cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Nilai Multikultural Penamaan Kulineran Etnik Jawa: Implikasinya terhadap Pendidikan Bahasa dan Kesadaran Sosial Budaya Benedictus Sudiyana; Marjito Marjito; Mukti Widayati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.8227

Abstract

The naming of culinary with Javanese ethnic flair is not without meaning, but has certain values. However, until now there has been no adequate study that reveals these ethnic values. This study aims to describe the types of culinary naming, the multicultural values contained therein and their implications for language education and socio-cultural awareness. This study uses a qualitative approach with a descriptive method, involving 62 culinary names collected through observation, reading documentation, and notes. Data were analyzed using a social semiotic framework to reveal the context of experiential, interpersonal, and textual meaning. The results of the study showed six main types of naming, such as greetings, number of words, cultural influence, old names (legends), prioritizing location and prioritizing merchandise. These types of naming reflect eight multicultural values; cultural harmony, tolerance, and innovation of tradition. This naming also supports the preservation of local languages, inclusivity, appreciation of local wisdom, intercultural tolerance, cultural adaptation, gender equality, historical preservation, and social community. This finding has implications for language education such as vocabulary learning, semiotics and meaning, communication in cultural interactions, and linguistic creativity. Implications for the aspect of socio-cultural awareness are seen in awareness of cultural diversity, local identity, social interaction, cultural education, and social harmony. Abstrak Penamaan kulineran bernuansa etnik Jawa bukan tanpa makna, akan tetapi memiliki nilai-nilai tertentu. Namun, hingga kini belum terdapat kajian yang memadai yang mengungkap nilai-nilai keetnikan tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis penamaan kulineran, nilai-nilai multikultural yang terkandung di dalamnya dan implikasinya terhadap pendidikan bahasa serta kesadaran sosial budaya. Penelitian ini menggunakan dengan metode deskriptif kualitatif, melibatkan 62 nama kulineran yang dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi baca, dan catat. Data dianalisis menggunakan kerangka semiotika sosial untuk mengungkap konteks makna pengalaman, interpersonal, dan tekstual. Hasil penelitian menunjukkan enam jenis penamaan utama yaitu sapaan, jumlah kata, keterpengaruhan budaya, nama tua (legendaris), pengutamaan lokasi dan pengutamaan barang dagangan. Jenis-jenis penamaan tersebut merefleksikan delapan nilai nilai multikultural; harmoni budaya, toleransi, dan inovasi tradisi. Penamaan ini juga mendukung pelestarian bahasa lokal, inklusivitas, penghargaan terhadap kearifan lokal, toleransi antarbudaya, adaptasi budaya, kesetaraan gender, pelestarian sejarah, dan sosial kemasyarakatan. Temuan ini berimplikasi pada pendidikan bahasa seperti pembelajaran kosakata, semiotika dan makna, komunikasi dalam interaksi budaya, dan kreativitas linguistik. Implikasi pada sspek kesadaran sosial budaya terlihat pada kesadaran atas kebergaman budaya, identitas lokal, interaksi sosial, edukasi budaya, dan harmoni sosial.
PERGESERAN PERAN BAHASA INDONESIA Fatimah Djajasudarma
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v1i1.2

Abstract

Pergeseran peran bahasa Indonesia dalam penelitian ini dikaitkan dengan peran dan fungsi bahasa Indonesia dalam bidang ekonomi atau bisnis, dan orang, atau lainnya. Perubahan bahasa berarti perubahan budaya. Kata-kata pinjaman akan menyebabkan pergeseran peran bahasa Indonesia oleh bahasa asing akibat kemunculan budaya global di Indonesia. Pergeseran peran bahasa Indonesia berhubungan dengan kehidupan sosial dalam hal penginternasionalan budaya. Bahasa Inggris akan menguasai seluruh dunia di masa globalisasi karena bahasa Inggris adalah bahasa dunia yang digunakan oleh seluruh negara saat melakukan kerja sama. Hal ini menimbulkan banyak hambatan bagi Indonesia untuk mempertahankan bahasa dan budaya mereka. Penelitian ini membahas pergeseran kata-kata Indonesia oleh kata-kata Inggris, terutama dalam bidang bisnis dan nama orang akibat budaya pembaratan dan penginternasionalan yang dipandang memiliki status sosial yang lebih tinggi. Penelitian ini menggunakan data deskriptif dan pendekatan determinisme linguistik dalam kaitannya dengan ide pikiran dan budaya karena bahasa berhubungan erat dengan budaya. Kemunculan kosakata baru menandakan keberadaan hal baru dalam budaya (Humboldt, 1789-1835). Ide Humboldt nerupakan pemicu penelitian dan data yang ada dianalisis berdasarkan teori Sapir-Whorf (1956), Mahyuni (2007), Samuel (2008), Johnson (2000), Searl (1998), dan Djajasudarma (2009).
Labelisasi Portal Berita Kompas.com terhadap Jennifer Dunn Dwi Ira Ningrum Ana Mardiana
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 1 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i1.963

Abstract

This paper discusses Kompas.com news labelling toward Jennifer Dunn. The research questions that discussed in this paper are how does the form of lexical choices in labelling "pelakor" toward Jennifer Dunn and what ideology was built by Kompas.com in labelling "pelakor" toward Jennifer Dunn? The focus of this paper is the lexical choice found in Kompas.com news labelling toward Jennifer Dunn and the ideology built by Kompas.com. In this paper, the writer uses the method of critical discourse analysis (CDA) by Norman Fairclough (1992) and uses a qualitative descriptive approach. The results of this paper are that Kompas.com news labelling toward Jennifer Dunn is a negative label or a word that has a negative connotation because the word ‘pelakor' is identical with destroying other people's relationship, and the ideologies built by Kompas.com is to perpetuate patriarchally. AbstrakPenelitian ini membahas tentang Labelisasi Portal Berita Kompas.com terhadap Jennifer Dunn. Permasalahan yang dibahas dalam artikel penelitian ini adalah bagaimana bentuk pemilihan kata yang terdapat dalam labelisasi “pelakor” pada Jennifer Dunn dalam Kompas.com dan bagaimana ideologi yang dibangun oleh Kompas.com dalam pelabelan “pelakor” pada Jennifer Dunn? Fokus dari penelitian ini adalah pemilihan kata atau lexical choices yang terdapat pada labelisasi portal berita Kompas.com terhadap Jennifer Dunn serta ideologi yang dibangun oleh Kompas.com dalam pelabelan terhadap Jennifer Dunn. Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode analisis wacana kritis (AWK) oleh Norman Fairclough (1992) dan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah labelisasi yang dilakukan oleh portal berita Kompas.com terhadap Jennifer Dunn adalah label negatif atau kata yang berkonotasi negatif sebab kata pelakor identik dengan perusak hubungan orang lain, serta ideologi yang dibangun oleh Kompas.com adalah melanggengkan nilai patriarki.
Bahasa Informal dalam WhatsApp Grup sebagai Sarana Pemerolehan Bahasa Bagi Pemelajar BIPA di Indonesia Defina Defina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3614

Abstract

One of the current means of communication that students widely use is WhatsApp (WA), and in communicating, they often use non-standard language. This paper identifies 1) non-standard words, affixes, phrases, and rephrases with their abbreviations, 2) slang vocabulary and its abbreviations, and 3) regional and foreign vocabularies often obtained by BIPA students in WA and their abbreviations. This analytical descriptive research method analyzes slang, foreign, regional, and abbreviations obtained through WA. The informants are KNB students from the 2018/2019 class, totaling six people. The data collection technique was that they sent conversations in WA groups for two days, 18-19 June 2019, and wrote down the words they had just obtained. As a result, 1) standard-non-standard root words, affixes, and abbreviated phrases are in 7 forms, while repeated words are in two forms; 2) the slang vocabulary obtained is in the form of phonemes, abbreviations, and acronyms; 3) foreign, regional, and mixed vocabulary obtained in 5 forms and there are original forms. In conclusion, the language obtained by BIPA students is not only found in slang but also in regional and foreign expressions. The research implication is that the WA group can be a means of acquiring a non-formal variety of Indonesian for international students. AbstrakSalah satu sarana berkomunikasi saat ini yang banyak digunakan oleh mahasiswa adalah WhatsApp (WA) dan dalam berkomunikasi mereka sering menggunakan bahasa tidak baku. Tulisan ini mengidentifikasi 1) kata-kata baku-nonbaku, kata berimbuhan, frasa, dan kata ulang dengan penyingkatannya; 2) kosakata gaul dan penyingkatannya, dan 3) kosakata daerah serta asing yang sering diperoleh pemelajar BIPA dalam ber-WA serta penyingkatannya. Metode penelitian ini deskriptif analitis dengan menganalisis kata gaul, asing, daerah, dan singkatan yang diperolehnya melalui WA. Informan adalah mahasiswa KNB angkatan 2018/2019 yang berjumlah 6 orang. Teknik pengumpulan data adalah mereka mengirimkan percakapan dalam grup WA selama dua hari, 18-19 Juni 2019 serta menuliskan kata-kata yang baru mereka peroleh. Hasilnya, 1) kata dasar baku-nonbaku, kata berimbuhan, dan frasa yang disingkat ada dalam 7 bentuk, sedangkan kata ulang dalam dua bentuk; 2) kosakata gaul yang diperoleh ada berupa fonem-fonetik, singkatan, akronim; 3) kosakata asing, daerah, dan campuran yang diperoleh ada dalam 5 bentuk dan ada bentuk aslinya. Simpulan, bahasa yang diperoleh pemelajar BIPA tidak hanya ditemukan bahasa gaul, tetapi juga ungkapan daerah dan asing. Implikasi penelitian adalah grup WA dapat menjadi sarana pemerolehan bahasa Indonesia ragam nonformal bagi mahasiswa asing. 
Syair Lagu Melayu Sambas Karya Bullyan Musthafa sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Muchammad Djarot; Roslan bin Ali; Farninda Aditya
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8317

Abstract

This study aims to describe and analyze the values contained in, as well as the utilization of, Syair Lagu Melayu Sambas (Malay Sambas song lyrics) composed by Bulyan Musthafa as a medium for teaching Indonesian language in elementary schools in Pontianak. The song lyrics such as Passan Nek Allong, Tikannang Urang Tue, and Kaing Lunggi embody strong elements of local cultural values and exhibit linguistic structures that support students’ listening, reading, and writing skills. The research employed a qualitative approach with data collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was carried out using an interactive model consisting of three stages: (1) data reduction, involving the selection and simplification of relevant data; (2) data presentation, in both narrative and visual forms; and (3) conclusion drawing and verification. The findings reveal that the songs Passan Nek Allong, Kaing Lunggi, Tikannang Urang Tue, and Allok Galing Lassong Labban contain diverse religious, moral, social, and educational values that can serve as contextual learning resources. The integration of regional song lyrics into Indonesian language learning not only enhances students’ learning interest and literacy but also instills character values and love for local culture. Teachers use these syair as authentic and contextual texts to create meaningful learning experiences. This study recommends the development of local culture-based teaching materials to improve the effectiveness of Indonesian language instruction at the elementary school level. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis nilai yang terkandung dan pemanfaatan syair lagu Melayu Sambas karya Bulyan Musthafa sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar Pontianak. Lirik-lirik lagu seperti Passan Nek Allong, Tikannang Urang Tue, dan Kaing Lunggi mengandung nilai-nilai budaya lokal yang kuat serta memiliki struktur bahasa yang mendukung keterampilan menyimak, membaca, dan menulis siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif yang terdiri atas tiga tahap: (1) reduksi data, yaitu proses seleksi dan penyederhanaan data yang relevan; (2) penyajian data dalam bentuk naratif atau visual; dan (3) penarikan kesimpulan serta verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syair-syair seperti Passan Nek Allong, Kaing Lunggi, Tikannang Urang Tue, dan Allok Galing Lassong Labban mengandung beragam nilai religius, moral, sosial, dan pendidikan yang dapat dijadikan sumber pembelajaran kontekstual. Integrasi syair lagu daerah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya meningkatkan minat belajar dan literasi siswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter dan kecintaan terhadap budaya lokal. Guru memanfaatkan syair sebagai teks autentik yang kontekstual untuk membangun pembelajaran yang bermakna. Studi ini merekomendasikan pengembangan bahan ajar berbasis budaya lokal untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat dasar.
ANALISIS BERBASIS KORPUS: KOLOKASI KATA-KATA BERMAKNA “PEREMPUAN” DALAM MEDIA SUNDA (MAJALAH MANGLÉ, 2012 – 2013) Susi Yuliawati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v3i2.42

Abstract

Makalah ini membahas kolokasi dan makna dari lima kata (awéwé, istri, mojang, pamajikan, dan wanoja) dalam bahasa Sunda yang bermakna perempuan dari majalah Manglè yang terbit di tahun 2012-2013 melalui pendekatan linguistik korpus. Tujuannya adalah mengidentifikasi distribusi frekuensi penggunaan lima kosakata bermakna perempuan, mengidentifikasi kolokat signifikan berdasarkan frekuensi dan MI score, dan membuat profil semantis untuk setiap kata bermakna perempuan berdasarkan analisis preferensi semantis dan medan makna menurut USAS. Metode yang digunakan adalah rancangan metode gabungan (mixed methods design), artinya penelitian ini menggunakan data statistik yang diperoleh dari analisis korpus, lalu diinterpretasikan lebih lanjut dengan menggunakan pertimbangan kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan kata-kata bermakna perempuan beragam. Kata yang paling sering digunakan adalah pamajikan, sedangkan yang paling sedikit digunakan adalah awéwé. Berdasarkan kolokat siginifkan yang dikategorikan menurut preferensi semantisnya, terdapat kecenderungan yang menunjukkan bahwa masing-masing kata tersebut dikaitkan dengan topik-topik tertentu. Selain itu, jika dilihat berdasarkan prosodi semantisnya, kata mojang cenderung dimaknai positif, istri dan pamajikan negatif, dan awéwé netral.
Implementasi Kesantunan Berbahasa Pedagang Ikan di Kawasan Pesisir Kota Bengkulu Nafri Yanti; Fina Hiasa
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.983

Abstract

This study discusses the application of politeness in the language of fish traders in the coastal area of Bengkulu city. The purpose of this study was to determine the implementation of the language politeness principle used by fish traders located in the coastal area of Bengkulu city. The research method used is descriptive quantitative method. The results of the study are a collection of quantitative data about the implementation of politeness in language in fish traders located in the Coastal Region of Bengkulu City. Based on the results of the study obtained the following data; the average value of politeness application in wisdom maxims is 2.58 or equal to 64%, maximal generosity is 2.27 or equivalent to 57%, maximal award is 2.38 or equal to 60%, maximal simplicity is 2.42 or equivalent with 61%, maximal agreement 2.50 or equal to 63%, maximal conclusion 2.15 or equivalent to 54%. The application of the six maxim politeness politeness is still in the less optimal category. Fish traders in the coastal area of the city of Bengkulu should pay more attention to the application of the six maxims in order to improve their positive image through the communication aspect. AbstrakPenelitian ini membahas tentang Implementasi kesantunan berbahasa pedagang ikan di kawasan pesisir kota Bengkulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Implementasi prinsip kesantunan berbahasa yang digunakan oleh pedagang ikan yang berada dikawasan pesisir kota Bengkulu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitaif deskriptif. Hasil penelitian berupa sekumpulan data kuantitaif tentang Implementasi kesantunan berbahasa pada pedagan ikan yang berada di kawasan Pesisir Kota Bengkulu. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data berikut; nilai rata-rata Implementasi kesantunan berbahasa pada maksim kebijaksanaan 2,58 atau setara dengan 64%, maksim kedermawanan 2,27 atau setara dengan 57%, maksim penghargaan 2,38 atau setara dengan dengan 60%, maksim kesederhanaan 2,42 atau setara dengan dengan 61%, maksim pemufakatan 2,50 atau setara dengan dengan 63%, dan maksim kesimpatian 2,15 atau setara dengan dengan 54%. Penerapan keenam maksim kesantunan berbahasa masih berada pada kategori kurang maksimal. Pedagang ikan di kawasan pesisir kota Bengkulu harus lebih memperhatikan Implementasi keenam maksim tersebut agar dapat meningkatkan citra positif mereka melalui aspek komunikasi.
Optimalisasi Pembelajaran Berbasis Proyek: Penggunaan Aplikasi Sipebi dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia Mohammad Siddiq; Nuryani Nuryani; Mahmudah Fitriyah; Syihaabul Hudaa; Winci Firdaus; Luo Ying
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.5919

Abstract

The limited time in learning activities and the lack of student understanding in writing make this output-based learning often experience obstacles. One of the most common obstacles is the non-achievement of learner output targets. The purpose of writing this article is to present how the Sipebi application can support outcome-based learning activities in Indonesian language courses. The research method used by researchers is mixed method, which is a combination of qualitative and quantitative. The research stages carried out began with the introduction of the Indonesian language course, providing RPS, teaching, practice, evaluation, and solutions provided by the teacher. The results in this learning activity were found that students were able to use the Sipebi application in learning activities. In addition, students get publications in digital newspapers which are the initial purpose of publication. AbstrakKeterbatasan waktu di dalam kegiatan pembelajaran dan kurangnya pemahaman mahasiswa dalam penulisan membuat pembelajaran berbasis luaran sering mengalami kendala. Salah satu kendala yang paling sering terjadi yaitu tidak tercapainya target luaran pemelajar. Tujuan penulisan artikel ini untuk menyajikan bagaimana aplikasi Sipebi mampu mendukung kegiatan pembelajaran berbasis luaran dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti menggunakan mixed method, yaitu gabungan antara kualitatif dengan kuantitatif. Tahapan penelitian yang dilakukan dimulai dengan tahap pengenalan mata kuliah Bahasa Indonesia, pemberian RPS, pengajaran, praktik, evaluasi, dan solusi yang diberikan pengajar. Hasil dalam kegiatan pembelajaran ini didapatkan bahwa mahasiswa mampu menggunakan aplikasi Sipebi dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, mahasiswa mendapatkan publikasi di koran digital yang menjadi tujuan awal publikasinya.
CAMPUR KODE DALAM BAHASA SUMBAWA TALIWANG DI CAKRANEGARA, MATARAM Yenni Febtaria W.
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v2i2.235

Abstract

Penulisan artikel ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan campur kode pada penutur bahasa Sumbawa Taliwang di Cakranegara. Artikel ini memfokuskan pada penentuan penggunaan bahasa yang digunakan di Karang Taliwang dan bentuk campur kode yang mereka gunakan. Sampel dari artikel ini adalah tiga orang. Data diperoleh dan dianalisis dengan menggunakan metode koresponden dengan teknik hubung banding menyamakan dan hubung banding membedakan. Hasil analisis ditemukan sebagai berikut: (1) persentase tertinggi adalah 72,9% penggunaan kata dalam bahasa Sumbawa dan diikuti penggunaan bahasa Sasak (24,49%), bahasa Bali (0%), bahasa Indonesia (3,19%), dan inovasi internal (0,86%). (2) Di Karang Taliwang telah terjadi fenomena campur kode. (3). Fenomena campur kode ini terjadi dalam tataran fonologi, morfologi, leksikal, dan frasa, dan campur kode dalam bahasa Indonesia dalam tataran leksikon dan bentuk baster dari afiksasi.
Leksikon Gejala Covid-19 dalam Bahasa-Bahasa Bidayuhik di Kalimantan Barat Agus Syahrani; Dedy Ari Asfar; Syarifah Lubna; Binar Kurniasari Febrianti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4068

Abstract

This study aims to describe the lexical forms of Covid-19 symptomps in Bidayuhik languages in West Kalimantan, such as Dayak Hibutn, Bidayuh, Bakati’ Palayo, and Kerambai. This type of research is qualitative. The technique used in collecting data are note taking, interview, and study of literature. The technique used in data collection is done by orthographic and phonetic transcripstion. The method used to analyze data is a referential and translational equivalent method. The results of this study indicate that Bidayuhik speakers in West Kalimantan have their own lexicon in naming Covid-19 symptoms. The lexical naming of Covid-19 symptomps are in the form of a lexeme and a combination of words. There are differences in the naming of Covid-19 symptoms between Bidayuhik languages in identifying disease terms, such as cough, influenza, stomach ache, and pneumonia. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk leksikon gejala Covid-19 dalam bahasa-bahasa Bidayuhik yang ada di Kalimantan Barat, seperti Dayak Hibutn, Bidayuh, Bakati’ Palayo, dan Kerambai. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Tulisan ini menggunakan studi kepustakaan dan metode simak dan cakap dalam memperoleh data. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dilakukan dengan pencatatan ortografis dan fonetis. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode padan referensial dan translasional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penutur Bidayuhik di Kalimantan Barat memiliki leksikon tersendiri dalam penamaan gejala Covid-19. Leksikon penamaan gejala Covid-19 ini berbentuk satu leksem dan gabungan kata. Terdapat perbedaan penamaan gejala COVID-19 antarbahasa Bidayuhik dalam mengidentifikasi istilah penyakit, seperti batuk, influenza, sakit perut, dan penyakit pernapasan.