cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Kekerasan Dalam Sinetron “Si Biang Kerok Cilik” (Analisis Isi Kekerasan Dalam Tayangan Sinetron Anak-anak “Si Biang Kerok Cilik” Di SCTV) Dwi Ratna Setyorini; Wiwid Noor Rakhmad; Taufik Suprihatini; Dr. Sunarto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.576 KB)

Abstract

Tayangan televisi merupakan kebutuhan primer masyarakat untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Kebutuhan menonton televisi menjadikan persaingan antar stasiun televisi untuk menghasilkan tayangan yang menarik perhatian pemirsa dan mendapat rating yang tinggi. Namun adanya sistem rating, isi tayangan yang dihasilkan kurang berkualitas dan tidak mendidik seperti unsur kekerasan.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kekerasan pada tayangan sinetron anak-anak “Si Biang Kerok Cilik” di SCTV. Tipe penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan metode analisis isi. Teori yang digunakan adalah Teori Kultivasi dari Gebner (Griffin, 2011) dan Bentuk-bentuk kekerasan menurut Sunarto (2009) sebagai dasar kategorisasi kekerasan. Populasi penelitian ini seluruh tayangan Si Biang Kerok Cilik di SCTV, yaitu 149 episode, menggunakan teknik sampel acak sederhana (simple random sampling) dengan cara pengundian.Sampel berjumlah 10 episode dari populasi meliputi episode 02, 26, 43, 62, 98, 103, 112, 118, 139, dan 146. Teknik analisis data menggunakan uji reliabilitas antar dua koder.Hasil uji reliabilitas antar koder diperoleh 100%. Temuan penelitian menunjukkan sinetron Si Biang Kerok Cilik, dari 170 tokoh terdapat 107 tokoh(63%) melakukan kekerasan. Kekerasan banyak dilakukan oleh tokoh Usia Dewasa dan Anak. Bentuk kekerasan yang banyak muncul adalah Kekerasan Fisik (79%) dan Kekerasan Psikologis (42%). Hampir seluruh kekerasan dilakukan dengan Motif Sengaja (93%), dan sebagian besar dilakukan di Lokasi Publik (67%) yaitu di Jalan dan di Sekolah. Pada sinetron Si Biang Kerok Cilik terlihat bahwa tayangan ini banyak menampilkan / terkesan memberikan bentuk kekerasan secara jelas, serta kekerasan boleh atau wajar dilakukan oleh usia dewasa bahkan anak-anak baik dirumah maupun di tempat terbuka. Saran penelitian ini adalah televisi harus memperhatikan isi tayangan program sehingga layak ditonton pemirsa. Begitu juga masyarakat perlu mendampingi anak saat menonton televisi serta melek media agar dapat memahami dan memilih tontonanyang sesuai.Kata Kunci : Analisis Isi, Kekerasan, Televisi
The Gender Role Negotiation in the Development of Ta’aruf Relationship Kamilah Adawiyah; Dr. Hapsari Dwiningtyas, S.Sos, MA
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.128 KB)

Abstract

Islam provides an alternative during the process of finding a life partner called as ta’aruf. Ta’aruf couple have their own uniqueness since they directly go through personal phase. As their relations developed, negotiation regarding gender role established until they enter marriage phase. The occurrence of domestic violence against woman is result of failed negotiation of gender role. Difficult depiction to understand each other in the process of ta’aruf communication would led to household problems, thus the role position between husband and wife needs to be negotiated to minimalize the so-called role disparity. This research aimed to understand the negotiation process of gender role toward the development of relation in married couple through ta’aruf process. Using phenomenology approach, this research refers to the interpretive paradigm. The research conducted using Knapp’s Relationship Model, Relational Dialectics theory, Gender Role theory, and theory of Marriage. The result of this research showed that the pattern of negotiation process through ta’aruf process could be distinguished into three, namely indirect communication using medium involving peer-group, long-distance communication accompanied by medium which background backs by power relations to perform religious justification between religious figure and parent, and direct communication using medium related with interest of parent refers to economic and religious reasons. When it enters marriage phase, conflict that usual appear due to lack of proximity emotional and trust. In the process of adapting marriage, the husband better understand the partner’s desire in the division of domestic duties which raises the role of the presence of equality by applying strategy implementing collaborative strategies style to find win win solution. However, in households ta'aruf couples who do face to face communication distance found their male dominance in limiting interaction with the outside so that can be categorized as the negotiation process unbalanced role. In contrast with the couple who perform direct communication through intermediaries, marital conflicts that arise due to the lack of wife’s trust to the husband that elicits jealousy. This can be overcome with strategies for choosing the right time to talk about the problems experienced by the wife.
Hubungan Intensitas Menonton Youtube Beauty Vlogger dan Persepsi Mengenai Kredibilitas Beauty Vlogger dengan Perilaku menggunakan Makeup oleh Remaja Asri Aulia Rachmawati; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.193 KB)

Abstract

Makeup trends in Indonesia are developing through beauty vlogger content, which is mostly watched by teenagers. Teenagers tend to always follow the latest makeup trends to look beautiful. This is done because teenagers want to be like what the model they see, both the style of makeup and using various beauty products. Teen makeup behavior was allegedly a result of several factors such as the intensity of watching beauty vloggers on YouTube and one's perception of the credibility of beauty vloggers. This research aims to explain the intesity relationship of wathcing youtube beauty vlogger and perception regarding the credibility of the beauty vlogger with the behavior of using makeup by teenegers. The theory used is social learning theory and source credibility theory. The sample technique this research is using the non probability sampling with purposive sampling method. The number of sample is 60 people with criteria of female adolencests aged 13-18 years, watching the beauty vlogger and domiciled in the city of Semarang. The data analysis is using Pearson’s Correlation. The first hypothesis testing result showed there is no correlation between the intensity of wathcing youtube beauty vlogger with the behavior of using makeup by teenagers, with significance value of 0,404. The second hypothesis testing result showed there is correlation between perception on the credibility of the beauty vlogger with the behavior of using makeup by teenagers, with a value 0,002 of significance and 0,396 of correlation coefficient. With this result, further research is recommended using other variables, such as peergroup communication intensity or social status variables. Teen audiences are also expected to filter and be selective with all the information conveyed by beauty vloggers regarding the use of makeup.
Hubungan antara Kebutuhan Informasi mengenai Seks dan Intensitas Membaca Rubrik Seks dengan Kepuasan Informasi mengenai Seks di Majalah Pria Dewasa Ningsih, Dwi Mulya; Lailiyah, Nuriyatul; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.134 KB)

Abstract

Setiap individu yang sudah dewasa, memiliki kebutuhan dasar yaitu kebutuhan biologis atau seksual untuk menunjang aktivitas seksual bersama pasangannya. Namun, dalam aktivitasnya masih timbul beberapa masalah, sehingga mendorong mereka untuk berusaha mencari informasi, solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan salah satunya dengan menggunakan media massa yaitu media cetak majalah pria dewasa yang ditujukan bagi pria dewasa.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan informasi mengenai seks dan intensitas membaca rubrik seks dengan kepuasan informasi mengenai seks di majalah pria dewasa. Dasar pemikiran yang digunakan adalah teori Uses and Gratifications. Penelitian kuantitatif ini menggunakan teknik non-random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang pria dewasa yang berusia 21-40 tahun di Semarang.Analisis data yang digunakan adalah Koefisien Korelasi Pearson. Setelah melalui perhitungan atas jawaban responden yang diperoleh melalui kuesioner, dalam analisis hubungan antara variabel X1 dan X2diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,138 dan koefisien korelasi Pearson sebesar 0,213. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang siginifikan antara variabel X1 dan X2.Sedangkan dalam analisis hubungan antara variabel X2dan Y diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,252 dan koefisien korelasi Pearson sebesar 0,165. Hal tersebut juga menunjukkan tidak terdapatnya hubungan yang signifikan antara variabel X2 dan Y. Majalah pria dewasa hendaknya dapat meningkatkan kualitas isi dan rubrik seks secara berbeda dengan media massa lainnya yang juga menyajikan informasi mengenai seks mengingat ada banyaknya media massa yang menghadirkan informasi mengenai seks yang cenderung serupa. Dengan demikian, khalayak dapat menggunakan dan menjadikan majalah pria dewasa sebagai sumber informasi mengenai seks yang dicarinya.Kata Kunci: Kebutuhan informasi, Intensitas membaca, Kepuasan informasi, Majalah pria dewasa
Interpersonal Communication Processes between Students, Caregivers of Boarding School, and Boarding School Environments in Building the Self Concept Maulia, Putri; Budi Lestari, SU, Dr. Dra. Sri
Interaksi Online Vol 5, No 4: Oktober 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.61 KB)

Abstract

In a family, interpersonal communication processes take place in nurturing and controlling against the behavior of their children. Now, many parents who choose to educate his children in boarding schools and they hopes their children can have a religious knowledge as well as a good general science, have a good character, and have a positive self-concept if educated in the boarding school. This research using a qualitative approach, aims to describing interpersonal communication processes between students, caregivers of boarding school, and boarding school environments in building the self concept. This research uses interpretive paradigms and phenomenological methods. Subjects in this research were two students and two caregivers of Pondok Pesantren Al Muqoddasah, East Java. The underlying theory is symbolic interaction theory and self concept by George Herbert Mead. The results show that the caregiver has intimacy with his students by always communicating, devoting affection, empathy, attention, and feelings of equality among them, especially with students who are still children. The intimacy that exists among the students is also one of the reasons they feel happy and comfortable life in the boarding school. This familiarity is established because of the openness, the similarity of hobbies, sense of the same fate, and the interdependent feelings that makes the student would not feel lonely and lack the affection from their parents. Students also feel comfort and can adapt to boarding school environments easily, because the boarding school environment is considered to have a role in the development of their self-concept, where the values, culture, and norms that are taught can change the behavior and habits of students to be better. The process of developing student selfconcept is also affected by the way of caregivers in nurturing and controlling his students. Caregivers who always give positive assessments and nurturing his students with a secure attachment style helps the student in the process of building a positive self-concept. Meanwhile, caregivers who always give negative assessments and nurturing her students with fearful attachment style or anxious attachment style will damage the confidence and self-esteem of the students so his self-concept becomes negative. Student builds his self-concept based on interaction with caregiver, fellow student, and his boarding school environments. Self-concept that will provide an important motive for student behavior.
Evaluasi Program Corporate Social Responsibility Coke Farm untuk Pembangunan Citra Coca-Cola Amatil Indonesia Central Java Charisma Rahma Dinasih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.756 KB)

Abstract

Evaluasi Program Corporate Social Responsibility Coke Farmuntuk Pembangunan citra Coca-Cola Amatil Indonesia CentralJavaABSTRAKEvaluasi merupakan hal yang harus dilaksanakan untuk melihat pencapaian dariprogram, salah satunya adalah untuk melihat citra yang berhasil dibangun. NamunPraktisi PR masih sering mengesampingkan pentingnya evaluasi dengan tidakmelakukannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pembangunancitra Coca-Cola Amatil Indonesia Central Java (CCAI-CJ) melalui pelaksanaankegiatan CSR Coke Farm di kalangan stakeholder eksternal yang terlibat secaralangsung. Teori yang digunakan yaitu teori CSR untuk pembangunan citra. Tipepenelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif danmenggunakan model evaluatif. Model Evaluasi yang digunakan adalah Context,Input, Process, Product (CIPP) Teknik pengumpulan data kualitatif dilakukandengan menggunakan indepth interview kepada satu informan, yakni PublicRelations (PR) dari CCAI-CJ. Teknik pengumpulan data kuantitatif dilakukanmelalui wawancara dengan instrumen penelitian kuesioner.Hasil penelitian ini menunjukkan PR CCAI-CJ belum mampu memanfaatkanprogram Coke Farm untuk pembangunan citra. Dari hasil penilaian denganmenggunakan ukuran efektivitas untuk menilai indikator di masing-masingkategori CIPP mendapatkan total nilai sebanyak 3, yang menunjukkan bahwaprogram CSR Coke Farm tidak efektif dalam membangun citra CCAI. Di dalammelaksanakan Coke Farm, PR tidak menjalankan semua tahapan yang harusdilakukan di dalam program CSR. Dengan pengelolaan Coke Farm yang kurangmaksimal, maka tidak mampu membangun citra positif CCAI-CJ melalui CokeFarm. Hal ini dibuktikan dengan hasil dari kuesioner yang menunjukkan citrasosial CCAI-CJ yang didapat melalui program Coke Farm adalah cenderungnegatif. Untuk citra ramah lingkungan CCAI-CJ juga termasuk ke dalam kategoricenderung negatif. Sikap responden terhadap CCAI-CJ memperlihatkan hasilyang banyak negatif. Citra sosial dan citra ramah lingkungan tersebut didapatkandari kumpulan penilaian responden mengenai manfaat sosial dan manfaatlingkungan dari Coke Farm. Coke Farm dianggap belum mampu memberikanmanfaat responden.Kata kunci: Evaluasi, Corporate Social Responsibility, CitraNama : Charisma Rahma DinasihNIM : D2C009106Judul : Evaluation of Corporate Social Responsibility Coke FarmProgram to development Coca-Cola Amatil Indonesia CentralJava ImageABSTRACTThe evaluation is to be undertaken to look at the achievements of the program,one of which is to see a successful image is built. But the practition PR still ruleout the importance of evaluations with it. The purpose of this research was toevaluate the development image of Coca-Cola Matil Indonesia Central Java(CCAI-CJ) through the implementation of Coke Farm CSR activities amongexternal stakeholders involved directly. The theory being used, namely the theoryof development of CSR to image building. The model of evaluation is usedContext, Input, Process, Product (CIPP). Qualitative an quantitative datacollection techniques are performed using indepth interviews to one informant,namely Public Relations (PR) of CCAI-CJ.The research shows PR CCAI-CJ hasn’t been able to take advantage of theprogram for the development of a Coke Farm image. From the results of theassessment effectiveness to assess CIPP indicator in each category receives a totalvalue of about 3 indicating that CSR Coke Farm ineffective for developmentCCAI-CJ image. In carrying out Coke Farm, PR did not run all the stages thatmust be done within the CSR program. With the management of Coke Farm thatis less than maximum, then it is not able to build a positive image of CCAI-CJthrough Coke Farm. It is proven by the results of a questionnaire that show ofsocial image obtained through the program of Coke Farm is to tend negative. Foreco-friendly image of CCAI-CJ is also included into the category tends to benegative. The attitude of respondents towards CCAI-CJ shows many negativeresults. Social image and eco-friendly image obtained from the respondent’sassessment regarding the social benefits of Coke Farm. Coke Farm consideredhasn’s been able to deliver the benefits of the respondent.Keywords: Evaluation, Corporate Social Responsibility, ImageJURNALEvaluasi Program Corporate Social Responsibility Coke Farmuntuk Pembangunan CitraCoca-Cola Amatil Indonesia Central JavaPENDAHULUANDalam implementasi CSR, PR mempunyai peran penting, baik secarainternal maupun eksternal. Dalam konteks pembentukan citra perusahaan, disemua bidang pembahasan di atas boleh dikatakan PR terlibat di dalamnya, sejakfact finding, planning, communicating, hingga evaluation. Jadi ketika kitamembicarakan CSR berarti kita juga membicarakan PR sebuah perusahaan, dimana CSR merupakan bagian dari community relations. Karena CSR padadasarnya adalah kegiatan PR, maka langkah-langkah dalam proses PR punmewarnai langkah-langkah CSR.Dapat diketahui bahwa aktivitas atau kegiatan CSR sangat berpengaruhterhadap pembentukan opini yang kemudian menjadi sebuah citra perusahaan dimata masyarakat. Pelaksanaan kegiatan CSR yang baik secara otomatis akanmendapatkan corporate image (citra perusahaan) yang baik pula. Sudah saatnyaperusahaan meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat sekitar sebagai bentuktanggung jawab sosial perusahaan terhadap publik, sehingga perusahaan dapatmempertahankan sustainable company.Untuk membangun citra perusahaan yang baik di mata masyarakat itulahCCAI-CJ secara giat melakukan CSR. Tujuannya adalah untuk membangun opinipublik yang positif terhadap perusahaannya dengan berusaha untuk tetapmenunjukkan kepada masyarakat bahwasanya Ia juga peduli terhadap kemajuandan kesejahteraan masyarakat. salah satu program CSR CCAI-CJ yang masihberjalan sampai saat ini adalah Coke Farm.Coke Farm adalah salah satu kegiatan CSR CCAI-CJ yang dirancanguntuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani di wilayah sekitar CCAI-CJ.Program ini dipilih berdasarkan pertimbangan potensi bahwa sebagian masyarakatmungkin bisa menggantungkan kegiatan pertaniannya dengan adanya lahankosong di area Deep Well. Coke Farm bertujuan untuk memberdayakankomunitas lokal di sekitar pabrik CCAI-CJ melalui pelatihan pertanian, sekaligusturut melestarikan lingkungan dengan menanam berbagai macam pohon untukpenghijauan.Selama ini CCAI-CJ belum pernah melakukan evaluasi untuk melihatsejauh mana pencapaian program CSR Coke Farm untuk pembangunan citranya.CCAI-CJ dalam setiap bulan dan tahunnya hanya membuat laporan Coke Farmsebagai berikut:Dengan tidak adanya evaluasi terhadap pembangunan citra, maka tidakada pula hasil dari seberapa besar pengaruh CSR Coke Farm terhadap citra yangdiperoleh.Evaluasi merupakan keharusan untuk setiap program atau kegiatan yangdilaksanakan PR untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi program (Hadi, 2011:145). Dalam hal ini evaluasi yang dilakukan adalah untuk melihat pencapaianpembangunan citra dari program CSR yang dilakukan. Berdasarkan hasil evaluasiitu bisa diketahui apakah program bisa dilanjutkan, dihentikan, atau dilanjutkandengan melakukan perbaikan dan penyempurnaan. Namun, dalam CSR perludiingat bahwa evaluasi bukan hanya dilakukan terhadap penyelenggaraan programatau kegiatannya belaka. Melainkan juga dievaluasi bagaimana sikap stakeholderyang terlibat terhadap organisasi yang berpengaruh terhadap citra. Jika dalampelaksanaannya tidak berpengaruh terhadap citra perusahaan, maka perludilakukan perbaikan untuk memodifikasi program menjadi lebih efektif sebagaialat komunikasi untuk membangun citra.Penelitian ini diharapkan dapat membantu mengevaluasi sejauhmanaprogram CSR yang telah dilaksanakan dapat berpengaruh pada persepsi positifmasyarakat yang menjadi sasaran program terhadap citra CCAI-CJ.Penelitian ini menggunakan pemikiran tentang CSR untuk pembangunancitra yang menggambarkan bagaimana terbentuknya citra melalui CSR. Darikonsep triple botton line dalam CSR yang mengacu pada bidang sosial danlingkungan akan menghasilkan citra sosial dan citra ramah lingkungan. Penelitianini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan model evaluasiCIPP (context, input, process, product), yang nantinya bisa menunjukkanefektivitas program CSR Coke Farm untuk membangun citra.Penelitian ini dilakukan dengan melalui wawancara mendalam kepada PROfficer CCAI-CJ sebagai informan untuk menggali informasi mengenai prosesperencanaan hingga proses pengomunikasian CSR. Selain itu, dalam penelitian inijuga menggunakan dua jenis populasi, yakni masyarakat dan petani penggarapCoke Farm untuk mengukur bagaimana citra CCAI-CJ terbentuk di matastakeholder melalui program Coke Farm.Penelitian ini dilakukan dengan melalui wawancara mendalam kepada PROfficer CCAI-CJ sebagai informan untuk menggali informasi mengenai prosesperencanaan hingga proses pengomunikasian CSR. Selain itu, dalam penelitian inijuga menggunakan dua jenis populasi, yakni masyarakat dan petani penggarapCoke Farm untuk mengukur bagaimana citra CCAI-CJ terbentuk di matastakeholder melalui program Coke Farm.ISIDari hasil kuesioner menunjukkan bahwa citra sosial dari CCAI-CJ adalahcenderung negatif, citra ramah lingkungan juga menunjukkan hasil yangcenderung negatif. Sedangkan sikap responden terhadap CCAI-CJ adalah negatif.Dari hasil perolehan citra tersebut akan dijadikan ukuran untuk evaluasi, yangmana untuk membuktikan dari apa yang sudah PR lakukan dalam kinerjanyasebagai upaya untuk membangun citra dengan hasil yang didapatkan di lapangan.Jadi, ketika PR sudah melakukan upaya dengan melakukan tahapan-tahapandalam CSR tetapi citranya negatif, hal ini dianggap bahwa Coke Farm tidakefektif dalam membangun citra.Evaluasi yang dilakukan adalah menggunakan model CIPP, yang manadari masing-masing konsep dan tahapan dalam program CSR akandikelompokkan ke dalam context, input, process, dan product. Evaluasi yangdilakukan adalah untuk mengukur efektivitas program Coke Farm untukpembangunan citra. Sebab, kinerja PR akan mempengaruhi bagaimana citraterbentuk. Dalam Kolom CIPP, akan diberikan nilai 1 untuk kinerja PR yangsudah sesuai dengan ukuran efektivitas dan nol untuk yang tidak sesuai. Ukuranefektivitas dijadikan sebagai patokan untuk mengevaluasi program CSR CokeFarm, yang dilihat dari upaya-upaya yang dilakukan PR untuk membangun citra.Sebab, kinerja PR akan mempengaruhi jalannya proses Coke Farm mulai daritahapan perencanaan sampai dengan reporting. Jalannya proses perencanaansampai dengan reporting yang baik itulah yang akan mempengaruhi bagaimanapembangunan citra untuk CCAI-CJ. Dari ukuran efektivitas tersebut, diberikannilai satu untuk kinerja PR yang sudah sesuai dengan ukuran efektivitas, dan nilainol untuk yang tidak sesuai. Hasilnya menunjukkan bahwa Coke Farm tidakefektif untuk membangun citra CCAI-CJ dengan jumlah keseluruhan nilai yanghanya mendapatkan 3 dari 30 indikator yang dibedakan dalam context, input,process, dan product. Banyak kinerja PR yang tidak sesuai dengan ukuranefektifitas. PR belum melakukan upaya-upaya untuk mengelola CSR Coke Farmsecara maksimal demi mencapai keberhasilan dalam pembangunan citra.Berikut ini adalah hasil evaluasi yang dibedakan ke dalam context, input, process,dan product:a. Context: PR CCAI-CJ sudah menjalankan CSR sesuai dengan konseptriple botton line dan menggunakan prinsip-prinsip CSR yang meliputisustainability, accountability, dan transparency dalam program CokeFarm. PR memaknai CSR dari sisi kehumasan, tetapi pada kenyataannyaPR tidak mampu menjalankan Coke Farm sesuai dengan konsep PR yangmemiliki tujuan untuk citra, ditunjukkan dengan PR yang tidak mencobaberinovasi untuk memodifikasi program Coke Farm yang dirancang pusatuntuk disesuaikan dengan wilayah beroperasinya CCAI-CJ, PR tidakmelakukan analisis stakeholder dan adanya latar belakang yang tidakcukup kuat karena tidak berdasarkan riset. PR juga tidak dapat mengelolakegiatan-kegiatan di Coke Farm dengan baik. Dari evaluasi untuk context,mendapatkan jumlah nilai 1, yang menunjukkan bahwa konsep dantahapan yang dilakukan untuk program CSR Coke Farm tidak efektifuntuk pembangunan citra CCAI-CJ.b. Input: PR tidak melakukan tahapan perencanaan yang meliputi awarenessbuilding, CSR assessment, dan CSR manual. PR juga tidak melakukananalisis masalah dan tidak menyediakan SDM yang handal untuk CokeFarm. PR bersikap pasif dengan hanya mengikuti perencanaan dari pusattanpa mencoba untuk berinisiatif melakukan tahapan perencanaan dananalisis masalah untuk disesuaikan dengan keadaan wilayah di CCAI-CJ.Dari evaluasi untuk input mendapatkan jumlah nilai 0, menunjukkanbahwa indikator yang dilakukan dalam input untuk program CSR CokeFarm tidak efektif untuk pembangunan citra CCAI-CJ.c. Process: PR tidak mengalokasikan budget untuk Coke Farm. PR tidakmenjalankan tanggung jawabnya secara maksimal, terlihat dari tidakadanya time schedule yang dibuat untuk periode tertentu sebagai panduanuntuk melaksanakan kegiatan, PR juga tidak melakukan salah satu tahapandalam implementasi yaitu internalisasi. PR tidak dapat mengelola danmenjalin komunikasi yang baik dengan petani karena masih terdapatkonflik yang terjadi yang terjadi. PR tidak melibatkan banyak stakeholderuntuk terlibat di dalam Coke Farm secara langsung. PR sudah melakukantahapan monitoring tetapi tidak mencoba melakukan perbaikan dari hasilmonitoring yang telah didapatkan. Tahapan reporting juga sudahdilakukan, akan tetapi PR tidak melakukan evaluasi untuk melihatkeberhasilan program dalam membangun citra. Dari evaluasi untukprocess mendapatkan jumlah nilai 1, menunjukkan bahwa indikator yangdilakukan dalam process untuk program CSR Coke Farm tidak efektifuntuk pembangunan citra CCAI-CJ.d. Product: Program CSR Coke Farm tidak mampu membangun citra positifCCAI-CJ, yang dikarenakan PR tidak mendayagunakan kemampuannyadengan memanfaatkan CSR sebagai alat komunikasi untuk pembangunancitra, PR tidak dapat menyampaikan pesan tentang citra yang inginditampilkan kepada stakeholder, yang ditunjukkan dengan rendahnyapengetahuan masyarakat tentang program-program CSR yang dijalankanCCAI-CJ dan rendahnya pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan yangterdapat di Coke Farm karenakan PR belum mampu memanfaatkansaluran-saluran komunikasi yang ada secara efektif. Selain itu, PR tidakdapat memanfaatkan output yang telah didapatkan untuk dijadikan sebagaisarana pembangunan citra melalui publisitas di media, Coke Farm tidakmendapat dukungan penuh dari masyarakat yang ditunjukkan dari sikapmasyarakat yang banyak negatif, masyarakat juga belum merasakanmanfaat sosial dan lingkungan dari Coke Farm. Pada akhirnya Coke Farmbelum mampu mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan,sehingga Coke Farm tidak dapat mempengaruhi terbentuknya citra positifperusahaan dan tidak dapat memberikan manfaat bagi CCAI-CJ untukpembangunan citranya, ditunjukkan dengan citra sosial CCAI-CJ yangcenderung negatif dan citra ramah lingkungan yang juga cenderungnegatif. Dari evaluasi untuk product mendapatkan jumlah nilai 0,menunjukkan bahwa indikator yang dilakukan dalam product untukprogram CSR Coke Farm tidak efektif untuk pembangunan citra CCAICJ.PENUTUPPR CCAI-CJ tidak pernah melakukan evaluasi untuk melihat citra yangberhasil dibangun dari program CSR Coke Farm yang telah dijalankan. Citramerupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap praktisi PR. Dengan tidak adanyaevaluasi, PR CCAI-CJ tidak dapat mengetahui citra yang terbentuk di matastakeholder. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif,yang melibatkan 40 responden dan satu orang informan yang merupakan PRCCAI-CJ. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui citra CCAI-CJmelalui pelaksanaan kegiatan CSR Coke Farm di kalangan stakeholder eksternal.Model CIPP adalah model dengan decision oriented evaluation, dimanapeneliti harus memberikan keputusan untuk program mengenai apakah programakan dihentikan, dilanjutkan, dan dimodifikasi. Untuk program Coke Farm ini,keputusan yang diambil adalah PR perlu melakukan modifikasi untuk programCoke Farm agar mendapatkan hasil yang efektif untuk pembangunan citra CCAICJ.Modifikasi untuk Coke Farm dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:1. PR sebaiknya menyediakan SDM yang handal untuk dibentuk dalamstruktur organisasi yang dikhususkan untuk Coke Farm agarpengelolaan dan pelaksanaan dapat terkontrol baik dengan adanyaSDM yang difokuskan untuk membantu PR dalam Coke Farm.2. PR sebaiknya menambahkan jumlah petani yang menjadi targetsasaran dari Coke Farm, karena pada saat ini jumlah yang menjaditarget sasaran masih tergolong sangat kecil. Dengan menambahkantarget sasaran akan banyak memberikan manfaat bagi masyarakatyang sebagian merupakan petani.3. PR bisa melibatkan masyarakat sekitar untuk ikut dalam beberapakegiatan yang dilakukan di Coke Farm, misalnya saja untuk kegiatanpelatihan dan penyuluhan tentang pertanian. Kegiatan tersebut bisadilakukan dengan mengajak banyak masyarakat sekitar yang bukanhanya petani penggarap Coke Farm saja. Dengan begitu masyarakatsekitar akan merasa dilibatkan dan mengurangi kecemburuan sosialyang ada.4. PR sebaiknya membuat jadwal kegiatan yang dikhususkan untukpetani untuk periode waktu tertentu, agar kegiatan yang dilakukanpetani dapat berjalan dengan jelas dan teratur sesuai dengan jadwalyang telah dibuat PR. Sebab, ketika petani tidak dijadwalkan untukdatang ke Coke Farm maka petani itu tidak akan setiap hari datanguntuk terus mengawasi tanamannya, dan PR menyatakan jika itukesalahan dari petani. Padahal itu juga merupakan kesalahan PR yangtidak membuat jadwal tetap bagi petani.5. PR bisa mengajak peserta plant visit ke lokasi Coke Farm untukmelihat langsung kegiatan yang ada di dalamnya sebagai upaya untukmengomunikasikan Coke Farm kepada publik, seperti yang telahdilakukan oleh Plant Coca-Cola di Bandung. Dengan mengajakpeserta plant visit ke lokasi Coke Farm akan menjadikan banyakorang yang mengetahui akan adanya Coke Farm.Penelitian ini mengambil kesimpulan bahwa PR CCAI-CJ tidak bisamemanfaatkan CSR Coke Farm untuk kepentingan citra. CSR dijalankan hanyauntuk memenuhi kewajiban CCAI-CJ yang mana sebagai anak perusahaan harusmematuhi kebijakan dari pusat dan mematuhi peraturan perundang-undangan daripemerintah, tanpa melakukan upaya-upaya lebih lanjut sesuai dengan konsep PRuntuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan citra. Coke Farm yang telahdijalankan sejak tahun 2009 tidak mampu menghasilkan citra positif, dibuktikandari citra sosial CCAI-CJ yang cenderung negatif dan citra ramah lingkunganyang juga cenderung negatif. Coke Farm juga tidak mampu membuat masyarakatmempunyai sikap yang positif terhadap CCAI-CJ, yang ditunjukkan dengan sikapmasyarakat yang banyak negatif terhadap CCAI-CJ.Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada PR CCAI-CJ,yakni PR CCAI-CJ tidak pernah melakukan riset untuk perencanaan programCoke Farm, semuanya hanya berdasarkan asumsi belaka. Citra yang terbentukdari program Coke Farm juga diketahui hanya berdasarkan asumsi PR belaka.Kondisi ini berbanding terbalik dengan dunia PR yang sesungguhnya, dimanapada setiap kegiatan harus diawali dengan riset untuk bisa menentukan masalahyang jelas dan spesifik. Selain itu, CSR yang seharusnya bisa dijadikan sebagaialat komunikasi untuk pembangunan citra, tidak dapat dimanfaatkan baik oleh PR.Coke Farm tampak berjalan sia-sia dengan tidak mampu menghasilkan penilaianyang positif dari stakeholder, dimana PR menjalankan program ini tidak secarasungguh-sungguh. Banyak tahapan penting yang seharusnya dilakukan namuntidak dilakukan. Pengelolaan program Coke Farm juga masih kacau, tidak adanyaSDM handal yang disediakan, banyak kegiatan yang tidak dijalankan, tidakmampu mengelola komunikasi yang baik sehingga masih sering menghasilkankonflik. Itulah beberapa contoh kecil yang sangat fatal apabila disepelekan olehseorang praktisi PR. Karena hal-hal tersebut juga akan turut mempengaruhikeberhasilan program. Keberhasilan program pada akhirnya akan berpengaruhterhadap terbentuknya citra positif perusahaan.DAFTAR PUSTAKAArafat, Wilson. (2006). Behind A Powerful Image : Menggenggam Strategi danKunci-kunci Sukses Menancapkan Image Perusahaan yang Kokoh. Yogyakarta :Penerbit Andi.Basuki, Sulistyo. (2006). Metoda Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.Cutlip, Center, dan Broom. (2006). Effectively Public Relations. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Djam’an Satori Dan Aan Komariah. (2009). Metode Penelitian kualitatif.Bandung: Alfabeta.F. Rachmadi. (1996). Public Relation dalam Teori dan Praktek. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.Mardalis. (2004). Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: PT.Bumi Aksara.Moleong, J. Lexy. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT RemajaRosdakarya Offset.Mudrajat Kuncoro. (2001). Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi Untuk Bisnisdan Ekonomi. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.Mutofin. 2010. Evaluasi Program. Bandung: Laksbang Presindo.Soemirat, Soleh dan Elvirano Ardianto. (2003). Dasar-Dasar Public Relation.Bandung : Remaja Rosdakarya.Susanto, A.B. (2009). Reputation-Driven Corporate Social Responsibility,Pendekatan Strategic Management dalam CSR. Jakarta: Esensi Erlangga Grup.Patton, Michael Quinn. (2006). Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta: PustakaPelajar.Ruslan, Rosady. (2006). Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Ruslan, Rosady. (1998). Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi,konsepsi dan aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers.Tashakkori, Abbas dan Charles Teddlie. (2010). Mixed Methodology. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Untung, Hendrik Budi. (2008). Corporate Social Responsibility. Jakarta : SinarGrafika.Wibisono, Yusuf. (2007). Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (Corporate SocialResponsibility). Gresik: Fascho Publishing.SkripsiIbrahim, Adi Kurnia. (2011). Strategi Public Relations PT TelekomunikasiIndonesia, Tbk. Dalam Program CSR Pembinaan Usaha Kecil. Skripsi. ProgramStudi Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Universitas Bina Nusantara.Kumalasari, Manik Andiani. (2010). Implementasi Program Community DialoguePlatform Sebagai Upaya Membangun Goodwill Antar Stakeholder untuk RealisasiPerencanaan Program Corporate Social Responsibility Komunitas Industri diKecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Skripsi. Program Studi IlmuKomunikasi. Semarang: Universitas Diponegoro.Majid, Paramita. (2012). “Pengaruh Penerapan Corporate Social Responsibility(CSR) Terhadap Citra Perusahaan Pada PT. Hadji Kalla Cabang Sultan Alaudin,Makassar”. Skripsi. Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial danIlmu Politik. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Identifying the Motivational Factors Influence The Consumption of Buying Items in Game Defences of The Anchient 2 Putri, Rieda Anindita; Setyabudi, Djoko; Purbaningrum, Dwi; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.633 KB)

Abstract

Game is one form of implementation of the technological advances in the realm ofcommunication media. The game can be used as a medium conveys messages and allow forfeedback from the message. Game is also designed as a means of entertainment to fill inspare time made universal. DotA2 is multiplayer game with the highest user in Indonesia.The game is themed multiplayer online battle arena video games, with the format of threedimensional(3D). In addition to playing the game, players can buy items that are in the gameas a complementary game. Player purchase with virtual money and buy in a virtual store.Amount DotA2 spent in the virtual shop is amazing. In fact, the goods they purchase invirtual shop could not be held and owned real, whereas money spent not a little.This study aims to determine the motivating factors that influence purchasingbehavior items in the game Defense of the Ancients 2. This quantitative explorative studycollecting primary data from 100 people with a research instrument questionnaire. Analysisof the data used is the technique of factor analysis. A total of 12 factors have been tested withKMO and Bartlett's Test unknown value is 0.963 with 0.000 significance. Then through acalculation model of Principal Component Analysis (PCA) obtained two groups of factorsthat includes 12 factors tested, in other words, all factors tested escaped. All of these factorscontributed 77.346 per cent of the purchase motivation in Game DotA2 items.Personal Interest Factor is the most powerful motivating factor. These factors areknown to contribute as much as 65.745%. This factor is labeled Personal Interest Factorbecause it consists of motivated interest in the items on DotA2, the ease of access to thevirtual shop DotA2, and feelings of pleasure that is in the player when transacting in thevirtual shop. The fourth main variables of the next factor is the decoration, benefits,relatedness, and fun including the Pleasure Factor which is a form of interest because it givespleasure.
PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI REMAJA Cahya Sakti, Bulan; Yulianto, Muchammad
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.355 KB)

Abstract

Instagram hadir sebagai media sosial yang menawarkan berbagai macam fitur dan fasilitas yang berbeda dengan media sosial pendahulunya. Saat ini Instagram memiliki jumlah pengguna aktif dengan pertumbuhan yang lebih pesat daripada Facebook. Berdasar survey yang dilakukan oleh firma penelitian pemasaran, GlobalWeb Index, pada kuartal ke empat 2013, tercatat Facebook hanya memiliki pertumbuhan pengguna aktif sebesar 3 persen, sedangkan Instagram mencapai 23 persen. Pengguna aktif Instagram yang dominan adalah remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan Instagram oleh remaja, dalam pembentukan identitas diri mereka. Teori yang digunakan adalah Teori Interaksionalisme Simbolik. Tipe penelitian kualitatif ini adalah Diskriptif Kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah Indepth Interview dan Studi Pustaka, jumlah informan yang diambil adalah 5 orang remaja, memiliki akun Instagram dan merupakan pengguna aktif Instagram. Remaja memanfaatkan Instagram sebagai sarana dalam mencari jati diri. Remaja yang menggunakan media sosial Instagram, memanfaatkan berbagai macam fasilitas yang dimiliki oleh Instagram untuk mengkontruksi identitas dirinya, dan sebagai wadah untuk unjuk diri. Pembentukan identitas diri dalam media sosial Instagram tersebut dipengaruhi oleh pikiran, pengalaman, dan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, disarankan dalam memanfaatkan media sosial Instagram dapat dimanfaatkan dengan bijak, dan sesuai dengan norma budaya yang ada di Indonesia. Remaja dapat menggali lebih dalam potensi dirinya, dan mencari berbagai macam informasi dalam Instagram untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan dalam hal positif.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN IKLAN POP- UP DIHINDARI Saraswati, Ayu; Pradekso, Tandiyo; Setyabudi, Djoko; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.331 KB)

Abstract

Tingginya penggunaan internet saat ini, membuat sejumlah perusahaan dan pengiklan melirik internet untuk menjadi media beriklan dengan kelebihan yang ditawarkan. Banyak macam iklan di internet, salah satunya adalah iklan pop-up. Iklan pop-up adalah iklan yang muncul secara tiba-tiba di halaman situs, yang mana ukuran dari iklan pop-up hampir menutupi halam situs. Iklan pop-up kerap kali dianggap mengganggu dan dihindari.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan iklan pop-up dihindari. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksploratif dengan metoda studi kasus. Konsep pemikiran untuk acuan penelitian ini menggunakan konsep Louise Kelly dalam penelitiannya “Advertising Avoidance in the Online Social Networking Environment”. Data penelitian ini diperoleh dari in-depth interview terhadap lima informan dengan kriteria pengguna aktif internet dan mengetahui mengenai iklan pop-up.Temuan penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan iklan pop-up dihindari adalah mitos buruk dan kekhawatiran terhadap iklan pop-up. Banyaknya mitos mengenai iklan pop-up yang menyatakan bahwa terdapat virus dalam iklan pop-up menyebabkan iklan pop-up dihindari, di samping hal tersebut kekhawatiran pengguna internet terhadap kuota yang akan habis jika melihat dan mengklik iklan pop-up juga membuat para pengguna internet berfikir dua kali untuk mengklik iklan pop-up. Pesan iklan kurang sesuai, dalam hal ini terdapat dua hal mengenai pesan iklan pop-up yang menjadi alasan iklan pop-up dihindari, yaitu pesan iklan yang menipu dan pesan iklan yang tidak sesuai dengan segmentasi produk dari iklan tersebut. Kemunculan iklan pop-up yang kurang menarik akan membuat para pengguna internet menghindari iklan dan kemunculan iklan secara berulang-ulang juga membuat para pengguna internet tidak ingin secara berulang-ulang membaca iklan karena merasa sudah mengetahui isi pesan. Kurang mengetahui mengenai regulasi iklan di internet, pengguna internet merasa jika media yang digunakan untuk beriklan tidak dapat dipertanggungjawabkan membuat para pengguna internet tidak ingin membaca iklan dan lebih memilih menghindarinya, dan resiko pada brand, iklan pop-up adalah iklan yang dihindari dan dianggap mengganggu hal ini berimbas kepada produk yang tengah ditawarkan, karena dianggap produk yang mengganggu. Key words : iklan pop-up, iklan di internet, iklan dihindari, eksploratif
Analisis Resepsi Pembaca Ramalan Zodiak di Ask fm Lightgivers Dela Rosa, Teofani; Qurrota Ayun, S.I.Kom, MA, Primada
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.473 KB)

Abstract

Seiring dengan perkembangan atau perubahan teknologi terjadi juga perubahan pola konsumsi media. Hal ini juga merubah cara orang dalam membaca ramalan zodiak. Ada satu kebiasaan atau mungkin bisa dikatakan suatu hal yang tetap dianggap menarik oleh beberapa orang di masyarakat. Ketika media berkembang, disitu termasuk didalamnya media sosial, kebiasaan membaca ramalan zodiak tetap ada dan bertahan dengan baik namun medianya berubah. Hal ini terbukti dari salah satu media sosial yang sedang marak digunakan oleh mereka para kaum muda, yakni Ask fm Lightgivers, adalah salah satu akun Ask fm berisi mengenai ramalan zodiak dan banyak diminati oleh para pengguna Ask fm, terbukti dari akunnya yang kini sudah di verified oleh pihak perusahaan Ask fm. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk memahami keragamanan resepsi para pembaca ramalan zodiak di Ask fm Lightgivers. Adapun mereka yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah pria dan wanita, usia 22-26 tahun, yang memiliki latar belakang berbeda berkaitan dengan kepercayaan terhadap ramalan zodiak. Melalui analisis resepsi, penelitian ini merujuk pada paradigma interpretative. Penelitian ini menggunakan landasan Teori Kepribadian Implisit yang memfokuskan perhatian pada penerimaan pembaca mengenai dirinya berdasarkan ramalan zodiak dan Konsep Level Komunikasi Intrapersonal yang menjelaskan bagaimana pemaknaan pembaca berkaitan dengan kepercayaan, sikap dan harapan terhadap ramalan zodiak. Serta Teori Media Baru yang menjelaskan bagaimana penggunaan media kini telah berubah, yang dahulu media konvensional kini menjadi media baru. Hasil penelitian ini menunjukkan dalam memaknai ramalan zodiak di Ask fm Lightgivers muncul tiga tipe pemaknaan, yakni dominant—hegemonic, negotiated reading dan oppositional reading. Latar belakang kepercayaan para pembaca mempengaruhi bagaimana pemaknaan pembaca terhadap ramalan zodiak yang ada di Ask fm Lightgivers. Latar belakang para informan yang sejak kecil sudah mengetahui tentang ramalan zodiak juga ikut mempengaruhi pemaknaan mereka terhadap ramalan zodiak di Ask fm Lightgivers. Dimana dukungan orang tua dan lingkungan pertemanan ikut memberi pengaruh pemaknaan mereka terhadap ramalan zodiak. Berkaitan dengan level komunikasi intrapersonal, para informan yang masuk di kategori dominant—hegemonic yang percaya terhadap ramalan zodiak sampai pada tahap memiliki harapan terhadap ramalan zodiak. Informan yang masuk pada kategori negotiated reading yang percaya namun masih mempertimbangkan ramalan zodiak tersebut dan menyesuaikan terhadap keadaan dirinya sampai pada tahap perubahan sikap dan informan yang masuk pada kategori oppositional reading yang tidak mempercayai ramalan zodiak sama sekali dan menganggap bahwa ramalan zodiak di Ask fm Lightgivers adalah penjelasan mengenai sifat-sifat umum manusia bukan sebuah ramalanhanya sampai pada tahap belief. Berkaitan dengan penggunaan media dalam mengakses informasi, ditemukan bahwa kelima informan kini menggunakan media baru untuk mendapatkan informasi mengenai ramalan zodiak. Penggunaan media ini berkaitan dengan peralihan penggunaan dari media konvensional ke media baru. Sebelumnya ramalan zodiak didapatkan dari media seperti koran dan majalah, kini informasi tersebut didapatkan menggunakan media baru, khususnya media sosial seperti Ask fm.

Page 96 of 157 | Total Record : 1563