cover
Contact Name
Muhamad Sahiddin
Contact Email
jurnaljktp@gmail.com
Phone
+6281342494099
Journal Mail Official
msahiddin@gmail.com
Editorial Address
Jalan Padang Bulan II, Hedam, Distrik Heram, Kota Jayapura
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Tropis Papua
ISSN : -     EISSN : 26545756     DOI : https://doi.org/10.47539
Core Subject :
Peer-reviewed, open-access journal publishing original research articles, systematic reviews, and nursing case studies in the field of nursing science and practice. Scientific coverage focuses on tropical nursing, with an emphasis on malaria, tuberculosis, dengue fever, and other neglected tropical diseases, as well as all fundamental fields of nursing practice in eastern Indonesia and similar tropical settings.
Arjuna Subject : -
Articles 147 Documents
Efektivitas redesain alat tenun terhadap keluhan muskuloskeletal disorders penenun Sarung Tope Le’leng di Desa Tanah Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba: The effect of loom redesain on musculoskeletal disorders complaints of Le'leng Tope Salrong Weavers in Tanah Toa Village, Kajang District, Bulukumba Regency Ahmad Kurniawan; Fatmawaty Mallapiang; Azriful; Fany Lairin Djala
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.484

Abstract

Penenun Sarung Tope Le’leng di Desa Tanah Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, masih banyak menggunakan alat tenun tradisional yang belum memenuhi prinsip ergonomi. Kondisi kerja tersebut menuntut postur tubuh yang tidak ergonomis, gerakan berulang, dan durasi kerja yang panjang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya keluhan musculoskeletal disorders (MSDs). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas redesain alat tenun ergonomis terhadap penurunan keluhan MSDs pada penenun Sarung Tope Le’leng. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain quasiexperimental yang melibatkan 30 penenun, terdiri atas kelompok kontrol (n = 15) yang menggunakan alat tenun konvensional dan kelompok intervensi (n = 15) yang menggunakan alat tenun hasil redesain ergonomis. Intervensi dilaksanakan selama 16 hari. Data keluhan MSDs dikumpulkan menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor keluhan MSDs pada kelompok intervensi menurun dari 2,9 ± 0,5 pada awal pengukuran menjadi 1,8 ± 0,4 pada hari ke-16, sedangkan pada kelompok kontrol skor keluhan meningkat dari 1,8 ± 0,6 menjadi 3,2 ± 0,8. Perbedaan keluhan MSDs antara kelompok intervensi dan kontrol menunjukkan perbedaan yang signifikan sejak hari ke-3 hingga hari ke-16 (Z = −5,012; p < 0,001). Selain itu, pada kelompok intervensi terjadi penurunan keluhan MSDs yang signifikan sebelum dan sesudah penggunaan alat tenun hasil redesain (Z = −4,645; p < 0,001). Redesain alat tenun ergonomis efektif dalam menurunkan keluhan MSDs pada penenun Sarung Tope Le’leng. Le’leng Tope sarong weavers in Tanah Toa Village, Kajang District, Bulukumba Regency, still predominantly use traditional looms that do not meet ergonomic principles. These working conditions require non-ergonomic postures, repetitive movements, and prolonged working durations, thereby increasing the risk of musculoskeletal disorders (MSDs). This study aimed to analyze the effectiveness of ergonomic loom redesign in reducing MSD complaints among Le’leng Tope sarong weavers. This study employed a quantitative quasi-experimental design involving 30 weavers, consisting of a control group (n = 15) using conventional looms and an intervention group (n = 15) using ergonomically redesigned looms. The intervention was conducted over a 16-day. MSD complaints were assessed using the validated and reliable Nordic Body Map questionnaire. The results showed that the mean MSD complaint score in the intervention group decreased from 2.9 ± 0.5 at baseline to 1.8 ± 0.4 on day 16, whereas the control group showed an increase from 1.8 ± 0.6 to 3.2 ± 0.8. Differences in MSD complaints between the intervention and control groups were significant from day 3 through day 16 (Z = −5.012; p < 0.001). In addition, a significant reduction in MSD complaints was observed in the intervention group before and after the use of the redesigned loom (Z = −4.645; p < 0.001). Ergonomic redesign of the loom is effective in reducing MSD complaints among Le’leng Tope sarong weavers.
Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap tentang menstruasi dengan kesiapan menghadapi menarche pada siswi sekolah dasar : The relationship between the level of knowledge and attitudes about menstruation and readiness to face menarche among elementary school female students Sri Ayu Rahayu Paneo; Lustri Ayu Indasari
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.485

Abstract

Menarche merupakan peristiwa penting dalam perkembangan reproduksi perempuan yang memerlukan kesiapan fisik, psikologis, dan sosial. Kurangnya pengetahuan dan sikap negatif terhadap menstruasi dapat menyebabkan ketidaksiapan anak dalam menghadapi menarche, terutama pada usia sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan sikap tentang menstruasi dengan kesiapan menghadapi menarche pada siswi sekolah dasar di UPT SD Negeri 12 Batang, Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan deskriptif analitik dan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 70 siswi kelas IV, V, dan VI yang belum mengalami menarche dan dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik (60,0%), sikap positif (55,7%), dan kesiapan menghadapi menarche dalam kategori siap (55,7%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan (p = 0,024) dan sikap (p = 0,039) dengan kesiapan menghadapi menarche. Tingkat pengetahuan dan sikap tentang menstruasi berhubungan dengan kesiapan anak sekolah dasar dalam menghadapi menarche, sehingga pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif dan dukungan psikososial sejak dini menjadi penting untuk diprioritaskan. Menarche is an important event in female reproductive development that requires physical, psychological, and social readiness. Insufficient knowledge and negative attitudes toward menstruation may lead to unpreparedness in facing menarche, particularly among elementary school girls. This study aimed to analyze the relationship between the level of knowledge and attitudes about menstruation and readiness to face menarche among elementary school female students at UPT SD Negeri 12 Batang, Jeneponto Regency. This study employed a quantitative correlational design with a descriptive-analytic approach using a cross-sectional method. The sample consisted of 70 female students in grades IV, V, and VI who had not yet experienced menarche and were selected using a total sampling technique. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. The results showed that most respondents had good knowledge (60.0%), positive attitudes (55.7%), and were categorized as ready to face menarche (55.7%). Bivariate analysis revealed significant relationships between the level of knowledge (p = 0.024) and attitudes (p = 0.039) with readiness to face menarche. The level of knowledge and attitudes about menstruation are associated with readiness to face menarche among elementary school girls, highlighting the importance of prioritizing comprehensive reproductive health education and early psychosocial support.
Hubungan kadar kolesterol dengan kejadian hipertensi pada lansia: The relationship between cholesterol levels and hypertension among the elderly St. Umrah Maulia; Hasbullah; Zakariyati
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.486

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada kelompok lanjut usia (lansia) yang berkontribusi signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Salah satu faktor risiko biologis yang berperan penting dalam patofisiologi hipertensi adalah peningkatan kadar kolesterol total yang memicu aterosklerosis dan peningkatan resistensi vaskular perifer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar kolesterol dengan kejadian hipertensi pada lansia di Poliklinik Kesehatan Monginsidi 14.09.02 Kesdam XIV/Hasanuddin. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 54 lansia peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan kadar kolesterol total menggunakan Point of Care Testing (POCT) terkalibrasi dan pengukuran tekanan darah oleh tenaga medis. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengontrol variabel usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar kolesterol dengan kejadian hipertensi pada lansia (p < 0,001). Lansia dengan kadar kolesterol risiko sedang memiliki risiko hipertensi 3,15 kali lebih tinggi (OR = 3,15; 95% CI: 1,05–9,45), sedangkan lansia dengan kadar kolesterol risiko tinggi memiliki risiko 6,82 kali lebih tinggi (OR = 6,82; 95% CI: 2,30–20,12) dibandingkan lansia dengan kadar kolesterol normal. Pentingnya pengendalian profil lipid sebagai bagian integral dari manajemen hipertensi pada layanan kesehatan primer, khususnya dalam program Prolanis. Hypertension is a major health problem among the elderly and contributes significantly to cardiovascular morbidity and mortality. One important biological risk factor involved in the pathophysiology of hypertension is elevated total cholesterol levels, which promote atherosclerosis and increase peripheral vascular resistance. This study aimed to analyze the relationship between cholesterol levels and the incidence of hypertension among elderly individuals at the Monginsidi Health Polyclinic 14.09.02, Kesdam XIV/Hasanuddin. This study employed a non-experimental quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 54 elderly participants enrolled in the Chronic Disease Management Program (Prolanis), selected using a total sampling technique. Data were collected through measurements of total cholesterol levels using calibrated Point of Care Testing (POCT) devices and blood pressure assessments conducted by medical personnel. Bivariate analysis was performed using the chi-square test, while multivariate analysis employed logistic regression to control for age, sex, education, and occupation. The results showed a significant association between cholesterol levels and the incidence of hypertension among the elderly (p < 0.001). Elderly individuals with moderate-risk cholesterol levels had a 3.15-fold higher risk of hypertension (OR = 3.15; 95% CI: 1.05–9.45), while those with high-risk cholesterol levels had a 6.82-fold higher risk (OR = 6.82; 95% CI: 2.30–20.12) compared with elderly individuals with normal cholesterol levels. These findings highlight the importance of lipid profile control as an integral component of hypertension management in primary healthcare services, particularly within the Prolanis program.
Efektivitas acceptance and commitment therapy based mindfulness terhadap kadar glukosa darah puasa pada pasien diabetes melitus: Effectiveness of acceptance and commitment therapy based mindfulness on fasting blood glucose levels in diabetes mellitus patients Nur Wahyuni Munir; Mansur Sididi; Sitti Patimah; Salsabila Nuru Ramadhani; Susan Zahra Assafa’ah
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.493

Abstract

Intervensi psikologis berbasis mindfulness dan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) semakin dipertimbangkan sebagai pendekatan komplementer dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2, khususnya untuk meningkatkan kontrol glikemik. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas ACT based mindfulness terhadap kadar glukosa darah puasa pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Paccerakkang dan Puskesmas Sudiang, Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pre–posttest control group design. Sampel terdiri dari 60 pasien diabetes melitus tipe 2 yang aktif mengikuti kegiatan Prolanis dan dipilih menggunakan teknik consecutive sampling, kemudian dibagi ke dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol masing-masing 30 responden. Kelompok intervensi mendapatkan ACT based mindfulness selama enam sesi mingguan dengan durasi 60 menit per sesi, sedangkan kelompok kontrol menerima perawatan rutin. Kadar glukosa darah puasa diukur menggunakan glukometer dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan kadar glukosa darah puasa pada kelompok intervensi setelah pemberian intervensi (p < 0,001), sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna (p = 0,155). Perbandingan nilai pascaintervensi antara kedua kelompok juga menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,031). ACT based mindfulness efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah puasa pada pasien diabetes melitus tipe 2 dan berpotensi direkomendasikan sebagai intervensi psikologis komplementer dalam praktik keperawatan di layanan kesehatan primer. Psychological interventions based on mindfulness and Acceptance and Commitment Therapy (ACT) are increasingly considered complementary approaches in the management of type 2 diabetes mellitus, particularly to improve glycemic control. This study aimed to evaluate the effectiveness of ACT-based mindfulness on fasting blood glucose levels among patients with type 2 diabetes mellitus at Paccerakkang and Sudiang Primary Health Centers, Makassar City. This study employed a quasi-experimental design with a pre–posttest control group design. The sample consisted of 60 patients with type 2 diabetes mellitus who actively participated in the Prolanis program and were selected using consecutive sampling, then divided into an intervention group and a control group, each comprising 30 respondents. The intervention group received ACT-based mindfulness for six weekly sessions with a duration of 60 minutes per session, while the control group received routine care. Fasting blood glucose levels were measured using a glucometer and analyzed using the Wilcoxon and Mann–Whitney tests. The results showed a significant reduction in fasting blood glucose levels in the intervention group after the intervention (p < 0.001), whereas no significant change was observed in the control group (p = 0.155). Post-intervention comparison between the two groups also demonstrated a significant difference (p = 0.031). ACT-based mindfulness is effective in reducing fasting blood glucose levels among patients with type 2 diabetes mellitus and may be recommended as a complementary psychological intervention in nursing practice within primary health care settings.
Kombinasi handheld fan dan alternate nostril breathing terhadap penurunan tingkat dispnea, nyeri, dan ansietas pada pasien CVD: The combination of a handheld fan and alternate nostril breathing in reducing dyspnea, pain, and anxiety among patients with CVD Rahmat Kurniawan; Nurmiaty Nurmiaty; Novica Ariyanti Putri; Supriadi B.; Andi Fatmawati Syamsu; Eli Saripah; Rusmala Dewi
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.497

Abstract

Penyakit kardiovaskular (cardiovascular disease, CVD) sering disertai gejala dispnea, nyeri, dan ansietas yang berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kombinasi handheld fan (HHF) dan alternate nostril breathing (ANB) terhadap dispnea, nyeri, dan ansietas pada pasien CVD. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pre-test and post-test control group design. Sebanyak 30 responden dipilih menggunakan purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi (n = 15) dan kelompok kontrol (n = 15). Instrumen yang digunakan meliputi Modified Borg Dyspnea Scale (MBDS), Numeric Rating Scale (NRS), dan State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan dalam masing-masing kelompok. Hasil penelitian menunjukkan penurunan yang signifikan pada kelompok intervensi untuk seluruh variabel, yaitu dispnea (rerata selisih = 4,267 ± 0,704; p = 0,001), nyeri (rerata selisih = 4,600 ± 0,986; p = 0,001), dan ansietas (rerata selisih = 2,200 ± 0,414; p = 0,001). Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna pada dispnea (p = 0,055), nyeri (p = 0,334), maupun ansietas (p = 0,634). Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi HHF dan ANB lebih efektif dalam menurunkan gejala dispnea, nyeri, dan ansietas pada pasien CVD dibandingkan perawatan standar. Kombinasi HHF dan ANB dapat dipertimbangkan sebagai terapi nonfarmakologis yang sederhana, aman, dan berbiaya rendah dalam praktik keperawatan untuk meningkatkan kenyamanan pasien CVD. Cardiovascular disease (CVD) is frequently associated with dyspnea, pain, and anxiety, which significantly impair patients' quality of life. This study aimed to analyze the effect of combining a handheld fan (HHF) and alternate nostril breathing (ANB) on dyspnea, pain, and anxiety in patients with CVD. A quasi-experimental study with a pre-test and post-test control group design was conducted. A total of 30 respondents were selected using purposive sampling and divided into an intervention group (n = 15) and a control group (n = 15). The instruments used were the Modified Borg Dyspnea Scale (MBDS), Numeric Rating Scale (NRS), and State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Data were analyzed using a paired t-test within each group. The results showed significant reductions in the intervention group for all outcomes: dyspnea (mean difference = 4.267 ± 0.704; p = 0.001), pain (mean difference = 4.600 ± 0.986; p = 0.001), and anxiety (mean difference = 2.200 ± 0.414; p = 0.001). In contrast, the control group showed no significant changes in dyspnea (p = 0.055), pain (p = 0.334), or anxiety (p = 0.634). These findings indicate that the combination of HHF and ANB is more effective in reducing dyspnea, pain, and anxiety in patients with CVD compared to standard care. The HHF and ANB combination may be considered a simple, safe, and low-cost non-pharmacological intervention in nursing practice to improve comfort in patients with CVD.
Pengalaman keluarga sebagai caregiver dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa berat di Kabupaten Tulungagung: studi fenomenologi : Experiences of family caregivers in caring for family members with severe mental illness in Tulungagung Regency: a phenomenological study Wildan Akasyah; Winanda Rizki Bagus Santosa
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.498

Abstract

Keluarga merupakan caregiver utama bagi klien dengan gangguan jiwa berat di komunitas dan menghadapi beban psikologis, sosial, serta stigma yang memengaruhi kualitas perawatan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa berat di Kabupaten Tulungagung. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam pada enam partisipan yang berperan sebagai caregiver keluarga, dipilih secara purposive hingga mencapai saturasi data. Data dianalisis menggunakan analisis tematik fenomenologis dengan metode Colaizzi dan perangkat lunak NVivo 10, serta dijaga trustworthiness-nya melalui credibility, dependability, confirmability, dan transferability. Analisis menghasilkan lima tema, meliputi: (1) awal mula gangguan jiwa sebagai pengalaman traumatis, (2) respons awal keluarga terhadap kondisi klien, (3) sikap keluarga dalam proses perawatan sehari-hari, (4) interaksi dengan lingkungan sosial dan pengalaman stigma, serta (5) penerimaan keluarga sebagai proses bertahap. Tema esensial yang muncul adalah perawatan sebagai proses dinamis dan berkelanjutan dalam konteks keluarga dan komunitas. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan intervensi keperawatan jiwa berbasis keluarga, termasuk psychoeducation dan dukungan caregiver di komunitas untuk meningkatkan keberlanjutan perawatan. Families are the primary caregivers for clients with severe mental illness in the community and face psychological, social, and stigma-related burdens that affect the quality of care. This study aimed to explore the experiences of family caregivers in caring for family members with severe mental illness in Tulungagung Regency. A qualitative design with a descriptive phenomenological approach was used. Data were collected through in-depth interviews with six participants who served as family caregivers, purposively selected until data saturation was achieved. Data were analyzed using phenomenological thematic analysis based on the Colaizzi method with NVivo 10 software, and trustworthiness was ensured through credibility, dependability, confirmability, and transferability. Analysis yielded five themes: (1) the onset of mental illness as a traumatic experience, (2) the family's initial response to the client's condition, (3) family attitudes in daily caregiving, (4) interactions with the social environment and experiences of stigma, and (5) family acceptance as a gradual process. The essential theme that emerged was caregiving as a dynamic and ongoing process within the family and community context. These findings indicate the need to strengthen family-based mental health nursing interventions, including psychoeducation and community caregiver support to enhance the continuity of care.
Memahami proses berduka pada orang dengan HIV/AIDS: studi deskriptif di Puskesmas Kotaraja, Jayapura, Papua : Understanding the grieving process among people living with HIV/AIDS: a descriptive study at Kotaraja Community Health Centre, Jayapura, Papua Christy Wattimena; Elvando Pieter Titawael; Fitriani
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.499

Abstract

Berduka merupakan respons psikososial yang sering dialami oleh orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Memahami tahapannya penting karena memengaruhi penerimaan diri, kepatuhan terhadap pengobatan, dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tahapan berduka pada ODHA di Puskesmas Kotaraja, Jayapura, Papua. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 122 responden direkrut menggunakan rumus Slovin berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diadaptasi dari lima tahapan berduka menurut Kübler-Ross (denial, anger, bargaining, depression, acceptance). Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi tahapan berduka. Mayoritas responden (84,4%) berada pada tahap acceptance. Tahapan lain yaitu denial (81,1%), anger (83,6%), bargaining (80,3%), dan depression (82,0%) muncul dalam kategori rendah. Tingginya tingkat acceptance mengindikasikan bahwa dukungan psikososial yang berkelanjutan berpotensi mendorong adaptasi ODHA terhadap kondisi kesehatannya dan menjadi dasar pengembangan intervensi keperawatan yang lebih terarah. Grief is a psychosocial response frequently experienced by people living with HIV/AIDS (PLWHA). Understanding its stages is important as they influence self-acceptance, treatment adherence, and quality of life. This study aimed to identify the stages of grief among PLWHA at Kotaraja Health Centre, Jayapura, Papua. A descriptive quantitative study with a cross-sectional approach was conducted. A total of 122 respondents were recruited using the Slovin formula based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected through a questionnaire adapted from Kübler-Ross's five stages of grief (denial, anger, bargaining, depression, acceptance). Univariate analysis was used to describe the distribution of grief stages. The majority of respondents (84.4%) were in the acceptance stage. Other stages — denial (81.1%), anger (83.6%), bargaining (80.3%), and depression (82.0%) — appeared at low levels. The high level of acceptance indicates that ongoing psychosocial support has the potential to encourage PLWHA to adapt to their health condition and forms the basis for developing more targeted nursing interventions.
Epidemiologi kasus suspek campak pada anak di zona pasca-KLB, Kabupaten Teluk Bintuni, 2024–2025: Epidemiology of suspected measles cases among children in the post-outbreak zone, Teluk Bintuni Regency, 2024–2025 Farida Bakri; Rosmin M Tingginehe; Samuel Piter Irab; Dolfinus Yufu Bouway; Hasmi; Arius Togodly
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.500

Abstract

Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) campak pada tahun 2023 dan masih melaporkan kasus suspek pada fase pasca-KLB di tengah cakupan imunisasi campak yang baru mencapai 65,90% pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi kasus suspek campak pada anak berdasarkan karakteristik orang, tempat, dan waktu di Distrik Bintuni dan Manimeri tahun 2024–2025. Desain penelitian adalah observasional deskriptif dengan total sampling. Data sekunder bersumber dari formulir MR-01 dan MR-02 Puskesmas Bintuni dan Puskesmas Manimeri; analisis dilakukan secara univariat. Dari 50 kasus yang dianalisis, 78,0% terjadi pada anak usia di bawah lima tahun, dengan proporsi tertinggi pada bayi usia kurang dari satu tahun (28,0%). Distribusi jenis kelamin setara (50,0% masing-masing). Imunisasi tidak lengkap ditemukan pada 85,7% bayi usia kurang dari satu tahun dan menurun menjadi 18,8% pada kelompok 2–<5 tahun. Sebanyak 86,0% kasus tidak memiliki riwayat bepergian ke luar kabupaten dan 86,0% tidak tercatat memiliki riwayat kontak dengan penderita campak. Distrik Bintuni menyumbang 72,0% kasus. Jumlah kasus menurun 21,4% dari tahun 2024 ke 2025, disertai peningkatan proporsi bayi usia kurang dari satu tahun dari 17,9% menjadi 40,9%. Kasus terkonsentrasi pada kelompok usia dini dengan celah imunisasi yang nyata dan pola transmisi yang mengarah pada penularan lokal. Penguatan imunisasi rutin pada anak usia di bawah dua tahun dan pemantauan surveilans berbasis kasus individual pada fase pasca-KLB perlu diprioritaskan. Teluk Bintuni Regency, West Papua Province, experienced a measles outbreak in 2023 and continued to report suspected cases in the post-outbreak phase, amid a district-level measles immunization coverage of only 65.90% in 2024. This study aimed to analyze the distribution of suspected measles cases among children by person, place, and time characteristics in Bintuni and Manimeri Districts during 2024–2025. A descriptive observational design was applied using total sampling. Secondary data were obtained from MR-01 and MR-02 surveillance forms from Puskesmas Bintuni and Puskesmas Manimeri; univariate analysis was conducted. Of 50 cases analyzed, 78.0% occurred in children under five years, with the highest proportion in infants under one year (28.0%). Sex distribution was equal at 50.0% each. Incomplete immunization was recorded in 85.7% of infants under one year, declining to 18.8% in the 2–<5 year group. A total of 86.0% of cases had no travel history outside the regency, and 86.0% had no documented contact history with measles cases. Bintuni District accounted for 72.0% of cases. Cases declined 21.4% from 2024 to 2025, alongside an increase in the proportion of infants under one year from 17.9% to 40.9%. Cases were concentrated in early age groups with notable immunization gaps and a transmission pattern consistent with local spread. Strengthening routine immunization in children under two years and sustaining individual case-based surveillance in the post-outbreak phase are priority actions.
Tantangan dan pengalaman ibu hamil dengan anemia dalam upaya pencegahan: studi fenomenologi di Timika: Challenges and experiences of pregnant women with anemia in prevention efforts: a phenomenological study in Timika Alfisanatin; Rosmin M Tingginehe; Arius Togodly; Samuel Piter Irab; Muhammad Akbar Nurdin; Yulius Sarungu Paiting
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.501

Abstract

Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Papua, dengan tren peningkatan kasus di layanan kesehatan primer. Faktor perilaku, gizi, dan sosial budaya diketahui memengaruhi upaya pencegahan, namun bukti kontekstual dari wilayah ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman dan hambatan ibu hamil dengan anemia dalam menjalani upaya pencegahan di Puskesmas Pasar Sentral Timika. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif dilakukan di Puskesmas Pasar Sentral Timika, Papua. Sepuluh ibu hamil dengan anemia dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Lima tema teridentifikasi: pengetahuan partisipan tentang anemia umumnya terbatas, dengan internet sebagai sumber informasi utama selain tenaga kesehatan; kepatuhan konsumsi tablet tambah darah rendah, dipengaruhi oleh kelupaan, kondisi subjektif, serta ketidaknyamanan terhadap rasa dan bau tablet; pola makan belum optimal, dengan variasi konsumsi terbatas dan adanya pantangan makanan berbasis budaya; dukungan keluarga, terutama suami, berperan dalam mendukung konsumsi tablet tambah darah; dan edukasi dari tenaga kesehatan umumnya masih bersifat instruksional tanpa penjelasan yang memadai. Temuan ini menggambarkan kesenjangan antara ketersediaan intervensi, pemahaman ibu hamil, dan kualitas edukasi dalam pelayanan antenatal. Anemia among pregnant women remains a major public health concern in Papua, Indonesia, with increasing cases reported at primary healthcare settings. Behavioral, nutritional, and sociocultural factors are known to influence prevention practices, yet contextual evidence from this region remains limited. This study aimed to explore the experiences and barriers of pregnant women with anemia in undertaking prevention efforts at Puskesmas Pasar Sentral Timika. A qualitative study with a descriptive phenomenological approach was conducted at Puskesmas Pasar Sentral Timika, Papua. Ten pregnant women with anemia were selected using purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using Colaizzi's method. Five themes were identified: participants' knowledge of anemia was generally limited, with the internet as a primary source of information alongside healthcare providers; adherence to iron supplementation was low, influenced by forgetfulness, subjective conditions, and discomfort related to the tablet's taste and smell; dietary practices were suboptimal, with limited food variety and the presence of culturally influenced food taboos; family support, particularly from husbands, facilitated supplementation adherence; and health education provided by healthcare workers was mostly instructional without adequate explanation. These findings describe a gap between the availability of interventions, pregnant women's understanding, and the quality of education within antenatal care services.
Evaluasi kesiapan ambulans rujukan dan karakteristik perawat pendamping di Aceh: Evaluation of referral ambulance readiness and characteristics of accompanying nurses in Aceh Halimuddin Halimuddin; Alfi Raihana; Aiyub Aiyub; Abul A'la Tarigan; Masli Yuzar
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.504

Abstract

Sistem rujukan merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan sesuai tingkat kebutuhannya. Ambulans berperan dalam menjaga keselamatan pasien selama proses rujukan, namun minimnya kelengkapan peralatan medis masih menjadi tantangan di banyak daerah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik perawat pendamping pasien dan mengevaluasi kelengkapan ambulans rujukan ke RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Penelitian cross-sectional dilaksanakan pada 1–14 Desember 2023 dengan melibatkan 115 perawat pendamping dari ambulans yang merujuk pasien ke rumah sakit tersebut. Karakteristik responden dianalisis secara univariat, sedangkan hubungan antara karakteristik perawat dengan kelengkapan ambulans diuji menggunakan uji Mann-Whitney U dan Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat pendamping memiliki median usia 29 tahun (interquartile range [IQR]: 26–32) dan median masa kerja 5 tahun (IQR: 3–7). Mayoritas berjenis kelamin laki-laki (80,0%), berpendidikan Diploma III Keperawatan (79,1%), bertugas di Instalasi Gawat Darurat (61,7%), dan pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan (86,1%). Sebagian besar kendaraan rujukan merupakan ambulans transport (72,2%), dan 93,0% tidak memenuhi standar kelengkapan peralatan medis. Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p = 0,357), masa kerja (p = 0,350), dan pelatihan kegawatdaruratan (p = 0,567) dengan kelengkapan peralatan medis ambulans. Temuan ini mengindikasikan perlunya kebijakan yang dapat meningkatkan standar kelengkapan ambulans dalam sistem rujukan pasien. The referral system is an essential component of healthcare services to ensure that patients receive care according to their clinical needs. Ambulances play a crucial role in maintaining patient safety during referrals; however, inadequate medical equipment remains a major challenge in many regions. This study aimed to identify the characteristics of nurse escorts and evaluate the completeness of ambulances used for patient referrals to Dr. Zainoel Abidin Regional General Hospital, Banda Aceh. A cross-sectional study was conducted from December 1–14, 2023, involving 115 nurse escorts accompanying patients referred by ambulance to the hospital. Respondent characteristics were summarized using univariate analysis, while the Mann-Whitney U test and Fisher's Exact Test were used to examine associations between nurse characteristics and ambulance equipment completeness. The results showed that nurse escorts had a median age of 29 years (interquartile range [IQR]: 26–32) and a median work experience of 5 years (IQR: 3–7). Most participants were male (80.0%), held a Diploma III in Nursing (79.1%), worked in the Emergency Department (61.7%), and had received emergency care training (86.1%). Most referral vehicles were transport ambulances (72.2%), and 93.0% lacked complete medical equipment. Bivariate analysis revealed no significant association between age (p = 0.357), work experience (p = 0.350), or emergency care training (p = 0.567) and ambulance equipment completeness. These findings indicate the need for policies aimed at improving ambulance equipment standards to enhance the quality and safety of patient referral services.