cover
Contact Name
Rizki Zakwandi
Contact Email
r.zakwandi@upi.edu
Phone
+6285669180173
Journal Mail Official
wapfi@upi.edu
Editorial Address
JL. Setiabudhi No. 229 Bandung, 40154 Jawa Barat - Indonesia. e-mail: wapfi@upi.edu Tel / fax : (022) 2004548 / (022) 2004548
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
WAPFI (Wahana Pendidikan Fisika)
ISSN : 23381027     EISSN : 26854414     DOI : https://doi.org/10.17509/wapfi
The below mentioned areas are just indicative. The editorial board also welcomes innovative articles that redefine any Science, especially Physics and Technology Education field. Earth Science and Education Basic Science in Physics Education New Technologies in Physics Education Research and Development in Physics Education Globalisation in Physics Education Women in Physics Education Computers, Internet, Multimedia in Physics Education Organization of Laboratories of Physic Curriculum Development on Physics Education Teaching, Media, and Learning Physics
Articles 216 Documents
PENERAPAN MODEL EXPERIENTIAL LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA S. Nurhasanah; Adam Malik; D. Mulhayatiah
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 2, No 2 (2017): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.589 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v2i2.8280

Abstract

Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa masih rendah. Oleh karena itu, keterampilan berpikir kritis siswa perlu ditingkatkan khususnya pada materi fluida statis, maka diterapkan model experiential learning. Model experiential leraning mengajak siswa untuk berperan aktif selama proses pembelajaran dengan mengembangkan pengalaman-pengalaman siswa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model experiential learning dan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi fluida statis. Metode dalam penelitian ini adalah pre-experimental design, dengan desain one-group pretest-posttest. Sampel penelitian adalah siswa kelas X MIA-5 SMAN 1 Rancaekek. Data keterlaksanaan pembelajaran dengan model experiential learning diperoleh melalui lembar observasi dan keterampilan berpikir kritis siswa diperoleh melalui tes uraian. Hasil penelitian selama tiga kali pertemuan menunjukkan peningkatan aktivitas guru dan siswa setiap pertemuannya dengan rata-rata 92,15% berkategori sangat baik. Terdapat peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi fluida statis dengan rata-rata N-Gain 0,60 berkategori sedang. Hasil uji normalitas menunjukkan data tidak terdistribusi normal, maka uji hipotesis menggunakan uji Wilcoxon match pair. Diperoleh hasil    yang berarti  ditolak dan  diterima. Hasil ini menujukkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa dengan menggunakan model experiential learning pada materi fluida statis.Kata Kunci: Experiental Learning, Keterampilan Berpikir Kritis, fluida statis Based on observations indicate that the critical thinking skills of students is still low. Therefore, the critical thinking skills students need to be improved, especially in the static fluid material, then applied the model of experiential learning. Model experiential leraning invites students to play an active role during the process of learning to develop students' experiences. The purpose of this study to determine feasibility study using a model of experiential learning and increase students' critical thinking skills in a static fluid material. The method in this study is a pre-experimental design, the design of one-group pretest-posttest. Samples were class X MIA-5 SMAN 1 Rancaekek. Data feasibility study with the model of experiential learning gained through observation and critical thinking skills of students is obtained through the test description. Results of research during three meetings showed increased activity of teachers and students every encounter with an average 92.15% excellent category. There is an increase in students' critical thinking skills in a static fluid material with an average gain of 0.60 categorized N-being. Normality test results show the data pretest and posttest is not normal, then the hypothesis test using Wilcoxon test match pair. Z hitung results obtained (4.47) Z_tabel (1.69) which means H0 rejected and Ha accepted. The results indicate that there is an increase in students' critical thinking skills by using a model of experiential learning in a static fluid material.Keywords: Experiential Learning, critical thinking skills, static fluid
Kemampuan Awal Penalaran Ilmiah Konsep Fluida Statis Mahasiswa Calon Guru Fisika: Analisis Model Rasch Unang Purwana; Dadi Rusdiana
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 6, No 1 (2021): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Februari 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.618 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v6i1.32461

Abstract

Penalaran imerupakan suatu proses berpikir sistematik dan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan yang dapat diperoleh melalui fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli. Kemampuan penalaran ilmiah meliputi kekekalan materi dan volume, penalaran proporsional, pengendalian variabel, penalaran probabilitas, penalaran korelasi, dan penalaran hipotesis deduktif. Tujuan penelitian ini menganalisis kemampuan awal penalaran ilmiah mahasiswa calon guru fisika SMA menggunakan analisis model Rasch pada materi fluida statis. Metode yang digunakan yaitu deskriptif eksplanasi. Instrumen penilaian kemampuan penalaran ilmiah berbentuk soal uraian berjumlah 5 soal yang mengukur kemampuan penalaran proporsional, probabilitas, korelasi, dan hipotesis deduktif. Partisipan penelitian yaitu 19 mahasiswa calon guru (L = 2 dan P = 17) di salah satu LPTK di Bandung. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kemampuan awal penalaran ilmiah mahasiswa calon guru berada pada kategori sangat rendah (16%), rendah (42%), sedang (26%), dan tinggi (16%). Kesimpulan penelitian ini bahwa kemampuan awal  penalaran ilimiah materi fluida statis mahasiswa calon guru beragam dan cenderung rendah.  Kata kunci: fluida statis, penalaran ilmiah, Rasch model  ABSTRACT The reasoning is a systematic and logical thinking process to obtain a conclusion obtained through facts, information, experience, or expert opinion. Scientific reasoning abilities include conservation of matter and volume, proportional reasoning, variable control, probability reasoning, correlation reasoning, and deductive-hypothetical reasoning. The purpose of this study was to analyze the initial scientific reasoning abilities of prospective high school physics teacher students using the Rasch model analysis on static fluid material. The method used is a descriptive explanation. The instrument for assessing scientific reasoning ability is in the form of essay questions totaling five questions that measure proportional reasoning ability, probability, correlation, and deductive hypothesis. Research participants were 19 prospective teachers (L = 2 and P = 17) at one of the LPTKs in Bandung. The results obtained were that the initial scientific reasoning abilities of prospective teacher students were in the deficient (16%), low (42%), medium (26%), and high (16%) categories. This study concludes that the initial scientific reasoning ability of prospective teacher students varies and tends to below  Keyword: Rasch models, scientific reasoning, static fluid
PROFIL KETRAMPILAN PROSES SAINS (KPS) SISWA DALAM MENGGUNAKAN RAGAM MEDIA PEMBELAJARAN GERAK MELINGKAR DI SMA Annida Melia Zulika; Matius Heru Wijaya; Umi Masitoh; Setiya Utari; Titin Titin
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 3, No 1 (2018): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.331 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v3i1.10945

Abstract

ABSTRAK Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui respon KPS siswa SMA dalam menggunakan ragam media pembelajaran pada materi gerak melingkar. Penelitian menggunakan populasi siswa kelas X di salah satu SMA N di Lembang  dengan jumlah sampel 24 orang yang di pilh secara random clauster. Respon keterampilan proses sains yang diamati meliputi keterampilan observasi, berhipotesis, melakuan pengukuran, serta mengkomunikasikan. Respon KPS diperoleh melalui jawaban LKS dan diolah dengan menggunakan tafsiran persentasi. Hasil penelitian menunjukkan melalui fenomena yang dikembangkan  dan pertanyaan arahan untuk mengamati data hal yang diobservasi memberikan gambaran sebagian besar siswa dapat melakukan observasi, mengungkapkan fenomena berdasarkan data. Media yang dikembangkan kurang dilengkapi dengan pertanyaan arahan  untuk mengenal variabel bebas dan terikat sehingga hanya  setengahnya siswa mengungkapkan keterampilan hipotesis 54% meskipun hipotesis yang diajukan tidak dilengkapi dengan asumsi. Penggunaan ragam media tidak memfasilitasi bagaimana cara-cara siswa berkomunikasi sehingga pembelajaran ini belum dapat melatihkan keterampilan berkomunikasi. Pengembangan media perlu diarahkan untuk memberikan kelengkapan penggunaannya berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi. Kata Kunci:  ragam media; keterampilan proses sains. ABSTRACT This qualitative descriptive research aims to find out the response of high school students in using the variety of learning media on circular motion material. The study used a population of tenth graders in one of the high schools in Lembang with a sample of 24 people who were randomized to clauster. The observed responses to the science process skills include observation skills, hypotheses, measurements, and communications. Response to the ability of the science process is obtained through the answer of the student worksheet and processed by using the percentage interpretation. The results showed through the developed phenomenon and the question of direction to observe the observed observed data gives an overview of the majority of students can do the observation, revealing the phenomenon based on the data. The developed medium is less equipped with the landing question to recognize the independent and bound variables so that only half of the students reveal hypothesis skills of 54% even though the proposed hypothesis is not equipped with assumptions. The use of a variety of media does not facilitate the ways students communicate so that this learning has not been able to train communication skills. Media development needs to be directed to provide the complete use of it related to the ability to communicate. Keyword: various media; science process skills.
Halaman Depan WaPFi September 2021 Achmad Samsudin
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 6, No 2 (2021): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.554 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v6i2.39543

Abstract

Halaman Depan WaPFi September 2021
PENGEMBANGAN TES KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS BERDASARKAN ANALISIS TEORI RESPON BUTIR Desi Ratna Ningsih; Taufik Ramlan Ramalis; Unang Purwana
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 3, No 2 (2018): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.847 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v3i2.13730

Abstract

ABSTRAKKeterampilan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa sebagai standar kompetensi lulusan. Namun, keterampilan ini masih jarang dinilai karena belum banyaknya instrumen untuk mengukur keterampilan tersebut. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk mengembangkan instrumen tes keterampilan berpikir kritis yang berbentuk pilihan ganda dengan menggunakan metode Research and Development (RD) yang melibatkan tiga ahli. Hasil validasi isi oleh tiga ahli yang dianalisis menggunakan Aiken V menunjukkan bahwa instrumen tes ini valid dan layak diuji coba. Instrumen tes diuji coba kepada siswa SMA dan hasilnya dianalisis menggunakan teori respon butir dengan bantuan program eirt versi 2.0.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa model 3PL merupakan model yang sesuai untuk mengkarakteristik instrumen tes keterampilan berpikir kritis. Instrumen tes ini memiliki fungsi informasi sebesar 30,14 dengan Standard Error of Measurement (SEM) sebesar -0.83, daya pembeda, tingkat kesukaran, dan tebakan semu dengan kategori “baik”.Kata Kunci: keterampilan berpikir kritis, teori respon butir, model parameter logistikABSTRACTCritical thinking skill is one of the skills that must be possessed by students as the graduate competency standards. However, this skill is rarely rated as not many instruments to measure the skill. This research was conducted to develop critical thinking skills test instruments in the form of multiple choice with Research and Development (RD) as the method that involving three experts. The results of the content validation by three experts who analyzed using Aiken V indicates that the test instrument is valid and worthy of being tested. The instrument tests to high school students tested and the results were analyzed using item response theory program of eirt version 2.0.0. The results show that the model 3PL is an appropriate model to characterize critical thinking skills test instruments. The test instrument has the function of information at 30.14 with the Standard Error of Measurement (SEM) of -0.83, distinguishing, level of difficulty, and guess pseudo with the "good" category.Keywords: critical thinking skills; item response theory; parameter logistic models
Pengukuran Kelayakan Fitur QR Code dalam Buku Saku Fisika Materi Alat Optik Nanda Annisa Solikhah; Rohaya Evatri Faila; Bayu Setiaji
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 7, No 2 (2022): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) September 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5049.249 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v7i2.45367

Abstract

Salah satu media belajar dengan memanfaatkan kolaborasi antara buku dan teknologi diwujudkan dalam bentuk buku saku dengan fitur QR Code. Di dalam QR Code itu sendiri tersedia berbagai macam konten, seperti gambar ilustrasi, video edukatif, dan simulasi online. Penelitian yang dilakukan ini memiliki tujuan untuk (1) menghasilkan produk berupa buku saku yang dilengkapi fitur QR Code pada pokok bahasan Alat Optik sebagai media pembelajaran; (2) mengetahui kelayakan buku saku yang dilengkapi fitur QR Code sebagai buku penunjang siswa dalam memahami konsep materi optika geometri. Metode penelitian dan pengembangan menggunakan model ADDIE yang terdiri dari 5 tahapan, yaitu Analysis (Analisis), Design (Perancangan), Development (Pengembangan), Implementation (Implementasi), dan Evaluation (Evaluasi). Namun pada penelitian ini dibatasi hanya sampai tahap development (Perancangan). Penguji kelayakan produk pada penelitian ini dilakukan oleh 10 orang yang pernah belajar Fisika Alat Optik dan sedang menempuh pendidikan dalam bidang Fisika. Berdasarkan hasil analisis pada uji kelayakan produk yang dilakukan  dan dihasilkan skor rata-rata pada seluruh indikator yang termasuk dalam kategori sangat layak.
Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Menggunakan Model Inkuiri Terbimbing Pada Pembelajaran Kinematika Gerak Lurus Renita Putri Lestari; Lily Amalia; Andhy Setiawan; Iyon Suyana
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 1 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.568 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i1.15818

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa menggunakan model inkuiri terbimbing pada pembelajaran kinematika gerak lurus. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019 dengan subjek 35 siswa kelas X MIPA 6 SMAN 6 Bandung, 20 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi untuk mengamati aktivitas siswa khususnya aktivitas verbal (mengeluarkan pendapat, bertanya), aktivitas mental (menanggapi), dan aktivitas fisik (melakukan percobaan) serta mengamati keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model inkuiri terbimbing. Pada siklus 1, persentase siswa yang mengeluarkan pendapat 41,18%, bertanya 66,18%, menanggapi 31,62% dan melakukan percobaan 46,32%. Rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus 1 adalah 46,32%. Keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model inkuiri terbimbing pada siklus 1 mencapai 82,35% dengan 3 langkah pembelajaran yang belum terlaksana. Berdasarkan data tersebut, model inkuiri terbimbing dinyatakan belum berhasil meningkatkan aktivitas belajar siswa karena belum mencapai indikator keberhasilan sebesar 75%. Pada siklus 2, persentase siswa yang mengeluarkan pendapat 78,03%, bertanya 84,85%, menanggapi 83,58% dan melakukan percobaan 85,61%. Rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus 2 adalah 82,77%. Keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model inkuiri terbimbing pada siklus 2 mencapai 100% dengan semua langkah pembelajaran telah terlaksana. Berdasarkan data tersebut, model inkuiri terbimbing dinyatakan berhasil meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran kinematika gerak lurus. Kata Kunci: aktivitas belajar siswa; model inkuiri terbimbing; kinematika gerak lurus; penelitian tindakan kelas ABSTRACTThis study is a classroom action research which aims to improve students’ learning activities using guided inquiry model on straight kinematic movement lesson. The study was conducted on the first semester on academic year of 2018/2019 with 35 subjects of  X MIPA 6 SMAN 6 Bandung students, 20 male students and 15 female students. The data collection technique was done by observing students’ activities especially on verbal activity (giving and asking opinion), mental activity (responding), and physical activity (experimenting) also observing the phases of learning activities using guided inquiry model. On 1st cycle, percentage of students giving opinion is 41,18%, asking opinion 66,18%, responding to opinion 31,62% and experimenting 46,32%. The average of learning activity of the 1st cycle is 46,32%. Learning completion using guided inquiry model on 1st cycle reaches 82,35% with 3 incomplete steps of learning. Based on the data, guided inquiry model has not been able to improve students’ leaning activities because it hasn’t reached its indicator of completion for 75%. On 2nd cycle, percentage of students giving opinion is 78,03%, asking opinion 84,85%, responding to opinion 82,58% dan experimenting 85,61%. The average of learning activity done on 2nd cycle is 82,77%. Learning activities completion using guided inquiry model on 2nd cycle reached 100% with all leaning steps completed. Based on the data, guided inquiry model is improving students’ learning activities on straight kinematic movement. Keywords: students’ learning activities; guided inquiry model; straight kinematic movement; classroom action research.
Pengembangan Science Camp sebagai Media Pembelajaran Menggunakan Webtoon pada Materi Alat Optik Diah Retno Destriana; Salma Roichana; Bayu Setiaji
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 8, No 1 (2023): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Februari 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.339 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v8i1.45384

Abstract

Pendidikan yang berhasil akan menentukan perkembangan suatu negara menuju kemandirian dalam semua bidang. Media pembelajaran dijadikan bagian penting karena media pembelajaran merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran(Gunawan, 2014). Pembelajaran fisika tidak lepas dari media dan bahan ajar yang digunakan. Media dan bahan ajar yang sering digunakan berupa buku teks atau modul yang berisi penjelasan dengan kalimat dan hanya sedikit gambar dan cenderung membuat peserta didik bosan dan kurang termotivasi. Rumitnya materi yang disampaikan membuat siswa kurang tertarik untuk membaca buku teks termasuk buku fisika. Siswa cenderung tertarik membaca buku cerita bergambar (seperti komik) dibanding buku pelajaran biasa, atau bisa juga menggunakan webtoon. Perkembangan IPTEK, melahirkan pembelajaran secara online dan menggunakan fasilitas internet sebagai metode pembelajaran yang dianggap pemecahan masalah untuk mengurangi kesulitan dalam pemahaman pembelajaran. Dalam hal ini siswa akan memahami materi alat optik yang dikemas dengan lebih mudah dipahami. Cerita yang disajikan beralur sehingga siswa dapat membayangkan dan mudah mengingat kembali mengenai materi alat optik. Pemasalahan penelitian ini adalah bagaimana kelayakan pengembangan media pembelajaran berbasis Webtoon materi alat optik siswa SMA kelas XI. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan (Research and Development). Penelitian pengembangan (RD) dalam pendidikan yaitu untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Sementara jenis pengembangan yang dilakukan menggunakan model 4D (Define , Design, Develop , dan Disseminate). Hasil dari penelitian ini. Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran menggunakan webtoon untuk materi alat optik pada siswa SMA kelas XI sudah sangat layak dengan sedikit perbaikan.
Karakteristik Tes Keterampilan Proses Sains Siswa pada Materi Fluida Statis berdasarkan Analisis Teori Respon Butir Muhammad Diandri Darmawan; David E Tarigan; Agus Fany Chandra Wijaya
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 2 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.969 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i2.20179

Abstract

Keterampilan proses sains   merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting dan harus  dimiliki oleh siswa sebagai standar kompetensi lulusan. Namun, keterampilan ini masih jarang dinilai karena masih kurangnya instrumen untuk mengukur keterampilan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik tes keterampilan proses sains  berdasarkan teori respon butir. Karakteristik tes keterampilan proses sains diketahui berdasarkan instrument tes yang dikembangkan oleh peneliti. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode Research and Development (RD). Materi yang digunakan pada penelitian ini yaitu Fluida statis. Instrumen tes yang dikembangkan divalidasi oleh ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa tes ini valid dan layak diuji coba. Uji coba tes dilakukan pada 72 siswa di salah satu SMA swasta di kota Bandung yang kemudian hasilnya dianalisis menggunakan teori respon butir dengan bantuan program eirt versi 2.0.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa model 3PL merupakan model yang sesuai untuk mengkarakteristik tes keterampilan proses sains. Tes keterampilan proses sains memiliki fungsi informasi sebesar 11,17 dengan standard error of measurement (SEM) sebesar -0,85, daya pembeda (a), tingkat kesukaran (b), dan tebakan semu (c) dengan kategori “baik”.      Kata kunci:  keterampilan proses sains; teori respon butir; model  parameter logistik ABSTRACTScience process skill is one of the skills that must be retained by students to satisfy the graduate competency standards. But, these skills are rarely measured because there are not many instruments are created to measure that skill. This study was conducted to get the description about test characteristics based on item response theory. Characteristic of Science process skill test are known based on instrument test developed by researcher. This study used Research and Development (RD) method. The instrument test had been validated by experts with the result shows that the test is valid and qualified to be tested. The trial tests were conducted to 72 students in one of senior high schools in the Bandung city. Then, the results were analyzed using item response theory by utilized eirt program version 2.0.0. The result shown the 3PL model is an appropriate model for characteristic science proscess skill instrument test. The science process skill test have the information function about 11,17 with the standard error of measurement (SEM) about -0.85, distinguishing (a), level of difficulty (b), and guess pseudo (c) the category of "good". Keywords: Science process skill; item response theory; parameter logistic model
Efektivitas Model Based Learning (MBL) dalam Meningkatkan Penguasaan Konsep Peserta Didik pada Materi Kalor dan Perpindahannya Ika Mustika Sari; Saeful Karim; Mutia Hariza Lubis; Duden Saepuzaman; Parlindungan Sinaga
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 5, No 1 (2020): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.374 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v5i1.23422

Abstract

ABSTRAKFisika memuat konsep-konsep abstrak yang sukar untuk dipahamipeserta didik, salah satunya pada materi kalor danperpindahannya. Hal inilah menjadi faktor kurangnya penguasaankonsep peserta didik, bahkan menjadi faktor terjadinyamiskonsepsi. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untukmeningkatkan penguasaan konsep dan meminimalisasi terjadinyamiskonsepsi, salah satunya dengan model pembelajaran yangmenghadirkan model ilmiah sebagai gambaran dari suatu konsepabstrak dan memfasilitasi peserta didik untuk merekonstruksimodelnya sendiri. Model pembelajaran tersebut dikenal denganModel Based Learning (MBL). Penelitian ini bertujuan untukmelihat efektivitas Model Based Learning (MBL) dalammeningkatkan penguasaan konsep peserta didik pada materikalor dan perpindahannya. Penelitian ini menggunakan QuasiExperimental Design dengan metode Nonequivalent ControlGroup Design. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 68 pesertadidik kelas X salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bungo ProvinsiJambi yang diambil dengan cara convenience sampling. Intrumenyang digunakan berupa 18 soal pilihan ganda yang mengukurpenguasaan konsep peserta didik. Hasil penelitian menunjukkanbahwa Model Based Learning (MBL) efektif dalam meningkatkanpenguasaan konsep yang dilihat dari peningkatan penguasaankonsep peserta didik yang termasuk dalam kategori sedang danperbedaan peningkatan penguasaan konsep yang signifikanantara kelas kontrol dan kelas eksperimen.ABSTRACTPhysics contains abstract concepts that are difficult for students tounderstand, such heat and their transferred. This is a factor in lackof students’ understanding of concept, even a factor that causemisconceptions. Therefore, we need to be an effort that is able tounveil misconceptions, such learning using a scientific models thatare able to describe an abstract concepts and facilitate students toreconstruct their own models. The learning utilizing model isModel Based Learning (MBL). This study aims to look at theeffectiveness of Model Based Learning (MBL) in improvingstudents' understanding of concepts on heat and their transferred.This study has been implemented Quasi Experimental Design withmethod Nonequivalent Control Group Design. The sample in thisstudy consisted of 68 students class X in one of the senior highschools in Bungo Regency, Jambi Province, taken byconvenience sampling. The instruments utilited are 18 multiplechoices questions that measure students' understanding ofconcepts. The results showed that Model Based Learning (MBL)was effective in improving students’ understanding of concepts asseen from the increase in students’ understanding of concepts inmedium category and differences increase students’understanding of concepts between the control class and theexperimental class.Kata kunci: Model Based Learning (MBL); Penguasaan Konsep,Kalor