliki dampak positif yang besar. Penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa peringatan kesehatan bergambar lebih diperhatikan daripada hanya teks/ tertulis, lebih efektif untuk pendidikan bagi perokok tentang resiko kesehatan akibat merokok dan untuk meningkatkan pengetahuan perokok tentang resiko kesehatan akibat merokok serta adanya peningkatan motivasi untuk berhenti merokok. Di Indonesia, menurut PP No 109/2012 dan Permenkes No 28/2013, mulai pertengahan tahun 2014 peringatan kesehatan pada kemasan rokok di Indonesia harus disertai dengan gambar dan tulisan yang memiliki pesan tunggal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peringatan kesehatan bergambar dalam kampanye anti-rokok terhadap motivasi perokok untuk berhenti merokok. Teori yang digunakan adalah teori EPPM (Extended Parallel Process Model) dari Kim Witte. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian Eksperimen dengan desain One Group Pretest Posttest. Sedangkan teknik pengambilan sampelnya adalah Non Random dengan total sampel sebanyak 30 responden. Alat yang digunakan untuk analisis data adalah uji statistik Sign Test (Uji Tanda).            Hasil penelitian pada pengujian hipotesis menunjukkan adanya pengaruh positif peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok terhadap motivasi perokok untuk berhenti merokok. Hal ini ditunjukkan pada angka signifikansi hasil pengujian hipotesis sebesar 0,028. Indikator motivasi perokok untuk berhenti merokok yang mengalami perubahan positif adalah; (1) Kebutuhan dari dalam diri perokok yang mendorong untuk berhenti merokok, (2) Pengalaman selama merokok yang mendorong untuk berhenti merokok, (3) Pertimbangan pemikiran terhadap informasi tentang bahaya merokok pada kemasan rokok, (4) Keyakinan bahwa merokok dapat menyebabkan penyakit, (5) Keyakinan bahwa dirinya dan perokok lain dapat terkena penyakit akibat merokok, (6) Keyakinan bahwa dirinya dapat terhindar dari penyakit akibat merokok jika tidak merokok, (7) Keyakinan bahwa seseorang dapat terhindar dari penyakit akibat merokok jika ia tidak berada di dekat orang yang sedang merokok, dan (8) Keyakinan bahwa dirinya dapat dengan mudah berhenti merokok agar terhindar dari penyakit. Sedangkan indikator motivasi perokok untuk berhenti merokok yang mengalami perubahan negatif adalah; informasi tentang bahaya merokok dianggap penting bagi perokok.Kata Kunci : Kampanye Anti-Rokok, Peringatan Kesehatan Bergambar, Motivasi Berhenti Merokok
Communication experiences of Female Legislator DPRD Central Java Province Period of 2014/2019 in Committee Meeting Mia Michaela; Agus Naryoso, S.Sos, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.017 KB)

Abstract

Legislators have the role as puclic speakers representing the public in the government. Being the minors in the legislature, female legislators’ public speaking ability would be severely tested if they want to make sure their voices are heard during the decisions making. This research used a qualitative approach and constructivism paradigm which is aimed to describe how the communication experiences of female legislator DPRD Provinsi Jawa Tengah period of 2014/2019 in committee meeting. The theories used consist of: Aristoteles Rhetoric Theory and Gender Communication Theory. Unit analysis of this research was three female legislators of DPRD Provinsi Jawa Tengah. The result of this research are that the difference of public speaking style wasn’t only found in the context of male and female legislators of DPRD Provinsi Jawa Tengah only, but even the female legislators have different style of public speaking. Moreover the stereotype about female communication style wasn’t found anymore on female legislator of DPRD Provinsi Jawa Tengah, but the culture of Central Java which is rich of courteousy, manners and rather not using high intonacy and tones, and also the formal procedures and informal etiquettes influence the public speaking style of all of the legislators, not only the females. Both the male and female legislators are positioned on the same position during the comitte meetings, without discriminations. But, the stereotype about women itself and the lack of recognition of their ability indeed put the female legislators in unstrategic position, such as the lack of female leaders on the leadership structures inside the legislature. This research concludes that female legislators of DPRD Provinsi Jawa Tengah still have some troubles to do their role as a public speaker in the legislature from the stereotype and the Central Java cultures about females, that demand politeness and softness in their behaviours and also yet to recognize female’s abilities as leaders.
Representasi Bangsa Amerika dan Bangsa Jepang dalam Film The Last Samurai Bayu Hastinoto Prawirodigdo; Turnomo Rahardjo; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.902 KB)

Abstract

Film sebagai wacana mampu membentuk kesan-kesan mengenai karakter, sejarah, dan budaya pada suatu bangsa. Sejarah modernisasi Jepang diisi dengan perubahan radikal yang memengaruhi nasib kaum samurai dan bangsa Jepang secara keseluruhan sehingga Jepang mampu mencapai kemajuannya hingga saat ini. Gambaran yang tidak akurat tentang perubahan ini dapat memicu pemahaman yang keliru mengenai peristiwa pemberontakan kaum samurai dan peran bangsa Amerika dalam proses modernisasi yang terjadi di Jepang pada abad ke-19. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi bangsa Amerika dan bangsa Jepang terkait dengan sejarah modernisasi Jepang.            Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika untuk menganalisa obyek yang diteliti. Teknik analisa data menggunakan teori John Fiske “the codes of television”. Film The Last Samurai diuraikan secara sintagmatik pada level realitas dan level representasi. Sedangkan penguraian level ideologi menggunakan analisa secara paradigmatik.            Film The Last Samurai menggambarkan serangkaian konflik yang muncul ketika suatu bangsa tengah menjalankan modernisasi. Konsep tradisionalitas dan modernitas digunakan untuk membedakan masing-masing pihak yang berkonflik. Melalui penelitian ini, ditemukan bahwa The Last Samurai memuat pemikiran Max Weber mengenai rasionalitas orang modern yang membedakan mereka dengan orang tradisional. Film ini merupakan penerapan dari orientalisme sebagai wacana yang dibuat oleh orang Barat untuk mengevaluasi atau menjelaskan budaya Timur, sejarah Timur, dan orang Timur. The Last Samurai secara gamblang memberikan penghormatan pada budaya tradisional Timur namun tetap memuat supremasi Barat yang ditunjukkan tidak hanya melalui gambaran orang Barat tapi juga melalui gambaran dari orang Timur itu sendiri. Kata kunci : film, samurai, modernisasi Jepang, orientalisme
INTERAKSI ETNIS JAWA DAN ETNIS SUNDA DI KAMPUNG PASIR LEUTIK Abdul Malik, Aminullah; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.204 KB)

Abstract

Differences in cultural backgrounds, languages, and habits cause various obstacles when communicating between Javanese and Sundanese, but with the interaction between the two, it can create an increasingly harmonious relationship between other. Each strangers has his own way of being able to adapt to his new environment, as well as the host culture, of course, having their own views of the newcomers when initial interactions occur. This study aims to find out how the interaction between Javanese and Sundanese Ethnics in the Pasir Leutik village and also to find out what obstacles are experienced by ethnic Javanese individuals living in the Pasir Leutik village, through a phenomenological approach. This research uses the foundation of (Intercultural Communication Theory) and (Interaction Adaptation Theory) by Judee Burgoon. Collection techniques used in this study were in-depth interviews with research subjects of five Javanese ethnic respondents who lived permanently in the Pasir Leutik village. This research concludes (a) There are obstacles that arise in the process of intercultural interaction between ethnic Javanese and Sundanese in the Pasir Leutik village such as language, cultural norms, negative prejudice and ridicule. Language barriers become a major barrier because language is the main means of communication, but language differences can cause attraction for ethnic Javanese individuals to make intercultural communication. (b) Every ethnic Javanese individual has their own way of being able to interact and adapt to the host culture, besides that another thing found is that the intensity of the time span in the new residential environment affects the extent to which the individual is able to adapt to his new environment.
Public Speaking Ability Analysis of Traffic Police Officer In Socialization Traffic Rule in resort Ungaran , Kabupaten Semarang Phopy Harjanti Bulandari; Hedi Pudjo Santosa; Much Yulianto; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.341 KB)

Abstract

This study was conducted to see how the ability Police Officer in Public Speaking for socialization orderly traffic in Kab.Semarang districtThe purpose of this study was to determine the forms of public speaking activities undertaken within the framework of the Indonesian National Police Traffic orderly dissemination and to evaluate the ability of the Public Speaking Police Officer in the socialization of traffic rules in Police in Ungaran. Kab. Semarang 2014 .The results showed that the police officers while providing socialization begins with wearing uniform look neat and fresh and fresh face. Mastery of traffic police officers in socialization orderly traffic in the jurisdiction of police station Ungaran . The use of verbal language using words that are easily understood , a series of sentences neatly arranged, delivery of messages using long sentences and material power point of interest . Confidence traffic police officer noticed aspect of " pause " and this is a good effort made by the traffic police officer in the socialization orderly traffic in the jurisdiction of police station Ungaran . Interaction and communication officers are able to blend , capable of interacting , able to provide feedback and conduct a question and answer with the audience .
THE FORMATION OF SELF IDENTITY THROUGH MODELLING SCHOOL Venturiny, Fernanda; Budi Lestari, Sri
Interaksi Online Vol 5, No 4: Oktober 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.472 KB)

Abstract

Self –identity is a component of the self-concept that allows the individual to maintain consistent stance and thereby enables one to occupy a stable position in his environment. The environment can be one of the supporting factors for a person in the search for identity, but also can be an inhibiting factor. This study aims to describe whether modelling school can help as a means of communication of its members and build a personal identity of women, with qualitative descriptive research methods and phenomenology approach. The theory used is the theory of fashion as communication that explains a person can communicate throught fashion. Because of fashion is one form of nonverbal communication. Then the theory of self-presentation that explains that this theory is an attempt to control someone else’s impression by arranging the behavior so that others interpret the identity as they wants. The results of the study showed that the interpersonal communication performed by the modelling school coach “Hijabku Models Academy” on the incorporated students was built throught the closeness gained from openness, attention, affection, and supportive attitude when communicating. This adjacency is used to build students self-confidence and expected to be able to establish student identities. Then, the belief of parents of children who are seeking self-identity throught modeling school become one of the driving factors for students to be more confident without feeling burdened, braver, and not easily shaken in building their own identity. Therefore, parents and trainers should continue to approach students who educate them by motivating them to be more confident and encourage them to open up for positive things, because parents and trainers have an important role in shaping attitudes and character of students who want to seek identity throught modeling school.
Akomodasi Komunikasi Dalam Rekonsiliasi Konflik Antaretnis (Kasus : Relasi Etnis Madura dengan Etnis Dayak) NIKOLAUS AGENG PRATHAMA; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.584 KB)

Abstract

AKOMODASI KOMUNIKASIDALAM REKONSILIASI KONFLIK ANTARETNIS(KASUS : RELASI ETNIS MADURA DENGAN ETNIS DAYAK)Ringkasan SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Nikolaus Ageng PrathamaNIM : D2C006063JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013ABSTRAKSIJUDUL :NAMA :NIM :Akomodasi Komunikasi Dalam Rekonsiliasi Konflik Antaretnis (Kasus : Relasi Etnis Madura dengan Etnis Dayak)NIKOLAUS AGENG PRATHAMAD2C006063Kembalinya sejumlah individu Madura ke daerah konflik di Provinsi Kalimantan Tengah, memunculkan fenomena upaya akomodasi verbal dan non verbal dalam proses komunikasi yang melibatkan individu Dayak dan individu Madura. Adanya sejarah konflik terbuka yang melibatkan kedua etnis, merupakan hal yang cenderung diingat masyarakat dan menjadi isu sensitif bagi etnis Dayak dan etnis Madura. Oleh karena itu, ketika terjadi kontak dan interaksi diantara kedua pihak, muncul prasangka dan stereotip negatif yang telah terbentuk sebelumnya, yang berpotensi dapat mengganggu terjadinya komunikasi antaretnis yang mindful.Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologi yang berusaha untuk menyelami dunia pengalaman perceiver dalam kasus ini, yaitu individu Dayak dan individu Madura ketika melakukan upaya akomodasi di dalam relasi mereka sehari-hari pasca konflik sosial 2001. Dengan menggunakan perspektif co-cultural theory yang menekankan pada tujuan akomodasi dalam interaksi antara anggota kelompok minoritas dan mayoritas, penelitian ini juga berupaya untuk memperoleh makna relasi individu etnis Dayak dan Madura yang dipahami oleh kedua pihak dalam bingkai rekonsiliasi konflik antaretnis.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa relasi yang melibatkan individu Dayak dan Madura dalam menjalani kehidupan bersama, mengalami perkembangan yang positif pasca konflik sosial 2001. Mereka dapat saling menegosiasikan identitas kultural masing-masing dalam proses interaksi sehari-hari. Namun demikian, diantara mereka masih terdapat stereotip negatif yang diarahkan oleh masing-masing individu. Meskipun dalam realitasnya, keberadaan stereotip tidak sepenuhnya menghalangi proses interaksi antarkultural mereka. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap adanya upaya untuk memperoleh keadaan akomodasi yang dilakukan oleh kedua pihak secara bersama-sama, yaitu oleh individu Dayak dan Madura. Proses akomodasi dilakukan oleh para komunikator dalam menjalani kehidupan sehari-hari melalui adaptasi, asimilasi, dan kerjasama. Hal yang paling menonjol dalam relasi individu Dayak dan Madura pasca konflik ini adalah adanya kerjasama yang dilakukan oleh para tokoh untuk menjaga hubungan baik dan mencegah munculnya gejolak sosial di masyarakat, terutama yang melibatkan individu Dayak dan Madura.Key words: akomodasi, rekonsiliasi, konflik, Dayak, MaduraABSTRACTJUDUL :NAMA :NIM :Communication Accommodation in Inter Ethnics Conflict Reconciliations (Madurese Ethnics and Dayaknese Ethnics Relations Case)NIKOLAUS AGENG PRATHAMAD2C006063The return of a number of Madurese people in conflict area in Central Kalimantan has arisen a phenomena of verbal and non verbal accommodation in its communication process that involve Dayaknese and Madurese individual. Open conflict between both ethnics are still fresh in people‟s mind and prone to be sensitive issue for both Dayaknese and Madurese. Therefore, when a contact and interactions made by both ethnics, it stimulates prejudice and negative stereotype from the past that potentially emerged a chaos in creating a mindful interethnics communications.This research uses interpretive genre and phenomenology approach to deeply understanding the experience of perceiver‟s world, which is Dayaknese and Madurese as an individual when the conduct accommodation effort in their daily relations pasca social conflict in 2001. By accomodating co-cultural theory perspective that stressed on accomodations objectives in understanding interactions between minority groups and majority groups, the objective of this research is to gain a better understanding on individual relations between Madurese and Dayaknese in the frame of inter-ethnics conflict reconciliations.The result shows that relations involving Dayaknese individual and Madurese individual that live together developed positive relations pasca social conflict in 2001. They are able to negotiate their own cultural identity when they interact each other in their daily life. However, a slight of negative stereotype does exist that directed by individuals. In fact, the existence of those stereotype doesn‟t completely interfere their inter-cultural interactions. Besides that, this research also revealing efforts in accommodating situation by both ethnics, Dayaknese and Madurese, together. The accomdoations process conducted by communicators in their daily life through adaptation, assimilation, and cooperation. The most salient thing in Dayaknese and Madurese individual relation pasca conflict is a good cooperations that promoted by the leaders to maintain good relations and prevent any future social conflict in society especially those that involving Dayaknese and Madurese individuals.Key words: accommodations, reconciliations, conflict, Dayaknese, MadureseStudi komunikasi antarbudaya yang berjudul “Akomodasi Komunikasi dalam Rekonsiliasi Konflik Antaretnis (Kasus : Relasi Etnis Madura dengan Etnis Dayak)” ini berawal dari ketertarikan penulis untuk mendalami persoalan relasi individu Dayak dan Madura yang terjalin di daerah Kalimantan Tengah setelah keduanya terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam konflik sosial tahun 2001. Peristiwa konflik sosial 2001 menarik perhatian penulis karena merupakan salah satu dari tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia.Dari sisi akademis, studi ini diharapkan memberikan kontribusi dalam pengembangan riset komunikasi untuk kasus rekonsiliasi konflik antaretnis. Selain itu, secara praktis hasil studi ini juga dimaksudkan agar dapat memberikan tambahan informasi mengenai akomodasi komunikasi melalui pengalaman individu Dayak dan Madura pasca konflik. Dalam bidang sosial, studi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi informasi mengenai akomodasi komunikasi yang berlangsung dalam relasi individu Dayak dan Madura di Kalimantan Tengah.Pada proses penelitian, studi ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologi yang berusaha untuk memperoleh pemahaman individu mengenai dunia pengalaman mereka sehari-hari dalam menjalani aktivitas komunikasi antaretnis pada konteks rekonsiliasi konflik. Proses awal penelitian ini adalah merumuskan tujuan penelitian dan menentukan pemilihan subyek penelitian yang berjumlah delapan orang, yang mewakili kelompok etnis Dayak dan Madura. Selanjutnya melalui instrumen indepth interview, penulis memperoleh data primer berupa pengalaman subyek, yang kemudian memandu peneliti untuk menyusun deskripsi tematis, deskripsi tekstural, dan deskripsi struktural individu.Setelah mendeskripsikan hasil temuan penelitian yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan para subyek secara tekstural dan struktural, selanjutnya penulis menyusun sintesis makna tekstural dan struktural yang bertujuan untuk menggabungkan secara intuitif(intuitive integration) deskripsi tekstural dan struktural ke dalam sebuah kesatuan pernyataan mengeni esensi pengalaman dari suatu fenomena secara keseluruhan. Dalam proses ini, peneliti menggunakan gagasan pemikiran teoritik self-disclosure dari para ahli psikologi humanistik, identity negotiation theory dari Stella Ting-Toomey, dan co-cultural theory dari Orbe untuk menjelaskan esensi pengalaman individu.Tahap akhir dari penelitian ini, penulis menyusun kesimpulan, implikasi penelitian (akademis, praktis, dan sosial), dan rekomendasi penelitian. Beberapa hasil temuan penelitian yang dapat disimpulkan antara lain :1) Dalam hidup bertetangga sehari-hari di perkampungan atau pemukiman padat, individu Dayak dan Madura hidup membaur dan dapat membahas persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, persoalan yang cukup personal, serta persoalan yang cenderung sensitif yaitu mengenai konflik 2001.2) Stereotip masih ditemukan diantara relasi individu Dayak dan Madura. Namun keberadaan stereotip tidak sepenuhnya menghalangi proses komunikasi.3) Konflik tahun 2001 yang melibatkan individu Dayak dan Madura disebabkan oleh dua faktor, yaitu adanya ketidakadilan dalam hukum dan adanya provokasi politik dari „orang-orang tertentu‟.4) Pada awal kembalinya individu Madura ke Sampit Kalimantan Tengah, cenderung memperoleh hambatan berupa pertentangan verbal dan non verbal.5) Individu Dayak dan Madura melakukan usaha untuk mencapai akomodasi sebagai keadaan melalui adaptasi (verbal dan non verbal), asimilasi (perkawinan campur dan budaya), serta kerjasama yang melibatkan warga dan para tokoh dengan tujuan merekonsiliasi hubungan.6) Dalam proses akomodasi, terdapat satu faktor yang memberikan kontribusi yaitu elemen agama (Islam). Adanya kesamaan keyakinan membuat pembauran dan persatuan mereka berjalan lebih mudah.Dari segi akademis, hasil penelitian ini berupaya untuk memberikan tambahan referensi bagi pengembangan bangunan teoritik co-cultural theory, dimana dalam realitasnya individu minoritas (etnis Madura) tidak hanya terbatas pada satu tujuan ketika berinteraksi dengan individu mayoritas (etnis Dayak). Mereka dapat memilih dua tujuan sekaligus, yaitu asimilasi dan akomodasi. Selain itu, peneliti berpendapat bahwa gagasan konsep self-disclosure perlu mempertimbangkan adanya kontribusi faktor geografis yang mendampingi faktor psikologis dalam melihat pemahaman yang dicapai oleh para komunikator. Dalam sisi praktis, penelitian ini memberikan gambaran akomodasi komunikasi yang dilakukan secara variatif oleh individu Dayak dan Madura dengan tujuan merekonsiliasi hubungan mereka pasca konflik sosial 2001. Sedangkan dalam bidang sosial, hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dalam masyarakat Indonesia, pluralitas atau keragaman bukan terbatas pada cita-cita, namun telah menjadi suatu fakta sosial-budaya. Setiap individu akan terafiliasi dengan identitas kultural kelompok sebagai latar belakang yang eksistensial.Selanjutnya, pada bagian akhir dari studi ini, peneliti memberikan beberapa rekomendasi yang terkait dengan penelitian mengenai relasi etnis Dayak dengan Madura yaitu :1) Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologi. Kajian selanjutnya dapat menggunakan pendekatan etnografi yang berusaha untuk mencatat kehidupan masyarakat sehari-hari dengan melakukan pengamatan secara terlibat. Tujuan penelitian dengan pendekatan etnografi dalam konteks kasus ini, untuk memperoleh data yang lebih rinci mengenai aktivitas komunikasi antaretnisDayak dan Madura, memahami tatanan nilai dan norma yang ada di dalam masyarakat tersebut, serta memahami kontribusi mereka dalam kegiatan kemasyarakatan di salah satu perkampungan atau pemukiman penduduk di Sampit dengan komposisi penduduk yang multietnis.2) Studi selanjutnya dapat mengkaji bagaimana proses adaptasi komunikasi yang dilakukan oleh para individu Madura yang berstatus sebagai pendatang baru di lingkungan wilayah tempat tinggal mereka, bagaimana mereka mengatasi adanya hambatan yang muncul dari persepsi negatif, dan bagaimana mereka mengkomunikasikan identitas kultural mereka sebagai orang Madura kepada tetangga Dayak.3) Sampit merupakan pemicu terjadinya konflik sosial di Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2001. Kajian selanjutnya dapat memindahkan lokasi penelitian, misalnya ke Kota Palangkaraya, yaitu salah satu daerah yang terkena dampak meluasnya konflik di Kalimantan Tengah. Studi yang dilakukan di Kota Palangkaraya diharapkan dapat memperoleh variasi akomodasi dalam tataran kajian komunikasi antarbudaya, karena adanya perbedaan kultural dengan studi yang dilakukan di Sampit. Perbedaan kultural yang dimaksud adalah mengenai elemen keagamaan, dimana host-culture Palangkaraya lebih mengarah pada agama Kristen dan Hindhu Kaharingan yang menjadi kepercayaan asli warga etnis Dayak.DAFTAR PUSTAKACahyono, Heru, Mardyanto Wahyu Tryatmoko, Asvi Warman Adam, Septi Satriani. (2008). Konflik Kalbar dan Kalteng : Jalan Panjang Meretas Perdamaian. Yogyakarta : Pustaka PelajarDenzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of Qualitative Research. California : SAGE Publication, IncGiring. (2004). Madura Di Mata Dayak : Dari Konflik ke Rekonsiliasi. Yogyakarta : Galang PressGriffin, EM. (2000). A First Look at Communication Theory fourth edition. New York : McGraw-HillGudykunst, William B and Bella Mody. (2002). Handbook of International and Intercultural Communication second edition. London : Sage PublicationsGudykunst, William B. (2005). Theorizing About Intercultural Communication. London : Sage Publications, IncKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi : Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung : Widya PadjadjaranLiliweri, Alo. (2001). Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : Pustaka PelajarLiliweri, Alo. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : LKiSLiliweri, Alo. (2003). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : LKiSLiliweri, Alo. (2007). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : LKiSLiliweri, Alo. (2009). Prasangka dan Konflik : Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta : LKiSLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication sixth edition. California : Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication seventh edition. California : Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W and Karen A. Foss. (2005). Theories of Human Communication eight edition. California : Wadsworth Publishing CompanyMartin, Judith N and Thomas K Nakayama. (2007). Intercultural Communication in Context fourth edition. New York : McGraw-HillMoleong, Lexy J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif edisi revisi. Bandung : PT Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. London : Sage PublicationsMulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat. (2009). Komunikasi Antarbudaya : Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bandung : PT Remaja RosdakaryaRahardjo, Turnomo. (2005). Menghargai Perbedaan Kultural : Mindfulness Dalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta : Pustaka PelajarSaad, Munawar M. (2003). Sejarah Konflik Antar Suku di Kabupaten Sambas. Pontianak : Kalimantan Persada PressSamovar, Larry A Samovar, Richard E. Porter, Edwin R. McDaniel. (2010). Komunikasi Lintas Budaya Edisi 7. Jakarta : Salemba HumanikaSoekanto, Soerjono. (2002). Sosiologi : Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaSurata, Agus dan Tuhana Taufiq Andrianto. (2001). Atasi Konflik Etnis. Yogyakarta : Global Pustaka UtamaWarnaen, Suwarsih. (2002). Stereotip Etnis dalam Masyarakat Multietnis. Yogyakarta : Mata BangsaWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Penerbit Salemba HumanikaWirawan. (2010). Konflik dan Manajemen Konflik : Teori, Aplikasi, dan Penelitian. Jakarta : Salemba HumanikaWiyata, A. Latief. (2006). Carok : Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta : LKiS YogyakartaINTERNETAnonim. (2011). Meretas Kebersamaan Anak Bangsa Pasca Tragedi Sampit. Dalam http://media.hariantabengan.com/index/detailspiritkaltengberitaphoto/id/7521/. Diunduh pada 22 Februari 2012, pukul 18.13 WIBAnonim. (2012). Kalimantan Tengah. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah. Diunduh pada 9 Juni 2012 pada pukul 20.05 WIBAnonim. (2012). Suku Dayak. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak. Diunduh pada 9 Mei 2012 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Suku Madura. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Madura. Diunduh pada 5 Juni 2012 pukul 14.05 WIBCatatan penulis hasil interview dengan Fauziah (wartawan Kalteng Pos)Catatan penulis hasil pengamatanData dari Markas Kepolisian Resor Kabupaten Kotawaringin Timur
Hubungan antara Tingkat Pemanfaatan Path, Frekuensi Face to Face Communication, dengan Eskalasi Hubungan Pertemanan Jarak Jauh. Adi Sukma Waldi; Agus Naryoso; Sri Budi Lestari; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.372 KB)

Abstract

Pertemanan jarak jauh bukan lagi menjadi hal yang asing saat ini. Seseorang bisa saja berpisah atau tidak lagi berdomisili di daerah yang sama dengan teman mereka dikarenakan oleh berbagai hal, salah satunya pendidikan. Namun, hubungan pertemanan jarak jauh tergolong rapuh dan membutuhkan usaha lebih untuk mempertahankannya karena menurunnya frekuensi face to face communication secara drastis. Berkat perkembangan teknologi, kini mempertahankan hubungan pertemana jarak jauh dapat terbantu dengan adanya sosial media, salah satunya Path.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan dengan menggunakan paradigma positivisktik. Populasi dari penelitian ini adalah Alumni SMA 1 Batusangkar angkatan 2011 yang terlibat hubungan pertemanan jarak jauh, menjadi pengguna aktif sosial media Path minimal 1 tahun dan berusia antara 21 – 23 tahun. Penarikan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan responden sejumlah 30 orang. Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya hubungan antara tingkat pemanfaatan Path, frekuensi face to face communication, dengan eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh. Teori yang digunakan adalah CMC dan Teori Penetrasi sosial. Hipotesis dari penelitian ini adalah adanya hubungan antara tingkat pemanfaatan Path, frekuensi face to face communication, dengan eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh.Berdasarakan hasil temuan dalam penelitian ini, terbukti bahwa adanya korelasi positif antara tingkat pemanfaatan Path dengan eskalasi hubungan pertemana jarak jauh. Semakin tinggi tingkat pemanfaatan Path maka semakin eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh juga semakinnaik. Dengan memanfaatkan Path, seseorang bisa tetap terhubung dan berinteraksi dengan teman mereka sehingga mereka tetap dapat saling mengetahui perkembangan kehidupan satu sama lain. Selain itu juga terbukti adanya korelasi positif antara frekuensi face to face communication dengan eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh. Semakin tinggi frekuensi face to face communication maka eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh juga semakin naik. Saat melakukan komunikasi face to face, informasi yang dipertukarkan lebih luas dan lebih dalam dan personal. Dengan memanfaatkan sosial media Path dan face to face communication, akan dapat tercipta hubungan pertemanan jarak jauh yang harmonis dan menurunnya kemungkinan terjadinya konflik.

Page 72 of 157 | Total Record : 1563