cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal_imaji@uny.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni
ISSN : 16930479     EISSN : 25800175     DOI : -
IMAJI is a journal containing the results of research/non-research studies related to arts and arts education, including fine arts and performing arts (dance, music, puppetry, and karawitan). IMAJI is published twice a year in April and October by the Faculty of Languages and Arts of Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with AP2SENI (Asosiasi Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik se-Indonesia/Association of Drama, Dance, and Music Education Study Programs in Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 364 Documents
ANALISIS MOTIF BATIK MALUKU DALAM MEMBANGUN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Iga Ayu Intan Candra
Imaji Vol 19, No 2 (2021): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v19i2.44285

Abstract

Batik Maluku merupakan perwujudan kebudayaan masyarakat Maluku melaui seni kriya tekstil. Penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis sejarah historis maupun filosofis dalam motif batik Maluku. Motif batik Maluku dianalisis atas dasar nilai-nilai beserta makna di dalamnya dan integrasinya dalam pendidikan multikultural. Motif dalam batik Maluku diantaranya adalah motif Pala Cengkeh, Kakehan, Tifa, Parang Salawaku dan Pattimura. Analisis terhadap motif batik Maluku dapat diaplikasikan dalam pembelajaran Seni Budaya pada materi Seni Rupa yaitu pembelajaran motif dan ragam hias. Tujuan pembelajaran Seni Budaya selaras dengan tujuan pendidikan multikultural karena seni adalah bagian dari budaya. Maka nilai-nilai yang mendukung terbangunnya pendidikan multikultural melalui batik Maluku adalah nilai kesadaran identitas diri, menghormati dan menghargai orang lain, menjunjung keberagaman dan menjaga solidaritas. Kata Kunci : batik, Maluku, pendidikan, multikultural MOTIF ANALYSIS OF MOLUCCAN BATIK IN BUILDING MULTICULTURAL EDUCATIONAbstractMaluku Batik is a textile craft that embodies the Maluku people’s culture. This study discusses and analyzes the historical and philosophical contexts in which Maluku batik themes originated. The themes are examined in terms of their inherent values and meanings and their integration into multicultural education. Clove Nutmeg, Kakehan, Tifa, Salawaku, and Pattimura are among the motifs. Analyses of Moluccan batik motifs can be used to teach art and culture through the study of Fine Arts materials, namely motifs and decorations. Studying arts and culture aims to advance intercultural education’s goals, as art is a component of culture. Thus, the ideals underpinning the formation of intercultural education through Moluccan batik are self-awareness, respect for oneself and others, appreciation for diversity, and solidarity. Keywords: batik, Moluccan, education, multicultural
PERANCANGAN BATIK TULIS DENGAN MEMANFAATKAN VISUAL GRAFFITI Yati Anwar Munawaroh; Adji Isworo Josef
Imaji Vol 19, No 2 (2021): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v19i2.40603

Abstract

Batik merupakan budaya yang berasal dari rakyat dan selalu berkembang mengikuti zaman dan lingkungan. Pengembangan dari perancangan batik dilakukan untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru ke arah yang lebih luas lagi, dengan eksplorasi visual dan berani menerobos batasan-batasan batik konvensional. Tujuan dari perancangan batik ini adalah menghasilkan variasi produk batik tulis yang ditujukan untuk wanita usia 19- 25 tahun. Metode yang digunakan terdiri dari metode perancangan dengan teori Collin Clipson, konsep perancangan, dan visualisasi. Seluruh rancangan desain memanfaatkan visual graffiti menjadi motif utama. Visual graffiti menjadikan batik yang dikembangkan unik, karena tidak hanya sebagai bentuk ekspresi seni, graffiti juga digunakan sebagai media komunikasi. Kata atau kalimat yang diolah menjadi graffiti menggunakan tema streetfood yang ada di Indonesia. Pengolahan nama streetfood Indonesia yang dieksplor menjadi graffiti diambil sebagai simbol budaya populer yang ada di Indonesia dengan tetap mempertahankan nilai tradisi pada batik itu sendiri. Hasil dari perancangan ini adalah produk berupa kain batik dan busana ready-to-wear.  Kata Kunci: batik tulis, graffiti, streetfood  BATIK TULIS DESIGN USING VISUAL GRAFFITI Abstract       Batik is a people-based culture that evolves with the times and the surroundings. By aesthetic research and daring to push the limitations of conventional batik, the evolution of batik design aims to offer new possibilities in a larger direction. This batik design intends to provide a variety of written batik products aimed at women between 19 and 25. The design process employed combines Collin Clipson theory, design concepts, and visualization. Each design incorporates visual graffiti as the primary motif. Visual graffiti distinguishes developed batik from others, as graffiti is utilized as a means of communication in addition to aesthetic expression. Words or statements that have been transformed into graffiti use the theme of Indonesian street food. The transformation of Indonesian street food names into graffiti serves as a sign of popular culture in Indonesia while preserving the traditional value of batik. The results of this design are batik cloth and ready-to-wear clothing. Keywords: batik tulis, graffiti, streetfood
PROSES PRODUKSI AUDIO PADA KONSER VIRTUAL "COLORCHESTRA" BATAVIA CHAMBER ORCHESTRA MENGGUNAKAN SOFTWARE DIGITAL AUDIO WORKSTATION LOGIC PRO R. M. Aditya Andriyanto
Imaji Vol 19, No 2 (2021): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v19i2.44854

Abstract

Pandemi Covid-19 menyebabkan munculnya konsep pertunjukan konser musik secara virtual sebagai alternatif penyajian karya seni musik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses produksi audio hasil rekam karya pada Konser Virtual "Colorchestra" Batavia Chamber Orchestra menggunakan software Digital Audio Workstation Logic Pro. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pendidik dan peserta didik (mahasiswa) mengenai penciptaan karya mengunakan software DAW sebagai kecakapan digital literasi pendidikan musik abad-21. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksploratif studi dokumentasi. Pada konser virtual "Colorchestra", audio dan video sudah diproduksi sebelum penayangannya. Tahapan produksi audio yang dilakukan diantaranya proses rekam audio, editing audio, mixing dan mastering yang dilakukan pada DAW Logic Pro. Proses rekam audio dilakukan pemain secara satu-persatu, kemudian digabungkan dan diedit pada DAW. Pada proses mixing dan mastering, audio digarap sesuai dengan interpretasi conductor terhadap karya melalui pengolahan estetis frekuensi, dinamika dan panorama menggunakan DAW dari masing-masing track instrumen. Hasil akhir audio selanjutnya digabungkan dengan produksi video untuk kemudian ditayangkan menjadi konser virtual "Colorchestra" Batavia Chamber Orchestra.Kata Kunci: Penciptaan Karya Musik, Konser Virtual, Digital Audio Workstation. AbstractThe Covid-19 Pandemic leads to virtual music concerts as an alternative for music performance. This study aims to understand the audio production process in Virtual Concert "Colourchestra" Batavia Chamber Orchestra using software Digital Audio Workstation (DAW) Logic Pro. This study will give more knowledge about producing music using DAW software as digital skills literacy in 21st-century music education. This study uses a qualitative descriptive method with an explorative approach and documentation study. For the virtual concert "Colourchestra", audio and video were pre-recorded before the premiere broadcast. The audio production process consists of recording, editing, mixing, and mastering using DAW Logic Pro. The audio recording session was done one by one before it was combined and edited. The mixing and Mastering process was done by the BCO conductor based on his interpretation of the song through the settings of frequency esthetic, dynamics, and panorama using DAW from each instrument track. The final audio was then combined with the video that was taken and edited separately. Then it is played in the premiere broadcast of Virtual "Colourchestra" Batavia Chamber Orchestra. Keywords: Music Production, Virtual Concert, Digital Audio Workstation.
BENTUK PENYAJIAN TARI SABEK’N APA’K DALAM UPACARA ADAT NYOBENG SUKU DAYAK BINA’EH Regaria Tindarika
Imaji Vol 19, No 2 (2021): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v19i2.44247

Abstract

Tari Sabek’n Apa’k ditarikan dalam rangka memandikan tulang tengkorak musuh yang kalah dalam tradisi ngayau (potong kepala). Prosesi ini merupakan ritual yang ada di upacara Nyobeng. Nyobeng adalah upacara untuk mengucap syukur dan meminta perlindungan kepada Iyekng atau Tuhan. Adapun tari Sabek’n Apa’k mempunyai runtutan penyajian yang telah di tentukan dari generasi ke generasi pada Dayak Bina’eh. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjabarkan secara detail mengenai bentuk penyajian tari Sabek’n Apa’k. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif dalam bentuk kualitatif, serta teknik pengumpulan data wawancara dan studi dokumentasi, peneliti mendapatkan hasil yang menunjukan bahwa terdapat susunan penyajian yang harus dilaksanakan secara berurutan. Hal ini untuk menghindari Apa’k (sumpah/kutukan) yang tidak baik. Kata Kunci: Bentuk Penyajian, Tari Sabek’n Apa’k, upacara adat Nyobeng, Suku Dayak Bina’eh  PERFORMANCE OF THE SABEK'N APA'K DANCE IN NYOBENG CEREMONY OF THE DAYAK BINA'EH TRIBE Abstract        The Sabek'n Apa'k dance is moved in arrange to bathe the skulls of the defeated enemy in the ngayau (behead) tradition. This procession is a ritual in the Nyobeng ceremony. Nyobeng is a ceremony to give thanks and ask for protection from Iyekng or God. The Sabek'n Apa'k dance has a sequence of presentations that have been determined from generation to generation in Dayak Bina'eh. Therefore, this study aims to describe in detail the form of presentation of the Sabek'n Apa'k dance. By using descriptive research methods in qualitative form and interview data collection techniques and documentation studies, the researchers obtained results that showed that there was an arrangement of presentations that had to be carried out sequentially. This is to avoid Apa'k (oaths/curses) that are not good. Keywords: Form of Presentation, Sabek'n Apa'k Dance, Nyobeng traditional ceremony, Dayak Bina'eh
THE DEVELOPMENT OF SUBJECT MODULE OF THE PRINCIPAL STRING INSTRUMENT (BEGINNER) AT THE MUSIC ARTS STUDY PROGRAM, FBS, UNESA Vivi Ervina Dewi; Harpang Yudha Karyawanto; Dhani Kristiandri
Imaji Vol 19, No 2 (2021): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v19i2.43749

Abstract

This study program is under the Department of Art, Drama, Dance, and Music, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya. This program uses the Independent Learning Curriculum. A course on the principal string instrument (beginner) is featured in the third semester. However,  there are still many issues with its execution. Due to the COVID-19 pandemic, students must study at home. Thus, this scenario affects students' capacities. As a result, this research will show the development and effectiveness of a subject module of the principal string instrument (beginner) at the Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya.  This study uses the ADDIE learning design model (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). Learning products research produces a learning module designed to help students improve their violin playing skills, especially in the principal string instrument (beginner). Developing the principal string instrument (beginner) learning module begins with a needs analysis based on observation, field studies, and literature. Each stage of product development involves analysis, design, development, implementation, and evaluation. The design results were assessed by material, language, and graphic experts and revised. After revisions, the product was tested on students of the music arts study program, Universitas Negeri Surabaya.  The results are packaged as learning modules for music arts lecturers and students. The development research results show that using products in learning modules can improve violin playing skills. The t-test value of 0.000 indicates that the experimental and control groups differ significantly.Keywords: Development, Module, Learning, Violin.
MINAT DAN GAYA BELAJAR ILUSTRATOR DI PULAU JAWA PADA ERA DIGITAL Hasprita Restiamangastuti Boru Mangunsong
Imaji Vol 19, No 2 (2021): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v19i2.40750

Abstract

Kemajuan teknologi membawa masyarakat pada era digital dan budaya siber. Era digital memengaruhi gaya hidup masyarakat termasuk cara mereka belajar. Ilustrator Indonesia telah banyak mengerjakan berbagai proyek milik berbagai negara. Artikel ini bertujuan memaparkan bagaimana para illustrator di Pulau Jawa belajar dan bagaimana teknologi digital memengaruhi gaya belajar mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan netnografi. Populasinya adalah illustrator yang tinggal di Pulau Jawa dengan teknik accidental sampling dalam menarik sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik menyebar angket online, melakukan wawancara dan observasi komunitas ilustrator di grup Facebook “Ilustrator Indonesia”. Hasil penelitian menunjukan mayoritas ilustrator memiliki minat tinggi dalam mengembangkan kemampuan iustrasinya terutama dalam pengembangan teknik menggambar. Selain itu gaya belajar dominannya adalah visual namun masih memiliki kemampuan belajar secara auditori dan kinestetik. Dalam kegiatan belajarnya para ilustrator sangat dipengaruhi oleh teknologi digital dan internet. Para ilustrator menggunakan internet terutama Instagram, Youtube dan Pinterest dalam belajar dan menggunakan media sosial di internet untuk membentuk komunitas dan berkomunikasi Kata Kunci: gaya belajar, ilustrator, pendidikan era digital, ilustrator Indonesia  INTEREST AND LEARNING STYLE OF ILLUSTRATORS IN JAVA ISLAND IN THE DIGITAL ERA Abstract        Technological advances have brought society to the digital era and cyberculture. The digital era affects people’s lifestyles, including the way they learn. Indonesian illustrators have worked on various projects belonging to various countries. This article describes how illustrators in Java learn and how digital technology affects their learning styles. The research method used is qualitative research with a netnographic approach. The population is illustrators who live in Java with accidental sampling techniques in drawing samples. Data collection was carried out by distributing online questionnaires, conducting interviews, and observing the illustrator community in the Facebook group, “Ilustrator Indonesia”. The results showed that the majority of illustrators had a high interest in developing their illustration skills, especially in developing drawing techniques. In addition, the dominant learning style is visual but still has auditory and kinesthetic learning abilities. Illustrators are very much influenced by digital technology and the internet in their learning activities. Illustrators use the internet, especially Instagram, Youtube, and Pinterest, in learning and using social media on the internet to create community and communication Keywords: learning style, illustrator, digital era education, Indonesian illustrator
KUALITAS INSTRUMEN PENILAIAN HASIL BELAJAR SUMATIF SENI RUPA DI SMP KABUPATEN SLEMAN Bambang Prihadi; Dwi Wulandari; Trie Hartiti Retnowati
Imaji Vol 19, No 2 (2021): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v19i2.39674

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif untuk menjelaskan pelaksanaan dan kualitas instrumen penilaian sumatif oleh satuan pendidikan yang berfokus pada penilaian aspek kognitif. Sampel dipilih melalui teknik random sampling. Data penelitian adalah data pelaksanaan dan instrumen penilaian hasil belajar sumatif mata pelajaran Seni Budaya aspek Seni Rupa di SMP Kabupaten Sleman berupa tes objektif dari kegiatan Penilaian Tengah Semester (PTS), Penilaian Akhir Semester (PAS) dan Penilaian Akhir Tahun (PAT) pada tahun 2019-2020. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian sumatif dilaksanakan oleh para guru Seni Budaya sesuai dengan acuan-acuan pelaksanaan Kurikulum 2013 yang disesuaikan dengan kebijakan sekolah. Instrumen utama penilaian sumatif tersebut berupa soal pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban. Secara umum kualitas soal tersebut sangat baik dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Dari segi tingkat kesukaran, secara umum instrumen penilaian tersebut masih didominasi soal dengan tingkat kesukaran mudah dan sedang dan dari segi tingkat pengetahuan masih didominasi soal dalam kategori tingkat ingatan dan pemahaman dan belum mencakup soal untuk kategori high order thinking skill. Kata Kunci: kualitas instrumen, penilaian sumatif, seni rupa, SMP kabupaten Sleman  THE QUALITY OF INSTRUMENTS OF ART LEARNING SUMATIVE ASSESSMENT IN SLEMAN JUNIOR HIGH SCHOOLS Abstract        This research is a quantitative descriptive study to explain the implementation and quality of summative assessment instruments by educational units that focus on assessing cognitive aspects. The sample was selected by random sampling technique. The research data is the implementation and the assessment instruments for summative learning outcomes in the arts and cultural subject focusing on art aspect in junior high schools of Sleman Regency in the form of objective tests of Mid-Semester Assessment (PTS), Final Semester Assessment (PAS) and Year-End Assessment (PAT) in 2019 -2020. Data were analyzed using descriptive statistical analysis. The results showed that Cultural Arts teachers carried out the implementation of summative assessment in accordance with the guidelines for implementing the 2013 Curriculum, which was adjusted to school. The main instrument for summative assessment is multiple-choice questions with four answer choices. In general, the quality of the questions was very good in terms of material, construction, and language. In terms of the level of difficulty, in general, the assessment instrument is still dominated by questions with easy and moderate difficulty levels, and very little covers difficult questions. In terms of the level of knowledge, it is still dominated by questions in the category of memory and understanding levels. It does not include questions for the high-order thinking skill category. Keywords: instrument quality, summative assessment, art learning.
MUSIK TRADISIONAL KURIDING DI DESA ULU BENTENG KECAMATAN MARABAHAN KABUPATEN BARITO KUALA: BENTUK DAN FUNGSI PERTUNJUKAN Muhammad Budi Zakia Sani
Imaji Vol 19, No 2 (2021): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v19i2.44789

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sejarah lahir dan perkembangan Musik Tradisional Kuriding di Desa Ulu Benteng Kecamatan Marabahan Kabupaten Barito Kuala. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif  kualitatif dengan instrumen yaitu peneliti, perekam suara, kamera dan video. Teknik pengumupulan data yang dilakukan adalah studi lapangan atau observasi, studi dokumentasi, dan wawancara. Analisis data menggunakan teknik deskriptif analisis dengan tahap pengumpulan data, klasifikasi, dan deskripsi data serta analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa Syamsudin (Alm) adalah orang yang pertama kali memainkan atau sebagai maestro kuriding di desa tersebut, berdasarkan paparan oleh Iwie, kuriding pertama kali ia ketahui setelah ia menikah dengan Syamsuddin sekitar tahun 1930an. Perkembangan kuriding di desa Ulu Benteng tidak mengalami perkembangan. Kuriding mengalami kemunduran dan hanya ditemukan empat orang saja yang masih bisa memainkan Kuriding dengan fakta mereka tidak mampu membuat alat musik tersebut. Bentuk musik kuriding ini adalah pertunjukan yang dilakukan secara perorangan atau kelompok. Fungsi musik yang terdapat dalam musik kuriding diantara adalah sebagai sarana hiburan pribadi, sebagai sarana presentasi estetis, dan juga sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat.Kata Kunci : Kuriding, Musik Tradisional, Bentuk dan Fungsi PertunjukanKURIDING TRADITIONAL MUSIC IN ULU BENTENG VILLAGE, MARABAHAN DISTRICT, BARITO KUALA REGENCY: FORM AND FUNCTION OF PERFORMANCE Abstract               The purpose of this study is to trace the history of Kuriding Traditional Music in Ulu Benteng Village, Marabahan District, Barito Kuala Regency. The method of study involves descriptive qualitative instruments, such as researchers, voice recorders, cameras, and videos. Field studies or observations, documentation studies, and interviews were all utilized to obtain data. Data analysis employs descriptive analytic techniques during the data collection, classification, and description stages of data collecting and analysis. The findings indicated that Syamsudin (Alm) was the first individual in the village to play or serve as a maestro of kuriding. According to Iwie, the first kuriding was known following her marriage to Syamsuddin in the 1930s. Kuriding's development in Ulu Benteng village remained stagnant. Kuriding suffered a setback when they discovered just four persons who could still play Kuriding due to their inability to manufacture the instrument. This style of kuriding music can be played solo or in groups. Kuriding music serves a variety of goals, including personal entertainment, aesthetic presentation, and community solidarity. Keywords: Kuriding, Traditional Music, Form and Functions of Performance
Kajian estetika batik Bledhak Pacitan: Ditinjau dari bentuk, makna, dan fungsinya Nanang Setiyoko
Imaji Vol 20, No 1 (2022): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v20i1.48293

Abstract

Kajian ini merupakan kajian estetika untuk menjelaskan batik bledhak Pacitan dari segi bentuk (struktur), makna simbolis dan fungsi batik bledhak Pacitan dengan acuan analisis konsep estetika Edmund Burke Feldman. Penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dilanjutkan dengan pengumpulan data observasional, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batik bledhak Pacitan dapat digolongkan menurut klasifikasi jenis motifnya, di antaranya batik bledhak motif tumbuhan terdiri dari batik bledhak sembagen awal, batik bledhak sembagen, batik bledhak ros, batik bledhak bunga, batik bledhak lung ros, batik bledhak jahe-jahe dan batik bledhak motif hewan terdiri dari batik bledhak sepasang merpati, batik bledhak burung, batik bledhak manuk emprit. Makna simbolis batik bledhak Pacitan sangat erat kaitannya dengan pengaruh adat istiadat penduduk desa Cokrokembang, di antaranya: bersih desa, endhog panggang mas, dan kethuk kenang. Batik bledhak Pacitan memiliki fungsi personal yang condong masuk kepada golongan seni benda pakai. Batik bledhak Pacitan memiliki fungsi sosial, yakni: 1) cenderung mempengaruhi perilaku masyarakat secara kolektif, 2) diciptakan untuk khalayak tertentu, dan 3) berfungsi sebagai alat untuk memperoleh pengakuan sosial. Fungsi fisik batik bledhak Pacitan, yakni: 1) sebagai busana (fashion), 2) sebagai cinderamata (souvenir), dan 3) sebagai hiasan dinding. Kata kunci: estetika, batik bledhak, bentuk, makna, fungsi Study of Pacitan Bledhak batik aesthetics: Review from its shape, meaning, and function AbstractThis is a study of the aesthetics of bledhak Pacitan’s batik. This research aim is to explain bledhak in terms of form (structure), symbolic meaning and function with the help of Edmund Burke Feldman's aesthetic concept. This study used qualitative descriptive research methods followed by collecting observational data, in-depth interviews, and documentation. Batik bledhak can be classified according to the types of motifs, bledhak plant motif including bledhak sembagen awal, batik bledhak sembagen, batik bledhak ros, batik bledhak bunga, batik bledhak lung ros, batik bledhak jahe-jahe and batik bledhak animal motif including batik bledhak sepasang merpati, batik bledhak burung, batik bledhak manuk emprit. Symbolic meanings of bledhak are closely related to the influence of the traditions of the people of Cokrokembang village, including village cleaning, endhog, and kethuk kenang. The result of the study is that bledhak has a unique function that tends to fall into applied art. Batik bledhak has social functions: 1) tends to influence collective people's behaviour, 2) is created for specific audiences, and 3) serves as a tool to gain social recognition. Batik bledhak is used as1) fashion, 2) souvenirs, and 3) wall decoration.   Keywords: aesthetics, batik bledhak, form, meaning, function
Nilai-nilai pendidikan dalam pertunjukan tari Podang dan implementasinya dalam pembelajaran di sekolah Gustia Arini Edinon
Imaji Vol 20, No 1 (2022): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v20i1.47371

Abstract

Tari Podang di Kota Payakumbuh merupakan salah satu tari tradisional yang mengandung nilai-nilai pendidikan. Nilai-nilai itu merupakan wujud dari kehidupan masyarakat Kota Payakumbuh dan cukup penting bagi kehidupan masyarakat. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai key instrument yang dilengkapi dengan panduan observasi dan panduan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wujud dari nilai-nilai pendidikan itu adalah nilai religius, nilai moral, nilai sosial, dan nilai budaya. Nilai-nilai itu diakui dan dilaksanakan hingga saat ini. Pembelajaran seni budaya bidang tari di sekolah tidak hanya membelajarkan keterampilan atau ranah psikomotor saja, tetapi juga mencakup ranah kognitif dan afektif. Nilai-nilai pendidikan yang ada dalam pertunjukan tari Podang tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan tentang tari Podang, tetapi juga berpeluang untuk membentuk karakter siswa sesuai dengan karakter kehidupan masayarakat Kota Payakumbuh atau sesuai dengan kearifan lokal masyarakat Kota Payakumbuh. Kata kunci: nilai-nilai pendidikan, pertunjukan tari Podang, pembelajaran tari Educational values in Podang dance performances and their implementation in learning at school AbstractPodang Dance in Payakumbuh City is one of the traditional dances that contains educational values. These values are a manifestation of the life of the people of Payakumbuh City and are quite important for people's lives. The method in this study uses a qualitative method. The research instrument is the researcher himself as a key instrument which is equipped with an observation guide and an interview guide. The results of the study show that the manifestations of educational values are religious values, moral values, social values, and cultural values. These values are recognized and implemented to this day. Learning arts and culture in the field of dance at school does not only teach skills or psychomotor domains but also includes cognitive and affective domains. The educational values in the Podang dance show not only provide knowledge about Podang dance, but also have the opportunity to shape the character of students according to the character of the life of the people of Payakumbuh City or in accordance with the local wisdom of the people of Payakumbuh City. Keywords: educational values, Podang dance performances, dance lessons