cover
Contact Name
Anwar Efendi
Contact Email
anwar@uny.ac.id
Phone
+62274550843
Journal Mail Official
litera@uy.ac.id
Editorial Address
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Depok, Sleman, Yogyakarta Indonesia 55281 litera@uny.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Litera
ISSN : 14122596     EISSN : 24608319     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
LITERA is a high quality open access peer reviewed research journal that is published by Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta. LITERA is providing a platform for the researchers, academicians, professionals, practitioners, and students to impart and share knowledge in the form of high quality empirical original research papers on linguistics, literature, and their teaching.
Articles 512 Documents
METAPHORS IN BUGISNESE SONG LYRICS: SEMANTIC COGNITIVE STUDY Haeran, Haeran
LITERA Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i1.33175

Abstract

The Bugisnese song lyrics use many methapors by their creators as expression forms of social reality. This study aims to describe the kinds of metaphors analyzed from the semantic cognitive aspect. The study is qualitative research. The study uses the semantic cognitive approach. Data sources are taken from Bugisnese song lyrics composed by Ancha Mahendra and Ansar S. from year 2000 to year 2010. Data collection procedures consist in reading and listening attentively then continued by note taking. After data collection, data are analyzed in the steps of data reduction, data presentation, and conclusion. The research results show that using of structural metaphors was more dominantly found in Bugisnese song lyrics than in orientational and ontology metaphors. Three kinds of metaphors are found; namely ten structural metaphors, one orientational metaphors, and four ontology metaphors. The use of structural metaphors is found more indicating that the song authors do not want to convey the lyrics purposes directly, but choose to transfer the purposes of song lyrics into concept of objects that have physical characteristics.Keywords: metaphor, song lyrics, Bugisnese song, semantic cognitiveMETAFORA DALAM LIRIK LAGU BUGIS: KAJIAN SEMANTIK KOGNITIFAbstrakLirik lagu Bugis banyak menggunakan metafora yang oleh penciptanya digunakan sebagai bentuk ekspresi penggambaran realitas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis metafora dalam lirik lagu Bugis yang dikaji dari segi semantic kognitif. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semantik kognitif. Sumber data diambil dari lirik lagu Bugis yang diciptakan oleh Ancha Mahendra dan Ansar S. dari tahun 2000—2010. Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik baca dan simak dilanjutkan dengan teknik catat. Setelah data terkumpul, kemudian dianalisis dengan beberapa tahap yakni berupa reduksi data, penyajian data kemudian penyimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metafora struktural lebih banyak digunakan dalam lirik lagu Bugis dari pada metafora orientasional dan ontologis. Ditemukan metafora yang terbagi menjadi tiga jenis, yaitu sepuluh metafora struktural, satu metafora orientasional, dan empat metafora ontologis. Penggunaan metafora struktural lebih banyak ditemukan karena mengisayaratkan bahwa pencipta lagu tidak ingin menyampaikan maksud lirik secara langsung, tetapi lebih memilih mentransferkan maksud lirik lagu ke dalam konsep benda yang memiliki sifat fisik.Kata Kunci: metafora, lirik lagu, Bugis, semantik kognitif
REPRESENTASI HEGEMONI KINERJA POLRI DALAM PEMBERITAAN TEROR AIR KERAS NOVEL BASWEDAN DI KOMPAS.COM Etikawati, Dina
LITERA Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i1.30472

Abstract

Berdasarkan analisis bahasa fungsional, pemakaian unsur gramatikal menggambarkan realitas sosial yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi kinerja kepolisian tentang kasus teror air keras Novel Baswedan dan upaya hegemoni dalam pemberitaan di kompas.com. Penelitian ini menerapkan pedekatan analisis wacana kritis model Fairclough. Data penelitian menggunakan pernyataan langsung kepolisian dalam pemberitaan di kompas.com. Data dikumpulkan dari edisi Mei 2017 s/d Desember 2019 yang diseleksi berdasarkan konteks penyelidikan kasus teror air keras Novel Baswedan. Penelitian ini menggunakan total 42 kutipan pernyataan langsung dari 18 teks berita yang dianalisis menggunakan metode abduktif inferen. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, lembaga kepolisian diinterpretasikan memiliki kinerja sebagai berikut, bertanggung jawab yang direpresentasikan temuan proses material 39%, berkredibilitas direpresentasikan proses mental 30% dan proses verbal 14%, dan lembaga kooperatif direpresentasikan proses relasional 13% dan proses behavioral 4%. Kedua, pernyataan langsung Polri juga berfungsi sebagai upaya menghegemoni seperti, meyakinkan, mempengaruhi, dan mengontrol pihak lain.Kata kunci: representasi, kinerja, hegemoniTHE REPRESENTATION OF THE HEGEMONIC PERFORMANCE OF THE POLICE IN NOVEL BASWEDAN’S ACID ATTACK NEWS IN KOMPAS.COMAbstract Based on the analysis of functional language, the use of grammatical elements illustrates the existing social reality. This study aims to describe the representation of the police's performance in ivestigating the case of Novel Baswedan acid attack and the hegemony efforts in reporting in Kompas.com. This study applies the approach of analysis of Fairclough's critical discourse. The research data were taken from the police's direct statement in the news in Kompas.com. The data were collected from the May 2017 to the December 2019 editions and were selected based on the context of the investigation of Novel Baswedan’s acid attack. This study used a total of 42 direct statement excerpts from 18 news that were analyzed using inferent abductive methods. The research results are as follows. First, the police institution is interpreted to have responsible performance that is represented by the findings of the material process of 39%; credibility is represented by mental processes of 30% and verbal processes of 14%; and the cooperative institutions represent a relational process of 13% and behavioral processes of 4%. Second, The Police's direct statement also functions as an attempt to hegemony such as, convincing, influencing, and controlling other parties.Keywords: representation, performance, hegemony
THE MANIFESTATION OF NON-FORMAL MINANGKABAU LANGUAGE PERSERVATION WITHIN CLOSE RELATION SAKATO COMMUNITY IN YOGYAKARTA Shintia Dwi Alika
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.26357

Abstract

AbstractIndonesian society is a multilingual and multicultural society that embraces different cultural backgrounds, languages, and regional characteristics. One of the characteristics of regionalism and cultural identity of a tribe is the regional language possessed by a region. It is the regional language that gives distinctive features for its speakers. Minangkabau language is one of the regional languages in Indonesia originating from West Sumatra whose native speakers are Minangkabau tribe. Art Society Sakato is a community that originated from the Minangkabau tribe who is quite active and influential in the city of Yogyakarta. The intimacy between the members of Sakato is very deep because they are very familiar and come from the same region. Therefore, this research is focused in the domain of the sacrifice. Despite being away from his home region Sakato still uses the Minangkabau language in a Javanese tribal community. This makes the researcher interested to research about the preservation of sociolinguistic study language. This research is descriptive qualitative. The data collection method used is the method of referring and interviewing. The form of language defense was analyzed using Miles and Huberman's theory (data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing). Based on the results of data analysis, the form of defense of Minangkabau languages of nonformal variety in the sphere of kekariban in the sakato art community in the city of Yogyakarta in the form of phoneme and morphological.Keywords: language preservation, Minangkabau language, the domain of the sacrifice, sakato, the manifestation of language preservation. WUJUD PEMERTAHANAN BAHASA MINANGKABAU NONFORMAL DALAM RANAH KEKARIBAN PADA KOMUNITAS SAKATO DI YOGYAKARTAAbstrakMasyarakat Indonesia merupakan masyarakat multilingual dan multikultural yang mewadahi perbedaan berbagai latar belakang budaya, bahasa, dan ciri kedaerahan. Salah satu ciri kedaerahan dan identitas budaya dari suatu suku bangsa adalah bahasa kedaerahan yang dimiliki oleh suatu daerah. Bahasa daerahlah yang memberi ciri pembeda bagi penuturnya. Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat yang penutur aslinya adalah suku Minangkabau. Komunitas Seni Sakato merupakan komunitas yang berasal dari suku Minangkabau yang cukup aktif dan berpengaruh di Kota Yogyakarta. Kedekatan antaranggota Sakato sangat mendalam karena mereka sangat akrab dan berasal dari satu daerah yang sama. Oleh sebab itu, penelitian ini difokuskan dalam ranah kekariban. Walaupun berada jauh dari daerah asalnya Sakato tetap menggunakan bahasa Minangkabau di tengah masyarakat bersuku Jawa. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk meneliti tentang wujud pemertahanan bahasa kajian sosiolinguistik. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dan wawancara. Wujud pemertahanan bahasa dianalisis menggunakan teori Miles dan Huberman (pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan). Berdasarkan hasil analisis data, wujud pemertahanan bahasa Minangkabau ragam nonformal dalam ranah kekariban pada komunitas seni sakato di Kota Yogyakarta berupa fonologi dan morfologi..Kata Kunci : pemertahanan bahasa, bahasa Minangkabau, ranah kekariban, sakato, wujud pemertahanan bahasa.
LANGUAGE SOCIALIZATION IN FAMILY ENVIRONMENTS THROUGH TERMS OF ADDRESS TO CHILDREN Wira Kurniawati; Suhandano Suhandano; Bernadette Kushartanti
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.39455

Abstract

As a linguistic resource, term of address in language socialization can become a means to make children competent in language and in society. This article aims to describe the practice of language socialization that is reflected from terms of address used by parents with children in the family environment. The study took place in Sleman Regency, Yogyakarta Special Region, Indonesia. The data were obtained through questionnaires and observations. The questionnaires were distributed to parents through six schools (Play Groups, Day Care Centers, and Kindergartens) in the city center of Sleman Regency (N=145). Meanwhile, observations were made on five families living in urban Sleman. The data were analyzed by qualitative method which began with classifying the forms of address to then find out the motivation and socialization values contained in these forms of address. The results of the research indicated that, as a linguistic resource, several forms of address with various motivations were found. The forms and motivations for the preferred addresses toward children indicated that in urban family environments parents tend to rely on child-centered communication during the language socialization process. In this case, parents adapted their language usage to meet their children’s developmental levels. This is evident from the use of address in the form of proper names and kinship terms (which can be followed by proper names) that are utilized to avoid the use of second person pronouns. In addition, there is an emphasis on affection conveyed through addresses in the form of adjectival nominalization, nominal forms, terms of endearment, and various forms of appositives. The values reflected in the selection of such addresses are courtesy, affection, hope, cultural and religious identity, and position of society between locality and nationality.   Keywords: language socialization; address to children; family environment SOSIALISASI BAHASA DI LINGKUNGAN KELUARGA MELALUI KATA SAPAAN UNTUK ANAK-ANAK AbstrakSebagai salah satu sumber kebahasaan, pemakaian sapaan dalam sosialisasi bahasa dapat menjadi sarana untuk menyosialisasikan anak agar memiliki kecakapan dalam berbahasa dan bermasyarakat. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan sosialisasi bahasa yang tecermin dari pemakaian kata sapaan oleh orang tua kepada anak di lingkungan keluarga. Penelitian berlangsung di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Data diperoleh melalui kuesioner dan observasi. Kuesioner dibagikan kepada orang tua melalui enam sekolah (Kelompok Bermain, Tempat Penitipan Anak, dan Taman Kanak-Kanak) di Kabupaten Sleman (N = 145), sedangkan observasi dilakukan terhadap lima keluarga yang tinggal di lingkungan urban Sleman. Analisis data dilakukan dengan metode kualitatif yang diawali dengan melakukan klasifikasi bentuk-bentuk sapaan untuk kemudian mengetahui motivasi dan nilai sosialisasi yang terkandung dari bentuk-bentuk sapaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai sumber kebahasaan dalam sosialisasi, ditemukan beberapa bentuk sapaan dan berbagai motivasi pemakaiannya. Bentuk dan motivasi sapaan untuk anak-anak menunjukkan bahwa orang tua cenderung menggunakan komunikasi yang berpusat pada anak. Orang tua menyesuaikan penggunaan bahasa mereka untuk memenuhi tingkat perkembangan anak mereka. Hal ini terlihat dari penggunaan sapaan berupa nama diri dan istilah kekerabatan (yang dapat diikuti dengan nama diri) yang digunakan untuk menghindari penggunaan kata ganti orang kedua. Selain itu, ada penekanan pada aspek afeksi melalui sapaan berupa nominalisasi kata sifat, bentuk nominal, bentuk ungkapan kasih, dan berbagai bentuk apositif. Pemilihan jenis-jenis sapaan tersebut mengandung nilai-nilai yang secara implisit diajarkan kepada anak, yaitu kesopanan, kasih sayang, harapan, identitas budaya dan agama, serta identitas masyarakat di antara lokalitas dan nasionalitas. Kata kunci: sosialisasi bahasa, sapaan pada anak, lingkungan keluarga
IMPLEMENTASI BUDAYA DALAM PERKULIAHAN MENULIS AKADEMIK MAHASISWA BIPA TIONGKOK Setyawan Pujiono; Pratomo Widodo
LITERA Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i1.37927

Abstract

Upaya untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada penutur asing (BIPA) dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. Salah satu pendekatan yang terbuka luas adalah melalui perkuliahan Menulis Karya Ilmiah (akademik). Tujuan penelitian ini untuk menguraikan implementasi budaya dalam perkuliahan menulis akademik mahasiswa BIPA dan mendeskripsikan topik terkait budaya Indonesia dalam produk karya tulis mahasiswa BIPA. Metode penelitian ini berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan studi pustaka dalam proses perkuliahan menulis akademik mahasiswa BIPA. Hasil penelitian menunjukkan selama proses perkuliahan menulis akademik sudah berbasis budaya. Saat perkuliahan, dosen sudah menggunakan materi tentang budaya dan aktivitas mahasiswa (pemilihan ide, pengumpulan data, dan penulisan laporan) sudah beorientasi pada budaya Indonesia (khususnya budaya Jawa). Kemudian, topik produk tulisan mahasiswa juga berbasis budaya seperti perilaku hidup masyarakat Jawa, upacara tradisi, seni tradisi, dan benda-benda (artefak) budaya. Topik budaya dipilih oleh mahasiswa BIPA Tiongkok, karena: a) topik budaya sesuai pilihan mahasiswa, sehingga memotivasi belajar mereka, b) penelitian budaya merupakan materi otentik dan beraneka ragam jenisnya, c) budaya merupakan lahan tumbuhnya nilai-nilai dan kepribadian yang luhur dan mempercepat penyesuaian mahasiswa terhadap masyarakat lingkungannya.Kata kunci: budaya, menulis akademik, BIPAIMPLEMENTATION OF INDONESIAN CULTURE IN ACADEMIC WRITING CLASS OF CHINESE BIPA STUDENTSAbstractEfforts to introduce Indonesian culture to foreign speakers (BIPA) can be made through various approaches. One approach that is wide open is through lectures on Writing Scientific Papers (Academic Writing). The purpose of this study is to describe the implementation of cultures in the academic writing classes of BIPA students and to describe topics related to Indonesian cultures in the product of BIPA student research reports. The method of the study is based on the results of observations, questionnaires, and literature study in the academic writing process of BIPA students. The research results show that, during the lecture process, academic writing is based on culture. During classes, lecturers use material about students’ cultures and activities (idea selection, data collection, and report writing) which are oriented towards Indonesian cultures (especially Javanese cultures). Then, the topic of students’ writing is also based on cultures such as the behavior of the Javanese society, traditional ceremonies, traditional arts, and cultural objects (artifacts). The topic of the cultures is chosen by the Chinese BIPA students because: a) cultural topics are in accord with students’ choices, thus motivating their learning, b) cultural research is authentic material and has various types, c) culture is the land for the growth of noble values and personalities and accelerates the adjustment of students to their community.Keywords: culture, academic writing, BIPA
LEKSIKON KULINER TRADISIONAL MASYARAKAT KABUPATEN PANDEGLANG Odien Rosidin; Erwin Salpa Riansi; Asep Muhyidin
LITERA Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i1.33908

Abstract

Kuliner tradisional bukan sekadar mencerminkan khazanah makanan, bahan yang digunakan, cara pengolahan, dan cita rasa olahan lokal yang unik, tetapi juga merepresentasikan entitas budaya masyarakat secara utuh. Leksikon nama kuliner tradisional menyiratkan makna budaya yang penting untuk digali dan diinterpretasikan dalam kaitannya dengan pengungkapan nilai -nilai simbolik dan budaya yang dikandungnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kuliner tradisional masyarakat Kabupaten Pandeglang berdasarkan tinjauan bentuk leksikon, fungsinya dalam upacara atau ritual adat, dan pandangan masyarakat terhadap simbol dan makna kuliner tradisional sebagai pelengkap dalam upacara atau ritual adat. Penelitian ini didesain dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan memakai metode etnografis berancangan antropolinguistik. Sumber data penelitian adalah tuturan lisan para informan sebagai narasumber. Pengumpulan data dengan teknik observasi partisipan dan wawancara. Analisis data dengan empat kegiatan, yaitu pengumpulan, reduksi, penyajian, dan verifikasi. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ditemukan 25 leksikon nama makanan; 14 leksikon nama makanan pelengkap upacara atau ritual adat; 32 leksikon nama alat pembuatan, 35 leksikon nama bahan, dan 38 leksikon nama proses pembuatan. Kedua, kuliner tradisional dalam fungsinya sebagai pelengkap upacara atau ritual adat mencerminkan tiga dimensi nilai, yaitu individual, sosial, dan pengetahuan. Ketiga, kuliner tradisional sebagai pelengkap upacara atau ritual adat merepresentasikan simbol dan makna yang berhubungan erat dengan identitas sosial budaya masyarakat Kabupaten Pandeglang. Temuan penelitian bermanfaat untuk dokumentasi produk budaya kuliner lokal dan upaya revitalisasi dan pemertahanan budaya tradisional menghadapi moderninasi dan globalisasi.Kata kunci: leksikon, kuliner tradisional, sosial budaya, ritual adatLEXICON OF THE COMMUNITY TRADITIONAL CULINARY IN PANDEGLANG REGENCYAbstractTraditional culinary not only reflects the food treasures, ingredients used, processing methods, and unique local processed flavors, but also represents the cultural entity of the community as a whole. The lexicon of traditional culinary names implies cultural meanings that are important to explore and interpret in relation to the expression of the symbolic and cultural values they contain. This study aims to describe the traditional culinary delights of the people of Pandeglang Regency based on a review of the lexicon forms, their function in traditional ceremonies or rituals, and people's views on traditional culinary symbols and meanings as a complement to traditional ceremonies or rituals. This study was designed using a qualitative approach using ethnographic methods with anthropolinguistic design. The data source of this research was the oral speech of the informants as sources. Data collection was done by participant observation and interview techniques. Data were analyses were conducted in four activities, namely collection, reduction, presentation, and verification. The research results are as follows. First, the following are found: 25 lexicons of food names, 14 lexicons of names of complementary foods for traditional ceremonies or rituals, 32 lexicons of manufacturing tool names, 35 lexicons of material names, and 38 lexicons of manufacturing process names. Second, traditional culinary in its function as a complement to traditional ceremonies or rituals reflects three dimensions of value; namely individual, social, and knowledge. Third, traditional culinary as a complement to traditional ceremonies or rituals representing symbols and meanings are closely related to the socio-cultural identity of the people of Pandeglang Regency. The research findings are useful for documenting local culinary culture products and efforts to revitalize and maintain traditional culture in facing modernization and globalization.Keywords: lexicon, traditional culinary, social culture, traditional rituals
READERS’ RESPONSE TO THE PERFORMANCE OF TEATER GANDRIK’S TANGIS ON THE RECENT SOCIO-POLITICAL PHENOMENA Muhammad Rasyid Ridlo; Nurhadi BW; Wiyatmi Wiyatmi
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.36321

Abstract

Literary works, including in this context play scripts later performed, often go beyond mere entertainment or exhibition. Play scripts and theatrical performances as well frequently introduce particular moral lessons, educative messages, even social controls. This research aims to describe the following matters: (a) the coverage of national mass media on three performances of Tangis (Cry) by Teater Gandrik; (b) the socio-political phenomena presented in the performance; and (c) the construct of the readers or audience on the performance. The object of this research consists of a number of news or reviews of such performance covered in national mass media in 2015. To collect the data, reading and taking notes methods were applied. The validity and reliability of the data were measured by employing semantic validity as well as intra-rater and inter-rater reliabilities. The data was later categorized and analyzed using a descriptive qualitative approach, focusing on literary reception. There were at least 15 news or reviews compiled, signifying a considerable interest of the mass media in interpreting the performance. Almost each of these coverages discusses the social circumstance represented in the play. The issue of the conflict between KPK (Corruption Eradication Commission) and Polri (Indonesian National Police) is one of the actual phenomena indirectly captured by the media relating to this performance. These media reportages serve as a construct established by the audience (experts) or the review creator or news reporters about Teater Gandrik, particularly on the play that crowns this group as one of top-notch Indonesian theater companies.Keywords: reception, performance, teater gandrik, mass media, social phenomenaRESPON PEMBACA TERHADAP PERTUNJUKAN DRAMA TANGIS OLEH TEATER GADRIK DALAM FENOMENA SOSIAL-POLITIK TERKINIAbstrakKarya sastra, termasuk dalam konteks ini naskah drama yang kemudian dipentaskan, seringkali lebih dari sekadar hiburan atau pameran. Naskah drama dan pertunjukan teater juga sering memperkenalkan pelajaran moral tertentu, pesan edukatif, bahkan kontrol sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut: (a) liputan media massa nasional atas tiga pertunjukan Tangis (Menangis) oleh Teater Gandrik; (b) fenomena sosial politik yang dihadirkan dalam pertunjukan; dan (c) konstruk pembaca atau penonton terhadap pertunjukan. Objek penelitian ini terdiri dari sejumlah berita atau ulasan tentang pertunjukan tersebut yang diliput di media massa nasional pada tahun 2015. Untuk mengumpulkan data digunakan metode membaca dan mencatat. Validitas dan reliabilitas data diukur dengan menggunakan validitas semantik serta reliabilitas intra-penilai dan antar-penilai. Data tersebut kemudian dikategorikandan dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan fokus pada resepsi sastra. Sedikitnya ada 15 berita atau resensi yang dihimpun, menandakan minat media massa yang cukup besar dalam memaknai pertunjukan tersebut. Hampir setiap liputan ini membahas tentang keadaan sosial yang direpresentasikan dalam lakon tersebut. Isu konflik antara KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan Polri (Polri) merupakan salah satu fenomena aktual yang secara tidak langsung ditangkap oleh media terkait kinerja tersebut. Reportase media ini menjadi konstruksi yang dibangun oleh penonton (pakar) atau pembuat resensi atau reporter berita tentang Teater Gandrik, terutama pada lakon yang menobatkan grup ini sebagai salah satu perusahaan teater terkemuka di Indonesia.Kata kunci: resepsi, pertunjukan, teater gandrik, media massa, fenomena sosial
GIVING ROOM FOR THOSE WHO ARE FORGOTTEN: READING THE FIGURES OF QUEEN KALINYAMAT AND DEWI RENGGANIS IN INDONESIAN NOVELS Wiyatmi Wiyatmi
LITERA Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i2.35894

Abstract

            The patriarchal system which is dominant in most ethnic groups in Indonesia has brought up narratives that favor men. As a result, men are the main characters and heroes in a number of Indonesian folk literature, whereas the position and role of women tend to be marginalized. This study tries to understand two female figures, Queen Kalinyamat and Dewi Rengganis, who were transformed in Indonesian novels. In folklore both tend to be marginalized because they accentuate male heroes. However, in Indonesian novels both tend to be highlighted on their position and role in society, as can be found in the novel Ratu Kalinyamat (Hadi, 2010) and Cantik Itu Luka (Kurniawan, 2004, first edition). By using a qualitative descriptive method that bases on the framework of postmodernist feminism analysis, this study tries to interpret its position and role in society. By using a qualitative descriptive method that bases on the framework of postmodernist feminism analysis, this study tries to interpret its position and role in society. The results showed that the novels Ratu Kalinyamat and Cantik Itu Luka were written to bring back female characters that had existences as subjects who not only had power over their autonomy but were also able to exercise their power. Ratu Kalinyamat (Hadi, 2010) which transformed Queen Kalinyamat and Cantik Itu Luka (2004, first edition) which transformed Dewi Rengganis, and Dayang Sumbi showed an effort to bring back female figures who historically and in myths were considered to exist in the past. This is in line with the mission of feminist literature and feminist studies aimed at identifying the elimination and elimination of information about women in general. Keywords: feminism, women, folklore, marginalization, patriarchy MEMBERI RUANG UNTUK MEREKA YANG TERLUPAKAN:MEMBACA SOSOK RATU KALINYAMAT DAN DEWI RENGGANIS DALAM NOVEL INDONESIA Abstrak            Sistem patriarki yang dominan di sebagian besar suku bangsa di Indonesia telah memunculkan narasi-narasi yang berpihak pada laki-laki. Akibatnya, laki-laki menjadi tokoh utama dan pahlawan dalam sejumlah sastra rakyat Indonesia, sedangkan posisi dan peran perempuan cenderung terpinggirkan. Penelitian ini mencoba memahami dua sosok perempuan, Ratu Kalinyamat dan Dewi Rengganis, yang ditransformasikan dalam novel-novel Indonesia. Dalam cerita rakyat keduanya cenderung terpinggirkan karena menonjolkan pahlawan laki-laki. Namun, dalam novel-novel Indonesia keduanya cenderung menonjolkan kedudukan dan perannya dalam masyarakat, seperti yang terdapat dalam novel Ratu Kalinyamat (Hadi, 2010) dan Cantik Itu Luka (Kurniawan, 2004, edisi pertama). Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berpijak pada kerangka analisis feminisme postmodernis, penelitian ini mencoba menginterpretasikan posisi dan perannya dalam masyarakat. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berpijak pada kerangka analisis feminisme postmodernis, penelitian ini mencoba menginterpretasikan posisi dan perannya dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Ratu Kalinyamat dan Cantik Itu Luka ditulis untuk menghadirkan kembali tokoh-tokoh perempuan yang memiliki eksistensi sebagai subjek yang tidak hanya memiliki kekuasaan atas otonominya tetapi juga mampu menjalankan kekuasaannya. Ratu Kalinyamat (Hadi, 2010) yang mentransformasikan Ratu Kalinyamat dan Cantik Itu Luka (2004, edisi pertama) yang mentransformasikan Dewi Rengganis, dan Dayang Sumbi menunjukkan upaya untuk memunculkan kembali sosok-sosok perempuan yang secara historis dan mitos dianggap ada di masa lalu. Hal ini sejalan dengan misi sastra feminis dan studi feminis yang bertujuan untuk mengidentifikasi eliminasi dan eliminasi informasi tentang perempuan secara umum. Kata kunci: feminisme, perempuan, folklore, marginalisasi, patriarki
STRATEGI KESANTUNAN TINDAK TUTUR DIREKTIF WERKUDARA DALAM WAYANG PURWA: ANALISIS POLA PROSODI Eti Setiawati; Titis Bayu Widagdo
LITERA Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v20i1.34058

Abstract

Tokoh Werkudara (WR) memiliki kekhasan yang menjadikan tokoh tersebut unik dan berbeda dibanding tokoh lainya dalam pementasan wayang purwa. Secara kebahasaan tokoh WR memiliki gaya berbicara kasar dan tidak pernah berbicara halus, dan cenderung tidak santun terhadap mitra tuturnya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pola prosodi strategi kesantunan tindak tutur direktif yang dilakukan tokoh Werkudara dalam wayang purwa. Penelitian ini menggunakan data tindak tutur direktif yang dilakukan tokoh Werkudara dalam lakon Dewa Ruci dengan pemilihan kalimat target tindak tutur direktif requestives sub fungsi meminta dengan struktur S-P-Pel aku jaluk pamit dan tindak tutur direktif questions sub fungsi bertanya dengan strutur apa-S?. Sumber penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekaman video pementasan wayang lakon Dewa Ruci oleh Ki Nartosabdo. Data tuturan tersebut diproses dengan menggunakan aplikasi Praat dengan berpedoman pada aturan IPO (Instituut voor Perceptie Onderzoek) guna menggambarkan dan mempersepsikan aspek prosodi dari tuturan Werkudara kepada masing-masing mitratuturnya. Penelitian ini menggunakan teori pragmatik sebagai pisau bedah guna menjelaskan hubungan pola prosodi dalam membangun kesatunan dengan mitra tutur. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan tiga pola prosodi dalam tindak tutur direktif Werkudara, yaitu pertama, konteks mitra tutur (+D, +P ‘met’) dalam tuturanya Werkudara menggunakan pola prosodi kontur nada turun atau deklinasi, julat nada tinggi (melodis), dan durasi panjang. Kedua konteks mitra tutur (-D, +P ‘met’) menggunakan pola prosodi kontur nada turun atau deklinasi, julat nada kecil (monoton), dan durasi panjang. Ketiga, konteks mitra tutur (+D, +P ‘mat’) menggunakan pola prosodi kontur nada naik atau inklinasi, julat nada kecil (monoton), dan durasi pendek.Kata kunci: wayang purwa, werkudara, tindak tutur direktif, pola prosodi POLITENESS STRATEGY OF DIRECTIVE SPEECH ACT OF WERKUDARA IN THE WAYANG PURWA: A PROSODIC ANALYSISAbstract The Werkudara (WR) character has a peculiarity that makes this character unique and different from other characters in the shadow-puppet performances. Linguistically, the WR character has a harsh speaking style, never speaks softly, and tends to be disrespectful to his speech partners. The purpose of this study is to describe the prosody pattern of the directive speech acts of the politeness strategy performed by the Werkudara character in the puppet performance. This study uses the directive speech-act data performed by the character Werkudara in Dewa Ruci's play by selecting the target sentence directive speech-act requestives requesting sub-function with the structured target sentences S-P-Pel ‘aku jaluk pamit’ and the directive speech acts question sub-function of asking with the structure what-S?. The research source used in this study was the video recording of the Dewa Ruci puppet performance by Ki Nartosabdo. Furthermore, the speech data is processed using the Praat application guided by the IPO rules (Instituut voor Perceptie Onderzoek) to describe and perceive the prosody aspects of Werkudara's speech to each of his partners. This study uses the pragmatic theory as a tool to explain prosody patterns in building politeness with speech partners. The results of the study indicate the three prosody patterns in the speech acts of the Werkudara as follows. First, the context of the speech partners (+ D, + P 'met') in Werkudara's speech uses the prosody pattern of downward pitch or declination contours, high pitch range (melodic), and long duration. Second, the two contexts of speech partners (-D, + P 'met') use a downward or declination prosody pattern, a small pitch range (monotone), and a long duration. Third, the context of speech partners (+ D, + P 'mat') uses a prosody pattern of rising or inclination contours, small pitch ranges (monotone), and short duration.Keys word: shadow puppet, Werkudara, directive speech acts, prosody patterns.
IKONITAS PEREMPUAN DALAM NOVEL GRAFIS EMBROIDERIES KARYA MARJANE SATRAPI Herson Kadir; Jein Palilati
LITERA Vol 16, No 2: LITERA OKTOBER 2017
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v16i2.17455

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan ikonitas perempuan dalam novel grafis Embroideries karya Marjane Satrapi dengan menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan cara: (1) mengidentifikasi tanda ikon; (2) mengklasifikasi satu per satu tanda ikon yang telah diidentifikasi berdasarkan teori semiotika Peirce; dan (3) menganalisis data yang mengandung ikon imagi, diagramatis, dan metaforis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita dalam novel grafis Embroideries secara imagi, diagramatis, dan metaforis menggambarkan ikonitas kehidupan perempuan yang mengalami inferioritas, baik posisinya sebagai gadis, istri, maupun sebagai janda.Kata kunci: ikonitas perempuan, novel grafis, semiotik WOMEN’S ICONITY IN MARJANE SATRAPI’S GRAPHIC NOVEL EMBROIDERIESAbstractThis study aims to describe the icons of women in Marjane Satrapi’s graphic novel Embroideries by using Charles Sanders Peirce’s semiotic theory. This was a qualitative descriptive study. The data were collected by the library research technique. The data were analyzed by: (1) identifying icon signs; (2) classifying icon signs that had been identified one by one based on Peirce’s semiotic theory; and (3) analyzing data containing image, diagram, and metaphor icons. The results show that the story in the graphic novel Embroideries in terms of image, diagram, and metaphor icons describes the iconity of the life of women experiencing inferiority, either as a girl, a wife, or a widow.Keywords: women’s iconity, graphic novel, semiotic

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2025) Vol. 24 No. 2: LITERA (JULY 2025) Vol. 24 No. 1: LITERA (MARCH 2025) Vol. 23 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2024) Vol. 23 No. 2: LITERA (JULY 2024) Vol. 23 No. 1: LITERA (MARCH 2024) Vol. 22 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2023) Vol. 22 No. 2: LITERA (JULY 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) -- IN PRESS Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022) Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022) Vol 21, No 1: LITERA (MARCH 2022) Vol. 20 No. 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021 Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021 Vol 19, No 3: LITERA NOVEMBER 2020 Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020 Vol 19, No 1: LITERA MARET 2020 Vol 18, No 3: LITERA NOVEMBER 2019 Vol 18, No 2: LITERA JULI 2019 Vol 18, No 1: LITERA MARET 2019 Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018 Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018 Vol 17, No 1: LITERA MARET 2018 Vol 16, No 2: LITERA OKTOBER 2017 Vol 16, No 1: LITERA APRIL 2017 Vol 15, No 2: LITERA OKTOBER 2016 Vol 15, No 1: LITERA APRIL 2016 Vol 14, No 2: LITERA OKTOBER 2015 Vol 14, No 1: LITERA APRIL 2015 Vol 13, No 2: LITERA OKTOBER 2014 Vol 13, No 1: LITERA APRIL 2014 Vol 12, No 2: LITERA OKTOBER 2013 Vol 12, No 1: LITERA APRIL 2013 Vol 11, No 2: LITERA OKTOBER 2012 Vol 11, No 1: LITERA APRIL 2012 Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011 Vol 10, No 1: LITERA APRIL 2011 Vol 9, No 2: LITERA OKTOBER 2010 Vol 9, No 1: LITERA APRIL 2010 Vol 8, No 2: LITERA OKTOBER 2009 Vol 8, No 1: LITERA APRIL 2009 Vol 7, No 1: LITERA APRIL 2008 Vol 6, No 1: LITERA JANUARI 2007 Vol 5, No 1: LITERA JANUARI 2006 Vol 4, No 2: LITERA JULI 2005 Vol 4, No 1: LITERA JANUARI 2005 Vol 3, No 2: LITERA JULI 2004 Vol 3, No 1: LITERA JANUARI 2004 Vol 2, No 1: LITERA JANUARI 2003 More Issue