cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Attitudinal Meaning in COVID-19 Local Language Guidelines of Indonesia: A Systemic Functional Linguistic Study Dini Sri Istiningdias; Lia Maulia Indrayani; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Wagiati Wagiati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4050

Abstract

The Ministry of Education and Culture has published 3M's health protocol behavior change guidelines regarding the campaign to prevent COVID-19 transmission in 77 local languages of Indonesia. However, this research only focused on guidelines that used Sundanese as a local language in West Java. This research aimed to identify the types of attitudes and analyze the meanings that appear in these guidelines. The author used the theory of Martin and White (2005), namely the attitude subsystem as part of the appraisal system with Systemic Functional Linguistic approach which showed the author's evaluative attitude towards various things written to lead the readers. The result of this research showed that some information contained judgement both positive and negative side such as the authors found 15 clauses included in the affective indicator of the attitude subsystem in security meaning and four clauses satisfaction meaning. In addition, the authors found 16 clauses included in the attitude subsystem of judgment indicator referring to social esteem and three clauses referring to social sanction. The author also found 12 clauses included in the attitude subsystem of appreciation indicator referring to composition, five clauses referring to valuation, and two clauses referring to reaction. Based on the results of the analysis of each clause listed in the 3M health protocol behavioral change guidelines then the authors conclude that the message conveyed is positive attitude for the society. AbstrakKementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan pedoman perubahan perilaku protokol kesehatan 3M terkait kampanye pencegahan penularan COVID-19 dalam 77 bahasa daerah di Indonesia. Namun, penelitian ini hanya berfokus pada pedoman yang menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa daerah di Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis sikap dan menganalisis makna yang muncul dalam pedoman tersebut. Penulis menggunakan teori Martin and White (2005) yaitu subsistem sikap sebagai bagian dari sistem penilaian dengan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional yang menunjukkan sikap evaluatif penulis terhadap berbagai hal yang ditulis untuk mengarahkan pembaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa informasi mengandung penilaian baik sisi positif maupun negatif seperti, penulis menemukan 15 klausa yang termasuk dalam indikator afektif subsistem sikap bermakna keamanan dan 4 klausa bermakna kepuasan. Selain itu, penulis menemukan 16 klausa yang termasuk dalam subsistem sikap indikator penilaian yang mengacu pada penghargaan sosial dan 3 klausa yang mengacu pada sanksi sosial. Penulis juga menemukan 12 klausa yang termasuk dalam subsistem sikap indikator apresiasi mengacu pada komposisi, 5 klausa mengacu pada penilaian, dan 2 klausa mengacu pada reaksi. Berdasarkan hasil analisis dari setiap klausa yang tercantum dalam pedoman perubahan perilaku protokol kesehatan 3M maka penulis menyimpulkan bahwa pesan yang disampaikan bermakna sikap positif bagi masyarakat.
Kosakata Ideologi dalam Alat Peraga Kampanye Pemilu 2024: Analisis Praktik Kreativitas Bahasa Pauline Dewi Juliani Setyaningsih; Benedictus Sudiyana; Dewi Kusumaningsih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.5267

Abstract

Each election participant uses a large selection of vocabulary to represent the ideology he adheres to in political campaigns. Vocabulary in political campaigns is expressed through campaign props (APK), one of which is in the form of print media. The vocabulary expressions in the campaign props reflect the creativity of the language. The purpose of this study is to describe aspects of vocabulary related to language creativity based on experiential value, relational value, and expressive value from the point of view of us and them ideology. This research is qualitative research. Data in the form of vocabulary containing certain ideologies related to language creativity in the APK for the 2024 election in Surakarta City, Sukoharjo Regency, Karanganyar Regency, Boyolali Regency, and Wonogiri Regency of Central Java province. Data collection using documentation techniques through mobile phone cameras. Data processing uses library techniques, reading techniques, and recording techniques. This study used Van Dijk's ideological box model. The results of research on vocabulary aspects show the existence of experiential value, relational value, and expressive value that utilizes the creativity of language in the form of rhyme, rhythm, alliteration, acronyms, abbreviations, antonyms, synonyms, mixed codes, repetition, metaphor, and hyperbole. Such vocabulary expressions reflect ideological boxes that emphasize the positive on us and the negative on them. AbstrakSetiap peserta pemilu menggunakan banyak pilihan kosakata untuk merepresentasikan ideologi yang dianutnya dalam kampanye politik. Kosakata dalam kampanye politik diekspresikan melalui alat peraga kampanye (APK), salah satunya berbentuk media cetak. Ekspresi kosakata dalam alat peraga kampanye mencerminkan kreativitas bahasa. Tujuan riset ini mendeskripsikan aspek kosakata yang berkaitan dengan kreativitas bahasa berdasarkan nilai pengalaman, nilai relasional, dan nilai ekspresif dari sudut pandang ideologi us and them. Penelitan ini merupakan penelitian kualitatif. Data berupa kosakata yang mengandung ideologi tertentu yang berkaitan dengan kreativitas bahasa dalam APK pemilu tahun 2024 di Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Wonogiri provinsi Jawa Tengah. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi melalui kamera telepon seluler. Pengolahan data menggunakan teknik pustaka, teknik baca, dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan model kotak ideologi Van dijk. Hasil penelitian aspek kosakata menunjukkan adanya nilai pengalaman, nilai relasional, dan nilai ekspresional yang memanfaatkan kreativitas bahasa bentuk rima, irama, aliterasi, akronim, singkatan, antonim, sinonim, campur kode, repetisi, metafora, dan hiperbola. Ekspresi kosakata tersebut mencerminkan kotak ideologi yang menekankan hal positif pada kita dan negatif pada mereka.
Kejahatan Bahasa di Wilayah Hukum Papua Barat: Kajian Linguistik Forensik Hugo Warami
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2699

Abstract

The problem of language crime has recently become a serious problem that is being faced by linguists and law enforcement officials. This language crime problem includes: interdisciplinary aspects between the worlds of language, law, and crime. The current facts prove that in analyzing the Investigation Report (BAP) regarding the investigation of a legal case in the legal territory of West Papua, it was found that the results of the investigation and investigation required a linguist. For this reason, this study aims to describe the branch of forensic linguistics that is present to bridge language facts and legal facts as one of the supporting aspects in providing proof of a case in court. This study uses two approaches, namely (1) a theoretical approach and (2) a methodological approach. The theoretical approach is an exploration of Forensic Linguistic theory, while the methodological approach is a descriptive approach with an explanatory dimension. This study uses forensic linguistic theory as the main umbrella in exploring language facts that contain elements/meanings of language crimes. This study is explored from the perspective of forensic linguistics by referring to the phenomenon of the results of investigations and case investigations in the jurisdiction of West Papua. The objects in this study consist of three cases, namely (1) Defamation, (2) Humiliation, and (3) Fraud. The results of the analysis illustrate that forensic linguistics becomes a strong tool of evidence in decisions that have legal implications by considering linguistic features and their suitability with legal facts in disentangling types of crimes in the text and context as well as interactions between two or more parties in language crimes. AbstrakMasalah kejahatan bahasa akhir-akhir ini menjadi masalah serius yang sedang dihadapi oleh ahli bahasa dan aparat penegak hukum. Masalah kejahatan bahasa ini mencakup: aspek interdisipliner antara dunia bahasa, hukum, dan kejahatan. Fakta saat ini membuktikan bahwa dalam menganalisis Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tentang investigasi atas sebuah kasus hukum di wilayah hukum Papua Barat, dijumpai bahwa hasil penyidikan maupun penyelidikan memerlukan ahli bahasa. Untuk itu, kajian ini bertujuan mendeskripsikan cabang linguistik forensik yang hadir menjembatani fakta bahasa dan fakta hukum sebagai salah satu aspek pendukung dalam memberikan pembuktian sebuah perkara di pengadilan. Kajian ini menggunakan dua pendekatan, yakni (1) pendekatan teoretis dan (2) pendekatan metodologis. Pendekatan teoretis adalah eksplorasi teori Linguistik Forensik, sedangkan pendekatan metodologi adalah pendekatan deskriptif dengan dimensi eksplanatif. Kajian ini menggunakan teori linguistik forensik sebagai payung utama dalam mengeksplorasi fakta-fakta bahasa yang mengandung unsur/makna kejahatan bahasa. Kajian ini dieksplorasi melalui perspektif linguistik forensik dengan mengacu pada fenomena hasil penyidikan dan penyelidikan kasus di wilayah hukum Papua Barat. Objek dalam kajian ini terdiri atas tiga kasus, yakni (1) Pencemaran Nama Baik, (2) Penghinaan, dan (3) Penipuan. Hasil analisis menggambarkan bahwa linguistik forensik menjadi alat bukti kuat dalam keputusan-keputusan yang berdampak hukum dengan pertimbangan fitur linguistik dan kesesuaiannya dengan fakta hukum dalam mengurai jenis kejahatan pada teks dan konteks serta interaksi antara dua pihak atau lebih dalam tindak kejahatan bahasa.
Opini Publik terhadap Debat Capres 2024: Analisis Sentimen dalam Komentar Live Youtube KPU RI Nurrahmah Nurrahmah; Cut Zuriana; Denni Iskandar; Sanusi Sanusi; Armia Armia; Muhammad Idham
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.6063

Abstract

The presidential debate is a pivotal moment in the election process that influences public opinion about candidates. This study aims to analyze public sentiment regarding the 2024 presidential debate through comments on the live broadcast of the debate on the official YouTube channel of the Indonesian General Elections Commission (KPU RI). A qualitative descriptive method was employed for this research. The data comprised comments collected from the live-streamed debate on the KPU RI’s official YouTube channel using a web scraping technique, utilizing the Python library chat-downloader to extract public comments from the debate videos. The data were analyzed using the BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) model adapted for the Indonesian language. The findings revealed that during the first debate, neutral comments dominated (76.3%), followed by positive comments (14.7%) and negative comments (9.0%). Sentiment toward the Anies-Muhaimin pair was predominantly positive (47.5%), while the Prabowo-Gibran pair faced a dominance of negative sentiment (34.5%). The Ganjar-Mahfud pair received mostly neutral sentiment (50.2%). During the second debate, overall negative sentiment increased to 32.1%, while positive sentiment decreased to 27.8%. A word cloud analysis revealed that terms like mantap (excellent), cerdas (intelligent), and menang (win) frequently appeared in positive comments, whereas terms like blunder and janji manis (sweet promises) dominated negative sentiment, highlighting public focus on the candidates’ conveyed issues. These findings illustrate the dynamics of public opinion during the debates and provide strategic insights for the KPU and campaign teams in crafting more effective communication strategies. AbstrakDebat calon presiden (capres) merupakan momen penting dalam pemilihan presiden yang memengaruhi opini publik terhadap kandidat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentimen publik terhadap debat capres tahun 2024 melalui komentar pada siaran langsung YouTube Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa komentar yang diperoleh dari siaran langsung debat Capres di saluran YouTube resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik web scraping, dengan memanfaatkan pustaka Python chat-downloader untuk mengunduh komentar-komentar publik dari video debat. Data dianalisis dengan model BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) yang diadaptasi untuk bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada debat pertama, komentar netral mendominasi (76,3%), diikuti oleh komentar positif (14,7%) dan negatif (9,0%). Sentimen terhadap pasangan Anies-Muhaimin didominasi positif (47,5%), sementara pasangan Prabowo-Gibran menghadapi dominasi sentimen negatif (34,5%). Pasangan Ganjar-Mahfud lebih banyak menerima sentimen netral (50,2%). Pada debat kedua, sentimen negatif secara keseluruhan meningkat menjadi 32,1%, sementara sentimen positif menurun menjadi 27,8%. Analisis word cloud mengungkapkan bahwa istilah seperti mantap, cerdas, dan menang sering muncul dalam komentar positif, sementara istilah seperti blunder dan janji manis mendominasi sentimen negatif, menunjukkan fokus publik pada isu-isu yang disampaikan kandidat. Temuan ini menggambarkan dinamika opini publik selama debat dan memberikan masukan strategis bagi KPU serta tim kampanye dalam menyusun strategi komunikasi yang lebih efektif.
Penggunaan Umpatan Thelo, Jidor, Sikem, Sikak sebagai Wujud Marah dan Ekspresi Budaya Warga Temanggung Hamidulloh Ibda
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 8, No 2 (2019): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v8i2.1293

Abstract

This study aims to describe the utterances of thelo, jidor, sikem, and sikak as typical curses of Temanggung Regency, Central Java. This study chose Temanggung Regency as the location for data collection aimed at revealing the meaning of thelo swear, jidor, sikem, sikak in citizens' communication behavior. This study uses qualitative methods to maximize data collection by interview and observation. From the results of the study, researchers found the form of swear in Temanggung, which is in the form of words and inscriptions in the form of phrases. There are two purposes for using the utterances of thelo, jidor, sikem, sikak. First, as a form of anger or resistance to crime, anomalies, or kazaliman that afflict the citizens of Temanggung. When someone commits a crime on one of the residents, the citizen spontaneously pronounces thelo, jidor, sikem, or sikak based on his crime rate. Second, as a cultural expression to express pleasure, admiration, surprise, and wonder. The thelo, jidor, sikem, or sikak speeches are not spoken for committing a crime, instead as a form of protest against crime. When someone steals, people usually say thelo, jidor, sikem or sikak for the incident. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan ujaran thelo, jidor, sikem, dan sikak sebagai umpatan khas Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penelitian ini memilih Kabupaten Temanggung sebagai lokasi pengambilan data ini bertujuan untuk mengungkap makna umpatan thelo, jidor, sikem, sikak dalam perilaku komunikasi warga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memaksimalkan pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan bentuk umpatan di Temanggung, yaitu berupa kata dan makian berbentuk frasa. Ada dua tujuan penggunaan ujaran thelo, jidor, sikem, sikak. Pertama, sebagai bentuk marah atau perlawanan atas kejahatan, anomali, atau kazaliman yang menimpa warga Temanggung. Ketika ada orang melakukan kejahatan pada salah satu warga, maka warga secara spontanitas mengucapkan thelo, jidor, sikem, atau sikak berdasarkan tingkat kejahatannya. Kedua, sebagai ekpresi budaya untuk mengekspresikan rasa senang, kagum, terkejut, dan heran. Ujaran thelo, jidor, sikem, atau sikak tidak diucapkan untuk melakukan kejahatan, justru sebagai bentuk protes terhadap kejahatan. Ketika ada orang mencuri, maka warga biasa mengucap thelo, jidor, sikem, atau sikak atas kejadian tersebut.
Pemanfaatan Sistem Appraisal sebagai Evaluasi terhadap Geowisata di Gunung Batur Bali dalam Travel Blog Prancis Nurul Hikmayaty Saefullah; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Nany Ismail; Rohaidah Haron
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.2325

Abstract

In Systemic Functional Linguistics (SFL), the evaluation has the term appraisal, which is an approach to investigate, to describe, and to explain how language is used to evaluate an object being discussed in context (Martin & White, 2005). The purpose in this paper is to evaluate tourism object, Mount Batur Geopark in Bali, written by a French tourist in a travel blog that is published online, using the appraisal system. The writing in the travel blog uses spoken language that is characterized by a non-standard French structure, use of verbal communication terms, and icons that describe the expression of the author. The research method used in this library research in general is an analytical method with the process of collecting data through the observation method and analyzed by the referential equivalent method. The findings of this study in general can be said that the French tourist appreciate the natural beauty that exists in the tourist sites of Mount Batur. It can be said that the three subsystems of attitude (affect, appreciation, and judgment) as subsystems of the appraisal appear in the data. AbstrakDi dalam Linguistik Sistemik Fungsional (LSF), evaluasi memiliki istilah appraisal, yakni satu pendekatan untuk menyelidiki, mendeskripsikan, dan menjelaskan bagaimana bahasa digunakan untuk mengevaluasi suatu objek yang dibicarakan di dalam konteks (Martin & White, 2005). Tulisan ini bertujuan mengevaluasi objek wisata berupa Taman Bumi Gunung Batur di Bali yang dituliskan oleh seorang wisatawan berkebangsaan Prancis di dalam travel blog yang dipublikasikan secara daring, melalui sistem appraisal. Tulisannya menggunakan bahasa lisan yang ditandai dengan struktur bahasa Prancis yang tidak baku, penggunaan istilah-istilah komunikasi lisan, dan ikon-ikon yang menggambarkan ekspresi penulis. Metode penelitian yang digunakan secara umum adalah metode analitis dengan proses pengumpulan data melalui metode observasi dan dianalisis dengan metode padan referensial. Temuan dari penelitian ini secara umum dapat dikatakan bahwa wisatawan Prancis mengapresiasi keindahan alam yang ada di lokasi wisata Gunung Batur. Dapat dikatakan bahwa ketiga subsistem dari attitude (affect, appreciation, dan judgment) sebagai subsistem dari appraisal muncul di dalam data.
Representasi Ekologi dalam Teks Bertema Lingkungan oleh Pemelajar BIPA Tingkat Tinggi: Pendekatan Linguistik Fungsional Yohanna Nirmalasari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8032

Abstract

This study aims to describe how ecological representations are manifested through processes in the ideational meaning of written texts by advanced BIPA learners. This study uses a qualitative method with Halliday's systemic functional linguistics (SFL) approach. The data in this study are learners' written sentences containing ideational processes in argumentative texts written by learners. Data collection techniques were carried out through documentation of learners' writings on the theme of ecology in response to environmental issues in Indonesia. Data analysis techniques were carried out through the stages of identification, classification, and interpretation. First, each clause in the learners' texts was identified to find the type of ideational process used based on Halliday's theory. This included material, raw, verbal, behavioral, relational, and existential processes. Second, the clauses were classified according to the type of process to see the tendency of ecological meaning representation. Third, the classification results are interpreted tol reveal how BIPA learners represent ideas and attitudes towards environmental issues through their choice of linguistic processes. The results show that learners often use material processes when arguing about environmental issues. In addition to material processes, learners also use mental, existential, and relational processes. This study found that learners do not use verbal and behavioral processes. Based on these findings, it can be concluded that learners demonstrate fairly good language skills in conveying ecological ideas, even though they do not yet fully utilize all types of processes in the Indonesian language transitivity system. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana representasi ekologi diwujudkan melalui proses-proses dalam makna ideasional pada teks tulis pemelajar BIPA tingkat tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan linguistik fungsional sistemik (LFS) Halliday. Data dalam penelitian ini adalah kalimat tulis pemelajar yang mengandung proses ideasional dalam teks argumen yang ditulis oleh pemelajar. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi terhadap hasil tulisan pemelajar dengan tema ekologi yang menanggapi permasalahan lingkungan di Indonesia. Teknik analisis data yang dilakukan melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi. Pertama, setiap klausa dalam teks pemelajar diidentifikasi guna menemukan jenis proses ideasional yang digunakan berdasarkan teori Halliday. Hal ini mencakup proses material, mental, verbal, behavioral, relasional, dan eksistensial. Kedua, klausa tersebut diklasifikasi menurut jenis prosesnya untuk melihat kecenderungan representasi makna ekologi. Ketiga, hasil klasifikasi diinterpretasi untuk mengungkap bagaimana pemelajar BIPA merepresentasikan ide dan sikap terhadap isu lingkungan melalui pilihan proses linguistik yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemelajar banyak menggunakan proses material dalam berargumen terkait dengan isu lingkungan. Selain proses material, pemelajar juga menggunakan proses mental, eksistensial, dan relasional. Di dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa pemelajar tidak menggunakan proses verbal dan proses behavioral. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemelajar menunjukkan kemampuan berbahasa yang cukup baik dalam menyampaikan gagasan ekologi meskipun belum sepenuhnya memanfaatkan seluruh jenis proses dalam sistem transitivitas bahasa Indonesia.
KAJIAN WACANA IKLAN PADA PESAN SINGKAT (SMS) Riani Riani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v4i1.24

Abstract

Iklan biasanya disampaikan kepada publik melalui media cetak, radio, dan televisi. Namun, iklan juga dapat disampaikan secara personal dengan melalui pesan singkat yang dikirimkan ke telepon gengam pembaca. Wacana iklan pada pesan singkat menarik untuk dikaji karena memiliki keunikan dibandingkan wacana iklan pada media lainnya. Oleh karena itu, kajian ini ditujukan untuk mendeskripsikan wacana iklan pada pesan singkat dari aspek struktur wacana, penggunaan bahasa, dan pragmatik. Objek pada kajian ini adalah iklan yang disampaikan melalui pesan singkat pada telepon genggam. Data diperoleh dengan cara mendokumentasikan iklan dari tahun 2014 sampai dengan Agustus 2015. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif karena disesuikan dengan karakteristik data serta tujuan penelitian. Karakteristik data berupa kata-kata atau kalimat pada wacana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur wacana pada pesan singkat terdiri atas bagian pembuka, isi, dan penutup dengan variasi struktur bahwa tidak semua wacana memiliki bagian pembuka. Aspek penggunaan bahasa menunjukkan bahwa dalam wacana iklan terdapat kalimat majemuk dan tunggal disertai pelesapan, huruf kapital kerap digunakan untuk menekankan informasi yang penting, singkatan juga dipakai untuk meringkas isi. Aspek pragmatik pada wacana iklan menunjukkan bahwa tuturan direktif dan ekspresif dimanfaatkan pembuat iklan untuk memengaruhi pembaca iklan agar melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan.
Merawat Lagu-lagu Daerah Pagu untuk Pemertahanan Bahasa: Analisis Ekolinguistik Dalan Mehuli Perangin-Angin; Novita Dewi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2932

Abstract

This study explores the maintenance of the Pagu language of North Halmahera by caring for the wealth of its literature such as folksongs. The data examined are three Pagu folksongs. The collected data were categorized and interpreted using ecocriticism and related studies particularly in terms of obtaining, presenting, and analyzing them. Using ecolinguistic perspective to analyze the data, the results show that first, all three songs contain cultural values and customs that show the identity of the Pagu community that have to be maintained. Second, ecolinguistic analysis reveals the emotional closeness of the Pagu community with their natural surroundings although nature is sometimes considered to hinder human journey. Third, in terms of distribution, the songs are influenced by Ternate and other regional languages in North Halmahera. Finally, this study concludes interaction among language users and efforts to care for folk songs should continue to prevent the extinction of the Pagu language. AbstrakPenelitian ini membahas pemertahanan bahasa Pagu yang dipakai oleh suku Pagu di Halmahera Utara dengan cara merawat kekayaan sastra dalam bahasa tersebut berupa lagu-lagu daerah. Metode deskriptif-kualitatif dipakai untuk menganalisis data berupa tiga lagu daerah Pagu dengan perspektif ekolinguistik. Data yang terkumpul dikelompokkan dan diinterpretasikan dengan perspektif teori ekokritik dan kajian serupa yang memanfaatkan analisis ekolinguistik terutama dalam hal memperoleh, menyajikan, dan menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, ketiga lagu mengandung nilai-nilai budaya dan adat-istiadat yang menunjukkan jatidiri masyarakat Pagu yang harus dipertahankan. Kedua, analisis ekolinguistik membuktikan kedekatan emosi masyarakat Pagu dengan alam sekitarnya meskipun kadang alam dianggap sebagai perintang. Ketiga, lagu-lagu tersebut dipengaruhi oleh bahasa Ternate dan bahasa daerah lainnya di Halmahera Utara. Akhirnya disimpulkan bahwa interaksi antar pengguna bahasa dan perawatan budaya seperti lagu-lagu rakyat perlu ditingkatkan agar kepunahan bahasa Pagu dapat dicegah.
Sistem Nama Diri Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptagelar Dede Kosasih; Dian Hendrayana; Winci Firdaus; Denny Adrian Nurhuda; Basori Basori
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.6106

Abstract

The background of this research is the curiosity about the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people. In the name string generally implies faith and wisdom (wisdom) and can reflect prayer, ideals (expectation). This means that the name given (bears) will be in accordance with the demands (expectations) of the community at the time it was made. The purpose of this study is to photograph the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people and to examine the factors and values underlying this practice. This study uses a qualitative methodological approach, namely descriptive analytical method. The data source in this study is the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people in three generations. Data collection techniques in this study were participant observation and observation and note-taking techniques. Data analysis techniques begin with collecting data, reducing data, conducting analysis based on classification. The results of this study show that the pattern of giving and changing names is caused by several reasons. First, driven for psychological reasons, in the form of hopes such as for the sake of glory, fame, profit and avoidance of disaster as well as inner satisfaction. Second, related to socio-cultural values that have roots in the past. From the diachronic study, the pattern of naming the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people has experienced a shift, although the shift or change is relatively not that massive. This is because the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people still adhere to traditions and customs that have been passed down from generation to generation. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan praktik pemberian nama diri di masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Dalam untaian nama itu umumnya menyiratkan keyakinan dan kebijaksanaan (wisdom) serta dapat merefleksikan doa, cita-cita (expectation). Artinya bahwa nama yang diberikan (disandangnya) tersebut akan sesuai dengan tuntutan (harapan) masyarakat pada masa dibuatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memotret praktik pemberian nama diri dalam masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dan akan mengkaji faktor-faktor dan nilai-nilai apa saja yang melatarbelakangi praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kualitatif yakni metode deskriptif analitis. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dalam tiga generasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi partisipan serta teknik simak dan catat. Teknik analisis data dimulai dengan mengumpulkan data, mereduksi data, melakukan analisis berdasarkan klasifikasi. Hasil dari penelitian ini bahwa pola pemberian maupun pergantian nama disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, didorong karena alasan psikologis, berupa harapan seperti demi kejayaan, ketenaran, keuntungan dan terhindar dari malapetaka serta kepuasan batiniah. Kedua, yaitu berkaitan dengan nilai sosio-kultural yang mempunyai akar ke masa silam. Dari kajian secara diakronis pola pemberian nama masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar telah mengalami pergeseran, walaupun pergeseran atau perubahan itu relatif tidak begitu masif. Hal ini dikarenakan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar masih pengkuh (kuat) memegang tradisi dan adat istiadat yang sudah diwariskan secara turun-temurun.