cover
Contact Name
Anwar Efendi
Contact Email
anwar@uny.ac.id
Phone
+62274550843
Journal Mail Official
litera@uy.ac.id
Editorial Address
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Depok, Sleman, Yogyakarta Indonesia 55281 litera@uny.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Litera
ISSN : 14122596     EISSN : 24608319     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
LITERA is a high quality open access peer reviewed research journal that is published by Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta. LITERA is providing a platform for the researchers, academicians, professionals, practitioners, and students to impart and share knowledge in the form of high quality empirical original research papers on linguistics, literature, and their teaching.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020" : 9 Documents clear
ENHANCING STUDENT'S WRITING ABILITY THROUGH CONTEXTUALIZATION PRACTICES Margana Margana; Humaera Silvia Maristy
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.33348

Abstract

Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan menulis peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) Minggir, Sleman, Yogyakarta melalui penggunaan kontekstualisasi pemebelajaran menulis. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini melibatkan 32 orang peserta didik sebagai subjek penelitian dan seorang guru bahasa Inggris sebagai kolaborator peneliti.  Jenis penelitian ini dikategorikan ke dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan menerapkan tiga siklus selama pelaksanaan pengambilan data penelitian. Terdapat tiga jenis teknik pengumpulan data penelitian yang digunakan, yakni teknik observasi kelas, wawancara, dan penyebaran kuesioner yang selanjutnya diikuti dengan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan data kualitatif yang diperoleh dari pengumpulan data di lapangan. Analisis deskriptif kuantitatif  juga digunakan untuk menyajikan kemampuan menulis peserta didik yang diperoleh melalui tes menulis teks-teks bahasa Inggris. Berdasarkan hasil analisis, disampikan empat temuan utama. Pertama, penggunaan  teknik kontekstualisasi pembelajaran menulis mengubah tingkah laku peserta didik dalam hal motivasi belajar menulis teks-teks bahasa Inggris dan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran menulis yang sebekumnya peserta terlihat pasif menjadi aktif. Kedua, sebagian besar peserta didik merasa mudah dalam mengekspresikan gagasan dengan mengacu pada kontekstualisasi tugas-tugas menulis teks-teks bahasa Inggris yang disampaikan. Ketiga, miskonsepsi dan kesalahan gramatikal dapat diminimasi dalam proses mengkonstruksi teks-teks bahasa Inggris. Keempat, dengan mengacu pada data kuantitatif, skor rerata dari isi, pengorganisasian paragraf, pemilihan kosakata, penggunaan bahasa, dan aspek penulisan mengalami peningkatan yang cukup tajam. Kata kunci: kontekstualisasi, pengetahuan skematik, kemampuan menulis AbstractThis study is aimed at improving students’ writing ability of junior high school at Minggir, Sleman, Yogyakarta Minggir, Sleman, Yogyakarta through contextualization practices. To gain the objective, this study voluntarily involved 32 students of junior high school at Minggir, Sleman, Yogyakarta as the subjects of this study and one English language teacher serving as the collaborator. This study applied a classroom action research design with the utilization of three cycles during the data collection practices. Techniques of observation, interview, and questionnaire distribution were employed to gather data followed by data condensation, data display, and conclusion making which were meant to qualitatively analyze the gathered data. Quantitative descriptive analysis was also employed to analyze students’ writing ability with the employment of writing test. The findings document four issues. First, there was a change of behavior on the part of students in the area of motivation to learn and involvement in writing practices. Second, the majority of students found easier to express their ideas in reference to the contextualization practices applied by English language teachers. Third, mis-conception and grammatical mistakes could be minimized in the process of constructing English texts. Fourth, with regard to quantitative data, the average scores of the content, paragraph organization, vocabulary, language use, and mechanics increased sharply. Key words : contextualization, schematic knowledge, writing ability
QUESTION PATTERNS AND CONVERSATION IMPLICATURE ON TRADITIONAL MARKET IN LAMPUNG-INDONESIA Prastio, Bambang; Nurzafira, Istiqomah; Ghazali, A. Syukur; Pratiwi, Yuni
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.31170

Abstract

The purpose of this study was to describe the patterns and functions of questions expressed in conversational implicature found in market transactions. A descriptive qualitative method was used in this research. And conversation analysis was applied to determine question patterns, while conversational implicature was to examine question functions. The research data was collected in the form of recorded and transcripted conversations along with the corresponding situations or contexts. The data of this research was primarily obtained from both sellers and buyers in Way Halim Market, Lampung, Indonesia, and it was gathered by listening and taking notes. This study showed that there were six types of question patterns found in such transactions that contained conversational implicature, namely (1) yes/no question for asking, (2) tag question for rejecting and ordering (3) declarative question for ordering, (4) alternative question for asking, (5) wh-question for asking and sugesting, and (6) rhetorical question for rejecting. The results also indicated that the sellers used persuasive implied questions more often than the buyers. These questions functioned to persuade buyers politely to make purchase.Keywords: question patterns, implicature, market transactionsPOLA PERTANYAAN DAN IMPLIKATUR PERCAKAPANDI PASAR TRADISIONAL LAMPUNG-INDONESIAAbstrakTujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pola dan fungsi tuturan pertanyaan yang disampaikan dalam implikatur percakapan ketika melakukan transaksi jual beli. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Adapun jenis penelitian dalam menganalisis data menggunakan analisis percakapan untuk menentukan pola pertanyaan dan implikatur percakapan untuk menentukan fungsi tuturan pertanyaan. Data penelitian berupa tuturan percakapan hasil rekaman yang telah ditranskrip serta situasi atau konteks percakapan yang melatarbelakangi peristiwa tersebut. Sumber data penelitian ini diperoleh dari para pedagang dan pembeli di Pasar Way Halim, Provinsi Lampung, Indonesia. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan metode catat. Hasil penelitian ini ditemukan enam bentuk pola pertanyaan dalam transaksi jual beli yang mengandung implikatur percakapan, yaitu (1) yes/no question fungsi meminta, (2) tag question fungsi menolak dan menyuruh (3) declarative question fungsi menyuruh, (4) alternative question fungsi meminta, (5) wh-question fungsi meminta dan menyarankan, dan (6) rhetorical question fungsi menolak. Dari data yang ditemukan, penjual lebih sering menggunakan tuturan pertanyaan bersifat persuasif dengan makna yang disampaikan secara tidak langsung kepada pembeli. Fungsi penggunaan tuturan persuasif tersebut yakni penjual terlihat memiliki kesantunan sehingga mempengaruhi pembeli dengan harapan akan terjadi transaksi jual beli.Kata kunci: pola pertanyaan, implikatur, transaksi jual-beli
KONSTRUK ASESMEN LITERASI FUNGSIONAL UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Burhan Nurgiyantoro; Beniati Lestyarini; Dwi Hanti Rahayu
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.32977

Abstract

Literasi fungsional menyiratkan bahwa literasi dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, meraih tujuan, dan meningkatkan kemampuan diri. Penelitian validatif ini bertujuan untuk mengidentifikasi konstruk asesmen literasi fungsional untuk siswa SMP dan mengalisis butir soalnya dengan Model Rasch. Data penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, wawancara, FGD, dan tes. Sebanyak 5 orang guru dan 246 siswa dari 5 SMP di DIY, serta 3 pakar dilibatkan dalam proses pengumpulan data. Hasil penelitian berupa konstruk literasi fungsional dari National Assessment for Adult Literacy (NAAL) dimodifikasi dalam 15 jenis literasi, yaitu literasi prosa, digital, dokumen, numerik, lingkungan, kesehatan, pariwisata, transportasi, keselamatan jalan, kesantunan berbahasa, mitigasi bencana, finansial, budaya, visual, dan sosial. Hasil analisis 60 butir soal dengan Model Rasch berbantuan program QUEST menunjukkan probability level 0,50 dengan indeks reliabilitas 0,98. Mean INFIT MNSQ sebesar 1.00 dengan SD 0,04 yang fit dengan Model Rasch. Butir soal yang layak berada pada rentang threshold (± 2) adalah 51 buah (85%), sedangkan yang di luar rentang tersebut 9 butir (15%). Siswa dengan skor ≥75 sebesar 38,2%, sedang yang belum memenuhi standar sebanyak 61,8%.  Indikator esensial dan batang soal menjadi bagian penting untuk melihat kemampuan literasi fungsional siswa. Kata kunci: literasi fungsional, asesmen, analisis butir soal, Model Rasch  THE CONSTRUCTS OF FUNCTIONAL LITERACY ASSESSMENT FOR JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS AbstractFunctional literacy implies that literacy can be used for improving society capacities, obtaining goals, and increasing self-capabilities. The present study is aimed at identifying the constructs of the functional literacy assessment of junior high school students and analysing the item responses by using the Rasch Model. The data were collected through observation, interview, FGD and testing. Five teachers, 246 students from five junior high schools in Yogyakarta Province, and 3 experts were involved in the research processes. Results show that the constructs of the functional literacy from the National Assessment for Adult Literacy (NAAL) concepts have been modified into 15 types of literacy: prose, digital, document, numerical, environmental, health, tourism, transportation, road safety, language civility, disaster mitigation, financial, cultural, visual, and social). The results of the item analysis (60 items) using the Rasch Model with the QUEST program produce a probability value of 0.50 with a reliability index of 0.98. The INFIT MNSQ mean of 1.00 with an SD of 0.4 fits with the Rasch model. Items are eligible for an appropriate threshold range (± 2) of 51 grains or 85% while items outside the range of ± 2 is 9 (15%). Students with a score of ≥ 75 are 94 in number (38.2%). Meanwhile, students who have not fulfilled the standard amount to 61.8%. Essential indicators and item stems have an important role in reflecting the students’ functional literacy competences. Keywords: functional literacy, assessment, item response, Rasch model
THE NARRATIVE WORLD OF NATIVE AMERICANS SEEN FROM THE ADAPTATION OF OHIYESA IN BURY MY HEART AT WOUNDED KNEE Rachmat Nurcahyo
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.33154

Abstract

Native American narratives are often presented through media presenting native American figures. Bury My Heart at Wounded Knee (BMHWK) is a non-fiction history-based film that tells the fate of Native Americans against white colonialism. The key figure in the film, Ohiyesa, is an adaptation of Native American figures from the The Indian Boyhood (TIB) written by Charles Eastman. This article reveals the meaning of the character Ohiyesa in the film Bury My Heart at Wounded Knee. This research used an adaptation approach. Data obtained from the exploration of the figure of Ohiyesa in TIB and BMHWK. Data analysis was performed by conducting a comparative analysis of Ohiyesa at TIB and BMHWK. The results of the analysis show: (1) Ohiyesa character was adapted and dominantly raised by the name of Charles Eastman, (2) this character revealed the memory of deprivation of Native American culture, (3) the character functioned as an assimilation agent, and voiced the concept of cultural assimilation by white Americans. Ohiyesa was made an assimilation agent by the American government. With a strong presentation through his success through his role as a doctor and lobbyist, the American government offers a new life expectancy to American society, which is a cultural assimilation. Ohiyesa has become a symbol of the helplessness and evaluation of the future of Native Americans.Keywords: ohiyesa, native American, narrative, symbol of the helplessness,DUNIA NARATIF PRIBUMI AMERIKA DILIHAT DARI ADAPTASI OHIYESA DALAM BURY MY HEART AT WOUNDED KNEEAbstrakNarasi terkait pribumi Amerika sering dimainkan melalui media yang menyuguhkan tokoh pribumi Amerika. Bury My Heart at Wounded Knee (BMHWK) merupakan film berbasis buku historical non fiction yang menceritakan nasib pribumi Amerika melawan kolonialisasi kulit putih. Tokoh kunci dalam film tersebut, Ohiyesa, merupakan adaptasi tokoh pribumi Amerika dari teks The Indian Boyhood (TIB) karya Charles Eastman. Artikel ini mengungkap pemaknaan terhadap tokoh Ohiyesa dalam film Bury My Heart at Wounded Knee. Penelitian ini menggunakan pendekatan adaptasi. Data didapatkan dari eksplorasi tokoh Ohiyesa dalam TIB dan BMHWK. Analisis data dilakukan dengan membandingkan Ohiyesa dalam TIB and BMHWK. Hasil analisis menunjukan bahwa: (1) Karakter Ohiyesa diadaptasi dan secara dominan dimunculkan dengan nama Charles Eastman, (2) Karakter ini mengungkap mengungkap memori perampasan budaya pribumi Amerika, (3) karakter tersebut difungsikan sebagai agen asimilasi, dan menyuarakan konsep asimilasi budaya oleh kulit putih Amerika. Ohiyesa dijadikan agen asimilasi oleh pemerintah Amerika. Dengan pemaparan kuat melalui keberhasilan dia melalui perannya sebagai dokter sekailgus pelobi parlemen, pemerintah Amerika menawarkan harapan hidup baru kepada pribumi Amerika, yaitu sebuah asimilasi budaya. Ohiyesa telah menjadi simbol dari ketakberdayaan dan gambaran masa depan pribumi Amerika.Kata kunci: Ohiyesa, pribumi Amerika, narasi, simbol ketakberdayaan
CULTURAL REPRESENTATION OF TORAJA ETHNIC ON THE USE OF VOCABULARY IN SINGGI’ SPEECH Anastasia Baan; Imam Suyitno
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.32074

Abstract

The Toraja ethnic has an oral tradition of Singgi' which is passed down orally from generation to generation. This tradition is carried out at rituals, which are spoken by tradition holders or groups of people. The study outlined in this article aimed to describe the Toraja ethnic culture represented in the vocabulary in Singgi’ speech. The focus of this study was to describe the cultural dynamic and the cultural attitude of Toraja ethnic represented in vocabulary in Singgi' speech. The study was conducted through a qualitative approach using hermeneutic analysis tools. The data of this research were speech in Singgi 'and the daily context and activities of the people of Tana Toraja. The data was collected through document studies, interviews, and observations. Through qualitative analysis and hermeneutic interpretation, it was found that in Singgi’ speech, there was an absorption of vocabulary from Indonesian and old vocabulary in Toraja. The diversity of vocabulary represented that in Tana Toraja society there was a cultural dynamic that requires the Toraja language to absorb vocabulary from other languages to convey the cultural messages. Singgi' speech used old words of Toraja language that were rarely used in daily communication to convey the cultural attitudes of the Tana Toraja people. The findings showed that the vocabulary used in Singgi' speech represented the Toraja ethnic culture. This finding has important benefits in preserving the culture of the Tana Toraja community, for teaching material in the development of character education, and as a reference in developing further studies.Keywords: cultural representation, Toraja ethnic, vocabulary, Singgi’ speechREPRESENTASI BUDAYA ETNIK TORAJA PADA PENGGUNAAN KOSAKATA DALA TUTURAN SINGGI’AbstrakEtnik Toraja memiliki tradisi lisan Singgi 'yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Tradisi ini dilakukan pada ritual, yang dituturkan oleh pemegang tradisi atau kelompok orang. Hasil kajian yang diuraikan dalam artikel ini bertujuan untuk menggambarkan representasi budaya etnik Toraja dalam penggunaan kosakata dalam tuturan Singgi’. Kajian ini memfokuskan pada pemahaman dinamika budaya dan sikap budaya etnis Toraja yang terepresentasikan pada kosakata dalam tuturan Singgi’. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan piranti analisis hermeneutik. Data penelitian ini berupa tuturan Singgi' dan konteks perilaku kesehrian masyarakat Tana Toraja. Data dikumpulkan melalui studi dokumen, wawancara, dan observasi. Melalui analisis kualitatif dan interpretasi secara hermeneutik, ditemukan bahwa dalam tuturan Singgi’, terdapat sejumlah kosakata serapan dari bahasa Indonesia dan kosakata lama dalam bahasa Toraja. Munculnya kosakata serapan tersebut merepresentasikan bahwa dalam masyarakat Tana Toraja ada dinamika budaya sehingga mengharuskan bahasa Toraja untuk menyerap kosakata dari bahasa lain untuk menyampaikan pesan budaya. Dalam menyampaikan sikap budayanya, etnik Toraja menggunakan kosakata lama yang tidak pernah digunakan lagi dalam komunikasi keseharian masyarakat Tana Toraja. Temuan ini memiliki manfaat penting dalam melestarikan budaya masyarakat Tana Toraja, untuk bahan ajar dalam pengembangan pendidikan karakter, dan sebagai referensi dalam mengembangkan studi lebih lanjut.Kata kunci: representasi budaya, etnik Toraja, kosakata, tuturan Singgi’
DIMENSI PERTANYAAN DOSEN DAN MAHASISWA PADA PEMBELAJARAN DI KELAS Kastam Syamsi; Teguh Setiawan
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.33442

Abstract

Salah satu indikator keberhasilan pengajaran adalah mampu membawa siswa dapat berpikir kritis. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk dapat menumbuhkan pola berpikir kritis adalah pemberian pertanyaan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) tipe pertanyaan dosen dan mahasiswa, (2) dimensi kognisi yang terkandung dalam pertanyaan yang dibuat oleh dosen dan mahasiswa, dan (3) dimensi pengetahuan yang terkandung dalam pertanyaan dosen dan mahasiswa jenjang S-1 dan S-2 pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Sumber data penelitian ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran di kelas. Data yang berupa pertanyaan-pertanyaan dikumpulkan dengan cara direkam dan dicatat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah human instrumen dan indikator tuturan yang mengandung pertanyaan. Berdasarkan hasil analisis data dapat ditarik tiga simpulan. Pertama, jenis pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa dan dosen pada jenjang S-1 dan S-2 ada dua, yaitu pentanyaan konvergen dan pertanyaan divergen. Kedua, dimensi kognitif pertanyaan mahasiswa S-1 masih berada pada tingkat C2 dan C3, dengan tingkatan C2 lebih banyak dibandingkan dengan C3; sebaliknya pertanyaan dosen S-1 sudah banyak ke arah C3 dan sudah mulai ke C4. Yang berarti pertanyaan mahasiswa dan dosen S-2 sudah mengarah ke kongnisi tingkat tinggi. Ketiga, dimensi pengetahuan pertanyaan mahasiswa dan dosen S-1 mencakup pengetahuan konseptual dan prosedural, sedangkan dimensi pengetahuan pada pertanyaan mahasiswa dan dosen S-2 mencakup dimensi konseptual, prosedural, dan metakognitif, sebagian besar berada dalam dimensi pengetahuan prosedural yang berarti mahasiswa bergerak pada pola pikir yang lebih abstrak dan rumit.Kata Kunci: dimensi pertanyaan, dimensi pengetahuan, pembelajaran kelasDIMENSIONS OF LECTURER AND STUDENT QUESTIONS ON LEARNING IN CLASSAbstract One indicator of teaching success is being able to bring students to think critically. One way that can be done to be able to grow critical thinking patterns is giving good questions. This study aims to describe (1) the types of lecturer and student questions, (2) the dimensions of cognition contained in the questions made by lecturers and students, and (3) the dimensions of knowledge contained in the questions made by lecturers and students in the undergraduate and graduate in the Indonesian Language and Literacy Education Study Program of Yogyakarta State University. The data source of this research is the questions posed by lecturers and students in Indonesian language and literature study programs at the time of the class chase, both for bachelor and master degree programs. Data in the form of questions are collected by means of recorded and recorded. The instruments used in this study are human instruments and speech indicators that contain questions. Based on the results of data analysis three conclusions can be drawn. First, the types of questions posed by students and lecturers at the bachelor and master level are two, namely convergent questions and divergent questions. Second, the cognitive dimensions of S-1 student questions are still at levels C2 and C3, with higher C2 levels. compared to C3. On the other hand, there are many questions from the S-1 lecturer towards C3 and have started to C4. the question of students and S-2 lecturers who have led to a high-level technician. Third, knowledge on the questions of students and lecturers of S-1 covers conceptual and procedural knowledge, the knowledge on the questions of the S-2 students and lecturers included the conceptual, procedural, and metacognitive changes. Most are in the dimensions of procedural knowledge. That is, students move on a more abstract and complex mindset.Keywords: question dimension, knowledge dimension, classroom learning
DECENTRING THE HUMAN, IMAGINING THE MORE-THAN-HUMAN (Poetry, Plants, and the New England Region of Australia) John Charles Ryan
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.33441

Abstract

Located in the state of New South Wales, Australia, the Northern Tablelands bioregion is a high plateau landscape unique for its geological, faunal, and floristic variety. Known widely as the New England of Australia, the Tablelands is “a strange, almost inverted landscape” of undulating plains aside steep chasms. This article analyzes poetry about the flora of the New England Tablelands region of New South Wales, Australia. The article focuses on the importance of plants and poetry to the biocultural heritage of Australia. The research objective was to understand the natural and cultural dimensions of Tablelands plants as expressed in poetry. The research involved visiting botanical communities, examining historical documents, interviewing conservationists, and writing poetry. The results suggest that poetry encourages engagement with, and respect for, human and more-than-human life. The article concludes that, in the Anthropocene age, environmental poetry is essential to environmental ethics. Keywords: poetry, ecopoetics, plants, New England Tablelands, Australia  MEMULIAKAN MANUSIA, IMAJINASI MELEBIHI BATAS KEMANUSIAAN(Puisi, Tanaman, dan Wilayah New England Australia) Abstrak               Terletak di negara bagian New South Wales, Australia, bioregion Tablelands Utara adalah lanskap dataran tinggi yang unik karena keanekaragaman geologis, fauna, dan floristiknya. Dikenal luas sebagai New England of Australia, Tablelands adalah "pemandangan aneh, lanskap yang hampir terbalik" dari dataran bergelombang dan jurang yang curam. Artikel ini menganalisis puisi tentang flora wilayah New England Tablelands di New South Wales, Australia. Artikel ini berfokus pada pentingnya tanaman bagi warisan biokultural Australia. Tujuan penelitian adalah untuk memahami dimensi alami dan budaya tanaman Tablelands seperti yang diungkapkan dalam puisi. Penelitian ini melibatkan mengunjungi komunitas botani; memeriksa dokumen sejarah; mewawancarai konservasionis; dan menulis puisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi mendorong keterlibatan dengan, dan menghormati, kehidupan manusia dan lebih dari-manusia. Artikel itu menyimpulkan bahwa, di zaman Anthropocene, puisi lingkungan sangat penting bagi etika lingkungan.   Kata kunci: puisi, ekopuisi, tanaman, New England Tablelands, Australia
THE "CLASS" DISSENSION OF COLONIAL PERIOD IN SUNDANESE NOVELS: REVIEW OF IDENTITY POLITICS Asep Yusup Hudayat
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.33131

Abstract

The culture of feudalism and democracy in the Dutch East Indies agreed to oppose one another. The intersection of the two cultures is the perspective of indigenous and colonial identity which ultimately demands a struggle to demand its "class" rights. The struggle for narratives of power was inevitable. The first Sundanese novel Baruang ka nu Ngarora “Poison for the Youth” (1914) by D.K. Ardiwinata and Gogoda ka nu Ngarora “Temptations for the Youth”(1951) as a novel response from M.A. Salmun has shown these oppositional phenomena. This study aims to trace the struggle for narration that has implications for identity politics in the Dutch East Indies colonial period. The method used in this study is descriptive analysis from the perspective of postcolonial studies. From a postcolonial perspective, literary works have become an important means for tracking colonialism practices where the narratives of dominant and defensive forces are nested. The results of the analysis show that the narrative of class disagreement in Gogoda ka nu Ngarora is used as a motive for empowering the spirit of democracy, in Baruang ka nu Ngarora, is used as a motive for the assertion of partiality towards feudal culture. Through the spirit of democracy, the struggle for identity politics was built by M.A. Salmun in Gogoda ka nu Ngarora to rejects feudal ideologies. Through a feudal spirit, identity politics was built D.K. Ardiwinata in Baruang ka nu Ngarora to establishing class identity.Keywords: identity politics, class, native, colonialPERTENTANGAN "KELAS" PADA MASA KOLONIAL DALAM NOVEL SUNDA: TINJAUAN POLITIK IDENTITASAbstrak Budaya feodalisme dan budaya demokratis pada masa kolonial Hindia Belanda seringkali menunjukkan pertentangan satu dengan lainnya. Persinggungan kedua budaya tersebut dipengaruhi sudut pandang tentang identitas pribumi dan kolonial yang akhirnya memicu perjuangan menuntut hak-hak "kelas"-nya. Perebutan narasi kekuasaan pun tidak dapat dihindarkan. Novel Sunda pertama Baruang ka nu Ngarora (1914) karangan D.K. Ardiwinata dan novel sambutannya Gogoda ka nu Ngarora (1951) karangan M.A. Salmun telah menunjukkan fenomena-fenomena pertentangannya tersebut. Studi ini bertujuan menjejak perebutan narasi yang berimplikasi kepada upaya politik identitas pada masa kolonial Hindia Belanda. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif analisis dalam perspektif studi postkolonial. Berdasarkan perspektif postkolonial, karya sastra menjadi sarana penting untuk menjejak praktik kolonialisme tempat bersarangnya narasi-narasi kekuasaan dominan dan perlawanannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa narasi pertentangan kelas dalam Gogoda ka nu Ngarora digunakan sebagai motif pemberdayaan semangat demokrasi, dalam Baruang ka nu Ngarora digunakan sebagai motif penegas keberpihakan terhadap budaya feodal. Melalui semangat demokrasi, upaya politik identitas dibangun M.A. Salmun dalam Gogoda ka nu Ngarora untuk menolak ideologi-ideologi feodal. Melalui semangat feodal, politik identitas dibangun D.K. Ardiwinata dalam Baruang ka nu Ngarora untuk mengukuhkan identitas kelas.Kata kunci: politik identitas, kelas, pribumi, kolonial
PATTERNS OF LANGUAGE USE AMONG MULTILINGUAL UNIVERSITY STUDENTS MAJORING IN ENGLISH Emi Nursanti; Erna Andriyanti; Paulus Kurnianta; Titik Sudartinah
LITERA Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i2.27135

Abstract

As a multilingual country, the Indonesian government has set the positions of local language, national language, and foreign language in education through Law of National Education System No.20 of 2003, Chapter VII, Article 33. Fifteen years passed and this paper seeks to find the results of the law in higher education students by investigating the patterns of language use of multilingual students in English Literature Study Program of FBS UNY. This is a descriptive study with parallel mixed method design. The data in this study were responses upon questions in the questionnaires distributed to respondents where the results were then analyzed quantitatively by using SPSS (17) and the results of interviews were analyzed qualitatively. The source of data in this study were 162 respondents who were students of English Literature study program, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta year 2015-2017. The results show that at home, more than 60% of students use Javanese with intimacy and habit as motivating factors. As English Literature students, they are more exposed to media in Bahasa Indonesia. On the campus, English is only used for academic purposes, Bahasa Indonesia for communicating with lecturers while Javanese is for a casual talk with classmates. Javanese is close to traditional commerce while for the modern one, they prefer to use Bahasa Indonesia. For cognitive and mental activities, Bahasa Indonesia is the most dominant, and Javanese is used more than English. These results imply that rather than conforming to the law made by the government, contexts play a more important role in forming people’s language choices.Keywords: multilingualism, local language, national language, foreign language, English Literature UNY POLA PENGGUNAAN BAHASA MAHASISWA MULTILINGUAL JURUSAN BAHASA INGGRISSebagai negara multibahasa, pemerintah Indonesia telah menetapkan posisi bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing dalam pendidikan melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003, Bab VII, Pasal 33. Lima belas tahun telah berlalu dan tulisan ini berupaya untuk menemukan penerapan hasil hukum tersebut pada mahasiswa dengan menyelidiki pola penggunaan bahasa mahasiswa multibahasa di Program Studi Sastra Inggris FBS UNY. Ini adalah penelitian deskriptif dengan metode campuran paralel. Data dalam penelitian ini adalah tanggapan mahasiswa terhadap pertanyaan dalam kuesioner yang hasilnya kemudian dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan SPSS (17) serta hasil wawancara yang dianalisis secara kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah 162 responden yang merupakan mahasiswa program studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta angkatan tahun 2015-2017. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di rumah, lebih dari 60% mahasiswa menggunakan bahasa Jawa dengan keakraban dan kebiasaan sebagai faktor pendorongnya. Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, mereka lebih terpapar media dalam Bahasa Indonesia. Di kampus, bahasa Inggris hanya digunakan untuk tujuan akademik, Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan dosen, dan bahasa Jawa untuk percakapan santai dengan teman. Bahasa Jawa sangat dekat dengan perdagangan tradisional, sedangkan untuk perdagangan modern, mereka lebih memilih untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Untuk kegiatan kognitif dan mental, Bahasa Indonesia adalah yang paling dominan, dan bahasa Jawa digunakan lebih dari bahasa Inggris. Hasil ini menyiratkan bahwa alih-alih menyesuaikan ketentuan yang telah dibuat oleh pemerintah, konteks memainkan peranan yang lebih penting dalam membentuk pilihan bahasa penggunanya.Kata kunci: multilingualisme, bahasa daerah, bahasa nasional, bahasa asing, Sastra Inggris UNY

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2025) Vol. 24 No. 2: LITERA (JULY 2025) Vol. 24 No. 1: LITERA (MARCH 2025) Vol. 23 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2024) Vol. 23 No. 2: LITERA (JULY 2024) Vol. 23 No. 1: LITERA (MARCH 2024) Vol. 22 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2023) Vol. 22 No. 2: LITERA (JULY 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) -- IN PRESS Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022) Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022) Vol 21, No 1: LITERA (MARCH 2022) Vol 20, No 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol. 20 No. 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021 Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021 Vol 19, No 3: LITERA NOVEMBER 2020 Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020 Vol 19, No 1: LITERA MARET 2020 Vol 18, No 3: LITERA NOVEMBER 2019 Vol 18, No 2: LITERA JULI 2019 Vol 18, No 1: LITERA MARET 2019 Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018 Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018 Vol 17, No 1: LITERA MARET 2018 Vol 16, No 2: LITERA OKTOBER 2017 Vol 16, No 1: LITERA APRIL 2017 Vol 15, No 2: LITERA OKTOBER 2016 Vol 15, No 1: LITERA APRIL 2016 Vol 14, No 2: LITERA OKTOBER 2015 Vol 14, No 1: LITERA APRIL 2015 Vol 13, No 2: LITERA OKTOBER 2014 Vol 13, No 1: LITERA APRIL 2014 Vol 12, No 2: LITERA OKTOBER 2013 Vol 12, No 1: LITERA APRIL 2013 Vol 11, No 2: LITERA OKTOBER 2012 Vol 11, No 1: LITERA APRIL 2012 Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011 Vol 10, No 1: LITERA APRIL 2011 Vol 9, No 2: LITERA OKTOBER 2010 Vol 9, No 1: LITERA APRIL 2010 Vol 8, No 2: LITERA OKTOBER 2009 Vol 8, No 1: LITERA APRIL 2009 Vol 7, No 1: LITERA APRIL 2008 Vol 6, No 1: LITERA JANUARI 2007 Vol 5, No 1: LITERA JANUARI 2006 Vol 4, No 2: LITERA JULI 2005 Vol 4, No 1: LITERA JANUARI 2005 Vol 3, No 2: LITERA JULI 2004 Vol 3, No 1: LITERA JANUARI 2004 Vol 2, No 1: LITERA JANUARI 2003 More Issue