cover
Contact Name
irhas
Contact Email
irhassaputra@gmail.com
Phone
+6281365553883
Journal Mail Official
irhassaputra@gmail.com
Editorial Address
Jl. Persiapan Gelengang No. 5, Kp. Simpang Empat, Kec. Bebesen, Kab. Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Indonesia
Location
Kab. aceh tengah,
Aceh
INDONESIA
ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
ISSN : 30267471     EISSN : 30478405     DOI : https://doi.org/10.61683/isme.vol41
Core Subject :
ISME Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research menerbitkan artikel berbasis riset tentang Studi Islam yang berkorelasi dengan disiplin ilmu yang lainnya atau kajian Islam dari berbagai pespektif. Secara khusus, riset dalam jurnal dapat berupa Kajian Al-Quran dan Hadits Teologi dan Filsafat Islam Tasauwuf dan Pemikiran Islam Sains dan Peradaban dalam Islam Pendidikan Islam Hukum Islam Ekonomi dan Bisnis Islam Islam dan Media Islam dan politik Islam, Adat dan Budaya Islam dan Moderasi Beragama
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
Kontroversi Buku Polemik Kitab Suci Karya Mun’im Sirry Zainal Abidin; Andri Ashadi; Faizin
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 1 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol11.2023.14-31

Abstract

Pada tahun 2013 terbitlah sebuah buku yang berjudul “Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformasi Atas Kritik Al-Qur’an Terhadap Agama Lain” karangan Mun’im Sirry. Buku ini berisi tentang penafsiran ayat-ayat yang Al-Qur’an yang  berkaitan dengan hubungan Islam dengan agama di luar Islam seperti Kristen dan Yahudi.  Salah satu pembahasan yang menarik adalah penafsirannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat eksklusif. Ia berargumen bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat eksklusif harus ditafsirkan ulang dalam bingkai dialog antar agama agar sikap toleransi dapat tercapai di zaman ini. Namun, penafsiran yang dilakukan oleh Mun’im Sirry terhadap ayat-ayat tersebut mengundang pro dan kontra dikalangan umat Islam. Sebagian kalangan menyebut bahwa gagasan tersebut bertentangan dengan akidah umat Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Penafsiran tersebut juga berbeda dengan ulama tafsir yang lebih populer dan otoritatif ketika menafsirkan ayat-ayat tersebut. Oleh karenanya penelitian ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana Mun’im Sirry menafsirkan ayat-ayat tersebut serta melihat argumentasi munculnya penafsiran tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Adapun hasil penelitian ini ditemukan bahwa Mun’im Sirry menafsirkan ayat-ayat yang bersifat eksklusif secara inklusif. Ia memandang bahwa Islam yang disebut dalam ayat eksklusif  sebagai agama satu-satunya yang diterima bukanlah Islam yang khusus diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga ayat ekslusif ini harus difahami secara inklusif, yakni Islam yang difahami dalam bentuk generiknya yakni ketaatan dan ketundukan kepada Tuhan. Sementara faktor munculnnya penafsiran inklusif dalam ayat-ayat eksklusif Mun’im Sirry umumnya disebabkan oleh faktor-faktor kemanusiaan seperti pemahaman eksklusif dan intoleran pada sebagian pemeluk agama Islam serta munculnya gerakan radikalisme.
Zakat Fitrah Sebagai Modal Usaha Ditinjau Dari Hukum Islam Faisal Efendi; Hertasmaldi; Yogi S; Dudung Abdul Razak
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 1 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol11.2023.7-13

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pengelolaan zakat fitrah yang pendistribusiannya tidak diberikan kepada delapan golongan (asnaf) seperti yang tertera dalam Surat At-Taubah ayat 60, yang mana dana atau harta zakat yang telah terkumpul digunakan untuk membeli sapi dan diberikan kepada fakir dan  miskin saja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) mendeskripsikan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan zakat fitrah (2) mendeskripsikan pengelolaan zakat fitrah (3) mendekripsikan pengelolaan zakat fitrah sebagai modal usaha ditinjau dari hukum islam. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Informasi penelitian ini adalah masyarakat atau jama’ah Masjid Baitul Ikhlas Padang Sirih, Kenagarian Sungai Tunu Barat, Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan dengan menggunakan data primer dan sekunder. Alat pengumpulan data yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pendekatan hukum yang digunakan yaitu yuridis empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; Pertama, Menurut pemahaman masyarakat jamaah Masjid Baitul Ikhlas Padang Sirih, bahwa pendistribusian zakat fitrah hanya kepada fakir dan miskin saja. Kedua, Dana zakat yang telah terkumpul didistribusikan sebagai modal usaha dalam bentuk ternak sapi dan diberikan kepada fakir miskin. Ketiga, Mendistribusikan zakat fitrah sebagai modal usaha boleh namun bukan solusi untuk menghilangkan kemiskinan secara keseluruhan. Pendistribusian zakat fitrah diutamakan untuk kepentingan di hari Raya Idul Fitri terlebih dahulu agar mereka bergembira merayakan kemenangan.
Legalitas Tafsir Isyari dalam Penafsiran Al-Quran Muhammad Nurman
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 1 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol11.2023.1-6

Abstract

Tulisan ini membahas tentang legalitas Tafsir Isyari sebagai sebuah sumber penafsiran dan syarat-syarat yang harus dipenuhinya. Ini muncul karena munculnya beberapa penafsiran yang bertentangan dengan penafsiran mayoritas ulama dan bahkan bertentangan dengan syariat dan logika akal. Hal ini disebabkan adanya legitimasi ilmu laduni (Mauhibah) sebagai sebuah ilmu yang harus dimiliki mufasir. Tulisan ini menggunakan metode penelitian library reseach berbasis content analysis dengan penyimpulan data model induksi. Tafsir Isyari adalah sumber tafsir yang dilegitimasi oleh al-Quran, Hadis dan dipraktekkan oleh para Sahabat. Syarat diakuinya sebuah penafsiran isyari adalah a. Tidak menafikan Tafsir Zahir, b. Diperkuat oleh dalil lain, c. Tidak bertentangan dengan hukum agama dan akal, dan d. Tidak mengakusisi kebenaran Tafsir Zahir.
Jalan Baru Kebenaran dalam Epistemologi Integrasi dan Interkoneksi Muhammad Amin Abdullah Azwar Sani
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 1 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol11.2023.41-50

Abstract

Gagasan Amin Abdullah mengusulkan pendekatan yang mengintegrasikan ilmu agama, ilmu pengetahuan, dan perspektif budaya dengan menghubungkan pemikiran Barat dan Timur. Dia menekankan pentingnya dialog lintas budaya, agama, dan ilmu pengetahuan, serta mengklaim bahwa kebenaran sejati tidak mungkin dicapai melalui pemisahan dan konflik antar tradisi. Artikel ini menjelaskan konsep tersebut dan implikasinya dalam pencarian pengetahuan holistik untuk memahami dunia modern yang kompleks. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode Library Research, karena objek penelitiannya adalah literatur-literatur kepustakaan yang membahas jalan baru kebenaran dalam epistemologi integrasi dan interkoneksi serta menggunakan pendekatan eksploratif-fenomenologis. Tujuannya adalah merunut batasan-batasan tradisional dalam pencarian pengetahuan dengan mengintegrasikan ilmu agama, ilmu pengetahuan, dan perspektif budaya, serta menghubungkan pemikiran Barat dan Timur. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas pengetahuan dalam konteks global saat ini. Dengan demikian, artikel ini menguraikan pandangan Amin Abdullah tentang pendekatan holistik yang dapat merangkul keragaman dalam upaya memahami dunia dan kebenaran yang lebih luas. Kata Kunci: Epistemologi; Integrasi; Interkoneksi; Kebenaran The concept proposed by Amin Abdullah suggests an approach that integrates religious knowledge, scientific understanding, and cultural perspectives by bridging Western and Eastern thought. He emphasizes the significance of cross-cultural, cross-religious, and interdisciplinary dialogues, asserting that ultimate truth cannot be attained through the separation and conflicts among traditions. This article elucidates this concept and its implications in the pursuit of holistic knowledge to comprehend the complexities of the modern world. This study employs qualitative research through Library Research methodology, as its focus revolves around literature that delves into new pathways to truth in the realm of integrated and interconnected epistemology, utilizing an exploratory-phenomenological approach. The aim is to trace the confines of traditional knowledge-seeking by harmonizing religious knowledge, scientific understanding, and cultural perspectives, while bridging Western and Eastern thought. This approach facilitates a deeper comprehension of the intricacies of knowledge within the current global context. Therefore, this article expounds on Amin Abdullah's perspective on a holistic approach that embraces diversity in the endeavor to understand the world and a broader truth Keywords: Epistemology; Integration; Interconnection; Truth
Analisis Kebijakan Pendidikan Era Khullafah Rasyidin Rido Putra; Nafsan; Nurkha Mariya
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 1 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol11.2023.32-40

Abstract

This study describes Islamic education policies in the Khullafah Rasyidin era and their impact on the development of Islamic education. This study aimed to describe how Islamic education policies were in the Khullafah Rasyidin era, which had a major impact on the development of Islamic education at that time. This study was library research with a qualitative approach. Sources of data were obtained through in-depth studies of various literatures such as books, articles, journals, and other supporting sources. The results showed that the era of the Khullafah Rasyidin leadership was divided into four periods, namely the Khalifah Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, and Ali bin Abi Thalib for 32 years. The most rapid progress of Islamic education occurred during the era of Khalifah Umar bin Khattab through several important policies, namely: First: the issuance of an order by the Khalifah Umar bin Khattab to the Islamic commanders containing orders to build mosques as a means of education and worship in every successful area controlled by Muslims. Second, Khalifah Umar bin Khattab appointed several scholars to teach in various areas of Islamic rule. Third, he ensured the welfare of educational personnel. Fourth, he gave rewards to theologian who produced a work in the form of a book in gold equivalent to the weight of the work.
Nilai-Nilai Moderasi Islam Dalam Novel Ayat-Ayat Cinta 2 Karya Habiburrahman El-Shyrazi Sera Irvan Sapriadi
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 2 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol12.2023.24-40

Abstract

Novel merupakan salah satu media yang dapat menyampaikan pesan atau nilai dari sebuah karya sastra. Oleh karena itu, Habiburrahman El Shirazy menegaskan nilai-nilai moderasi melalui media tulis seperti novel, naskah drama, buku terjemahan, kumpulan cerita keteladanan dan cerpen-cerpen bernuansa Islami. Salah satu karya terbaiknya adalah novel Ayat-Ayat Cinta. Novel ini merupakan bacaan yang bukan sekedar novel, namun bisa menjadi motivasi bagi seorang muslim atau muslimah untuk lebih baik dalam mengarungi kehidupan ini. Novel Ayat-Ayat Cinta mengandung nilai-nilai moderasi yang kuat. Kita bisa belajar banyak dari karya sastra (novel), salah satunya sikap moderat. Saat ini banyak orang yang jauh dari pemikiran moderat, toleransi dan anti akan kekerasan. Maka dengan bantuan novel-novel yang memiliki nilai moderasi agama diharapkan dapat menyadarkan masyarakat (pembaca) untuk bisa bersikap moderat dalam kehidupan beragama. Penelitian ini mengangkat judul “Nilai-nilai Moderasi dalam Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy” yang merumuskan masalah bagaimana nilai-nilai moderasi dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Dalam artikel ini, penulis menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Tujuan penelitian deskriptif analitis adalah untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang nilai-nilai moderasi dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Penelitian ini menggunakan teknik dokumenter yaitu teknik pengumpulan data/dokumen untuk mengkonfirmasi informasi seperti membaca buku, internet, kemudian menganalisis novel Ayat-Ayat Cinta dan menarik kesimpulan. Novel Ayat-Ayat Cinta berisi ajakan untuk selalu bersikap moderat dimanapun berada. Nilai-nilai moderasi Islam terpapar jelas dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2, moderasi Islam yang dibangun oleh Fahri di tengah lingkungan keberagamaannya menjadikan Fahri sebagai actor moderasi Islam dalam novel tersebut. Adapun nilai-nilai moderasi Islam yang digambarkan dalam novel ini adalah Akomodasi terhadap Budaya Lokal, Komitmen Kebangsaan, Anti kekerasan dan Toleransi.
Satu Hadis Nabi Beragam Pemaknaan: Resepsi Masyarakat Sutera Terhadap Kuburan di Lingkungan Masjid Yunidos; Novizal Wendry; Azamel Fata
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 2 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol12.2023.1-10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap resepsi masyarakat Sutera terhadap dijadikannya lingkungan masjid sebagai kuburan. Terjadi kontroversi di kalangan masyarakat berdasarkan pemaknaan mereka terhadap Aisyah yang menjelaskan posisi kuburan Nabi di lingkungan masjid. Riset ini menggunakan metode kualitatif dengan objek formal fenomenologi Edmund Husserl. Riset ini menemukan bahwa keberislaman masyarakat Sutera dimulai dari tahun tahun 1616 dan terus berkembang sampai saat. Ditemukan sebanyak 45 buah masjid dan 80 buah mushalla di Sutera. Masyarakat menjadikan lingkungan masjid sebagai kuburan mengaku terilhami dari keberadaan kuburan Nabi Muhammad Saw di masjid Nabawi. Adapun kelompok yang menolak beralasan menghindari timbulnya perbuatan syirik di tengah masyarakat.
Doktrin Qadar Dalam Islam: Memahami Dinamika antara Free Will dan Determinisme Futikatus Sa'diyah; Azwar Sani
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 2 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol12.2023.11-23

Abstract

Dinamika antara kebebasan kehendak dan determinisme dalam doktrin Qadar dalam Islam memunculkan perdebatan panjang. Konsep Qadar mencakup elemen-elemen deterministik yang kuat, seperti ketetapan Allah, takdir, pengujian, dan pengetahuan Allah tentang masa depan Ini menciptakan keseimbangan unik antara determinisme dan kebebasan manusia dalam Islam. Pemikiran kontemporer tentang Qadar mencerminkan keragaman pandangan, termasuk perdebatan antara tradisionalis dan modernis, serta pertanyaan tentang sejauh mana determinisme mempengaruhi kebebasan manusia. Berbagai pendekatan interpretatif terhadap Qadar dalam Islam mencerminkan keragaman budaya, sosial, dan intelektual dalam dunia Muslim. Diskusi tentang kebebasan kehendak dan determinisme dalam konteks Qadar adalah isu yang kompleks dan mendalam dalam pemikiran Islam. Konsep Qadar mencakup elemen deterministik yang kuat, tetapi juga mengakui kebebasan manusia dalam membuat pilihan. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif yang mendalam dan berfokus pada analisis literatur. Sebagian besar data diperoleh dari karya-karya cendekiawan dan pemikir terkemuka yang membahas konsep Qadar dalam Islam. Penelitian ini dapat diklasifikasikan sebagai penelitian kepustakaan (Library Research). Data sekunder juga diambil dari buku-buku kalam dan jurnal yang relevan. Pendekatan eksploratif-fenomenologis digunakan untuk mendalamkan pemahaman tentang konsep Qadar dalam konteks Islam. Kata Kunci: Kebebasan Kehendak; Determinisme; Qadar; Islam. The dynamics between free will and determinism in the doctrine of Qadar in Islam have sparked lengthy debates. The concept of Qadar encompasses strong deterministic elements, such as Allah's decree, destiny, testing, and Allah's knowledge of the future. This creates a unique balance between determinism and human freedom in Islam. Contemporary thinking on Qadar reflects a diversity of perspectives, including debates between traditionalists and modernists, as well as questions about the extent to which determinism influences human freedom. Various interpretative approaches to Qadar in Islam reflect cultural, social, and intellectual diversity within the Muslim world. Discussions about free will and determinism in the context of Qadar are complex and profound issues in Islamic thought. The concept of Qadar includes strong deterministic elements but also acknowledges human freedom in making choices. This research adopts a deep qualitative approach focusing on literature analysis. Most of the data are derived from the works of scholars and leading thinkers who discuss the concept of Qadar in Islam. This research can be classified as library research. Secondary data are also drawn from relevant philosophy books and journals. An exploratory-phenomenological approach is used to deepen the understanding of the concept of Qadar in the context of Islam. Keywords: Free Will; Determinism; Qadar; Islam.
Fungsionalisasi Indra Sama’, Bashar dan Fuad Dalam Belajar Menurut Al-Qur’an Abdul Hafiz; Syabuddin; Syahminan
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 2 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol12.2023.50-57

Abstract

Al-Qur’an merupakan dalil utama sebagai pedoman hidup bagi umat manusia, secara khusus bagi umat Islam yang menyakini kitab ini sebagai rukun iman yang ke-3. Iman merupakan keyakinan akan adanya Sang Khalik sebagai tempat bersandar kita, karena tidak ada yang patut disembah kecuali Al‘Aliim. Al-Qur’an merupakan kalamullah, yang dapat kita amalkan dan menjadi pelajaran bagi kita mengarungi dunia sebelum menemui fase kematian. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia dibekali dengan indra pendengaran (Sama’), penglihatan (Bashar), dan hati (Fuad). Karena ketiga indra ini sering dikupas dibeberapa ayat Al-Qur’an baik Sama’, Bashar maupun Fuad. Ada 6 ayat yang secara bersamaan mengakomodir ketiga kata ini. Allah menyuruh berulang kali mengingatkan manusia menggunakan ketiga indra ini dalam belajar memahami ayat-ayat Allah, karena ketiga indra ini merupakan sarana bagi manusia di dunia untuk mengambil jalan yang diridai, namun tidak sedikit juga manusia yang menyalahgunakan berupa kemaksiatan kepada Allah Swt. Bagi yang menyianyiakannya akan mempertangungjawabkannya di akhirat kelak. Fungsionalisasi indra ini dalam belajar diejawantahkan dengan gaya belajar auditori, gaya belajar visual dan gaya  belajar kinestetik Al-Qur’an merupakan dalil utama sebagai pedoman hidup bagi umat manusia, secara khusus bagi umat Islam yang menyakini kitab ini sebagai rukun iman yang ke-3. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia dibekali dengan indra pendengaran (Sama’), penglihatan (Bashar), dan hati (Fuad). Karena ketiga indra ini sering dikupas di beberapa ayat Al-Qur’an baik Sama’, Bashar maupun Fuad. Ada 6 ayat yang secara bersamaan mengakomodir ketiga kata ini. Allah menyuruh berulang kali mengingatkan manusia menggunakan ketiga indra ini dalam belajar memahami ayat-ayat Allah, karena ketiga indra ini merupakan sarana bagi manusia di dunia untuk mengambil jalan yang diridai, namun tidak sedikit juga manusia yang menyalahgunakan berupa kemaksiatan kepada Allah swt. Fungsionalisasi indra ini dalam belajar diejawantahkan dengan gaya belajar auditori, gaya belajar visual dan gaya belajar kinestetik. 
Etika Komunikasi Islam Dalam Pemanfaatan Media Sosial Nurul Saniah; Muhammad Farhan
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 1 No 2 (2023): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol12.2023.41-49

Abstract

Media Sosial banyak mengubah cara masyarakat untuk terhubung satu sama lain. Media sosial memberikan efek yang berdampak dalam dunia komunikasi secara global. Media sosial kini menjadi bagian penting pada kehidupan manusia, mempengaruhi cara bersosialisasi sehari-hari, hingga mempengaruhi jalannya dunia usaha. Sehingga, pada kehidupan sehari-hari kita seolah tak bisa lepas dari media sosial. Media sosial dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan jika dapat digunakan secara bijak, yakni memudahkan kita untuk berinteraksi dengan banyak orang, memperluas pergaulan, jarak dan waktu bukan lagi masalah, lebih mudah dalam mengekspresikan diri, penyebaran informasi dapat berlangsung secara cepat, biaya lebih murah, dan lain sebagainya. Selain berdampak positif, media sosial pun mempunyai dampak negatif jika digunakan untuk tujuan negatif dan sikap/perilaku yang tidak tepat yakni dapat menjauhkan orang-orang yang dekat dan sebaliknya, interaksi secara tatap muka cenderung menurun, membuat orang-orang menjadi kecanduan terhadap internet, menimbulkan konflik, masalah privasi, dam rentan terhadap pengaruh buruk orang lain. Dalam menggunakan media sosial harus memiliki etika yang baik agar tidak menimbulkan dampak buruk terhadap orang lain. Di dalam Islam efektivitas komunikasi yang baik seperti amar ma’ruf nahi munkar yaitu menyuruh kepada kebaikan dan mencengah kemungkaran.