cover
Contact Name
Kurniatun Karomah
Contact Email
hsji.indonesia@gmail.com
Phone
+6281287852886
Journal Mail Official
hsji.indonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Percetakan Negara no. 29 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Health Science Journal of Indonesia
ISSN : 20877021     EISSN : 23383437     DOI : https://doi.org/10.22435/hsji
Core Subject : Health,
Health Science Journal of Indonesia is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such as researchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of health research and towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in health research in order to advance science and technology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factor in the development of science and technology.
Articles 95 Documents
Simple method to isolation and culture of neuron progenitor cells (NPCs) from whole brain post-natal rat Masagus Zainuri; Ratih Rinendyaputri; Ariyani Noviantari; Ni Ketut Susilarini
Health Science Journal of Indonesia Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v9i2.644

Abstract

Latar Belakang: Neurobiologi dipelajari menggunakan sel neuron dari kultur primer atau menggunakancell line tergantung pada tujuan penelitian yang akan dilakukan. Berbagai metode dikembangkan untukmendapatkan sel neuron pada bagian korteks, hipokampus atau dari semua jaringan otak dari otak fetusatau tikus yang baru lahir. Sel neuron tidak mampu berproliferasi sehingga perlu dikembangkan isolasineuron progenitor cells (NPCs). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode isolasi NPCs darijaringan utuh otak tikus yang baru lahir secara mudah dan praktis. Metode: Jaringan otak diperoleh dari tikus Sprague Dawley umur 2 hari. Eksperimen dilakukan dalam duatahap yaitu memasukkan jaringan otak dalam tripsin 0,05% diinkubasi selama 10 menit, menambahkanmedium kultur, disaring dengan pori membran dan sentrifugasi selama 10 menit. Tahap selanjutnya membuang supernatan, tambahkan dengan HBSS-glukosa, dimasukkan ke dalam larutan Ficoll 35% dan 65% kemudian sentrifugasi, selanjutnya supernatan ditanam di cawan kemudian dipindahkan lagi pada cawan yang telah dilapisi dengan poly-D-lysine. Karakterisasi dilakukan dengan imunositokimia penanda neuron (NeuN danmicrotubule-associated protein 2-MAP2) dan flow cytometry (PSANCAM+ and A2B5-). Hasil: Dalam waktu kurang dari satu jam dengan menggunakan metode ini dapat diperoleh NPCs. Hasilmenunjukkan bahwa diperoleh lebih dari 95% sel dengan PSANCAM+ dan A2B5-. Setelah dikultur selama4 hari, sel positif terhadap NeuN and MAP2. Kesimpulan: Telah berhasil dikembangkan metode isolasi NPCs dari jaringan utuh otak tikus baru lahiryang mudah dan praktis dengan viabilitas dan kemurnian tinggi. (Health Science Journal of Indonesia2018;9(2):63- 9) Kata kunci: tikus baru lahir, neuron progenitor cells (NPCs), isolasi Abstract Background: Neurobiology is studied by neuron cells from primary cultures or cell lines dependingon the purpose of the research. Various methods were developed to obtain neuron cells in the cortex,hippocampus or from all brain tissue from the fetal brain or newborn mice. Neuron cells are unable toproliferate therefore the isolation of neuron progenitor cells (NPCs) needs to be developed. This studyaims to develop a method of isolating NPCs from intact tissue of newborn mouse brains easily and practically. Methods: Brain tissue was obtained from Sprague Dawley rats aged 2 days. Experiments were carried out in two stages which included add trypsin 0,05% to brain tissue and then incubated for 10 minutes, adding culture medium, then filtered with pore size membrane and centrifuging for 10 minutes. The next step is to remove the supernatant then add with HBSS-glucose, put it in a 35% and 65% Ficoll solution and centrifugation, then the supernatant is planted in dish and then transferred again to the dish with poly-D-lysine cup. Characterization of neuron marker was carried out by immunocytochemistry (NeuN and microtubule-associated protein 2-MAP2) and flow cytometry (PSANCAM + and A2B5-). Results: In this study, our result show that this method does not take longer than one hours and more than95% cells that obtained are expressing PSANCAM+ and A2B5-. After 4 days culture, cells exhibit positivefor neuron marker as MAP2 and NeuN. Conclusion: Successfully developed the easy and practical method to isolate NPCs from the whole brainof post-natal rat with high viability and purity. (Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):63-9) Keyword: post-natal rat, neuron progenitor cells (NPCs), isolation
Challenges and social support provisions in the treatment of HIV infected children in Indonesia Yuyun Yuniar; Rini Sasanti Handayani
Health Science Journal of Indonesia Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v10i2.684

Abstract

Latar belakang: Pengobatan pada anak yang terinfeksi HIV merupakan beban bagi para orang tua/pengasuh karena berbagai permasalahan menyangkut kesehatan mereka. Metode: Penelitian untuk mengeksplorasi pengalaman dan dukungan sosial pada pengobatan anak terinfeksi HIV dilakukan di 5 provinsi di Indonesia dengan prevalensi HIV tertinggi. Total sampel anak sebanyak 239 orang dari sejumlah 267 orang yang direncanakan. Data dikumpulkan dengan wawancara semi terstruktur dengan orang tua/pengasuhnya. Analisis dilakukan terhadap 16 anak berusia 2-14 tahun yang telah mendapatkan terapi obat antiretroviral. Hasil: Dari sejumlah 160 anak, sebanyak 62,5% anak mengkonsumsi 1-2 item obat dan 36,9% mengkonsumsi 3 5 item. Efek samping yang paling sering terjadi adalah kulit kemerahan, mual dan muntah. Kesulitan yang paling sering dihadapi adalah rasa bosan dan anak mempertanyakan minum obat. Orangtua/pengasuh berusaha melanjutkan pengobatan dengan mengingatkan jadwal minum obat, membujuk, memberikan penjelasan bahkan memaksa atau mengancam mereka untuk minum obat. Kesulitan tersebut makin bertambah seiring meningkatnya usia anak. Dukungan yang paling sering berasal dari orang tua dan keluarga besar seperti nenek atau paman, khususnya untuk anak yang sudah yatim. Kesimpulan: Pemahaman hambatan pengobatan pada anak terinfeksi HIV dapat membantu untuk menyediakan intervensi yang tepat untuk meningkatkan kepatuhan yang akan mendorong kesuksesan terapi mereka. Kata kunci: anak terinfeksi HIV, antiretroviral, dukungan social, pengobatan, kesulitan Abstract Background: The treatment of HIV infected children is a burden to their caregiver due to many existing problems related with their health. Methods: A research to explore the experience and social support on the treatment of HIV infected children was conducted in 5 provinces in Indonesia with highest prevalence of HIV. Total children sample was 239 out of previous 267 planned. Data was collected through semi structured interview with caregivers of the children. Analysis was conducted to 160 children aged 2-14 years old who were on antiretroviral therapy. Results: Among those 160 children, 62.5% took 1-2 items of medicines and 36.9% took 3-5 items. The most frequent adverse events were skin rash followed by nausea and vomiting. Boredom and questioning were the most frequent difficulties. The caregivers attempted to continue the treatment by reminding the children on schedule to take medicines, wheedling, explaining, forcing or even threatening them. The difficulties appeared more as the children grew older. The most frequent supports mainly came from parents, and extended family such as grandmother or uncle especially for orphaned children. Conclusion: Understanding obstacles in HIV infected children will help to do proper interventions to improve adherence that will lead to successful therapy. Keywords: HIV infected children, antiretroviral, social support, treatment, difficulties
Jamu formula could reduce plasma cholesterol patients with mild Hypercholesterolemia Zuraida Zulkarnain; Agus Triyono; Fajar Novianto
Health Science Journal of Indonesia Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v9i2.808

Abstract

Latar belakang: Pengobatan hiperkolesterolemia sering berlangsung seumur hidup sehingga menyebabkanpenderita meninggalkan obat kimia dan memilih obat herbal. Penelitian ini merupakan uji klinik yang bertujuanuntuk mengetahui khasiat dari formula jamu antikolesterol yang terdiri dari daun jati belanda, daun jati cina,daun tempuyung, daun teh hijau, rimpang temulawak, rimpang kunyit dan herba meniran dalam menurunkankadar kolesterol darah sebagai bagian dari program Saintifikasi Jamu. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental dengan desain pre dan post. Jumlah subjek50 pasien dengan hiperkolesterolemia ringan yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilakukan di RumahRiset Jamu (RRJ) Hortus Medicus Tawangmangu pada bulan September sampai Desember 2014. Uji statistikyang digunakan adalah uji t berpasangan dengan bantuan program SPSS 16. Hasil: Formula jamu antihiperkolesterol yang diminum setiap hari selama 28 hari mampu menurunkan rataratakadar kolesterol plasma subjek dari 212.42 mg / dl menjadi 196.6 mg / dl. Uji t test berpasangan didapatkanhasil p<0,05 yang berarti ada perbedaan rerata kadar kolesterol sebelum dan sesudah pemberian jamu.Kesimpulan: Formula jamu antihiperkolesterol mampu menurunkan kadar kolesterol plasma pasiendengan hiperkolesterolemia ringan pada pemberian selama 28 hari. (Health Science Journal of Indonesia2018;9(2):87-92) Kata kunci: hiperkosterolemia, jamu, saintifikasi jamu Abstract Background: Treatment of hypercholesterolemia often lasts a lifetime, therefore patients leavechemical drugs and choose herbal medicines. The aim of this clinical study is to evaluate the efficacy ofantihiperkolesterol jamu formula consists of Guazuma ulmifolia leaves, Cassia senna leaves, Sonchusarvensis leaves, Camellia sinensis leaves, Curcuma xanthorrhiza rhizomes, Curcuma longa rhizomes andPhyllanthus niruri herbs to lowering cholesterol plasma level as part of Saintifikasi Jamu program. Methods: This study was a quasi-experimental with pre and post test design. The total subjects were 50patients with mild hypercholesterolemia who met the inclusion criteria. The research took place at RRJ‘Hortus Medicus’ Tawangmangu between September to December 2014. The data were analyzed using apaired t-test with SPSS 16 software. Results: Results showed jamu anticholesterol formula which is taken every day for 28 days lowered themean of cholesterol plasma level of 212.42 mg / dl to 196.6 mg / dl. Paired t test at 95% confidence levelacquired p value <0.05, showed that there is significant differences in the mean cholesterol level subjectsbefore and after the study. Conclusion: The administration of jamu antihypercholesterol formula for 28 days could reduce plasmacholesterol level in subjects with mild hypercholesterolemia. (Health Science Journal of Indonesia2018;9(2):87-92) Keywords: hypercholesterolemia, Jamu, Saintifikasi Jamu
Quality of life among Methadone Maintenance Treatment (MMT) patients with higher education Anggita Bunga Anggraini; Mardiati Nadjib
Health Science Journal of Indonesia Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v9i2.810

Abstract

Latar belakang: Salah satu penilaian keberhasilan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) yang merupakanprogram rehabilitasi terhadap pengguna narkoba -- khususnya pengguna narkotika suntik -- adalah kualitashidup klien. Oleh karena itu perlu diidentifikasi beberapa faktor yang dominan mempengaruhinya. Metode: Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang yang dilakukan di Puskesmas Kedung Badakdan Bogor Timur di Kota Bogor. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengisian kuesionerWHOQOL-BREF pada April-Juni 2018. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi linier multivariabel. Hasil: Responden dalam penelitian ini berjumlah 62 orang. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor kualitashidup klien PTRM di Kota Bogor pada domain fisik sebesar 57,6; domain psikologis sebesar 57,5; domain sosialsebesar 63,6; dan domain lingkungan 63,9. Dibandingkan rerata skor populasi sehat di Indonesia, domain fisikdan psikologis lebih rendah daripada populasi tersebut, sedangkan domain psikologis tidak berbeda denganpopulasi tersebut. Adapun skor domain lingkungan lebih tinggi dibandingkan populasi sehat Indonesia. Faktoryang dominan dalam menentukan kualitas hidup pada domain fisik dan lingkungan adalah tingkat pendidikan,sedangkan domain psikologis adalah dosis metadon. Faktor yang dominan dalam menentukan kualitas hidupdomain sosial adalah adanya seseorang yang dapat diajak bicara. Kesimpulan: Semakin tinggi tingkat pendidikan klien, maka kualitas hidup klien pada seluruh domain akansemakin baik. Klien PTRM dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah harus dipantau untuk meningkatkankualitas hidupnya. Penanganan klien dengan pendekatan individual dan dukungan sosial dari keluarga danteman diperlukan untuk meningkatkan motivasi serta kepatuhan klien dalam menjalani terapi metadon. (HealthScience Journal of Indonesia 2018;9(2):93-9) Kata kunci: Kualitas hidup, metadon Abstract Background: One of the objective in Methadone Maintenance Therapy (MMT) which is a rehabilitationprogram for injecting drug users is quality of life. The purpose of this study was to determine quality oflife among MMT patients. Methods: The cross sectional study was conducted in Kedung Badak Primary Health Care and BogorTimur in Bogor. Data were collected from interview and filling out WHOQOL-BREF questionnaire fromApril-June 2018. Analysis was performed using multiple linier regression. Results: Total subjects in this study was 62 subjects. The results showed mean scores for physical domainwas 57.6; psychological domain was 57.5; social domain was 63.6; and environmental domain was 63.9.Compared with Indonesian, MMT patient scores were higher in environmental domain and lower inphysical and psychological domain while social domain had no different with it. The dominant factor indetermining physical and environmental domain was level of education, while the psychological domainwas methadone dose, and the existence of someones to talk to was dominant factor for social domain. Conclusion: The higher level of education, will produce better quality of life in all domains. MMTpatients with lower level education must be monitored to improve their quality of life. It is suggested totreat patients based on individual approaches and support from family and friends is needed to motivateclients and adherence to the therapy. (Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):93-9) Keywords: Methadone, quality of life
Assessment of biorisk management implementation in NIHRD laboratory as national referral laboratory of emerging infectious diseases in Indonesia Ida Susanti; Ni Ketut Susilarini; Vivi Setiawaty
Health Science Journal of Indonesia Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v9i2.811

Abstract

Latar belakang: Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) ditunjuk sebagai laboratorium rujukan nasional dalam mendeteksi penyakit infeksi Emerging (EID) dan bertugas dalam mendeteksi pathogen infeksius serta berperan penting dalam sistem penanggulangan wabah. Laboratorium Balitbangkes harus menerapkan sistem manajemen biorisiko untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit yang bersumber dari laboratorium. Penerapan manajemen biorisk laboratorium yang terdiri dari biosafety dan biosecurity bertujuan untuk melindungi pekerja, lingkungan dan produk atau agen biologi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kesenjangan terkait penerapan manajemen biorisk di Laboratorium Balitbangkes dengan standar. Metode: Studi dilakukan oleh Asesor professional pada tahun 2015 dengan mewawancara penanggung jawabLaboratorium BSL-3 (PJ BSL-3) dan Biosafety Officer (BSO) serta pemeriksaan dokumen. Pemilihan respondenberdasarkan jabatannya di laboratorium. Responden dipilih karena sebagai pelaksana teknis dan memilikiinformasi pelaksanaan biosafety dan biosecurity yang mendalam di laboratorium Balitbangkes. Pertanyaandiadopsi berdasarkan CWA 15793: 2011, berisi 160 pertanyaan dari 16 elemen. Analisis skor diinterpretasikanantara 0-2. Skor 0 memenuhi kesesuaian dengan standar dan skor 2 berarti tidak memenuhi standar. Hasil: Studi ini menunjukan 3 dari 16 elemen, memiliki kesesuaian penuh dengan standar yaitu teknik mikrobiologi yang baik, alat pelindung diri serta peralatan dan pemeliharaan alat laboratorium. Elemen yang memiliki kesenjangan paling tinggi adalah keamanan dengan skor 1.16. Tidak ada elemen yang dinilai tidak memenuhi kesesuaian standar atau skor2. Kesimpulan: Secara keseluruhan, Laboratorium Balitbangkes memiliki sistem manajemen biorisiko yang kuatdan sudah mapan disetiap elemen. Namun, tindakan perbaikan harus segera dilakukan di beberapa elemen untuk memenuhi standard CWA 15793:2011. (Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):70-5) Kata kunci: EID Laboratory, biorisk management, laboratory assessment, CWA15793 Abstract Background: NIHRD laboratory was appointed as a national referral laboratory to perform laboratory detectionfor emerging infectious disease (EID). Because of its important role, NIHRD laboratory must implement bioriskmanagement system. A reliable high containment laboratory is crucial to perform laboratory diagnosis forEIDs and to avoid further spread of EIDs. The protection of laboratory workers, environment, and biologicalagents is achieved by addressing laboratory biorisk management consist of laboratory biosafety and biosecurity measures. This study aims to find gaps related the implementation of biorisk management with standard. Methods: This study was carried out by Professional Assessor in 2015 by conducting document checking andinterviewing BSL-3 Technical Managers and BSO who were considered to have in-depth information regardingbiosafety and biosecurity activities in NIHRD laboratory. Questionnaire developed based on CWA 15793:2011,which contain 160 questions provided from 16 elements of the standard. Analysis of the scores was interpretedbetween ranges of 0-2. Score 0 means full conformity and score 2 means doesn’t meet the required standard. Results: The study showed that only 3 out of 16 elements have full conformity with the standard. Theywere good microbiological technique, clothing and personal protective equipment, laboratory equipmentand maintenance. The highest gap was in security elements with the score: 1.16. No elements has a noncompliance with the standard or score 2. Conclusion: Overall the NIHRD laboratory has a strong biorisk management system already establishedwhich is working well in many areas. However, important action is needed in several elements in order tocomply with the standard. (Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):70-5) Keywords: EID Laboratory, biorisk management, laboratory assessment, CWA15793.
The role of the medical committee in hospital’s clinical governance in Jambi Province Elfi Yennie; Dumilah Ayuningtyas; Misnaniarti Misnaniarti
Health Science Journal of Indonesia Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v9i2.816

Abstract

Latar Belakang: Tata kelola klinis bertujuan untuk memastikan bahwa layanan kesehatan berjalan sesuaidengan standar keamanan yang tinggi dan kualitas berkelanjutan. Komite Medis bertanggung jawab untukpelaksanaan tata kelola klinis yang baik di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranKomite Medik dalam tata kelola klinis rumah sakit di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada RS UmumDaerah (RSUD) di Provinsi Jambi. Metode: Desain penelitian bersifat kualitatif. Pengumpulan data dari Agustus hingga Desember 2016di tiga RSUD kelas C di Provinsi Jambi dan mencakup 23 informan yang diambil melalui wawancaramendalam dan Focus Group Discussion. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komite Medik belum berperan optimal dalam proses kredensialing,pemeliharaan mutu profesi dan penjagaan disiplin/etika profesi. Tugas dan fungsi kredensialing di beberaparumah sakit belum berjalan sebagaimana mestinya (karena digunakan untuk persyaratan penerimaan dokterbaru, tetapi tidak untuk menyaring kompetensi dokter), terkesan formalitas, serta sulit dilakukan karena belummemiliki Mitra Bestari. Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional memberi pengaruh baik terhadap perankomite medik dalam tata kelola klinis RS, karena terdapat beberapa regulasi atau peraturan pelaksana tentangJKN yang terintegrasi dengan peran komite medik, khususnya pada aspek kendali mutu kendali biaya. Kesimpulan: Dapat disimpulkan Komite Medik secara umum belum berperan optimal dalam tata kelolaklinis pada RSUD Kelas C di Provinsi Jambi. Oleh karena itu, rumah sakit perlu meningkatkan kompetensi,etika dan disiplin profesi medik, serta penyempurnaan regulasi terpadu terkait tata kelola klinis di rumahsakit. (Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):100-6) Kata kunci: komite medik, tata kelola klinis, RS, Jaminan Kesehatan Nasional. Abstract Background: Clinical governance aims to ensure that health services run according to high safety standardsand ongoing quality. The medical committee is responsible for the implementation of good clinical governanceof the hospital. This study aims to analyze the role of the medical committee in the clinical governance ofhospitals in the era of National Health Insurance (JKN). Methods: The research design is qualitative. Data collection spans from August to December 2016 in threehospitals in Jambi Province and includes 23 informants who were observed throughout in-depth interviews andfocus group discussions. Results: The results show that the medical committee has not played an optimal role in the process ofcredentialing, maintaining professional quality, and guarding the discipline/professional ethics of the hospital.The duties and functions of credentials in some hospitals are not working properly (because used to apply tonew doctor admission requirements, but not as to screen the competence of doctors), seem excessively formaland difficult to implement because they do not have Mitra Bestari yet. JKN policy has a good influence on therole of the medical committee in the clinical governance of the hospital, as there are several regulations that are integrated with the role of the medical committee, especially in the areas of quality control and cost control. Conclusion: It can be concluded that the medical committee in general has not played an optimal role in theclinical governance of hospitals in Jambi Province. Therefore, it is necessary to improve the competence, ethics,and discipline of the medical profession in addition to integrating regulations related to clinical governance inhospitals. (Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):100-6) Keywords: Medical committee, clinical governance
Clinical and virological profile of Dengue cases: a study in Samarinda and Manado Reni Herman; Lisa Andriani Lienggonegoro
Health Science Journal of Indonesia Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v9i2.909

Abstract

Latar Belakang: Infeksi virus dengue masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Studi inidilakukan di Samarinda dan Manado, tujuannya untuk mendapatkan profil klinis dan virologi daripenderita anak dan dewasa di Wilayah Tengah Indonesia. Metode: Ini merupakan studi deskriptif, kasus infeksi dengue didapat dari Rumah Sakit Umum diSamarinda dan Manado pada tahun 2012-2013. Sampel darah berasal dari penderita infeksi dengue yangdirawat di Bagian Anak dan Penyakit Dalam. Konfirmasi infeksi dengue dilakukan dengan pemeriksaannested RT-PCR, deteksi antibodi Ig M dan Ig G dilakukan dengan capture ELISA untuk menentukankemungkian infeksi dengue maupun jenis infeksi. Definisi infeksi primer dan sekunder berdasarkankeberadaan antibodi Ig G. Profil klinis dijabarkan berdasarkan sampel terkonfirmasi infeksi dengue. Hasil: Sebanyak 485 penderita ikut dalam penelitian ini, 40 % diantaranya terkonfirmasi infeksi dengue.Tiga puluh lima persen diantaranya kemungkinan terinfeksi virus dengue berdasarkan antibodi. Secaraumum virus dengue serotipe 2 (DENV-2) paling banyak ditemukan pada penelitian ini, selain itu ditemukanjuga infeksi campuran (2 serotip berbeda) di Samarinda. Sebanyak 72 % dari kasus terkonfirmasi infeksidengue merupakan infeksi sekunder, demikian juga pada penderita anak. Demam, sakit kepala, mual dannyeri pada perut merupakan profil klinis yang paling banyak ditemukan. Kesimpulan: Keempat serotip virus dengue ditemukan dari kasus-kasus di RS Abdul Wahab Sjahranie,Samarinda dan RS. Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado, secara umum DENV-2 merupakan yang palingdominan. Kebanyakan penderita sudah pernah terinfeksi dengue sebelumnya demikian juga penderita anak.(Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):76-81) Kata kunci: Infeksi dengue, Samarinda, Manado Abstract Background: Dengue infection is one of public health problem in Indonesia. This study was conductedSamarinda and Manado, which aimed to report of clinical and virological profile among hospitalizedchildren and adult dengue patients in central region of Indonesia. Method: This was a descriptive study, dengue cases were collected in general hospital in Samarinda andManado from 2012 to 2013. Patient with dengue infection when admitted from pediatric and internaldiseases ward included in this study. Sera were collected and nested RT-PCR was performed to confirmeddengue virus. Dengue Ig M/Ig G antibodies detected using capture ELISA for probability of dengueinfection. Definition of primary and secondary infection was based on existence of IgG antibodies. Clinicalprofile was described base on confirmed results. Results: Four hundred and eighty five cases were included; 40 % were confirmed dengue infection and35 % were probably dengue infection based on antibody. Dengue serotype 2 was dominant from bothsites, furthermore mixed infections were found in Samarinda. Seventy two percent of confirmed caseswere secondary infection, likewise in children. Fever, headache, nausea and abdominal pain were the mostcommon signs and symptoms of confirmed cases. Conclusion: All four serotype of DENV found cases in Abdul Wahab Sjahranie Hospital, Samarindaand Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital, Manado, generally DENV-2 were dominant. Most of the cases havebeen exposed to dengue infection previously similarly in children. (Health Science Journal of Indonesia2018;9(2):76-81) Keywords: Dengue infection, Samarinda, Manado
Indonesia’s readiness to implement the HPV vaccine mandatory for school age Dumilah Ayuningtyas; Ni Nyoman Dwi Sutrisnawati
Health Science Journal of Indonesia Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v9i2.910

Abstract

Latar Belakang: Menurut WHO, dua dari 10.000 wanita di Indonesia hidup dengan kanker serviks dandiperkirakan 26 wanita meninggal setiap hari akibat kanker serviks. Berdasarkan kondisi ini, pemerintahIndonesia berencana menambahkan vaksin HPV ke dalam program imunisasi nasional. Tujuan penelitianadalah untuk menilai kemungkinan kesiapan Indonesia untuk menerapkan vaksin HPV wajib untuk usiasekolah dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya. Metode: Metode yang digunakan adalah systematic review. Melalui artikel terkait vaksin HPV yang terbitdi jurnal terakreditasi dan scopus-indeks selama 10 tahun terakhir dengan kata kunci “Implementasiuntuk Imunisasi HPV”, ditemukan sebanyak 17.000 hasil pencarian. Setelah itu, penilaian kritis padaartikel yang dipilih dilakukan dengan menggunakan metode PRISMA. Hasil: Ditemukan bahwa kesadaran masyarakat, terutama orang tua, tentang vaksin HPV masih kurang, namunpenerimaan mereka terhadap vaksin ini cukup positif. Ada beberapa faktor lain yang menjadi keberatan mereka terhadap vaksin, seperti harga tinggi, ketakutan akan efek samping, seksualitas, gender, dan sistem perawatan kesehatan. Saat ini di Indonesia vaksin HPV harus dibeli atas inisiatif mereka sendiri dan bukan merupakan program wajib dari pemerintah pusat dan juga tidak diberikan secara gratis melalui program JKN. Namun demikian, Kementerian Kesehatan telah memulai proyek percontohan untuk menyediakan vaksinasi HPV gratis di beberapa daerah dalam Program Bulan Imunisasi untuk Usia Sekolah menggunakan kombinasi sumber daya pusat dan daerah. Kesimpulan: Telah ada peraturan dan pedoman teknis untuk pelaksanaan proyek percontohan vaksinasiHPV gratis, namun masih perlu penyesuaian dan dukungan dari Pemerintah jika akan dilaksanakan secaranasional dan disesuaikan dengan kondisi di daerah dengan fasilitas dan akses terbatas. Dibutuhkan peranpemerintah dalam memberikan informasi yang baik tentang vaksin HPV bagi masyarakat.(Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):107-18) Keywords: Vaksin HPV, Kesiapan Implementasi, Program Imunisasi Nasional Abstract Background: According to WHO, two out of 10,000 women in Indonesia live with cervical cancer and anestimated 26 women die each day from cervical cancer. Indonesian government is planning to add the HPVvaccine into the national immunization program. The objective is to assess the possibility of Indonesia’sreadiness to implement the HPV vaccine mandatory for school age and factors that may affect it. Methods: The method was a systematic review through articles related to HPV vaccine which have beenpublished in accredited and scopus-indexed journals for the last 10 years. With keywords “Implementationfor HPV Immunization”, founded 17,000 search results. Afterwards, a critical appraisal on the selectedarticles is conducted using PRISMA method. Results: It is found that the awareness of community, especially parents, about HPV vaccine is stilllacking, but their acceptance of this vaccine is quite positive. There are other factors into their objection tovaccines, such as the high price, fear of the side effects, sexuality, gender, and healthcare systems. Currentlyin Indonesia HPV vaccine must be purchased on their own initiative and is not a mandatory program ofthe central government. Neither has it been given free of charge through JKN program. Nevertheless,The Ministry of Health has begun a pilot project to provide free HPV vaccination in some areas withinImmunization Month for School Age program using a combination of central and regional resources. Conclusion: Although there have been regulations and technical guidelines for the implementation of thepilot project of free HPV vaccination, it still needs adjustment and support from the Government if it willbe implemented nationally and adapted to conditions in areas with limited facilities and access. The roleof the government is needed in providing good knowledge about the HPV vaccine for the community.(Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):107-18) Keywords: HPV Vaccine, Implementation Readiness, National Immunization Program
How to control the sexually transmitted diseases in Benjina?: qualitative studies on the practice of prostitution Agung Dwi Laksono; Santi Dwiningsih
Health Science Journal of Indonesia Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v10i1.1044

Abstract

Latar Belakang: Prostitusi yang muncul bersamaan dengan industri besar menimbulkan masalah kesehatan, masalah sosial ekonomi, dan budaya. Artikel ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang berkaitan dengan praktik prostitusi di Benjina dan mengeksplorasi potensi untuk mengendalikan dampak penyakit penularan melalui hubungan seks. Metode: Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan pendekatan etnografi. Wawancara mendalam dan observasi partisipatif dilakukan terhadap 30 informan yang terkait langsung dengan praktik prostitusi di Benjina. Hasil: Tidak ditemukan lokalisasi di Benjina. Praktik pelacuran ditemukan sebagai hal yang biasa di tempat yang disebut rumah karaoke yang menyediakan peralatan menyanyi sederhana, minuman keras, dan layanan seksual. Ada 46 pekerja seks perempuan yang bekerja di 12 rumah karaoke. Faktor ekonomi ditemukan sebagai faktor dominan yang mendorong para pelaku pelacuran, di samping balas dendam. Ada beberapa kendala dalam menggunakan kondom dalam praktik pelacuran ini. Di antara mereka adalah bentuk fisiologi penis yang mengalami modifikasi, dan hubungan pekerja seks khusus dengan kekasih mereka. Ada potensi Sasi yang dapat digunakan sebagai upaya untuk mengendalikan penyakit penularan melalui hubungan seks. Kesimpulan: Sasi sebagai hukum adat berpotensi menjadi hukum positif untuk menerapkan kondomisasi secara keseluruhan di Benjina. Kata kunci: Penyakit menular seksual, pelacuran, hukum adat, Sasi, adat istiadat. Abstract Background: Prostitution that appears together with massive industry raises health problems, socioeconomic problems, and culture. This article was intended to explore factors related to prostitution practices in Benjina and explore the potential for controlling the impact of sex transmission disease. Methods: This qualitative study was carried out with an ethnographic approach. In-depth interviews and participatory observation were carried out on 30 informants who were directly related to the practice of prostitution in Benjina. Results: No localization was found at Benjina. The practice of prostitution was found to be commonplace in a place called karaoke houses that provided simple singing equipment, liquor, and sexual services. There were 46 female sex workers who worked in 12 karaoke houses. Economic factors were found to be the dominant factor driving the perpetrators of prostitution, in addition to revenge. There are some obstacles to using condoms in this practice. Among them were the forms of penile physiology that experience modification, and the relationship of special sex workers with their lovers. There was a Sasi potential that can be used as an effort to control sex transmission disease. Conclusion: Sasi as a customary law has the potential to be a positive law to implement condomization as a whole in Benjina. Keywords: sexually transmitted disease, prostitution, customary law, Sasi, traditional customs.
Comparison of Adherence to the Use of Herbal Medicine with Conventional Medicine in Hypertensive Patients at Lempake Public Health Center, Samarinda City Swandari Paramita; Evi Fitriany; M. Surya Tiyantara; Aditiya Setyorini; Trikortea E. Cahyasit
Health Science Journal of Indonesia Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v9i2.1080

Abstract

Latar belakang: Hipertensi adalah masalah kesehatan utama di dunia, termasuk Indonesia. Penggunaan obat bahan alam untuk hipertensi telah meningkat dalam dekade terakhir. Biaya penggunaan obat bahan alam dianggap lebih murah dengan efek samping yang lebih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien hipertensi yang berobat ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Metode: Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Lempake Kota Samarinda pada bulan Juli hingga Agustus 2017.Responden penelitian adalah 63 pasien hipertensi yang datang berobat dan memenuhi kriteria penelitian. Pasien hipertensi selanjutnya diwawancarai menggunakan kuesioner MMAS (Morisky Medication Adherence Scale). Hasil: Sebanyak 56% pasien hipertensi juga menggunakan obat bahan alam selain obat konvensional untukhipertensi. Daun sirsak (Annona muricata), daun salam (Syzygium polyanthum), dan buah mentimun (Cucumissativus) adalah bahan alam yang paling banyak digunakan oleh pasien hipertensi. Rerata tekanan darah sistolik(p=0,004; 95% CI -19,8 – -3,8) dan diastolik (p=0,038; 95% CI -9,6 – -0,29) untuk pengguna bahan alam lebihrendah jika dibandingkan dengan pengguna obat konvensional. Rerata MMAS untuk pengguna bahan alam lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengguna obat konvensional (p=0,004; 95% CI 0,31 – 1,6). Hal ini menunjukkan bahwa pasien lebih patuh menggunakan obat bahan alam dibandingkan obat konvensional untuk hipertensi. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan perlunya edukasi pengobatan hipertensi ke komunitas, baik itu obat bahan alam maupun konvensional. Hasil penelitian juga menunjukkan kepatuhan yang lebih baik pada penggunaan obat bahan alam dibandingkan obat konvensional untuk hipertensi. Hal ini menunjukkan potensi menjanjikan penggunaan obat bahan alam untuk hipertensi di masa depan. (Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):82-6) Kata kunci: Kepatuhan, obat bahan alam, hipertensi, Puskesmas Lempake Kota Samarinda Abstract Background: Hypertension is major health problem worldwide, including Indonesia. The use of herbal medicines for hypertension has increased in the past decade. The price of herbal medicines considered cheaper with fewer side effects. This study tried to see the level of adherence to the use of medicine by hypertensive patients in community health center at Samarinda City, East Kalimantan. Methods: This study conducted at Lempake Community Health Center in Samarinda City from July until August2017. The subjects of this study are 63 hypertensive patients and meet the sample criteria set by the researchers. The study interviewing hypertensive patients with MMAS (Morisky Medication Adherence Scale) questionnaire. Results: The results showed 56% of hypertensive patients also use herbal other than conventional medicine. Soursop (Annona muricata) leaves, salam (Syzygium polyanthum) leaves, and cucumber (Cucumis sativus) fruit were the most frequent herbal medicines used by hypertensive patients. The mean blood pressure of herbal medicine users was significantly lower when compared with conventional medicine users for systolic (p=0.004; 95% CI -19.8 – -3.8) and diastolic blood pressure (p=0.038; 95% CI -9.6 – -0.29). The mean score of MMAS in herbal medicine users was significantly higher when compared with conventional medicine users (p=0.004; 95% CI 0.31 – 1.6). This suggests that patients are more adherent in using herbal than the conventional medicine for hypertension. Conclusion: The result of the study shows the need for herbal and conventional medicine education forhypertension in the community. The result also shows better patient adherence to herbal medicine compared to conventional medicine, as the promising future of herbal medicine for hypertension. (Health Science Journal of Indonesia 2018;9(2):82-6) Keywords: Adherence, herbal medicine, hypertension, Lempake Public Health Center Samarinda City

Page 2 of 10 | Total Record : 95