cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN LEMAK DENGAN PROFIL LIPID PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER Tri Agrina; Sefri Noventi Sofia; Etisa Adi Murbawani
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.619 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18643

Abstract

Latar Belakang: Kejadian penyakit jantung koroner (PJK) akibat aterosklerosis sebagai salah satu penyebab utama kematian pada penyakit kardiovaskular diperkirakan akan terus meningkat. Perkembangan proses penyakit jantung koroner dipengaruhi oleh faktor kadar lemak darah (profil lipid) yang bersumber dari asupan makan harian, salah satunya adalah lemak. Penelitian mengenai hubungan antara asupan lemak dengan profil lipid sebelumnya masih kontroversi dan perlu dilakukan lebih lanjut. Asupan lemak yang diteliti adalah jenis asam lemak tidak jenuh berantai ganda (PUFA)Tujuan: Menganalisis hubungan antara asupan lemak dengan profil lipid pada pasien penyakit jantung koroner.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien rawat jalan penyakit jantung koroner RSUP Dr. Kariadi Semarang dengan metode purposive sampling. Data yang digunakan adalah data primer berupa asupan PUFA hasil pengisian kuesioner SQ-FFQ yang diolah dengan Nutri Survey 2007, serta data sekunder berupa profil lipid yang diperoleh dari instalasi rekam medis RSUP dr. Kariadi Semarang.Hasil: Analisis uji korelasi pearson antara asupan PUFA dengan profil lipid diperoleh nilai p>0,05, yaitu terhadap kolesterol total dengan nilai p=0,367dan r= -0,165, kolesterol HDL dengan nilai p=0,545 dan r= -0,111 , kolesterol LDL dengan nilai p= 0,412 dan r= -0,150, serta trigliserida dengan nilai p=0,578 dan r= -0,102.Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara asupan PUFA dengan profil lipid pada pasien penyakit jantung koroner.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN PIPER CROCATUM DOSIS BERTINGKAT TERHADAP PROLIFERASI LIMFOSIT LIMPA: STUDI PADA MENCIT BALB/C YANG DIINFEKSI SALMONELLA TYPHIMURIUM Lisana Himmatul Ulya; Akhmad Ismail; Neni Susilaningsih
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.074 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14807

Abstract

Latar Belakang : Piper crocatum (sirih merah) merupakan tanaman yang dikenal luas di Indonesia dan dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Kandungan senyawa sirih merah antara lain alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid, dan tannin. Ekstrak daun sirih merah memiliki efek imunomodulator.Tujuan : Membuktikan adanya pengaruh pemberian ekstrak daun Piper crocatum dosis bertingkat terhadap proliferasi limfosit limpa mencit Balb/c yang diinfeksi Salmonella typhimurium.Metode : Penelitian eksperimental laboratorik dengan post test only control group design. Sampel sebanyak 25 ekor mencit balb/c diadaptasi selama 7 hari. Mencit balb/c dibagi secara simple random sampling menjadi 5 kelompok. Kelompok K1 diberi ekstrak Piper crocatum peroral 10 mg/mencit/hari, K2 diinfeksikan Salmonella typhimurium secara intraperitoneal, P1 diberi ekstrak Piper crocatum peroral 10 mg/mencit/hari, P2 diberi ekstrak Piper crocatum peroral 30 mg/mencit/hari, P3 diberi ekstrak Piper crocatum peroral 100 mg/mencit/hari, dan semua kelompok perlakuan diinfeksikan Salmonella typhimurium intraperitoneal. Pada hari ke 15 semua mencit terminasi dan dilakukan pemeriksaan proliferasi limfosit metode MTT Assay. Data dideskripsikan dalam bentuk tabel, gambar dan analisa statistik.Hasil : Rerata proliferasi limfosit limpa tertinggi pada kelompok P3, sedangkan rerata proliferasi limfosit limpa terendah pada kelompok K1. Perbedaan bermakna (p<0,005) didapatkan pada P1>K2, P2>K2, dan P3>K2. Perbedaan tidak bermakna ditemukan pada K1-K2, P1-P2, P1-P3 dan P2-P3.Simpulan : Pemberian ekstrak daun Piper crocatum dosis bertingkat selama 14 hari meningkatkan proliferasi limfosit limpa mencit balb/c yang diinfeksi Salmonella typhimurium.Kata Kunci :
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA L.) DOSIS BERTINGKAT TERHADAP GAMBARAN MIKROSKOPIS GASTER TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSII FORMALIN Taufik Setiawan; Neni Susilaningsih; Fanti Saktini
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.49 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21283

Abstract

Latar Belakang: Kelor memiliki zat yang bermanfaat sebagai  gastroproteksi, antiulkus, dan antioksidan. Salah satu penyebab  kerusakan gaster adalah akibat paparan formalin yang merupakan zat iritatif dan karsinogenik yang sering disalahgunakan sebagai pengawet makanan. Kelor berpotensi mencegah kerusakan gaster yang disebabkan oleh paparan formalin.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dosis bertingkat pada gambaran histopatologis mukosa gaster tikus wistar yang dinduksi formalin.Metode: Jenis penelitian ini adalah true eksperimental laboratorik dengan Post Test Only with Control Group Design. Sampel sebanyak 25 ekor tikus wistar jantan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, diadaptasi selama 7 hari, diberi pakan dan minum standar. Kelompok kontrol negatif  tidak diberi perlakuan apapun, kontrol positif diberikan aquadest selama 5 hari dan dilanjutkan formalin peroral 100 mg/kgBB/hari selama 21 hari. Kelompok P1, P2, dan P3 diberi ekstrak daun kelor pada 5 hari pertama, dengan dosis 200, 400, dan 800 mg/kgBB/hari. Selanjutnya diberi formalin 100 mg/kgBB/hari dan ekstrak daun kelor sesuai dengan dosis awal selama 21 hari. Setelah 26 hari,tikus wistar diterminasi, diambil organ gaster, dan  dilakukan pemeriksaan histopatologi mukosa gaster berupa ulserasi, erosi, dan deskuamasi menggunakan skor Barthel Manja.Hasil: Rerata kerusakan mukosa gaster tertinggi terdapat pada kelompok kontrol positif. Uji Mann-whitney menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara rerata kelompok Kontrol (+) dengan rerata kelompok P1, P2, P3 dan Kontrol (-).Simpulan: Pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dosis bertingkat berpengaruh terhadap gambaran histopatologis mukosa gaster tikus yang wistar diinduksi formalin. Semakin tinggi dosis ekstrak daun kelor maka semakin rendah derajat kerusakan pada gambaran mikroskopis gaster tikus wistar jantan yang diinduksi formalin.
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN RHEUMATOID ARTHRITIS DI INSTALASI MERPATI PENYAKIT DALAM RSUP DR. KARIADI SEMARANG Ilham Robbizaqtana; Tanti Ajoe Kesoema; Rahmi Isma Asmara Putri
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.751 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i3.24417

Abstract

Pendahuluan: Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit kronis, yang dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, pembengkakan, dan keterbatasan gerak dan juga fungsi dari banyak sendi. Gambaran kualitas hidup pasien RA dapat diukur dengan World Health Organisation Quality Of life (WHOQOL-BREF) dengan menilai status kesehatan secara komprehensif yaitu yang paling utama dengan cara menguji sifat psikometrik. WHOQOL-BREF ini dikenal instrument yang cukup baik, dan bisa digunakan untuk mengukur kualitas hidup. Tujuan: Mengetahui gambaran kualitas hidup pada pasien RA di Instalasi Penyakit Dalam RSUP dr. Kariadi Semarang. Metode: Penelitian ini dilakukan di Instalasi Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi Semarang dimulai pada bulan Agustus-November 2018. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. Sebanyak 20 sampel telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dari penelitian ini, sampel tersebut telah menyetujui untuk dilakukan pengukuran kualitas hidup menggunakan WHOQOL-BREF. Hasil: Subjek kualitas hidup kurang baik sejumlah 1 orang (4,8%) dan Subjek dengan kualitas hidup baik sebanyak 19 (95,0%). Domain 1 memiliki rata rata 26,10 dengan standart deviasi sebesar 2,22, Domain 2 memiliki rata rata 22,65 dengan standart deviasi 1,53, Domain 3 memiliki rata rata 11,25 dengan standart deviasi sebesar 1,33, dan Domain 4 memiliki, rata rata 29,10 dengan standart deviasi 2,22. Kesimpulan: Mayoritas pasien Rheumatoid Artritis di Instalasi Penyakit Dalam RSUP dr. Kariadi Semarang memiliki kualitas hidup yang baik dan memiliki masalah lingkungan (environment) yang buruk.Kata kunci: Rheumatoid Artritis, Kualitas Hidup, WHOQOL-BREF
HUBUNGAN DERAJAT KEPARAHAN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER Sagita, Tiffany Christine; Setiawan, Andreas Arie; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.431 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20689

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah salah satu komplikasi gagal ginjal kronik (GGK). Beberapa penelitian sebelumnya telah meneliti hubungan antara gagal ginjal kronik (GGK) dengan kalsifikasi pada arteri koroner namun hubungan antara derajat keparahan gagal ginjal kronik (GGK) dan dampak terhadap atherosklerosis masih belum jelas.Tujuan: Menilai hubungan antara derajat keparahan gagal ginjal kronik dengan penyakit jantung koroner.Metode:  Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik cross sectional di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode 2013-2016. Subyek penelitian adalah 146 pasien GGK. Data yang dikumpulkan adalah usia, jenis kelamin, diganosis kerja, gula darah, profil lipid, tekanan darah, dan riwayat merokok.Hasil: Derajat keparahan GGK adalah derajat I 6 orang (4,11%), II 12 (8,22%), III 29 (19,86%), IV 21 (14,38%), dan V 78 orang (53,42%). Kejadian PJK dijumpai pada 72 orang (49,32%). Hasil uji korelasi terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian PJK dengan derajat keparahan GGK (p<0,001). Rasio Prevalensi untuk kejadian PJK pada GGK II 1,2 (95% IK=0,1 s/d10,7), III 2,3 (95% IK= 0,3 s/d 15,5), IV 4,7 (95% IK =1,3 s/d 16,7), V 4,0 (95% IK =1,2 s/d 14,0).Kesimpulan:  Semakin berat derajat gagal ginjal kronik maka semakin tinggi kejadian penyakit jantung koroner.
PENGARUH SANITASI LINGKUNGAN TERHADAP PREVALENSI TERJADINYA PENYAKIT SCABIES DI PONDOK PESANTREN MATHOLIUL HUDA AL KAUTSAR KABUPATEN PATI Mayrona, Cindy Tia; Subchan, Prasetyowati; Widodo, Aryoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.59 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19354

Abstract

Latar Belakang: Di Indonesia, angka kejadian penyakit skabies mencapai 5,6-12,95%. Pesantren sebagai tempat yang sering didapati higiene perorangan kurang memadai, tentu menjadi tempat yang sesuai untuk penularan penyakit skabies. Angka kejadian skabies sendiri di Pondok Pesantren di Demak mencapai 45,5%.Tujuan: Mengetahui Pengaruh Sanitasi Lingkungan terhadap Prevalensi Terjadinya Penyakit Skabies di Pondok Pesantren Matholiul Huda Al Kautsar Kabupaten Pati.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah 46 santri yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi di Pesantren Matholiul Huda Al Kautsar Kabupaten Pati. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan uji chi-square.Hasil: 31 santri (67,4%) memiliki praktik sanitasi lingkungan yang buruk dan 15 santri (32,6%) memiliki praktik sanitasi lingkungan yang baik. Dari 46 santri ditemukan 39 santri (84,8%) yang menderita skabies. Dengan uji chi square didapatkan nilai p 0,029 ( p<0,05) maka secara statistik terdapat pengaruh yang signifikan antara praktik sanitasi lingkungan dengan kejadian skabies. Hasil perhitungan Prevalence Ratio (PR) diperoleh nilai 0,7 yang berarti bahwa santri yang praktik sanitasi lingkungan yang buruk mempunyai resiko 0,7 kali untuk mendrita skabies dibanding dengan santri yang praktik sanitasi lingkungannya baik.Kesimpulaan : Ada pengaruh yang signifikan antara praktik sanitasi lingkungan dan kejadian skabies di pesantran Matholiul Huda Al Kautsar Kabupaten Pati. 
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN BERBAGAI FAKTOR PADA PASIEN RAWAT JALAN PUSKESMAS (STUDI DESKRIPTIF ANALITIK DI PUSKESMAS HALMAHERA SEMARANG) Pani Eirene Sitorus; Alifiati Fitrikasari
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.668 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15602

Abstract

Latar Belakang: Kecemasan merupakan suatu kondisi psikiatrik yang sering terjadi pada pasien dan sering tidak terdiagnosis dan tidak tertangani secara adekuat. Penyebab gangguan kecemasan sampai saat ini belum dapat dipastikan dan banyak faktor dikatakan mempengaruhi terjadinya gangguan kecemasan.Tujuan: Mengetahui gambaran tingkat kecemasan dan demografi pasien rawat jalan di Puskesmas Halmahera Semarang. Menguji hubungan penyakit medis, faktor demografi, dan stresor psikososial dengan tingkat kecemasan pasien rawat jalan di Puskesmas Halmahera Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Sebanyak 52 pasien rawat jalan Puskesmas Halmahera Semarang mengisi kuesioner mengenai data demografi dan Beck Anxiety Inventory (BAI).Hasil: Sebanyak 80,8% responden mengalami kecemasan ringan dan 19,2% responden mengalami kecemasan sedang. Terdapat hubungan yang signifikan antara usia, stresor psikososial, dan penyakit medis dengan tingkat kecemasan (p<0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan tingkat pendidikan dengan tingkat kecemasan (p>0,05).Kesimpulan: Terdapat berbagai faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan seseorang dalam penelitian ini secara khusus pada pasien rawat jalan puskesmas. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara usia, stresor psikososial, dan penyakit medis dengan kecemasan.
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN HAEMOPHILUS INFLUENZAE PADA AGAR COKLAT BERBASIS BLOOD AGAR, TRYPTIC SOY AGAR DAN COLUMBIA AGAR Triyoga Sulistyaningsih; Rebriarina Hapsari; Helmia Farida
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.316 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21498

Abstract

Latar Belakang: H. influenzae merupakan bakteri yang sulit ditumbuhkan dan memerlukan nutrisi dan lingkungan yang khusus (fastidious) meskipun ditumbuhkan pada media standarnya yaitu agar coklat. Modifikasi basis media adalah salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan koloni H. influenzae.Tujuan: Menganalisis perbandingan pertumbuhan H. influenzae pada agar coklat dengan basis media blood agar, TSA dan columbia agarMetode: Isolat murni H. influenza yang disimpan pada STGG di -80°C ditanam pada media agar coklat dengan basis media blood agar, TSA dan columbia agar. Media yang telah ditanami sampel diinkubasi pada suhu 37°C dengan tekanan CO2 5%, kemudian diamati setelah diinkubasi selama 24 jam dan 48 jam. Diameter koloni diukur menggunakan ruler di Adobe photoshop dan analisis data yang dilakukan adalah uji one–way Anova dan dilanjutkan dengan post–hoc untuk diameter koloni dan uji chi square untuk zona pertumbuhan dan karakteristik koloniHasil: Diameter koloni pada basis media TSA dalam 24 jam dan 48 jam (2,31±0,58 dan 3,02±0,77 mm) tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan basis media blood agar (2,20±0,69 dan 2,34±0,96 mm) dan columbia agar (2,04±0,59 dan 2,55±0,67 mm) dengan p = 0,650 (24 jam) dan p = 0,440 (48 jam). Tidak ada perbedaan bermakna juga ditemui pada zona pertumbuhan dengan p = 0,638 (24 jam) dan p = 0,342 (48 jam) serta karakteristik koloni.Kesimpulan: Modifikasi media dengan mengganti basis media dengan TSA dan columbia agar tidak meningkatkan kemampuan media dalam menumbuhkan H. influenzae.
PENGARUH PEMBERIAN FORMULA HIDROLISA EKSTENSIF DAN ISOLAT PROTEIN KEDELAI TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK DENGAN ALERGI SUSU SAPI DI KOTA SEMARANG Imani, Fawzia Haznah Nurul; Hardaningsih, Galuh
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.937 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18570

Abstract

Latar belakang: Formula hidrolisa ekstensif merupakan pilihan pertama dalam manajemen alergi susu sapi. Pada praktiknya, isolat protein kedelai lebih banyak digunakan karena harganya yang lebih terjangkau. Pemilihan jenis susu formula diperkirakan berpengaruh terhadap perkembangan khususnya pada periode emas tumbuh kembang.Tujuan: Menganalisis perbedaan pengaruh formula hidrolisa ekstensif dan isolat protein kedelai terhadap perkembangan anak dengan alergi susu sapi.Metode: Penelitian dengan desain belah lintang ini membandingkan perkembangan anak dengan alergi susu sapi yang mengonsumsi formula hidrolisa ekstensif dengan yang mengonsumi isolat protein kedelai. Subyek diperoleh dengan consecutive sampling. Perkembangan diukur dengan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) sedangkan stimulasi, sebagai variabel perancu diukur dengan HOME Inventory Score.Hasil: Subyek merupakan anak alergi susu sapi berusia 3-72 bulan. Diperoleh 25 subyek pada masing-masing kelompok penelitian. Terdapat 4 subyek  (16%)  pada kelompok isolat protein kedelai yang mengalami suspek gangguan perkembangan. Berdasarkan uji hipotesis, tidak terdapat perbedaan pengaruh yang bermakna antara kedua susu formula terhadap perkembangan global (p=0,11), motorik kasar (p=0,49), motorik halus (p=0,61), bahasa (0,42) dan personal sosial (p=0,46) anak dengan alergi susu sapi.Simpulan: Tidak terdapat perbedaan pengaruh yang bermakna antara formula hidrolisa ekstensif dan isolat protein kedelai terhadap perkembangan global, motorik kasar, motorik halus, bahasa maupun personal sosial anak dengan alergi susu sapi.
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO TERHADAP KEJADIAN OPHTHALMOPATHY GRAVES Y. Andressa Nugroho W.; Charles Limantoro; A. Kentar Arimadyo
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.962 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25371

Abstract

Latar Belakang: Opthalmopathy Graves merupakan salah satu tanda adanya penyakit Graves; penyakit autoimun dengan inflamasi sistemik. OG bisa terjadi pada penyakit Graves yang fungsi tiroidnya hipertiroidisme, eutiroidisme dan hipotiroidisme. Hasil pemeriksaan orbita dapat dinilai dengan kriteria NOSPECS. Secara sederhana faktor risiko OG dibagi menjadi dua yaitu kelompok yang dapat dicegah; merokok, jenis terapi, fungsi tiroid dan kelompok yang tidak dapat dicegah; usia, genetik, jenis kelamin. Tujuan: Membuktikan adanya hubungan antara faktor risiko usia, jenis kelamin, riwayat genetik, merokok, terapi iodine dan disfungsi tiroid terhadap kejadian penderita ophthalmopathy graves. Metode: Penelitian ini merupakan penelitin menggunakan metode belah lintang / cross sectional. Sampel penelitian ini adalah catatan rekam medik pasien penderita Ophthalmopathy Graves di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan pasien yang kontrol di poliklinik rawat jalan ilmu penyakit dalam sub-endokrin di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Data yang diambil adalah identitas pasien, hasil pemeriksaan NOSPECS, hasil kuisioner yang diberikan oleh peneliti. Data yang terkumpul ditabulasi dan dianalisa secara statistik dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil: Didapatkan data hubungan tidak signifikan antara faktor risiko usia (p=0,650), jenis kelamin (p=0,451), riwayat genetik (homogen), merokok (p=1,000) , terapi iodine (p=0,479) dan disfungsi tiroid (homogen) terhadap kejadian penderita ophthalmopathy graves. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara faktor risiko usia, jenis kelamin, riwayat genetik, merokok, terapi iodine dan disfungsi tiroid terhadap kejadian penderita ophthalmopathy graves.Kata Kunci: Ophthalmopathy graves, usia, jenis kelamin, riwayat genetik, merokok, terapi iodine, disfungsi tiroid.

Page 38 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue