cover
Contact Name
Rizki Zakwandi
Contact Email
r.zakwandi@upi.edu
Phone
+6285669180173
Journal Mail Official
wapfi@upi.edu
Editorial Address
JL. Setiabudhi No. 229 Bandung, 40154 Jawa Barat - Indonesia. e-mail: wapfi@upi.edu Tel / fax : (022) 2004548 / (022) 2004548
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
WAPFI (Wahana Pendidikan Fisika)
ISSN : 23381027     EISSN : 26854414     DOI : https://doi.org/10.17509/wapfi
The below mentioned areas are just indicative. The editorial board also welcomes innovative articles that redefine any Science, especially Physics and Technology Education field. Earth Science and Education Basic Science in Physics Education New Technologies in Physics Education Research and Development in Physics Education Globalisation in Physics Education Women in Physics Education Computers, Internet, Multimedia in Physics Education Organization of Laboratories of Physic Curriculum Development on Physics Education Teaching, Media, and Learning Physics
Articles 216 Documents
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry with Reading Infusion untuk Mengidentifikasi Perkembangan Kompetensi Literasi Saintifik Siswa SMA pada Materi Alat Optik Zahra Raudi Maulidia; Saeful Karim; Setiya Utari; Duden Saepuzaman; Muhamad Gina Nugraha; Eka Cahya Prima
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 2 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.361 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i2.20114

Abstract

Kompetensi literasi saintifik dipandang sebagai kompetensi yang perlu dimiliki dalam menghadapi tantangan di abad 21, kompetensi literasi saintifik ini dimaknai sebagai pengetahuan dan cara-cara saintifik yang digunakan untuk menyelidiki suatu permasalahan serta pengambilan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan kompetensi literasi saintifik ini dipandang belum dimiliki siswa karena adanya kesulitan guru melatihkan kompetensi literasi saintifik melalui proses inquiry, karena siswa tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Inquiry merupakan langkah yang di pandang sesuai untuk melatihkan kompetensi literasi saintifik karena memiliki tahapan yang sistemasis dan terstruktur yang alamiah dalam kaitannya untuk melatihkan kompetensi literasi saintifik. Dan dengan tambahan tugas awal berupa reading infusion diharapkan dapat menjadi informasi pendukung dalam proses inquiry di dalam kelas. Sehingga melalui pembelajaran Inquiry with Reading Infusion diharapkan dapat memfasilitasi untuk melatihkan kompetensi literasi saintifik. Kompetensi literasi saintifik yang dilatihkan meliputi menjelaskan fenomena ilmiah, mengevaluasi dan merancang penelitian ilmiah, dan menginterpretasi data dan bukti ilmiah. Penelitian pre-experimental designs dengan bentuk one group pre-test post-test design menggunakan populasi di salah satu sekolah negeri di Bandung sebanyak 257 siswa dengan sampel 30 siswa yang diperoleh dengan teknik cluster random sampling. Untuk melihat perkembangan kompetensi literasi saintifik ini dianalisis berdasarkan jawaban LKS dengan kategori peningkatan merujuk rubrik yang di kembangkan oleh Lati  W.  Hasil penelitian menunjukkan  pada aspek menjelaskan fenomena ilmiah meningkat lebih baik dibanding aspek lainnya, meskipun dalam prosesnya penggunaan inquiry ini dominasi guru masih lebih kental. Sehingga perlu dipikirkan lagi langkah yang lebih fokus dalam melatihkan kedua aspek kompetensi literasi saintifik lainnya.Kata Kunci:  Inquiry; Kompetensi literasi saintifik; Reading Infusion.  ABSTRACT Scientific literacy competence is the competence that need to be looked at as belonging in the face of challenges in the 21st century, this meant scientific literacy competence as knowledge and scientific methods are used to investigate a issue and decision making over a problem. The results showed the scientific literacy competence is viewed not yet owned by the students due to the difficulty of the teacher in teaching scientific literacy competency through the inquiry process, because students did not have sufficient knowledge. Inquiry is a step that is appropriate for the trained point of view on scientific literacy competence since it has a step that systematic and structured in relation to trained scientific literacy competence. And with the additional task of beginning reading infusion is expected to be supportive in the process of inquiry in the classroom. So that through learning Inquiry with Reading Infusion is expected to facilitate to train scientific literacy competencies. Scientific literacy competency training includes explaining scientific phenomena, evaluate and design of scientific research, and interpret the data and scientific evidence. This research uses the pre-experimental designs with one group pre-test post-test design, using population in one of the public schools in Bandung as many as 257 students with samples of 30 students who obtained by cluster random sampling technique. To see the development of scientific literacy competence is analyzed based on student worksheet with answer categories increased refer a rubric developed by Lati W. The results showed on the aspect of scientific phenomena explained increased better than any other aspect, although in the process of the use of this inquiry the dominance of teachers still more viscous. So it needs to be thought through again the steps more focus in trained both aspects of other scientific literacy competency.Keywords: Scientific literacy competence; Inquiry; Reading Infusion
Karakteristik Tes Keterampilan Berpikir Kritis Pada Materi Hukum Newton Berdasarkan Teori Respon Butir Liza Yulianti; Taufik Ramlan Ramalis; Purwanto Purwanto
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 5, No 1 (2020): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.671 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v5i1.22885

Abstract

ABSTRAKKeterampilan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan untuk melatih kemampuan berpikir siswa dalam proses sains. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis di tingkat SMP masih kurang, hal tersebut ditinjau berdasarkan pengukuran analisis tes sebelumnya terkait dengan tes yang digunakan dalam mengukur keterampilan berpikir kritis adalah alat analisis tes klasik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik tes keterampilan berpikir kritis berdasarkan analisis teori respon butir. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode campuran dengan desain eksploratori sekuensial. Uji coba tes dilakukan kepada 115 siswa di 3 sekolah tingkat SMP di kota Bandung yang kemudian hasilnya dianalisis menggunakan teori respon butir dengan bantuan software eirt versi 2.0.0. Hasil analisis menujukkan bahwa model 3 parameter logistik merupakan model yang sesuai untuk mengkarakteristik tes keterampilan berpikir kritis. Karakteristik tes keterampilan berpikir kritis memiliki daya pembeda (a) sebesar 0,96, tingkat kesukaran (b) sebesar -0,317, tebakan semu (c) sebesar 0,16 dalam kategori baik dan memiliki nilai fungsi informasi sebesar 8,11 dengan nilai Standar Error of Measurement sebesar 0,35. Maka dapat disimpulkan bahwa tes keterampilan berpikir kritis ini akan reliabel jikadiberikan kepada siswa dengan kemampuan rendah sampai dengan kemampuan tinggi.  Kata Kunci        : Keterampilan Berpikir Kritis; Karakteristik Tes; Teori Respon Butir
PROFIL LITERASI SAINS PESERTA DIDIK PADA KONSEP PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) CIRATA DI KABUPATEN CIANJUR JAWA BARAT Fitriani Kulsum; Chaerul Rochman; Dindin Nasrudin
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 2, No 1 (2017): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.087 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v2i1.4866

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara. Lokasinya terletak di 3 (tiga) kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Kabupaten Bandung. Keberadaan PLTA Cirata seharusnya dapat mendorong perekonomian masyarakat di sekitarnya, khususnya masyarakat kabupaten Cianjur yang memiliki genangan air paling luas. Akan tetapi, pastisipasi masyarakat Cianjur dalam memanfaatkan keberadaan PLTA Cirata dirasa belum optimal. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam memanfaakan potensi PLTA salah satunya disebabkan karena rendahnya literasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kemampuan literasi peserta didik (masyarakat) di sekitar kawasan Cirata terhadap PLTA dan pemanfaatannya. Subjek Hasil penelitian ini adalah peserta didik MAN 1 Cianjur yang berlokasi ±20 km dari PLTA Cirata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan literasi sains peserta didik pada PLTAadalah 42 pada skala 0-100 (kategori rendah). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai baseline pengembangan bahan pengayaan mata pelajaran Fisika pada PLTA dalam rangka meningkatkan literasi sains peserta didik.
Kelayakan Konten dan Tampilan Bahan Ajar Augmented Reality Pada Materi Teori Kinetik Gas Sabila Nur Afifah; Winny Liliawati; Unang Purwana
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 5, No 1 (2020): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.984 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v5i1.23448

Abstract

ABSTRAK Teori kinetik gas merupakan salah satu topik abstrak yang membutuhkan dukungan visual untuk mempelajarinya. Penelitian ini bertujuan menghasilkan bahan ajar menggunakan teknologi augmented reality pada materi teori kinetik gas yang layak digunakan oleh guru dan siswa kelas XI SMA. Bahan ajar yang dibuat adalah bahan ajar yang memadukan buku cetak dengan aplikasi pada smartphone berbasis Android sehingga dapat memvisualisasikan objek-objek abstrak dalam bentuk 3 dimensi atau video. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Design and Reseach. Kelayakan bahan ajar ini diuji oleh tiga orang ahli konten, tiga orang ahli media, dan dua orang guru mata pelajaran fisika menggunakan instrumen yang diadaptasi dari Learning Object Review Instrument (LORI). Hasil yang didapatkan adalah bahan ajar memiliki persentase kelayakan konten 81 % dan persentase kelayakan tampilan 89%. Berdasarkan hasil uji kelayakan tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar augmented reality yang dibuat layak.  ABSTRACT Kinetic theory of gases is one of abstract topic that need visual support to learn. This research aims to design and create a kinetic theory of gases learning material using augmented reality technology for senior high school students. The learning material created is a combination between a printed book and an application for Android smartphone. It can be visualized abstract objects to 3 dimension form or video. The research method used in this research is Design and Research The feasibility test was doing by three content experts, three media experts, and two physics teachers using a Learning Object Review Instrument (LORI) 2.0 with result proper in content (81%) and visual design (89%). Based on the results, it can be concluded that the augmented reality learning material is proper.  Kata kunci : Bahan ajar, teori kinetik gas, augmented reality
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI BERBASIS FISIKA OUTDOOR DENGAN MENGGUNAKAN MODUL KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA MATERI FLUIDA DINAMIS I. Risnawati; I. Kaniawati; R. Efendi
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 1, No 1 (2013): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.452 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v1i1.4895

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang efektivitas penerapan model pembelajaran inkuiri berbasis fisika outdoor dengan menggunakan modul kontekstual untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa SMA pada materi fluida dinamis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil studi pendahuluan yang menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa SMA masih rendah. Ini menunjukkan pengembangan keterampilan proses sains pun masih rendah, padahal menurut standar isi proses pembelajaran harus menjadikan siswa aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta dapat mengembangkan keterampilan proses sains. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain Non Randomized Control Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian siswa kelas XI IPA di salah satu SMA di Bandung sebanyak 80 yang dibagi menjadi dua kelas, 40 siswa pada kelas eksperimen dan 40 siswa pada kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah tes pilihan ganda beralasan. Peningkatan keterampilan proses dilihat dari nilai N-gain hasil pretest-posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa N-gain pada kelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran inkuiri berbasis fisika outdoor adalah 0,60 dan N-gain pada kelas kontrol yang menggunakan model inkuiri terbimbing adalah 0,40. Dikarenakan nilai N-gain pada kedua kelas berada pada kategori yang sama maka perlu dihitung nilai d-value dari kedua nilai N-gain tersebut. Sebanyak 11 dari 12 soal dengan nilai d-value 0,3 yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari penerapan model, nilai N-gain terbesarnya ada di kelas eksperimen. Ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri berbasis fisika outdoor dengan menggunakan modul kontekstual lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa SMA dibandingkan model pembelajaran inkuiri terbimbing.After conducting research about the effectiveness of the application inquiry based outdoor physics learning model using contextual modules to improve science process skills students' at high school in a dynamic fluid material. This research is motivated by the results of preliminary studies that show science process skills students’ at high school are still low. This shows the development of science process skills were still low too, whereas according to the content standards of the learning process should make students active, creative, and fun as well as be able to develop science process skills. The method used was a quasi-experimental design with non-randomized control group pretest-posttest. The research samples are students in 11th grades (science class) from one high school in Bandung, as many as 80 students were divided into two classes, 40 students in the experimental class and 40 students in the control class. The instrument used was a multiple choice test reasoned. Improvement of science process skills is showed by N-gain values from pretest-posttest results. The results showed that the N-gain in the experimental class that uses inquiry based outdoor physics learning is 0.60 and N-gain the control class that uses guided inquiry model is 0.40. Due to the value of N-gain in the second class are in the same category it is necessary to determine d-value of both the N-gain value. 11 from 12 questions have d-value 0.3 that indicating a significant effect of the application of the model and the biggest N-gain in the experimental class. This indicates that the inquiry based outdoor physics learning using contextual module is more effective in improving science process skills student than guided inquiry learning model.
KARAKTERISTIK TES PENALARAN ILMIAH MATERI MOMENTUM DAN IMPULS BERDASARKAN TEORI RESPON BUTIR Hilda Permata; Taufik Ramlan Ramalis; Ida Kaniawati
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 5, No 2 (2020): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.977 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v5i2.27547

Abstract

ABSTRAK Penalaran ilmiah merupakan perangkat keterampilan penalaran dasar yang pada umumnya diperlakukan bagi peserta didik untuk melakukan penyelidikan ilmiah. Berdasarkan studi pendahuluan, pada pelaksaan evaluasi pembelajaran guru belum mengembangkan instrumen tes yang mampu mengukur penalaran peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakteristik tes penalaran ilmiah. Data dianalisis menggunakan teori respon butir 3PL, model ini dipilih karena memiliki nilai fungsi informasi paling tinggi 6,095. Desain penelitian menggunakan concurrent embedded yaitu metode penelitian yang menggabungkan antara metode kualitatif dengan metode kuantitatif pada materi momentum dan impuls. Partisipan yang terlibat 100 peserta didik dari SMAN 15 Bandung. Instrumen yang digunakan adalah bentuk tes penalaran ilmiah berupa tes tertulis pilihan berganda yang berjumlah 15 butir soal. Hasil analisis tes penalaran ilmiah dapat dikatakan valid baik berdasarkan analisis menggunakan validitas isi Aiken V dan analisis parameter logistik. Hasil analisis kurva karakteristik tes menunjukkan bahwa tes penalaran ilmiah memiliki nilai parameter daya pembeda (a) sebesar 1,19 yang artinya berkategori baik, nilai parameter tingkat kesukaran tes (b) sebesar -0,063 yang artinya berada dikategori sedang, dan nilai parameter faktor tebakan semu (c) sebesar 0,035 yang artinya dalam kategori baik. Tes penalaran ilmiah ini memiliki nilai fungsi informasi 6,095 dan SEM (Standard Error of Measurement) sebesar 0,41 dengan estimasi reliabilitas tes penalaran ilmiah berada pada rentang skala -1,08 sampai 2,22 sehingga tes tersebut reliabel mengukur kemampuan rendah sampai tinggi. Kata Kunci: Penalaran Ilmiah; Karakteristik Tes; Respon Teori Butir ABSTRACT Scientific reasoning is a device of basic reasoning skills that are generally treated for students to carry out scientific investigations. Based on the preliminary study, the teacher learning evaluation has not developed a test instrument capable of measuring students' reasoning. This study aims to characterize scientific reasoning tests. Data were analyzed using the 3PL item response theory, this model was chosen because it has the highest information function value of 6.095. The research design uses concurrent embedded, a research method that combines qualitative methods with quantitative methods on the material of momentum and impulse. Participants involved 100 students from SMAN 15 Bandung. The instrument used was a form of scientific reasoning test in the form of a multiple choice written test, totaling 15 items. The results of the analysis of the scientific reasoning test can be said to be valid both based on the analysis using the content validity of Aiken V and logistic parameter analysis. The results of the test characteristic curve analysis show that the scientific reasoning test has a distinguishing power parameter value (a) of 1.19 which means that it is categorized as good, the parameter value of the difficulty level of the test (b) is -0.063 which means it is in the medium category, and the parameter value of the pseudo guess (c) 0.035 which means in the good category. This scientific reasoning test has an information function value of 6.095 and SEM (Standard Error of Measurement) of 0.41 with the estimated reliability of the scientific reasoning test in the scale range of -1.08 to 2.22 so that the test reliably measures low to high abilities. Keywords: Scientific Reasoning; Test Characteristics; Item Theory Response
Efektivitas Perkuliahan Gelombang dan Optika berbasis scaffolding terhadap peningkatan kebiasaan berpikir kritis mahasiswa Eko Susilowati; Dadi Rusdiana; Ida Kaniawati
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 2, No 2 (2017): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.166 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v2i2.6976

Abstract

Kebiasan berpikir kritis merupakan salah satu ketrampilan pembelajaran yang harus dikuasai mahasiswa sebagai bekal menghadapi kehidupan yang sangat kompleks. Hal ini seperti tertera pada pembelajaran abad ke -21. Kebiasaan berpikir kritis framework Marzano merupakan kebiasaan berpikir kritis yang perlu dikembangkan dalam membentuk karakter peserta didik. Rendahnya nilai berpikir kritis Gelombang dan Optika mahasiswa salah satu LPTK di Banjarmasin diduga karena pembelajaran bersifat konvensional. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian berbasis scaffolding yang dapat meningkatkan kebiasaan berpikir kritis mahasiswa. Penelitian ini melibatkan 96 mahasiswa yang terdiri dari 46 mahasiswa kelas eksperimen dan 50 mahasiswa kelas kontrol. Metode yang digunakan yaitu mixed method dengan embedded experimental model. Berdasarkan perhitungan N Gain sebesar 0,46 menunjukkan peningkatan kebiasaan berpikir mahasiswa lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol dan perhitungan effect size r = 0,57 menyatakan bahwa perkuliahan Gelombang dan Optika berbasis scaffolding efektif meningkatkan kebiasaan berpikir kritis mahasiswa.Kata Kunci: Efektivitas, Perkuliahan, Gelombang dan Optika, Scaffolding, Berpikir Kritis.
Rancang Bangun E-Book Interaktif pada Topik Hukum Gravitasi Newton untuk Siswa Sekolah Menengah Atas Haura Fauziyyah Halilah; Saeful Karim; Taufik Ramlan Ramalis
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 6, No 1 (2021): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Februari 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1283.295 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v6i1.32386

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah banyak dimanfaatkan dalam sistem pendidikan. Perubahan terjadi baik dalam praktik pembelajaran maupun dalam media pembelajaran. E-Book Interaktif merupakan bentuk digital dari buku fisik yang diperkaya oleh media dan fitur-fitur spesifik. Penelitian ini menyusun rancang bangun e-book interaktif pada topik Hukum Gravitasi Newton. Dalam proses penelitiannya digunakan Mixed Method Exploratory Sequential. Studi kualitatif dilakukan untuk melakukan analisis terhadap kebutuhan pengembangan, analisis kurikulum, dan juga analisis buku pelajaran. Produk hasil pengembangan kemudian divalidasi untuk mengukur kualitas pada aspek materi dan media oleh dua orang validator, serta diriviu oleh 13 orang peserta didik sebagai pengguna awal. Hasil validasi yang dianalisis menggunakan Rasch Model menunjukkan bahwa e-book interaktif yang dikembangkan terkualifikasi layak digunakan dan memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dapat difasilitasi oleh e-book konvensional, di antaranya adalah fitur umpan balik dan pengadaan jenis media yang lebih beragam. Pada penelitian ini dilakukan juga uji keterbacaan dengan hasil 62,7% atau termasuk dalam kategori "tinggi" yang berarti e-book dapat digunakan oleh peserta didik secara mandiri. Kata kunci : E-Book, Gravitasi, Interaktif, Newton  ABSTRACT ICT development has been widely used to strengthen the education system. Changes occur both in learning practices and in learning media. An interactive E-Book is a digital form of a physical book that is enriched by media and specific features. This study analyzes an interactive e-book design on Newton's Law of Gravitation. To answer this question, the Mixed-Method Exploratory Sequential was used. Qualitative exploration studies are carried out by distributing questionnaires, analyzing syllabi, and analyzing material from textbooks. Then the product is validated to measure the quality of the material and media aspects by two validators, then 13 students become initial users to provide reviews. The validation results analyzed using the Rasch Model show that the interactive e-book developed is qualified feasible and has many advantages that conventional e-book does not have, among them are feed-back feature and the availability of various types of the media. The students also carried out a readability test with a readability level of 62.7% or included in the "high" category, which means that e-books can be used independently. Kata kunci : E-Book, Interactive, Newton's Law of Gravitation
INOVASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DENGAN VISUALISASI VIRTUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PADA MATAKULIAH FISIKA DASAR I L. Milana; E. D. Jannati
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 3, No 1 (2018): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.25 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v3i1.10933

Abstract

 ABSTRAK Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia pasal 26 ayat 4 tentang tujuan pendidikan tinggi yang mengatakan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, terampil, mandiri. Hal tersebut dapat direalisasikan dengan penerapan model pembelajaran yang tepat. Model problem based learning dengan visualisasi virtual salah satu alternatif yang tepat, karena mahasiswa dituntut aktif dan kreatif dalam membangun pengetahuannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep mahasiswa setelah diterapkan model problem based learning dengan simulasi virtual. Penelitian ini dilakukan dengan metode quasi eksperimen dengan desain penelitian one group pretest-posttest, teknik Industri IA sebagai kelas eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan keterampilan proses sains mahasiswa meningkat secara signifikan setelah diterapkan Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan visualisasi virtual. Rata-rata skor N-Gain ternormalisasi sebesar 0,62 pemahaman konsep mahasiswa termasuk dalam kategori sedang. Dengan demikian model pembelajaran dengan visualisasi virtual efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa pada matakuliah fisika dasar I.   Kata Kunci:  Model Problem Based Learning; Visualisasi Virtual; Pemahaman Konsep ABSTRACT In the Government Regulation of the Republic of Indonesia article 26 paragraph 4 on the purpose of higher education that says to prepare learners into a society that has noble character, Having knowledge, Skilled, Independent. It can be realized by applying the right learning model. Problem-based learning model with virtual visualization is one of the right alternative, because students are required to be active and creative in building their knowledge. The purpose of this research is to know the improvement of student concept understanding after applied model of problem based learning with virtual simulation. This research was conducted by quasi experimental method with one group pretest-posttest research design, IA Industrial Engineering Study Program as an experimental class. The results showed that students' science process skill improved significantly after applied Learning Based Learning Model with virtual visualization. The average normalized N-Gain score of 0.62 students' understanding of the concept is included in the medium category. Thus the model of learning with virtual visualization is effective in improving students' understanding of concept in basic physics course. Keywords: Problem Based Learning Model; Virtual Visualization; Understanding Concepts
PENGGUNAAN JURNAL REFLECTIVE WRITING PADA PESERTA DIDIK TINGKAT MENENGAH ATAS DALAM PEMBELAJARAN ELASTISITAS BAHAN Nabila Haifa; Agus Danawan; Dedi Sasmita
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 6, No 2 (2021): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.754 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v6i2.31167

Abstract

Learning by doing dipercaya dapat memberikan pembelajaran terbaik yang menggunakan pengalaman untuk melatih peserta didik menjadi terbiasa. Pembelaran ini memerlukan peran refleksi agar pembelajaran tersebut tidak cepat terlupakan. Refleksi dalam pembelajaran dilakukan di akhir pembelajaran dengan mengemukakan pernyataan ataupun pertanyaan. Kegiatan refleksi bisa saja tidak dilakukan peserta didik karena merasa malu untuk mengemukakannya di depan teman-temannya. Sehingga kegiatan refleksi dilakukan dengan bentuk komunikasi lain, yaitu menulis yang diaplikasikan dalam jurnal reflective writing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menganalisis implementasi jurnal reflective writing. Hasil jurnal berupa analisis tingkat refleksi pengetahuan peserta didik. Penelitian diakhiri dengan wawancara untuk mengetahui penyebab ketidakpahaman peserta didik. Penelitian dilakukan pada lima peserta didik kelas XI jurusan MIPA di salah satu pesantren di Purwakarta. Adapaun tingkat refleksi peserta didik bervariasi. Penyebab utama ketidakpahaman peserta didik adalah bagian rumus dan bagian meghitung