cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pusbullhsr@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BULETIN PENELITIAN SISTEM KESEHATAN
ISSN : 14102935     EISSN : 23548738     DOI : https://doi.org/10.22435/hsr.v23i2.3101
hasil-hasil penelitian, survei dan tinjauan pustaka yang erat hubungannya dengan bidang sistem dan kebijakan kesehatan
Articles 154 Documents
Analisis Pembiayaan Kesehatan Program Upaya Kesehatan Masyarakat Di Indonesia Tahun 2013 & 2014 Galih Arianto; Zainul Khaqiqi Nantabah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.557 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v23i1.940

Abstract

Public Health Program Financing is largely allocated from the Health Operational Budget (BOK) which come from the State Budget (APBN) and Regional Budget (APBD). Funding originating from the APBN and APBD is prioritized for preventive and promotive services which are a maximum of 2/3 of the funding sources following the mandate of Health Law No. 36 of 2009. This study aimed to analyze UKM Program financing by reviewing each activity in 2013 and 2014. This study used data obtained from the 2015 Health Financing Research (RPK). After the data obtained, an analysis carried out by making a pivot table to determine the grouping of utilization and financing patterns of the UKM Program based on funding sources, IPKM, and utilization of budget allocations. The most significant source of financing for the UKM Program came from Local Revenues (PAD) of 57.1% in 2013 and 56.32% in 2014. The proportion of health financing based on high IPKM sourced from PAD was 56.32% in 2013 and 52, 35% in 2014. The 71 districts/cities have UKM program allocations under the mandate of Law No. 36 of 2009, and each region allocated a budget for UKM activities in the amount of 2/3 of the total budget. Increase budget allocation for UKM program, both sourced from the central and regional levels following the priority of health problems. Abstrak Pembiayaan program Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) sebagian besar bersumber dari Biaya Operasional Kesehatan (BOK) yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Pembiayaan yang berasal dari APBN dan APBD diutamakan untuk pelayanan preventif dan promotif yang maksimal 2/3 dari sumber pendanaan tersebut sesuai dengan amanat Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembiayaan program UKM dengan cara melakukaan telaah setiap kegiatan pada tahun 2013 dan 2014. Studi ini menggunakan data yang diperoleh dari Riset Pembiayaan Kesehatan (RPK) tahun 2015 secara deskriptif. Setelah data tersebut diperoleh dilakukan analisis dengan cara membuat pivot tabel untuk mengetahui pengelompokkan pemanfaatan dan pola pembiayaan program UKM berdasarkan sumber pembiayaan, IPKM, serta pemanfaatan alokasi anggaran. Sumber pembiayaan terbesar program UKM berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 57,1% tahun 2013 dan sebesar 56,32% tahun 2014. Proporsi pembiayan kesehatan berdasarkan IPKM tinggi yang bersumber dari PAD Sebesar 56,32% tahun 2013 dan sebesar 52,35% tahun 2014. Dari 71 kab/kota mempunyai alokasi pembiayaan program UKM sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 36 Tahun 2009, setiap daerah mengalokasikan anggaran untuk kegiatan UKM sebesar 2/3 dari total anggaran. Peningkatan alokasi anggaran program ukm baik bersumber dari pusat maupun daerah sesuai dengan prioritas masalah kesehatan.
Kesiapan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Indonesia Dalam Perdagangan Bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN Mugi Wahidin; Syarifah Nuraini; Ady Iswadhy Thomas
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.86 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.965

Abstract

The ASEAN Economic Community (MEA) is a form of ASEAN economic integration, including the free trade of goods and services in health sector, which one of them is health services facilities. The study aimed to determine the readiness of health service facilities in Indonesia in dealing with free trade in health goods and services within the framework of the ASEAN Economic Community (MEA). This was qualitative study with descriptive analysis. The data used was secondary data from the Ministry of Health, health professionals, health-related associations, research reports and other data sources. The steps of the study were data searches, in-depth interviews and Focus Group Discussion with related parties. The facilities were specialist hospitals, specialistic clinics (medical specialist, dentistry specialist, medical and ambulatory evacuation clinics, specialist nursing clinics), acupuncture service facilities and primary clinics. Readiness was justifi ed by the availability of the health services facilities and supported regulation. The results of the study indicated that health service facilities in Indonesia are quite ready to face the free trade in health-related goods and services, except residential health facility. This study recommended the preparation of related regulation, fulfi llment of health service equipments, providing data of spscialistic clinic, collaboration with Capital investment coordination board (BKPM), promortion and advocacy of foreign investment, acreditation for all health services fasilites, and monitoring and evaluation for health services. Abstrak Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan sebuah bentuk integrasi ekonomi ASEAN, termasuk dalam halperdagangan bebas barang jasa di bidang kesehatan, dan salah satunya adalah fasilitas pelayanan kesehatan. Kajian bertujuan untuk mengetahui kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia dalam menghadapi perdagangan bebas barang dan jasa kesehatan dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kajian ini adalah kajian kualitatif dengan analisis deskriptif. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang bersumber dari Kementerian Kesehatan, profesi, asosiasi yang berkaitan, hasil penelitian maupun sumber data lainnya. Langkah kegiatan adalah melakukan penelusuran data, wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) dengan pihak yang berkaitan. Fasilitas pelayanan kesehatan meliputi rumah sakit spesialistik, klinik utama (kedokteran spesialis, kedokteran gigi spesialis, klinik evakuasi medik dan ambulatory, klinik keperawatan spesialis), fasilitas pelayanan akupunktur dan klinik pratama. Kesiapan dilihat dari ketersediaan fasyankes dan peraturan yang mendukung. Hasil kajian menunjukkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan Indonesia cukup siap dalam menghadapi perdagangan bebas barang dan jasa kesehatan, kecuali fasilitas kesehatan jasa pemukiman. Saran yang diberikan adalah penyiapan regulasi terkait, pemenuhan sarana danprasarana, pendataan klinik utama, kerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal, sosialisasi dan advokasi tentang investasi asing, akreditasi seluruh fasyankes, dan monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan
Analisis Implementasi Kebijakan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) Rukmini Rukmini; Selma Siahaan; Ida Diana Sari
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.875 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.1038

Abstract

Antimicrobial resistance has become a problem in Indonesia. The Ministry of Health has established a policy ofAntimicrobial Resistance (AMR) Control Program in hospitals to resolve the issue. A qualitative case study was conducted at Dr. RSUP Wahidin Sudirohusodo hospital, Makassar in 2018 to analyze the implementation of AMR control program. The data were collected through in-depth interviews and analyzed descriptively. The study showed that policy AMR control program has not be carefully implemented. The function of AMR control program team is to make policies and guidelines for antibiotic use, to make surveillance of germ patterns and antibiotic sensitivity, clinical audits of antibiotic use, to conduct studies/research and to make evaluation that is reported to the Hospital Director. However, this AMR control program has not been optimally implemented due to many challenges such as lack of budget, lack of commitment and internal coordination between the AMR control program team members. Implementation of AMR control program in this hosptal management is not optimal. The Program dissemination and AMR team activities were not evenly distributed. High workload, inadequate infrastructure and antibiotic resistance issues of the referred patients. As a conclusion AMRcontrol program policy in RSUP. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, has not been properly disseminated and implemented. Coordination, dissemination and discussion forums on PPRA policies internally and externally with cross-sectoral hospitals are needed to improve antimicrobial resistance control commitment.
Analisis Sosiogram untuk Penentuan Agen Perubahan; Studi Kasus pada Program Desa Sehat Berdaya Agung Dwi Laksono; Hario Megatsari; Ilham Akhsanu Ridlo; Muhammad Yoto; Arsya Nur Azizah; Nabigh Abdul Jabbar; Muhammad Ainurrohman
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 1 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.604 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i1.1202

Abstract

Program Desa Sehat Berdaya lebih menekankan pada kegiatan promotif dan preventif yang berorientasi menjaga dan meningkatkan status kesehatan masyarakat di desa dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, program ini perlu untuk mengidentifikasi Agen Perubahan, agar program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan dapat berjalan dengan lancar dan diterima oleh masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran proses penentuan agen perubahan melalui sosiogram. Penelitian didesain secara kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam. Selama pengumpulan data peneliti tinggal dan berbaur dengan masyarakat selama 3 bulan. Penelitian dilakukan di tiga desa wilayah Kecamatan Kalipare. Hasil penelitian menemukan bahwa agen perubahan yang terpilih dari ragam latar belakang yang berbeda. Di Desa Sumber Petung terpilih seorang mantan lurah, Desa Arjosari terpilih seorang tenaga kesehatan, dan Desa Kali Asri terpilih seorang ketua Penggerak PKK. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa agen perubahan dapat ditentukan dengan bantuan analisis sosiogram. Analisis sosiogram menentukan agen perubahan bisa dengan latar belakang tokoh yang sangat berbeda, semuanya ditentukan berdasar pada penerimaan masyarakat sebagai sasaran.
Analisis Kesiapan Layanan Nicu pada Neonatus dengan Berat Lahir Rendah di Rumah Sakit Ibnu Sina Gresik Titik Maimanah; Thinni Nurul Rochmah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i2.1213

Abstract

The Net Death Rate (NDR) of low birth weight neonates have signifi cantly increased from 2014 to 2017 at Neonatal Intensive Care Units (NICU) of Gresik Ibnu Sina Hospital. And it has faced high demands and unbalances to readiness and availability of Comprehensive Emergency Neonatal and Obstetric Services (PONEK). This study aims to analyze the readiness of neonate’s patient service with a low birth weight case. This study was observational with a cross-sectional design. Subjects were medical professionals, including paramedics and medical facilities at NICU of Gresik Ibnu Sina Hospital from December 2017 until June 2018. Data gathering methods conducted with an interview, checklist, and document review of NICU services. It also conducted a gap analysis to assess service needs of 2021 and service reality of 2018. The Number of human resources has still lacked, mainly consultant pediatricians and nurses. 4 of 15 nurses are duty at NICU, clinical working experience less than fourth years. Furthermore, physician and nurse competencies, some facilities, and standard operating procedures regarding NICU services were still incompleted. In order to improve NICU services, hospital management has to develop human resource capacity, facilities, and complete the standard operating procedure to fulfi ll service needs that estimated in 2021. Its necessity managed capacity planning, planning, and development to accomplish standards and needs. Abstrak Net death rate neonatus bayi berat lahir rendah di ruang NICU Rumah Sakit Ibnu Sina Gresik terus meningkat selama tahun 2014-2017. Rumah sakit mengalami permintaan yang tinggi serta terjadi ketidakseimbangan antara kesiapan dan ketersediaan PONEK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan layanan pasien neonatus kasus bayi berat lahir rendah. Penelitian observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional. Subyek penelitian meliputi petugas medis, paramedis, dan fasilitas medis di NICU Rumah Sakit Ibnu Sina pada bulan Desember 2017 – Juni 2018. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, pengisian checklist, dan telaah dokumen pelayanan NICU Rumah Sakit Ibnu Sina. Data dianalisis dengan analisis kesenjangan kebutuhan pelayanan pada Tahun 2021 dan kondisi pelayanan Tahun 2018. Jumlah sumber daya yang dibutuhkan masih kurang terutama dokter konsultan anak dan perawat. Sebagian perawat yang ditugaskan belum memiliki lama kerja klinik lebih dari empat tahun. Kompetensi sumber daya perawat dan dokter serta beberapa fasilitas dan standar operasional prosedur pelayanan NICU belum lengkap. Untuk meningkatkan pelayanan NICU maka manajemen RS harus menambah kapasitas sumber daya, fasilitas, dan melengkapi standar operasional prosedur untuk memenuhi kebutuhan pelayanan yang diproyeksikan pada Tahun 2021. Rumah sakit diharapkan menyusun capacity planning dan perencanaan pengembangan untuk memenuhi standar dan kebutuhan.
Efektivitas Metode Therapeutic Community Dalam Pencegahan Relapse Korban Penyalahguna Napza Di Panti Sosial Pamardi Putra Galih Pakuan Bogor Tahun 2017 Irfan Ardani; Heti Sri Hari Cahyani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 3 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.438 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i3.1281

Abstract

Drug abuse has many adverse effects such as disease transmissions and social dysfunction. Social rehabilitation by therapeutic community method may overcome addictions to addictive substances and restore the social function for drug users. The problem is a post-rehabilitation relapse. Objective to determine the effectiveness of relapse prevention with the TC method carried out by PSPP Galih Pakuan Bogor. It is case study research, conducted by in-depth interviews with management, social workers, and clients, as well as observations and analysis of secondary data. Drop-out rates at PSPP Galih Pakuan reached 44.8% in 2017, with relapse rate 30%. In addition, many studies stated that the TC method was relatively more effective than other methods for social rehabilitation in reducing anti-social behavior due to drug abuse. The challenge in TC method is a high drop-out rate. TC method can improve the social functioning of drug users by fostering self-confi dence, and learning emotional and spiritual management. Abstrak Penyalahgunaan napza memiliki dampak buruk yaitu penularan penyakit dan ketidak berfungsian sosial akibat kecanduan napza. Rehabilitasi sosial dengan metode therapeutic community dianggap dapat membantu mengatasi kecanduan pada zat adiktif dan mengembalikan peran dan fungsi sosial para penyalahguna napza. Kendalanya adalah banyak penyalahguna napza mengalami relapse pasca rehabilitasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pencegahan relapse dengan metode TC yang dilakukan oleh PSPP Galih Pakuan Bogor. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan penyajian secara deskriptif analitis, dilakukan dengan wawancara mendalam kepada manajemen panti, Pekerja Sosial, dan klien, serta melakukan observasi dan analisis data sekunder. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat drop out rehabilitasi sosial di PSPP Galih Pakuan mencapai 44,8% pada tahun 2017, sedangkan tingkat relapse diperkirakan mencapai 30% dari klien yang lulus rehabilitasi. Di sisi lain, berbagai penelitian menyebutkan bahwa metode TC merupakan metode yang relatif lebih efektif dibanding metode rehabilitasi sosial lain dalam mengurangi penyalahgunaan napza dan perilaku anti sosial akibat penyalahgunaan napza. Tantangan dalam metode TC adalah tingkat drop out yang cukup tinggi. Dibandingkan dengan metode rehabilitasi sosial lain, TC efektif meningkatkan keberfungsian sosial penyalahguna napza melalui penguatan individu dengan menumbuhkan kepercayaan diri, manajemen emosi dan spiritual.
Kontribusi Zat Gizi Makan Siang Sekolah dan Kecukupan Gizi Terhadap Status Gizi Siswa di SD Al-Furqan Jember farida wahyu ningtyias; Rahma Fitri Fiamanatillah; Ninna Rohmawati Rohmawati
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 4 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.167 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i4.1297

Abstract

School lunch facilities may be an alternative to solve food problems in school-age children. The contribution of food nutrients in schools will affect the total consumption of nutrients as well as nutritional status. The contribution of school lunch is 30% of nutritional needs per day. This study was to analyze both the nutritional contribution of school lunch and nutritional adequacy towards the nutritional status of students at Al-Furqan Jember Elementary School. This study was an observational analytic study with a cross-sectional approach. The population was 141 students with total samples of 58 students. This study indicated that most of the respondents did not meet 30% of the daily nutritional needs based on their lunch nutritional contribution. However, both the nutritional adequacy and nutritional status of most respondents were in the normal category. Abstrak Fasilitas makan siang sekolah dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi masalah makanan anak usia sekolah. Kontribusi zat gizi makanan di sekolah akan berpengaruh pada total konsumsi zat gizi yang juga akan berdampak pada status gizi. Kontribusi makan siang sekolah adalah 30% dari kebutuhan gizi sehari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi zat gizi makan siang sekolah dan kecukupan gizi terhadap status gizi siswa di SD Al-Furqan Jember.Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 141 siswa dengan sampel sebanyak 58 siswa. hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden kontribusi zat gizi makan siang sekolahnya tidak memenuhi 30% kebutuhan gizi sehari. Sedangkan kecukupan gizi dan status gizi sebagian besar responden dalam kategori normal.
Analisis Distribusi Tenaga Kesehatan (Dokter Perawat Dan Bidan) Di Indonesia Pada 2013 Dengan Menggunakan Gini Index Asep Hermawan
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 3 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.438 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i3.1304

Abstract

Equal distributions of physicians, nurses and midwives are the successful key to achieve the 12 public health indicators set by the World Health Organization. This study is to measure physicians, nurses and midwives inequality in Indonesia, 2013. Data for health workforce are obtained from routine data by the Board for Development and Empowerment of Human Resources for Health, 2013, and population data from Appendix 1 Books Code and Region Administration Data by Province, districs/cities and all Indonesian Sub-district, Ministry of Internal Affairs. Ratio per Population, Gini Index and Lorenz’s curve were used to analyze the inequality distribution of health workers. The fi ndings showed the ratio of midwives and nurses/100,000 population had met The National Medium Term Development Plan 2010-2014 target. However, the doctors were still far from the target. Analysis by Gini Index indicated the distribution of midwives is better than other health workers. The Nusa Tenggara Region has the highest inequality compared to other regions for doctors, nurses and midwives. By administrative, municipital are more equitable to all types of health workers. Regarding the status of underdeveloped areas, remote borders and islands (DTPK), The Non-DTPK areas are more evenly distributed compared to the DTPK. Ratio per population some health workers are suffi cient though are not distributed well. The distribution of health personnel should not merely use the ratio per population. The other distribution index such as the Gini Index and other distribution measures will provide better policy options. Abstrak Distribusi dokter, perawat dan bidan yang merata merupakan salah satu kunci sukses untuk mencapai 12 indikator kesehatan masyarakat yang ditetapkan World Health Organization. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan pemerataan tenaga dokter, perawat dan bidan di Indonesia pada 2013. Sumber data tenaga kesehatan (dokter perawat dan bidan) diperoleh dari data rutin Badan Pengembangan dan Pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) 2013. Data jumlah penduduk diperoleh dari Lampiran 1 Buku Induk Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan per Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan Seluruh Indonesia milik Kementerian Dalam Negeri. Untuk menilai inequality distribusi tenaga kesehatan menggunakan rasio/populasi, Gini Index dan Kurva Lorenz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio bidan dan perawat/100.000 penduduk sudah memenuhi target RPJMN 2010-2014, sedangkan dokter masih jauh dari target. Analisis dengan Gini Index menunjukkan bahwa distribusi bidan lebih dibandingkan tenaga kesehatan lainnya. Regional Nusa Tenggara memiliki inequality tenaga yang tertinggi dibandingkan regional lainnya baik untuk dokter, perawat, dan bidan. Secara administratif, kota cenderung lebih merata untuk semua jenis tenaga kesehatan. Berdasarkan status daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan (DTPK), daerah non DTPK cenderung lebih merata dibandingkan DTPK. Walaupun secara rasio per populasi sebagian tenaga kesehatan sudah mencukupi namun tidak terdistribusi dengan baik. Penilaian distribusi tenaga kesehatan seharusnya tidak hanya menggunakan rasio tenaga per populasi saja, penggunaan ukuran indeks distribusi lain seperti Gini Index dan ukuran distribusi lain akan dapat memberi opsi kebijakan lebih baik.
Teori Kebutuhan Maslow Sebagai Rasionalisasi Pencegahan Kasus Aborsi Di Indonesia yurika fauzia wardhani; Oktarina Oktarina
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 3 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.542 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i3.1354

Abstract

The high rate of abortion in Indonesia makes abortion “buah simalakama”. On the one hand, abortion for non-medical reasons is strictly forbidden, but on the other hand illegal abortion increases mortality due to lack of medical facilities and infrastructure because most illegal abortions are done in traditional ways. The World Health Organization (WHO) determines that abortion is a reproductive health problem that needs attention and is a cause of suffering for women throughout the world. This study will analyze Maslow’s Theory of Needs as a rationalization of the reasons for informants to have an abortion. The method used is case analysis based on Maslow’s Theory of Needs. The results showed that, of the 131 informants who had an abortion to meet their security needs (both literally, fi nancially and otherwise) 48%, love / social needs were 37%, to meet physiological needs of 14.5%. Actions taken by informants for abortion were taking drugs 23%, drinking herbal medicine 9.2%, eating pineapple 3.8%, 2.3% vaginal medicine, 1.5% massage, 1.5% midwife consul, eating “tape” 0.76%, looking for health services 0.76%, while those who have not tried 21.4% and those who did not answer 35.9%. It was concluded that Maslow’s Needs Theory could be used to rationalize the reasons for informants having an abortion. Abstrak Tingginya angka aborsi di Indonesia menjadikan aborsi sebagai buah simalakama. Di satu sisi aborsi dengan alasan non medik dilarang keras, namun di sisi lain aborsi ilegal menjadi marak dan meningkatkan angka kematian. Kurangnya sarana dan prasarana medis menjadi penyebabnya karena sebagian besar aborsi ilegal dilakukan dengan cara tradisional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menentukan bahwa aborsi termasuk dalam masalah kesehatan reproduksi yang perlu mendapatkan perhatian dan merupakan penyebab penderitaan wanita di seluruh dunia. Penelitian ini akan menganalisis Teori Kebutuhan Maslow sebagai rasionalisasi alasan informan untuk melakukan aborsi. Metode yang dilakukan adalah analisis kasus berdasar Teori Kebutuhan Maslow. Hasil menunjukkan bahwa, dari 131 informan melakukan aborsi untuk memenuhi kebutuhan rasa aman (baik secara harafi ah, fi nancial, maupun lainnya) 48%, kebutuhan cinta/sosial 37%, untuk memenuhi kebutuhan fi siologis 14,5%. Tindakan yang dilakukan informan untuk aborsi adalah dengan minum obat-obatan 23%, minum jamu 9,2%, makan nanas 3,8%, obat pervaginam 2,3%, pijat 1,5%, konsul bidan 1,5%, makan tape 0,76%, mencari pelayanan kesehatan 0,76%, sedangkan yang belum berupaya 21,4% dan yang tidak menjawab 35,9%. Disimpulkan bahwa Teori Kebutuhan Maslow dapat digunakan untuk merasionalisasi alasan informan melakukan aborsi.
Pengelolaan Obat Dengan E-Purchasing Untuk Pasien Program Rujuk Balik Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Herti Maryani; Lusi Kristiana; Pramita Andarwati; Astridya Paramita; Ira Ummu Aimanah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.43 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.1398

Abstract

PRB is a health service provided to people with chronic diseases. The implementation of PRB has been runningsince 2014, but until now it is still not optimal, one of which is the procurement and availability of medicines. The aim of the study was to study drug management for PRB patients. The research was conducted in Surabaya 2018. This is descriptive research with cross-sectional design. Data collection by in-depth interviews with pharmacy department managers in two FKTP units and pharmacies in Surabaya. Data were analyzed descriptively. The results of the study show that FKTP doesn’t buy medicine with e-purchasing, because the drug is given by the pharmacy according to the BPJS mapping list. The pharmacy has many obstacles to ordering drugs with e-purchase, so the order is done conventionally. The pharmacy orders drugs in several ways using the Order Letter, calling PBF and ordering via the WhatsApp (WA) application. The Guidelines for Procurement of Medicines with E-Purchasing Procedures Based on E-Catalogs already exist, but socialization must continue to be carried out, especially at the level of Puskesmas and pharmacies. Periodic evaluations must be carried out so that problems and defi ciencies that occur in the fi eld can be immediately resolved.Cooperation and good intentions are needed between various parties so that all involved can benefi t from this program, especially PRB patients. Abstrak Program Rujuk Balik (PRB) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis. PRBsudah berjalan sejak tahun 2014, namun masih belum optimal, salah satunya perihal pengelolaan obat. Tujuan penelitian adalah mengkaji pengelolaan obat untuk pasien PRB. Penelitian dilakukan di Surabaya tahun 2018. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada pengelola bagian farmasi di 2 unit Puskesmas dan 2 Apotek di Surabaya. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puskesmas tidak melakukan pengadaan obat secara e-purchasing, karena obat diberikan oleh apotek sesuai daftar mapping BPJS. Apotek mempunyai banyak kendala dalam melakukan pemesanan obat dengan e-purchase, sehingga pemesanan dilakukan secara konvensional. Apotek melakukan pemesanan obat dengan beberapa cara yaitu menggunakan Surat Pemesanan (SP), menelpon PBF (Perusahaan Besar Farmasi) dan melalui aplikasi WhatsApp (WA).Petunjuk pelaksanaan pengadaan obat dengan prosedur E-Purchasing, berdasarkan E-Catalogue, sudah ada namun sosialisasi harus terus dilakukan terutama di tingkat Puskesmas dan apotek. Evaluasi berkala harus dilakukan agar permasalahan dan kekurangan yang terjadi di lapangan dapat segera diselesaikan. Perlunya kerja sama dan komitmen antar berbagai pihak sehingga semua yang terlibat dapat merasakan manfaat akan program ini, terutama pasien PRB.

Page 6 of 16 | Total Record : 154