cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
mkb.fkunpad@gmail.com
Editorial Address
Gedung Rumah Sakit Pendidikan Unpad/Pamitran Unpad (Teaching Hospital Building) Faculty of Medicine Unpad, 3rd Floor Jl. Prof. Eyckman No. 38 Bandung, 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : 0126074X     EISSN : 23386223     DOI : 10.15395/mkb
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Bandung (MKB)/Bandung Medical Journal publishes peer-reviewed original articles and case reports in basic medical research, clinical research, and applied medical science. This journal is published quarterly (March, June, September, and December) by Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran. Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. All submitted manuscripts will go through the double-blind peer review and editorial review before being granted with acceptance for publication.
Arjuna Subject : -
Articles 651 Documents
Hypercalcemia of Malignancy: Clinical Characteristics and Treatment Outcome Wijaya, Indra; Oehadian, Amaylia; Sumantri, Rachmat
Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypercalcemia is one of the most common paraneoplastic syndromes in hospitalized malignancy patients. The aim of this study was to determine the clinical characteristics and treatment outcome in hypercalcemia of malignancy. This was a study using medical records of patients with malignancy hospitalized in the Departement of Internal Medicine, Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung between December 2008 and March 2011. Statistical analysis was performed by Wilcoxon and Mann-Whitney tests. There were 40 patients with hypercalcemia of malignancy, consisted of 22 hematologic malignancies and 18 solid tumors. Disturbance of consiousness were found in 4, dehydration in 18, constipation in 6, and nausea and vomiting in 6 subjects. In 16 subjects, no symptoms were found. All subjects received rehydration with normal saline. Bisphosphonate was given in 26 subjects. The difference of decreasing ion calcium level, between the groups who were treated with or without bisphosphonate was 0.59 (0.01–1.17) mg/dL, p=0.0001. In conclusion, hematologic and solid tumors are found in about the same proportion in hypercalcemia associated malignancy. Treatment either with or without bisphosphonate shows good results. [MKB. 2014;46(2):111–17]Key words: Bisphosphonate, hypercalcemia of malignancy, rehydrationHiperkalsemia pada Keganasan: Karakteristik Klinik dan Luaran TerapiHiperkalsemia merupakan salah satu sindrom paraneoplasma yang sering ditemukan pada pasien keganasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik klinis dan respons terapi penderita dengan hiperkalsemia pada keganasan. Penelitian ini menggunakan data rekam medis pasien yang dirawat di Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Desember 2008–Maret 2011. Analisis statistik menggunakan Uji Wilcoxon. Dari 40 penderita dengan hiperkalsemia pada keganasan, didapatkan 22 keganasan hematologi dan 18 tumor padat. Gejala klinis yang ditemukan adalah gangguan kesadaran pada 4 subjek, dehidrasi pada 18 subjek, konstipasi pada 6 subjek, mual dan muntah pada 6 subjek. Pada 16 subjek tidak ditemukan gejala. Semua subjek mendapatkan rehidrasi dengan NaCl 0,9%. Dua puluh enam subjek mendapat terapi bisfosfonat. Perbedaan penurunan kadar kalsium ion antara kelompok yang mendapatkan bisfosfonat dan tidak adalah 0,59 (0,01–1,17) mg/dL, p=0,0001. Simpulan, proporsi keganasan penyebab hiperkalsemia hampir sama antara keganasan hematologi dan tumor padat. Terapi rehidrasi dengan NaCl 0,9% tanpa atau disertai bisfosfonat memberikan hasil yang baik. [MKB. 2014;46(2):111–17]Kata kunci: Bisfosfonat, hiperkalsemia pada keganasan, rehidrasi DOI: 10.15395/mkb.v46n2.283
Profil Keamanan setelah Pemberian Dosis Primer Vaksin Pentabio® pada Bayi di Indonesia Sundoro, Julitasari; Rusmil, Kusnandi; Sitaresmi, Mei Neni; Arhana, Arhana; Djelantik, I.G.G.; Hadinegoro, Sri Rezeki; Satari, Hindra Irawan; Syafriyal, Syafriyal; Bachtiar, Novilia Sjafri; Sari, Rini Mulia
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v49n2.1052

Abstract

Vaksin Hib mulai digunakan pada Pogram Imunisasi Nasional sejak tahun 2013 secara bertahap dan di seluruh Indonesia mulai tahun 2014 dalam bentuk vaksin kombinasi DTP/HB/Hib (Pentabio®), yang memberikan  kekebalan terhadap difteria, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan Haemophilus influenzae tipe b. Studi ini menilai reaksi sitemik, reaksi lokal, dan reaksi yang serius pascaimunisasi dengan Pentabio®. Sebanyak 4.000 bayi penerima vaksin Pentabio®bergabung dalam studi ini. Reaksi yang timbul dicatat pada kartu harian oleh petugas yang sudah dilatih. Vaksin Pentabio®yang diamati pada PMS ini menggunakan vaksin rutin dari Program Imunisasi Nasional dalam waktu pengamatan 28 hari di empat propinsi, yaitu Nusa Tenggara Barat, Bali, Yogyakarta, dan Jawa Barat pada periode Mei–Desember 2014. Sebanyak 3.978 data dapat dianalisis karena 22 di antaranya tidak memberikan informasi yang valid. Reaksi sistemik yang paling banyak timbul adalah demam 0,85% pada 30 menit pertama, dan meningkat menjadi 14,03% pada satu hari pascaimunisasi, kemudian sembuh pada hari berikutnya. Reaksi lokal yang paling sering timbul adalah nyeri pada tempat suntikan pada 67,6% subjek pada 30 menit setelah imunisasi, dan meningkat menjadi 87,23% pada 1 hari pascaimunisasi namun sembuh pada hari berikutnya. Mayoritas nyeri yang timbul adalah kategori ringan. Tidak ditemukan kejadian ikutan pascaimunisasi serius selama pengamatan. Simpulan, reaksi lokal dan sistemik pascaimunisasi dengan Pentabio® dapat ditoleransi pada bayi. [MKB. 2017;49(2):86–93]   Kata kunci: Bayi, Pentabio®, post marketing surveillance, reaksi lokal, reaksi sistemik   Safety Profile Following Pentabio® Primary Dose Vaccination in Indonesian Infants   Since 2013 Indonesian Expanded Program on Immunization (EPI) has  graduallyincluded Hib vaccine into routine EPI schedule in four provinces and has established the vaccine inclusion in the the nationwide program through integration of Hib vaccine into existing DTP/HB vaccine in the form of pentavalent vaccine (DTP/HB/Hib). Pentabio® vaccine is given to provide protection against diphtheria, tetanus, pertussis, hepatitis B, and Hib infection in infants and children under 5 years old.  The objective of this study was to assess the systemic reactions, local reactions, and any serious adverse event after Pentabio® immunization. About 4,000 infants were involved in this study. Systemic and local reactions were recorded on diary cards by trained health care provider. Pentabio® vaccines in this PMS were obtained from the National Immunization Program within 28 days of observation in four provinces, West Nusa Tenggara, Bali, Yogyakarta, and West Java in May–December 2014. In total, 3,978 infants were analyzed, while the other 22 forms were not included due to incomplete information. The most common systemic reaction was fever, found in 0.85% of the subjects at 30 minutes after injection, and increased to 14.03% at day 1 (one) after immunization, which disappeared the day after. The most common local reaction was pain, which was found in 67.6% subjects at 30 minutes after injection, and increased to 87.23% at day 1 (one) after immunization to disappear the day after. The intensity of the pain was mostly mild. No serious adverse event following immunization found during observation. [MKB. 2017;49(2):86–93]   Key words: Infants, local reactions, Pentabio®, post marketing surveillance, systemic reactions 
Correlation Physical Activity, Energy Balance, and Metabolic Syndrome of Physical Fitness in Elderly Age Group Setiawan, Setiawan; Goenawan, Hanna; Lesmana, Ronny; Tarawan, Vita M.; Rosdianto, Aziiz Mardanarian; Purba, Ambrosius
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v50n1.1160

Abstract

Fitness becomes an important benchmark for public health in every age group. Activities with poor adverse fitness are at risk of injury. Good fitness is gained from a balance in everyday physical activity with conditions that are free of metabolic syndrome. This study investigated the relationship of physical activity, energy balance, and metabolic syndrome to the fitness of 166 professors of Universitas Padjadjaran who underwent a 1-month fitness checkup at BAPELKES Bandung in the period of 2017. Based on the regression analysis, the results showed a significant relationship between physical activity, energy balance, and metabolic syndrome on the physical fitness of the elderly group (F = 25.9290> F table = 2.427) with normal data distribution (Kolmogorov-Smirnov test). The results also showed a moderate relationship (R = 0.569 and R2 = 0.324). It also partially showed significant influence between physical activity and fitness (t = 8.541> t table = 1.975), significant influence between energy balance and physical fitness (t = 2.248> t table = 1.975), and no significant partial influence between metabolic syndrome and physical fitness of the elderly group (t = -0.029 <t table = 1.975). Hence, there is a relationship between physical activity, energy balance, metabolic syndrome and physical fitness  of Professors in Universitas Padjadjaran.Key words: Energy balance, metabolic syndrome, physical fitness  Hubungan Aktivitas Fisik, Keseimbangan Energi, dan Sindrom Metabolik terhadap Kebugaran Fisik pada Kelompok Usia LanjutKebugaran menjadi tolak ukur penting bagi kesehatan masyarakat pada setiap kelompok usia. Aktivitas dengan kebugaran usia lanjut yang kurang baik berisiko terjadi cedera. Kebugaran yang baik diperoleh dari keseimbangan dalam aktivitas fisik sehari-hari dengan kondisi bebas dari sindrom metabolik. Penelitian ini mempelajari hubungan aktivitas fisik, keseimbangan energi, dan sindrom metabolik dengan kebugaran 166 orang Guru Besar di Universitas Padjadjaran yang dilakukan pemeriksaan kebugaran selama 1 bulan di BAPELKES Bandung periode tahun 2017. Berdasar atas analisis regresi hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik, keseimbangan energi, dan sindrom metabolik dengan kebugaran fisik kelompok usia lanjut (F=25,9290 > Ftable=2,427) dengan distribusi data normal (tes Kolmogorov-Smirnov). Hasil juga menunjukkan hubungan yang moderat (R= 0,569 dan R2= 0,324). Secara parsial juga menunjukkan pengaruh yang signfikan aktivitas fisik dengan kebugaran (t= 8.541> t tabel= 1.975), pengaruh signifikan keseimbangan energi dengan kebugaran fisik (t= 2,248> t tabel= 1,975), dan tidak ada pengaruh signifikan secara parsial terhadap sindrom metabolik dengan kebugaran fisik kelompok usia lanjut (t= -0,029 < t tabel= 1,975). Berdasar atas hasil penelitian dapat disimpulkan hubungan = aktivitas fisik, keseimbangan energi, dan sindrom metabolik dengan kebugaran fisik guru besar Universitas Padjadjaran.Kata kunci: Kebugaran, keseimbangan energi, sindrom metabolik
The Association Between Initial Solid Food and Atopy in Children with or without Family History of Atopic Disease Perdana, Nanan Surya; Setiabudiawan, Budi; Kartasasmita, Cissy B.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atopic diseases are the most common chronic diseases in childhood. Their incidence has a tendency to increase recently. The tendency of atopy could be triggered by many factors originated in the early life, including early introduction of solid food. To investigate the association between initial solid food and atopy, an analytic comparative study with historical cohort design was conducted from May to June 2006 in Pediatric Department of Hasan Sadikin Hospital Bandung. It was the second phase study of 'allergic prevalence and risk factors identification in the first two years of life'. Out of 800 children in Garuda, Padasuka, and Babakansari Primary Health Care Center who were included in the first phase of the study, 749 children were eligible to continue the second phase of the study, 284 children were randomized into two groups of children with and without family history of atopic disease consisting of 142 children each. They then underwent skin prick test. History of initiation time of solid food were obtained from their parents. To analyze the data chi-square and odds ratio with 95% confidence interval were used. Among 284 children who fullfilled the inclusion criteria, 50% had family history of atopic disease. Atopy was found in 28.2% children, 32.4% with family history of atopic disease and 23.9% without family history of atopic disease. There was no significant correlation between family history of atopic disease and atopy (p=0.113). There was a high risk for atopy related to initial solid food (OR = 4.50, 95%CI = 1.96-10.74, p < 0.001). The difference of atopy was strongly significant between children who had initial solid food at the age of <6 months and at the age of >6 months whether or not the children had family history of atopic disease (p=0.016 and p=0.002). Conclusions: A significant increase in the risk of childhood atopy occured if initial solid food is given at the age of <6 months, whether or not the children have family history of atopic disease.Hubungan antara Waktu Pemberian Makanan Pendamping ASI dan Kejadian Atopi pada Anak dengan atau Tanpa Riwayat Penyakit Atopik dalam KeluargaPenyakit atopik merupakan penyakit kronik yang paling sering ditemukan pada anak. Angka kejadian penyakit atopik cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kecenderungan atopi atau timbulnya penyakit atopik dapat dicetuskan oleh faktor faktor yang berpengaruh di awal kehidupan, salah satunya adalah pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI). Untuk mengetahui hubungan antara waktu pemberian MP ASI dan kejadian atopi dilakukan penelitian analitik komparatif dengan rancangan historical cohort. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2006 di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan fase kedua dari penelitian “Prevalens alergi dan identifikasi faktor risiko pada dua tahun pertama kehidupan”. Penelitian dilakukan di Puskesmas Garuda, Padasuka, dan Babakansari. Dari 800 anak yang mengikuti fase I, sebanyak 749 anak dapat diteliti pada penelitian fase II. Dengan teknik sampling secara acak terpilih 142 anak, masing-masing dari  kelompok dengan dan tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan uji tusuk kulit dan ditanyakan mengenai riwayat pemberian MP ASI. Analisis statistik yang digunakan adalah uji kai-kuadrat dan Odds ratio dengan IK95%. Dua ratus delapan puluh empat anak memenuhi kriteria inklusi penelitian. Dari jumlah tersebut diperoleh 50% anak dengan riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Atopi didapatkan pada 28,2% anak, 32,4% di antaranya dengan riwayat penyakit atopik dan 23,9% tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara anak dengan riwayat penyakit atopik dalam keluarga dan kejadian atopi (p=0,113). Dua ratus delapan (73,2%) anak mendapat MP ASI pada usia <6 bulan, 76 (26,8%) anak mendapat ASI pada usia >6 bulan. Kejadian atopi berbeda bermakna antara anak yang mendapat MP ASI pada usia <6 bulan dan >6 bulan (OR=4,50; IK95%=1,96-10,47; p<0,001), baik pada kelompok anak dengan riwayat penyakit atopik (OR=3,38; IK95%=1,12-10,86; p=0,016) maupun tanpa riwayat penyakit atopik (OR=6,08; IK95%=1,63-26,72, p=0,002) dalam keluarga. Kesimpulan: Pemberian MP ASI pada usia <6 bulan meningkatkan risiko terjadinya atopi, baik pada kelompok anak dengan atau tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n1.6 
KADAR ADIPONEKTIN SEBAGAI FAKTOR RISIKO PENEBALAN TUNIKA INTIMA MEDIA ARTERI KAROTIS Juanda, Hadi; MA, Toni; Ruhimat, Undang; Suardi, Ernijati
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kardiovaskular masih merupakan masalah kesehatan dan penyebab kematian utama di negara maju dan berkembang walaupun telah dilakukan upaya pencegahan dan tata laksana yang baik. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebagai evaluasi/diagnosis dini adanya aterosklerosis subklinis untuk memprediksi kejadian kardiovaskular di masa mendatang. Pemeriksaan carotid intima media thickness (CIMT) dapat memberikan gambaran adanya kerusakan/disfungsi pembuluh darah secara umum terutama pembuluh koroner jantung. Adiponektin mempunyai efek antiinflamasi dan antiaterogenik sehingga disimpulkan adiponektin bermanfaat karena mempunyai efek kardioprotektif. Walaupun demikian penelitian peranan adiponektin terhadap penebalan tunika intima media arteri karotis pada manusia masih terbatas dan hasil penelitian menemukan hasil yang berbeda. Untuk mengetahui peranan adiponektin sebagai faktor risiko terhadap penebalan tunika intima media arteri karotis dilakukan penelitian dengan rancangan kasus kelola. Subjek penelitian adalah penderita obesitas abdominal pria dan wanita dengan rentang usia 40-59 tahun yang telah diperiksa ketebalan tunika intima media arteri karotis dengan USG. Kriteria eksklusi adalah gagal jantung kongestif, penyakit jantung koroner, stroke, dan penderita yang menggunakan obat glukokortikoid. Didapatkan 40 subjek dengan penebalan tunika intima media arteri karotis (kasus) dan 40 subjek tanpa penebalan tunika intima media arteri karotis (kontrol). Pada kelompok kasus kadar adiponektin lebih rendah dibanding kelompok kontrol, yaitu yaitu 4,1 ìg/mL (SB 1,7) berbanding 6,0 ìg/mL (SB 3,0). Hasil analisis statistik dengan uji chi square pada derajat kepercayaan 95% (1,05-12,78), OR 3,67 dengan nilai p=0,04 menunjukkan bahwa adiponektin bersama dengan DM, hipertensi dan MetS secara bermakna merupakan faktor risiko untuk terjadinya penebalan tunika intima media arteri karotis. Pada penelitian ini didapatkan titik potong (cut-off point) kadar adiponektin sebesar 5,09 ug/dL dengan ROC 0,682, derajat kepercayaan 95% (0,569-0,782), sensitivitas 77,5% dan spesifisitas 55,0%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kadar adiponektin yang rendah (<5,09 ug/dL) merupakan faktor risiko untuk terjadinya penebalan tunika intima media arteri karotis.Kata kunci: Adiponektin, penyakit kardiovaskular, CIMTADIPONECTIN LEVEL AS A RISK FACTOR OF CAROTID ARTERY INTIMAMEDIAL THICKENINGCardiovascular diseases remain a major health problem and the leading cause of mortality both in industrialized and developing country, despite the improvement in its prevention and management. Ultrasonography (USG) can be used in the evaluation and early diagnosis of subclinical atherosclerosis to predict cardiovascular events in the future. Carotid intima-medial thickness (CIMT) is a surrogate of vascular dysfunction especially coronary vessels. Adiponectin has anti-inflammatory and anti-atherogenic properties, that is thought to be beneficial because of its cardioprotective effect. However the studies in the role of adiponectin in human is limited and earlier studies found conflicting results. To evaluate the role of adiponectin as a risk factor of carotid artery intima-medial thickening, we conducted this case-control study. The subjects were obese male and female between 40-59 years of age, who were evaluated by carotid artery intima-medial ultrasonography. Exclusion criteria were congestive heart failure, coronary heart disease, stroke and glucocorticoid treatment. Forty subjects with carotid artery intima-medial thickening (cases) and 40 subjects without thickening (control). Adiponectin levels in case group were lower than in control group, 4.1 ìg/mL (SB 1.7) and 6.0 ìg/mL (SB 3.0), respectively. Statistical analysis with chi square test with confidence interval (CI) 95% (1.05-12.78), OR 3.67 with p=0.04 (p<0.05) showed that adiponectin is a significant risk factor of carotid artery intima-medial thickening together with diabetes mellitus, hypertension, and metabolic syndrome.  This study found the cut-off point of adiponectin was 5.09 ug/dL with ROC 0.682, CI 95% (0.569-0.782), sensitivity 77.5% and specificity 55,0%. Conclusion: low adiponectin level (<5,09 ug/dL) is a risk factor of developing carotid artery intima-medial thickening.Key words: Adiponectin, cardiovascular disease, CIMT DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.186
Efek Imunostimulasi Ekstrak Etanol Umbi Iles-iles Terhadap Aktivitas Fagositosis Sel Makrofag pada Tikus Putih Strain Wistar yang Diinokulasi Staphylococcus aureus Makiyah, Arfatul; Husin, Usep Abdullah; Sadeli, Ramlan
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas makrofag, karena makrofag berperan penting dalam respons imun dan untuk menganalisis aktivitas fagositosis karena efek flavonoid dan polisakarida umbi iles-iles pada respons imun tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efek imunostimulasi ekstrak etanol umbi iles-iles terhadap aktivitas fagositosis sel makrofag pada tikus putih strain Wistar yang diinokulasi Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan studi eksperimental laboratorium rancang acak lengkap terhadap tikus putih strain Wistar. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Patologi Klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan dilaksanakan bulan Januari–Maret 2012. Tikus putih strain Wistar sebanyak 30 ekor dibagi menjadi 5 kelompok. Tikus putih strain Wistar pada setiap perlakuan diberikan secara oral selama 7 hari pada tanggal 1–7 Januari 2012. Parameter efek imunostimulan ekstrak etanol umbi iles-iles terhadap aktivitas makrofag secara mikroskopis adalah peningkatan jumlah makrofag, indeks fagositosis, dan secara makroskopis adalah peningkatan indeks hati, limpa, serta timus. Secara mikroskopis melalui gambaran makrofag yang dinilai setelah 1, 3 jam, dan 6 jam inokulasi S. aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah makrofag pada kelompok ekstrak etanol umbi iles-iles dosis 220 mg/kgBB pada perlakuan setelah 1, 3, dan 6 jam lebih tinggi dibanding dengan kelompok ekstrak etanol umbi iles-iles dosis 110 mg/kgBB dan 55 mg/kgBB (p<0,05), begitu juga jika dibanding dengan kelompok pembanding Zymosan A dan kontrol (p<0,05). Simpulan, ekstrak etanol umbi iles-iles (Amorphophallus variabilis BL.) memiliki efek imunostimulan dan memiliki efektivitas peningkatan respons imun lebih baik dibanding dengan kontrol pembanding zymosan A 35 mg/kgBB.  [MKB. 2016;48(2):68–77]Kata kunci: Ekstrak etanol, indeks fagositosis, indeks hati, makrofag, umbi iles-ilesThe Effect of Iles-iles Tubers Ethanol Extract Immunostimulant on Macrophages Cell Phagocytic Activities in Wistar Strain White Rat Inoculated by Staphylococcus aureusAbstractThis study was conducted to test the activity of macrophages based on the notion that macrophages play an important role in the immune response. This study analyzed the phagocytic activities due to the effects of flavonoids and polysaccharides iles-iles tubers in the immune response. The aim of this study was to analyze the immunostimulation effect of iles-iles tubers ethanol extract on phagocytic activities of macrophages in Wistar strain white rat inoculated with Staphylococcus aureus. This study used a complete randomized design with wistar strain white rat. This study was conducted at the Clinical Pathology Laboratory of Dr. Hasan Sadikin General Hospital from January–March 2012. Wistar strain white rats (n=30) were divided into 5 groups. Wistar strain white rats in each treatment group were given treatment that was administered orally for 7 days from 1–7 January 2012. The result shows that the number of macrophages in iles-iles tubers ethanol extract group that received  220 mg /kgBW dose after 1 hour, 3 hours, and 6 hours of treatment was higher than that of the tuber-iles iles ethanol extract that received 110 mg /kgBW and 55 mg/kgBW (p<0.05), both for Zymosan A comparison group and control group (p<0.05). Conclusion of this study is iles-iles tubers ethanol extract (Amorphophallus variabilis BL.) is effective for immune-stimulatory healing activity and has better effectiveness for improving immune response compared to zymosan A 35 mg/ kgBW. [MKB. 2016;48(2):68–77]Key words: Ethanol extract, iles-iles tubers, liver index, macrophages, phagocytic index DOI: 10.15395/mkb.v48n2.759
Paparan Debu Batubara Subkronik pada Peroksidasi Lipid dan Kadar Gula Darah Tikus Diabetes Melitus Yuwono, Agus; Setiawan, Bambang; Kania, Nia; Widodo, M. Aris
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Kalimantan Selatan, prevalensi penderita diabetes melitus sebesar 11,1%. Kalimantan Selatan merupakan provinsi dengan tambang batubara tersebar di seluruh wilayah. Hal ini menjadikan penderita diabetes melitus terpapar debu batubara. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur peroksidasi lipid akibat paparan debu batubara subkronik dan pengaruhnya pada kadar gula darah tikus diabetes melitus. Kelompok penelitian meliputi tikus Wistar diabetes melitus (P1), kelompok diabetes melitus + paparan debu batubara dosis 12,5 mg/m3 1 jam/hari selama 28 hari (P2), dan kelompok diabetes melitus + paparan debu batubara dosis 25 mg/m3 1 jam/hari selama 28 hari (P3), masing-masing 6 ekor. Penelitian dilakukan mulai Agustus–Oktober 2010. Uji analysis of variance (ANOVA) terhadap kadar malondialdehid (MDA) plasma tidak didapatkan peningkatan secara bermakna antara kelompok perlakuan (p>0,05). Penurunan kadar gula untuk P1, P2, dan P3 berturut-turut sebesar 23,6%, 16,9%, dan 9,3%. Analisis uji t tidak berpasangan terhadap kadar gula darah tidak didapatkan perbedaan bermakna sebelum dan setelah perlakuan pada semua kelompok (p>0,05). Tidak terdapat korelasi antara kadar MDA plasma dan kadar gula darah setelah perlakuan pada berbagai kelompok (p>0,05). Disimpulkan bahwa paparan debu batubara subkronik tidak meningkatkan peroksidasi lipid yang mempengaruhi kadar gula darah pada tikus diabetes melitus dan tidak ada korelasi antara kadar MDA dan glukosa darah. [MKB. 2011;43(4):189–92].Kata kunci: Debu batubara, diabetes melitus, hiperglikemia, peroksidasi lipidSubchronic Coal Dust Exposure on Lipid Peroxidation and Blood Glucose Level in Diabetes Mellitus RatIn South Kalimantan, prevalence of diabetes mellitus was 11.1%. South Kalimantan is a province with coal mine spread in all districts. This condition induce coal dust exposure on diabetes mellitus patients. Aim of this study was to measure lipid peroxidation by subchronic coal dust exposure and its effect on glucose level in Wistar rats model of diabetes mellitus. Group included diabetes mellitus Wistar rats (P1), diabetes mellitus + coal dust exposure at dose 12.5 mg/m3 1 hour/day for 28 days (P2) and diabetes mellitus + coal dust exposure at dose 25 mg/m3 1 hour/day for 28 days (P3) on 6 rats, respectively. This research was done from August–October 2010. Analysis of variance (ANOVA) test concluded no significant differently on increased plasma malondialdehyde (MDA) level between all groups (p>0.05). Percentage of blood glucose level decreased 23.6%, 16.9% and 9.3% for P1, P2, P3 group, respectively. Unpaired t test concluded that blood glucose level were not significant differently between pre and post treatment in all groups (p>0.05). There was no correlation between plasma MDA level and blood glucose level in all groups of exposure (p>0.05). In conclusions, that subchronic coal dust exposure doesn’t increase lipid peroxidation and no effect on blood glucose level in diabetes mellitus rats and no correlation between MDA dan blood glucose level. [MKB. 2011;43(4):189–92].Key words: Coal dust, diabetes mellitus, hyperglycemia, lipid peroxidation DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n4.68
PERBANDINGAN ANGKA POSITIVITAS DAN WAKTU DETEKSI PERTUMBUHAN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS ANTARA MEDIA BIAKAN CAIR KOLOROMETRIK DAN MEDIA PADAT OGAWA PADA SPESIMEN SPUTUM,CAIRAN PLEURA, DAN CAIRAN SEREBROSPINAL Indahwaty, -; Parwati, Ida; Soeroto, Arto Yuwono; Noormartany, -
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biakan merupakan pemeriksaan baku emas untuk diagnosis tuberkulosis (TB). Pertumbuhan M. tuberculosis pada medium padat memerlukan waktu 3-4 minggu, sedangkan pada medium cair lebih cepat tumbuh. Penelitian ini bertujuan membandingkan angka positivitas dan waktu deteksi pertumbuhan M. tuberculosis antara medium cair kolorimetrik dan medium padat Ogawa. Penelitian dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik RSHS periode Juni- Desember 2007. Subjek penelitian adalah penderita tersangka TB paru, pleura, atau meningen. Analisis statistik menggunakan chi square dan independent t test. Spesimen penelitian terdiri dari 71 sputum, 24 cairan pleura, dan 20 cairan serebrospinal (CSS). Pada medium cair biakan positif M. tuberculosis dari sputum adalah 69%, cairan pleura 41,7%, CSS 60%; pada medium padat dari sputum 52,1%, cairan pleura 25%, CSS 20%. Angka positivitas medium cair berbeda bermakna untuk sputum dan CSS (p<0,05). Rerata waktu deteksi pertumbuhan pada medium cair untuk sputum 15,2 (±8,7) hari, cairan pleura 8 (±12,7) hari, CSS 13,5 (±19,5) hari. Rerata waktu deteksi pertumbuhan pada medium padat untuk sputum 23 (±9) hari, cairan pleura 36 (±18,3) hari, dan CSS 32 (±11,4) hari. Waktu deteksi pertumbuhan M. tuberculosis pada medium cair berbeda bermakna untuk sputum dan cairan pleura (p<0,05). Medium cair memberikan angka positivitas lebih tinggi dan waktu deteksi pertumbuhan M. tuberculosis lebih cepat dibandingkan medium padat, sehingga baik untuk diagnosis TB.Kata kunci: M. tuberculosis, sputum, cairan pleura, CSS, medium padat, medium cair, angka positivitas, waktu deteksi pertumbuhanCOMPARISON OF THE POSITIVITY AND MEAN DETECTION TIME OF MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS GROWTH USING COLORIMETRIC LIQUID MEDIA AND OGAWA SOLID MEDIA WITH SPECIMENS FROM SPUTUM, PLEURAL FLUID AND CEREBROSPINAL FLUIDCultivation is the gold standard in diagnosing tuberculosis (TB). M. tuberculosis needs 3-4 weeks to growth in solid media, but it is growing faster in liquid media. The aim of this study was to compare the positivity rate and detection time of M. tuberculosis growth using colorimetric liquid and Ogawa solid media. This study did in Laboratory of Clinical Pathology Hasan Sadikin Hospital during June-Desember 2007. The subject was pulmonary, pleuritis or meningitis TB patients. The statistic analyzed using chi square and independent t test. The specimens were 71 sputums, 24 pleural fluids, 20 cerebrospinal fluids (CSF). The positivity rate of liquid media for sputums were 69%, pleural fluids 41.7%, CSF 60%. The positivity rate of solid media for sputums were 52.1%, pleural fluids 25%, CSF 20%. The positivity rate in liquid media was significant for sputum and CSF (p=0..05). The mean detection time in liquid media for sputums were 15.2 (±8.7) days, pleural fluids 8 (±12.7) days, CSF 13.5 (±19.5) days. The mean detection time in solid media for sputums 23 (±9) days, pleural fluids 36 (±18.3) days, CSF 32 (±11.4) days. The mean detection time in liquid media was significant for sputum and pleural fluid (p=0.05). The positivity rate and detection time of M. tuberculosis growth in colorimetric liquid media are higher and faster than in Ogawa solid media, so it is better for diagnosing TB.Key words: M. tuberculosis, sputum, pleural fluid, CSF, liquid media, solid media, positivity rate, mean detection time DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.262
Pengaruh Ekstrak Etanol Propolis Terhadap Aktivitas dan Kapasitas Fagositosis pada Kultur Makrofag yang Diinfeksi Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) Herawati, Iis; Husin, Usep A.; Sudigdoadi, Sunarjati
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanganan penyakit infeksi diperlukan suatu imunostimulator. Propolis adalah campuran resin yang dikumpulkan lebah dari tumbuh-tumbuhan, digunakan sebagai material isolasi sarang lebah, merupakan bahan yang berpotensi sebagai imunostimulator. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada, pada Januari–Maret 2013. Penelitian ini bertujuan menganalisis peningkatan aktivitas dan kapasitas fagositosis kultur makrofag yang diberi ekstrak etanol propolis terhadap Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC). Desain penelitian eskperimen. Ke dalam kultur makrofag yang diperoleh dari tiga orang subjek, masing-masing diberi ekstrak etanol propolis 6,25, 12,5, 25, 50, dan 100 µg/mL serta kontrol tanpa ekstrak etanol propolis. Inkubasi dilakukan satu hari. Kultur diinfeksikan EPEC selama 30 menit, diwarnai dengan Giemsa dan diamati dengan mikroskop. Persentase aktivitas fagositosis diperoleh dengan menghitung jumlah makrofag yang aktif dalam 100 makrofag. Nilai kapasitas fagositosis diperoleh dengan menghitung jumlah bakteri yang difagosit oleh 50 makrofag. Uji analysis of variance (ANOVA) menunjukkan perbedaan signifikan aktivitas maupun kapasitas fagositosis kultur makrofag yang diberi ekstrak etanol propolis dibanding dengan kontrol (p=0,000). Uji Tukey HSD pada aktivitas fagositosis menunjukkan hasil signifikan antara kontrol dan konsentrasi 6,25 µg/mL (p=0,008), sedangkan pada kapasitas fagositosis terlihat antara kontrol dan konsentrasi 12,5 µg/mL (p=0,001). Simpulan, ekstrak etanol propolis meningkatkan aktivitas dan kapasitas fagositosis kultur makrofag terhadap EPEC dengan konsentrasi minimum 12,5 µg/mL. [MKB. 2015;47(2):102–8]Kata kunci: Aktivitas fagositosis, Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC), kapasitas fagositosis, makrofag, propolis.    The Effect of Ethanolic Extract Propolis on Phagocytosis Activity and Capacity Macrophages Culture which Infected by Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC)AbstractThe use of immunostimulant for treatment infectious diseases is needed. Propolis is mixture of resin collected from plants by bees, used as an insulating material in beehives, which has potential as immunostimulant. The research was performed at Laboratory of research and integrated testing Gadjah Mada University in January−March 2013. This experimental research is amied to analyze the increase of phagocytosis activity and capacity on macrophages culture which added by propolis ethanolic extract againts Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC). The design research is experimental. Macrophage culture obtained from three subjects, individually culture supplemented with the propolis ethanolic extract 6.25, 12.5, 25, 50, and 100 µg/mL as well as control without the addition of propolis ethanolic extract. The cultures were incubated for one day. Macrophage cultures infected by EPEC for 30 minutes, stained by Giemsa and observed by microscope. Percentage of phagocytosis activity is determined by the number of active macrophages per 100 macrophages. Phagocytosis capacity value determined by counting the number of bacteria that phagocytized by 50 macrophages.  Analysis of variance (ANOVA) showed significantly different phagocytosis activity and capacity between macrophage cultures that added by propolis ethanolic extract and control (p=0.000). Tukey HSD analysis showed significantly different phagocytosis activity between control and subject with concentration 6.25 µg/mL (p=0.008) whereas on phagocytosis capacity appears between control and subject with concentration 12,5 µg/mL (p=0.001). In conclusion, propolis ethanolic extract is able to increase the phagocytosis activity and capacity of macrophages againts EPEC with minimum concentration 12.5µg/mL. [MKB. 2015;47(2):102–8] Key words: Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC), macrophage, phagocytosis activity, phagocytosiscapacity, propolis DOI: 10.15395/mkb.v47n2.460
Nyeri Punggung pada Operator Komputer Akibat Posisi dan Lama Duduk Sumekar, Dyah Wulan; Natalia, Deny
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu nyeri yang sering terjadi pada manusia adalah nyeri punggung, umumnya terjadi pada orang dewasa usia 33–55 tahun. Dari data Rumah Sakit Umum Daerah Lampung Tengah tahun 2006, tercatat 32 pasien nyeri otot dan meningkat dua tahun berikutnya. Sebagian besar penderita bekerja sebagai operator komputer. Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui pengaruh posisi dan lama duduk terhadap nyeri punggung. Jenis penelitian adalah cross sectional terhadap 120 operator komputer di Kecamatan Bandar Jaya Kabupaten Lampung. Hasil penelitian menunjukkan pada posisi duduk baik 27/65 (41,5%) mengalami nyeri punggung, sedangkan pada posisi tidak baik 11/12 (91,7%), dengan p=0,011 dan risiko 15,481 kali. Pada lama duduk >4 jam didapatkan 37/63 (58,7%) nyeri punggung, sedangkan <4 jam 1/13 (7,1%), dengan p=0,006 dan risiko 18,497 kali. Gabungan posisi dan lama duduk berpengaruh secara bermakna terhadap nyeri punggung (p=0,017 dan 0,010) dan memberikan risiko 21,400 dan 24.607 kali. Disimpulkan posisi dan lama duduk masing-masing berpengaruh dan merupakan faktor risiko terhadap nyeri punggung. Gabungan posisi dan lama duduk meningkatkan pengaruh dan risiko. [MKB. 2010;42(3):123-7].Kata kunci: Lama duduk, nyeri pungung, posisi duduk Computer Operator's Low Back Pain Caused By Sitting Position and DurationOne of the pain that often occurs in human is low back pain, usually occurs in adults aged 33-55 years. According to data at regional hospital Lampung Tengah in 2006, there were 32 patients with low back pain, and increased in the next two years. Majority of patients were computer operator. The purpose of this study was to determine the effect of sitting position and duration on low back pain. This study was cross sectional study of 120 computer operators in Bandar Jaya Disctrict of Lampung. The results showed that 27/65 (41.5%) on good sitting position group experienced low back pain, while in the bad sitting position was11/12 (91.7%), with p = 0.011 and risk value 15.481 times. In> the >4 hours sitting duration group, 37/63 (58.7%) experienced low back pain, whereas in <4 hours group was 1 / 13 (7.1%), with p = 0.006 and risk value 18.497 times. Combination of -sitting position and duration has a significant effect on low back pain (p = 0.017 and 0.010) and gave 21.400 and 24 607 times risk. In conclusion, each sitting position and duration has influence on low back pain, and is a risk factor. Combination of sitting position and duration increase its impact and risk. [MKB. 2010;42(3):123-7].Key words: Low back pain, seating duration, seating position DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n3.23